Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
26. Rindu McReych



Sepulang sekolah, Zoe tak lagi mengunjungiku. Saat jam istirahat tadi dia memberitahuku jika beberapa hari ke depan komite murid akan disibukkan dengan persiapan perayaan sekolah, karena itu kemungkinan besar Zoe tak memiliki banyak waktu kosong. Ketika aku menawarkan bantuan berdasar perjanjian kami dengan Leonal Ordt, aku masih belum mendapatkan jatah pekerjaan. Kulihat Max juga belum ada di sekitar. Mereka bilang akan membutuhkan bantuan kami sekitar dua hari lagi.


Maka aku tentu tak mempermasalahkan. Aku langsung pulang ke asrama dan menghabiskan waktu seorang diri dengan ponselku yang hampir 24 jam tak kuperhatikan sama sekali. Sampai jam pelajaran terakhir tadi pun aku benar-benar lupa untuk mengecek ponselku. Gosip nyatanya mampu membuatku menjauh dari benda itu dan menghabiskan waktu bersama Zoe.


Astaga. Bahkan, series yang biasanya tak pernah kulewatkan belum kutonton sampai hari ini.


Saat asyik menonton series itu, aku melupakan segala keganjilan yang terjadi di sekolah ini. Aku cukup bersenang-senang sampai berganti malam. Setelah makan malam dan membersihkan diri, aku lanjut menonton series lainnya sampai tertidur. Cakrawala sudah kembali menghantarkan sinar mentari saat aku membuka mata.


Sama halnya kemarin, sekolah begitu tenang dan ketentraman turut menguasai suasana kelas karena tak ada Frederick Elford di sekitar. Entah apa yang membuat cowok itu tidak masuk sekolah. Ketika guru bertanya dan tak ada seorang murid pun yang tahu alasannya, sang guru hanya bersikap biasa saja, seolah-olah keabsenan cowok itu sering terjadi.


Memasuki jam istirahat, aku membuka pesan dari Zoe yang mengatakan kalau gadis itu tak bisa menemaniku makan siang. Zoe bahkan hanya makan sandwich seperti kemarin sembari membereskan tugas yang diberikan oleh ketua komite. Sekali lagi aku coba menawarkan bantuan, tetapi lagi-lagi tawaranku ditolak. Aku lalu pergi ke kantin untuk makan sendirian. Meskipun aku tak berselera makan, aku memaksakan diri untuk menghabiskan mashed potato dan kacang polong di hadapanku. Bagaimana aku mencoba, tetap saja, makanan itu berakhir tak habis dan kubawa ke tumpukan wadah sebelum kembali ke kelas.


Di bangkuku aku lantas menyibukkan dirk untuk bermain ponsel. Kulihat, masih ada sekitar 20 menit sebelum istirahat berakhir. Tak ada balasan chat dari Zoe di notifikasi, sayangnya, yang entah kenapa hal itu membuatku jadi merasa sepi. Aku menghela nafas dan melihat keluar jendela. Kehijauan di sekitar sama sekali berbeda ketika aku menolehkan kepala ke luar kelas di sekolahku yang lama. Saat aku mengembalikan pandanganku ke layar ponsel, jariku menari di atasnya, dan layar ponselku terarah pada galeri foto.


Aku mengerjap dan refleks merapatkan tubuh saat menyadari banyaknya koleksi foto semasa hidupku di McReych. Kulihat lagi, foto-foto itu paling banyak saat aku menghabiskan waktu bersama Marsha, Sophie, dan Felly. Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat membentuk senyum kecil, teringat pada masa-masa menyenangkan kami saat di McReych dulu. Apalagi foto-foto kami saat bersenang-senang bersama. Entah di kafe, di taman hiburan, bahkan hanya berfoto ria di sekitaran sekolah.


Aku merindukan mereka. Aku merindukan McReych.


Mendadak, ada letupan dalam benakku. Keinginanku lantas mengarahkanku untuk membuka ruang obrolan grup di mana aku dan teman-temanku berada. History chat-nya masih sama. Terakhir kali kami mengobrol adalah pembahasan mengenai kepindahanku ke Fairille. Lalu, tak satu pun dari mereka yang merespons pesanku. Sampai sekarang aku masih berfikiran apakah mereka marah terhadapku. Karena setelah pindah, aku tak lagi memiliki obrolan asyik seperti dulu dengan mereka, bahkan janji-janji kami dulu tidak bisa lagi kupenuhi.


Namun, sungguh, rasa bersalahku semakin memuncak setelah aku buka lagi ruang obrolan itu. Dengan keberanian yang kukumpullan, aku pun akhirnya mengetik satu-persatu huruf di sana sehingga membentuk sebuah kalimat yang lantas kukirimkan.


'Kalian apa kabar? Aku merindukan kalian.'


Jantungku berdegup lebih kencang. Aku tentu gugup. Takut jika mereka lagi-lagi bersikap tak acuh dan hanya membaca pesanku. Namun, rupanya ketakutanku itu tak terjadi, lantaran kulihat salah satu dari mereka sedang mengetik pesan. Seseorang itu adalah Sophie. Ada sejumput rasa senang dalam benakku yang semakin lama semakin meluas.


Sebuah pesan muncul. Dari Sophie.


'Oh, aku kira aku sudah keluar dari grup ini.'


Aku tercekat. Waktu seolah berhenti secara mendadak. Sepertinya aku terlalu syok untuk lekas menanggapi.


Dua orang lainnya di dalam grup itu lalu juga ikut mengetikkan dua kalimat lain.


Satu dari Felly, dan terakhir dari Marsha.


'Hai, Kimberly. Kukira ponselmu sudah tidak terkoneksi dengan internet. Bukankah tempat tinggalmu yang baru itu terpencil?'


Please, don't.


Dengan gemetar, kedua tanganku kemudian berusaha memegang ponsel dengan benar dan memainkan ibu jariku di atasnya. Akan tetapi sebelum aku berhasil mengirimkan pesan balasan, grup itu sudah dibubarkan. Seketika luapan emosiku berubah menjadi genangan air di pelupuk mata. Air mataku tumpah begitu saja dalam kebungkamanku yang terjaga.


Apa salahku pada mereka?


...***...


Bunyi lonceng pertanda pulang sekolah telah berbunyi. Sementara anak-anak kelas telah meninggalkan kelas, aku masih diam di tempat dudukku. Lamunanku masih tertuju pada buku pelajaran sekolah yang terbuka, terlampau syok mengingat kembali perubahan sikap ketiga orang yang dulu sangat akrab denganku.


Marsha, Sophie, dan Felly---kenapa mereka berubah?


Aku lalu membuka ponsel lagi, tapi kali ini bukan aplikasi chat yang kubuka, melainkan aplikasi Mcgram di mana orang-orang bebas menggunggah foto keseharian mereka. Niatku untuk mencari tahu tentang kehidupan ketiga orang itu lekas terjawab tanpa harus membuka profil mereka. Di halaman feed Mcgram langsung terjawab. Unggahan foto milik Felly terpampang jelas di depanku: foto mereka bertiga tanpa diriku. Di dalam foto itu terlihat Marsha, Sophie, dan Felly yang sedang menghadiri prom night sekolah. Mereka terlihat lebih dewasa dengan balutan gaun yang cukup seksi. Senyum mereka merekah dan ketiga orang itu kelihatan sangat bahagia.


Tanpa diriku.


Aku tak bisa menyembunyikan kesepianku yang meledak-ledak. Ditambah perasaan terkhianati yang menggores benak. Lagi-lagi, air mataku mengalir. Setelah menumpas air mata di pipi dengan kasar, aku membanting ponsel ke dalam tas beserta buku pelajaranku yang semula di atas meja, lalu berjalan tergesa keluar kelas. Alih-alih pulang ke asrama dan beristirahat untuk menenangkan pikiran, aku justru menuju ke taman belakang sekolah dengan gerak yang semakin cepat hingga berlari, sampai-sampai tak mendengar ketika seseorang memanggil. Sungguh, aku sama sekali tidak bisa berfikir jernih.


Udara jernih merangsek ke dalam paru-paruku saat pintu besar berukir telah berhasil kulalui. Aku mengabaikan nafasku yang tersengal dan bercampur dengan emosi. Kususuri anak tangga hingga sampai di dekat patung pangeran peri. Tak kutemukan satu orang pun di sekitar, pertahananku perlahan runtuh. Aku jatuh terduduk di atas lantai berbatu yang tak lagi utuh. Dengan lelah, kusandarkan punggungku pada batas kolam.


"Maaf aku kemari. Aku ingin menenangkan diri."


Mungkin aku sudah gila.


"Tentu saja kau tak akan keberatan kan, Pangeran? Kau kan hanya sebuah patung, bukan pangeran sungguhan."


Ya, mungkin aku memang gila karena berbicara pada patung peri rusak itu. Namun, aku tak peduli. Hal yang kubutuhkan sekarang adalah tempat untuk menenangkan diri, dan taman terbengkalai ini merupakan tempat ternyaman yang dapat kutemukan di tempat ini, tanpa seorang pun yang menganggu.


"Aku ingin kembali ke McReych," ucapku tergugu sambil menenggelamkan wajah pada lipatan tangan di atas kakiku yang menekuk di depan dada. Aku menggigit bibir bawahku dalam isak tangisku, mencoba lebih tenang. "Fairille... Apa aku bisa benar-benar hidup bahagia di sini? Aku rindu McReych. Aku rindu teman-temanku."


Angin tiba-tiba berderak kencang dari arah hutan. Aku yang terkejut lantas berusaha melindungi diriku dengan memeluk dan merapatkan tubuh pada kakiku. Setelah keadaan kembali seperti semula, barulah aku mengintip dengan membuka satu-persatu mataku. Di sana, tepatnya di dalam hutan, aku melihat sesuatu bercahaya yang melayang cepat dari pohon ke pohon.


"Peri?"


...****************...