Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
18. Kebenaran Mulai Terungkap



Leonal Ordt mencium tanganku.


Seketika keheningan menyentak. Tidak ada yang bersuara selain suasana hutan di sekitar kami, juga suara debaran jantungku yang mendadak tak mau diam. Wajahku pasti sudah merah padam sekarang. Tanganku yang dipegang oleh Leonal bahkan terasa gemetar. Aku sangat malu, juga khawatir jika Leonal menyadari keadaan tubuhku yang seperti ini. Meskipun begitu, cowok itu tak merespons apa pun selain hanya memberikan senyuman kepadaku. Wajah menawannya yang sedekat ini benar-benar membuatku kehilangan akal. Rupa, serta perlakuannya terhadapku, sungguh seperti pangeran yang ada di film-film yang pernah kutonton di Mcflix. Aku merasa diperlakukan seperti seorang putri.


“T-tuan Ordt, apa yang baru saja–”


Ucapanku yang terbata terputus saat kedua orang di sekitar kami menyela dengan kata-kata yang tak kalah terkejutnya.


“Ketua Ordt! Apa yang baru saja kau lakukan terhadap Kimberly-ku!” ujar Zoe menuai protes. Lenganku yang ditarik olehnya lantas dipeluk sehingga jarakku dengan Leonal tidak lagi sedekat sebelumnya. Zoe mungkin sekarang menyadari keadaanku yang tidak baik-baik saja--yang sebenarnya tidak terlalu buruk juga.


Max rupanya juga tidak mau kalah. “Dasar kau, Ordt. Setiap ada kesempatan, kulihat kau selalu melakukannya terhadap seorang wanita cantik.”


Sementara di sisi lain, Noah hanya diam dan tampak tak acuh. Cowok itu kelihatannya lebih tertarik memandangi sesuatu yang lain di dalam hutan. Kalau saja aku tidak di kondisi yang menyulitkan seperti saat ini, aku pasti sudah mengikuti arah pandang Noah karena rasa penasaranku. Lihat saja bagaimana Borsche bersaudara masih berusaha… entahlah, melindungiku?


Leonal lalu tertawa mendengar kegaduhan yang terjadi di pinggir hutan yang sepi ini. Suara tawanya yang candu bahkan membuat detak jantungku semakin tak keruan. Aku berusaha meredamnya dengan mengulum bibir dan menggenggam tangan Zoe.


"Jangan membuat Nona Schulz salah paham, Tuan Borsche," ucap Leonal, seolah-olah sedang berusaha mempertahankan reputasinya yang baik di mataku. Jika apa yang dikatakan oleh Max memang benar demikian, mengenai Leonal yang memperlakukan gadis-gadis seperti yang dilakukan terhadapku, maka aku tak akan heran jika Leonal memang pria populer. Banyak murid perempuan yang mengidolakan seorang Leonal Ordt, pasti, dan itu kuketahui dari bagaimana mereka memandang dengan kagum sang ketua murid. “Kalau begitu aku menunggu bantuan kalian berempat. Khususnya Tuan Huxley dan Nona Borsche, yang adalah anggota komite. Kalian berdua, ikutlah denganku ke ruang komite sekarang,” titah Leonal, yang lagi-lagi dapat kurasakan kewibawaan dari seorang pangeran padanya.


Tanpa membantah, kedua anggota komite yang dimaksud lantas berjalan mengekor Leonal Ordt, yang sebelum berbalik, ketua komite itu sempat memberikan tatapan penuh makna terhadapku. Aku dapat mendengar dengus samar Noah saat melewatiku, membuatku tersadar akan keadaan salah satu tangan Noah yang tidak baik-baik saja. Pikirku, bagaimana dapat dia membantu Leonal? Sedangkan Zoe, tidak jauh berbeda. Sahabatku itu perlahan melepaskan dekapannya pada lenganku dan membisikkan sebuah kalimat padaku jika dia benar-benar harus pergi.


Kini yang tersisa hanya ada aku dan Max, tengah memandangi kepergian ketiga orang itu dengan diam. Bahkan, ketika mereka sudah tak lagi ada dalam pandangan, aku masih memandangi gerbang tak terawat yang telah dirambati tanaman liar hingga menyisakan sebuah lamunan. Barangkali kemudian Max mendapati sebuah kekhawatiran pada ekpresi wajahku sehingga ia menghadap padaku.


“Apa yang kau khawatirkan?" Max membuka pembicaraan. "Kalau soal Leonal Ordt, tenang saja. Ucapan dia bisa kita pegang.”


Perhatianku sontak terpusat pada Max. Aku takjub dengan kesan yang ditujukan Max terhadap Leonal, kepercayaannya pada Leonal, padahal beberapa saat yang lalu cowok itu beradu mulut dengan sang ketua murid. Aku jadi tak mampu menyembunyikan senyumanku yang lantas berubah menjadi tawa kecil.


“Tak kusangka kau bisa berkata seperti itu, Max. Padahal tadi kalian hampir saja bertengkar dengannya," ucapku sambil menutupi bibirku dengan tangan.


“Yah. Sebenarnya kami memang sering seperti ini," ujar Max santai sembari melipat kedua tangannya ke belakang kepala. "Aku tidak suka dikekang dengan peraturan, sementara dia justru memegang teguh peraturan itu.”


“Begitu." Aku mengangguk pelan. Rasanya aku semakin mengenal mereka, dan hal itu membuatku tertarik dengan kepribadian setiap dari mereka. Leonal Ordt dan Max Borsche bagaikan langit dan bumi. "Karena dia ketua murid kita," lanjutku menyimpulkan.


“Kau benar," ujar Max menyetujui, sekaligus sebagai penutup topik pembicaraan kami mengenai Leonal Ordt, karena setelahnya kami tak berbicara apa-apa lagi selain merenung dengan pikiran masing-masing.


Cahaya keemasan yang berasal dari langit sore-lah menyadarkanku ketika sebentar lagi area di sekitar kami akan segera diterkam oleh gelap. Hawa di sekitar pun tak sehangat sebelum aku datang kemari. Suara serangga malam satu-persatu mulai terdengar, saling beradu satu sama lain. Aku memutuskan untuk pergi ke ruang komite di mana Zoe dan Noah berada, dengan ditemani Max tentu saja, menampik kegugupanku yang semakin menjadi saat tersadar jika aku dan Max sudah menghabiskan beberapa menit bersama.


Tepat setelah kami melalui tangga menuju pintu yang menghubungkan taman belakang dan bangunan sekolah, tiba-tiba aku kepikiran soal Zoe.


"Uhm... Max? Bolehkah aku bertanya mengenai Zoe?" tanyaku dengan sedikit ragu. Aku tak menghentikan langkah. Perjalanan kami sedang melalui ruang besar yang sepi dan terarah pada koridor yang kuingat menjadi jalan menuju area depan bangunan. Lampu gantung antik di atas sana membuatku teringat pada sebuah adegan pesta dansa di sebuah film kerajaan.


"Tentu. Apa itu?" ujar Max yang berjalan di sampingku. Badan Max yang lebih besar dan tinggi daripadaku membuat cowok itu kelihatan tidak mengeluarkan usaha sama sekali untuk mengikuti langkahku.


Meskipun aku sudah mendapat izin dari kakak laki-laki Zoe, masih saja terdapat keraguan yang kurasakan. Aku mencoba menepisnya dengan memberanikan diri bertanya. Lagipula rasa penasaranku sudah tidak lagi dapat kutampung, dan aku tak mau jadi seorang sahabat yang sia-sia.


"Soal Zoe yang sepertinya banyak menyembunyikan rahasia dariku," ucapku mengutarakan satu dari hal yang membuatku tidak bisa tidur tadi malam. Hari ini, setidaknya aku harus tahu alasannya.


"Kenapa kau berpikir demikian?" tanya Max.


"Itu... entahlah, Max. Zoe tidak pernah menceritakan soal kisah cintanya. Bahkan Zoe tidak pernah bercerita tentangmu," aku menjeda, tidak ingin membuat Max berpikir yang tidak-tidak seperti Zoe sebelumnya, "--uh, maksudku, dia tidak pernah bercerita jika dia punya seorang saudara."


Max hanya mendengarkan ceritaku sambil masih berjalan bersamaku. Itu adalah sikap yang tidak pernah kuketahui dari seorang Max Borsche yang biasanya akan dengan mudah menanggapi. Atau mungkin, justru ini adalah sisi lain Max yang baru kuketahui? Benar. Aku baru mengenalnya. Tidak semudah itu menilai seseorang. Zoe Borsche saja yang kukenal bertahun-tahun lamanya masih belum kuketahui banyak tentangnya.


Aku pun melanjutkan, "Aku merasa payah jadi sahabatnya. Saat aku masih di McReych dulu, Zoe terkadang berkunjung ke rumahku. Yang aku tahu, kami adalah teman dari kecil. Tapi aku bahkan tak ingat memori kami saat di Fairille dulu."


Apa yang mengejutkanku kemudian adalah berhentinya Max yang tiba-tiba. Tak ada suara Max yang terdengar membuatku masih berjalan. Aku baru menyadarinya setelah beberapa langkah di depan Max dan berhenti saat tahu tak ada lagi Max di sampingku. Saat aku menoleh ke belakang, kulihat Max hanya memandangku dengan tatapan yang tak dapat kudefinisikan. Aku bahkan mengira Max Borsche marah karena ucapanku yang membahas mengenai adik dari cowok itu.


"Max...?" Aku berbalik dan menghadap ke arah cowok itu yang berjarak sekitar tiga meter dari tempatku. "Maafkan aku. Aku salah berucap ya?"


Bukannya menjawab pertanyaanku, Max justru menanyakan hal yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku.


"Kau benar-benar tidak ingat, Kim?"


Pertanyaan Max itu terdengar dalam dan sedih. Aku hanya dapat memandang Max dengan geming dan henyak yang tak dapat kutahan. Max lalu berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapanku. Aku lalu mendongak, menatap mata Max yang seharusnya terang, tetapi kelihatan lebih gelap ketika di dalam ruangan seperti ini. Menggunakan mata itu, cowok berwarna kulit tan itu menatapku dengan penuh kekecewaan.


"Apa kau tidak ingat memori-memori saat kau tumbuh di Fairille, Kimberly?"


...****************...