
Malam pun tiba, Fakha dan yang lainya keluar dari persembunyian mereka setelah Hunter dan pasukannya pergi.
" Mereka benar-benar membakar rumah pak Santoso." Ucap Jagad.
"Dooorr... "
Pak Windu memegang dadanya yang berlumuran darah.
"Brugghh..!!! " Tubuhnya pun terjatuh tak bernyawa.
Mereka pun panik dan berlari.
"Dooor..!! "
Kali ini sabda terjatuh dengan luka di bagian dahinya.
"Dooorr..!!! "
Jagad pun akhirnya terkena tembakan di bagian perutnya, namun ia masih bisa bertahan sambil mengatakan, "lariii... Fakha... !! "
"Dooorrr...!!! "
Serangan itu melukai kepala Jagad hingga membuatnya tak berkutik lagi.
Fakha terus berlari berusaha menembus hutan. Namun langkahnya terhenti seketika. Dihadapannya berdiri sosok berbaju hitam berbadan tegap berotot, tingginya 175 cm. Fakha memperhatikan bajunya yang bertuliskan Hunter. Belum sempat Fakha melakukan perlawanan, tiba tiba tangan kekar Hunter menyentuh leher Fakha dan mencekiknya dengan kuat.
"Aaahhh...!! Lep.. Lepas... Lep... Lepaskan... !!!! " Teriak Fakha.
"Den Fakha... Bangun den..!! " Ucap pak Windu membangunkan Fakha dari tidurnya.
Pukul 06:30, 14 Februari 2065 satu minggu setelah tragedi meninggalnya orang tua Fakha.
Fakha pun terbangun dengan wajah bingung. Ia sudah berada di kamar tidur, namun ia menyadari kamar tidur itu bukan rumahnya dan bukan pula asramanya. Ia tidur di sebuah penginapan milik pak Santoso yang terletak cukup jauh di dekat kota Bandar Lampung (Balam) sementara desa mereka Harapan Indah adalah sebuah desa di daerah Pesawaran yang berbatasan dengan tanggamus. Perkembangan pembangunan dan teknologi semakin canggih di tahun ini. Sehingga suasana Provinsi Lampung sangat jauh berbeda dari 45 tahun yang lalu. Banyak nama desa baru hasil dari pengembangan desa karena padatnya penduduk. Area pesawahan pun banyak yang telah alih fungsi menjadi bangunan dan rumah penduduk, jalan flyover di sana sini.
Pemerintah daerah pun sampai mencanangkan kepada warganya untuk menanam padi dan sayur sayuran di atap rumahnya, untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari karena minimnya lahan pertanian di tahun ini, Padatnya penduduk membuat lahan pertanian semakin berkurang.
" Den... Sudah dua hari ni Den Fakha belum masuk sekolah. Apa mau pindah sekolah saja..?" Tanya pak Windu.
Kesadaran Fakha pun mulai pulih...
Ia baru sadar dari mimpinya yang berulang kali terjadi.
" Tidak pak Windu.. Saya belum berniat untuk pindah sekolah, saya cuma butuh waktu." Jawab Fakha sambil merenung.
"Ooohh.. Begitu Den.. Soalnya saya khawatir kalo den Fakha ga mau sekolah lagi? Apalagi sekarang Den Fakha sering mimpi buruk setiap pagi." Ucap pak Windu.
" Pak Windu.. Saya bimbang mau sekolah, sebab bagaimana cara kita bertahan hidup saat ini.. Sedangkan aku ga pegang sepeserpun uang.. Aku ga bisa gaji pak Windu seperti ayah...? " Tanya Fakha.
" Sudah den... Ga usah dipikirin, saya masih punya tabungan kok, selain itu saya bisa jualan makanan didepan rumah. " Ucap pak Windu.
Fakha pun terdiam merenung, hatinya masih diselimuti rasa sedih dan penasaran.
" Baiklah, saya mau berangkat sekolah besok. Pak Windu ga usah repot-repot nganterin saya, saya mau naik kendaraan umum saja, sebenarnya saya masih punya uang di tabungan. Itu uang yang ayah kasih terakhir kali, Tapi tabungan itu ga bisa ditarik tunai, cuma bisa di pake buat transportasi umum dan kebutuhan hidup lainya, itu juga dibatasi nominalnya" Ucap Fakha.
" Tapi den... Diluar situasinya masih belum aman, kalo den Fakha berangkat sendirian, saya khawatir kalau nanti terjadi sesuatu. " Tegas pak Windu.
" Ga papa pak, saya punya alat menyamar yang saya pinjam dari Sabda..." Jawab Fakha.
Sementara di SHN, Sabda dan Jagad sudah mulai masuk sekolah kembali. Mereka bertemu dengan sahabat lainya, dan menceritakan semua kejadian yang di alaminya.
" Kasihan sekali si Fakha.. Lalu dimana dia sekarang..? " Tanya Ucok yang duduk di atas meja Sabda.
" Lha ko iso..? Kenapa harus pisah..? " Tanya Roso.
" Kalian ga tau situasinya, kita nunggu Hunter dan anak buahnya ngeberesin area rumah ayahnya Fakha sampe malem. Kita sampe ga makan nunggunya. Rasa takut, rasa lapar, haus semua jadi satu paket. Sampe akhirnya mereka ngebakar rumah itu, bener bener biadab mereka itu, ngebakar rumah dan jasad orang tua Fakha di dalamnya. "Jawab Jagad.
" Jadi, sehabis itu kalian pergi ke rumah masing-masing. Bukanya tempat itu penuh jebakan..? Gimana cara kalian keluar...?" Tanya Aizhar.
" Kita dituntun pak Windu sampe ke gerbang luar, baru setelah itu terus kita berpisah.. " Ucap Jagad.
" Riiiiiingggg...!!! Triiiiinnngggggg...!!!! " Suara bell berbunyi. Pelajaran akan segera dimulai, siswa pun melangkah menuju kelas masing-masing.
Pelajaran dimulai seperti biasanya, namun Sabda dan Jagat masih terus memikirkan Fakha. Hingga jam istirahat pun tiba. Mereka pun menuju kantin sekolah untuk mengisi perut mereka yang lapar.
" Bu...!! Saya pesen nasi uduk pake telor ceplok sama sate ususnya 3 ya bu, sambalnya yang banyak terus minumnya es teh manis..!! Teriak Doe yang baru saja datang ke kantin lalu duduk di sebuah kursi panjang dengan meja panjang di depannya.
" Kalian mau pesan apa..? " Kini giliran Doe bertanya pada teman-temanya yang duduk bersebelahan.
" Saya pesen somay pake lontong bu..!! Minumnya Jus alpukat. " Pesan Aizhar.
" Kita pesen yang sama kaya Doe bu..!" Ucap Sabda yang juga sekaligus memesan untuk Jagad, Ucok dan Raika.
"Waokeyyy...!!! Siap.. " Jawab Ibu Kantin.
" Hay.. Kalian tau ga kalo sekarang area rumah pak Santoso di kelilingi oleh tali pembatas milik kepolisian, luas pekarangan rumah itu sekitar 2 hektar, jadi kepolisian agak kesulitan untuk membentangkan tali sepanjang itu. " Ucap Aizhar.
" Terus gimana keadaanya sekarang...?? " Tanya Sabda kepada Aizhar.
" Polisi masih menyelidiki kasus itu, di sana masih dijaga ketat oleh beberapa Polisi berseragam lengkap, kemungkinan akan di perketat sampai kasus di tutup. Tapi dugaan sementara, kebakaran itu terjadi akibat hubungan arus pendek, tidak ada tanda tanda terjadinya pembunuhan. "
" Gubraaaaakkkk...!!!!! "
Meja yang terpukul tangan Sabda.
" Haaaaahhh....!!! Apa-apaan ini... Gua lihat sendiri kejadian itu...!!!!! " Bentak Sabda murka terhadap kepolisian karena di anggapnya menyebarkan informasi yang tidak benar.
Namun Jagad segera menghentikan tindakan Sabda " Hey.. Jangan keras-keras lo ngomongnya, keadaan malah jadi semakin ga terkendali nanti, kalo sampe mereka tau kita kemana pada hari itu... Tamat sudah. "
" Haaaayyyy...!!! Jangan berantem disini...!!! Nanti hancur semua yang ada di sini..!!! " Teriak ibu kantin.
" Nggak ko bu... Kita lagi latihan bikin konten....!! " Jawab Raika mengalihkan perhatian.
" Ooohhh... Bikin konten yaaa...? Tapi jangan pukul meja donggg... Nanti rusak meja disini. " Tegas ibu kantin.
" Tuuhhh... Kan.. " Ucap Jagad.
Sabda hanya bisa terdiam merenung dengan wajah diselimuti emosi, tangannya mengepal sambil menggerutu, " Awas ya nantiii..!!. "
" Ini dia makanannya sudah siap..!! " Ucap Ibu kantin sambil membawa pesanan mereka.
" Eh ngemong-ngomong gimana keadaan Fakha sekarang ya... Gua lost contact sama dia.. " Tanya Aizhar.
" Ponselnya rusak parah semenjak kejadian itu, gua juga nunggu kedatangan dia disekolah, tapi... Kenapa dia ga kasih kabar ke kita ya...? "
15 February 2065 pukul 04:00 dini hari.
"Saya berangkat dulu pak, saya harus segera sampai disekolah sebelum jam masuk, kalo ga... Nanti saya ga boleh masuk sampai jam pulang sekolah" Pamit Fakha sembari mengemas barang-barang miliknya.
" Hati-hati dijalan ya den... Saya sudah pesanan mobil untuk mengantar sampai sekolah.. " Ucap pak Windu.
" Terimakasih pak, saya pamit dulu.. " ucap Fakha sambil bersalaman.