
Keadaan semakin kacau, pak Santoso pun mulai berlari menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat ada seorang anggota kelompok Hunter menghalangi langkahnya, Ia menodongkan pistol ke arah pak Santoso, lalu kemudian Ia menarik pelatuk pistol dan membidik tepat ke arah kepala pak Santoso.
"Dooooorrrrrr.....!!! " Suara ledakan pistol.
"Gabruuugh..!" Terdengar suara tubuh terjatuh.
"Ayo tuan lewat sini...!!! " Suara pak Windu mengajak tuanya.
"Terimakasih pak Windu, nyaris saja aku tertembak.. " Ucap pak Santoso dengan wajah tegang.
"Tidak masalah tuan, sudah menjadi kewajiban saya untuk melayani tuan. Silahkan berlindung di dalam tuan, biar saya yang urus ini..!!
Tembak menembak pun terjadi antara kedua belah pihak, rumah pak Santoso pun berubah menjadi medan pertempuran.
" Fakha!!!! Kenapa kamu bisa ada disini? Bukanya kamu sekolah? Baru saja tadi pagi Ayah suruh pak Windu antar kamu ke sekolah, Di sana kan wajib nginep di asrama sekolah!? Dan cuma boleh libur sebulan sekali. " Tanya pak Santoso kepada Fakha.
"Iya yah...!! Lha bukanya tadi ayah yang telpon duluan ya..??? " Jawab Fakha yang berbalik tanya.
" Oohh... berarti tadi ayah ga sengaja nelpon kamu....!" Jawab pak Santoso.
"Sudahlah yah, ga penting itu sekarang ini, sepertinya pak Windu bakal kewalahan menghadapi semua pasukan sendiri..!! " Tegas Fakha.
"Tenang saja, pak Windu adalah seorang veteran Marinir terbaik dimasanya, kamu itu yang ngapain kesini!? Kamu kan masih SD..!! " Jawab pak Santoso sambil memilih senjata.
Pukul 15:00.
Suara tembakan dan desingan peluru pun terdengar di sana sini. Satu persatu pasukan Hunter mulai tumbang oleh pak Windu. Namun bukanya semakin berkurang, pasukan Hunter justru semakin bertambah.
Pada saat yang sama, sekolah Fakha mulai mencari tahu keberadaan Fakha, Sabda dan Jagad.
" Wuuuunnggg....!!! Wuuuiiiinnngg....!!! "
Terdengar suara sirine di Sekolah Harapan Nyala (SHN).
"Wah... Tumben kita pulang cepet...?? Biasanya pulang jam 5 sore...!!? " Tanya Doe teman sekelas Fakha.
"Aaahhh... Bilang aja lu seneng kan, bisa pulang cepet..!? " Ucap Raika yang duduk disebelah Doe.
"Laaahhh... Pulang cepet juga ngapain...?? Kita kan tinggal di asrama. Ketat banget lagi.. Jadi tetep aja ga bisa keluar area sekolah.. Kecuali sehabis liburan akhir bulan, seperti hari ini, hampir semua orang tua datang mengantarkan anak-anak mereka. "Ucap Roso berlogat ngapak, sembari memasukan buku dan alat tulis lainya kedalam ransel.
"Betul zuga kau Roso.. ! makanan, minuman paket data, pulsa, ATM, toserba, perbankan, pakaian ATK dan banyak lainya lay.. Semua lengkap disini... Jadi ga ada alasan kita bisa keluar dari gerbang utama... " Ucap Ucok berlogat batak dengan ekspresi pasrah.
"Perhatian, kepada seluruh siswa tingkat Dasar SHN, untuk berkumpul di lapangan upacara, sekali lagi, Perhatian, kepada seluruh siswa Tingkat Dasar SHN, untuk berkumpul di lapangan upacara. Sekian terimakasih. " Nyaring suara pengumuman yang terdengar di setiap kelas Tingkat Dasar.
"Ayoo teman-teman, kita kumpul sekarang, daripada nanti kena hukum semua.. ! " Ucap Aizhar.
"Huuuuuhh..!! Ini pasti karena ulah mereka bertiga..!! " Ucap Raika sembari bergegas menuju ke lapangan upacara.
Pukul 15:30.
Rumah pak Santoso sangat terpencil, jauh dari pemukiman warga, sehingga apa yang terjadi di dalamnya, tak seorangpun yang mengetahuinya.
"Duaarr...!!! Deerrr..!! Doooorrr..!! Trrroooootototototot....!!!" Suara tembakan dan desingan peluru yang saling bersimpangan di udara.
"Tuan.. Sepertinya kita harus segera pergi dari tempat ini.. Karena jumlah mereka semakin banyak. Aku tidak tahu darimana datangnya pasukan sebanyak itu. " Ucap pak Windu kepada pak Santoso
"Saya sih mau aja, kita kabur dari pintu rahasia. Tapi saya masih khawatir terhadap istri. Bagaimana keadaannya saat ini. " Ucap pak Santoso penuh kekhawatiran.
"Hei Fakha..!! Sepertine diluar terdengar suara helikopter, gue akan memeriksanya di bagian rooftop..!! " Teriak Sabda sembari berusaha naik.
"Okey... Hati-hati!! " Jawab Fakha.
"Lah.. Gua gimana, dari tadi ga ngapa-ngapain.? " Tanya Jagad menunggu aba-aba.
"Sabar, waktunya belum tepat. " Jawab Fakha.
"Fakha..!? Siapa yang kau ajak bicara..?? apa mereka juga terlibat dalam peperangan ini..??Jangan-jangan, mereka adalah teman sekolahmu?" Tanya pak Santoso yang belum tahu keberadaan Sabda dan Jagad.
Fakha pun hanya bisa terdiam.
"Fakha...!!! Ini bukan taman bermain, kenapa kamu ajak temen kamu tanpa seizin ayah? Apa yang sudah ayah bilang tentang tempat ini...!!?? " Teriak Pak Santoso.
"Ayah.. Sekarang bukan saat yang tepat untuk kita berdebat. Saat ini posisi kita mulai terdesak. Sebaiknya ayah keluar terlebih dahulu lewat jalan rahasia, biar nanti aku dan pak Windu yang cari bunda..." Gagas Fakha.
"Fakha... Di atas sini ono loro helicopter dalam keadaan kosong. Koyone mereka semua sudah turun termasuk pilote. Gue sudah memasang alat peledak pada helicopter mereka, sekarang kepiye..?? " Tanya Sabda.
"Bagus Sabda.... Sekarang lo turun lewat tangga darurat, jangan sampai ketahuan mereka. Terus, lo tunggu kita di jalan kita masuk tadi, okay..!!? " Perintah Fakha.
"Oke..!!" Jawab Sabda.
Pukul 15:45
Suasana semakin menegangkan di rumah pak Santoso. Musuh mengepung di setiap penjuru rumah. Desingan peluru dan suara tembak menembak pun tak dapat dihindari.
Pada waktu yang sama di SHN.
"Baiklah, para siswa siswi, dewan guru dan staff di Tingkat Dasar SHN, saya selaku kepala sekolah Tingkat Dasar menyampaikan bahwa, kita kedatangan tamu istimewa hari ini, tamu kita ini akan mengajarkan kita simulasi kebakaran yang terjadi pada bangunan, fasilitas umum dan rumah. Baiklah, tanpa berlama-lama, saya persilahkan, regu Damkar wilayah kita, untuk memasuki tempat yang telah disediakan.
"Wiiew..!! Wiiew..!! Wiiew..!! "
Suara sirine yang keluar dari kendaraan Damkar. Mereka masuk melewati gerbang sekolah menuju lapangan. Suara riuh sorak sorai pun terdengar dari anak-anak yang menyukai Damkar.
"Anak-anak....!! Harap tenang dan berada di tempatnya masing...!! " Perintah Kepala Sekolah yang berusaha menenangkan situasi.
Sementara di Rumah pak Santoso.
Kelompok Hunter mencurigai gerak-gerik pak Santoso yang akan melarikan diri. Tak lama kemudian.
"Hay...!! Pak Santoso, mau kemana? Sepertinya Anda tidak akan meninggalkan tempat ini tanpa dia..!!! " Terdengar suara ancaman dari seseorang yang tidak asing lagi.
"TOYO...!!!! " Teriak pak Windu terkejut.
"Bundaaaaa...!! " Teriak Fakha yang melihat bundanya menjadi tawanan mereka.
" Tidak mungkin..!! Bagaimana kau bisa bangkit lagi..?? Aku melihat dengan jelas kau terkena jarum beracun. " Ucap pak Santoso terheran-heran melihat sesuatu yang tidak mungkin baginya.
" Sudah kukatakan bukan..? Cepat tandatangani kontrak tersebut, maka kau dan keluargamu akan selamat. " Tegas Toyo.
"Aku beri tahu kau sesuatu wahai Santoso.. Racun binatang jenis apa pun, tak akan berpengaruh terhadap darahku ini.. Haaa haa haa haaahahahaha....!!!! " Ucap Toyo yang tertawa sombong.
"SUDAH... CUKUP..!!! Bebaskan Istriku, kau sudah bertindak seperti pengecut..!! " Teriak pak Santoso frustasi.
"Baiklah... Akan ku bebaskan merpati peliharaan mu ini.. Tapi sekali lagi aku jelaskan padamu.. Jangan kau bertindak bodoh lagi.. Cepat tanda tangani ini semua.. Atau... Dia tidak akan selamat.. " Ancam Toyo.
"Pertama, perintahkan bawahan mu itu untuk membuang senjatanya, kau dan juga anakmu yang masih belepotan ingus itu juga.. Setelah itu, come to papa... Ha ha hahahahahahahaha....!!!!!!" Perintah Toyo.
Semua orang terdiam, keadaan kembali sunyi. Tembak menembak pun terhenti, seketika itu pak Santoso mengisyaratkan kepada pak Windu dan anaknya untuk membuang senjata mereka, sementara pak Santoso meletakan senjata miliknya di lantai secara Perlahan. Dengan berat pak Santoso melangkah menuju Istrinya yang berada di lantai bawah. Selangkah demi selangkah pak Santoso menuruni anak tangga.
Sangat jelas terlihat pada raut wajah pak Santoso yang kebingungan antara mau melakukan atau tidak. Namun tekadnya sudah menjadi bulat karena Istrinya yang terancam nyawanya. Mau tidak mau pak Santoso harus menandatangani kontrak tersebut. Itu yang terlintas di pikirannya yang sedang kacau saat ini.
" Cepat lepaskan dia...!!! " Pinta pak Santoso yang sudah berada tepat dihadapan Toyo.
" Itu mudah saja Santoso, tapi aku mau melihatmu menandatangani kontrak terlebih dahulu, tepat di depan mataku.. " Tegas Toyo sembari menyodorkan map.
Keadaan berjalan sesuai rencana, pak Santoso menandatangani semua kontrak tersebut dengan berat hati.
"Baiklah Toyo, aku sudah menuruti semua keinginan busuk mu ini. Sekarang bebaskan Istriku dan pergilah dari sini." Pinta pak Santoso.
"Aku tidak perduli dengan peliharaan mu dan semua tentang mu...
Lepaskan dia..!! " Perintah Toyo kepada bawahannya sembari mengambil map dari tangan pak Santoso.
Tak di sangka setelah pak Santoso pergi untuk menaiki anak tangga, tiba-tiba Toyo mengarahkan pistol miliknya tepat ke arah pak Santoso.
Istri pak Santoso menyadari akan hal itu.
"Doooorrrr....!!!! "
Seketika tembakan melesat ke arah pak Santoso. Istrinya sedang berusaha memberi peringatan kepada pak Santoso.
Namun semua sudah terlambat, sehingga yang dia lakukan adalah menahan tembakan dengan tubuhnya.
Pak Santoso yang terkejut akan hal itu berbalik melihat apa yang terjadi.
Tubuh sang Istri tak kuat menahan peluru yang menembus jantungnya, seketika tersungkur jatuh bersimbah darah.
"BUUUNNNNDDDDAAAAA..... !!! " Teriak Fakha sambil mengambil pistol milik ayahnya.
Pak Santoso memeluk erat tubuh sang istri sambil menangis. Sementara pasukan kelompok Hunter mulai mengepung tempat tersebut. Fakha hanya bisa mematung, menitikkan air mata. Dia tak tahu harus apa.
Toyo yang menyaksikan hal ini, tersenyum penuh kemenangan. Ia mendekat ke arah pak Santoso sambil memainkan dan memutar-mutar pistol miliknya.
"Hmmmm... Seandainya saja dari awal kau menuruti keinginan ku, maka tak perlu terjadi seperti ini. Sekarang giliran mu untuk menerima takdir kematian mu di tangan ku. " Ucap Toyo tersenyum sinis.
Toyo pun mengarahkan pistol tepat di kepala pak Santoso. Menarik pelatuk perlahan.
"HENTIKAAAAANNNNN....!!!!! " Teriak Fakha.