Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
24. Tak Biasa di Fairille



"Kau semakin cantik hari ini. Kalau saja kau adalah tuan putriku."


Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.


Andai Leonal Ordt adalah pangeran yang sebenarnya, mungkin aku tak keberatan. Namun, pernyataan yang tertutur dari mulut cowok itu membuat jantungku yang tak mau tenang pun seakan mendukung harapan kecil yang sempat terpikir. Aku menggigit lembut bibir bagian bawahku, merasakan sisa sentuhan tangan Leonal yang sempat mendarat di telingaku. Dengan keberanian yang telah kukumpulkan, aku lalu bertanya.


"Apa kau memiliki putri yang lain, Tuan Ordt?" tanyaku dengan mendongak saat kusadari jarak kami semakin terpangkas.


Tunggu. Apa yang baru saja kutanyakan? Dan posisi kami, kenapa terlalu dekat? Punggungku bahkan sudah menempel pada loker, sedangkan Leonal terus memberikanku senyuman khas pangerannya. Gawat. Aku bahkan dapat mencium wangi tipis floral pada tubuh cowok itu.


"Tentu saja dia memiliki banyak putri yang lain," ucap seseorang tiba-tiba, serempak dengan tarikan pada kerah belakang Leonal, membuat cowok rambut keriting itu menjauh paksa dari hadapanku. "Berhentilah menggoda para wanita di sekolah, Ketua Ordt."


"Noah?" ujar Leonal terkejut mendapati wakil ketuanya berada di sini.


Aku seketika mengerjapkan kelopak mata beberapa kali, lalu menegakkan postur tubuhku yang sempat terbuai dengan Leonal Ordt. Kehadiran Noah Huxley nyatanya mampu memutus efek pesona Leonal padaku.


"Aku tak bermaksud menggoda," ujar Leonal ditutup dengan tawa renyahnya, sambil membetulkan kerah yang sedikit berantakan. Cowok itu sama sekali tak kelihatan kesal setelah diperlakukan cukup kasar oleh Noah. Mengingat pertemuan mereka di pinggir hutan kemarin, kusadari mereka berdua memang teman akrab. "Aku hanya tertarik pada Nona Schulz, seperti halnya murid-murid yang lain. Tidakkah kau juga, Wakil Huxley?" tanya Leonal pada Noah.


Tatapan menyelidik Noah lantas terarah kepadaku. Dengan guliran cepat, bola matanya menatapku dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi, seolah-olah aku sedang dinilai oleh cowok itu.


"Tidak. Dia hanya gadis kota pada umumnya. Tidak ada yang spesial," tukas Noah.


Seketika, dahiku mengernyit. Rasa kesal mendadak menyeruak dalam benak meski aku sendiri sebenarnya tak menampik pendapat itu. Aku memang gadis dari kota yang biasa-biasa saja. Mendapat perhatian dari murid-murid di Fairille tidak pernah kuinginkan sebelumnya. Aku tidak tahu alasan mereka yang sebenarnya, termasuk Leonal yang menyatakan diri tertarik kepadaku.


Decakan Leonal meleburkan pemikiranku. Saat kulihat kepadanya, cowok itu turut menggelengkan kepala dengan dramatis.


"Dasar manusia berhati es," katanya satir pada Noah.


Oh, aku tidak pernah terjebak dalam perbincangan para cowok sebelumnya. Apalagi topik pembicaraannya adalah diriku sendiri. Bagaimana aku tak merasa gugup?


"Terserah," balas Noah dingin. "Lebih baik kita ke ruang komite sebelum bel masuk."


Noah mulai berjalan meninggalkan kami. Sedangkan Leonal, ketika ia hendak menunduk dan meletakkan satu tangan di depan dadanya untuk memberi salam perpisahan, aku menahannya sebelum dia benar-benar pergi. Rasa penasaranku lebih ingin terpuaskan daripada ditinggalkan seorang diri tanpa mengetahui apa pun.


"Tuan Ordt, aku ingin bertanya sesuatu. Bolehkah?" ujarku menyampaikan maksud.


"Ya? Apa itu?" tanya Leonal.


Aku mengulum bibir sejenak, sebelum memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa maksud ucapan Tuan Ordt mengenai 'tertarik padaku seperti yang lain'?" tanyaku dengan sedikit malu. Karena sampai detik ini aku sendiri tak menemukan klu atasnya, dan hal itu sangat aneh bagiku.


Leonal tersenyum.


"Tenang saja, itu bukan hal yang buruk. Hanya saja kedatanganmu dari kota memang menjadi buah bibir di kalangan murid sekolah ini, dan juga," Leonal meraih tanganku dan mengecupnya, "aura kecantikanmu yang tak biasa di kalangan Fairille."


Tak hanya karena kecupan, mata biru Leonal seakan menenggelamkanku ke lautan yang dalam. Efeknya begitu besar padaku. Aku berdiri mematung. Wajahku memerah bak kepiting rebus. Apa yang dikatakan Leonal baru dapat diproses isi kepalaku saat cowok itu telah meninggalkanku. Bisa saja cowok itu hanya membual kan? Apalagi ketika mengingat fakta bahwa cowok itu sangat ramah dan digemari para wanita. Bekas ciuman di jemariku...apa semua cewek pernah merasakannya?


Aku masih belum paham. Daripada perkataan Leonal, memang terdengar lebih masuk akal ucapan Noah yang menyebutku sebagai gadis kota pada umumnya. Tidak seperti murid-murid Fairille, Noah justru kelihatan seperti cowok-cowok normal yang kutemui di McReych. Meski tidak dipungkiri, cukup menyebalkan ucapan Noah itu.


Memangnya kenapa jika aku tidak spesial, hah?! Lagipula jika dia berpikiran seperti itu, tidak perlu sampai berbicara di depan wajahku kan?


...***...


Tak seperti hari sebelumnya, selama pelajaran berlangsung aku dapat berkonsentrasi secara penuh. Mungkin lantaran tak ada kehadiran si pengusik, Frederick Elford, di kelas hari ini. Sengaja membolos maupun sakit, aku tak peduli.


Suasana kelas pun terasa lebih rileks. Tak hanya aku, sepertinya para murid yang lain pun merasakannya. Ketua kelas yang sebelumnya tak menyambutku kini menghampiriku dan menarik kursi untuk berbincang denganku. Tepatnya, ketika jam istirahat, sekadar memberikan informasi-informasi mengenai kelas dan perayaan sekolah yang akan diadakan akhir pekan. Ia bahkan meminta maaf kepadaku karena baru berani menghampiri.


"Aku harap kau betah di sini, Schulz. Dan," ketua kelas menarik mendekat tubuhnya dan menurunkan volume suaranya hingga berbisik, "kalau boleh aku memberi saran, jagalah jarak dengan Elford. Kulihat kemarin ketika sepulang sekolah, dia kelihatannya punya urusan denganmu. Kau tak apa kan?"


Dari peringatan sang ketua kelas, tampaknya anak-anak kelas takut dengan Elford dan tak mau berurusan dengannya. Menghampiri barisannya saja enggan. Aku kira, aku bisa memahaminya.


"Thanks, Adayr. Tapi itu tak masalah. Aku bisa menanganinya," ujarku dengan nada bercanda. Padahal kemarin saja Noah yang menolongku dan berhasil mengusir cowok rambut platina itu. Aku jadi teringat dengan cewek dengan perawakan yang serupa dengan Frederick Elford. "Omong-omong, apa Elford punya saudara perempuan?"


"Oh, bagaimana kau bisa tahu? Ya. Dia punya saudari kembar. Kau pernah bertemu dengannya?" tanya sang ketua kelas yang kelihatannya semakin antusias.


Kembar, katanya.


"Yeah. Tadi pagi." Ekspresiku sedikit mengernyih. Gabriel Adayr sepertinya menangkap kesan tidak menyenangkan akan pertemuanku dengan Elford yang perempuan. "Kelihatannya dia tak terlalu berbeda dengan Elford yang laki-laki."


Cowok di dekatku tidak langsung menjawab. Ia justru kelihatan gelisah dan mengusap lehernya yang berkeringat. "Lucile Elford memang cantik, tapi aku setuju denganmu."


"Oh, apa kau menyukainya? Lucile Elford itu?" tanyaku spontan yang sepertinya tepat sasaran. Si ketua kelas jadi salah tingkah dan gelagapan. Wajahnya yang menahan malu membuatku melengkungkan senyum. "Perasaan setiap orang tidak bisa dipaksakan kan? Menyukai seorang Elford pun bukan hal yang salah."


"Tapi dia menyukai orang lain. Lagipula aku sudah tidak tertarik padanya," ucap Gabriel berkeluh kesah. Agak lama, ia menatapku dengan geming, lalu buru-buru berdeham dan melanjutkan ucapannya. "Aku mungkin sudah tak peduli padanya, dan mungkin aku sudah menyukai orang lain---ya ampun, kenapa aku jadi curhat padamu? Sorry, Schulz."


"Hei, tak apa. Aku cukup bisa mendengar. Untuk kisah cintamu yang pertama, aku turut prihatin. Bersemangatlah untuk kisahmu yang selanjutnya, ok?" ujarku memberi semangat disertai dua kepalan tangan di depan dadaku.


Mungkin di sana ada sisi baik pada Lucile Elford yang tidak kuketahui. Mungkin. Namun, bisa saja itu adalah efek seperti halnya Frederick yang nyaris berhasil melumpuhkanku dalam pikatannya. Terlebih mengingat kembali pertemuan kami tadi pagi.


Pada akhirnya kami melanjutkan obrolan tentang sekolah. Sampai kusadari pandangan Gabriel sempat teralih ke luar kelas. Ia tiba-tiba menghentikan percakapan denganku.


"Maaf karena telah mengganggu jam istirahatmu. Kelihatannya temanmu dari tadi ingin bertemu denganmu," kata Gabriel sebelum berdiri dan mengembalikan kursi yang habis dipakainya.


Mengikuti arah pandang si ketua kelas, aku menemukan Zoe yang sedang mengintip dari depan pintu kelas. Gabriel melambai kepada Zoe, lalu menyuruhnya untuk masuk dan membiarkan gadis itu menghampiriku dengan membawa sebuah tas.


Sebuah pelukan menyelimutiku.


"Zoe," panggilku dengan membalas pelukan dari sahabatku itu.


Tak kudengar suaranya selain hanya isak kecil dari mulut Zoe. Gadis itu menangis dan kurasakan air matanya membasahi bahuku.


"Zoe, kau kenapa?" tanyaku khawatir.


"Maafkan aku, Kim. Kau pasti terkejut karena pertengkaran kami kemarin. Kau jadi pergi begitu saja. Aku khawatir sekali, apalagi kau habis pingsan. Saat kucoba kuhubungi, ponselmu ternyata ada di tas," terangnya susah payah sambil sesenggukan.


Aku terdiam, kemudian mengelus lembut kepalanya. "Ah, itu. Tidak apa, sungguh. Maafkan aku. Tapi kemarin aku pergi bersama Noah, jadi aku merasa aman."


"Kau bersama Noah?" tanya Zoe sambil melepaskan pelukannya kepadaku.


...****************...