Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
20. Pertengkaran Borsche Bersaudara



Kurasakan berat pada kelopak mataku saat aku terbebas dari gulita yang menenteramkan. Remang yang kulihat perlahan menjadi jelas. Tersadar, rupanya aku ada di sebuah ruangan yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. Hangat pada tanganku membuatku tersadar jika seseorang sedang menggenggamnya. Ketika aku menoleh perlahan, sosok yang kutemukan adalah Zoe Borsche. Kekhawatiran yang mulanya kentara jelas pada wajah manis itu lalu diliputi senyum bahagia kala mengetahui keadaanku.


"Kimberly! Aku senang kau sudah siuman."


"Zoe...," ucapku lemah dengan suara serak. Aku berusaha untuk bangun. "Apa yang terjadi--uh." Namun, denyut menyakitkan tiba-tiba menyerang kepalaku sehingga tubuhku yang telah terangkat tertahan. Zoe seketika ikut menahan gerakku dan membantuku bersandar pada bagian head-bed. Sahabatku itu lantas memberikanku segelas air. Sejenak, aku hanya memandanginya sebelum menyadari kalau aku memang merasa haus. Aku lalu menerimanya dan meneguk isinya. "Di mana ini?" tanyaku kemudian setelah memberikan gelas pada Zoe.


"Ini di ruang kesehatan sekolah. Kau pingsan saat bersama Max," ujar Zoe sambil menaruh gelas di atas nakas. "Apa kau tidak ingat?"


Zoe benar. Tadi aku bersama Max, bersamanya hendak melihat keadaan Zoe dan Noah yang dibawa pergi oleh Leonal. Akan tetapi, sekarang Zoe ada di sini, bersamaku. Ketika aku menoleh ke jendela, langit gelap mulai menggantungi langit, tetapi masih ada sisa sinar di ufuk barat.


"Sudah berapa lama aku tidur? Oh, lupakan soal itu. Apa kau baik-baik saja, Zoe? Bagaimana dengan Noah?" Sekelebat bayangan wajah menyebalkan milik Noah merasuki kepala. Aku tak percaya aku menunjukkan kekhawatiranku pada Noah di depan Zoe. "Tuan Ordt orang yang baik, dia tidak meminta kalian melakukan pekerjaan yang berat kan?"


Alih-alih sebuah jawaban, yang kudapatkan dari Zoe adalah sebuah cubitan lembut di kedua pipiku. Sambil cemberut, gadis itu lantas menuturkan kata-kata protesnya.


"Kau tidak tidur, kau pingsan, Kim! Daripada mengkhawatirkan kami, seharusnya kau mengkhawatirkan keadaanmu sendiri." Zoe lalu membebaskan kedua pipiku dan menggerakkan tangannya untuk menyibak tirai di belakang kursi tempatnya duduk. Figur seorang cowok lalu masuk ke dalam pandanganku. "Iya kan, Noah?"


Cowok yang sedang duduk di pinggir ranjang kosong itu benar-benar Noah. Noah Huxley. Apa aku tak salah lihat? Seperti biasa, tak ada ekspresi yang menyenangkan pada tampang cowok itu. Namun, matanya yang beralih dan mukanya yang menoleh ke arah lain setelah kami bertemu pandang, membuatku tersadar kalau aku terlalu lama menatapnya. Aku pun buru-buru menarik pandang dari Noah dan kembali pada Zoe.


Jika Noah sedari tadi di sana, berarti dia mendengar apa yang kukatakan pada Zoe kan? Dasar cowok menyebalkan, kenapa juga dia harus bersembunyi di balik tirai!


"K-kenapa kalian di sini?" tanyaku, entah kenapa jadi terbata. Melalui ekor mataku, aku dapat melihat Noah yang masih berada di tempatnya, tetapi aku berusaha untuk mengabaikannya.


Juga mengabaikan rasa maluku karena sudah terpergok sempat mencari cowok itu.


"Kau pingsan, dan Max membawamu ke sini. Kami berpas-pasan dengannya di koridor. Kata Max, kau seperti kesakitan sebelum pingsan," terang Zoe.


Aku termenung mengingat kejadian tadi, pun pada bayangan yang kulihat tadi, soal kebakaran yang mengerikan itu. Semakin mengingat detailnya, genangan air mata tanpa sadar membuat pandanganku kabur. Aku mengerjap sehingga bulir itu terjatuh. Zoe mengatakan sesuatu, tetapi kegaduhan dalam bayangan kebakaran yang tiba-tiba kulihat sedang mengambil alih. Ketika seperti ada sebuah gada besar yang menghantam kepalaku, tanganku segera memeganginya.


Ah, lagi-lagi aku merasakan sesak dan hawa panas di sekelilingku. Namun, saat jerit suara Zoe menghentak, aku tertarik kembali ke kenyataan.


"Kimberly!"


Mataku yang membelalak menatap Zoe. Gadis bermarga Borsche itu lantas memelukku dan mengusap bahuku dengan lembut. Bisikannya padaku setelahnya membuatku terhenyak.


"Tenanglah, Kimberly. Ada aku di sini. Aku sudah tahu dari Max. Kau tak perlu mengingatnya lagi."


Sekali lagi, air mataku menetes. Setelah mendengar kata-kata Zoe, aku tersadar jika rasa takut sedang berusaha mengusikku. Aku mulai tersedu. Kalau saja bisa, aku tidak ingin memperlihatkan kelemahanku di hadapan orang selain sahabatku. Noah masih ada di sana, dan saat ini aku sedang menangis. Namun, pada akhirnya cowok itu beranjak dari duduknya dan memilih beranjak pergi tanpa mengatakan satu patah kata pun. Saat aku melihat punggungnya menjauh, sedu sedanku mulai tak terkontrol lagi.


Puluhan menit, Zoe membiarkanku melepaskan emosiku. Tak ada pembicaraan di antara kami, yang dilakukan Zoe hanya mendengar isakanku dan berusaha menenangkanku dengan mengusap-usap punggungku. Ketika sudah merasa tenang, barulah aku pelan-pelan melepaskan dekapannya padaku.


"Kau sudah lebih baik?" tanya Zoe sembari membersihkan jejak air mataku dengan sapu tangannya.


Aku pun mengangguk. Sejujurnya aku sedikit malu untuk menatapnya, tetapi aku memaksakan diri dan mengucapkan terima kasih dengan pelan.


Tak beberapa lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Ketika pintu itu terbuka, sesosok laki-laki tinggi besar dengan mata serupa milik Zoe masuk ke dalam. Senyumnya yang ramah membuat suasana lebih baik, aku bahkan membalasnya dengan senyum dan sapaan pada cowok itu. Sebuah bingkisan dari tangan Max diletakkan di atas nakas sebelah ranjangku.


Sebelum aku sempat menimpali sesal Max, Zoe menyahut duluan.


"Max! Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah sudah kubilang jangan muncul dulu di hadapan Kimberly?"


"Hah? Memangnya kenapa? Kim saja tidak keberatan," celetuk Max sambil berpaling dariku. Alis cowok itu terangkat sebelah ke arah adik perempuannya.


Meskipun aku terkejut dan sempat kebingungan dengan sikap Borsche bersaudara yang tiba-tiba tak akur, aku mengiyakan ucapan Max sambil tak lagi bersandar. Ketegangan ini membuatku tak bisa diam saja dan berakhir duduk di pinggir ranjang. Mengesampingkan urat nadi pada kepalaku yang sebenarnya masih berulah.


"Aku sungguh tak apa, Zoe. Kenapa Max tidak boleh menemuiku?" tanyaku hati-hati, berusaha untuk melantunkan nada netral supaya tak menyinggung hati Zoe.


"Tentu saja karena Max sudah bercerita terlalu banyak, sehingga itu menyakitimu, Kim!" sergahnya sampai membuatku terkesiap.


Apa yang dikatakan Zoe mungkin tidak salah. Aku memang pingsan setelah berusaha mengingat tragedi yang bahkan telah merenggut ingatanku. Satu-satunya orang yang berani membagi kisah kami yang menyedihkan pada saat itu hanya Max, padahal mungkin Max juga tidak ingin mengingatnya lagi.


"T-tenanglah, Zoe. Max tidak salah. Aku yang memaksanya menceritakannya padaku," kataku sedikit gemetar, berusaha menenangkan Zoe yang masih terbalut emosi.


"Tidak. Pasti Max yang pada awalnya menceritakannya padamu. Benar kan, Max?" tuduh Zoe.


Max terdiam. Sekilas cowok itu tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Kau benar, Zoe. Memang aku yang memulainya," ungkap Max.


"Aha! Aku tahu itu! Kenapa, Max? Kenapa kau melakukannya? Kau tahu sendiri kan kalau Kim bisa kambuh?" racau Zoe lagi, seakan tak mau berhenti menyalahkan kakak laki-lakinya.


"Maafkan aku, Kim. Kupikir kau sudah baik-baik saja," ujar Max mengakui.


"It's okay, Max. Jangan dipikirkan. Aku justru--"


"Tidak, Kim. Itu adalah sebuah masalah, aku masih belum memaafkan Max atas perbuatannya padamu!" hardik Zoe.


"Kenapa jadi kau yang punya masalah?!" tampik Max, volume suaranya tak mau kalah dari Zoe.


"H-hei, kalian berdua. Berhentilah."


Borsche bersaudara tak mendengarku. Mereka terus saja beradu mulut dan tak memperdulikan sekitar. Mereka mungkin juga tak sadar jika aku sudah berdiri, berniat untuk melerai. Berusaha meredakan pertengkaran mereka pun rasanya mustahil. Sentakan demi sentakan di antara keduanya yang memenuhi ruang udara membuatku tak berdaya. Aku terhuyung ke belakang, lalu tersadar jika sebuah tangan menahan punggungku.


"Biarkan saja mereka," ujar seseorang yang ternyata adalah Noah.


Aku tak sanggup berucap apa pun, hanya tatapan bingung yang kuberikan pada Noah yang berdiri begitu dekat denganku. Cowok itu lalu menyambar bingkisan di atas nakas dan diberikannya kepadaku, sebelum menarikku menjauh dari keributan Borsche bersaudara yang mungkin tak akan berhenti dalam waktu dekat.


...****************...