
" Uukkhhhh... Apa yang terjadi..? Kenapa lantai disini terasa semakin panas..? " Tanya Raika yang baru tersadar akibat pukulan Assistant 1.
" Syukur lah... Raika.. Lo udah sadar.. " Ucap Fakha yang sedang berusaha memindahkan tubuh Doe yang masih belum sadar.
" Lo ngapain Fakha...? " Tanya Raika sambil berusaha bangkit dengan memegang dinding.
" Hufh.. Gua ga ngerti harus apa lagi...? Ruangan ini sebentar lagi bakal manggang kita, sedangkan pintu besi di depan kita itu terus menutup perlahan... Kita ini lagi ada di Oven raksasa, kalo kita ga segera keluar dari sini... Kita bakalan mati kering disini. " Ucap Fakha frustasi.
" Oke.. Gua akan bantu lo.. " Mengambil sesuatu di dalam ransel nya.
Fakha terdiam menanti sambil meletakan tubuh Doe perlahan.
" Nah sudah selesai... Sekarang lo bantu gua suntikin benda ini ke lengan mereka... " Raika memberikan beberapa alat suntik berisi cairan yang sudah ia takar.
" Oke... " Fakha menerima dan langsung menyuntikkan pertama kepada Doe, lalu ia menyuntikkan kepada yang lain.
Sementara Raika menyuntikkan untuk diri sendiri dan Aizhar.
" Emang ini apa yang lo kasih...? " Tanya Fakha.
"Adrenaline.. " Jawab Raika singkat.
" Apaaa...!? " Fakha terkejut karena ia tahu reaksi apa yang akan terjadi.
Tak lama kemudian.
" Hhyyyyaaaaaaccchh....!!!!! " Roso berlari menerjang Fakha.
" Bhuaaagghhh... !!! "
" Hheeggghhh....!!! " Fakha menahan rasa sakit di punggungnya akibat terjangan Roso hingga terpental jatuh.
Roso pun tetdiam sejenak sebelum Ia sadar sepenuhnya.
" Fakha... Lu kenapa..? " Tanya Roso setelah sadar tanpa tahu apa yang baru saja Ia perbuat.
" Ga papa ga mama... " Berusaha bangkit. " Ini yang gua khawatirkan... Untung cuma Roso yang kesurupan efek samping, yang lainya enggak. " Ucap Fakha menatap Raika.
" Ya maaf, habis ga ada cara lain.. " Ucap Raika sambil membereskan Ransel nya.
" Ada apaan sih...? " Tanya Aizhar yang baru sadar.
" Ga papa, cuma salah paham aja.. " Jawab Raika sambil bangkit dan membantu Aizhar untuk bangkit.
" Bukan salah paham...!! Ini salah tendang namanya..!!! " Ucap Fakha emosi menatap Raika.
" Heeehh... Jadi tadi gua tendang lu ya Fakha.. Maaf yaaa..? " Ucap Roso yang baru sadar apa yang telah Ia lakukan.
" Ahh sudahlah ga usah diperpanjang, ruangan ini semakin panas dan pintu semakin menutup.. Ayo kita berkemas dan lanjut.. " Ucap Sabda yang sudah sadar sepenuhnya.
Akhirnya mereka pun pergi dari ruangan tersebut. Mereka melanjutkan perjalanan menuju lokasi Assistant 1.
Pukul 03:00 dini hari.
Perjalanan mereka terhenti di depan sebuah pintu. Lalu Fakha membuka pintu itu perlahan untuk memastikan apakah pintu itu aman atau mengandung jebakan.
Setelah dirasa pintu itu aman, maka ia pun masuk, semantara yang lainya menyusul.
" Wawww.. Besar sekali ruangan ini.. Ga seperti ruangan sebelumnya... " Ucap Fakha.
" Bahh.. Ruangan ini nampak seperti tempat berlatih bela diri... " Ucap Ucok.
" Selamat datang para tamu yang tak diundang... Akhirnya kalian tiba juga disini.. " Ucap seorang pria yang duduk membelakangi mereka di sebuah kursi putar di balik meja besar. Fakha dan yang lainya terdiam siaga.
" Easy man... Anggap aja rumah sendiri... " Kata pria misterius tersebut sambil memutar kursi menghadap ke arah mereka berdiri.
" Apaaaa....!!!! " Ucap Ucok terkejut.
" Pak Kepsek... ? " Tanya Doe meyakinkan dirinya, bahwa yang dihadapannya itu adalah Kepsek di sekolah mereka.
" Jadi kau adalah Assistant 1..? " Tanya Fakha.
" Bukankah itu sudah jelas dari apa yang kalian lihat, pakaian ini adalah pakaian yang saya gunakan untuk menghadapi kalian belum lama ini, apa kalian lupa...? Bahkan di pakaian ini tertulis Assistant 1. Kalian benar-benar pikun, padahal masih muda. " Ledek pak Utsman Kamso tersenyum sindir. Pria ini biasa dipanggil pak Kamso. Kepsek Tingkat Dasar SHN.
" Jangan bercanda.. Mari kita selesaikan ini. . " Tantang Fakha.
" Jangan terburu-buru bocil... Coba periksa pergelangan kaki milik rekanmu..." Ucap pak Kamso.
" Apa yang akan kau lakukan dengan ini... " Tanya Sabda yang melihat ada sesuatu di pergelangan kakinya.
" Hahaha... Jadi kau ingin tahu tentang benda itu, baiklah... Ini adalah gelang suci. " Sambil memegang gelang yang serupa dengan yang di letakan pada pergelangan kaki mereka.
" Apa kau beri nama alat ini gelang suci...? " Tanya Aizhar.
" Hahaha tentu saja tidak.... "
" Sejak kapan kau pasang alat ini di kaki kami...?? " Tanya Doe memotong kata-kata pak Kamso.
" Ho ho ho... Sabar anak muda... Biar aku menjelaskan alat ini dulu. " Memasangkan gelang itu pada leher sebuah boneka anjing.
" Tilt... " Tombol remote.
" Booommm...!!! " Ledakan kecil yang menghancurkan leher boneka anjing hingga kepala boneka tersebut terlepas.
" Yyyaaahhh... Ledakannya memang tak terlalu besar, tapi cukup untuk menghancurkan kaki kalian yang mungil itu, huhu Hu hu... " Ancam pak Kamso yang memiliki pawakan tidak terlalu besar, tampak seperti Atlet olahraga bukan kepsek pada umumnya. Rambutnya hitam dan mulai terlihat beberapa uban di kepalanya.
" Apa yang kau lakukan.... Lepaskan mereka...!!! " Teriak Fakha.
" Mereka yang mana yang harus aku lepaskan..? Mereka yang ada di sini, atau mereka yang ada di balik jeruji itu...? " Sambil menunjuk ke arah jeruji besi yang di dalamnya nampak sosok anak kecil yang tergeletak berlimang darah dan pria dewasa yang tangannya terikat rantai.
" Biadab...!! Monster macam apa kau ini...!! " Fakha geram
" Aku mau memberitahumu satu hal... Yang memberi gelang pada kaki mereka bukanlah aku, melainkan... "
" Pria bertubuh besar di belakangmu yang kau suruh untuk mengangkat tubuh Jagad dan membawanya kemari... " Fakha memotong pembicaraan pak Kamso.
" Prok prok prok" Tepuk tangannya Kamso.
" Hebat...!! Hebaaat...!! Bravo.. Huuww... Itu yang aku suka darimu Fakha.. Sebagai kepala sekolah kalian, aku sudah memperhatikan mu sejak lama.. Kau memang anak jenius.. " Puji pak Kamso.
" Aku tak perlu pujian darimu, aku mohon, cepat lepaskan mereka.... " Fakha terdengar putus asa.
" Bagaimana jika aku tak mau melepaskan mereka...? " Ucap pak Kamso.
" Aku akan meledakkan tempat ini dan mengubur kita semua disini.. Sepanjang perjalanan kita sampai disini, aku meletakkan beberapa peledak yang bisa membuat tempat ini terlihat dari luar, sehingga banyak yang tahu tentang tempat rahasia ini... " Ancam Fakha.
" Sungguh briliant kau, tak heran jika kau selalu juara umum... Bagaimana jika aku memberimu tantangan, jika kau menang... Aku akan membebaskan mereka semua, tapi jika kau kalah.... "
" Aku bersedia menuruti apapun yang kau mau.. " Ucap Fakha menerima tantangan pak Kamso.
" Fakha... Apa yang kau lakukan... " Ucap Doe.
" Tenang saja, aku tak tertarik lagi untuk menghadapi mu, jadi aku serahkan kepada anak murid ku yang lain saja, seorang anak yang berbakat dalam bela diri... " Ucap pak Kamso sambil memberi isyarat ke arah pintu. Muncullah sosok anak kecil sebaya Fakha yang berpakaian senada dengan Pak Kamso.
"Jika kau bisa mengalahkan dia, maka aku akan membebaskan semua teman mu, dan jika kau kalah... "
" Aku akan menepati janji..tapi bebaskan mereka semua" Ucap Fakha memotong pembicaraan pak Kamso.
" Oke deal, pertarungan ini tidak punya aturan main, siapa yang kalah adalah dia yang jatuh pingsan. " Ucap pak Kamso.
Fakha dan lawannya saling berhadapan dan siap menyerang satu sama lain.