
Bagaimanapun aku berusaha memejamkan mata, aku tidak bisa jatuh terlelap.
Sudah berjam-jam lamanya aku bergelung di balik selimut, sementara malam semakin larut. Padahal besok adalah hari pertamaku di sekolah. Di bawah temaram lampu tidur, aku lantas menjulurkan tanganku untuk mengambil ponsel, dan dari benda itu kuketahui sekarang waktu sedang menunjukkan pukul 12 malam. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sama sekali tidak mengantuk. Banyaknya pikiran di dalam kepalaku begitu mengganggu.
Bukan karena aku takut hantu, atau karena teman sekamarku sepertinya tidak kembali hari ini, tetapi lebih karena khawatir akan hari pertamaku di sekolah nanti. Belum resmi menjadi murid Fairille High School saja, aku sudah mengalami kejadian-kejadian yang aneh. Pikirku, apa yang akan menungguku di hari-hariku di sekolah nanti?
Tatapanku pada layar ponsel lalu beralih pada notifikasi chat dari Zoe yang dikirim sekitar satu jam yang lalu. Di waktu istirahat memang aku sengaja menonaktifkan suara selain alarm untuk membangunkanku di pagi hari. Karenanya, aku pun menyibak selimut dan duduk di sandaran ranjang. Di sana, sebuah pesan lantas kubaca.
'Apa kau sudah tidur, Kim?'
'Ingatlah untuk selalu membawa benda yang ada di dalam kotak dari Emily.'
Kotak dari Emily. Dilihat dari pesan Zoe, kelihatannya benda itu sangat penting. Aku memang belum mengeceknya karena setelah menghabiskan waktu bersama Zoe hingga petang, aku lanjut membersihkan diri dan bermain ponsel. Aku memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur lalu duduk di kursi. Mataku menyorot pada benda-benda di atas meja belajar. Pada lembar foto polaroid yang aku ambil bersama Zoe dan Max, senyumku teretas. Menyadari aku terus-terusan menatap satu-satunya cowok pada foto itu, aku lekas menggelengkan kepala. Kedua tanganku kemudian menyentuh wajahku yang terasa hangat. Aku merasa perilakuku sangat aneh belakangan jika berhadapan dengan cowok baru di Fairille.
Tapi Max memang sangat ramah, Leonal dan Tom juga. Bukankah hal wajar jika itu membuatku ge-er? Apa ini yang dirasakan Marsha, Felly, dan Sophie saat mereka membicarakan cowok-cowok saat aku masih di McReych?
Ini seperti bukan aku yang biasanya!
^^^"Kau juga tak perlu memaksakan diri,^^^
^^^Schulz.''^^^
Tiba-tiba suara menyebalkan Noah terngiang jelas di telinga, sehingga membuyarkan rasa berdebar yang tadinya aku rasakan. Aku menggeleng saat membayangkan wajah dingin cowok itu menatapku, seolah ingin mengusirku dari sekolah, bahkan dari Kota Fairille ini!
"Ugh. Dia punya masalah apa sih denganku?"
Padahal Noah sendiri yang berkata jika dia tidak membenciku, dan kami juga baru mengenal.
Ralat, bahkan kami tidak saling kenal!
Aku kemudian berusaha mengusir wajah Noah dari bayanganku dengan mengibas-ngibaskan tanganku ke udara.
Benda yang menjadi perhatianku berikutnya adalah sebuah kotak yang dilapisi beludru keemasan. Karena Emily terburu-buru dengan urusannya, sepertinya dia lupa memberitahuku mengenai benda di dalamnya. Dengan hati-hati, aku pun membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan liontin bening, tanpa warna. Apa benda ini simbol sekolah makanya harus dibawa kemana-mana?
Aku pun tak ingin ambil pusing dan langsung memakainya di leherku. Lalu kuambil berkas lainnya yang berisi surat-surat resmi kepindahanku. Aku menyisihkannya ke samping dan membuka buku berisi peraturan-peraturan Fairille High School. Aku ingin tahu apa ada peraturan tertulis yang tidak memperbolehkan para murid memasuki hutan. Tapi sebelum kutemukan peraturan itu, sebuah perkamen tua terlipat jatuh dari salah satu halaman. Sebuah tulisan latin indah tertera di sana.
...'Meski harus memakan ribuan tahun, aku akan selalu setia menunggumu, Tuan Putriku, Kimberly Schulz. Dan kini, kau telah kembali di tanah ini.'...
Tiba-tiba sebuah perasaan menggelenyar. Aku tidak tahu apa, tapi sama seperti ketika terbangun dari mimpi setelah bertemu pangeran peri yang telah menjadi batu. Air mataku jatuh. Aku tidak bisa menahannya. Padahal bisa saja surat yang masih kupegang ini hanyalah semua kerjaan iseng.
Aku tidak tahu. Tapi aku sekarang menyadari jika harapan atas keberadaan pangeran itu adalah nyata.
Apa aku sudah gila?
...***...
Pakaian yang membalut tubuhku tak lagi seragam lamaku, melainkan sudah berganti menjadi seragam Fairille High School. Kesan yang tadinya modis dan seksi berubah jadi elegan dan feminin. Aku yang mematut di kaca lantas tersadar jika sedari tadi seseorang sedang menungguku sambil tersenyum sendiri.
"A-apa?"
Zoe Borsche. Sejak kedatanganku, dia selalu berada di sampingku. Sedangkan pagi ini, dia memang sengaja datang ke kamarku supaya kami bisa pergi ke sekolah bersama-sama.
"Kau sudah cantik, Kim. Sekarang pasti anak-anak sekolah semakin memberikan atensi padamu."
Sahabatku itu, sungguh, hobinya mungkin kini bertambah menjahiliku setelah kedatanganku ke kota ini.
Kami pun pergi ke sekolah dengan menapaki jalanan batuan pipih yang terhubung dengan asrama. Selain pepohonan di kanan-kiri yang membentuk kanopi dengan bunganya yang menjuntai, terdapat pula sungai kecil yang kami lalui dengan jembatan di atasnya. Gemercik air turut menyejukkan, suasana terasa menyenangkan, burung-burung bernyanyi, alam seakan menyambutku di pagi hari pertama aku masuk sekolah.
Sesampainya di sekolah, aku dan Zoe harus berpisah. Jika Zoe langsung menuju kelasnya, maka aku menuju ke ruang guru untuk bertemu wali kelas yang akan mengantarku ke kelas baruku, kelas 2 Crystal. Aku jelas merasa gugup. Namun wali kelasku, Mrs. Ellis, yang adalah wanita dengan rambut keritingnya yang indah itu, berusaha menenangkanku dengan senyuman lembut di wajahnya. Aku jadi sedikit lebih tenang dan berjalan bersamanya memasuki kelas.
Kelas yang tadinya ramai tiba-tiba berubah tenang. Aku mungkin sudah mulai terbiasa ketika aku berjalan dan mendapatkan atensi dari murid-murid di sekitar, tetapi ketika di depan kelas seperti ini, rasanya berbeda. Apalagi sangat jelas puluhan mata miliki para murid tengah memandang ke arahku.
Meski begitu, aku harus bersikap biasa dan tersenyum sebagaimana aku biasanya.
"Aku Kimberly Schulz. Senang berjumpa dengan kalian."
Kelas yang tadinya tenang, satu-persatu mulai ada yang berbisik-bisik. Aku tak membiarkan pikiran buruk bercokol di dalam kepalaku, jadi aku tetap menunjukkan senyum terbaikku. Akan tetapi, senyum itu seketika hilang saat aku menyadari kehadiran salah seorang di sana.
Tepat di suduh belakang dekat jendela, seorang cowok yang kemarin menggangguku sedang tersenyum penuh arti ke arahku. Ingatan di rooftoop kemarin seketika menggelayutiku. Aku meneguk ludah, merasa takut.
Adalah Frederick Elford orang itu. Tak kusangka dia sekelas denganku.
"Baiklah, cukup, Nona Schulz. Kau bisa duduk di bangku kosong di sebelah Tuan Elford."
Dentuman keras seolah menghentak dadaku. Tidak. Aku sungguh tidak mau duduk di samping cowok itu!
Aku tidak bergerak. Otak dan kakiku serempak tidak mau menuruti perintah guru itu. Aku menoleh, memberanikan diri untuk berkata, "Saya memiliki konsentrasi yang buruk jika duduk di bangku belakang, Mrs."
Aku tidak berbohong, sungguh. Aku sudah pasti tidak konsentrasi jika duduk di sebelah cowok berambut keperakan itu!
Seseorang lantas menawarkan diri untuk duduk di bangkunya yang ada di barisan kedua dari depan. Mrs. Ellis memperbolehkan, dan aku pun duduk di bangku anak itu. Meskipun masih satu deret bersama Frederick, setidaknya itu cukup jauh, dan aku jadi merasa lebih lega.
Pelajaran pun dimulai. Anak-anak fokus pada penjelasan Mrs. Ellis, begitu pula diriku. Tapi aku merasa seseorang menatapku terus-menerus. Ketika aku menoleh ke balik punggung, aku mendapati cowok itu, Frederick Elford, menatapku dengan lekat, seolah ingin memangsaku. Aku buru-buru kembali menghadap ke depan, dan memaksakan diri untuk tidak lagi menghadap belakang, hingga bel tanda istirahat terdengat.
Setelah merapikan buku pelajaran dan peralatan tulis, aku pun hendak berdiri, tetapi sebuah tangan menahan bahuku. Aku terpaksa kembali duduk dengan seseorang yang tiba-tiba muncul di sampingku.
Dengan senyum pongahnya, orang itu bersandar pada mejaku.
"Kimberly Schulz. Kita satu kelas, rupanya. Sebuah takdir yang menyenangkan, hm?"
Jika itu Frederick Elford, aku mungkin tahu apa tujuannya menghampiriku. Mungkin dia dendam padaku karena telah menonjoknya. Aku bisa melihat bekas memar pada wajahnya. Itu pasti karena perbuatanku. Tapi setelah kupikir-pikir kini, aku sedikit menyesal kenapa aku refleks memukulnya pada saat itu. Apalagi jika tahu aku akan sekelas dengannya.
"Kita belum berkenalan secara resmi. Aku Frederick Elford," ucap cosok itu tanpa melepaskan tatapannya terhadapku.
"Kimberly Schulz. Senang mengetahui namamu, Tuan Elford." Aku mencoba tidak panik dan menutupi hatiku. "Tapi aku harus pergi."
Percayalah. Aku juga menahan diri supaya tak menunjukkan rasa takut sehingga nantinya pukulan tak lagi melayang.
"Kenapa terburu-buru sekali? Aku ingin mengajakmu makan bersama."
"Maaf, tapi aku ada janji bersama temanku, Tuan. Jadi, biarkan aku pergi."
Aneh. Cowok itu membiarkan aku melewatinya tanpa berbicara apa-apa lagi. Tak ingin melewatkan kesempatan itu, aku pun lekas berjalan menjauh ke luar kelas tanpa menolehkan kepalaku ke belakang.
...****************...