
"Bahkan kelopak bunga ini. Aku sungguh iri padanya."
Seketika wajahku memerah. Kelopak bunga yang tadinya kucium jatuh begitu saja ke atas pangkuan. Pandanganku tak bisa lepas dari Leonal yang tersenyum kepadaku.
Apa maksud semua perkataannya?
Tidak lagi mampu menghadap, aku mengembalikan tubuhku ke depan dan mengaitkan helaian rambutku ke belakang telinga. Bibirku terkulum malu. Aku jadi semakin tidak ingin melihat ke arahnya. Aku yakin sekali Leonal sedang berusaha menggodaku. Bukankah cowok memang tipikal seperti itu?
"Kau terlalu berlebihan, Tuan Ordt. Apa kau selalu mengucapkan kata-kata seperti itu pada seorang gadis?"
Tawa renyah Leonel kemudian menggelitik telinga. Cowok itu ternyata tahu bagaimana cara untuk menarik kembali atensiku.
"Aku hanya sedang mengungkapkan isi hatiku, Nona Schulz." Lalu dirinya mengerling pada patung pangeran peri di belakang kami. "Aku juga iri padanya. Kau ke sini karena ingin menjumpai patung ini kan?"
Aku tak menjawab, hanya ada geming yang menguasai raga. Sebenarnya memang iya. Ada sebersit rindu yang hadir, dan ingin kujumpai patung pangeran peri.
Sosok patung itu, masih sama seperti saat terakhir kali aku bertemu. Begitu sedih dan rapuh. Kalau saja bisa, aku ingin memeluknya lalu menghiburnya. Namun sayang, sosok itu tidak nyata dan hanya buatan manusia. Terlalu nyata sampai-sampai aku seolah dapat merasakan kesengsaraannya.
Oh, pangeran peri.
Aku tidak tahu apa yang membuatku hampir selalu memikirkan hal itu.
Di sana, di luar gerbang yang menjadi penghubung taman belakang dan hutan, lamat-lamat terdengar suara orang berbicara. Leonal di sampingku berdiri sambil memelototi hutan di kejauhan. Dengan berkonsentrasi, sepertinya dia berusaha untuk mendengar lebih jelas. Sebelum cowok itu berjalan menjauh, ia menyempatkan diri untuk berbicara padaku.
"Apa kau mendengar suara orang berbicara?"
Tentu saja, kujawab dengan gelengan kepala. Pikiranku seketika melayang pada dua orang yang mungkin sedang menungguku sedari tadi. Jika sumber suara itu berasal dari Max dan Noah, bisa-bisa mereka terkena masalah dan rencana kami untuk menjelajahi hutan terancam batal.
"Kau tunggulah di sini. Aku ingin memeriksa apa ada murid di sana ataukah tidak," kata Leonal lagi.
Aku mencoba untuk menghentikan Leonal dengan memberitahu kemungkinan jika cowok itu salah mendengar, bahkan ketika tanganku refleks menahan lengannya dan aku berpura mengira jika itu suara hewan buas. Itu sama sekali tidak mempan. Leonal justru tersenyum manis kepadaku.
"Aku senang kau mengkhawatirkanku, Nona Schulz. Tapi tenanglah, tidak ada hewan buas di sini."
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, apalagi ketika menyadari suara dari salah satu orang yang berbicara itu semakin keras--yang kuyakini itu adalah suara Noah.
Astaga, Noah, bodoh sekali!
Dengan terpaksa, aku mengikuti Leonal saat cowok itu berlari ke arah sumber suara yang berada di luar gerbang. Tidak mau tertinggal, aku pun ikut berlari meski permukaan jalan yang kami lalui tidak lagi utuh seperti pertama kali dibuat. Kehati-hatianku berdampak pada kemujuran, pantofelku mulus menyisiri bebatuan pipih di atasnya. Ketika kami sampai tepat di titik gerbang, dapat kami temukan sosok cowok berkacamata dengan tangan ber-gips sedang bersandar pada batang pohon.
"Noah?" ucap Leonal.
Respons Leonal atas hadirnya sosok Noah Huxley di pandangan membuat alisku tertekuk. Tak kusangka mereka saling mengenal, bahkan terkesan akrab. Noah hanya mengangkat tangannya yang bebas dengan malas. Akan tetapi, saat Leonal telah berada di hadapan Noah, ia tampak terkejut dengan sesuatu yang membalut tangan temannya itu.
"Astaga! Apa yang terjadi dengan tanganmu, Noah?" tanya Leonal khawatir. Dari gips di tangan Noah, perhatian Leonal berpindah pada wajah Noah yang kelihatan tak acuh. Dipedulikan oleh seorang teman seperti itu seharusnya membuat Noah senang. Ah, tiba-tiba saja aku jadi rindu pada Zoe yang tak memberi kabar padaku. "Pantas saja kau menghilang tiga hari belakangan," lanjut Leonal.
"Ada sesuatu hal konyol terjadi," jawab Noah, lalu melirik ke arahku selama sesaat, "membuatku jatuh dari pohon."
Entah kenapa karena lirikan mata Noah terhadapku, aku jadi merasa kesal. Seolah-olah aku lah penyebab dirinya jatuh. Padahal jelas-jelas aku tidak mengganggunya dan justru aku yang menawarkan bantuan. Dia saja yang tidak mempedulikanku dan pergi begitu saja.
"Apakah ini hal yang mengancam? Tapi aku bisa jelaskan," ucapku sambil mengernyihkan senyum dan mengangkat kedua bahuku secara bersamaan.
Leonal lalu seperti menyadari sesuatu.
"Tunggu, Borsche. Jangan bilang kau masih berniat masuk ke dalam hutan," tebak Leonal tepat sasaran.
Max tersenyum penuh arti. "Tepat sekali, tapi tenang saja, aku sudah memiliki tim," ucap Max berbangga diri.
"Astaga, Borsche. Apa kau mengajak Noah dan Nona Schulz ikut serta?" tanya Leonal memastikan. Untuk menjawab pertanyaan Leonal, Max hanya mengulum senyum. Sang ketua murid lantas memberikan tatapan tak percaya padaku dan Noah secara bergantian. "Noah, kau... Nona Schulz, kau juga?"
Noah membuang muka, sementara aku jadi tak enak hati kepada Leonal karena tak mengatakan tujuanku ke taman belakang yang sesungguhnya. Namun, bagaimana lagi? Pada awalnya aku memang merahasiakan pertemuan ini. Hanya saja niatan Max soal pergi ke hutan sudah diketahui oleh Leonal. Dari tempatku berdiri, aku bisa menangkap tatapan kecewa Leonal padaku.
"Maafkan aku, Tuan Ordt. Kau tahu kan jika aku penasaran dengan peri, itulah sebabnya aku tertarik dengan hutan ini. Oh, tapi kuharap kau merahasiakan hal ini," ujarku sedikit berdiplomasi.
Cowok dengan pin bertuliskan 'Ketua Murid' di dadanya itu kelihatan berpikir--aku baru sadar ada pin itu!--sekaligus kebingungan.
"Kenapa kau tidak ikut saja dengan kami?" kata Max menawarkan.
"Benar. Bukankah kau tertarik dengan peri, Tuan Ordt? Kita bisa mencarinya bersama," bujukku pada Leonal.
Leonal kelihatan semakin bingung. Sepertinya ia tak mengira akan diajak ikut serta. "Kalian kan tahu, ada jabatan yang harus aku pertanggungjawabkan. Tidak semestinya aku mengizinkan kalian, apalagi ikut serta masuk ke sana," ucap Leonal dengan sedikit lesu. Kupikir lagi, mungkin cowok itu sebenarnya ingin ikut andil bagian.
"Kalau begitu, pura-pura saja tidak tahu," kata Noah, pada akhirnya buka suara.
"Noah...kau kan wakil-ku...kenapa kau ikut juga?" ucap Leonal tak percaya.
Tunggu sebentar. Apa yang baru saja kudengar, tidak salah kan? Noah Huxley seorang wakil dari seorang Leonal Ordt. Orang yang suka tiba-tiba muncul dan tiba-tiba pergi itu adalah orang nomor dua di komite siswa. Jangan-jangan, dia juga orang yang sama yang sedang dicari oleh Leonal tadi. Bukankah berarti Noah Huxley adalah orang cukup penting?
Aku memandang Noah lekat. Sosok berkacamata ini memang mengingatkanku pada orang yang memanggil Leonal dari jendela lantai 2 saat pertemuan pertamaku dengan Leonal.
"Aku punya urusan di sana," jawab Noah.
"Urusan?" tanyaku spontan.
"Kau tidak perlu tahu, Schulz," ucap Noah datar.
Kesal sekali rasanya mendengar jawaban Noah yang dingin. Membuatku menyipitkan mata tak senang padanya.
"Dasar. Aku juga tak ingin tahu alasanmu kok," kataku sambil bersidekap dan menggulirkan mataku ke arah lain. Tidak mau lagi melihat ke arah Noah.
"Hei, Noah. Apa luka di tanganmu jadi membuatmu kasar dengan seorang gadis?" Leonal kembali bergabung ke dalam percakapan. Ia seperti tak terima dengan sikap Noah kepadaku. "Tunggu. Jangan-jangan karena aku sering meminta tolong padamu makanya kau jadi tertekan, lalu sifatmu berubah?"
Max lantas tertawa dari atas sana. Dahan yang didudukinya sampai berguncang, dan itu membuatku khawatir. Dia bisa jatuh kapan saja jika tak berhati-hati--tidak sengaja melepas pegangan tangan maupun dahan yang bisa patah karena tak bisa menahan aksinya. Cowok berotot itu lantas mengedipkan mata sebelah dan mengisyaratkan kehadiran seseorang yang akan bergabung dengan mereka sebentar lagi dengan kedikan kepala.
"Aku tahu kau akan datang. Kemarilah."
...****************...