
Pukul 20:30 WIB. Asrama putra SA.
Doe dan yang lainya membicarakan tentang kisah yang di ceritakan oleh Chef Heerlik, mereka sangat terinspirasi dengan kisah tersebut, mereka berharap suatu saat nanti, mereka bisa seperti Chef Heerlik.
Malam semakin larut, sudah waktunya bagi para anggota baru untuk tidur, kecuali Fakha yang masih belum bisa memejamkan matanya, ia
mulai mengingat-ingat lagi apa yang disampaikan Dr. Bio saat itu. " Fakha, gangguan tidurmu ini akan sangat sulit dihilangkan kalo kamu masih aja inget sama kejadian itu. " Ucapan Dr. Bio yang masih terngiang di telinga Fakha.
Fakha tak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa duduk berayun dan merenung. " Dr. Bagaimana bisa saya melupakan kejadian yang menimpa saya tepat didepan mata saya "
" Banyak cara yang bisa kamu lakukan, seperti melakukan banyak kegiatan atau Coba kamu lakukan menjelang tidur malam atau kapanpun kamu butuh. Caranya adalah pejamkan matamu, lalu ingat-ingat wajah orang lain yang paling deket dengan kamu, atau pujaan hati mungkin. " Fakha tersenyum sendiri mengingat perkataan Dr. Bio.
Fakha mulai mencoba memejamkan matanya, ia membayangkan berada ditempat yang damai, namun ketika ia berada di alam khayalnya, wajah Aizhar tampak sangat nyata menatap dirinya yang sedang bersantai sambil menikmati pemandangan di pinggir pantai. Fakha pun terkejut, ia langsung beranjak dari khayalannya, " Ga mungkin!!! Kenapa dia harus ada dalam khayalan...? " Gumam Fakha sambil menggelengkan kepalanya.
Fakha menatap sekelilingnya, para sahabatnya sudah pada tertidur pulas, kali ini ia mengalami insomnia lagi, namun ia tak dapat menemui Dr. Bio karena beliau sedang bertugas di luar daerah, ia pun keluar seperti biasanya, duduk berayun di taman bermain seorang diri.
Waktu menunjukkan pukul 01:00. Sabda diam-diam mengikuti Fakha dari belakang, ia pun duduk berayun di sebelah Fakha. Tanpa basa basi sabda bertanya pada Fakha tentang pak Windu, ia pun bertanya kenapa Fakha tak memberitahu keadaan Fakha saat itu, malah ia bercerita kepada Dr. Bio yang belum lama mereka kenal.
" Maaf Sabda, bukanya gua ga mau cerita ama lo, tapi gua waktu itu baru tahu pas gua pulang sekolah satu hari sebelum kejadian, gua mau cuci baju sekolah yang kita pake waktu kejadian berdarah itu, baju itu sudah lama ga gua pake karena gua selalu sedih kalo liat baju itu, gua jadi keinget ama orang tua gua, tapi pas itu gua coba untuk berani pegang baju itu untuk gua cuci, pas gua chek dikantong baju gua ada secarik kertas, gua yang penasaran langsung aja gua buka kertas itu, ternyata isinya adalah
Peringatan dari ayah tentang pak Windu, dia ingin menguasai kekayaan ayah sepenuhnya, gua mau cerita ama lo, tapi kita ga punya banyak waktu dengan semua kegiatan kita sekarang ini, gua harap lo bisa maafin gua. " Fakha bercerita tentang hubungan pak Windu yang mengkhianati keluarga Fakha.
" Mmmm... Gua ga marah cun, gua juga yang salah sudah buruk sangka ama lo, jadi gitu ceritanya, terus apa lo punya keluarga lain? Kalo pas libur sekolah, lo mau kemana? " Tanya Sabda.
" Gua dah ga punya sapa sapa lagi cun, liburan ya tinggal liburan, entah mau kemana. " Ucap Fakha Lesu.
" Lo bisa ko tinggal disini kayak gua, disini kan tempat tinggal masih banyak... " Ucap Jagad yang tiba-tiba muncul.
" Hey.. Dari tadi ya lo di sini, ngupingin kita orang? " Ucap Sabda.
" Enak aja, gua baru nyampe, gua habis ada perlu, sama pak Kamso disuruh ngeliatin sekolah kita. " Jawab Jagad.
Malam itu mereka habiskan dengan berbincang dan bersenda gurau, apalagi selama pelatihan mereka tidak pernah bertemu dengan Jagad karena Jagad bukanlah anggota baru di SA.
Satu Minggu masa pengenalan pun telah berakhir, mereka pun kembali untuk bersekolah. Sesampainya di sekolah, mereka disambut oleh teman sekelas mereka, pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari teman-teman mereka.
" Akhirnya, kita bersekolah lagi... " Ucap Doe.
" Setelah mengalami penyiksaan berkedok pelatihan" Ucap Ucok.
" Tapi kalian suka kan? " Tanya Jagad tersenyum.
" Lo mah enak sekarang dah jadi coucha, lha kalo kita... " Ucap Roso.
" Berarti ga semudah itu ya untuk bisa jadi agen rahasia? " Ucap Raika.
" Tapi gua yakin kalian pasti bisa" Ucap Jagad.
Waktu pulang sekolah pun telah tiba, mereka kembali ke asrama Masing-masing. Tiba-tiba Aizhar menghubungi mereka untuk berkumpul di asrama Fakha.
" Ada apaan sih, ko kita suruh kumpul disini ? " Tanya Doe.
" Dengerin semuanya, kalian tau ga temen sekelas kita Ayuta Gendis? Dia ga masuk sekolah hari ini bukan karena izin atau sakit, tapi dia lagi di culik,2 hari yang lalu dia baru aja pulang ke rumahnya, kasihan orang tuanya, nunggu putrinya hadir bukanya putrinya yang muncul malah dapet ancaman dari penculik dan penculiknya minta tebusan ke orang tua Gendis, penculiknya juga bilang untuk ga ngasih tau siapapun, makanya orang tua Gendis membuat surat izin ke sekolah agar pihak sekolah ga tau kalau Gendis diculik. Jadi gimana menurut kalian? " Aizhar menjelaskan sebuah kejadian.
Semua mata tertuju pada Fakha, seakan meminta pendapat pada pemimpin mereka. Fakha hanya bisa terdiam dan berpikir sebelum memutuskan.
" Oke, stop ngeliatin gua kayak gitu, kita bakal tolongin temen kita hari ini juga, meskipun kita belum punya surat perintah dari pihak manapun, guys... Gua benci kriminal, cukup gua yang jadi korban. Aizhar lacak lagi dimana Ayuta sekarang, Jagad gua butuh lo karena lo disini yang paling bisa beladiri, Sabda gua butuh lo untuk backing gua. " Ucap Fakha.
" Terus yang lain gimana? " Tanya Doe yang ga ikut dalam daftar.
" Sorry buat yang lain, kita ga bisa pergi semuanya, karena nanti dicurigai. " Ucap Fakha.
" Sebenernya gua bisa minta surat ke pihak SA, tapi bener yang di bilang Fakha, kita ga bisa ikut semua, karena dalam 1 tim maksimal 4 orang, 1 orang coucha dan lainya anggota, di sini cuma gua yang punya akreditas sebagai coucha jadi ga bisa bawa lebih dari 3 orang, sekarang gua coba hubungi SA. " Jagad berusaha mencari dukungan.
Akhirnya setelah lama berunding melalui handphone pihak SA menyetujui pengajuan dari Jagad, namun tidak ada reward yang akan di dapat setelah menyelesaikan misi dikarenakan pengajuan tersebut belum ada di daftar dinding reward.
" Fakha, karena tugas ini gua yang jadi penanggungjawab gua mau ga mau harus memimpin kalian, dan buat kalian yang jadi anggota tim ini, mohon untuk menuruti semua perintah dari gua agar tercipta kerjasama tim yang diharapkan. " tegas Jagad.
Mereka bertiga menyetujui syarat dari Jagad, setelah itu mereka bersiap mengambil perlengkapan yang mereka butuhkan. Mereka pergi dengan menggunakan kendaraan sekolah yang sebenarnya itu adalah kendaraan SA yang dapat berubah tampilan menjadi kendaraan sekolah. Pak Kamso ikut mengawal mereka sampai ke depan gerbang utama Sekolah Harapan Nyala.