
Semenjak kepulanganku ke rumah, aku tak bisa berhenti memikirkan apa yang diceritakan oleh Zoe: legenda peri. Aku pun masih sulit percaya jika Zoe meyakini keberadaan peri dan legenda tanah peri di Fairille ini. Sepanjang malam aku terus memikirkannya hingga terlelap dalam tidur.
Tidak ada mimpi seperti malam pertamaku di kota ini, membuatku berpikir jika mimpi itu hanya sebuah kebetulan semata.
Sehari setelah itu, aku menghabiskan waktuku di rumah untuk mempersiapkan kepindahanku ke asrama. Aku hanya perlu memilah baju dari koper dan mengambil barang-barang yang aku butuhkan di kardus, sebenarnya. Akan tetapi, karena merasa kamarku di rumah baru ini masih terasa kosong dan membosankan, aku berinisiatif untuk mendekorasinya sebagaimana kamarku di McReych.
Lukisan taman bunga yang pernah kubuat sebagai tugas seni; bermacam hiasan dinding dan meja yang menggemaskan; setumpuk koleksi novel dan komik; sisa pakaian yang kiranya tak kubutuhkan untuk dibawa ke asrama, telah berhasil kutata dengan rapi di kamarku ini. Melihatnya, aku merasa puas, menggantikan lelahku yang mulai terasa membebani tubuh.
Aku lalu menghampiri balkon di luar kamar untuk meregangkan tubuh. Di sana, di puncak tertinggi langit, matahari semakin bersinar cerah, awan pun tak ada yang berani menutupi. Meskipun begitu, aku tidak merasa kepanasan seperti halnya di McReych saat AC di rumah kami rusak. Di sini bahkan kami memanfaatkan penghawaan alami, terasa sejuk, padahal sedang melalui musim panas. Sepanjang mata menyisir pemandangan sekitar pun yang ada adalah hamparan alam yang indah--pepohonan dan hewan mungil seperti tupai yang baru saja kulihat di sebuah pohon--tidak seperti McReych yang hanya akan disuguhi pemandangan kota dengan gedung tinggi, lampu hologram, dan kendaraan bermotor yang memenuhi jalan.
Perlahan, sepertinya aku semakin menerima keberadaanku di Fairille.
Perutku tiba-tiba berbunyi. Rupanya aku lapar. Aku segera turun ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa kumakan. Karena mau bagaimana lagi, Mom masih menemani Dad mengurusi bisnisnya, mungkin mereka baru pulang sore hari nanti. Sedangkan Ezra--kudengar hari ini dia mulai bergabung dengan klub baseball khusus anak-anak yang sedang digemari di Fairille. Lapangannya ada di dekat rumah, jadi Mom dan Dad tidak khawatir. Ketika aku melihat jam dinding, aku berpikir kalau sebentar lagi mungkin Ezra akan pulang.
Oleh sebab itu, aku berniat untuk membuat sesuatu untuk Ezra. Mungkin aku akan coba membuat pasta--salah satu makanan kesukaan Ezra.
Maka aku segera memakai apron dan mulai memasak.
Waktu pun berlalu dan aku selesai membuat saus dengan campuran daging cincang sebagai penutup saat suara Ezra terdengar dari luar rumah. Dengan sedikit berjinjit, aku melongok melalui jendela dapur, dan menemukan dua anak seusia Ezra tampak bersepeda menjauh dari rumah kami.
Teman-teman baru Ezra, ya?
“Woah! Apakah itu pasta Bolognese?”
Rupanya Ezra sudah masuk ke dalam rumah. Setelah mencuci tangannya dan berhasil duduk di puncak bar stool, Ezra yang tampak malu-malu mengayunkan kedua kakinya yang tak menapak tanah, membuat kaki meja island di depannya tanpa sengaja tertendang. Aku yang berdiri di balik meja itu tersenyum kepadanya.
“Tepat sekali. Pasta Bolognese spesial buatan Koki Kim.”
Ezra meneguk ludah saat aku menuangkan saos di atas sepiring penuh pasta. Asap tipis yang membawa aroma menggiurkan pun membumbung hingga mencapai indra penciuman. Aku tahu Ezra tergoda, selain ia suka pada pasta, olahraga pasti membuat perutnya jadi lapar.
“Kim…. Apa kau hanya membuat satu piring pasta?”
“Um, yeah.”
Aku ingin sekali menggodanya, tapi melihat Ezra yang tak henti-hentinya menatap piring pasta yang kini ada di tanganku, aku jadi tak tega. Aku lantas meletakkan piring berisi pasta itu di atas meja di hadapannya.
Melihat bagaimana Ezra mengusap air liur yang keluar dari sudut bibirnya, senyumku terukir jahil.
“Sepiring pasta untukmu,” ujarku sambil mendorong piring di meja ke arah Ezra, lalu mengambil sepiring pasta untuk diriku sendiri, "dan sepiring pasta untukku."
Melalui sudut mata, aku dapat melihat pancaran mata Ezra. Ia lekas berucap terima kasih kepadaku dan memberitahuku kalau ia sedang lapar setelah berolahraga. Di perjalanan pulangnya bersama teman-temannya pun, ia yang sedang kelaparan membayangkan makan pasta. Sesampainya di rumah, ternyata aku memang membuat pasta. Tentu saja hal itu membuat Ezra sangat senang.
Aku lalu duduk di samping Ezra dan mulai makan bersama dengannya.
“Apa kau akan pergi ke asrama besok?”
Karena mulutku penuh dengan pasta, aku hanya menganggukkan kepala.
“Aku akan merindukanmu, Kim.”
“Merindukanku atau pasta buatanku?”
“Dua-duanya!”
Kami pun tertawa bersama. Sudah lama rasanya sejak kami terakhir bertukar suara akrab seperti ini. Kesibukanku sebagai seorang remaja putri metropolitan yang suka menghabiskan waktu bersama teman-temanku sepulang sekolah, bahkan akhir pekan, membuatku tersadar jika Ezra sekarang semakin tinggi daripada terakhir kuingat.
“Aku bisa pulang ke rumah akhir pekan.”
“Benarkah? Tapi kudengar dari temanku, saudaranya yang bersekolah di sana jarang sekali pulang ke rumah.”
Aku mengerutkan kening, lalu mengelap bibirku menggunakan serbet. Pikirku, apa sekolah di sana sesibuk itu?
“Aku tidak janji, tapi akan kuusahakan.”
Ezra bersorak riang. Tangannya yang memegang garpu diangkatnya setinggi kepala. Ia lalu melanjutkan makannya, begitu pula diriku.
“Sampai hari ini selalu menyenangkan!”
Aku sedikit merenung, teringat kembali mengenai apa yang dikatakan Ezra kemarin. “Aku senang mendengarnya. Tapi bolehkah aku bertanya?”
“Tentu saja, Kim! Apa itu?”
“Itu... apa benar ketika kita masih tinggal di McReych ada anak yang mengganggumu?” tanyaku berhati-hati.
“Uhm? Kata siapa?”
“Ezra sendiri kan yang bilang kemarin ketika baru pulang dari sekolah.”
“Oh, benarkah? Aku tidak ingat.”
Aku memandang lekat wajahnya, tapi Ezra tak balas menatapku dan menyibukkan diri dengan makanannya. Aku meraih serbet baru di sudut meja dan membersihkan sisa saos yang berlepotan di bibir Ezra.
“Itu sungguhan? Kenapa kau tidak pernah memberitahukannya kepadaku?”
Kali ini Ezra membalas tatapanku dengan menampilkan senyum manis. “Maaf, Kim, karena telah membuatmu khawatir. Tapi jangan khawatir, aku sudah tidak mempermasalahkannya kok.”
Mendengar jawaban itu, aku menatap Ezra dengan sedih, lantas mengelus kepalanya dengan lembut.
“Kau anak yang baik, Ez. Sungguh, aku minta maaf karena tidak menjagamu dengan baik.”
Senyuman Ezra yang melengkung tulus mengingatkanku pada suatu hari di McReych, beberapa bulan yang lalu.
Saat itu aku baru saja pulang dari kafe bersama teman-temanku. Malam hampir larut, aku turun dari taxi dan menemukan wajah panik Mom saat aku baru masuk ke dalam rumah. Mom tampak menelepon seseorang, dan kusadari Ezra tidak ada di sekitar. Ketika Mom sudah menutup telepon, Mom memberitahuku jika Ezra belum pulang semenjak pergi ke sekolah di pagi hari itu.
Aku seketika mencari di dalam rumah. Namun seperti yang dikatakan Mom, Ezra belum pulang. Tidak ada tanda-tanda kepulangannya. Di kamarnya kosong, di perpustakaan sebagai tempat favoritnya di rumah pun kosong, di ruangan mana pun, aku tidak berhasil menemukan. Sampai aku memutuskan untuk mencarinya ke luar rumah.
Di jalanan depan rumahku berada saat itu benar-benar sepi. Malam telah gulita dan daerah tempatku tinggal bukan berada di area hiburan. Lantas kusadari di kejauhan, sebuah mobil datang menuju rumahku. Aku tak peduli pada sorot lampu yang menyilaukan, karena yang kupedulikan adalah sosok di dalam mobil itu. Mobil itu milik Dad. Aku berharap Dad telah menemukan Ezra. Akan tetapi, ketika mendapati hanya sosok Dad yang keluar dari mobil, yang kurasakan adalah kekecewaan.
“Aku belum menemukannya, Sayang,” ucap Dad pada Mom.
Mom yang telah berada di sampingku seketika menangis. Dad berusaha menenangkan Mom dengan memberikan pelukan. Sedangkan aku yang tak tega melihat keadaan Mom, memalingkan muka ke arah lain. Aku menggigit bibirku, berusaha keras supaya tidak ikut menangis.
“Aku akan coba mencarinya… di tempat favoritnya," ucapku pada akhirnya. "Mungkin Ezra hanya sedang tertidur di sana. Kalau tidak ketemu, kurasa kita harus lapor polisi.”
Setelah mendapatkan persetujuan dari Dad, aku berlari menyusuri jalanan menuju sebuah taman favorit Ezra. Taman itu memiliki permainan outdoor anak-anak yang cukup lengkap dan unik, di mana Ezra dulu suka mengajakku ke taman itu. Salah satunya adalah perosotan yang terhubung dengan sebuah rumah pohon. Firasatku mengatakan Ezra berada di dalam rumah pohon itu.
Benar saja, setelah menaiki tangga menuju rumah pohon itu, aku menemukan Ezra yang sedang menggigil dan bergelung memeluk tubuhnya sendiri. Ketika aku memanggil-manggil namanya, Ezra lalu membuka mata dan tersenyum lemah kepadaku. Saat itu, sekilas aku merasa lega. Namun, melihat keadaan Ezra yang mengkhawatirkan, juga temuan lebam pada kaki dan tangannya, aku segera menggendong Ezra di belakang punggungku dan membawanya sampai rumah.
Ketika sudah kembali pulih, barulah Ezra menceritakan runtutan dan penyebab mengapa ia sampai tak cepat pulang. Rupanya ia tertidur di rumah pohon lantaran kelelahan setelah bermain bersama teman-teman sekolahnya, lalu menghabiskan beberapa buku cerita sendirian. Sedangkan lebam yang timbul ditubuhnya terjadi akibat bermain bola lempar saat pelajaran olahraga di sekolah.
Waktu itu aku memang percaya cerita Ezra, tapi sekarang, ketika Ezra mengungkap segelintir fakta adanya perundungan yang diterimanya, aku yakin saat itu Ezra sedang berbohong.
Mungkin kepindahan ke Fairille adalah sebuah berkah bagi Ezra, juga untukku. Perubahan sifat Ezra yang kontras, dari pemurung menjadi ceria, tentu membuatku bersyukur. Sedangkan bagiku, mungkin adalah terlepas dari rutinitas harian yang membuatku sibuk dengan teman-temanku di McReych, alih-alih keluargaku. Penyesalanku karena tak bisa menjaga Ezra dengan baik. Bahkan aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menemaninya bermain di playground atau mengajaknya jalan-jalan ke mall.
Jadi di kehidupan baru di Fairille ini aku ingin memperbaikinya. Memperbaiki hubungan dengan adik laki-lakiku, juga pada diriku sendiri.
"Setelah makan, bagaimana kalau kita nonton film bersama? Koleksi film anak-anak terbaru bulan ini sepertinya sudah ada di Mcflix," ucapku menawarkan.
"Tentu saja aku mau, Kim!" jawab Ezra antusias. Ezra lalu mengendus lipatan ketiaknya sehingga hidung dan dahinya mengerut. "Tapi sepertinya aku harus mandi dulu. Aku tak mau kau kebauan gara-gara keringatku."
Melihat tingkah laku Ezra, aku tertawa geli.
"Kalau begitu, selagi kau mandi. Akan kubuatkan berondong jagung untuk pesta menonton kita."
"Hore! Kau memang terbaik, Kim!"
...****************...