Secret Academy

Secret Academy
Sang Assistant



Assistant 1 menghindari serangan Roso, sebaliknya Assistant 1 melempar tubuh kecil Roso ke arah dinding yang membuat Roso kesakitan.


" Buaghhh...!!!! " Roso menahan sakit lalu tidak sadarkan diri.


" Gunakan sarung tangan kejut kalian... " Perintah Fakha.


Mereka pun mengambil sarung tangan di dalam ransel mereka.


" Waw.. Buat apa kalian pakai mainan anak-anak..? Lagipula, ruangan ini sangatlah sempit, kalian tak akan bisa menghadapi ku secara bersamaan. " Gertak Assistant 1.


" Ga usah banyak omong...!!! "


Fakha memulai serangan dengan berlari dan memukul ke arah wajah Assistant 1. Namun serangan itu dapat dengan mudah dihindari oleh Assistant 1, Ucok pun tak hanya tinggal diam, ia memulai serangannya setelah Fakha. Ucok mengarahkan pukulannya ke arah dada Assistant 1. Namun lagi-lagi serangan itu dapat dengan mudah dihindari.


Assistant 1 mengambil tongkat dari pinggangnya, tongkat tersebut berdiameter kecil dan panjangnya hanya 1 meter.


Tak lama kemudian Sabda menyerang dari arah belakang Assistant 1 yang sedang lengah sehabis menghadapi Fakha dan Ucok. Sabda melompat untuk dapat meraih kepala Assistant 1. Namun yang terjadi Sabda terjatuh keras ke lantai akibat pukulan tongkat milik Assistant 1.


Sabda setengah sadar, hampir saja tidak kuat berdiri, namun ia masih berusaha menegakkan badannya.


Sebelum Sabda benar-benar bisa berdiri, Assistant 1 menyerang Doe, Aizhar, dan Raika dalam hitungan detik. Mereka bernasib sama seperti Sabda, jatuh tersungkur di lantai dan sulit untuk berdiri kembali.


" Oh.. Ya... Aku lupa memberitahu kalian, tongkat ini memiliki energi kejut 5 kali lipat dibanding sarung tangan kalian, jadi lebih baik kalian lupakan saja untuk melanjutkan perjalanan kalian. " Ucap Assistant 1sambil memainkan stik miliknya.


" Gila... Hanya dalam beberapa detik saja, dia sudah bisa mengalahkan mereka.." Gumam Fakha sambil berusaha mencari titik lemah Assistant 1.


Hanya tersisa Fakha, Ucok dan Jagad yang masih mampu melawan.


" Hati hati dengan tongkatnya..! " Fakha memberi peringatan.


" Hmmm... Sejujurnya aku sangat kecewa dengan kalian, terutama kau... " Menunjuk ke arah Fakha.. "Aku dengar, kau bisa mengalahkan Toyo seorang diri, sampai-sampai Toyo terluka parah, tapi.... Aku rasa kalian tetap anak kecil, yang tak berguna... Itulah kenapa orang tuamu bisa mati, mereka mati karena kau yang lemah, FAKHA.....!!!! " Assistant 1 memprovokasi Fakha.


" Fakha....!!! Jangan bertindak ceroboh.... " Ucap Jagad memberi peringatan kepada Fakha.


" Apa yang kau tahu tentang Hunter....? Dimana dia....?? " Tanya Fakha dengan wajah tertunduk dan mengepalkan kedua tangannya Sekuat-kuatnya.


Nafasnya berhembus kuat jika teringat kejadian kala itu.


" Fakha...!!! Jangan dengarkan dia...!! Dia sedang berusaha menghancurkan konsentrasi lo.!!! " Teriak Jagad yang tidak terlalu jauh dari Fakha.


" Ha hahahahaha...!!! Aku sangat mengenal Hunter, karena akulah assistant utamanya, mayat orang tuamu itu seperti meminta tolong saat Hunter membakar seluruh bagian rumah...!! " Ucap Assistant 1.


" Diammmm kaaauuu....... Chaaaaattttthhhh.......!!!! " Teriakan Fakha yang berlari ke arah Assistant 1 dengan penuh amarah.


" Fakha...!!! Awaaasssss...!! " Teriak Ucok.


" Jluuugghhssss.... " Darah memercik ke dinding, tak di sangka tongkat milik Assistant 1 ternyata bisa di panjangkan dan memiliki ujung yang tajam.


" Jagaaaaad....!!! " Teriak Fakha sambil memegang tubuh Jagad yang melindungi Fakha dari serangan tiba-tiba Assistant 1.


Darah mengalir dari perut Jagad yang terkena tombak Assistant 1, Jagad berusaha menghentikan perdarahan dengan menekan luka yang menembus perutnya hingga bagian punggungnya. Tangannya berlumuran darah.


" Fakha... Jangan utamakan emosi pribadi dalam pertempuran nyata yang lo hadapi, gunakan akal sehat lo, berpikir yang jernih sebelum mengambil keputusan, keputusasaan hanya akan merugikan diri lo dan juga kawan lo.. " Ucap Jagad sambil menahan Sakit.


"Bruuuggghhh...!!! " Ucok terbaring ke lantai akibat serangan Assistant 1.


" Hati-hati Fakha.. " Ucap Jagad.


" Maafkan gua Jagad, tapi gua harus selesaikan ini... " Ucap Fakha beranjak dari duduknya yang menahan tubuh Jagad.


Fakha meletakkan Jagad perlahan ke lantai. Ia pun bersiap melawan Assistant 1.


Dari belakang tubuh Fakha, berjalan pria yang menggunakan seragam senada dengan Assistant 1, Lalu ia mengambil tubuh Jagad yang di penuhi darah begitu saja. Ia membopong tubuh Jagad ke arah Assistant 1.


Fakha hanya bisa terdiam melihat hal itu, karena bila Ia melawan orang yang mengambil tubuh Jagad, maka lawannya akan bertambah satu lagi.


" Satu lawan satu saja sudah mustahil untuk menang, apalagi satu lawan dua... " Gumam Fakha mulai khawatir.


" Oh... Ya... Aku lupa, tadi ada manusia yang tiba-tiba jatuh ke dalam ruang perangkap kami, sepertinya dia seorang guru olahraga, dari penampilannya, dia biasa melatih ototnya. Saat ini, guru olahraga kalian itu tampak kesepian di sana, jadi .... Aku bawakan saja salah seorang muridnya yang sedang sekarat untuk menemaninya... Sebelum aku membunuhnya.... Huaahahahahahaha..... " Ancam Assistant 1.


Fakha berpura-pura tenang untuk mengelabui musuh, seakan dia tidak perduli lagi dengan temannya yang lain. Ia memeriksa sarung tangan kejutnya sebelum bersiap menyerang.


" Kali ini, aku tidak akan kalah.. " Ucap Fakha kepada lawannya.


Tatapan mata yang tajam dari Fakha kepada lawannya, sambil berjalan perlahan Fakha berpikir strategi untuk menjatuhkan lawannya. Ia berhenti sejenak, dibawah kakinya terdapat tas milik Sabda yang terlempar, Fakha mengambil beberapa barang milik Sabda.


" Gua pinjam dulu ya cun.. Ntar gua balikin lagi... " Ucap Fakha kepada Sabda yang setengah sadar.


" Jangan lama-lama ya cun... " Jawab Sabda yang berusaha bangkit namun masih belum bisa.


Fakha berdiri dan siap menerkam mangsanya, ia berlari sambil melempar beberapa bola tenis ke arah Assistant 1.


Assistant 1 pun menghindari serangan tersebut dengan melompat, namun tidak terjadi apa-apa.


" Itu hanya bola tenis biasa." Gumam Assistant 1.


Saat Assistant 1 mendarat, tiba-tiba kakinya terasa lengket dan tak bisa bergerak. " Apa ini...? " Ucapnya. Ia melihat ke arah kakinya dan didapati ia menginjak bola pingpong, di dalam bola tersebut di beri lem super.


Saat Assistant 1 memperhatikan kakinya, Fakha sudah berada di hadapannya dengan tangan terkepal ke arah wajahnya. Ia langsung menghindari serangan tersebut dengan memiringkan badannya. Namun lutut Fakha mendarat tepat diwajahnya.


" Buagghhh.. " Lutut ke muka.


" Sial... " Ucap Assistant 1


Assistant 1 pun terjatuh.


" Tak ku sangka kau akan gunakan trik rendahan itu, namun sialnya itu berhasil mengenai wajahku. " Ucap Assistant 1 sambil berdiri dan menggerakkan kakinya yang seakan tak terjadi apa-apa pada kakinya.


Ia mengambil kacamata hitamnya yang jatuh ke lantai akibat serangan Fakha. " Untung ga pecah.... Ngomong-ngomong, kejutan lem kamu cukup bagus untuk pemula, tapi pengaruhnya masih belum kuat untuk sepatuku ini. Kau seharusnya memukul tepat pada titik lemah musuh, sehingga kau tak perlu mengeluarkan energi terlalu banyak. " Ucap Assistant 1.


" Knooot .....knooot.....knooot.... " Suara Alarm dari jam tangan Assistant 1.


" Wahhhh, ga kerasa ya.. Waktuku disini sudah habis... Saya rasa cukup sampai disini permainan kita kali ini..." Assistant 1 melihat jam tangan miliknya.


" Ga perlu repot untuk mengejar ku, aku tunggu kau di ujung koridor... Tapi sebelum itu... Aku khawatir ruangan ini akan semakin panas, dan pintu besi otomatis di depan akan tertutup. Itu akan membuat kalian jadi manusia panggang hahahahahaha.... " Ucap Assistant 1 sambil meninggalkan area tersebut.


" Good luck ...!! " Ucap Assistant 1 berhenti sejenak.