Secret Academy

Secret Academy
Tempat Asing



Muntahan Sabda tercecer kemana-mana, namun kereta tersebut sudah dilengkapi dengan Cleanser bot, sebuah robot yang auto membersihkan kekacauan akibat sampah organik dan non organik. Sekejap semua muntahan tersebut bersih. Perjalanan tersebut sangat tak biasa bagi mereka, kecuali Jagad yang sudah terbiasa dengan keadaan tersebut.


Kereta pun tiba di lokasi tepat 54 menit dari posisi awal.


" Baiklah anak-anak, gunakan tabung relaxing yang berada tepat di samping tempat duduk kalian, saya yakin kalian pasti pusing dan mengalami berbagai rasa yang tak nyaman, karena belum beradaptasi dengan kecepatan wrap kereta ini. " Ucap pak Kamso.


Mereka pun menggunakan tabung tersebut, lalu menghirup dengan perlahan udara di dalam tabung. Setelah mereka merasa rileks, pak Kamso menyuruh mereka untuk turun.


" Waaaaww.... Pak kita sedang dimana? " Ucap Sabda melihat sekelilingnya banyak Wrap Train di sana-sini, ada yang sedang di perbaiki, ada yang berjalan dan lain-lain.


Pak Kamso mengisyaratkan untuk terus berjalan " Ini adalah pusat stasiun Wrap Train milik SA di Lampung, mereka mengarah ke beberapa lokasi di seluruh lampung. Tapi bukan ini tujuan akhir kita. " Pak Kamso mengarahkan mereka ke arah pintu keluar.


Pak Kamso menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kecil bertuliskan " Exit."


" Tahan laju kalian... Kita akan keluar ruangan ini, tapi setelah berada diluar kalian ga boleh kasih tahu apapun kepada siapapun yang baru kalian temui di luar tentang keadaan ini. " Tegas pak Kamso.


" Siap pak....!!! " Jawab murid kompak.


Mereka pun keluar melalui pintu tersebut. Namun mereka sangat terkejut karena ruangan tempat keluar mereka adalah sebuah toko daging sapi, dan mereka keluar melalui pintu di ruang penyimpanan daging. Fakha dan lainya hanya bisa diam karena perintah pak Kamso untuk ga banyak bicara.Mereka menuju area pesawahan.


Setibanya di tengah sawah yang sepi. " Nah... Itu tujuan kita... " Ucap pak Kamso menunjuk sebuah gubuk tua yang berada di tengah sawah.


" Kita mau belajar jadi dukun ya pak..? " Tanya Sabda.


" Bukan... Itu kandang buat kita latihan garap sawah... " Ucap Doe.


" Bukan lai... Itu tempat kita mengasah kemampuan kita menangkap kodok di malam hari... " Ucap Ucok.


" Plak pok plak...!!!! " Suara tamparan.


"Kalian ini malah semakin menjadi-jadi. Sudah bapak bilang untuk ga ribut di luar area... " Ucap pak Kamso.


" Maaf pak... " Ucap Doe menahan sakit akibat stempel 5 jari di pipinya.


Akhirnya mereka masuk kedalam gubuk yang besarnya hanya 5x4 meter tersebut. Betapa terkejutnya Fakha dan lainya mengetahui bahwa gubuk itu bukanlah gubuk biasa, melainkan akses masuk kedalam sebuah ruangan bawah tanah. Tempat itu dijaga oleh 2 orang yang menyamar jadi petani. Mereka turun menggunakan lift untuk masuk ke ruang bawah tanah.


Lift pun berhenti saat mereka sampai di tempat tujuan, pintu lift terbuka perlahan seperti membuka rahasia. Mereka terkagum-kagum melihat hamparan gedung dan jalanan yang berhiaskan bunga-bunga dan juga tanaman-tanaman yang terdapat di luar ruang bawah tanah. Ada juga lapangan hijau yang di tumbuhi rumput. Tempat ini tak seperti di dalam tanah, melainkan sebuah kota tersembunyi.


" Sebelum kalian bertanya, bapak akan jelaskan terlebih dahulu. Oxygen yang kita hirup ini menggunakan tumbuhan yang tumbuh di dalam ruangan ini seperti yang kalian lihat, lalu untuk menjalani proses fotosintesis mereka, kami menggunakan matahari buatan yang bisa kita atur kapan dibutuhkan. Jika ada pertanyaan silahkan angkat tangan kalian. " Ucap pak Kamso.


" Hay anak-anak... Bagaimana perjalanan kalian..? " Sapa seorang wanita berpakaian putih khas laboratorium.


Mereka pun menoleh ke arah sumber suara yang tepat di belakang mereka.


" Sepertinya aku pernah melihatnya.. " Ucap Aizhar kepada Raika dengan lirih.


" Hai gadis berjilbab yang manis, akhirnya kita jumpa lagi ya..? " Sapa wanita yang di pakaiannya bertuliskan Bio.


" Aaahhh... Ya.. Ibu ini kan yang waktu itu menyamar jadi petugas Damkar.. " Ucap Aizhar.


" Jangan panggil aku ibu dong, terlalu formal, panggil saja kak Bio, tentu saja itu bukan nama asliku.. " Ucap Bio


" Waaahhh cantik kali kak Bio ni... " Ucap Ucok terpana.


Bio pun tersenyum melihat kelakuan bocil dihadapannya. Ternyata bukan cuma Ucok yang terpana, Doe dan Sabda juga melongo.


" Hay... Kalian ini sedang apa sih...? " Tanya Aizhar.


" Ahhh... Baiklah.... Terimakasih Ny. Bio. Aku titip mereka selama satu minggu ya? Sudah lama aku tak menghirup udara kebebasan. Aku juga rindu tempat ini... " Ucap pak Kamso.


" Sebentar pak... " Ucap Fakha.


" Satu minggu....!!?? " Tanya Doe.


" Kita kan belum izin sama orang tua pak. .. " Ucap Aizhar.


" Tenang saja, tim kami sudah mengurus itu semua, semua hanya akan tahu kalau kalian di ajak kepsek untuk study banding... Jadi kalian di beri waktu 7 hari untuk dapat beradaptasi. " Jawab pak Kamso.


" Kita ga bawa salin pak...? " Ucap Raika.


" Kalian sudah di fasilitasi disini, segala keperluan kalian selama satu minggu ini sudah kami tanggung, apakah kalian siap untuk jalan-jalan ?" Ucap Bio merayu anggota baru.


" Yeaaay... Jalan-jalan....!!! " Ucap Doe bersemangat.


Meskipun rasa khawatir dan takut dicari orang tua, mereka berusaha untuk mengikuti perintah.


Perasaan senang dan gelisah teraduk menjadi satu, terciptalah secangkir kebingungan yang berusaha mereka telan.


" Kak Bio, sudah berapa lama kaka di SA? " Tanya Sabda.


" Wah.. Pertanyaan bagus... Saya bergabung dengan SA sejak sekitar 10 tahun yang lalu. " Ucap Bio simple.


" Udah kak gitu doang penjelasannya? " Ucap Sabda.


" Saya disini mengikuti perintah..! Perintahnya adalah mengajak kalian untuk mengenal lingkungan.. " Bio tersenyum mengajak mereka berkeliling.


Bio mengajak mereka menuju ruang lab. Miliknya yang tak jauh dari lift. " Nah anak-anak, ini ruang praktek tempat saya bekerja. Tolong jangan sentuh apapun yang ada disini, oke..." Ucapnya sambil menatap ekspresi mereka.


Mereka pun terkagum-kagum melihat sekeliling. Ada beberapa orang yang sedang praktek membedah kodok, ada yang menyuntikkan sesuatu ke tubuh monyet, dan banyak lagi kegiatan yang berhubungan dengan Biologi.


Raika tampak sangat antusias dengan kegiatan tersebut, sepertinya Ia tak mau meninggalkan ruangan ini dengan cepat, Ia selalu mencatat setiap apa yang di ucapkan Bio.


" Selamat pagi Dr. Bio " Sapa salah seorang karyawannya.


" Selamat pagi Luba, aku ko ga liat Luby? Kemana dia? " Balas Dr. Bio sekaligus bertanya keadaan saudara kembarnya.


" Oh.. Luby lagi ke atas Dok. Lagi cari bahan untuk di teliti" Jawab Luba sambil melanjutkan pekerjaannya.


" Eh.. Ngomong-ngomong kita ada di daerah mana ya, perasaan dari tadi kita ikut pak Kamso ga ada yang tanya kita dimana? " Tanya Doe lirih kepada Ucok.


" Tak tau nya aku, apa kita sudah dibuat lupa sama pak Kamso. " Ucok menebak asal.


" Kita ada di Liwa, kenapa kalian ga tanya langsung sama pemandu kalian? Kedengeran lho bisik-bisiknya.. " Dr. Bio tersenyum simpul.


" Hehe... Iya maaf... " Doe tersenyum malu.


" Nah.. Sekarang kita sudah di luar Laboratorium Biologi. Kita akan lanjut ke laboratorium lainya, oke ga..? " Ucap Dr. Bio.


" Kak Bio, bisa ga kalo kita ke laboratorium pengisian bagian perut manusia? soalnya aku laper... " Tanya Roso memegang perutnya.


Dr. Bio tersenyum melihat tingkah bocil yang mulai lapar, " oke oke, kalian sudah lapar ya, yuk kita makan dulu...? Tapi sehabis makan, kita lanjut tournya lagi ya? " Dr. Bio mengarahkan mereka menuju rumah makan terdekat.


Anak-anak mengangguk setuju.