
Pukul 01:45. Mereka berhasil masuk kedalam ruang tersembunyi.
" Hmmmm... Sepertinya ini lorong yang panjang, apa tidak ada yang membawa penerang..? Ini gelap sekali, bagaimana kita bisa jalan...? " Ucap pak Wardi.
" Sepertinya disekitar sini ada sakelar lampu, mari kita cari sama-sama... " Kata Jagad.
Mereka pun mencari sakelar lampu, namun tak ada di mana pun.
" Dari apa yang gua amati, sakelar lampu ini ga di pasang di dinding seperti pada umumnya... " Duga Fakha.
" Lalu di mana..? " Tanya Raika.
" Itu ada di pintu masuk, saat pintu itu ditutup, maka lampu akan auto menyala.. " Jelas Fakha.
" Terus kenapa ga ditutup aja pintunya biar terang..? " Tanya Doe.
" Pintu itu semacam jebakan dasar, orang bisa saja masuk hanya dengan menekan tombol tanpa menggunakan sandi, tapi saat akan keluar, maka kita harus menggunakan sandi pada alat yang terletak di samping pintu. " Jelas Fakha.
" Kalo kita ga tau kata sandinya...? " Tanya Roso.
" Kita akan terkurung di ruangan ini sampai ada yang membuka pintu dari luar.. " Jawab Fakha.
" Wisssh... Ngeri kali lay.. Jangan lah sampai kita terperangkap kalau macam tu.. " Ucap Ucok.
" Jadi gimana ini..? Kalo lampu ga dihidupkan, maka akan kesulitan meskipun dah pake lampu senter. " Ucap Sabda.
" Kita harus cari tahu dulu kata sandinya... Tolong ya Aizhar, semoga lo ga lupa bawa alat pendeteksi sandi punya lo... " Perintah Fakha.
Aizhar segera mencari alat tersebut di ransel miliknya, " Okey... Gua bawa kok, ini dia... " Sambil menunjukan alat yang mirip dengan tester digital.
" Nanti alat ini akan mendeteksi tombol yang sering digunakan, lalu merangkainya menjadi beberapa buah kalimat yang nanti akan kita pilih sendiri mana yang benar. "
5 menit kemudian.
" Bagaimana, apa sudah ketemu kata sandinya..? " Tanya Fakha.
" Siiipp sudah siap, sekarang pintu sudah bisa ditutup. " Ucap Aizhar.
Pintu pun akhirnya ditutup oleh Roso dan Doe. Seketika suasana menjadi terang benderang. Dihadapan mereka tampak sebuah tangga menuju kebawah, setelah melalui tangga tersebut nampak sebuah lorong panjang. Rasa penasaran mereka semakin tinggi, kemana arah lorong ini, dan dimana berakhirnya lorong ini?
" Gua curiga, masa tempat rahasia begini ko ga ada jebakan..? " Ucap Sabda.
" Hay berhenti....!!! " Teriak Fakha pada Doe yang berjalan paling depan.
" Ada apa....? " Tanya Doe.
" Coba perhatikan, di depan kita ada lantai yang berbeda, ada lantai yang berdebu sangat banyak dan ada yang bersih. " Ucap Fakha.
" Hmmm... Betul juga kau anak muda, yang bersih itu seperti lantai yang sering dilewati, sedangkan yang kotor itu adalah lantai yang ga pernah dilewati.. Benar kan ? " Ucap pak Wardi sambil berjalan melalui itu.
Langkah pertama aman, sampai pada langkah ke lima, tiba tiba ubin terbuka lebar dan menelan pak Wardi.
" Aaaahhhhhkkkk.....!!!! " Teriak pak Wardi.
" Pak Wardi.....!!!! " Ucap anak anak serempak.
" Macam mana ini lay..? Pak wardi sudah dimakan lantai..! " Kata Ucok.
" Tenang, kita harus berpikir jernih, atau kita semua akan celaka.. " Kata Jagad.
" Terus gimana nasib pak Wardi..? " Tanya Roso.
" Tapi masalahnya adalah, kenapa lantai yang terlihat bersih malah mengandung jebakan..? Seharusnya lantai yang bersih itulah yang sering dilewati. " Sabda berpikir keras.
Fakha memeriksa dinding sekitar tempat itu. Ternyata ia menemukan sesuatu yang janggal.
" Coba perhatikan dinding ini... Kenapa hanya keramik di dinding ini yang memiliki angka 1-8, namun letak mereka tak beraturan. Ini bukan sekedar keramik biasa, ini adalah puzzle, karena keramik ini semestinya punya angka 9, tapi ini kosong, jadi kita harus menggeser angka-angka ini pada posisi yang tepat. " Jelas Fakha.
Akhirnya Jagad menyelesaikan puzzle tersebut dengan cepat, setelah angka tersusun dengan semestinya, tiba-tiba muncul angka 9 yang menonjol keluar, lalu Jagad menekan angka itu agar sejajar dengan angka lainya. Setelah angka-angka itu lengkap dan sejajar, tiba tiba 20 baris keramik yang melingkar dari lantai sampai ke langit-langit berputar mencari posisi yang tepat.
" Bruuugghh... !! " .
Perputaran itu pun berhenti, beberapa keramik dilantai nya tiba tiba mengeluarkan cahaya merah membentuk jalan setapak. Yang berliku-liku.
" Oke sepertinya cahaya ini menuntun kita ke tempat pijakan yang benar. " Ucap Fakha.
" Fuhh...!! Hampir saja kita ditelan lantai.. " Ucap Raika melongo mengingat kejadian yang menelan pak Wardi tersebut.
" Ya... Gua pikir tadinya kita akan lewat dinding saja mengunakan alat yang bisa menempel di dinding, tapi ternyata jebakan itu melingkar sampai ke langit-langit, jadi itu semua akan sia sia. " Ucap Fakha.
" Okeyyy.. Ayo kita lanjut.. " Ucap Doe.
Mereka pun melanjutkan perjalanan satu persatu melewati keramik berwarna merah, di ujung jebakan dinding, mereka mendapati keramik yang menonjol berwarna biru. bila mereka menekan keramik tersebut maka akan mengacak kembali keadaan keramik, dan menghilangkan jejak yang telah dilalui, kemudian keluarlah debu dari dasar keramik yang membuat seakan akan tak pernah tersentuh, beberapa keramik lainya tak terkena debu dan membuat jejak seakan sering dilewati.
" Doe... Tolong tekan keramik yang menonjol itu.. " Ucap Jagad.
" Tapi nanti keadaanya akan kembali seperti awal tadi.. kita ga tau mana yang bisa si injak. " Ucap Doe.
" Iya gua paham, tapi kalo ga di tekan kita ga akan bisa lewat jalan didepan kita.. " Jawab Fakha sambil menunjuk jalan di depannya yang berlubang besar dan di dalamnya terdapat ribuan ular berbisa.
Doe pun menekan tombol itu, dan benar saja lubang yang ada akhirnya tertutup dengan lantai yang bergeser dari kanan dan kiri. Namun di belakang mereka keramik yang baru dilalui tiba-tiba mengacak kembali dan menghilangkan jejak yang bisa dilalui, kemudian keluarlah debu dari dasar keramik yang membuat seakan akan tak pernah tersentuh, beberapa keramik lainya tak terkena debu dan membuat jejak seakan sering dilewati.
" Waw.... Begitu rupanya cara kerjanya.. Briliant sekali.." Ucap Fakha.
" Pantas saja pak Wardi terkecoh.. " Ucap Doe.
Akhirnya mereka melewati tempat itu. Setelah itu mereka berjalan sambil mengamati dinding, lantai dan langit langit untuk mengantisipasi adanya jebakan lain.
Setelah sedikit jauh mereka berjalan, mereka tak menemui jebakan lain melainkan mereka dihadang oleh seseorang berbadan besar, mengenakan pakaian serba hitam, menggunakan masker dan kacamata hitam.
" Hey bukankah dia salah seorang anak buah Hunter..? " Tanya Sabda kepada Fakha sambil berbisik.
" Aku tak tahu pasti, tapi dari seragam yang aku perhatikan, miliknya sedikit berbeda dengan kelompok Hunter yang pernah kita temui.. Tulisan S A pada seragamnya ini berbeda dengan mereka, dan gua curiga kenapa ada tulisan Assistant 1 di dada sebelah kirinya, sedangkan seragam mereka bertuliskan Soldier di dada sebelah kiri mereka..." Jawab Fakha sambil berbisik.
" Aku tahu apa yang kalian bicarakan, jadi tak perlu kalian berbisik.. " Ucap penghadang.
" Apaaaaa...!!! " Ucap Jagad terkejut.
" Aku adalah assistant tuan Hunter, jadi wajar bila seragam ini berbeda dengan bawahan ku.. " Ucap penghadang yang mengaku assistant Hunter.
" Kalau begitu cepat beritahu kami dimana Hunter berada...!!!? " Ucap Fakha.
" Atau kau hanya berpura pura untuk menggertak kami...!! " Ucap Doe.
" Huaha ha ha ha....!!! Lebih baik kalian pulang saja... " Ucap assistant.
Roso diam diam bergerak menyelinap ke arah belakang assistant 1 tanpa mereka sadari, Fakha sengaja membuat pengalihan perhatian agar Roso dapat menyelinap.
Roso pun mulai mendekati dan siap menikam lawan dengan jarum suntik bius.
Namun tiba-tiba......