
Tak ada pengejaran di belakang membuat langkah kami perlahan melambat, lantas berhenti. Seharusnya kami sudah cukup jauh dari lokasi cowok asing itu berada. Namun, tubuhku masih tegang. Pandanganku masih mengarah ke belakang saat aku melepaskan tautan tanganku dari Noah dan berusaha mengatur nafas yang masih terengah.
"Kau tak apa, Schulz?"
Aku menoleh pada Noah. Tak kusangka cowok yang bersikap tak ramah padaku di pertemuan pertama kami kini justru menanyakan keadaanku. Bahkan, cowok ini datang saat seseorang menggangguku.
"Tentu saja aku tak apa. Tanganku saja yang agak sakit karena habis memukul cowok tadi," jawabku sambil tertawa kikuk. Aku lalu menunjukkan salah satu tanganku yang habis menonjok wajah cowok tadi. Buku-buku jariku agak merah, memang, dan betulan terasa berdenyut. "Ternyata wajahnya keras seperti batu, ya."
Meskipun aku berkata begitu, tak dapat dipungkiri jika aku masih merasakan hal yang tak wajar. Mengingat bagaimana cowok berambut keperakan tadi mengancam dan memperlakukanku, mendadak aku bergidik ngeri. Ketika aku menarik kedua tanganku dan melihat telapak tanganku di hadapanku, aku tersadar jika tubuhku masih gemetar.
Bagaimana jika nanti cowok itu membalas perbuatanku tadi?
"Lebih baik kita duduk."
Suara Noah menarikku dari pikiranku yang kacau.
Noah mengajakku untuk duduk di sebuah bangku taman. Meskipun aku telah menganggukkan kepala dengan lemah, aku tak beranjak satu senti pun dari tempatku berdiri. Noah lalu mendekatiku untuk menuntunku duduk di bangku itu bersamanya. Tangan yang berukuran lebih besar daripada milikku menggenggamku dengan hangat. Setelah duduk, aku hanya bisa menunduk tanpa bisa mengatakan apa pun. Tanpa sadar, aku mengeratkan genggaman tanganku padanya.
"Tenanglah. Ada aku di sini. Orang itu tidak akan berani macam-macam." Padahal suaranya terdengar dingin, tapi kata-katanya sangat hangat. Noah mengatakan itu tanpa menoleh kepadaku.
Perlahan rasa takut yang kurasakan digantikan oleh rasa aman. Sampai menit-menit berlalu dan kusadari aku telah kembali merasa lebih baik. Tubuhku tidak lagi tegang sehingga kuputuskan untuk melepas tangan Noah dari tanganku. Aku menghadap ke arahnya untuk memberikan sebuah senyum tulus padanya.
"Terima kasih, Noah. Maaf karena kau harus menemaniku."
"Kau berhutang padaku."
"A-apa?!"
Sungguh. Kukira cowok ini benar-benar serius dengan ucapannya dan tak ikhlas membantuku. Aku sudah berburuk sangka jika Noah akan bersikap seperti cowok berambut keperakan tadi. Tapi ketika aku melihat segaris senyum tipis pada bibir Noah, aku menyadari cowok itu hanya bergurau.
"Bercanda, Bodoh."
Apalagi memanggilku dengan sebutan itu.
"Oh, ternyata kau bisa tersenyum juga!" ucapku meledek. Aku tentu tidak mau kalah. Namun, jawaban darinya yang kelewat datar dan tak lagi menunjukkan ekspresinya membuatku tidak sabar.
"Aku tidak tersenyum."
"Lalu yang barusan itu apa?"
Noah mengangkat bahu lalu membuang muka. Lihat? Dia benar-benar pandai memainkan emosiku. Atau mungkin Noah bersikap seperti itu supaya aku tidak lagi memikirkan kejadian beberapa saat lalu?
Aku pun menyerah pada sikapnya yang tak lagi menanggapiku, kerlingan mataku lantas tertuju pada gips pada tangannya yang seketika menarik perhatianku.
"Memang separah itu ya sampai tanganmu harus digips?" celetukku sambil bersandar pada bangku taman.
"Tidak. Hanya untuk minggu ini."
"Aku jadi penasaran, apa yang membuatmu sampai jatuh dari atas pohon?" tanyaku penasaran.
"Kau--berisik."
"...uh, aku kan hanya bertanya." Aku sedikit menggembungkan pipi. Sikap Noah rupanya masih sama saat seperti pertama kali bertemu denganku.
Apa mungkin dia masih menganggapku orang luar? Padahal dia ingat aku dan memanggil namaku. Dia juga mau menemaniku sampai sekarang meski aku tak tahu apa yang dia lakukan di sini. Kalau aku bicara lagi, nanti dia pasti terganggu. Aku tidak bawa ponsel, aku tidak bisa memberi kabar pada Zoe. Apa yang bisa kulakukan hanya pura-pura memainkan kamera polaroid yang ada di pangkuanku. Aku bersyukur sling bag kecil yang menaungi kameraku itu tidak terjatuh saat aku berlari tadi.
Lalu ketika hanya ada keheningan di antara kami, Noah tiba-tiba memulai konversasi lagi.
"Apa yang kau lakukan dengan Elford?"
"Eh? Elford? Maksudmu, cowok yang tadi mengangguku?"
"Ya. Frederick Elford."
"Ah, itu..."
Aku lalu menceritakan padanya pertemuanku dengan cowok bernama Frederick Elford, dan kenapa aku bisa sampai di rooftoop. Tapi aku tak memberitahu Noah mengenai apa yang diucapkan cowok itu padaku. Katanya, aku tuan putri, dan cowok itu adalah pangeran. Orang itu seperti bisa membaca isi pikiranku yang belakangan mengangguku.
"Menurutmu, apa dia akan mencariku? Aku menonjok wajahnya tadi...." Akhirnya aku menuangkan perasaanku dalam bentuk kata-kata. Tiba-tiba kekhawatiranku itu merembet pada hal lain. "J-jangan salah paham. Aku melakukannya untuk melindungi diriku! Dia sungguh menyeramkan."
"Selama kau tak menonjokku, kurasa aku tak keberatan menemanimu sampai temanmu datang."
"Terima kasih, Noah." Senyum sumirku terbentuk, merespons candaan pahit Noah. Di samping itu, aku juga bernafas lega. "Kukira kau membenciku."
"Aku tidak membencimu."
Noah tak lagi menjawab. Cowok itu justru menatapku dengan matanya yang kelam hingga seolah aku tersedot ke dalamnya. Aku kemudian hanyut dan dapat merasakan dinginnya serta sepi pada tatapan itu. Bahkan ketika tangan Noah yang bebas bergerak, menyibakkan helaian rambutku ke belakang telingaku.
"Dengar, Kimberly. Kau tak seharusnya di sini."
Entah sejak kapan, posisi Noah sudah sangat dekat denganku. Wajahnya berada tepat di depan wajahku yang sedikit mendongak. Anehnya, jantungku sama sekali tak merespons sebagaimana ketika berhadapan dengan Leonal, Tom, bahkan Frederick. Di samping itu, aku cukup terkejut pada sikap, juga pada ucapan Noah.
"Kenapa?" tanyaku lembut.
Sebelum sempat menjawab, tangan Noah tiba-tiba tertarik dan cowok itu berdiri dari duduknya. Sosok cewek dengan rambut khas pendeknya datang dengan tergesa, ekspresi khawatir tercetak jelas pada paras cewek itu.
"Kim!" Itu adalah Zoe, yang lekas memelukku. Ketika aku membalas pelukannya, kusadari keberadaan seseorang lain yang datang bersama Zoe. "Aku mencarimu! Kau darimana? Oh, ada Noah di sini. Ya ampun, tanganmu kelihatan tidak baik, Noah!"
Ketika pelukanku dan Zoe berakhir, aku tak bisa lepas dari tatapanku terhadap cowok bertubuh atletis itu. Betapa seksi dan menarik. Lihat kulitnya yang berwarna tan. Apakah itu Max Borsche? Sepertinya benar. Aku ingat kami pernah bertukar sapa melalui video call.
"Ya ampun. Kalau seperti itu, apa kau bisa ikut panjat tebing bersamaku, Noah?" ujar cowok bertubuh atletis itu pada Noah.
"Tidak parah. Aku akan segera bergabung dengan kalian," jawab Noah dengan datar.
Mereka ternyata sudah saling mengenal satu sama lain. Saat aku berdiri, aku tak sengaja bertukar pandang dengan cowok bertubuh atletis. Cowok itu lalu berdeham dan menyikut lengan Zoe dan berucap, "kau tak ingin mengenalkanku padanya, Zoe?"
Zoe pun memperkenalkan kami satu sama lain, termasuk Noah kepadaku. Memang benar cowok bertubuh atletis itu adalah Max Borsche, kakak laki-laki Zoe. Tapi Zoe curiga pada aku dan Noah yang mungkin sudah saling mengenal karena sedang bersama di sini. Jadi kuceritakan padanya jika kami pernah bertemu di taman belakang sekolah saat berkeliling beberapa hari lalu, juga kejadian beberapa saat lalu.
"Wow, benar-benar cewek yang berani. Aku menyukaimu," ucap Max. Pujian dan tatapan Max padaku membuatku malu dan ge-er. "Maksudku, aku menyukai keberanianmu, Kim. Tidak banyak murid yang mau ke taman belakang. Juga melawan orang bernama Frederick Elford itu. Sebelumnya tidak ada yang berani berurusan dengannya."
"Max! Kau menakuti Kim!" sergah Zoe.
"Hei. Aku cuma mengatakan hal yang sebenarnya," ujar Max sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Menggunakan salah satu tangan itu, tiba-tiba ia merangkul pundakku dengan akrabnya. "Tapi tenang saja, Kim. Kami ada di sisimu. Noah yang seperti itu saja bisa, aku tidak akan kalah."
"Apa maksudmu?" ucap Noah. Meski kelihatan tidak peduli, sikapnya seperti tidak terima. "Turunkan otot bodohmu itu, Max. Schulz tidak akan tahan dengan beratnya."
Aku yang kini berada di antara pertikaian kecil mereka jadi merasa tidak enak. Tapi rupanya kekhawatiranku seketika lenyap saat Max tertawa dan melepaskan rangkulan padaku.
"Setidaknya nantinya tangan ini akan berguna untuk menjelajahi hutan belakang sekolah," ujar Max dengan bangga. Cowok itu lalu duduk di bangku yang tadi aku duduki bersama Noah.
"Jangan gila kau, Max!" ucap Zoe, jelas-jelas tidak setuju dengan ide saudaranya itu.
"Aku tidak gila. Kami memang berencana ke sana. Kudengar ada tebing yang sangat indah untuk dinaiki di sana. Benar kan, Noah?"
Tak hanya Zoe yang terkejut, aku juga terkejut. Namun Noah tidak menanggapi, ia justru mengarahkan pandangan ke arah tumbuhan berbunga lebat di sampingnya, seolah ingin menghindari segala jenis pertanyaan.
"Noah. Kau juga?!" tanya Zoe tak sabar. Nada suara Zoe jelas tak ingin jika hal itu benar-benar terjadi.
"Ayolah, Zoe. Aku tahu kau juga ingin masuk ke sana." Rupanya Max masih berusaha meyakinkan saudarinya, juga seolah turut mengajak serta. "Sudah hampir setahun kan sejak dia menghilang?"
Dia, siapa?
Zoe bungkam. Kelihatannya sahabatku itu dibuat termenung dengan ucapan Max. Di sisi lain, ada sebersit rasa penasaran dalam benakku. Dari awal kedatanganku ke sekolah ini, selain pada patung peri, ada ketertarikan khusus pada hutan itu.
"Uhm. Bolehkah aku ikut?" ujarku pada akhirnya.
"Kimberly! Kau juga!" ucap Zoe tak percaya.
"Wow. Kurasa ini akan jauh lebih menyenangkan daripada yang kupikirkan. Tapi sepertinya terlalu riskan jika kita terus-terusan berbicara seperti ini." Max jelas terdengar antusias. Cowok itu kemudian menimbang beberapa hal sebelum kembali berucap, "Bagaimana kalau kita lanjut besok? Sepulang sekolah, di taman belakang sekolah?"
"Sepakat," ujar Noah singkat.
"Aku juga sepakat," ucapku cukup antusias.
"Entahlah, guys. Aku hanya...," Zoe tak bisa melanjutkan ucapannya.
Aku menggenggam tangannya dan tersenyum padanya. "Kau tak perlu memaksakan diri jika tak ingin, Zoe," tuturku menenangkan.
"Kau juga tak perlu memaksakan diri, Schulz." Tiba-tiba Noah kembali bersikap dingin padaku. Tanpa sempat aku membalas ucapannya, ia pun berjalan menjauh. "Aku pergi."
"Dasar anak itu. Jangan pikirkan ucapannya, Kim," ucap Max sambil mengibaskan tangannya ke udara. Lalu sepertinya ia sengaja mengubah topik pembicaraan. "Jadi, mana barang yang kubutuhkan, Zoe? Seharusnya kau mengatakan kau datang bersama Kim supaya aku tadi datang tepat waktu."
"Apa? Jadi kau sengaja terlambat?!" ujar Zoe memprotes sikap saudaranya. Sebentar lagi mungkin sahabatku itu akan mengamuk.
Meski aku tengah tertawa melihat tingkah Borsche bersaudara, tapi aku tak bisa menyembunyikan kegelisahanku lantaran kata-kata Noah yang dingin terhadapku.
...****************...