
" Waaaahh ... Ternyata disini kalian...! " Ucap Sabda terkejut.
" Harusnya gua yang bilang kalimat itu, ngapain lo disini...? " Tanya Fakha.
" Gua kedinginan, ga taunya pintu kebuka, tadinya gua cuma mau nutup pintu, tapi gua penasaran sama suasana malam disini, disini kan pake matahari buatan, terus kalo malem gimana keadaannya? Nah itu yang bikin gua keluar. " Jawab Sabda.
" Bisa aja.... " Ucap Dr. Bio.
" He he he.... " Sabda tersenyum sambil garuk kepala, padahal ga ada yang gatel.
" Hayyy mereka disini... " Teriak Doe memanggil sahabat lainya yang sedang mencari Fakha.
Mereka pun berlari menghampiri arah suara. Pecahnya obrolan tak dapat dihindari.
" Sepertinya dia memang bintang bagi sahabat- sahabatnya, sebaiknya aku tak perlu terlalu menghawatirkan keadaanya saat ini. Dia berpotensi untuk menjadi pemimpin masa depan. " Gumam Dr. Bio.
" Ayo kita balik ke asrama dulu, siap-siap menghadapi kelas pertama kita disini.. ” Ucap Aizhar.
Mereka pun berpamitan pada Dr. Bio untuk bersiap menghadapi kelas pertama mereka.
" Sepertinya Secret Academy semakin berwarna, ya kan Luby? . " Ucap seseorang dari arah belakang Dr. Bio.
" Yo e... Apalagi mereka masih punya jenjang yang sangat panjang, anak muda harapan masa depan... Gimana menurut Dr. Bio. ? " Tanya Luba.
" Sudahlah Luba dan Luby ga usah basa basi, sampaikan saja apa yang akan kalian laporkan padaku. " Tegas Dr. Bio.
" Saat ini ozza sedang dalam hibernasi, kita bisa melanjutkan penelitian kita disana. " Ucap Luby.
"Baiklah, siapkan perlengkapan kita saat ini juga, aku ga punya banyak waktu, kita berangkat sekarang. " Perintah Dr. Bio.
Dalam asrama, mereka berkemas menggunakan seragam yang sudah di siapkan oleh SA. Saat mereka melihat jadwal, mereka sangat terkejut karena yang menjadi coucha pada hari ini adalah prof. Techygi. Mereka pun cemas menghadapi hari pertama mereka bersama orang yang terkesan buruk dimata mereka pada pertemuan saat itu. Namun tekad mereka sudah sempurna untuk menghadapi apapun.
Dalam kelas yang penuh dengan suasana modern, mereka menanti kedatangan prof. Techygi. Keadaan menjadi hitam saat prof. Techygi datang membawa alat peraga. Prof. Techygi duduk tanpa sepatah kata pun dalam waktu yang lama, akhirnya Fakha memutuskan untuk mengajak temanya berdiri dan memberikan salam. Prof. Techygi menjawab salam tersebut dengan datar.
" Keluarkan yang ada di laci kalian, letakkan di atas meja. " Perintah prof. Techygi.
Mereka pun menuruti perintah dan mengeluarkan sebuah wadah berisi bumbu dapur ke atas meja.
Ucok mengangkat tangan lalu bertanya " Professor, ini buat apa? "
" Potong bawang merah yang ada di depanmu, lalu hirup aromanya " Tugas dari prof. Techygi.
" Serius prof. ? " Tanya Roso.
"Kamu mau ikut kelas, atau mau keluar? " Tegas prof. Techygi.
" Sudah sih turutin aja...!! ” Ucap Doe.
Sabda pun tak tahan melihat kejadian itu, ia berusaha menahan tawa, namun masih sedikit terdengar, suara tawa yang ditahan Sabda bocor dari mulutnya, membuat prof. Techygi menoleh ke arahnya.
" Apa yang sedang kamu kerjakan? " Tanya prof. Techygi kepada Sabda.
Suasana kelas semakin menegangkan dari detik ke detik. Prof. Techygi memaksa mereka untuk menghirup aroma bawang dari jarak 5cm dari hidung selama 2 menit. Perasaan mereka menjadi semakin tak karuan, bahkan Aizhar sampai hampir muntah dibuatnya. Sekali lagi prof. Techygi tak mau tau, siapa yang muntah dalam kelas harus membersihkan sendiri plus membersihkan ruangan setelah usai pelajaran. Tak ada yang tahu apa guna dari menghirup aroma bawang dan tak ada yang berani bertanya, sehingga yang mereka bisa lakukan hanyalah pasrah. Setelah 2 menin diletakkan dekat hidung, bawang diletakkan kembali ke meja selama 2 menit, lalu di hirup kembali begitu terus berulang sampai mereka benar-benar mengeluarkan air mata ketidak warasan.
Di tengah pelajaran, Fakha tiba-tiba teringat pembicaraan bersama Dr. Bio malam itu, sebelum Sabda menghampiri mereka, " Apa kamu susah tidur selama ini? Apa kamu sering mimpi buruk setiap menjelang pagi? Sleeping paralyzed? Juga gangguan tidur lainya?" Tanya Dr. Bio dengan lembut. Fakha terasa nyaman seperti berasa bersama Ibundanya, Ia pun menceritakan kejadian yang menimpanya hari itu. Setiap cerita yang di utarakan Fakha di dengar oleh Dr. Bio tanpa memotong sepatah kata pun. Dr. Bio mendengarkan Fakha bercerita hingga Fakha sendiri yang menyudahi ceritanya. Setelah itu Fakha menitikkan air mata tanpa suara. Dr. Bio mengusap rambut Fakha dengan lembut, Ia pun bercerita, bahwa dia punya anak perempuan seusia Fakha. Namun ia terpisah jauh dari anaknya karena pekerjaannya. Sudah sekitar 9 tahun tidak berjumpa. Dr. Bio merasa sangat kesepian karena hanya bisa mendengar suara anaknya melalui telepon, Ia tidak boleh melakukan video call dan lainya, hanya boleh melalui telepon, suaminya pergi jauh entah kemana, sementara anaknya tinggal bersama keluarganya yang lain.
" Kau mengalami trauma yang cukup parah, trauma bisa terjadi saat kau mengalami hal yang tak biasa kau alami, apalagi kamu menyaksikan kedua orang tuamu pergi dihadapan mu, dan kamu juga menghilangkan nyawa orang, sedangkan kamu ga pernah melakukannya. Saya bisa mengerti perasaanmu, apalagi kamu masih sekolah di tingkat dasar. Healing prosesnya akan lebih sulit daripada orang dewasa. Kamu yang sabar ya, kalau sesuatu terjadi sama kamu nantinya, jangan sungkan untuk cerita sama kak Bio, oke... " Nasehat Dr. Bio kepada Fakha agar semakin tenang.
" Fakha.... ” suara Sabda mengganggu.
" Fakha.....!!!! Itu prof. Techygi manggil...! " Ucap Sabda memanggil Fakha yang sedang melamun.
" Ehhh, I, I iya Professor ada apa...? " Fakha terkejut dengan bawang merah menempel di salah satu lubang hidungnya.
" Aku menyuruhmu menghirup aroma bawang merah itu, bukanya kau masukkan kedalam lubang hidungmu. " Prof. Techygi marah.
Suasana kelas pun tetap sunyi, karena suara tawa mereka tertahan di dalam kepala mereka, Doe hampir tak bisa menahan kuatnya semburan tawa yang berkumpul di dalam mulutnya, Aizhar menutupi mulutnya dengan sapu tangannya, hampir saja pecah suasana kelas saat itu. Namun mata Prof. Techygi berkeliling ke setiap sudut, membuat mereka tak bisa tertawa, mereka hanya bisa melakukan apa yang di perintahkan oleh prof. Techygi.
Pukul 12:00, Akhirnya tiba saat yang dinantikan. Waktu belajar hari ini telah usai. Mereka merasa sangat merdeka. Tawa mereka pecah seketika di luar ruangan seperti lava yang memecahkan gunung, mereka tak henti-hentinya membicarakan keanehan prof. Techygi Robix.
setelah ngobrol kesana kemari, perut mereka terasa lapar, akhirnya mereka memutuskan untuk
melangkahkan kaki mereka menuju warung makan yang ada di dekat taman bermain.
" yeeeaaayy kita ke kantin... emang ini kantin ya... ? " Ucap Aizhar.
" hay Fakha, kau tahu tidak, tadi ada yang menangis saat kau menghilang... " Ucap Ucok.
" lehh Iyo tenan mau ki ono sing nangis.. " timpal Roso.
Fakha hanya tersenyum mendengar celotehan mereka.
" Siapa yang nangis..? " Tanya Sabda.
" itulah, gadis manis yang mengidolakan Fakha sedari dulu kala jaman batu jaman purba jaman masih belum ada textil untuk nutupin aurat. " Ucap Doe menunjuk salah satu sahabat perempuan mereka.
" enak aja, gua nangis tu karena gua kangen ama rumah yaaa... " Jawab Aizhar.
" masa sih, kayaknya lo itu habis sholat, terus minum teh sebelum mandi, Tiba-tiba Doe sama ucok ribut di depan asrama kita nyariin Fakha, denger kata Fakha ilang, lo langsung loncat keluar sambil nangis, ya kan...? " Ledek Raika tersenyum nakal.
" Udahlah becanda aja kalian ini, kita sudah sampe warung makan nih, pada mau pesen apa? " Ucap Fakha.