Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
27. Bayangan Hitam



"Peri"


Aku seketika mengerjap-ngerjapkan kelopak mata. Pun tanganku yang mengusapnya karena tak percaya dengan apa yang kulihat. Akan tetapi, cahaya berkelip yang asalnya di dalam hutan itu masih tampak melayang di udara, di antara pepohonan. Aku seketika mendirikan tubuh. Lantas dengan ragu, kakiku mulai melangkah.


Tak sampai di mulut gerbang, aku mendadak berhenti. Kerlip cahaya yang kulihat tiba-tiba menghilang di balik bayang-bayang pekat pepohonan—tapi terlalu pekat. Sesaat, aku menaikkan pandangan, menatap posisi matahari yang masih menduduki langit. Logikaku mengatakan, seharusnya bayangan pohon tak sehitam itu. Saat aku melihat lebih teliti, ternyata bayangan kelam itu bergerak ke arahku!


"Apa yang terjadi?" tanyaku spontan pada udara sejuk di sekitar.


Kakiku refleks melangkah mundur. Perlahan. Sampai kusadari kegelapan yang memakan cahaya peri itu bukanlah bayangan, melainkan asap hitam yang seketika mengingatkanku pada mimpiku bertemu dengan pangeran peri. Saat itu sebelum tersentak bangun, aku ingat benar jika sang pangeran berubah menjadi batu ketika terkena asap hitam. Bukankah mengerikan?


Apakah asap di hadapanku adalah asap yang sama dengan mimpi yang kulihat?


Ketakutan pun menghentak. Niatan untuk masuk ke dalam hutan seketika sirna. Asap hitam itu semakin lama semakin mendekat dan semakin cepat. Panik yang ikut melanda membuatku berbalik dan berlari menuju gedung sekolah. Meski kekhawatiran mungkin kentara pada wajahku, aku tetap memperhatikan langkah yang berderap cepat di atas bebatuan pipih yang tak seluruhnya utuh. Belum dengan dedaunan dari tumbuhan tak terawat yang berulang kali menampar kakiku.


Di pertengahan menaiki tangga, tepatnya setelah melewati patung pangeran peri, sempat-sempatnya aku menoleh ke belakang karena masih berharap apa yang tadi kulihat hanya halusinasi. Namun yang kutemukan, asap hitam itu justru telah melalui gerbang dan terus menuju ke arahku. Saat kuperhatikan baik-baik, tumbuhan yang dilewati asap itu menjadi layu dan berwarna hitam—persis dengan ada yang ada di dalam mimpiku!


Aku terkesiap dan bergidik ngeri. Tak ingin mengalami nasib serupa dengan tanaman itu, dengan terburu-buru aku pun berhasil masuk ke dalam gedung dan menutup pintu besar meskipun dengan tangan yang gemetar. Nafasku yang tak beraturan dan tubuh yang mendadak terasa lelah membuatku tergelitik untuk menyandarkan punggung ke daun pintu yang tertutup.


Pikirku, pintu dengan ukiran rumit itu akan melindungiku dari ancaman asap hitam di baliknya. Namun, ternyata tidak. Aku terlambat menyadari ketika asap hitam berhasil melewati celah pintu. Saat aku mengetahuinya, asap itu rupanya telah berhasil menggapai pergelangan tanganku. Bentuknya menyerupai tali yang mengikatnya dengan erat. Aku tentu terkejut dan berusaha melepaskan ikatan yang terasa memanas dan kelihatan memadat dengan beranjak dari sana. Saat aku melihat ke arah tanganku, ada jejak hitam di sana, di kulit pergelangan tangan yang bersentuhan dengan asap itu.


Aku yang semakin ketakutan kembali berlari. Kususuri koridor sepi yang tak ada satu pun murid beraktifitas. Bahkan ketika kakiku telah menjejak di area depan, masih saja tak kutemukan murid satu pun.


Kemana perginya yang lain?


Saat aku berpikiran seperti itu, sosok laki-laki muncul dari koridor lain. Alhasil, kami pun saling bertabrakan dan sama-sama jatuh ke sisi yang berbeda dengan terduduk di atas lantai. Aku hanya berulang kali meminta maaf sambil melihat ke arah belakang, ke tempat koridor sepi yang tadinya aku lalui. Di sana sudah tak ada asap yang mengejar, tetapi aku belum bisa tenang.


"Kimmy?"


Panggilan itu seketika membuatku menoleh. Sosok yang kutemukan berikutnya adalah sosok yang aku kenal, Tom Graffen, sang fotografer terkenal sekolah, yang sedang duduk di atas lantai, sama sepertiku.


"Kau kelihatan cemas dan… terburu-buru. Ada apa?" tanya Tom sambil berdiri dan beranjak ke arahku untuk memberikan bantuan.


Aku hanya diam tanpa mengatakan satu patah kata pun selain meraih tangan Tom. Tenagaku tak mampu membuatku berdiri, aku bahkan masih merasakan sisa gemetar pada kakiku yang berusaha menegak. Lantas kurasakan sedikit dorongan pada pinggangku sehingga aku berada dekat sekali dengan Tom.


"T-Tommy…"


Aku tak bisa berkutik. Tubuhku menegak. Tangan Tom rupanya tengah menahan pinggangku supaya aku dapat berdiri tegak. Akan tetapi, orang bisa salah paham dengan posisi kami karena seperti sedang bermesraan. Rasa takut pun perlahan memudar, mungkin karena keberadaan dan perlakuan Tom padaku.


"Kau kenapa, Kimmy?"


Aku tak memiliki tenaga untuk menjawab. Hanya gelengan pelan yang kutunjukkan. Apalagi setelah mengetahui bekas kehitaman pada pergelangan tanganku karena sentuhan asap tadi ternyata telah hilang. Pikiran di dalam kepalaku kembali membentuk pusaran, bertanya-tanya, apakah tadi hanya halusinasiku saja?


"Sepertinya aku sedang lelah," ucapku yang lantas diisi dengan tawa kecil yang kupaksakan. "Aku mau pulang ke asrama."


"Kurasa juga begitu. Biar kuantar," ujar Tom menawarkan.


Aku bergerak menjauh dari Tom supaya Tom mau melepaskanku. "Tidak usah. Kau sepertinya sibuk."


"Ah. Kau sangat mengerti aku, Kimmy. Klub fotografi memang sedang mempersiapkan dekorasi untuk tempat photoshoot kami saat perayaan sekolah."


Aku hanya tersenyum kikuk. Padahal itu hanya asumsiku semata karena melihat murid-murid sibuk dengan persiapan perayaan sekolah, apalagi sebagian besar dari mereka tergabung dengan klub. Pasti setiap klub punya agenda. Aku saja yang tidak disibukkan dengan apa pun karena tak tergabung dengan klub.


"Eh?" Aku tentu terkejut.


"Untuk lomba. Kalau tidak keberatan tentunya."


"Aku tidak keberatan," kataku sedikit ragu. "Tapi kenapa aku, Tommy? Poseku tidak bagus, badanku kaku, kau tahu sendiri kan?"


Pose saat berfoto dengan patung pangeran peri merupakan sesuatu yang baru bagiku. Arahan dari Tom dan teknik memotret Tom mungkin satu-satunya yang patut mendapatkan pujian karena menghasilkan hasil foto yang bagus.


"Tentu saja karena aku menyukaimu, Kimmy." Tom lantas tertawa. "Maksudku, aku menyukai wajahmu yang manis untuk menjadi model fotoku. Untuk pose, tenang saja, aku pasti akan mengarahkanmu dengan baik."


Ucapan manis dan tawa renyah Tom benar-benar membuatku tak tahu harus merespons apa selain tersenyum malu.


"Hanya saja aku sedang menunggu persetujuan seseorang yang akan menjadi partnermu di photoshoot nanti," lanjut Tom.


"Eh? Siapa?"


"Itu—"


Ucapan Tom terputus lantaran sebuah tangan tiba-tiba berlabuh di bahunya. Ketika ia menoleh ke belakang dan aku ikut mengarahkan pandang, ternyata itu adalah Noah Huxley yang tengah menatap Tom dengan dingin. Tom bergidik karenanya


"A-ada apa Noah?" tanya Tom sambil bergerak menghadap Noah. Namun, tangan Noah masih mencengkeram bahu Tom dengan erat.


"Jadi, kapan photoshoot yang kau tawarkan kepadaku?" jawab Noah dengan sebuah tanya.


Sontak, Tom kelihatan terkejut. Ia tampak kebingungan dengan apa yang baru saja diucapkan Noah.


"T-tunggu Noah. Bukannya kau sendiri yang menolak ajakanku untuk menjadi model fotoku? Kenapa sekarang—gya!" 


Cengkeraman Noah yang makin erat pada bahu Tom membuat Tom kesakitan. Cowok fotografer itu sampai tersentak dan balik menatap ngeri pada tatapan Noah makin tajam. Aku yang melihatnya sampai merasa panik.


"Noah, peganganmu terlalu kuat," ucapku lembut pada Noah. Padahal hanya menggunakan satu tangan karena tangannya yang lain terbalut gips.


Aku lalu membantu mengendurkan cengkeraman itu dengan berusaha melepaskan tangan Noah dari Tom. Untungnya Noah menurut.


"Maaf. Aku tidak sengaja," ujar Noah pada akhirnya.


"Tenagamu kuat juga," timpal Tom. "Tak heran kau disukai anak Klub Panjat Tebing yang kerap kali mengajakmu bermain bersama mereka. Tapi tak masalah. Kau betulan mau jadi model fotoku?"


Noah mengangguk.


"Tapi aku sudah terlanjur menghubungi Frederick Elford untuk menjadi model fotoku, yang rencananya akan kupasangkan dengan Kim."


Aku terkejut. Mataku dan Noah tanpa sengaja bertemu. Menyadari itu, aku segera menggulirkan biner mataku ke arah lain. Apalagi mengingat terakhir kali tentang apa yang dikatakan Noah padaku. Aku masih sensitif soal itu, dan aku masih merasa kesal padanya. Namun, aku juga enggan jika Frederick Elford menjadi pasangan photoshoot-ku.


Ketika aku hendak mengajukan permohonan pada Tom, ucapanku tertahan lantaran melihat sebuah senyum penuh makna yang mengembang di wajah Tom. Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak.


"Tapi mungkin aku punya ide brilian," kata Tom final.


...****************...