Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
19. Memori Masa Lalu



"T-tunggu..., Max."


Selain hanya mengatakan itu, aku sama sekali tak bisa menjawab. Pertanyaan Max membuatku tersadar jika aku sama sekali tidak mengingat kenangan atas kehidupanku di Fairille ketika kecil, tidak hanya memori bersama Zoe. Tidakkah itu hal yang wajar jika kita tidak mengingat masa kecil kita? Karena kan itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Namun, mengapa pertanyaan itu seolah-olah menjadikan Max sebagai bagian dari kehidupan semasa kecilku?


Mengapa sikap Max berubah? Bukankah cowok itu sendiri yang meminta Zoe memperkenalkanku padanya saat di rooftop?


"Apa dulu kita berteman?"


Pertanyaan itu dengan mudah lolos dari bibirku. Max tak langsung menjawab. Ia hanya mengembuskan nafas kasar dan mengobrak-abrik rambut cokelat gelapnya dengan frustasi. Kesal lantas tampak jelas pada wajah laki-laki dengan rahang tegas itu.


"Lupakan saja apa yang kukatakan tadi," ujar Max seolah menyerah.


Cowok itu kemudian melangkahkan kakinya maju, menuju mulut koridor yang belum kami jajaki. Sebelum cowok itu berhasil melaluiku, aku refleks menahan tangannya supaya dia berhenti. Namun, tenaganya terlalu kuat dan justru tubuhku lah yang tertarik sehingga ikut berjalan di belakangnya.


"Kumohon, Max, berhentilah dulu. Tolong jelaskan maksud perkataanmu," ucapku sambil masih berusaha menahan Max.


Max lalu berhenti dan menolehkan kepala kepadaku. Senyum lebarnya yang biasanya tampak kini tak lagi ditunjukkan, sebagai gantinya hanya ada cebik pada bibir dan sorot kekecewaan pada mata keemasan itu.


"Max... Kumohon..." ujarku lagi sambil mendekat kepadanya. Kepalaku sampai mendongak karena tubuh Max yang tinggi.


Tekad pada mataku yang menatapnya yang mungkin mampu melelehkan kekeras kepalaan Max. Aku melepaskan Max sebelum kedua tangannya berlabuh di atas bahuku. Kemudian kurasakan remasan hangat dari jemari besar itu.


"Dengar, Kimberly. Kau pernah kehilangan ingatanmu karena suatu kejadian yang menimpamu saat kecil," ucap Max pada akhirnya.


"Kejadian?" Aku menelengkan kepalaku. Kelopak mataku mengerjap bingung. "Kejadian apa?"


"Kebakaran saat camp musim panas."


“Kebakaran?”


“Yeah, kebakaran," kata Max sambil melepaskan tangannya dariku sebelum berubah menjadi cengkeraman menyakitkan. "Waktu itu angin kering membuat kebakaran yang terjadi di salah satu titik pinggir hutan menjadi besar dan meluas sampai ke tempat camp. Ada beberapa anak yang terjebak di bangunan camp dan nyaris ikut terbakar."


Mendengar penjelasan Max, membuatku seketika terhenyak, lantas aku tertunduk. Kepalaku berusaha keras mengobrak-abrik ingatan yang entah tersimpan di mana.


“Kebakaran...," kataku merenung.


Namun, kenapa aku tidak bisa mengingatnya?


"Kebakaran itu sangat besar. Mereka yang berusaha menolong bahkan berpikir jika kita sudah mati," ungkap Max semakin membuatku bingung.


"Kita?" sahutku.


Max mengangguk. Cowok itu lantas membeberkan fakta yang lain. "Kita adalah salah satu dari anak yang terjebak di dalam bangunan camp. Aku pun sebenarnya tidak terlalu ingat karena saat itu aku banyak menghirup asap dan pingsan. Ketika bangun, aku sudah berada di rumah sakit."


"Bagaimana dengan yang lain?" tanyaku yang mengandung kekhawatiran.


"Mereka semua selamat. Teman-temanku, juga Zoe. Sedangkan yang lainnya aku tidak kenal," ungkap Max sambil mengusap lehernya. Cowok itu seperti tidak nyaman membicarakan. Mungkin karena masih terngiang akan kejadian itu, apalagi adik perempuan dan teman-temannya hampir menjadi korban.


"Zoe?" ucapku terkejut. Aku lalu menerawang ke samping kiri untuk berpikir. Tak mengherankan jika selepas kepergianku ke McReych, Zoe masih berusaha menghubungiku, bahkan mengunjungiku ketika liburan sekolah. Namun, gadis itu tak pernah membahas masa lalu kami. "Apa aku dan Zoe waktu itu akrab?"


"Sangat akrab. Kalian adalah sepasang kecil yang susah sekali dilepaskan." Aku dapat mendengar kekeh samar di antara ucapan Max. "Zoe bahkan lebih akrab denganmu dibandingkan denganku. Dia juga melarangku untuk muncul di hadapanmu, supaya kau tidak teringat dengan kejadian itu, Kim."


"Kenapa harus seperti itu?" tanyaku sedikit mendesak.


Ini menjadi masuk akal kenapa Zoe tidak pernah menceritakan tentang keluarganya dan juga kisah kami dahulu. Zoe tidak ingin membuatku menderita.


"Ah, begitu. Terima kasih, Max," ucapku tulus. Pembicaraan ini membuatku sedikit lebih baik, lebih lega. Namun, tentu semua itu belum bisa menjawab rasa penasaranku. "Bisakah kau menceritakan lebih dari ini? Kau bilang bahwa kebakarannya besar, lalu kenapa kita bisa selamat?"


"Orang-orang yang berusaha menolong kita pun berkata itu adalah keajaiban. Saat kebakaran, orang dewasa yang berusaha menolong menyaksikan sekelebat cahaya keemasan yang berasal dalam bangunan. Lalu perlahan, api yang berwarna hitam itu menghilang."


"Api hitam?"


"Oh, apa aku lupa menceritakan soal kebakaran yang warna apinya hitam itu? Betapa aneh, bukan? Apalagi cahaya emas itu. Benar-benar sulit dipercaya."


"Itu tidak masuk akal." Meskipun tidak bermaksud mengejek, aku tidak bisa menahan dengusku. Max sepertinya tak mempermasalahkan dan justru memiliki pendapat yang sama denganku.


"Benar kan?" timpal Max. Nadanya terdengar berkelakar, seakan tidak percaya dengan apa yang ia ceritakan kepadaku. "Sebagian orang-orang berpikir jika cahaya itu berasal dari peri yang menolong kita. Sedangkan orang yang tak melihatnya secara langsung berkata jika cerita itu hanya mengada-ngada. Itulah salah satu alasan ada penduduk Fairille yang meyakini jika peri telah kembali setelah ribuan tahun lamanya."


Ribuan tahun, aku jadi teringat isi surat yang kutemukan di antara halaman buku peraturan sekolah. Mendengar cerita itu, aku sampai tak lagi bisa berkomentar. Pikiranku penuh, campur aduk. Masa lalu yang diceritakan oleh Max dan keganjilan-keganjilan yang kutemui belakangan. Aku belum bisa mencernanya, bahkan itu sebenarnya tidak bisa diterima di kalangan orang-orang yang berteguh pada logika. Apalagi orang yang lama tinggal di McReych sepertiku.


Tiba-tiba kepalaku berdenyut. Aku mundur beberapa langkah saat menyadari keseimbanganku goyah. Pandangan di sekitarku pun sedikit berputar.


"Kim? Kau tak apa-apa?" tanya Max khawatir.


"I-iya. Aku baik-baik saja." Aku buru-buru berpegangan pada Max saat tangan cowok itu berusaha menjaga keseimbanganku. Setelah aku memejamkan mata sejenak dan menyentuhkan jari pada dahiku, aku lanjut berkata, "Aku hanya berpikir, apa peri benar-benar ada?" Tanyaku itu menggantung, aku bahkan tidak percaya dengan apa yang kuucapkan barusan.


Pun dengan gambaran sebuah ruangan terbakar yang tiba-tiba ada di hadapanku. Mungkinkah yang sedang kulihat adalah kepingan memori yang selama ini telah kulupakan? Lalu api itu, api yang membakari perabot ruangan di mana aku tengah berada, persis seperti yang dikatakan oleh Max, berwarna hitam. Asap yang ditimbulkannya pun tak kalah pekatnya, seolah adalah racun yang sangat mematikan.


Betapa mengerikan. Entah di mana aku pernah melihat asap serupa.


Sesak. Aku tidak bisa bernafas. Dadaku sakit. Hawa panas di sekitarku terasa memuncak. Asap kehitaman yang bercampur abu itu terhirup oleh indra penciumanku. Aku jatuh terduduk sambil terbatuk-batuk, siksa yang kurasa membuatku berpikir jika ajalku telah datang.


Hingga sebuah suara terdengar di kejauhan tengah memanggil-manggil namaku dengan gusar.


"Kimberly!"


Sosok anak laki-laki kemudian muncul dari balik api hitam. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, yang bisa kulihat hanya pandangan blur. Sebuah pelukan lantas kurasakan dari anak laki-laki itu, suaranya yang gemetar terdengar bersyukur telah mendapatiku dalam keadaan utuh.


"Kimberly, kita harus keluar dari sini."


Siapa?


Namun, sebelum kuketahui siapa anak laki-laki itu, tiba-tiba sebuah balok kayu dari atas jatuh ke arahku.


Aku tersentak kaget. Kudapati pemandangan telah kembali di mana aku semestinya berada, Fairille High School. Di hadapanku kembali ada sosok Max yang tampak khawatir menatapku dan memanggil-manggil namaku. Ketika aku membalas tatapan matanya, Max tersenyum lega padaku. Cowok itu mengusap pipiku yang berkeringat dan mengaitkan helai-helai rambut yang mengganggu ke belakang telingaku.


"Kim. Kau tidak merespons saat aku memanggilmu. Sekarang kau kelihatan pucat. Lebih baik kita kembali ke asrama," ucap Max dengan lembut.


"Max, kepalaku..."


Namun sebelum aku dapat menyelesaikan kalimatku, pandanganku meremang dan tiba-tiba semua menjadi gelap.


...****************...