
" Fakha maaf, gua ga bisa bantu... " Tutur Aizhar.
" Kita semua cuma jadi beban lu.. " Ucap Roso.
Mereka semua hanya bisa menyaksikan Fakha dari jarak 3 meter dan dijaga oleh bawahan pak Kamso.
" Ini semua memang di luar rencana, jadi jangan salahkan diri sendiri... Gua akan berusaha semaksimal mungkin.. " Tegas Fakha.
Pak Kamso duduk bersandar di kursi nya, kakinya ia letakan lurus di atas meja, tangannya memainkan sebuah pena yang ia putar dari jari ke jari dengan terampil. Matanya menatap ke arah 2 orang yang siap bertarung.
Fakha memulai dengan berjalan mengitari musuh untuk mencari tahu titik lemah lawannya, sementara sang lawan terlihat melakukan pemanasan.
Saat lawan terlihat lengah, Fakha mengeluarkan biji kelereng dari sakunya, namun biji itu tak Ia gunakan untuk menyerang lawan dihadapannya melainkan menyerang pak Kamso yang sedang duduk santai.
Biji-biji itu terbang di udara di ikuti Fakha yang berlari ke arah pak Kamso untuk menyerang.
Namun sayangnya serangan itu dengan mudah di tepis oleh pak Kamso menggunakan payung yang berada di laci meja miliknya.
Fakha yang sedang berlari tertahan tangan yang memegang pundaknya dengan sangat kuat. Fakha pun menepis lengan tersebut dengan lengan kanannya sambil berputar dan mengarahkan tendangan ke arah kepala lawannya, namun dengan mudah serangan Fakha dihindari, sebaliknya lawan mengarahkan tendangannya tepat ke arah perut Fakha hingga membuat Fakha terjatuh.
"Bugghh..!! "
" Aaahhhh....!!! " Teriak kekecewaan Fakha.
" Apa kau berpikir, kau bisa menyerang ku dengan biji besi yang kau beri muatan elektrik kejut ringan pelumpuh saraf sementara itu ya? " Ucap pak Kamso.
" Dia benar-benar sulit untuk di taklukkan " Gumam Fakha sambil berdiri.
Fakha akhirnya berpikir untuk mengalahkan lawan di hadapannya terlebih dahulu.
" Hay.. Siapa kau sebenarnya..? Tunjukkan wajahmu padaku... " Tanya Fakha kepada lawannya.
" Kau tak perlu tahu siapa aku..." Dengan suara yang disamarkan.
"Baiklah... Aku akan membuka penutup wajah itu dengan tanganku sendiri... " Ucap Fakha.
" Tak akan semudah itu kan..? " Tantang lawannya.
Fakha mendekat perlahan, mencari titik lemah terbuka lawannya.
Sementara Sabda memikirkan bagaimana cara meloloskan diri.
" Aizhar... Gua rasa anak yang menghadapi Fakha itu bukan anak sembarangan, Fakha butuh bantuan kita... " Ucap Sabda kepada Aizar berbisik.
" Iya... Tapi gimana ini, kita aja ga bisa ngapa-ngapain..? " Tanya Aizhar.
"Gua pinjem jarum pentol punya lu... Ada ga..? " Tanya Sabda.
" Ada nih banyak, mau buat apa...? "
" Brruuuuuaagghhht....!!!!! " Suara tubuh yang terjatuh akibat bantingan.
" Siaaalll... Kenapa gua ga bisa ngalahin dia...!! " Gumam Fakha yang sudah berkali kali menyerang namun tak bisa mengalahkannya.
" Apa kau menyerah...? " Tanya lawannya.
" Bagaimana aku bisa menyerah kalau belum kita coba lagi... " Ucap Fakha sambil berusaha berdiri.
Namun, berapa kali mencoba pun hasilnya sama saja, Fakha terjatuh lagi dan lagi. Tidak ada satu serangan pun yang dapat mengenai lawan.
" Sudahlah, menyerah saja. .. " Ucap pak Kamso.
Fakha sudah benar-benar terdesak dan tidak tahu lagi apa yang harus Ia lakukan.
Tiba tiba lampu padam.
" Au... !!!"
"Gubrak...!!! "
" Ikat kesini...!! "
" Hayy... Kenapa gua lo ikat juga..!!! "
" Maaf ga liat...!! "
" Gua berhasil ikat target.. "
" Bagus.... "
" Aduh...!! Siapa yang tonjok mata gua..? "
" Kaki...!! Kakiiii...!! Jangan maen injek aja geh... "
" Maaf ga sengaja ... "
Suara gaduh yang terjadi saat lampu padam.
" Oke sekarang nyalain lampunya lagi... "
" Klickk... " Terlihat Aizhar dan Raika menyalakan Lampu dengan perangkat lunak. Terlihat pula gelang yang terpasang pada kaki mereka terlepas.
Anak buah pak Kamso terikat kuat dengan posisi duduk di lantai. Begitupula dengan lawan Fakha.
Roso juga terikat di lantai.
" Wis lah... Ga bener iki... " Gerutu Roso.
" Hey... Kemana perginya pak Kamso...? " Tanya Ucok.
" Jdoooor jdaaarr jdweerrr...!!! " Kertas kecil berhamburan dari arah konventi yang terletak di sudut ruangan..
" Selamat... Kalian lulus Ujian... " Ucap pak Kamso yang keluar dari bawah meja.
" Huaaahh.... Sebenarnya saya masih ingin bermain-main dengan kalian, tapi waktu kita sudah habis. " Lanjut pak Kamso.
" Apa maksud semua ini..? " Tanya Sabda.
" Hmmmm... Bagaimana ya.. Cara menjelaskan nya..? " Pak Kamso berfikir.
" Jangan bercanda... !! " Ucap Fakha.
" Apa kalian ga penasaran, siapa wajah di balik penutup wajah itu...? " Ucap Pak Kamso sambil menunjuk ke arah dua anak buahnya yang di ikat di tempat yang sama.
Sabda pun membuka penutup wajah.
" Gaaa mungkiiiiinnn...!!! " Teriak Aizhar sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
" Macam mana pula bah.....!!!! " Ucap Ucok.
" Ladalah.... !!! " Ucap Roso.
" Jagad....? Siapa kau sebenarnya? " Tanya Sabda.
" Dia adalah salah satu anggota terbaik kami... " Ujar pak Kamso.
" Tahan sebentar, jangan bergerak...!! " Ucap Fakha yang masih curiga kepada pak Kamso.
" Astaga....!!! " Ucap Doe yang membuka penutup wajah milik anak buah pak Kamso.
" Pak Wardi..? Ada apa ini sebenarnya...!? " Tanya Raika.
" Ini benar-benar membingungkan, kenapa ada dua pak Wardi dan ada dua Jagad...? " Tanya Aizhar.
" Hahahahahaha.... Jawabannya sederhana.. Yang ada di jeruji besi itu bukan pak Wardi dan Jagad yang asli, melainkan boneka yang menyerupai mereka. " Jawab pak Kamso.
Sabda pun segera memeriksa keadaan di dalam penjara yang tak terkunci. Benar saja Ia mendapati boneka yang sangat mirip dengan Jagad tergeletak bersimbah darah. Dan boneka yang mirip dengan pak Wardi yang sedang duduk terikat di lantai.
" Aku adalah salah satu tim penguji kelayakan calon anggota baru pelajar Secret Academy, tugasku adalah mengamati dan menguji calon anggota S A, setelah penguji menyatakan layak, maka calon siswa akan kami tanyakan, apakah mereka bersedia menjadi salah satu dari kami atau tidak. Jika mereka setuju, maka mereka wajib mengisi formulir yang sudah kami sediakan, namun jika mereka tidak bersedia bergabung, maka akan kami biarkan pergi. " Tutur pak Kamso.
" Agen rahasia... Wwaaahhhh... Keren... " Ucap Roso yang masih terikat.
Tiba-tiba tanpa mereka sadari, pak Wardi dan Jagad sudah melepaskan ikatannya, lalu Jagad melepaskan ikatan Roso.
" Mereka berdua adalah tim yang saya pilih untuk mengamati kalian, awalnya kami hanya memperhatikan Fakha dan Sabda. Saya tidak menyangka bila ada lebih dari mereka yang berpotensi dalam keagenan kami. Jadi kami tunggu Jawaban kalian dalam 3 hari. " Ucap pak Kamso yang kembali duduk di kursinya.
Tiba-tiba lantai bergerak ke atas.
" Grrrruuuukkk.... " Suara pergerakan lantai.
Pergerakan lantai itu menuju ke atas tepat di ruang kepala sekolah.
" Drrrrrrttttt.... Ceklek..!!! " Suara pergerakan itu berhenti.
" Wawwww semakin keren..!!! Ini ruang kepala sekolah... " Ucap Roso terkagum-kagum.
Seketika ruangan olah raga itu berubah jadi ruang kepala sekolah namun ukurannya lebih kecil dari ruangan sebelumnya.
mereka pun duduk di sebuah sofa besar yang berada tepat di hadapan meja pak Kamso. Sementara Jagad dan pak Wardi duduk di sofa yang berbeda di belakang meja pak Kamso.
" Kami sudah lama membangun sekolah ini, dengan tujuan mencari bakat terpendam. Namun sampai saat ini, baru kalian yang tampak berpotensi. Di sekolah ini banyak guru dari tingkat dasar sampai tingkat atas yang berasal dari S A. Mereka adalah penguji yang sama sepertiku, ruang rahasia ini juga di bangun di beberapa tempat di sekolah ini bersamaan dengan pembangunan sekolah ini. Tapi sejauh ini, baru kalian yang dapat memecahkan teka-teki ruang ini. " Tutur pak Kamso.
Aizhar mengangkat tangan.
" Jadi apakah selama ini bapak sengaja lewat jalan rahasia tepat di depan kami agar kami mengikuti..?" Tanya Aizhar.
" Tepat sekali, saya yakin kalian juga menyadari tentang mobil Damkar yang aneh itu kan Aizhar..? Juga waktu saya berkomunikasi dengan SA di ruangan kepsek kan Doe..?" Pak Kamso balik bertanya.
" Oh tidak... Jadi itu semua adalah clue selama ini..? " Ucap Aizhar.
" Saya mendengar bapak berbicara dengan SA, Jadi saya curiga kalo pak Kamso terlibat, tapi saat itu saya dengar pak Kamso hanya klien, bukan anggota." Ucap Doe.
" Yuuuppss... kalian benar semua, Awalnya kami tertarik dengan kemampuan yang dimiliki Sabda dan Fakha yang berbeda dari teman sebayanya. kami sudah mengamati mereka dari awal mereka masuk sekolah ini. Namun kami kesulitan untuk dapat merekrut mereka, sehingga kami coba memasukkan Jagad untuk me mata-matai mereka dari dekat, karena mereka selalu menyabotase kamera CCTV dan bolos tanpa ada yang tahu. Dan ternyata kejutannya tak hanya sampai di situ, saya baru menyadari, ternyata kalian juga memiliki kemampuan yang seimbang dengan mereka, sehingga saya memberi kan clue pada kalian, meskipun kemampuan itu berbeda, tapi kalian bisa saling melengkapi dalam bekerja sama. salah satu dari kalian ada yang mahir meretas system keamanan, mengerti bahan obat juga penggunaanya, ada yang..... " Tutur pak Kamso yang seketika terdiam saat berbalik badan menghadap mereka.
" Pak.. sepertinya mereka tertidur saat mendengar penjelasan bapak.. " Ucap pak Wardi kepada pak Kamso.
" Wahh... Dasar anak-anak... Padahal aku belum selesai bicara...Mereka pasti kelelahan. Padahal penjelasanya masih panjang. Pak Wardi tolong bawa mereka kembali ke asrama mereka tanpa sepengetahuan orang lain, jangan lupa beri obat untuk menyembuhkan luka-luka mereka dan juga beri mereka Formulir pendaftaran kita. " Perintah pak Kamso.
" Baik pak, Laksanakan... " Ucap pak Wardi.
" Apa kau tahu tentang Hunter...?? " Tanya Fakha yang belum tertidur.
" Oh... kau belum tidur rupanya ? Lihat, Jagad saja tertidur sehabis menghadapi mu. " Ledek pak Kamso.
" Saya masih sulit tidur sebelum tahu siapa pelaku pembunuhan Ayahku yang sebenarnya " Ucap Fakha.
Pak Kamso pun menyadari keseriusan Fakha saat ini, lalu ia menutup semua jendela dan semua pintu juga hordeng agar tidak ada yang mendengar.
Pukul 05:00 dini hari.
" Baiklah, jika kamu benar benar ingin tahu yang sebenarnya... Namun kau harus berjanji untuk menjaga sebuah rahasia...." Ucap Pak Kamso
" Baiklah apa pun itu, yang penting saya dapat mengungkap kasus ini" Ucap Fakha.
" Dengar... Ini adalah sesuatu yang sangat rahasia.. " ucap Pak Kamso kembali ke kursinya.