
" Dooor... Doorr...!! " Suara tembakan mengenai tubuh Jagad dan sabda, mereka jatuh tersungkur di atas lantai kayu rumah panggung tersebut, darah mengalir dari celah tubuh mereka.
Fakha hanya bisa terdiam, ingin rasanya ia berteriak, namun mulutnya seperti terkunci dan tubuhnya mematung tak bergerak.
" Hey.. Windu... Sepertinya dia sudah mulai masuk tahap satu... " Ucap Toyo melalui Gawai.
" Iya, ini seperti saat menghadapi mu saat itu, tapi pada saat itu, dia masih dengan kesadarannya, sepertinya yang ini akan lebih sulit di taklukkan... " Pak Windu membalas Toyo.
" Hay.. Windu.. Kau harus berhati-hati, jangan sampai kau menghilangkan nyawa anak itu, Tuan Hunter menginginkan paketnya dalam keadaan bernafas. " Toyo memberi peringatan.
" Huh... Sebaiknya kamu diem dan nonton aja... " Pak Windu kesal.
Pak Windu memerintahkan dua anak buahnya untuk memeriksa jasad yang tergeletak dilantai, ia ingin memastikan bahwa keduanya sudah benar-benar mati, sedangkan ia mencoba menggendong Fakha yang mematung. Anak buahnya membalikan tubuh mereka dengan kakinya, saat mereka membalikkan kedua tubuh itu, mereka tercengang melihat ada lubang besar dibalik tubuh mereka, dan tubuh yang mereka gulingkan ternyata hanyalah manequin yang sudah dipasang bom.
" Hufh.. Lagi-lagi tipuan murahan, Cepat buang manequin itu agar tidak membuat masalah di ruang ini " Perintah Pak Windu pada anak buahnya.
Belum sempat anak buah Pak Windu mengerjakan perintah, tiba-tiba hitungan pada manequin itu berhenti, namun tidak terjadi apa-apa, anak buah Pak Windu tak berani mendekati manequin itu, tiba-tiba keluar asap dari dalam manequin tersebut.
" Semuanya keluar ! Ini asap tidur, jangan hirup asap ini ! " Perintah Pak Windu.
Mereka pun keluar ruangan dan Pak Windu membawa Fakha yang sedang dalam keadaan diam karena bingung, sesampainya di luar mereka langsung berlari menuju kendaraan Toyo, namun betapa terkejutnya pak Windu karena mendapati Toyo sedang dalam keadaan terikat.
Berdirilah Jagad dan Sabda tepat di belakang pak Windu, mengancam dengan belati dan pistol " Lepaskan dia ! " Ucap Jagad pada pak Windu.
Pak Windu hanya tersenyum tenang " Sudahlah, berhenti bermain anak-anak, belum waktunya kalian terlibat dalam hal seperti ini. "
Namun mereka tetap memaksa pak Windu untuk berlutut, den mengikat tangan pak Windu. Sementara anak buah pak Windu hanya bisa terdiam menyaksikan. Fakha masih dalam keadaan mematung dan terlihat tak biasa, ia benar benar diam tak berkedip, terlihat di sekitar bola mata Fakha menghitam. Aizhar mulai khawatir dengan keadaan Fakha dan berusaha untuk membuatnya sadar kembali, ia memanggil nama Fakha sambil mengguncang tubuhnya, namun tidak terjadi apa-apa, sementara Sabda dan jagad berniat membawa Pak Windu ke SA, namun mereka sangat terkejut karena yang di dapati bukanlah Pak Windu melainkan anak buahnya, mereka bertanya-tanya bagaimana itu bisa terjadi?
" Apa kalian pikir hanya kalian saja yang bisa melakukan trik sulap seperti itu huh....!! " Ucap pak Windu dari arah belakang mereka.
Jagad pun reflek seketika menghantam Pak Windu dengan pukulan ke arah perut. Namun pukulan itu dapat dihindari dengan mudah.
Pak Windu mulai menghampiri mereka membawa belati yang tadi mereka gunakan untuk mengancamnya, " Siapa yang akan pergi ke alam Barzah terlebih dahulu" Wajah Pak Windu penuh dengan senyum penyiksaan. Ia mendekat ke arah Jagad, namun kaki Pak Windu tersandung sesuatu hingga hampir terjatuh. " Hay gadis ingusan, kenapa kamu halangin santapan ku "
Pak Windu yang awalnya berniat menghunuskan belati ke arah Jagad, kini berubah pikiran, Ia menyerang Aizhar.
Saat belati Pak Windu mulai mendekati Aizhar, " Tok... ! Auuuu....! " Pak Windu melepaskan belati begitu saja dan mengerang kesakitan. " Siapa yang lempar biji kelereng ini!! " Pak Windu mencari tahu siapa pelakunya.
" Bang Windu, kelereng itu berasal dari anak yang berhasil membuka Fury soul tahap 2, kita harus berhati-hati ! " Toyo mendekat ke arah Pak Windu dengan posisi siaga untuk saling membantu dalam pertarungan.
Sabda, Jagad dan Aizhar yang masih belum siap untuk bertarung hanya bisa menyaksikan apa yang terjadi, Anak buah Pak Windu tumbang satu persatu dengan mudah.
Sekilas Fakha tampak biasa, namun pertumbuhan rambutnya menjadi sedikit cepat, tak hanya itu, akurasi lemparan pisaunya semakin akurat, kemampuan berkelahinya meningkat.
" Ghoooyyyyaa!! Akhirnya aku menemukan senjata mematikan yang selama ini jadi misteri, ayo maju sini.... " Pak Windu merasa sangat bahagia menyaksikan perubahan Fakha, meskipun sebenarnya ia tahu kalau ia tak mampu untuk menghadapi Fakha dalam mode Fury Soul.
Tak butuh waktu lama bagi Fakha menumbangkan Pak Windu dan Toyo beserta Anak Buahnya.
" Sudah cukup Fakha!! Mereka berdua jangan lo bunuh, karena mereka bakal jadi saksi untuk mencari tau siapa dalang dibalik semua ini. " Jagad memohon kepada Fakha agar hanya menawan mereka berdua. Namun sepertinya Fakha hilang kendali, dan sudah tak lagi perduli apa yang ada disekitarnya.
Rambutnya mulai terlihat sedikit gondrong dan kukunya semakin panjang, Aizhar yang menyaksikan ini hanya bisa menangis tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
Fakha mulai menyerang Pak Windu yang sudah tak berdaya dan berniat akan menghabisinya, namun Sabda dan Jagad menghalangi laju Fakha, " Sudah cukup Fakha, sadarlah gua Sabda sahabat lo, apa gua juga mau lo bunuh?! " Sabda berusaha menyadarkan Fakha. Namun bukanya sadar Fakha semakin menjadi-jadi, Ia menghantam kedua sahabatnya tanpa rasa bersalah.
" Ha ha ha ha....! Ga akan berhasil seberapa pun kalian membujuknya, dia sudah kerasukan iblis terkuat, begitulah istilahnya, ha ha ha ha...! " Toyo terlihat sangat gembira meskipun tubuhnya sudah tak mampu untuk berdiri lagi.
" Fakhaaaaaaa.... Hentiiikkkaaaaannnn.....!! " Teriak Aizar yang menyaksikan Fakha akan menghabisi kedua sahabatnya, Aizhar menangis sejadi-jadinya, Ia sungguh tak mampu berbuat apa-apa dan hanya memejamkan mata, Ia tak mau menyaksikan sahabatnya terbunuh oleh sahabat lainya.
Keadaan sunyi seketika, Aizhar memberanikan diri untuk membuka mata, sambil menyeka air mata ia melihat Fakha terdiam tepat dihadapannya, tatapannya melunak dan sangat lembut, Fakha mencoba meraih wajah sedih Aizhar dengan tangannya, perlahan ia mendekat, Wajahnya pun berubah sendu, sementara Aizhar masih dalam ketakutan dan merasa terancam, namun Ia hanya bisa menangis dan tak bisa bergerak sedikit pun.
Sabda dan Jagad berniat menolong Aizhar, namun keduanya sudah tak berdaya lagi, mereka hanya bisa berharap dan berdoa, mereka berusaha maju dengan merayap semampunya, namun usahanya sia-sia, Fakha semakin dekat dengan Aizhar.