
Mereka pun tiba di sebuah tempat terpencil di sebuah desa yang tak jauh dari sekolah mereka, dengan segera Jagad dan timnya mengepung tempat yang diduga tempat penyanderaan sementara. Mereka tak melihat ada siapapun di tempat itu, rumah tersebut memanglah rumah adat Lampung yang sudah lama tak dihuni, dindingnya yang terbuat dari papan tampak lusuh, atapnya sudah mulai berlubang, banyak rumput liar yang tumbuh subur dibawah rumah panggung tersebut.
" Hati-hati semuanya, rumah ini sudah sangat rapuh, " Ucap Jagad kepada timnya.
Mereka melihat di setiap sudut rumah tampak beberapa ekor tikus yang berlalu lalang, Jagad pun berinisiatif untuk memeriksa bagian pintu utama, sedangkan Fakha dan Sabda berada di bawah rumah panggung tersebut untuk berjaga-jaga, Aizhar berada di mobil untuk memberi arahan dan informasi.
Jagad mencoba mengetuk pintu rumah, namun berkali-kali Jagad mencoba, tetap saja tidak ada jawaban. Akhirnya Jagad mencoba menerobos masuk kedalam rumah, ia merasa heran sebab pintu rumah tak dikunci.
" Aizhar, apa ga salah tempat ini yang jadi tempat penyanderaan? Soalnya, tempat ini sudah lama ga berpenghuni. " Tanya Jagad.
" Sebentar, gua periksa pake drone, tapi sebelumnya dari informasi yang gua dapet, ga salah lagi rumah ini tempatnya. " Jawab Aizhar.
Tak lama kemudian. " Di dalam kamar deket pintu belakang, gua liat ada sekitar 2 orang di dalam sana. " Aizhar melaporkan yang terjadi.
" Fakha, Sabda sepertinya gua butuh kalian berdua untuk masuk, target sudah mulai terdeteksi. " Perintah Jagad. Mereka berdua pun segera naik ke dalam.
" Sepertinya Penculiknya nunggu kita di dalam, ayo kita periksa, tetap waspada sama jebakan. " Perintah Jagad.
Mereka pun berada tepat di depan pintu ruangan yang terdeteksi adanya manusia di dalamnya. Mereka menunggu pergerakan.
Sembari menunggu pergerakan, Jagad mencoba menghubungi Aizhar kembali untuk mencari tahu informasi, dengan suara lirih dan berbisik. "Aizhar, gimana keadaan dalam ruang ini? " Tak ada jawaban.
"Aizhar! " Tak ada jawaban, terdengar suara gaduh dari alat komunikasi milik Aizhar.
" Lepasin aku...!! " Suara Aizhar di dalam mobil, tiba-tiba saluran radio komunikasi terputus, akhirnya Jagad menyadari sesuatu.
" Kita di jebak.... Ayo kita keluar dari tempat ini!! " Perintah Jagad.
Saat mereka hendak keluar tiba tiba langkah mereka terhenti.
" Ga mungkin, " Ucap Fakha yang melihat sosok yang dikenalnya.
" Apa yang kamu lakukan pada temanku? " Tanya Fakha.
" Ohhh maksudnya yang ada di dalam mobil ya? Kasihan dia sendirian dalam mobil, eh saya lupa den, dia kan ditemenin sama supir ya? Coba saya hubungi supir mobil kalian dulu ya! " Ucap pria dibalik kegelapan. Pria tersebut menghubungi sopir mobil yang membawa Jagad dan timnya menuju tempat tersebut.
Tampak dari layar gadget milik pria dalam kegelapan sedang melakukan video call " Hallo anak-anak.... Lama ga ketemu ya? Masih inget ga sama saya? " Sapa sopir mobil sambil membuka topeng wajah elastis nya.
" Ga mungkinnnnn!! Toyyyooo!! Apa kamu masih kurang puas sudah menghabisi orangtua ku? Dan kamu pak Windu teganya kamu mengkhianati keluarga yang menafkahi mu?!! Kalian berdua ga layak disebut manusia, kalian adalah iblis....!! " Fakha terkejut dengan kehadiran orang yang menghabisi keluarganya. Ia sangat emosi kali ini, di tambah lagi dengan adanya pak Windu yang sudah mengkhianati keluarga Fakha.
" Hahahahahahaha..... Tau apa kamu anak ingusan dengan kata nafkah, apa kamu yakin kalo keluargamu itu menafkahi aku, Munafik!! Apa ayahmu yang gila harta itu ga pernah cerita sama kamu tentang betapa hancurnya hati seorang pembantu yang mengharapkan sedikit rizki tuannya untuk mengobati orang tuanya yang sedang sakit. Majikan itu tak memberikan apa pun hingga nyawa orangtua sang pembantu pergi dari bumi ini, sang pembantu hanya bisa berharap agar suatu hari nanti bisa memiliki harta seperti tuannya agar bisa menolong orang yang membutuhkan, namun, seperti yang kita tahu, ga ada jalan pintas untuk itu, maka sang pembantu membuat jalan pintasnya sendiri. Hahahahaha....!! " Ucap pak Windu berdiri dan keluar dari balik ruang gelap.
" Benar-benar sudah gila bapak ini!! Mengorbankan anak kecil untuk melampiaskan nafsu dendam mu.... !! " Ucap Jagad penuh amarah.
" Hay... Lagi-lagi kamu, anak kecil yang suka ikut campur, oh iya saya lupa, kamu kan seorang coucha di Secret Academy satu-satunya yang belum boleh memimpin tim terjun ke lapangan karena faktor usia, apalagi tim yang kamu bawa masih belum punya KIB untuk sebuah misi yang berat, itu kan dilarang. Seharusnya sebuah tim terdiri dari 1 orang dewasa setingkat coucha yang sudah terakreditasi, dan 3 orang assistant yang sudah memiliki KIB, untuk assistant tak terbatas usia, meskipun masih kecil seperti kalian yang penting punya KIB. Apa kalian ga baca peraturan tentang misi, seharusnya coucha yang memberitahukan tentang hal ini. Betul kan Jagad....? " Ucap pak Windu dengan santainya.
" Kami sudah menghubungi SA, dan kami sudah memiliki surat izin bertugas... " Cela Sabda.
Pak Windu memotong ucapan Sabda. " Hahahahaha.... Apa kamu yakin surat itu asli? Apa kamu yakin yang kalian Hubungi benar-benar SA? Apa kalian yakin yang menghantar kalian sampai depan gerbang utama adalah kepsek kalian, seperti kalian yakin bahwa sopir mobil kalian adalah sopir yang berasal dari SA. Hahahahahhaa....!!!! Kalian dalam masalah besar... Hahahahahahaa!!! ”
" Jadi, semua ini kamu yang buat, untuk memancing kami kemari, benar-benar licik, apa yang kamu mau dari aku sekarang, aku sudah ga punya apa-apa lagi... " Ucap Fakha frustasi.
" Hufhhh... Dasar bocil, Awalnya aku sudah punya angan-angan ingin menghabisi keluargamu, tapi aku ga tau caranya, sebab aku kan cuma seorang Veteran yang ga punya apa-apa, aku takut semua hanya akan berakhir di pengadilan, hingga suatu hari, waktu saya mau jemput kamu di SHN, ada seorang pria yang menghentikan laju kendaraan ku dengan mobil besarnya di depan mobil yang aku kendarai, dia adalah Hunter. Aku pikir Hunter akan menghabisi ku karena aku bekerja pada salah seorang pengusaha yang namanya cukup terkenal dalam daftar mereka, namun aku salah, Hunter mengajak ku untuk bekerjasama menggulingkan ayah mu demi mencapai tujuannya, Aku yang memang punya dendam pribadi langsung menyetujui saat itu juga. Tapi aku ga tahu apa yang tuan Hunter pikir tentang kamu, aku ga boleh menghabisi kamu sampai saat ini, aku disuruh tuan Hunter untuk menjemput kamu, aku bener-bener ga ngerti apa spesial dari kamu yang bikin kamu ada di pikiran tuan Hunter. " Ucap pak Windu sambil memainkan belati di tangannya.
" Kalau begitu, bawa aku dan lepaskan semua teman ku...!! " Ucap Fakha.
" Fakha, ga bisa gitu... " Ucap Sabda.
" Fakha pasti ada jalan lain... " Ucap Jagad.
Suara tepuk tangan. " Waw, negosiasi, nego oh nego.... " Pak Windu mendekat ke arah Fakha, " Sebenarnya kejadian ini ga harus terjadi seandainya ga ada yang ngasih tau kamu tentang siapa aku, waktu itu saya mau jemput kamu disekolah, tapi kamu malah kabur entah kemana, lagi pula kenapa juga Hunter menunda-nunda untuk bawa kamu ke markas kami, seharusnya saat penyerangan itu hunter bawa kamu sekalian pake helicopter nya, tapi dia bilang waktu itu bukan waktu yang tepat jadi, dia suruh aku bawa kamu sementara waktu, dan terpaksa aku harus tetap bersandiwara, tapi sekarang aku sudah capek jadi aktor, dan keputusan kamu sudah sangat tepat, tapi satu hal yang harus kamu inget Fakha, ga boleh ada pihak ketiga atau pun saksi mata saat negosiasi. " Ucap pak Windu sambil mengisyaratkan pada anak buahnya untuk keluar dari persembunyian dan menghabisi teman-teman Fakha.