
Ledakan tersebut terlihat dari jauh, namun tak seorangpun berani mendekat, tak seorangpun lapor ke Polisi sebab tak ada bukti yang kuat atas laporannya, karena tak ada yang tahu pasti apa penyebab ledakan.
Fakha berdiri menatap tajam ke arah Toyo, sedangkan pak Windu masih berusaha memulihkan dirinya.
Toyo melepaskan pisau yang menancap di betisnya dengan teriakan keras karena rasa sakitnya. Lalu Ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya, lalu Ia mengoles sesuatu tersebut pada luka di kakinya. Seketika itu Toyo menjerit lagi menahan sakitnya. Setelah teriakannya berhenti, seketika itu juga rasa sakit dari luka tusukan itu menghilang.
Setelah hilang rasa sakitnya, Toyo segera menghambur menuju Fakha dengan niat hendak menerjang Fakha.
Fakha yang bertubuh kecil, berseragam sekolah dan rambut yang sedikit kemerahan, memasang sepasang sarung tangan di kedua tangannya. Lalu Fakha menekan tombol di kedua sarung tangan tersebut, sarung tangan yang tadinya berwarna hitam polos berubah menjadi hitam bergaris- garis merah menyala.
" Huuuuuuyyyyyyaaaaaa......!!!!! " Teriak Toyo melompat dengan posisi menerjang dengan satu kaki kiri di depan dan kaki kanan ditekuk.
Fakha berhasil menghindari serangan itu, setelah Toyo mendarat ke bumi, Fakha berbalik dan menyerang dengan pukulan kecilnya yang tepat mengenai punggung Toyo. Gelombang kejut yang dihasilkan sarung tangan itu membuat Toyo terpental sejauh 2 meter.
Lalu Toyo pun terjatuh berguling-guling dengan wajah meringis menahan rasa sakit. Dengan posisi tengkurap, tangan menahan badan seperti mau push up. Lalu Toyo berusaha bangkit dengan mendorong badannya naik ke atas. Ia pun berdiri perlahan.
" Darimana kau dapat sarung tangan kejut itu...?? " Toyo terkejut.
" Kau tidak perlu tahu... " Jawab Fakha.
" Dari lambang yang terlihat, itu adalah sarung tangan milik S.A. , dari siapa kau dapat sarung tangan itu...? " Tanya Toyo.
" Sudah ku bilang, kau tidak perlu tahu...!! " Tegas Fakha.
" Hahahahahahaha.....!!! Apa kau pikir bisa mengalahkan ku dengan alat itu...? " Ucap Toyo.
" Aku harus bisa mengalahkan mu dengan tangan ku sendiri, biadab yang tak punya moral...! " Ucap Fakha.
"Baiklah.. Apa yang bisa kau lakukan...? " Tanya Toyo dengan senyum sinis diwajahnya.
Fakha berlari ke arah Toyo lalu memukul bagian dada Toyo dengan tangan kanannya, namun serangan itu dapat dihindari oleh Toyo yang bergeser ke sebelah kanan Fakha, lalu Fakha kembali menyerang bagian perut Toyo dengan tangan kirinya, namun sekali lagi serangan itu dapat dihindari oleh Toyo, serangan Fakha berlanjut dengan menggunakan kaki kanannya ke arah dada Toyo, kali ini Toyo menghentikan serangan itu dengan memegang kaki Fakha, lalu mengangkat Fakha ke udara dan membantingnya.
"Bughhhh...!! "
"Hmmmggg.. Aaaaaakkkkhhhhhh.... !!" Fakha mengerang kesakitan.
Belum sempat Fakha berdiri, Toyo kembali menerjang wajah Fakha yang sedang berusaha bangkit dalam keadaan setengah berdiri.
" Aaaagggghhhhh..... !!! " Fakha terpental dan berguling hingga menyentuh anak tangga. Hidungnya mengeluarkan darah.
Kali ini Toyo membiarkan Fakha bangkit. Tak lama kemudian, munculah Jagad yang baru saja turun dari rooftop.
" Fakha...?? " Teriak Jagad yang melihat kejadian itu sambil memegang pundak Fakha.
" Gua ga papa, sekarang lebih baik lo bantu pak Windu aja, dia adalah targetku... Dan gua ga mau di bantu. " Tegas Fakha.
"Baiklah... Kalo emang itu yang lo mau.. " Ucap Jagad.
" Sombong sekali kau bocil, apa kau juga ingin bernasib sama seperti kedua orang tua mu.. Ha hahahahahaha.... " Ucap Toyo arogan.
Fakha berlari ke arah Toyo, kali ini dia berusaha memukul wajah Toyo sambil melompat, Toyo kembali menghindar dan membalas serangan itu lalu memukul perut Fakha dengan tangan kanannya.
Fakha pun kembali terjatuh.
" Aaaakkhhhh...!!!!!! " Teriak Fakha kesakitan.
" Hahahahahahaha...!!! Apa kau pikir bisa menyentuh wajahku dengan tubuh pendek mu itu, hahaha... " Ucap Toyo meremehkan Fakha.
" Sekarang, apa yang bisa kau lakukan tanpa kacamata mu...? " Tanya Fakha.
"Apa...?? Jadi kau mengincar kacamata anti kamuflase milikku..." Toyo terkejut.
" Mari kita melakukan permainan, dimana aku yang asli.... " Ucap Fakha.
Seketika tubuh Fakha menjadi banyak mengitari Toyo, Toyo menjadi sangat panik dan bingung.
" Apa yang kau lakukan dengan tipuan hologram murahan ini haaaa...? " Tanya Toyo dengan nada cemas sambil memukul salah satu dari tubuh Fakha yang berjalan perlahan mengitarinya.
Namun serangan itu hanya tembus begitu saja.
" Hahaha... Kau benar-benar mengandalkan alat mu saja, sampai kau tak tahu dimana aku yang asli, kemana insting dan naluri mu sebagai pembunuh, ohhh ya, sekarang aku tahu, kau hanyalah pembunuh rendahan yang tak mampu menghadapi anak setingkat SD. " Ejek Fakha.
Ucapan Fakha membuat kepala Toyo mendidih, Toyo mengambil belati di pinggangnya lalu mencabik-cabik semua tubuh Fakha yang bergerak. Namun tidak satu pun dari tubuh itu yang asli. Toyo semakin panik dan bingung, Ia benar-benar kehilangan instingnya.
" Buuuggghhhh...!!!!" Suara pukulan telak.
" Aaarrrrgggghhhh....!!!! "
"Jrrruuugghh...!! " Tepat ke arah perut.
" Akkkhhh... Kau..... " Suara Toyo menahan sakit sambil melihat ke arah tombak.
Fakha membuka selimut kamuflasenya. Lalu mendorong tubuh Toyo ke dinding, Toyo pun jatuh terduduk menyandar ke dinding. Fakha memegang belati dan hendak menghabisi Toyo.
" Deeeennn...!!! Kita harus segera pergi dari sini, sebab bantuan mereka akan segera tiba...!! " Teriak pak Windu.
"AAAAAAAHHHHHHHHHH.........!!!!! " Fakha menuangkan seluruh emosinya lewat suara.
Ia terdiam sesaat, sedikit lagi Ia bisa menghabisi pembunuh orangtuanya. Namun Ia memutuskan untuk memeluk tubuh kedua orang tuanya dan meninggalkan Toyo yang tak berdaya bersimbah darah.
"Ayo brooo...!! Lha ko sui tenan...? " Tanya Sabda dari pintu utama.
"Astaghfirullah....!!! Fakha...!!! " Teriak Sabda yang melihat Fakha memeluk kedua orang tuanya sambil menangis.
Sabda berlari menghampiri Fakha.
" Jadi lo selama ini ga tau apa yang terjadi... ? "Tanya Jagad.
" Maaf, tadi gue pake alat ini buat dengerin musik.. "Jelas Sabda sambil menunjukkan earphone miliknya.
" Lo ini sahabatnya apa bukan...? Nyepelein banget lo. " Ucap Jagad geram.
" Iya gue tahu gue salah... Terus mau lo apa...? " Sabda menatap Jagad dengan tajam.
" Jadi... Lo mau nantangin gua...!!! " Ancam Jagad.
Mereka berdua tak berhenti saling beradu tatapan mata, berjalan perlahan saling mendekat, membusungkan dada. Dengan ekspresi wajah penuh amarah, keduanya saling mengadu dada mereka. Mereka bersiap saling baku hantam.
"Hentikan kalian berdua...!!! " Ucap Fakha berdiri sambil menyeka air mata. Ia mencoba menekan luka di dalam hatinya. Berusaha kuat menghadapi kenyataan.
"Fakha... " Ucap Sabda terputus.
"Sudahlah... Gua sudah tahu apa yang mau lo omongin.. Gua emang hancur hari ini, tapi gua ga mau jadi bodoh, hidup bakal terus jalan, dan gua harus tahu siapa dalang dibalik semua ini dan apa tujuan sebenarnya. " Ucap Fakha bijak.
" Den Fakha... Kita harus segera pergi... " Pak Windu semakin cemas.
" Oh ya, pak ini kunci mobilnya, sudah saya siapkan, tapi kita kan bocil pak, ga iso nyetir mobil... " Ucap Sabda.
Mereka pun menuju mobil yang sudah disiapkan Sabda, mobil itu berada diantara puing-puing mobil yang terbakar.
Saat pak Windu hendak menyalakan mobil, Tiba-tiba terdengar suara helikopter dari atas mereka.
sontak mereka pun terdiam.
helikopter itu turun tepat di atap rumah mereka.
"Hunter..!! " Suara pak Windu terkejut.
" Pak Windu... Apakah orang yang baru turun dari helikopter itu adalah orang yang di juluki Hunter..? " Tanya Fakha.
" Betul den, bahkan dari jauh sini pun saya tahu kalau itu Hunter. Saya takut kita akan ketahuan, jadi kita jangan menghidupkan mesin mobil dulu. Den... sebelum mereka mencari kita, sebaiknya kita sembunyi di luar kendaraan ini dulu.. " Ucap pak Windu.
Mereka pun mengikuti petunjuk pak Windu. Mereka mengendap ke arah hutan buatan yang sudah dipasang jebakan.
Benar apa yang dikhawatirkan pak Windu, pasukan itu mencurigai kendaraan yang mereka gunakan. Sebab hanya ada satu kendaraan yang tak terkena ledakan.
Pasukan itu pun memeriksa kendaraan tersebut. Mereka memeriksa berkali kali namun tak ditemukan petunjuk apapun.
" Tuan... mereka tidak ada di dalam kendaraan.. " Lapor salah satu anggota.
" Mereka masih belum jauh dari sini." Ucap Hunter sambil menoleh ke sekeliling tempat itu.
kemudian Ia lanjut bicara. " Tapi, hutan ini dipenuhi dengan jebakan dan hanya mereka yang tahu seluk beluk hutan ini. Jika kita memaksakan diri mengejar mereka, maka kerugian kita akan semakin besar. Jadi, biarkan saja mereka pergi. Yang terpenting adalah, kita sudah dapat kontrak yang kita inginkan. " sambil menggenggam beberapa map.
" Lalu apa yang harus kita lakukan tuan? "Tanya anggotanya lagi.
" Bereskan tempat ini, buat seakan terjadi kecelakaan... " Perintah Hunter.
Mereka pun membawa mayat-mayat dan sisa anggota yang masih hidup, lalu menyisakan 2 jasad orang tua Fakha dan membakar rumah itu seakan terjadi kecelakaan.
Mereka pun meninggalkan tempat tanpa sisa dengan helikopter pengangkut lalu menggunakan mode transparan agar tak terlihat.