
Di hadapanku, Zoe sepertinya cukup terkejut.
"Iya, dengan Noah. Kenapa?" kataku sambil mengusap lembut sisa air mata yang ada di pipi Zoe. Zoe tersenyum, lalu menggeleng.
"Tidak... aku hanya terkejut. Noah yang seperti itu ternyata bisa membantu anak perempuan," ujar Zoe yang menuangkan rasa herannya dalam kata-kata.
Noah yang seperti itu, aku menggaris bawahi kata-kata Zoe. Pikirku, sepertinya sikap Noah yang dingin dan menyebalkan tak hanya ditujukan kepadaku.
Di sisi lain, aku menyadari tangis Zoe sudah reda. Itu sedikit membuat perasaanku perlahan melega, karena berarti Zoe sudah lupa. Sebagai gantinya, ia malah sibuk memulai gosip---sebuah hobi yang cukup digemari di kalangan wanita, memang. Aku tentu tergelitik untuk ikut ambil suara. Apalagi objek gosipnya adalah cowok yang sikapnya susah untuk ditebak, apalagi isi hatinya.
"Memangnya sebelumnya tidak?" tanyaku penasaran.
"Hu-uh," ucap Zoe singkat, yang menurutku cukup imut, apalagi ketika ekpresi Zoe mulai serius dan bibirnya sedikit mengerucut. Gadis itu pun mulai menjabarkan, "Sebenarnya dia sangat bisa diandalkan, banyak anak-anak lain yang meminta bantuan padanya. Misalnya Max dengan klub panjat tebingnya, Ketua Ordt dengan komite murid, serta beberapa anak lain yang meminta bantuan padanya. Kadang dari klub basket, kadang dari klub fotografi.”
Aku sedikit lega ketika menyadari Zoe tidak ragu menyebut nama Max, padahal hingga detik ini kuketahui dia masih belum akur dengan saudara kembarnya itu. Setidaknya aku tahu jika Zoe masih menyayangi Max.
Kepalaku mengangguk mengerti akan penjelasan Zoe. Pantas saja aku sering berjumpa dengan Noah ketika aku sedang bersama cowok-cowok yang disebutkan oleh Zoe tadi. Di sisi lain, aku jadi teringat sikap Noah pada salah satu orang yang kukenal.
“Uhm, tapi Zoe," ucapku sedikit ragu. Aku melipat bibir ke dalam sejenak sambil berpikir. "Noah sepertinya selalu menghindari Tommy—maksudku, Tom Graffen. Tommy kelihatan selalu mengejar Noah untuk menjadi model fotonya, tetapi Noah tidak mau.”
Aku ingat sekali di hari itu ketika aku tersesat sampai ke taman belakang. Itu adalah pertemuan pertamaku dengan Tom, sekaligus dengan Noah yang baru saja terjatuh dari atas pohon. Di samping sikap Noah yang menolak mentah-mentah atas bantuan yang kutawarkan saat itu, kuingat hari itu cukup berkesan bagiku karena baru kali itu seseorang memintaku menjadi model foto untuknya.
Juga dengan patung pangeran peri yang membuatku berharap akan keberadaannya.
“Oh, benarkah?” Zoe mengetuk-ketuk dagunya, tampak berpikir sejenak. Bola matanya yang keemasan juga bergulir lambat. Dia lalu cemberut karena sepertinya tidak menemukan jawaban, lantas fokusnya kembali padaku. “Padahal setahuku, Tom Graffen termasuk anggota klub fotografi. Itu aneh, sepertinya dulu Noah mau-mau saja diminta bantuan oleh klub itu.”
“Mungkinkah terjadi sesuatu di antara mereka?” tanyaku, tanpa sadar intonasiku jadi seperti presenter gosip di televisi.
“Bisa jadi. Padahal ya, saat kami masih menjadi murid baru, Noah menjadi model di cover majalah sekolah." Telunjuk Zoe terangkat dan bermain di udara saat gosip yang kami obrolkan semakin panas. "Dan kau tahu, Kim? Semenjak itu, banyak murid perempuan yang naksir padanya. Kepopulerannya semakin melejit saat diketahui jika dia banyak membantu banyak klub, apalagi ketika dia menjabat sebagai wakil komite murid.”
“Wow. Kelihatannya dia sungguh berbakat," ungkapku kagum. Salah satu tanganku sampai menangkup di depan bibir.
“Kau benar." Zoe semakin semangat bergosip, terdengar dari nada bicaranya yang juga semakin antusias. "Nilainya juga termasuk tinggi dan masuk ke jajaran peringkat teratas. Terkadang aku iri padanya,” kata Zoe dengan ditutup helaan nafas pasrah.
Mendadak aku jadi teringat sifat cowok itu yang berbanding terbalik dengan semua yang disebutkan oleh Zoe. Kekaguman yang kurasakan sebelumnya seketika rontok bak dedaunan musim gugur yang telah ditiup angin kencang. “Pasti sifat menyebalkannya hanya ditujukan pada murid-murid perempuan," ungkapku langsung dari isi pikiran.
“Bagimu mungkin menyebalkan, tapi bagi murid perempuan yang lain itu keren lho!” ujar Zoe kedengaran bersemangat.
Aku memutar bola mataku dengan malas. Sama sekali tak setuju dengan pendapat cewek-cewek lain. Mataku lalu menyipit curiga. "Apa kau juga berpikiran seperti mereka, Zoe?"
Zoe seketika tertawa. “Sedikit. Banyak gadis yang tertarik padanya karena Noah terkesan misterius. Lagipula bukankah kalian akrab? Dia bahkan mau mengantarmu sampai ke asrama kan?” Di balik senyum jahil Zoe, aku tahu arah pertanyaannya itu kemana.
“Aku tahu, dia kadang seperti menjadi orang yang berbeda saat bersikap baik. Tapi tak jarang juga sikapnya menyebalkan, Zoe. Sejak pertama bertemu, dia seperti tidak suka padaku dan seolah-olah ingin mengusirku dari sekolah. Ketika kutanyakan kenapa dia tidak suka kepadaku, dia mengelaknya. Tapi tadi pagi, ketika Tuan Ordt mengatakan jika dia tertarik padaku seperti halnya yang lain, Noah bilang kalau aku hanya gadis biasa saja dari kota–oops.”
Aku tiba-tiba menutup mulutku dengan tumpukan tangan. Aku keterusan berbicara, sampai-sampai tanpa sengaja membeberkan informasi yang seharusnya tak perlu dalam pergosipan ini. Saat kulirik ke arah Zoe, senyum jahil dan penuh arti milik Zoe semakin melengkung sempurna.
Uh... gawat.
Gelak tawa Zoe terdengar. Gadis itu bahkan nyaris memukul-mukul meja kalau aku tak menghentikannya. Murid-murid tersisa yang masih berada di kelas sampai menoleh, termasuk Gabriel Adayr yang masih berada di bangkunya. Aku membekap mulut sahabatku supaya gadis itu berhenti menertawaiku. Rasanya mau menangis saja karena malu. Padahal aku tidak ingin mendapatkan perhatian sekitar lebih dari ini.
“Tenanglah, Kim. Aku bisa mendengarkan penjelasanmu," ujar Zoe sambil menyeka air di sudut matanya. Melihatnya, pipiku jadi menggembung. Aku kemudian membawa kedua tanganku untuk menopang daguku.
"Seharusnya aku yang memintamu tenang," ucapku sambil mendengus sebal.
Pada akhirnya aku menceritakan kejadian tadi pagi: tentang Noah dan Leonal, juga murid-murid di sekitarku yang terus-terusan memberikan atensi padaku. Sengaja, aku tak menceritakan soal kembaran Frederick Elford. Aku tak mau suasana hatiku kacau saat ini.
“Aku pun sebenarnya juga merasakannya, Kim,” ungkap Zoe. Kulihat gadis itu sudah tenang dan mulai kembali serius. “Kau memiliki sesuatu yang membuat orang lain tertarik padamu—semakin kau dewasa, sesuatu itu semakin terasa kuat. Kalau Ketua Ordt bilang jika itu adalah aura kecantikan, yah mungkin benar. Oh, tapi jangan salah sangka. Aku berteman denganmu karena aku memang menyayangimu seperti saudara sendiri. Kita sudah berteman dari kecil.”
Mendengar penjelasan Zoe sampai akhir, aku jadi terenyuh. Hatiku perlahan terasa tenteram. Meskipun aku belum mengingat kisah kami ketika kecil, aku percaya pada Zoe. Keinginanku untuk kembali mengingat masa laluku semakin memuncak. Tepat ketika itu, tiba-tiba kurasakan setitik syukur karena aku kembali Fairille. Mungkin ini adalah sebuah takdir.
Aku lalu berdeham untuk mengusir haru yang tertinggal di tenggorokan.
“Begitu. Pantas saja terasa aneh," kataku pelan. Diam-diam merasa lega karena tak terdengar serak pada suaraku.
“Nikmati saja. Aku jadi paham kenapa Noah mau mengantarmu ke asrama. Karena jika dengan murid-murid perempuan lain, dia terkesan tidak peduli," ujar Zoe menyimpulkan.
Benarkah karena itu Noah selalu muncul di mana pun ketika aku membutuhkan seseorang? Alih-alih seperti Leonal yang dominan dengan mulut manisnya, Noah sepertinya lebih ke arah sikap dan perbuatan.
Saat aku sibuk membuat kesimpulan pribadi, Tiba-tiba Zoe mengulurkan susu kotak serta sebungkus sandwich isi krim dan potongan buah sebelum lanjut berbicara, "Mungkin karena sikapnya yang terkesan dingin, orang-orang jadi menerka-nerka dan membuat gosip akan masa lalunya.”
Aku mengerjap dan menaikkan pandanganku yang sempat menurun karena termenung. Sesaat, aku menatap ke arah susu dan sandwhich di tangan Zoe, lalu menerimanya dan mengucapkan 'thanks' pelan.
“Gosip?” tanyaku sembari membuka plastik sandwich.
“Yeah. Gosip yang berhubungan dengan kisah cintanya di masa lalu." Sambil sibuk berbicara, Zoe juga sibuk menusuk kotak susu dengan sedotan. "Orang-orang bilang kalau dia tidak mau dekat dengan cewek lagi karena belum selesai dengan masa lalunya.”
“Maksudmu, dia masih menyukai seseorang di masa lalunya?” tanyaku lagi setelah berusaha menelan ******* sandwich di mulut.
Zoe mengangguk sambil menyeruput susu kotaknya. “Tepat sekali. Tapi itu masih gosip yang simpang siur sih. Tidak tahu juga siapa yang menyebarkan gosip itu,” jawab Zoe. Ia mengedikkan bahunya di akhir kalimat.
"Begitu," kataku sebagai penutup gosip kami di siang hari ini.
Selama beberapa menit, aku menghabiskan waktu untuk mencerna percakapan kami barusan. Segalanya jadi terasa tenang dan hening. Bahkan, ketika menoleh ke luar jendela di mana pepohonan hutan terbentang, suasananya terkesan mendukung ketentraman dari sisa waktu istirahat yang kami habiskan untuk mencecap makanan.
Namun, kelihatannya Zoe masih tak puas dengan bahan gosip sebelum ini.
"Jadi, di antara cowok-cowok itu. Siapa yang membuatmu tertarik, Kim?" ujar Zoe sambil memasang kembali senyum jahilnya.
Astaga, sahabatku ini.
"Zooeeee! Stop it!"
...****************...