
Waktu menunjukan pukul 12:45.
Fakha dan kedua temanya akhirnya berada 1 kilo meter sebelum sampai di tujuan.
"Itu rumah lo..? Dari sini masih keliatan lho.." Tanya Sabda yang sedang mengagumi besarnya rumah keluarga Fakha.
"Padahal gue udah sering liat tu rumah, tapi gue ga tau kalo itu rumah elu. " Ucap Sabda yang lagi-lagi masih terkagum-kagum.
"Aaahhh... Sudahlah..!! Sekarang, gimana caranya kita sampai ke sana? Karena gua masih ga percaya sama kalian..!" Tegas Jagad dengan nada kesal.
"Sebelumnya, ada yang mau gua kasih tau ke kalian, jalan ke arah rumah gua itu ada banyak, tapi cuma ada satu yang bener-bener menuju rumah, kalo sampe salah pilih, ada beberapa jalan yang mengandung jebakan. " Ulas Fakha.
Kedua teman Fakha pun hanya bisa diam dan saling pandang.
"Oke... Gue lagi coba masukin ke otak dulu. Itu jalan yang dibuat jadi labirin ya? Lha terus kepiye caranya kita bertiga kesana? " Tanya Sabda ragu.
"Pake motor lah, soalnya jemputan Gua ga mungkin dateng.. " Ucap Fakha.
"Waah.. Wong sugih, masih SD kelas 4 sudah bisa bawa motor. " Ucap Sabda.
"Bukan gitu... Kita naik ojek... Kebetulan di sekitar sini ada pangkalan ojek. " Jelas Fakha.
Tanpa buang waktu, mereka menuju pangkalan ojek terdekat.
Sebelum mereka sampai ke pangkalan, dari jauh para tukang ojek menawarkan jasa.
"Dek..! Ojek dek.. Murah aja... Mau kemana tujuanya dek...? Biar abang anter...! " Teriak salah satu tukang ojek.
"Pake ojek punya saya lebih juuooosss lagi lho... Bisa jumping, gaya miring, ga sampe masuk siring... Mau kemana hayooo..." Timpal tukang ojek lainya.
"Punya saya ga banyak bacot, jalan ga kaya bekicot, di gas langsung sroooottt..!! " Timpal tukang ojek lainya dengan gaya hip hop.
"Bang... Bisa ga anterin kita ke jln. Chana Limbata rumah no 99. Di Bukit Tengkorak...? " Fakha menjawab pertanyaan para tukang ojek dengan lantang.
Sejenak suasana yang riuh menjadi hening, suara lantang dari para tukang ojek telah terganti dengan suara jangkrik dan burung yang lewat.
"Gimana bang..? Bisa ga? " Tanya Fakha kembali.
"Aduh maaf dek, Abang kelupaan tadi mau kasih makan kambing di rumah, permisi ya.. " Ucapnya dengan buru-buru, dan segera meninggalkan pangkalan, menuju yang penting jauh, nanti balik lagi.
"Eh.. Iya e.. Anu... Ini.. Itunya saya anunya kejepit, jadi saya mau lihat.. " Timpal tukang ojek lainya yang berusaha mencari kata-kata di dalam kepalanya, namun tak jua ada.
"Bang... Ayolah bang.. Tolongin kita.. Nanti bayarannya saya tambahin 10 kali lipat...! " Ujar Fakha meyakinkan tukang ojek yang masih tersisa.
Meskipun Fakha dan temanya berusaha meyakinkan para tukang ojek, namun tetap tidak ada yang mau mengantarkan, yang ada justru mereka buat banyak alasan dan pergi.
Seketika pangkalan pun menjadi sepi, hanya tersisa satu orang lagi, Ia tampak menikmati alunan musik yang di sumbat kan ke telinganya seraya menggerakkan badannya, sehingga Ia tak tahu apa yang sedang terjadi.
Tanpa pikir panjang, mereka bertiga langsung duduk di motor tukang ojek tersebut, sehingga membuat tukang ojek terkejut.
"Ehh.. Pada mau kemana dek..? " Sapa tukang ojek sambil melepas penyumbat telinga.
"Tolong bang anterin kita ke jln. Chana Limbata rumah no 99. Di Bukit Tengkorak." Tegas Fakha.
"Eettt dah.. Dek.. Ke tempat lain ngapa? Abang ga bisa kalo anterin kalian ke tempat itu." Jelas tukang ojek dengan logat Betawi.
"Sudahlah bang, kita lagi buru-buru nih...! " Ucap Jagad.
"Buset dek.. Kaga ngarti juga ye!! Abang kaga bisa, mending cari kang ojek lain dah... " Jawab tukang ojek bernada kesal.
Fakha pun akhirnya turun dari motor dan menatap tajam ke arah tukang ojek.
" Istri abang sebentar lagi mau melahirkan, HPL nya sekitar 2 hari lagi, sedangkan dana untuk melahirkan masih kurang. Bagaimana kalau biaya ojek sampai ke sana saya bayar Rp.2jt. Untuk tambahan. Uangnya langsung saya transfer ke rekening abang." Rayu Fakha dengan iming-iming.
" Tau dari mana dek.. Tapi emang bener sih, tambah dikit yak, 200 kek. Langsung meluncur..!! Pocong, Kunti, Gederuwo hantam dah.. " Tegas tukang ojek yang berusaha meletakan keberanian di atas ketakutannya demi keluarga.
"Deal, ayo bang tancap... " Tegas Fakha sembari naik ke atas motor.
Setibanya di depan pintu gerbang yang bertulis no 9. Hawa dingin seketika menyerang ke dinding kulit yang membuat merinding. Rimbunnya pohon membuat suasana semakin mencekam, karena keadaan menjadi gelap tak tersentuh sinar matahari, di iringi lirih suara tawa dan teriakan minta tolong yang sesekali terdengar di telinga. Terkadang tampak manusia tanpa kepala di pinggir jalan lalu menghilang, wanita dengan baju putih yang terus melayang dari pohon ke pohon lalu menghilang, masih banyak penampakan lain yang membuat merinding.
Setelah sampai sekitar 100 meter dari rumah Fakha. Tukang ojek pun menghentikan kendaraannya.
"Maaf ya dek, abang cuma bisa anter sampe disini aje.. Ga bisa lebih jauh. " Ucap tukang ojek sembari menahan getaran di sekujur tubuhnya.
Rumah itu memiliki hawa yang kuat, yang membuat orang enggan untuk mendekat.
"Hiiiihihihihihihihhhiiii.....!!!! " Terdengar suara tawa melengking tiba-tiba! Di ikuti penampakan wanita berbaju putih tepat di hadapan tukang ojek lalu menghilang.
"ABANG PERMISI DEEKKKKK.....!!!!!!" Suara tukang ojek berteriak dengan keras, sambil pergi meninggalkan mereka bertiga.
"BANG..!!!! Motornya GA DI BAWA..!!???" Suara Fakha yang berteriak bingung, melihat tukang ojek berlari terbirit-birit meninggalkan motornya.
"Yaelah dahhh... Lupa...!! " Sambil berlari menuju motornya dengan wajah resah dan celana basah.
"Ngggggeeeeenggg....!!!!!! " Suara mesin yang di gas pol hampir tak terkendali.
"JANGAN BELOK KALO ADA PERSIMPANGAN YA BANG...!! LURUS AJA...!!" Teriak Fakha meyakinkan agar tukang ojek ke arah jalan yang benar.
"Ooohhh... Jadi ini gunanya, alat yang elu pesen ama gue waktu itu, Hologram 3D...!?" Ucap Sabda dengan bangga.
"Aaahhhh... Sudahlah, kembali ke tujuan utama kita. Gua ga terkejut dengan trik sulap murahan kek gini.. " Ucap Jagad dengan arogan.
"Ngomong ama celana elu...! Basah kenapa tuh..? " Ucap Sabda menyindir.
Percakapan mereka terhenti saat mereka melihat Fakha yang mulai mengendap-ngendap ke arah rumah. Sabda dan Jagad pun mengikuti jejak Fakha. Mereka merapat kearah dekat gerbang.
"saya tidak mau, jangan paksa kami melakukan itu....!!! Segera angkat kaki dari rumah kami.....!!!! Terdengar suara teriakan pria dewasa yang tak lain adalah Ayah Fakha.
Fakha pun berusaha melihat dari sudut gerbang dengan perlahan, agar tidak ketahuan.
" Sudahlah cepat tanda tangani saja, kami sudah tidak punya waktu lagi...!!! " Ucap pria asing yeng berpakaian serba hitam, manyodorkan sejumlah map.
Situasi benar benar-benar menegangkan, banyak orang berpakaian serba hitam dan menggunakan masker, sehingga sulit untuk dikenali, hanya satu ciri-ciri yang begitu nampak, yaitu huruf S A yang berada di lengan jaket mereka.
"S A? Apa yang mereka lakukan disini? " Gumam Jagad dengan suara berbisik.
"Apa lu tau, siapa mereka itu? " Tanya Fakha.
"Gua ga tau pasti, tapi gua pernah denger nama itu, S A adalah Secret Academy, mereka adalah agen rahasia. Tapi setau gua, mereka ga pernah memaksa orang untuk tandatangan kontrak. Kecuali, dia.... " Jelas Jagad yang kemudian menghentikan perkataannya.
"Dia siapa? Apa lo kenal dia? " Tanya Fakha penuh penasaran.
"Gua masih belum yakin, sudahlah, sekarang apa yang harus kita lakukan? Mereka semua adalah agen terlatih bersenjata lengkap siap tempur. Sedangkan kita anak kelas 4 SD dengan tangan kosong." Jelas Jagad.
"Piye nek kita wong pake mantel kamuflase punyaku...? " Saran Sabda.
"Jangan..!! Itu akan percuma, karena mereka memiliki kacamata anti kamuflase. Kita hanya akan ketahuan." Tegas Jagad.
"Lah ko, koe lebih ngerti daripada kita wong? Seharusnya kita yang tanya, siapa elu sebenernya? " Tanya Sabda penuh penasaran.
"Sudahlah.. Tak perlu kita bahas itu disini..!! Gua cuma pingin ortu gua selamat. Sekarang kalian berdua bantu gua cari solusi."
Ditengah perdebatan mereka, muncullah sosok laki-laki dari arah belakang rumah.
"Den...!! Lewat sini den." Panggilnya dengan sedikit berbisik.
"Eh.. Pak Windu. Apa pintu rahasia sudah dibuka?" Tanya Fakha kepada asisten rumah tangganya tersebut.
"Sudah den.. Ayo kita lewat sini." Jawab Pak Windu sambil menunjukkan jalan yang benar.
Lalu mereka semua masuk melalui jalan rahasia.