Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
13. Rahasia Zoe



Kantin Fairille High School begitu ramai. Tak ada bedanya dengan kantin sekolah di McReych, sebenarnya. Akan tetapi, yang membuatku cukup terpana adalah peralatan makan yang digunakan di sini seperti di ruang makan asrama: selain memiliki ukiran indah, warnanya tampak berkilau ketika terpantul cahaya di dalam ruangan. Sayangnya hal itu hanya kuperhatikan selama sesaat, sebelum aku memaksakan diri untuk menyantap makanan lantaran suasana hatiku tidak begitu baik saat ini.


Zoe yang duduk berhadapan denganku jelas penasaran. Setelah aku memutuskan untuk mengakhiri suapan dan menyeruput minumanku dengan kuat, aku memberitahu Zoe sebuah fakta yang mungkin akan membuatnya tertarik: tak lain dan tak bukan mengenai hari pertamaku masuk sekolah.


Di sela canda tawa dan gurauan para murid di sekitar, tanpa aba-aba, lengking suara terkejut Zoe mengudara, tangannya refleks menggebrak meja. Responsnya melebihi ekspektasiku.


"Apa?!" Sadar jika tingkahnya terlalu berlebihan, Zoe segera memelankan suaranya hingga menyerupai bisikan. Murid-murid yang tadinya mendaratkan perhatian pada kami kemudian kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing. "Kau sekelas dengan Frederick Elford?"


Aku mengangguk lesu. Senyumku kecut, lebih kecut dibandingkan jus jeruk yang tinggal setengah gelas di hadapanku. Aku kemudian hanya mengaduk-aduknya menggunakan sedotan, sudah tidak selera melanjutkan makan. Kelihatannya mungkin sikapku mendramatisir keadaan. Aku bahkan mengembuskan napas berat dan menopang daguku dengan dua tangan. Namun, resahku memang benar adanya.


Aku sama sekali tidak merasa beruntung di hari pertamaku sekolah karena sekelas dengan orang itu.


“Oh. Ayolah, Kim. Kau tidak perlu khawatir seperti itu meskipun kau sudah menonjoknya sampai membuat wajahnya memar.”


Seketika, aku merasa tertampar. Hal yang kusesali justru disebutkan terang-terangkan oleh Zoe dengan mudahnya. Sahabatku ini terlalu berterus-terang orangnya.


“Zoe, sungguh, kau tidak perlu mengingatkanku kembali soal itu.”


Karena, memang, aku jadi merasa bergidik membayangkan jika cowok itu akan melakukan sesuatu yang buruk terhadapku. Balas dendam, barangkali? Apalagi jika mengingat cerita Max mengenai banyaknya orang yang tak mau berurusan dengan Frederick Elford.


“Ah, maafkan aku, Kim,” ucap Zoe sambil menutupi bibir menggunakan kedua tangannya. “Tapi kau bilang tadi dia mengajakmu berkenalan dan membiarkanmu pergi sebelum bertemu denganku.”


“Iya. Dia…,” aku menggantung ucapan dan membayangkan kembali sikap Frederick di kelas, “seperti menjadi orang yang berbeda dengan membiarkanku pergi—uh.”


“Apa menurutmu, dia tertarik padamu?”.


Aku tersedak. Bisa-bisanya Zoe menanyakan hal itu saat aku sedang minum. Zoe mengernyih sambil mengusap punggungku saat aku batuk-batuk. Bukannya menjawab, aku justru balik bertanya, “Apa maksudmu?”


“Memang sih banyak orang yang tak mau berurusan dengannya. Namun di balik itu," Zoe kemudian mengubah suaranya supaya lebih terdengar misterius, "diam-diam dia populer di kalangan cewek. Frederick Elford jadi salah satu cowok yang ingin dikencani para cewek pada survey yang pernah diadakan oleh seorang anonim di komunitas website sekolah.”


“Kau bercanda," ucapku tak percaya. Benar saja, informasi itu membuat perutku tergelitik. Aku sampai mendengus geli.


“Tidak. Aku serius,” kata Zoe sambil menusuk kentang lalu memasukkannya ke dalam mulut.


Aku terlalu terbawa suasana pada gosip ini sampai-sampai aku bisa dengan mudah memutar bola mataku. “Cewek-cewek yang ingin berkencan dengannya pasti sudah gila.”


“Aku pun sependapat. Tunggu sampai kuhabiskan makananku, lalu aku akan menceritakan tentang dia kepadamu.”


Tak butuh waktu lama bagi Zoe untuk menyelesaikan makannya. Zoe kemudian menceritakan banyak hal soal cowok itu.


Frederick Elfrod rupanya adalah seorang playboy, sekaligus badboy, yang suka membuat kekacauan dan menjadi biang onar di sekolah. Sebelumnya, para cewek tidak ada yang berani dengan Frederick karena memiliki pembawaan kasar dan temperamen buruk. Namun, pada salah satu komunitas di website sekolah, yang nyaris semua akunnya berstatus anonim, ada salah satu akun yang membahas bagaimana dia berkencan dengan Frederick. Sama seperti yang lainnya, cewek anonim itu mulanya takut pada Frederick, tapi setelah berkencan, cewek itu jadi tergila-gila pada cowok itu bahkan rela melakukan apa pun untuknya!


Dari cerita itulah yang membuat para cewek penasaran dan menjadikan Frederick salah satu dari para cowok yang ingin dikencani para cewek di sekolah ini. Biarpun begitu, mereka tidak menunjukkan secara langsung di permukaan. Para pengagum rahasia Frederick Elford ini memiliki aturan untuk tidak menyatakan rasa sukanya secara langsung pada Frederick. Mereka hanya membiarkan Frederick memilih salah satu dari para cewek untuk diajak kencan. Sampai sekarang, belum ada cewek yang menolaknya.


“Cerita itu membuatku mual. Rasanya itu tidak lebih mungkin daripada dongeng Itik Buruk Rupa,” ujarku lalu menjulurkan lidah seperti ingin muntah. Aku tidak mengerti kenapa mereka mau-maunya menerima ajakan kencan dari orang yang jelas-jelas punya tabiat buruk. “Jangan-jangan, kau juga pernah, Zoe?”


“Maaf saja. Tapi dia bukan tipeku.” Zoe mengibaskan rambut pendeknya ke belakang, hal itu membuatku terkekeh. Sahabatku itu lalu tersenyum meledek. “Lagipula, aku benar-benar tidak mau berurusan dengannya dan berhati-hati supaya tidak mengganggunya.”


“Dan aku, belum hari pertama sudah membuatnya marah."


“Itu keren,” ujar Zoe memuji. Tapi di telingaku, ucapannya lebih terdengar sebagai sebuah ejekan.


“Yeah. Sebuah kebodohan yang keren. Terima kasih atas pujiannya, Zoe," kataku dibumbui nada sarkasme.


Ketika kami masih asyik mengobrol, seseorang tiba-tiba duduk di sampingku dengan membawa senampan makanan yang sepertinya baru terambil dari hasil mengantre panjang. Ketika kutolehkan kepalaku, kusadari itu adalah Tom Graffen.


“Kimmy. Kita bertemu lagi!” Sapaannya sangat ceria, begitu juga senyumnya yang lebar sehingga menampakkan gigi-gigi putihnya. “Boleh kan aku duduk di sini?”


“Tommy! Kau seperti matahari pagi!" Tentu saja yang kumaksud adalah kiasan. Senyuman Tom yang hangat seperti sinar matahari pagi membuatku ikut tersenyum. "Tentu saja boleh.”


“Wow. Ternyata kau sudah membuat teman akrab di belakangku, Kim.” Zoe ikut ambil suara. Dia terdengar cemburu karena aku memiliki teman lain selain dirinya. “Fotografer Tom Graffen, benar?”


“Tidak kusangka seorang anggota komite murid mengenalku. Senang berkenalan denganmu, Zoe Borsche.”


Percakapan kedua orang yang sedang bersamaku sukses membuat alisku menekuk. Tanganku kemudian bersidekap. “Kalian saling mengetahui nama tapi baru saling berkenalan. Lucu sekali." Aku menggelengkan kepala, heran. "Omong-omong, aku tidak tahu jika kalian berdua orang terkenal di sekolah ini!”


"Tidak mungkin," kataku spontan merespons.


"Ayolah, Nona Borsche. Tak ada yang tak tahu kalau kau merupakan kekasih Marion Lynch, murid yang hilang dan pernah mengaku melihat sesosok peri."


Tunggu sebentar. Pembicaraan ini memang pembicaraan yang kunanti. Peri, ya, aku ingin tahu banyak soal mereka. Namun, awal mula dari pembicaraan ini sangat mengejutkanku. Saat menggeser arah pandang beberapa derajat, aku menyadari Zoe sudah membelalakkan matanya dan membuka mulut seperti ingin mengatakan sesuatu. Lama kuperhatikan, sudut bibirnya berkedut. Zoe lalu menggigit bibir bawahnya, sehingga aku tahu aku tak akan mendengar penjelasan darinya.


Apa orang yang dimaksud Tom adalah orang yang sama dengan orang yang kemarin diceritakan Zoe? Tapi Zoe sama sekali tidak cerita jika orang itu adalah pacarnya.


Tak ada yang berbicara lagi di antara kami bertiga. Zoe beringsut menundukkan pandangan, sementara aku dan Tom saling pandang selama sesaat dan kompak kembali melihat ke arah Zoe dengan geming yang sama. Hingga tak lama kemudian, aku melihat pergerakan Zoe yang perlahan berdiri.


"Maaf. Aku mau ke toilet."


Sahabatku itu lantas pergi meninggalkan kami berdua tanpa membiarkanku mengatakan satu patah kata pun


"Apa aku salah bicara?" tanya Tom sambil melanjutkan makannya yang sempat tertunda dengan memandang ke arah perginya Zoe.


Aku masih terikat dalam bungkam. Masih memproses informasi yang baru saja terdengar dalam telinga. Aku sampai tak sadar ketika Tom memanggil-manggil namaku. Barulah ketika sudut mataku menangkap wajah Tom yang memandangku dari jarak sangat dekat, aku pun sontak terkejut.


"T-Tom! Apa yang kau lakukan?!" pekikku sambil menggeser dudukku supaya menjauh dari Tom.


"It's Tommy, not Tom," ucap cowok itu mencoba memperbaiki nama panggilannya untukku. Ia lalu tertawa. "Habis kau tidak dengar."


"Kan sama saja!" protesku pada Tom. Lalu aku memelankan suara. "Maaf, aku melamun tadi."


"Tidak apa kok. Asal kau memanggilku dengan Tommy. Karena tidak sama jika itu kau, Kimmy."


"Baiklah, Tommy.” Aku pun mengalah. Bersiap mengulik dan mendengar cerita dari Tom. “Jadi, tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan orang bernama Marion Lynch itu. Begitu juga soal foto siluet peri itu."


Tanpa berbelit, cowok itu langsung menuruti permintaanku. Cerita yang diperdengarkan Tom tidak berbeda jauh dengan cerita yang kemarin diceritakan oleh Zoe. Akan tetapi, yang cukup mengejutkanku adalah orang yang hilang itu ternyata kekasih dari sahabatku. Zoe tidak menceritakan secara detail padaku. Bahkan Zoe bersikap seolah-olah murid yang hilang itu adalah orang lain, bukan seseorang yang dekat dengannya.


"Kalau foto siluet peri itu–masih belum aku ketahui kebenarannya. Aku tidak tahu apa itu sungguhan peri atau bukan.” Cerita berganti mengenai foto Tom. Cowok itu memasukkan sosis terakhir sebelum mengunyahnya sambil memikirkan hal yang aku tidak tahu apa. Sebuah pertanyaan lantas tercetus ke udara, “Apa kau ingat dengan hal yang membuat kita tertarik di taman belakang sekolah?"


Aku berpikir sejenak, mengingat-ingat. "Patung peri?" tanyaku memastikan sambil sedikit memiringkan kepala.


"Tepat sekali. Menurutmu kenapa aku tertarik dengan patung itu?"


Aku menimbang jawaban. Kalau Tom adalah seorang fotografer, mungkin aku tahu jawabannya. "Karena kau penasaran dengan keberadaan peri, kutebak kau ingin menguak kebenaran dari fotomu."


"Cewek pintar," puji Tom sambil memberikan jempol padaku.


Aku jadi teringat sesuatu.


"Ah! Aku lupa mengembalikan sapu tanganmu.” Tidak hanya itu. “Kau juga, Tom. Kau lupa dengan janjimu!"


"Soal kisah para peri? Kalau itu aku tidak lupa kok," jawab Tom dengan entengnya.


"Aha!” Telunjukku terangkat dan terarah pada Tom. Aku lantas tak ragu untuk menuntutnya. “Kalau begitu. Ceritakan kepadaku sekarang."


"Kurasa tidak sekarang, Kimmy. Waktu istirahat sebentar lagi selesai."


Mendengarnya, mukaku seketika langsung memberengut kesal. "Kau hanya mencari-cari alasan!"


Tepat setelah tuduhanku kepadanya, bel tiba-tiba berbunyi. Tom mengangkat bahunya, ekspresi wajahnya tampak pongah dan kedua alisnya ikut naik. "See?"


"Baiklah... lain kali saja kalau begitu," ucapku menyerah.


"Bertukar nomor? Aku mungkin bisa menjawab segala jenis penasaranmu mengenai peri jika kau kepikiran sesuatu." Pada tawaran itu, aku tak langsung menjawab. Senyum Tom yang terus tertuju ke arahku membuatku ragu. “Bagaimana, Kimmy?”


Tapi, kurasa tak ada salahnya. Tom Graffen bukanlah Frederick Elfrod yang mungkin bakal menerorku. Lagipula rasa penasaranku terhadap cerita peri semakin hari semakin mendalam.


"Tentu, Tommy."


...****************...