Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
21. Cupcake



Malam telah benar-benar menguasai langit Fairille rupanya. Bintang-bintang bertebaran di atas sana, menambah lega perasaanku saat mengetahui bahwa kami telah tiba di luar bangunan sekolah. Tak lagi kurasakan tegangan pada tubuh, meskipun sakit pada kepalaku terkadang masih terasa, tetapi tidak separah sebelumnya. Aku mungkin bisa menikmati keragaman bunga dan bulan yang terpantul di air kolam kalau saja aku tak lagi merasakan efek syok. Selama ini, aku tidak pernah melihat pertengkaran saudara, karena aku dan Ezra sendiri tidak pernah berselisih.


“Apa mereka terkadang bertengkar seperti tadi?” tanyaku setelah tersadar tangan Noah tak lagi memegangku.


“Entahlah. Aku tidak pernah melihat mereka bertengkar sebelumnya,” ujar Noah tanpa menatap ke arahku. Ia menarik kedua tangannya ke dalam saku celana.


Mendengar pengakuan Noah, aku jadi menundukkan kepala. Aku melihat bingkisan dari Max di dalam dekapanku sambil menggigit bibir bawah, menyesali diriku sendiri karena tanpa sadar telah membuat mereka bertengkar.


“Tak usah dipikirkan. Itu bukan salahmu,” ucap Noah sambil mengerling kepadaku. Tanpa kata lagi, cowok itu lalu mulai melangkah ke arah jalan di antara pepohonan menuju asrama kami.


“Tapi–”


Tidak ingin ditinggal, aku pun menyusul dan mulai mensejajari langkah Noah yang lebih panjang dariku karena cowok berkacamata itu memiliki tubuh tinggi–tidak setinggi dan sebesar Max, tapi posturnya yang gagah mengingatkanku pada model catwalk yang pernah kulihat di acara fashion show saat aku masih di McReych, minus tangannya saja yang salah satunya sedang dibebat gips karena terluka. Kalaupun Noah menjadi model foto juga rasanya sangat cocok, apalagi tatapan fear yang dibutuhkan bagi seorang model foto, itu sangat alami pada tatapan Noah.


Seperti tatapan Noah yang diberikan padaku saat ini.


Gawat, tanpa sadar aku terus memperhatikannya sedari tadi!


“Mereka bertengkar karena aku. Jadi wajar kan jika aku merasa bersalah,” ucapku sambil memaksakan diri dengan masih menatap ke arahnya, sebelum menarik pandang dan tertuju ke depan senatural mungkin. Padahal jantungku sudah berdegup tak keruan saat terpergok, tetapi kepura-puraanku berhasil menutupinya.


Mungkin.


“Kau benar. Itu salahmu. Pikirkan saja terus hal itu. Toh itu tak akan membuat pertengkaran mereka berakhir,” ucap Noah penuh sarkasme.


“Ugh, kau ini,” balasku kesal.


Gemercik dari kejauhan mulai terdengar beradu dengan gemerisik dedaunan dari pohon-pohon di sekitar kami. Sebentar lagi kami pasti akan dapat melihat jembatan yang melintasi sungai kecil. Sayangnya ketika belum mencapainya, tiba-tiba saja pandanganku bergoyang. Bukannya berhenti, aku justru tetap berjalan sehingga tanpa sadar tersandung batu sehingga membuatku kehilangan keseimbangan. Noah segera meraihku ke dalam dekapannya sebelum aku terjatuh. Beruntung aku tak terlalu ceroboh untuk melepaskan bingkisan dari rengkuhan kedua lenganku.


“Kau masih belum pulih sepertinya,” ujar Noah padaku.


“Iya…Maaf. Aku sedikit pusing,” ucapku lemah.


Noah lalu menuntunku ke bangku di tepi sungai tak jauh dari kami supaya aku bisa beristirahat. Terbantu oleh penerangan dari salah satu lampu taman yang tersebar di sepanjang jalan menuju asrama, aku bisa melihat permukaan air sungai di hadapan kami yang memantulkan bayangan pohon dan langit malam. Sambil menikmati nyanyian serangga dan syahdunya sekitar, aku membuka bingkisan dari Max yang ada di atas pangkuanku. Ketika aku lihat isinya, ternyata itu adalah cupcake. Terdapat tulisan satu kata pada setiap kuenya, yang jika dirangkai semuanya akan membentuk kalimat I’m-sorry-Kim.


Senyum lembutku teretas. Berpikir, jika Max pasti benar-benar menyesal. Sedangkan Zoe barangkali terlalu keras pada kakaknya.


“Kenapa kau senyum-senyum pada kue itu?” tanya Noah tiba-tiba.


Kepalaku seketika menoleh pada Noah. Cowok itu kelihatan heran dengan tingkahku. Apa jangan-jangan dia menganggapku gila karena sedang senyum-senyum sendiri?


Aku berdeham di balik tanganku.


“Aku hanya merasa senang diberi kue oleh Max kok.”


Tanpa sadar, aku tersenyum lagi dan mengambil salah satu kue yang dilapisi krim merah muda dengan stroberi dan butiran prinkles warna-warni di atasnya. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa senangku pada kue yang diberikan oleh Max. Bahkan, cupcake itu kusodorkan pada Noah.


“Untukmu. Karena sudah membantuku. Terima kasih, Noah,” kataku tulus.


“Tidak. Terima kasih." Mimik wajah Noah beringsut tertekuk. Alisnya yang tebal juga ikut mengerut. "Aku tidak suka makanan manis,” lanjut cowok itu.


“Tidak mungkin–," wajahku yang terkejut mendadak berubah mafhum, "--oh benar, orang sepertimu wajar jika tidak suka makanan manis,” ucapku sambil mengangguk-angguk sok tahu dan mulai memakan cupcake yang barusan ditolak oleh Noah. Krim manis yang dipadu dengan buat stoberi dan roti lembutnya melumer di mulut. Rasanya aku jadi sangat bahagia.


“Apa maksudmu ‘orang sepertimu’?” tanya Noah penuh selisik.


Aku hanya tersenyum pada Noah sambil masih menikmati cupcake paling enak yang pernah kutemui, sehingga aku pun berpikir jika toko kue terbaik di McReych saja kalah.


“Ini enak sekali, Noah. Kau harus mencobanya meskipun kau tidak suka makanan manis.”


“Tidak.”


Lagi-lagi, Noah menolak. Namun, aku pura-pura tak mendengar dan lanjut berceloteh.


“Oh, ini sepertinya rasa kapucino.” Ada satu cupcake berwarna cokelat yang kemudian menarik perhatianku. Tadinya kupikir itu cokelat, tapi ketika aromanya tercium seperti kopi, aku langsung mengira jika mungkin Noah suka. “Cobalah satu.”


Kue dengan butiran biskuit bundar di atasnya lantas aku sodorkan pada cowok itu.


“Kau orangnya pemaksa sekali ya?”


“Oh. Ayolah. Aku hanya ingin berbagi makanan enak denganmu." Di sela bungkamnya Noah sambil menatap sejenak cupcake yang masih berada di tanganku, aku menyadari jika satu tangan Noah yang terkungkung mungkin menyulitkannya untuk makan. "Atau mau kusuapi?" ucapku menawarkan.


"Tidak perlu," jawabnya sembari menyambar cupcake dariku. Ia lalu memandangi tuliskan ‘Kim’ di sana. Setelah menghabiskan beberapa detik dalam renungan, dengan ragu barulah ia menggigit kue itu dan mengunyahnya perlahan. Sorot mataku yang penasaran padanya makin bertanya ketika Noah menelan kue itu dengan susah payah.


Tiba-tiba terdengar lenguh tertahan dari mulut cowok yang sedang menaruh punggung tangannya yang masih memegang cupcake ke depan mulutnya itu. Wajahnya yang memucat kelihatan tersiksa. Senyum getir pada wajah Noah kemudian diberikan padaku. Aku langsung tahu jika dia sama sekali tidak menyukainya.


“Bagaimana bisa kau memakan makanan seperti ini? Ini manis sekali," celetuk Noah dengan memasang tampang tersiksa.


“Bagaimana bisa kau tidak bisa memakan makanan terbaik ini?” Aku menghela nafas, lalu menggeleng dramatis. Namun, aku cukup mengerti jika tidak semua orang suka pada makanan manis, dan aku tidak bisa memaksakannya pada Noah. Aku pun tersenyum penuh penyesalan. “Maaf, Noah.”


“Tidak masalah. Sebenarnya dulu aku suka makanan seperti ini,” ungkap Noah.


“Tidak mungkin!” ucapku tidak percaya.


“Kenapa kau terkejut seperti itu?" Noah mendengus.. Pandangan cowok itu berangsur menerawang. "Tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi.”


Aku mengerjapkan kelopak mata beberapa kali, sedikit menelengkan kepala ke arah Noah. “Kau harus memberitahu alasannya padaku. Barangkali aku bisa membantumu untuk menyukainya lagi. Memangnya kenapa?” ujarku, kali ini agak memaksa.


“Tidak perlu repot-repot," tolak Noah mentah-mentah. "Lagipula terlalu banyak mengonsumsi gula itu tidak sehat.”


Meskipun merasa tersindir karena aku memang suka makanan manis seperti ini, aku mengangguk setuju. “Kau ada benarnya juga sih," ucapku terdengar murung.


Lalu tiba-tiba saja Noah kembali memakan cupcake itu. Meskipun makannya cepat, cara makannya rapi dan tak meninggalkan bekas krim di sisi mulutnya. Bahkan, secara mandiri Noah dapat melepaskan kue itu dari wadahnya. Aku yang melihatnya tak percaya, apalagi menyadari Noah telah melahap habis cupcake itu.


“N-Noah padahal kau tak perlu memaksakannya jika tak suka," kataku buru-buru, khawatir jika Noah akan memuntahkan kembali kue itu.


“Tidak apa. Tidak boleh membuang-buang makanan, ugh," ucapannya terpotong, kelihatannya menahan sesuatu, "--lagipula itu cupcake pemberianmu.”


Aku tentu tak bisa memahami begitu saja. 'Cupcake pemberianmu', yang berarti pemberianku. Memangnya kenapa? Rasanya aneh sekali mendengar hal itu dari mulut Noah. Padahal Noah yang kukenal setelah beberapa hari ini adalah cowok dingin yang menyebalkan, tetapi tak kusangka dia memiliki sisi manis seperti ini.


“Sudah belum makannya? Kalau lama-lama, kutinggal saja,” kata Noah tiba-tiba yang seketika menarikku ke sebuah kenyatan.


Kenyataan jika Noah itu memang menyebalkan!


“Kau suka sekali meninggalkanku ya!”


Aku lalu memakan satu cupcake yang tersisa. Menikmati pemandangan malam seperti ini, ternyata menenteramkan ya. Kesederhanaan yang tiada tara. Aku baru sadar setelah tinggal di Fairille. Jika tempat seperti ini berada di kota besar seperti McReych, pasti tidak akan bertahan lama. Banyak anak-anak muda yang akan datang dan membuat konten atau hal semacamnya yang akan membuat rusak. Ah, aku jadi ingin melindungi tempat ini.


Aneh. Padahal aku dan Noah hanya berada di bangku di tepi sungai kecil, tetapi bisa-bisanya aku berfikir sejauh itu.


Hingga cupcake di tangan pun habis dan yang tersisa hanya wadah yang kemudian kukembalikan ke bingkisannya, menyusul dua wadah yang lain.


“Kembali ke asrama?” ucapku akhirnya.


Alih-alih mengiyakan ajakanku, Noah justru mengedikkan dagu ke arahku. “Ada krim yang menempel di pipimu tuh.”


“Di mana?” tanyaku. “Uh. Aku tak bawa tisu.”


Saat aku hendak membersihkannya dengan pinggiran telapak tangan, Noah menahan tanganku.


“Bodoh. Jika seperti itu justru akan mengotori tanganmu.”


Noah mengambil sapu tangan dan membersihkan krim yang menempel di pipiku. Dilakukannya hal itu dengan lembut. Aku terpaku, terlebih ketika merasakan bibirku disentuh oleh sapu tangan yang memiliki wangi khas pemiliknya itu. Semakin tidak menyangka dengan sifat Noah yang tersembunyi di balik sikap dinginnya.


“Dasar orang kota. Padahal lebih praktis menggunakan sapu tangan seperti ini daripada tisu," cemooh Noah tiba-tiba. Ia lalu menjejalkan sapu tangan itu ke telapak tanganku. "Pakai sendiri untuk membersihkan tanganmu yang kotor.”


Akan tetapi, tetap saja sikap menyebalkannya masih menempel lekat pada cowok itu. Entah kenapa setiap kali aku berfikiran baik soal Noah, langsung terpatahkan begitu saja.


“Mungkin maksudmu lebih ramah lingkungan. Jika praktis, bukankah lebih praktis tisu karena langsung buang?” ucapku sambil bersungut dan mengelap sapu tangan pada telapak tanganku dengan kesal.


“Nah. Kau tahu itu," ujar Noah dengan nada mengejek.


“Dasar ya kau itu." Aku lalu melipat sapu tangan itu dan berniat memasukkannya ke dalam tas. "Aku akan mencuci sapu tanganmu dulu. Ah, aku jadi teringat sapu tangan yang dipinjamkan Tommy.”


“Tidak usah. Kau bisa-bisa merusaknya," tolak Noah.


Aku bangkit berdiri lalu menjulurkan lidah. Bisa-bisanya dalam jeda waktu yang sebentar, Noah berulang kali menolak niat baikku. Sebenarnya aku ingin langsung menuju ke asrama dan balas meninggalkannya, tetapi kusadari satu hal yang tak kutemukan di sekitar.


"Di mana tasku?"


...****************...