
"Tentu saja aku peduli."
Di dalam rengkuhan itu, mendadak ketenangan menggelayutiku. Telapak tangan Noah yang berada di atas kepalaku dengan lembut mengusap. Isak tangisku perlahan berhenti. Lagi-lagi, pada jarak sedekat ini, aku dapat menghidu aroma musk yang khas pada tubuh Noah. Aku bahkan merasakan kedamaian.
Detik demi detik berlalu. Noah lalu membimbingku menuju salah satu ceruk di dekat patung peri yang mengarah ke luar bangunan, tepatnya ke pemandangan kelam di belakang asrama dengan hiasan rembulan. Di sana, kami duduk di bangku batu yang mengikuti bentuk lengkungan ceruk yang dibuat oleh tanaman tinggi sekitar.
“Kalau mau menangis, menangis saja sepuasnya di sini. Tidak ada orang,” ujar Noah di sampingku.
Aku menatapnya tanpa kata, lalu menggulirkan bola mata ke sisi lain supaya tidak lagi memandangnya.
“Memangnya kenapa kalau aku dari McReych?" ucapku dengan suada serak. "Kau pernah mengatakan kalau aku hanya gadis kota dan aku tak seharusnya di sini. Apa itu salah?”
Noah tak menjawab. Karenanya aku pun terpantik untuk kembali menghadapnya dan tanpa sadar meninggikan suara.
“Kenapa kau tak menjawab?!” tanyaku kesal.
“Apa kau menangis hanya karena itu?” Alih-alih menjawab, Noah justru bertanya balik.
Noah Huxley apakah selalu seperti ini?
“Kau selalu mengalihkan pembicaraan, Noah. Aku butuh jawabanmu." Kedua tanganku yang ada di atas pangkuan mengepal kuat. "Itu bukan sekadar 'hanya'! Apa aku benar-benar salah berada di Fairille?”
Tanpa ragu-ragu, Noah lantas menjawab.
“Ya. Kau salah berada di sini.”
Aku terkejut dengan jawaban itu. Terlampau terkejut, sampai-sampai mataku melebar selama beberapa jenak, sebelum kemudian air mata dengan cepat menyusup dan kembali jatuh menjatuhi pipi.
“Kau selalu baik membantuku, tetapi kenapa berbanding terbalik dengan apa yang keluar dari mulutmu, Noah?” Aku tidak mampu menahan emosi meluap yang kini menjadi bulir kesedihan. “Setelah dua hari ini aku kesepian dan mendapat fakta mengenai teman-temanku di McReych yang benar-benar tak lagi ingin berteman denganku, apa aku tak layak untuk berasa di Fairille?"
"Teman-temanmu membuangmu?" tanya Noah sedikit terkejut.
"Ya! Aku tadi sempat mencoba menghubungi mereka lagi di ruang obrolan kami, tapi sikap mereka berubah drastis! Mereka bahkan berfoto bersama dan terlihat bahagia saat prom night di sekolah!" terangku dengan masih menggunakan nada tinggi, membuat nafasku setelahnya tak beraturan.
Tubuhku bersandar pada bangku taman, lalu tanganku menepisi jejak air mata di wajah. Saat kupandangi rembulan yang ditemani awan gelap di atas sana, kusadari sinar keperakannya membias indah. Setidaknya, kata-kata yang keluar dari mulutku selanjutnya terdengar lebih lembut. "Makanya, kumohon, jangan berkata seperti itu."
Aku tersenyum getir pada Noah yang masih menatapku tanpa geming.
"...bukankah sudah kukatakan kalau kau bisa memasukkanku ke dalam salah satunya," ucap Noah, "—kau bisa mengandalkanku."
"Tapi sikapmu terkadang membuatku berpikir jika kau membenciku." Aku masih mempertahankan senyum di bibir. Tidak ingin lagi berdebat dengan cowok itu.
"Kimberly, aku …"
Anehnya, suara Noah melembut, dan panggilan itu? Kimberly, katanya. Terkadang aku juga mendengar dia memanggil nama depanku itu, tapi untuk sekarang aku merasa Noah tidak seperti biasanya.
Cowok itu tiba-tiba memangkas jarak di antara kami dan meraih salah satu tanganku.
"...aku tak tahan lagi."
Dan kata-katanya itu... apa maksudnya?
Aku merasakan sentuhan Noah di wajahku, bergerak di tulang pipi lalu berpindah ke telinga untuk mengaitkan helaian rambutku yang lengket karena air mata ke belakangnya.
"Jangan menangis lagi. Aku hanya ingin melindungimu dari mereka," ungkap Noah dengan suara rendah.
"Mereka?" Mataku terpejam sebelah karena sentuhan jemari Noah yang mengusap jejak air mataku. "Siapa?"
Noah mengangkat tanganku yang dipegangnya, lalu mendekatkan pergelangan tangan itu pada bibirnya. "Yang memberimu luka ini."
Aku terkesiap. Tanpa disangka, Noah mencium pergelangan tanganku bekas cengkeraman bayangan hitam tadi. Mulanya aku hanya merasakan dingin---dingin seperti es---yang semakin lama terasa hangat dan berubah menjadi sensasi panas dan terbakar. Aku seketika seperti tersedot pada titik yang masih dicium oleh bibir Noah.
"Hentikan, Noah." Jeritku lantas keluar tertahan. "Apa yang kau lakukan?"
Apa yang terjadi?
Kusadari rasa sakit dan panas yang kurasakan beberapa saat lalu mendadak hilang. Akan tetapi, aku tak ada tenaga, aku kelelahan. Rasa lelahnya terasa luar biasa sampai-sampai aku tak kuasa untuk melepaskan diri dari pelukan Noah.
Kepalaku mendongak. Kutatap Noah dengan pandangan sayu. Cowok itu masih mencium pergelangan tanganku dengan mata terpejam. Saat mata dingin nan tajam itu kembali terbuka dan mengarah padaku, jantungku mulai berdegup tak beraturan. Aku terpesona pada mata kelam, juga rupa tampan yang tanpa kusadari sedang mendekat padaku.
Hingga nafas kami saling beradu dan bibirnya menempel lembut pada bibirku yang basah. Ciuman yang sangat manis tanpa desakan, dan tanpa gerakan panas yang biasa ada di film-film yang pernah kutonton di Mcflix, tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Pandangan yang kulihat selama beberapa waktu hanya ada wajah Noah yang terpejam, dan sangat dekat. Nafasnya tidak memburu, bahkan terkesan tenang, berbanding denganku yang justru tercekat. Noah Huxley kelihatan menikmatinya, menikmati ciuman ini, menikmati ciuman antara dirinya dan aku. Sedangkan aku terlalu syok untuk menyadari apa yang terjadi.
Saat Noah melepaskan bibirku dan masih kurasakan sisa sentuhan cowok itu di sana, aku tersadar satu hal.
Ciuman pertamaku! Ciuman pertamaku dicuri oleh Noah Huxley!
Aku tak mampu berbicara apa-apa selain menyentuhkan ujung jariku pada bibirku yang sentuhan pertamanya telah direnggut oleh bibir Noah. Tanganku bergemetar samar. Telingaku masih mendengar degup yang masih tak mau normal, bahkan semakin kencang. Saat kulihat Noah, rupanya cowok itu sedang menutup mulut dengan punggung tangannya dan menoleh ke arah lain.
Di bawah berkas cahaya lampu taman, aku dapat melihat kalau wajahnya memerah.
"Noah, kenapa–"
"Tanganmu sudah tak sakit lagi kan?" ucap Noah memutus tanyaku.
Lantas kusadari jika pergelangan tanganku sudah tak lagi terasa terbakar sesuai kata-katanya.
"I-iya," jawabku terbata. Mungkinkah karena gugup karena baru saja kami melakukan ciuman?
"Baguslah kalau begitu," ujar Noah.
Ingin kuajukan kalimat protes sebenarnya. namun, di hadapanku, Noah tengah tersenyum hangat padaku. Itu adalah sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kalau saja bisa, aku ingin memandangi senyum itu lebih lama dan bertanya mengapa Noah memperlakukanku seperti tadi.
Akan tetapi, letih semakin menggerogotiku dan kurang dari semenit, tiba-tiba aku kehilangan kesadaran.
...***...
Aku terbangun di kamar. Matahari di luar jendela sudah mulai merangkak naik. Menyadari itu, aku terduduk dan mendapati pakaianku masih sama dengan tadi malam---saat janji bertemu dengan Noah. Ketika kami bertemu, aku justru menangis dan berkeluh kesah padanya. Cowok itu mencium pergelangan tanganku, lalu mencium bibirku. Mencuri ciuman pertamaku.
Ciuman pertamaku dengan Noah.
Tunggu, itu bukan mimpi kan?
Aku bahkan masih bisa merasakan sentuhan lembut bibir Noah yang semalam tertinggal di bibirku. Pasti bukan mimpi. Aku dan Noah tadi malam benar-benar berciuman! Maksudku, Noah yang menciumku!
Gawat. Debaran dalam dadaku lagi-lagi meletup-letup. Wajahku menghangat dan kedua tanganku saling menggenggam satu sama lain karena gugup. Bukannya aku benar-benar menyukai Noah, tapi siapa pun anak perempuan pasti akan merasakan hal serupa jika seseorang menciumnya kan?
Lalu setelah kejadian itu, aku kelelahan dan entah kenapa aku kehilangan kesadaran. Bangun-bangun, hari sudah pagi dan aku berada di kamar ini.
Ketika aku mengecek notifikasi ponsel, kusadari ada nomor baru baru yang mengirimiku sebuah pesan. Rupanya itu adalah Tom Graffen, yang juga menelponku beberapa kali semalam. Kulihat saat itu, aku sedang ke rooftop tanpa membawa ponsel. Lalu nomor baru lain, adalah Noah, yang dengan sekejap membuatku malu pada awalnya. Akan tetapi pesan Noah di sana, membuatku kebingungan.
'Ini aku, Noah Huxley.'
'Apa kau tidur nyenyak? Tadi malam, setelah kita berdiskusi mengenai persiapan photoshoot, kau tiba-tiba tertidur di sampingku. Setelah beberapa waktu, kau terbangun dan memutuskan untuk kembali ke kamarmy.'
Tunggu. Kenapa berbeda dengan ingatanku?
Bukankah kami janji bertemu untuk membahas luka di pergelangan tanganku?
Aku lantas berlari ke kamar mandi dan menyiram tanganku dengan air dingin, tetapi tak ada rasa perih dan terbakar di pergelangan tanganku itu.
Bayangan hitam dan ciuman malam tadi apakah hanya sebuah mimpi?
...****************...