
Sebelumnya, Pukul 14:00.
Di Ruang kepala Sekolah SHN.
"Tuuuut.... Tuuuuuut.. Tuuuuutt... "
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu..? " Suara dari telepon.
Kepsek menjawab "Apa saya sedang berbicara dengan Secret Academy..? "
Maaf, Anda salah sambung..!" Balas operator.
"Saya tidak salah sambung, soalnya sudah terkoneksi dengan wi-fi berbayar. " Kepsek menjawab kata sandi rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang yang sudah memiliki kartu klien.
"Anda benar, Selamat datang kembali pak Kamso, ada yang bisa kami bantu..? " Jawab operator.
" Aku butuh bantuan.. " Ucap Kepsek.
"Kami mendengarkan.... " Jawab operator.
Dengan segera Kepsek bercerita.
" 3 siswa di sekolah ini meninggalkan kelas dan bahkan keluar terlalu jauh melewati gerbang utama. Mereka adalah siswa yang berbakat di sekolah ini, bahkan kemampuan akademik ke tiga anak itu melampaui anak tingkat Atas(setara SMA) di SHN. Salah satu anak itu meretas sistem CCTV sekolah ini dengan mudah. Bahkan mereka punya selimut kamuflase entah darimana, saya ingin mereka bertanggung jawab, saya curiga pada mereka, karena mereka bukan anak biasa seperti pada umumnya. Saya khawatir kalau mereka adalah komplotan yang menyamar. Tolong tulis di daftar kalian, bawa mereka kembali ke sekolah ini, masalah bayaran, nanti bisa kita rundingkan setelah semua selesai. "
" Oke Pak permintaan anda segera di proses hari ini juga, tapi kami mohon kepada bapak untuk dapat bekerjasama, kami akan mengirim beberapa anggota kami ke sekolah bapak untuk mencari petunjuk. " Ucap operator.
Rundingan pun berakhir, tim S.A. mengirim agen meraka yang menyamar menjadi petugas Damkar.
Pukul 16:08.
Rumah pak Santoso.
Air mata Fakha semakin tak terbendung mengalir. Kepedihan yang begitu dalam tertumpah begitu saja. Orang yang membesarkannya tersungkur bersimbah darah tepat didepan matanya.
Kelopak matanya pun bertaut menjadi gelap.
Jiwanya mulai menerawang jauh ke masa kecilnya, tak perduli lagi apa yang terjadi disekitarnya. Tangan tangan hampa mulai menggenggam jantungnya. Raga kecilnya tak mampu menahan beban berat di pundaknya yang lemah, tak ada yang bisa dilakukannya. Hatinya hancur berkeping-keping membayangkan dirinya tenggelam dalam kesepian, tanpa tangan yang biasa membantunya.
Ia biarkan badai perasaan itu meresap kedalam jiwanya. Sejenak larut bersama jatuhnya air mata, melepaskan sejenak kepedihan dengan satu tarikan nafas panjang. Ia berusaha menguatkan hatinya, lalu ia mengumpulkan logikanya lagi, hatinya mulai tenang, hanya ada satu kata saat ini, Bantai. Dalam pikirannya ia akan memusnahkan semua musuhnya saat ini juga.
Jiwanya semakin tenang dan mulai memberanikan diri untuk membuka mata.
Ia membuka matanya perlahan, di dapatinnya Toyo sudah berada di hadapannya sambil mengarahkan pistol ke wajah Fakha.
" Apa kata terakhir mu...? " Ucap Toyo tersenyum penuh kemenangan.
" Lepaskan... " Ucap Fakha lembut, tapi pasti. Ia memberi isyarat kepada jagad sesuai rencana.
Seketika itu, Jagad melakukan apa yang sudah direncanakan mereka. Ribuan tikus keluar melalui paralon yang sudah diberi pelet ikan, tikus itu menyebar ke seluruh ruangan untuk mencari pelet ikan yang berjatuhan di lantai. Suara gemuruhnya membuat semua jadi heran, apa yang sedang terjadi. Toyo kehilangan konsentrasi untuk menembak Fakha, Ia sedang fokus pada apa yang terjadi disekelilingnya, matanya menjadi liar ke setiap sudut, ia semakin panik. Lalu matanya kembali tertuju kepada Fakha dengan maksud akan langsung menghabisinya, namun Ia terkejut saat melihat Fakha memegang pemicu bom.
" Nyawa dibayar nyawa...!!!! " Teriak Fakha.
"Boooooommmm...!!! Booommm..!! " Ledakan di sana sini.
Tikus-tikus yang keluar itu sebagian di pasang bom, sebagian lagi masih hidup. Tikus-tikus yang meledak itu membuat suasana menjadi kacau, darah berhamburan menodai dinding, tak sedikit anggota Hunter yang tumbang, darah tikus dan manusia bercampur jadi satu, lebih dari separuh pasukan Hunter berjatuhan. Toyo semakin marah melihat bawahannya tergeletak satu persatu. Ia kembali membidik Fakha yang sedang lengah.
Namun pak Windu tidak tinggal diam. Ia menerjang tangan Toyo hingga pistol yang dipegangnya terpental jauh. Perkelahian pun terjadi antara Toyo dan pak Windu.
Sisa pasukan Hunter kembali masuk ke dalam ruangan.
" Lepaskan yang kedua...!!! " Ucap Fakha kembali memberikan isyarat kepada Jagad.
" Oke... . " Ucap jagad.
" Hei Sabda, jaga sikapmu, kau ini benar-benar tak tahu diri..! " Ucap Jagad sambil berusaha keluar dari persembunyiannya.
"Hah.. Emange ono opo tho..?" Ucapnya polos sambil menepuk nyamuk yang mengganggunya.
Perlahan terdengar suara desis ular dari arah pipa, ular itu tak cuma satu, tapi ratusan. Ular itu keluar karena nalurinya yang ingin memangsa tikus.
" Darimana dia bisa dapat ular dan tikus sebanyak itu, tapi itu sungguh trap yang luar biasa cerdik.. "Gumam Jagad.
Ular-ular itu sangat lapar dan merasa terancam, sehingga menjadi sangat agresif. Mereka menyerang semua orang yang ada.
" APA APAAN INI...!!!!! " Teriak salah satu anggota Hunter yang digigit ular.
"Aku sudah bilang, racun binatang jenis apa pun tak berpengaruh terhadap kita, karena kita sudah punya imunnya..." Ucap Toyo.
"Setidaknya itu memberi waktu bagi kami untuk menghabisi kalian semua. " Ucap Fakha sambil mengeluarkan belati.
"Waduh... Ini semua sudah diluar rencana.. " Gumam Toyo sambil berusaha memanggil bantuan. Ia menekan tombol bantuan darurat pada arloji ditangannya.
Anak buah Toyo saat ini hanya tinggal beberapa lagi, Toyo yang kalah berkelahi pun memerintahkan mereka untuk mundur. Ada yang berlari ke atas untuk naik helikopter, ada yang keluar untuk naik mobil.
"Hay..!! Kita naik kopter aja.? " Ucap salah satu anak buah Toyo.
"Ayo kita naik kendaraan darat saja..! " Ucap anak buah Toyo lainya.
Mereka pun berlari menuju kendaraan terdekat untuk kabur.
Pak Windu terdiam sejenak setelah perkelahiannya dengan Toyo. Ia tampak kesulitan bernafas, dan tiba tiba tersungkur dengan nafas terengah-engah.
" Pak Windu, apa yang terjadi....!!?? Tanya Fakha dengan keras sambil berlari ke arahnya.
"Biasa den... Asma kumat.... " Jawab pak Windu sambil mencari obat di sakunya.
Setelah pak Windu mengobati asmanya, ia masih belum bisa melakukan apapun karena lemas. Toyo mengambil kesempatan ini untuk ikut lari bersama anak buahnya, Ia segera bangkit dari posisi tidurnya, namun langkahnya terhenti saat Ia mencoba berlari.
"Aaaarrrggghhhh.....!!!! " Sebuah pisau menancap di salah satu kaki Toyo.
" Kau pikir mau kemana pak Toyo..?? " Ucap Fakha dengan lembut namun penuh dendam.
" Aku memang tak mahir menggunakan senjata api, tapi aku bisa melempar pisau. Jadi... Disinilah seharusnya kematian mu sang biadab. " Ucapnya lagi.
" Ha ha ha ha ha....... Kau pikir siapa bisa mengancam ku...!!!??? " Ucap Toyo dengan emosi.
Sementara di halaman rumah pak Santoso. Sebagian anak buah Toyo mulai masuk ke dalam kendaraan.
" Kaaaa Booooommmmm......!!!!! " Kendaraan itu meledak.
Semua yang masuk ke dalam kendaraan ikut meledak bersama kendaraan tersebut.
Sisa 5 orang lagi yang belum masuk kedalam kendaraan, mereka pun segera beralih menuju atap untuk menaiki helikopter.
Namun di depan pintu utama sudah berdiri sosok kecil berpakaian Tingkat Dasar(TD, setara dengan SD), Ia menundukkan kepala dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Seakan menantikan kedatangan mereka. Anak itu adalah Sabda yang sudah lelah menunggu.
Sementara di Rooftop 20 orang anak buah Toyo telah tiba di sana. Mereka hendak menaiki helikopter, namun niat itu mereka urungkan saat melihat anak kecil berseragam sekolah menanti tepat dijalan mereka keluar dari tangga. Anak itu adalah Jagad yang kebetulan baru keluar dari tempat persembunyiannya. Ia duduk santai di lantai dengan posisi kaki lurus terbuka setengah ditekuk sambil merunduk, kedua siku tangan diletakkan pada kedua lututnya sedangkan tangannya saling menggenggam untuk menopang kepalanya.
" Siapapun kamu, biarkan kami lewat...! " Ucap salah satu anak buah Toyo.
Jagad pun hanya diam dan berdiri untuk mempersilahkan mereka lewat. Tanpa pikir panjang anak buah Toyo menaiki helikopter tersebut. Jagad pun segera bersembunyi dibalik tangga.
" Booooommmmmmm.....!!!! " Hancur sudah helikopter beserta isinya.