Secret Admirer; In The Land Of Fairies

Secret Admirer; In The Land Of Fairies
07. Sahabat



Pertemuanku kembali dengan Zoe di taman belakang menciptakan gerutuan lucu dari Zoe. Aku tak hentinya meminta-maaf meskipun omelan Zoe kepadaku tetap saja terdengar. Di sepanjang perjalanan menuju halaman sekolah, Zoe terus-terusan memegang tanganku. Dara Borsche beralasan, supaya aku tidak menghilang secara tiba-tiba seperti sebelumnya. Aku hanya menurut, dan aku membalas genggaman tangannya. Kami yang berjalan beriringan jadi seperti sepasang sahabat yang tidak ingin terpisah satu sama lain.


Mungkin berkat genggaman hangat ini, aku jadi tidak lagi mengkhawatirkan tatapan murid yang masih saja tertuju padaku.


Pada akhirnya kami kembali masuk ke dalam mobil. Seiring dengan kembali dimulainya perjalanan kecil kami, aku menoleh ke balik punggung. Kutatap bangunan sekolah bersama kolam patung peri yang semakin menjauh. Hingga gerbang sekolah ikut berlalu dan pohon-pohon di sisi jalan menutupi kompleks bangunan itu.


Aku mengembalikan pandanganku ke depan, dan di sana sudah terpampang lautan yang sempat membuatku takjub di perjalanan menuju sekolah. Zoe menawariku untuk turun, sekadar menikmati pemandangan dari dekat. Dengan senang hati, aku menerima tawaran itu.


"Indah sekali!" ungkapku, tak bisa menahan kekaguman.


Aku amat antusias saat kakiku telah menapak pinggiran jalan yang cukup lebar. Pagar terbentang menjadi batas, tanaman rambat yang bunganya masih berkuncup pula menghiasnya. Kupegang dengan hati-hati pegangan pagar yang membatasi daratan dan laut di bawah sana. Ketika aku mencoba menengok ke bawah, aku lekas menyadari jika aku sedang berdiri di puncak tebing. Seketika, aku pun bergidik ngeri. Bayangan yang terlintas di pikiranku seketika meliar.


"Curam sekali. Kalau jatuh, aku pasti akan langsung mati," ucapku sambil mundur selangkah.


"Tempat yang baik untuk bunuh diri, bukan?" Zoe jelas partner yang sangat baik untuk merekonstruksikan bayangan mengerikan yang berusaha kulenyapkan dengan susah payah.


"Zoe!"


"Kudengar ada yang habis bunuh diri karena putus cinta di sini. Arwahnya sedang gentayangan di sekitar orang yang mengunjungi tempat ini."


"Zoe! Stop it!"


Zoe tak bisa menyembunyikan tawanya lantaran melihat diriku yang ketakutan.


"Apa kau takut dengan hantu, Kim?" goda Zoe.


"T-tentu saja tidak!" Aku mencoba mengelak, tapi dari ekspresi dan suaraku saja, kebohonganku jelas terlihat.


Zoe lalu mengajakku melalui jalan turunan khusus pejalan kaki yang menjadi bagian dari tebing supaya bisa melihat permukaan laut lebih dekat. Mulanya aku tak mau, tapi karena tempat itu terbilang cukup aman dan kondisi sekitar tidak berangin kencang, aku pun menyetujuinya.


Tentu saja aku berjalan di belakang Zoe dengan memegang erat tangannya!


"Sampai sini saja," ucap Zoe sambil menuntunku untuk berhenti di sampingnya.


Tak seperti di puncak, apa yang kulihat kali ini jauh lebih menakjubkan. Kerlip cahaya keemasan pada permukaan laut semakin jelas. Sebelumnya aku tidak pernah melihat laut hingga sedekat ini. McReych tidak memiliki bentang alam, sedangkan Fairille punya hutan dan laut. Aroma menggelitik yang asalnya dari laut bahkan tak kalah membuatku terheran. Aku baru pertama kali mencium bau unik seperti ini.


"Ini benar-benar menakjubkan...."


"Aku senang melihatmu senang seperti ini, Kim."


Aku menoleh kepada Zoe, lalu tersenyum kepadanya.


"Tentu saja berkat kau, Zoe. Kalau tak ada kau di sisiku, entah apa yang akan aku lakukan di Fairille. Terima kasih Zoe!"


"Tidak perlu sungkan. Kita kan sahabat."


Kata-kata Zoe membuatku terhenyak. Sahabat. Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama Marsha, Felly, dan Sophi di McReych, mereka tak lagi menganggapku. Padahal kupikir kami adalah sahabat. Namun rupanya di sana ada seseorang yang peduli padaku dan menganggapku sebagai sahabatnya.


Secara emosional, aku memeluk Zoe yang kemudian membalas pelukanku. Aku tak bisa menahan air mataku di balik punggung Zoe, tapi aku menepis jejak air mata itu beberapa kali supaya Zoe tak mengetahuinya. Ketika aku sudah selesai, barulah aku melepas pelukan itu dan menampilkan senyuman manis.


"Oh, iya." Tiba-tiba aku teringat sesuatu saat melihat mata Zoe yang ikut tersenyum. "Kau tak pernah bercerita padaku kalau kau punya saudara!"


Agaknya Zoe terkejut dengan protesku yang tiba-tiba. "Karena itu bukanlah hal yang penting? Karena yang terpenting adalah persahabatan kita."


Aku cemberut. Sengaja memasang muka seperti itu, memang, karena aku berusaha keras untuk tidak lagi menangis. Hatiku tentu saja tersentuh. Bagiku kini, Zoe Borsche adalah salah satu orang terpenting yang aku miliki.


"Wajahmu kenapa seperti itu? Apa kau tidak suka memiliki sahabat sepertiku?"


Mendengar pertanyaan seperti itu, aku seketika menggelengkan kepala. Tak ingin Zoe merasa salah paham. "B-bukan seperti itu!"


"Atau--kau naksir Max, ya?" Tapi sepertinya kesalahpahaman Zoe semakin parah dan menyebut-nyebut soal Max. Zoe pakai mengedipkan sebelah mata segala. "Makanya kau marah karena aku tak memperkenalkan Max kepadamu."


Zoe tertawa geli. "Aku hanya bercanda, Kim. Kenapa pipimu merah seperti itu?"


"Uh... Ini bukan soal Max." Aku berusaha mengklarifikasi. "Aku hanya merasa kalau kau tahu banyak soal aku, tapi aku tak tahu banyak soal dirimu."


Zoe hanya tersenyum menatapku. Entah kenapa aku masih merasa ada yang disembunyikan Zoe terhadapku.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyaku menyelidik.


"Aku tidak menatapmu kok," ujar Zoe sambil menghadap ke arah laut. Kedua tangannya lalu meregang ke atas. Ucapan berikutnya seolah sengaja mengganti topik pembicaraan kami. "Ah~ Kalau saja aku punya sayap seperti peri, aku pasti sudah melintas di atas lautan ini."


Tapi topik ini, aku sungguh tak bisa mengabaikannya. "Peri.... Zoe, apa kau percaya dengan peri?"


"Kenapa tiba-tiba bertanya? Apa kau percaya peri, Kim?"


"Aku--sebetulnya bukan orang yang percaya hal semacam itu."


Di McReych, hal fantasi semacam itu dipercaya hanya ada di buku, film, atau video game, yang berbatas pada hiburan. Kalau pun ada yang percaya, masyarakat akan menganggapnya gila atau kecanduan obat. Daripada itu, orang-orang McReych lebih terobsesi pada teknologi dan modernisasi.


"Tapi kau takut dengan hantu."


"Itu sesuatu yang berbeda!" sergahku. Aku menggenggam tanganku satu sama lain, gugup. "Aku hanya penasaran. Karena di sekolah kita terdapat patung peri, bahkan dua. Rasanya tidak mungkin jika tidak memiliki arti."


"Uhm. Apa kau tahu ada sebuah legenda di kota ini, Kim?"


"Legenda?"


Entah kenapa aku merasa darah pada tubuhku mendesir aneh.


"Ya. Sebuah legenda yang sangat terkenal di kalangan penduduk kota ini. Meskipun sebagian besar dari mereka hanya menganggapnya omong kosong."


"Memangnya apa itu?" tanyaku penasaran.


"Legenda yang mengisahkan kota yang kita tinggali dulunya adalah tanah peri--di mana para peri tinggal, bagian dari hutan yang sangat luas."


Tanah peri? Apa aku tidak salah dengar?


Aku seketika mengangkat wajah dan melihat ke balik punggung Zoe. Di kejauhan, di atas tebing bagian yang lain, terdapat hutan yang kutebak aksesnya dapat dilalui dari taman belakang sekolah.


"Maksudmu, hutan itu adalah hutan yang tersisa dari tempat para peri dulu berada?"


Telunjukku yang mengarah ke hutan yang aku maksud telah menjadi perhatian kami. Zoe pun mengangguk, lalu bertanya padaku.


"Apa kau percaya?"


"Itu...hanya takhayul kan? Tidak benar-benar ada."


"Entahlah. Meski banyak yang tidak sependapat, tapi segelintir orang mempercayainya." Suara Zoe terdengar tulus dan lembut, seperti angin lembut yang tengah melalui kami. "Termasuk aku."


Tidak mungkin. Zoe mempercayainya?


"Kau... sungguh percaya, Zoe?"


"Ya, aku percaya."


Pada kalimat final Zoe, aku tak lagi mampu berkata. Ada gejolak batin di dalam diriku yang saling melawan satu sama lain: sebagian dariku ingin percaya, tetapi lebih dari itu enggan menerimanya. Padahal tadinya aku sempat terbawa suasana dan ingin membantu pangeran peri untuk menemukan putrinya. Akan tetapi jika dilogika, mana mungkin peri itu ada kan? Aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa berpikir demikian.


Kalau saja peri itu sungguhan pernah ada di sini, apa keberadaan mereka masih ada sampai sekarang? Dan, apa sosok pangeran dan putri peri juga ada?


...****************...