
Gerbang sekolah terbuka lebar, waktu menunjukan pukul 06:00. Namun suasana Sekolah sudah mulai ramai di padati siswa dan siswi yang baru menyelesaikan liburan Sekolah. Suasana seperti ini biasa terjadi sehabis libur semester.
Sekolah tersebut menerapkan disiplin yang tinggi, sehingga anak yang terlambat tak akan diperbolehkan masuk, kecuali anak yang sudah memiliki izin. Setiap siswa yang terdaftar di Sekolah Harapan Nyala (SHN) baik dari tingkat dasar hingga tingkat atas wajib tinggal di Asrama sekolah.
Fakha adalah salah satu siswa di SHN desa Harapan Indah, dia tergolong siswa yang paling pintar di SHN, dia juga anak dari seorang Ayah yang terpandang dan juga kaya, namun demikian tidak merubah Fakha menjadi orang yang sombong, Fakha terkenal sangat ramah kepada siapa pun. meskipun jarak rumah Fakha menuju asrama sekolah tidak terlalu jauh, namun Fakha selalu datang menggunakan mobil mewah yang di kendarai oleh assistant pribadi ayahnya yang bernama Pak Windu.
Fakha berjalan melalui gerbang sekolah, " selamat pagi pak" sapa Fakha kepada salah seorang Satpam
"Selamat pagi.. " Balas satpam seraya memegang gerbang.
Fakha berjalan menuju ruang kelasnya sembari menunggu waktu belajar.
"Riiiinggg...!!! Triiiiingggg...!!! Waktu belajar pun dimulai dengan ditandai bell yang berbunyi.
Waktu pun berjalan seperti biasanya, pelajaran demi pelajaran, pertanyaan demi pertanyaan, tidak ada yang istimewa pada hari ini. Sampai akhirnya waktu menunjukan pukul 10:13. Gawai milik Fakha tiba-tiba bergetar, Fakha yang masih dalam proses belajar belum mau menyentuh gawai tersebut. Namun gawai tersebut tidak berhenti bergetar hingga membuat Fakha penasaran apa yang terjadi.
Dengan terpaksa Fakha mengambil gawai di laci mejanya tersebut dengan perlahan agar tidak ketahuan guru yang sedang mengajar.
Sambil berpura-pura mengambil pena yang terjatuh Fakha menanggapi panggilan tersebut.
"Hallo... " Sapa Fakha dengan lirih kepada penelpon.
Namun tidak ada jawaban. Hanya ada sedikit suara keributan hingga membuat Fakha mulai khawatir, sebab telepon tersebut berasal dari gawai milik ayahnya.
Fakha pun mulai mencoba menghubungi ulang gawai milik ayahnya, namun setelah berulangkali dicoba selalu tidak pernah ada jawaban. Rasa penasaran semakin menyelimuti benak anak kelas 4 SD tersebut.
"Riiiiiingg......!!! Triiiiinngggg...!! " Akhirnya Bel istirahat pun berbunyi, Fakha segera menuju kantor guru dan berencana pulang lebih awal, namun tidak di izinkan oleh pihak sekolah meskipun Fakha sudah memberitahukan kebenarannya.
"Dengar ya nak, sekolah disini berbeda dari sekolah yang lain, disiplin adalah hal yang utama disekolah ini. Jika kamu masih ingin sekolah disini, maka taati lah peraturan disini...!! Ujar pak Wardi salah satu guru di sekolah tersebut.
Akhirnya Fakha kembali ke kelasnya yang berada di lantai 3 dengan wajah penuh emosi. Setibanya dikelas Fakha langsung membuka gawai miliknya sambil berusaha duduk di bangkunya yang terletak tepat di samping jendela. Betapa terkejutnya Fakha saat melihat beberapa foto yang di kirim oleh pak Windu yang menggambarkan keadaan rumahnya saat ini.
"Astaghfirullah...!! " Ucap Fakha sambil memegang erat gawai miliknya dengan mata terbelalak menatap tajam kearah gawai miliknya.
Saat itu tak seorangpun berada diruang kelas kecuali Fakha yang sedang duduk di kursi dan sahabatnya yang bernama Sabda yang daritadi duduk di meja tepat dihadapan Fakha.
"Ngapa cun..? Ga biasanya elu kek gini? " Tanya Sabda dengan ciri khas logatnya yang kental dengan Jawa.
"Gua dalam masalah besar cun, dan gua rasa lu satu-satunya temen gua yang bisa gua percaya untuk bantu gua keluar dari sekolah ini sekarang juga..! " Tegas Fakha.
"Wait sedilit, sak tenane ada apa tho, ko kesusu kek gini? " Tanya Sabda.
"Aduuuhh.... Orang tua gua, lagi nyiapin senjata karena mau ada tamu, tapi ga biasanya dia kayak gitu...!! Please gua minta tolong ama lu, sepertinya keluarga gua dalam masalah...!! " Tegas Fakha
"Ngopo ga lapor gurune ae tho? Cerita opo enenge, terus minta izin mendahului pulang. " Saran Sabda.
"Tadi sudah dicoba, tapi tetep aja ga boleh pulang duluan, malah gua dibilang cari alasan buat main keluar sekolah dan bla bla bla. Jadi sudah gua putuskan untuk bolos dari sekolah ini dengan bantuan dari lo dengan cara apapun. " Jelas Fakha dengan wajah penuh emosi.
"Listen yo, gue mau aja nulungin elu, tapi how? Lha wong waktu istirahate ae cuma 15 menit. Belum lagi waktu yang berkurang karena kita ngobrol dan mikirin strategi bolos, kamera pengawas di sekolah kita ono hampir di setiap sudut sekolah kecuali toilet, pager sekolah kita sudah seperti pager tahanan yang tingginya meh nyundul pesawat liwat, gerbang sekolah kita dijaga dua satpam bertubuh gorila mekar, parit sekolah kita kecil cuma bisa dilewati curut." Tegas Sabda dengan ekspresi penuh tanya.
" Belum lagi.
" Sebentar, emangnya lo lupa kalo kita pinjem alat punya Aizhar dan belum di pulangin kan? " Fakha mengingatkan Sabda tentang alat canggih yang bisa meretas sistem CCTV.
" Oalah iya ya, sebentar Gue ambil peralatan gue dulu yo" Ucap Sabda sembari menuju mejanya yang berada ditengah kelas.
" Kita lewat kantin bu Sari aja" Ucap Fakha sembari berkemas.
" Iya, di sana lebih enak di lewatin daripada tempat lain, di belakang kantin juga sepi, jadi kita bisa bolos dengan tenang. " Sabda menyetujui rute yang akan dilewatinya.
"Ayo bergerak" Kata Fakha sambil berjalan menuju pintu kelas.
Saat mereka berdua hendak berjalan keluar kelas, tiba-tiba bertemu dengan ketua kelas yang bernama Jagad.
"Hey....!! Mau kemana kalian bawa- bawa tas segala, inikan sebentar lagi masuk. Kalian mau bolos ya? " Jagad berusaha melarang mereka.
"Gua mohon sama lu, biarkan gua pergi kali ini, ada sesuatu yang harus gua selesaikan...!! " Tegas Fakha.
"Ga bisa, lu udah sering kepergok ama gua lagi bolos, meskipun kita bersahabat tapi gua ga akan biarin kalian bolos lagi !!! " Jagad berusaha melarang.
" Jadi lo nantangin gua, ya udah ayo kita beresin disini! " Fakha berteriak hingga suaranya nyaring terdengar.
Perkelahian pun tak dapat dihindari, meskipun mereka bersahabat, namun mereka sering berkelahi untuk menunjukkan siapa yang benar.
Sabda bingung mau membela yang mana karena keduanya adalah Sahabat, sehingga ia justru menyiapkan peralatan yang lain karena Ia tahu banyak orang yang dengar suara keras Fakha dan akan berdatangan.
"Woy..!!! Woy woy....!!!! " Teriakan yang keluar dari para siswa yang serentak datang menuju ruang perkelahian.
Sabda yang mendengar suara langkah kaki ramai menuju kearah mereka, langsung berkata kepada keduanya yang sedang beradu pukulan.
"Sssstttt....!! Tahan sebentar... Mereka menuju kemari. " Ujar Sabda sambil melakukan sesuatu.
"Gubrrraaaakkk..!!!!" Tak lama pintu terbuka dengan suara nyaring akibat telapak kaki para siswa yang berusaha masuk dengan paksa, padahal pintu tak dikunci.
Semua mata terbelalak dengan mulut setengah terbuka, ada juga yang menutupi mulutnya dengan wajah tertegun saat menatap ruang kelas 4b.
Suasana sunyi pun melayang di antara para hadirin yang hendak menyaksikan kejadian menghebohkan tersebut.
Suasana dikelas begitu sunyi dan tampak rapi, seperti tidak terjadi apa-apa. Hingga akhirnya ada salah seorang murid bernama Rawet bersuara.
"Lhah ko sepi rekk?? " Tegasnya dengan logat Jawa Timur.
Fakha,Sabda dan Jagad bersembunyi dibalik dinding diluar jendela sekolah. Mereka bergelantungan menggunakan alat khusus yang dapat melekat ke dinding, dan menggunakan selimut kamuflase agar tak ada yang menyadari keberadaan mereka.
Namun rasa ingin saling mengalahkan itu sudah tercampur dengan darah ditubuh Jagad dan Fakha, sehingga mereka tidak berhenti berkelahi di dinding dekat pembuangan AC.
Keadaan tersebut terlihat oleh seorang anak kelas 5 yang bernama totoy, dia ada di kelas 4b saat ini, kerena rasa penasarannya ingin melihat kejadian di kelas 4b. Lalu dia berkata kepada temanya.
"Een..Een..! Lu liat ga dinding di kelas 4b deket AC itu bergerak-gerak sendiri..?"
Sambil mengamati apa yang dikatakan totoy, Een menyimpulkan "mana ada, lu kali yang salah lihat, lagian lu kan tukang boong. "
Di dalam mode kamuflase "hay..!! Sudah hentikan, nanti kita bisa ketahuan!! " Tegas Sabda
"Rasakan ini!!! " Suara Fakha terdengar sedikit keras kali ini
Totoy pun semakin penasaran dan terus mengamati dinding itu dari balik jendela, hingga ia melihat sedikit pergerakan dan sedikit teriakan dari dinding tersebut, namun teman-temanya tetap tidak percaya, malah mengatakan bahwa Totoy terkena gangguan mahluk halus. Sebab saat Totoy melihat dinding, saat itu Fakha dan Jagad sedang bertengkar, namun saat teman-temanya melihat dinding, saat itu mereka kembali diam.
Totoy pun tak berhenti karena semakin penasaran dan kembali mengamati dinding, hingga akhirnya dinding pun bergerak dengan diikuti suara "hoy!!" Kali ini Totoy tak perduli untuk memberi tahu teman-temanya, ia sadar mungkin ia beneran lagi kena gangguan jiwa. Hingga ia teriak dan berlari menuju ruang UKS.
Bell kembali berbunyi yang artinya pelajaran akan segera dimulai kembali. Siswa dan guru memulai pelajaran tanpa menyadari sesuatu.
Fakha, Sabda dan Jagad sudah berada di rooftop. Mereka sudah benar benar kehabisan waktu.
"Gimana ini? Rencana kita ga mungkin bisa jalan gara gara siswa sok rajin ini.... " Ujar Fakha.
"Rencana bolos yang luar biasa, darimana kalian dapat alat seperti itu? " Jagad bingung!! --
"Ga ada waktu buat jelasin, kalo lo ga percaya gua dalam masalah sebaiknya lo ikut. Itu juga kalo berani. Soalnya kita sudah ada di sini dan terpaksa bakalan lewat atas sini. seharusnya rencana kita ga lewat sini" Tegas Fakha dengan senyum sinis
"Cun.. Ni dah gue siapin alat untuk 3 orang turun dari seling besi ini...! " Tegas Sabda.
"Oke, nah sekarang keputusan ada di tangan lo sendiri, mau ikut atau tinggal? " Tanya Fakha kepada Jagad.
Jagad pun terdiam sesaat, untuk memutuskan kemana dia akan melangkah. Bila ia ikut maka ia akan ketinggalan pelajaran, bila ia tinggal maka misteri yang ada di kepalanya akan terus menjadi kupu-kupu yang datang dan pergi untuk sekedar bermain di ruang kepala.
Tanpa berpikir panjang Fakha dan Sabda menuruni seling dengan alat. Tak lama Jagad pun ikut turun.