Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
15. Pertemuan Kedua



"Noah? Kau di mana?"


Aku memang sedang menyusul Noah. Tujuan kami sama, yaitu taman belakang, di mana letak patung peri pangeran berada. Max sedang menunggu kami di sana. Akan tetapi, tak kutemukan sosok cowok itu baik di koridor luar kelas maupun saat aku menuruni tangga. Biarpun berhati-hati, langkahku masih tergesa-gesa saat anak tangga kian berlalu, beruntung kakiku tak tergelincir. Bisa-bisa aku bernasib sama dengan Noah yang habis terjatuh dari pohon. Membayangkan rasa sakitnya saja aku tidak sanggup.


Di sepanjang perjalananku menuju taman belakang, masih saja tak ada sosok Noah yang masuk ke dalam pandangan.


Sebenarnya di mana cowok itu? Cepat sekali perginya. Atau... tunggu. Apa aku tersesat?


Benar saja, bukannya area belakang yang aku tuju, melainkan sebuah koridor yang mengarah ke sisi lain dari bangunan inti sekolah. Di luar bangunan terlihat sebuah paviliun cukup besar yang sepertinya menjadi pusat kegiatan siswa di luar jam sekolah.


Aku tak sadar berada di depan pintu sampai ada seseorang dari belakang yang menyenggol tubuhku. Ketika aku menoleh, sebuah sentakan kasar memenuhi telingaku.


"Jangan berdiri di depan pintu dong!"


Seorang cewek dengan rambut merah kuncir ekor kudanya lah baru saja memarahiku. Tampangnya memang manis, tetapi ekspresinya sangat galak. Dilihat dari gaya dan sikapnya, cewek itu kelihatan tomboy meskipun seragam anggun Fairille High School membalut tubuhnya. Tangannya yang berkacak pinggang sepertinya siap untuk melahapku bulan-bulat dengan kemarahannya.


"Kau dengar tidak, huh?" sentak cewek itu lagi.


"M-maaf," ujarku sambil menepi.


Sebelum cewek itu lanjut melangkah, kelopak matanya tampak berkedip-kedip ke arahku, seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Tapi tak lama, dia pergi. Aku tak begitu memperhatikan dan tak mau ambil peduli. Ponsel yang sudah ada di tanganku kemudian kugunakan. Aku mencoba menghubungi Zoe yang tak ada kabar semenjak istirahat siang, tapi tetap tidak ada jawaban. Aku jadi semakin khawatir dengannya.


"Nona Schulz?" Suara lembut tetapi tegas itu membuatku menoleh. Cowok yang kutemui saat pertama kali aku mengunjungi sekolah sedang menghampiriku. Tatapan serta senyumnya yang menawan perlahan membuatku meleleh. "Sedang apa kau di sini? Apa kau tersesat."


Leonal Ordt berhenti tepat di depanku.


Aku mengangguk sambil mengulum senyum malu. "Sekolah ini terlalu besar. Aku masih belum hafal."


"Mau kuantar?" ucap Leonal menawarkan.


"Ah, tidak perlu. Aku...bisa sendiri. Memiliki jabatan sebagai ketua murid pasti membuatmu sangat sibuk," tolakku halus.


"Hari ini tidak ada rapat, jadi aku bisa sedikit bersantai. Aku juga sedang mencari seseorang, dia tidak bisa dihubungi. Mungkin selagi aku mengantarmu, aku menemukannya di suatu tempat."


"Aku sangat berterima kasih."


"Tak masalah. Kau mau kemana?"


"Ke taman belakang sekolah."


Wajah tampan itu terlihat terkejut. Akan tetapi, Leonal tak bertanya lebih lanjut. Cowok itu kemudian menggestur tangannya supaya aku berjalan lebih dulu. Hal itu semakin membuatku terpana. Apalagi di sepanjang jalan, banyak murid yang menyapanya, khususnya murid-murid perempuan. Leonal Ordt ternyata sangat populer. Mataku yang agak melamun ke arahnya buru-buru terarah ke depan saat Leonal menyadarinya dan tersenyum ke arahku.


Terima kasih atas kebodohanku, aku jadi semakin gugup.


"Nona Schulz, apa yang akan kau lakukan di taman belakang? Maaf jika pertanyaanku lancang. Tapi sebagai Ketua Murid, aku ingin menjaga murid-murid sekolahan ini karena ada larangan untuk memasuki hutan."


Seketika aku teringat bahwa tempat yang aku tuju adalah tempat yang akan menjadi lokasi kami untuk mendiskusikan sebuah rencana rahasia. Apalagi sosok di sampingku adalah ketua murid. Bisa-bisa rencana kami gagal karena aku membawa cowok ini ke sana. Aku pun tidak bisa menjawab pertanyaan Leonal secara langsung. Ingatanku lantas melayang pada hari ketika aku dan Leonal bertemu untuk pertama kali.


"Patung peri. Kudengar di sana ada patung peri yang mirip seperti di depan sekolah, jadi aku penasaran," kataku berbohong. "Tempat pertama kali kita bertemu, kau ingat kan, Tuan Ordt?"


"Tentu saja aku ingat. Kau penasaran dengan peri, aku pun juga," jawab Leonal.


"Taman belakangnya ada di balik pintu itu," kata Leonal.


"Ah." Aku berhenti, Leonal pun ikut berhenti. Sebuah ide muncul di kepalaku. "Terima kasih sudah mengantarku. Tuan Ordt, kau cukup mengantarku sampai sini. Kau masih harus mencari seseorang kan?"


"Kau benar. Orang yang kucari juga tak kutemukan di sepanjang perjalanan kita kemari." Leonal kelihatan menimbang-nimbang. Senyumnya yang sempat terjeda membuat perasaanku tidak enak. "Tapi setelah kupikir-pikir, aku bisa mencarinya lagi nanti. Aku harap kau tidak keberatan jika aku menemanimu."


Seharusnya aku tahu ini akan terjadi. Memang kebodohanku yang lupa akan pertemuan kami yang seharusnya rahasia ini. Mana mungkin kan aku menolak kebaikan hati seseorang, apalagi Leonal Ordt sudah mau mengesampingkan urusannya demi menemaniku. Aku bisa memikirkan alasan lagi nanti saat Leonal sadar akan keberadaan Max dan Noah. Kedua cowok yang mungkin sedang menungguku juga seharusnya lebih pandai memutar otak.


"Aku tidak keberatan. Terima kasih karena telah menemaniku," kataku pada akhirnya.


Kami kemudian melewati pintu dan menghadap pada taman belakang sekolah. Sama seperti terakhir kali aku ke sini, suasana di taman ini begitu indah, namun juga menyedihkan karena tak terawat--terlebih jika melihat bagaimana rupa patung pangeran peri dan sayapnya yang patah. Leonal membiarkanku melangkah terlebih dahulu. Kulihat ke sekeliling, tak ada sosok Max maupun Noah. Apa mereka sudah pulang ke asrama karena aku terlalu lama?


"Taman ini tidak kalah indah dengan yang di depan kan? Hanya tak terawat saja," kata Leonal.


"Kau benar," jawabku singkat.


Aku duduk di pinggir kolam dan menghadap Leonal.


Leonal meregangkan tubuhnya. Cowok itu lalu duduk di sampingku dan dengan lepas memandang ke langit luas. Senang yang terpatri pada wajahnya jadi mengingatkanku pada rupa anak kecil yang polos. "Aku sudah lama tidak berjalan-jalan dengan santai seperti saat ini. Udara di sini lebih segar dibandingkan ruang komite."


"Menjadi Ketua Murid kelihatannya sangat sibuk ya, Tuan Ordt," ucapku menanggapi.


"Begitulah. Akhir-akhir ini semakin sibuk karena ada perayaan dan pentas seni pada acara tahunan sekolah yang akan diadakan sebentar lagi. Aku harus menyelesaikan beberapa persiapan, tapi seseorang yang biasa membantuku menghilang entah kemana. Anggota yang lain sudah mempunyai tugas masing-masing. Maaf, aku jadi cerita."


"Tentu tidak apa. Kau sudah bekerja dengan baik, Tuan Ordt. Kau bisa bercerita padaku. Kalau saja bisa, aku juga ingin membantumu."


Leonal kemudian menoleh padaku. Pada wajah tampan itu, tak hanya bibir, matanya yang menyipit tersenyum kepadaku. Mengingatkanku pada patung pangeran peri di belakang kami. Sayang raut muka pada patung itu sama sekali tak tampak berbahagia.


"Aku senang atas kebaikan hatimu. Terima kasih, Nona Schulz. Selain memiliki paras cantik, hatimu juga menawan," puji Leonal. "Aku jadi ingin mengenalmu lebih dekat, boleh kan?"


Debaran jantungku mendadak begitu cepat tepat ketika Leonal mengatakan itu. Aku nyaris lupa jika Leonal memiliki mulut yang manis. Kata-katanya selalu membuatku ge-er. Apakah hal itu selalu dilakukannya pada setiap gadis makanya dia populer di kalangan mereka? Saat itu, saat di depan sekolah pun, kalau tidak ada seseorang dari lantai atas yang memanggil Leonal, aku mungkin akan semakin meleleh dan terjerat dengan kata-kata rayuannya. Sekarang aku malah hanya berdua dengan Leonal.


Atau aku saja yang terlalu ge-er? Mungkin maksud Leonal hanya ingin berteman kan?


"Tentu saja. Kita bisa menjadi teman yang baik." Benar, aku harus menjawabnya senatural mungkin tanpa memperlihatkan kegugupanku padanya. "Tidak kusangka seorang ketua murid mau menjadi temanku," tambahku dengan sedikit candaan.


Cowok itu tiba-tiba mendekat.


"Tidak ada yang tidak ingin dekat denganmu, Nona Schulz." Leonal lalu mengangkat tangannya menuju puncak kepalaku. "Ah, dapat."


Rupanya yang baru saja dilakukannya adalah mengambil kelopak bunga yang lepas terbawa angin dan singgah di kepalaku. Leonel memperlihatkan kelopak bunga berwarna ungu itu dan memberikannya kepadaku. Aku menerimanya dan melihatnya dengan tatapan lembut, sebelum kemudian menempelkannya ke dekat bibir supaya dapat kucium wanginya.


Leonel lantas lanjut berkata.


"Bahkan kelopak bunga ini. Aku sungguh iri padanya."


...****************...