Secret Academy

Secret Academy
Keputusan Fakha



" Aku sendiri masih bertanya-tanya mengenai Hunter saat ini, aku tak berani mengambil kesimpulan pasti. Lalu Jagad, dia adalah anak yang di adopsi oleh pak Azzam, pimpinan kami yang menggantikan Hunter. Dia anak yang istimewa, ditemukan saat dia sedang berkelahi menghadapi 5 orang preman yang memalak seorang wanita tua, Jagad memang tak punya tenaga yang cukup untuk melawan ke 5 preman tersebut, namun dia memiliki keberanian yang cukup tangguh, Ia menyadari kelemahannya sehingga Ia mengambil sebatang bambu yang Ia gunakan sebagai senjata, tak disangka, ke lima preman tersebut lari dengan keadaan memar dan luka, padahal saat itu pak Azzam sudah berniat ingin membantu, setelah perkelahian itu pak Azzam bertanya kepada Jagad dimana Ia tinggal dan siapa orang tuanya, Jawabannya adalah, Jagad tak punya rumah, dia tinggal di kolong jembatan, dan kedua orang tuanya sudah tiada, dia adalah anak yatim piatu yang terlantar, ditinggalkan orang tuanya saat Ia masih berumur 7 tahun, Ia bertahan hidup dan di asuh oleh anak jalanan lainya. " Pak Kamso menjelaskan.


" Saya permisi dulu pak... Sepertinya sudah tidak ada lagi yang ingin saya tanyakan.. " Fakha beranjak meninggalkan ruangan sambil melihat Jagad yang sedang tertidur pulas di sofa.


" Tunggu sebentar, apa kau yakin tak ingin bergabung dengan SA.? " Tanya pak Kamso sambil menyodorkan formulir pendaftaran.


" Apa keuntungannya kalau saya bergabung.. ? " Tanya Fakha yang menghentikan langkahnya.


" Yang jelas, kami akan membantumu menemukan pelaku pembunuh ayahmu.. " Jelas pak Kamso.


Fakha pun meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun lagi, ia melangkah meninggalkan formulir pendaftaran yang di pegang oleh pak Kamso.


" Saya tunggu 2 hari lagi, seperti yang tertulis dalam formulir ini. " Ucap pak Kamso sambil merapihkan meja kerjanya.


Pukul 09:00 pagi.


" Waaahhh hari minggu pagi... Selamat pagi semuanya " Ucap Doe yang bangun kesiangan sambil membuka jendela asramanya.


Tampak semua orang sedang beraktivitas. Menjemur pakaian dan lain sebagainya.


" Hufh...si Jagad belum pulang juga, ini kan jatah dia bersihin kamar. Huaaaaahhhm... Kenapa ini mata rasanya berat banget. " Gumam Doe yang satu kamar dengan Jagad, lalu melanjutkan tidurnya.


Semua orang yang tinggal di asrama sedang bermain setelah melakukan aktivitas pribadinya, namun Fakha dan kelompoknya masih tertidur pulas hingga malam menghampiri lagi.


" Hay Aizhar, jam berapa ini...?" Tanya Raika yang baru bangun.


" Astaghfirullah, jam 09:12 malam, sudah berapa sholat yang gua tinggalin...? Habis lah gua...!! " Aizhar panik dan buru-buru sholat.


" Kenapa ada formulir disini....? " Tanya Aizar seusai melakukan sholat.


" Itu formulir dari pak Kamso, beliau mau kita bergabung jadi agen rahasia, dan gua MAU BANGETTT... akhirnya ada yang mengakui kemampuan gua. Liat nih undangan ini ditujukan untuk Fakha, Sabda, Roso, Ucok, gua dan lo.. " Ucap Raika.


" Jadi kita yang berhasil lulus ujian itu... " Ucap Aizhar terpotong.


" Yaaa kita diundang untuk jadi anggota resmi, ini kan cita-cita kita.. " Ucap Raika.


" Ya sih.. Tapi undangan ini di peruntukan satu orang bawa satu undangan untuk bisa masuk. Raika ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan ku.. " Ucap Aizhar tertahan.


" Siapa takuuuuuttt.....!!!!!! " Ucap mereka secara bersamaan.


" Berarti yang lainya juga dapat formulir kaya gini ya....? " Ucap Raika.


" Yeaayyy berarti tim kita lengkap... " Ucap Aizhar.


Di ruang Fakha


" Fakha..? Apa lo terima tawaran dari pak Kamso untuk bergabung dengan mereka? "Tanya sabda yang baru bangun dari tidurnya dan melihat formulir.


" Entahlah, lagi gua pikir.. " Jawab Fakha.


" Kalo lo ga ikut, gua ga ikut... " Ucap Sabda.


Dua hari kemudian.


" Yeaaayyy, akhirnya kita bisa jadi agen detektif..!! " Ucap Roso bahagia.


" Sssttt....!! Jangan berisik.. Malu-maluin aja. " Ucap Raika.


" Kenapa kita ga lewat ruang pak Kamso aja ya...? " Tanya Doe.


" Kalo kita lewat ruang pak Kamso... Nanti banyak yang bertanya-tanya... Soalnya inikan siang hari... Beda sama waktu kita menyelinap kemarin pas malam hari, kan ga ada yang tahu. " Jawab Jagad.


" Hay Jagad emangnya kita mau kemana...? " Tanya Aizhar.


" Sudahlah ikutin aja dulu.. Nanti pasti tahu.. Kalian sudah lengkap belum...? " Ucap Jagad.


" Ini kan ruang rahasia, apa kita mau lewatin jebakan demi jebakan itu lagi...? " Tanya Roso trauma.


" Gua kan udah bilang, ikutin aja dulu, terus pertanyaan gua ga di jawab lagi...!! " Ucap Jagad.


" Kita belum lengkap, tinggal nungguin Fakha sama sabda.. " Ucap Raika.


" Ya sudah.. Kita tunggu dulu aja mereka di kantin.. " Ucap Jagad.


" Setuju kali aku kalo macam tu, berangkat dengan perut terisi... " Ucap Ucok.


Mereka pun menunggu.


" Itu tandanya kita harus menyusulnya dalam 5 menit, jadi kita akan menyusul pak Kamso secara bergantian dengan frekuensi 5 menit, biar orang sekitar kita ga curiga.. " Ucap Jagad.


" Sebentar... Kenapa satpam itu berdiri di sana..? " Ucap Roso menunjuk satpam yang berdiri dekat jalan rahasia.


" Mereka juga anggota SA yang menyamar sama seperti pak Wardi.. Mereka ditugaskan untuk menjaga agar tidak ada orang lain selain kita yang masuk" Ucap Jagad.


" Jadi, siapa yang mau masuk duluan...? " Tanya Ucok.


" Baiklah, lo masuk duluan aja, habis itu terserah siapa berikutnya, gua terakhir. Soalnya kalo yang terakhir ga masuk dalam waktu 5 menit, maka bakal ditinggal. Yang ga bawa undangan ga boleh masuk,coba periksa undangan kalian bersama formulir pendaftaran. " Ucap Jagad.


" Lha emang mau kemana tho.. Sak tenane..? " Tanya Roso sambil menyiapkan undangan.


" Lihat aja nanti... " Jawab Jagad.


Akhirnya mereka pun masuk sesuai arahan Jagad.


" Tinggal si Jagad yang terakhir, soalnya si Fakha dan Sabda ga keliatan" Ucap Raika kepada pak Kamso di dalam ruang rahasia.


" Hmmm.... Apa jangan jangan mereka tak ingin bergabung... " Gumam pak Kamso.


" Baiklah, kita tunggu saja. " Ucap pak Kamso.


5 menit kemudian.


" Jagad kemana, ko malah ga keliatan...? " Tanya Roso.


" Sudah 5 menit, kemana saja mereka ini, selalu saja bikin ulah... " Ucap pak Kamso.


" Terus gimana pak...? " Tanya Doe.


" Aku beri mereka kesempatan 5 menit lagi... " Tegas pak Kamso.


Di dalam asrama Fakha.


" Hay Fakha, di luar ada pak Windu, katanya mau jemput lo pulang...! " Ucap Sabda.


" Pak Windu...? " Tanya Fakha.


" Iya, pak Windu Assistant ayah lo.. ! " Tegas Sabda.


" Terus dimana dia sekarang..? " Tanya Fakha.


" Dia di luar, lagi di periksa sama Satpam Asrama, emangnya kenapa sih, kok lo keliatan tegang gitu...? " Tanya Sabda.


" Gua ga punya waktu buat ngejelasin, sekarang lo bantu gua untuk keluar dari asrama ini tanpa sepengetahuan pak Wardi. " Pinta Fakha.


" Lagi...?! Lari lagi, bolos lagi, kalian ditunggu pak Kamso.. Kenapa belum ke sana? " Ucap Jagad dari arah jendela.


" Jagad...? Kenapa harus lo yang dateng disaat kek gini sih..? " Ucap Fakha.


" Hay Fakha... Pak Windu datang kemari, dia masih di lantai satu, kita masih punya kesempatan lari melalui jendela. " Ucap Sabda.


Mereka pun keluar melalui jendela dengan alat milik Jagad.


" Kita harus segera sembunyi sebelum dia tahu keberadaan kita. . !! " Ucap Sabda.


" Tapi dimana, disini tempat terbuka, kecuali sumur tua itu.. " Ucap Jagad.


" Ga ada pilihan lain, ayo kita ke sana...!!! Pak Windu sudah di kamar gua, tuh liat... Dia ada di jendela.. " Ucap Fakha.


Mereka pun lari ke arah sumur tua di dekat asrama Fakha, Jagad mulai memasang alat untuk menuruni tempat tersebut, mereka bertiga pun bergelantungan pada seutas tali karmantel statis yang di kaitkan pada cincin sumur yang rapuh. Tak lama kemudian, semen tempat dikaitkan tali tersebut runtuh, mereka pun terjatuh kedalam sumur tua tersebut.


Sementara pak Windu yang kehilangan jejak Fakha akhirnya pergi meninggalkan sekolah tersebut.


Di dalam ruang rahasia.


" Ayo.. Kita tinggalkan mereka, ini sudah lebih dari 7 menit penantian kita. " Ucap pak Kamso.


" Pak, apa kita akan benar-benar meninggalkan mereka..? " Tanya Doe.


" Kalian harus ingat..!!! Kedisiplinan adalah hal utama untuk menjadi seorang agen... !!! " Ucap pak Kamso menggelegar membungkam mulut kecil mereka.


"Ayo kita berangkat...!! " Tegas pak Kamso beranjak dari duduknya.