Secret Academy

Secret Academy
Tamu Berbahaya



Pukul 13:05.


Akhirnya mereka berada tepat di kamar tidur utama milik orang tua Fakha. Pak Windu adalah orang yang pertama keluar dari pintu rahasia, setelah memastikan semua aman, maka keluarlah mereka satu persatu.


"Oke.. Sekarang kita buat rencana..! " Ucap Fakha.


Pukul 13.47.


Diruang pertemuan antara Ayah Fakha, dan tamu yang tak diinginkan. Sabda berada di loteng tepat di atas mereka. Menggunakan keahlian akrobatiknya Sabda menaiki loteng tersebut untuk memasang penyadap agar mereka tahu informasi. Pada waktu yang bersamaan Jagad menyelinap masuk ke kamar Fakha yang letaknya tak jauh dari kamar utama di lantai 2 untuk mengambil sesuatu.


Sebelumnya, pada pukul 13:07.


" Apa rencana kita...? " Tanya Sabda.


" Sabda, lo ahli dalam sulap dan akrobatik, gua butuh bantuan lo untuk naik ke atas loteng, mencari informasi tentang jumlah mereka dan apa yang diinginkan mereka dengan menggunakan alat ini. Alat ini, terhubung dengan alat komunikasi yang kita pasang ditelinga kita masing-masing." Tegas Fakha.


"Si siyap pak e...! Jawab Sabda penuh semangat sembari menyiapkan peralatan.


" Dan buat lo, gua curiga kalo lo seorang mata-mata, karena lo pinter manipulasi mimik wajah biar orang ga bisa baca pikiran lo. Sepertinya lo juga pinter menyamar, sebab cuma lo yang tau kalo gua sering bolos, pasti lo dalam keadaan nyamar, karena gua ga pernah tau posisi lu dimana." Ulas Fakha.


"Oke... Apa sekarang itu lebih penting buat lo? Ketimbang ortu lo yang dalam keadaan bahaya?" Tanya Jagad dengan nada kesal.


"Itu ga penting sama sekali sekarang, tapi kalo emang bener kemampuan lo seperti itu, gua butuh bantuan lo? " Jelas Fakha.


"Baiklah, kali ini gua akan kerjasama sama lo. Apa yang mesti gua kerjain? " Tanya Jagad.


Pukul 13:50. Di kamar tidur Fakha.


"Fakha, gua sudah ada di kamar lo, dan gua sudah dapet pakan ikan yang lo mau. Sekarang gua mesti apa?" Tanya Jagad melalui alat komunikasi.


"Oke.. Sekarang lo pergi ke lemari baju gua, di sana ada tali warna merah. Lo tinggal tarik tali itu kalo lo sudah sebar pelet ikan ke dalam pipa yang ada di sebelah ranjang tidur gua." Jelas Fakha.


"Pipa yang mana, di sini ada 5 pipa beda warna? " Tanya Jagad.


"Semuanya, masukin semua pelet itu ke semua pipa. " Jawab Fakha.


"Oke... Sudah selesai, sekarang apa? " Tanya Jagad.


"Sekarang tunggu aba-aba dari gua.! " Jawab Fakha.


Sebelumnya, Pada pukul 13:09.


"Kalo boleh tau, ada apa di balik lemari lo itu?." Tanya jagad penasaran.


"Nanti lo akan tahu, hei.. Jangan lupa setelah lo buka penutup itu, lo harus segera naik ke atas loteng, di sana ada tali berwarna hijau. Lo tahu apa yang harus lo kerjain." Jawab Fakha.


Pukul 13:55.


Keadaan memanas. Rundingan antara Ayah Fakha dan Orang asing ini semakin menjadi benang kusut.


Hingga pada akhirnya, kelompok mereka menodongkan senjata ke arah kedua orang tua Fakha.


Orang tua Fakha yang sudah menduga hal ini akan terjadi, bersiap untuk mengambil senjata simpanan di sekitar ruangan tersebut.


Sebelumnya, pada pukul 13:10.


"Dengerin baik-baik sebelum kita bertindak, orang tua gua adalah salah seorang pengusaha di bidang batubara, dia terbilang sukses, sehingga sering mendapati orang yang ingin menyingkirkannya dengan cara apapun. Karena selain pengusaha, orang tua gua banyak tahu tentang sindikat perdagangan gelap, narkoba, penyelundupan tenaga kerja dan lain-lain. Dari situlah orang tua gua jadi incaran banyak orang, sehingga memutuskan untuk membuat rumah seperti sekarang ini, agar tidak mudah orang keluar masuk. Di rumah ini banyak senjata yang disiapkan oleh Ayah gua untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu. Senjata-senjata tersebut diletakan tersembunyi. Gua akan beritahu kalian letak senjata ini, jadi kalian bisa langsung pakai."


Pukul 13:57


Dari penyadap suara terdengar dengan jelas apa yang dikatakan orang asing tersebut.


"Sudahlah Pak Santoso, kami sudah muak dengan rundingan kita kali ini..! Kau sudah berbelit-belit dan bertele-tele, itukan hanya tanda tangan saja, apa susahnya? apa kau sudah tidak sayang lagi kepada keluargamu haaa....!!?" Bentak sang tamu dengan lantang.


"Apa kau ingin kami menggunakan kekerasan? karena Hunter tak mau menerima sebuah penolakan." Ucap sang tamu sambil menodongkan pistol ke arah ayah Fakha.


"Aku akan tetap pada pendirian ku. .!!! "Tegas ayah Fakha.


" Baiklah kalau itu yang kau mau. Cepat ikat dia dan Istrinya..!! Perintah ketua tim.


Pak Santoso pun hanya bisa melakukan sedikit perlawanan, sebenarnya dia sudah siap untuk mengambil senjata rahasia, namun Ia takut terjadi sesuatu terhadap istrinya. Ia hanya bisa menanti keajaiban.


"Den.. Sepertinya sudah waktunya kita eksekusi rencana kita..!! " Ucap pak Windu sambil menyiapkan senjata.


"Baiklah, ayo kita laksanakan rencana kita...!! " Ucap Fakha kepada semua rekanya. Sembari memilih senjata.


"Guuuubbbrrraaakk....!!!! "


Terdengar suara keras dari arah kamar Fakha di lantai 2. Semua orang terkejut lalu menoleh ke arah ruangan tersebut.


Toyo, yang adalah ketua tim, menatap ke arah bawahannya seraya memberi isyarat untuk memeriksa ruangan tersebut.


2 orang berjalan perlahan menuju ruangan tersebut, sementara pak Santoso perlahan mendekat ke arah penyimpanan senjata rahasianya, sedangkan istri pak Santoso berusaha menyelinap kabur.


Toyo yang menyadari hal tersebut menoleh ke arah Pak Santoso yang sudah berpindah tempat, Ia pun menyadari bahwa istri pak Santoso sudah pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Jangan bergerak...!! Kurang ajar..!!. Apa yang akan kau lakukan !? Kemana perginya istrimu itu? " Teriak Toyo dengan amarah yang memuncak.


"jangan diam saja...!! kejar dia...!! " teriak Toyo kepada bawahannya, sambil menunjuk ke arah Istri pak Santoso pergi.


Pak Santoso pun menuruti perintah Toyo yang membidik kepalanya dengan pistol.


Sabda bergerak dari arah atas dan membuka plafon untuk mengeluarkan senjata berupa sumpit (senjata tradisional suku Dayak, mengeluarkan jarum beracun yang ditiupkan melalui pipa, biasanya bambu atau semacamnya). Senjata itu membidik Toyo.


"Fuuuuhhh... !! "


Suara tiupan yang berasal dari sumpit, jarumnya melesat dan mengenai tepat di bagian leher Toyo yang tak terlindungi.


Toyo pun seketika terjatuh. Anak buahnya membidik dan seketika menyerang ke arah sumpit berada.


"Duar..!! Dooor..!! Truuuttuutututututututuut....!!!! "


Suara serangan bertubi-tubi yang dilancarkan anak buah Toyo tanpa ampun.


Tiba tiba darah mengalir dari arah sumpit berada. Mereka pun hendak memeriksa keadaan.


Tak lama kemudian, terdengar suara dari dalam pipa paralon, namun tak satupun ada yang memperdulikan hal tersebut. Keluarlah biji-biji pelet dari dalam pipa, namun tetap tak ada yang perduli.


Mereka fokus untuk melihat jasad yang jatuh dari arah atas plafon.


Perlahan mereka mendekat, semakin dekat.


"Beep beep beep..." Terdengar seperti suara jam yang sedang menghitung waktu. Namun suara itu lambat laun semakin cepat.


Setelah mereka berada di dekat jasad tersebut, mereka baru menyadari bahwa itu bukanlah manusia, melainkan mannequin yang dipasangi bom waktu.


"Berlinduuuuuuunnngggg....!!!! " Seketika salah satu dari mereka yang mendekat ke arah mannequin berteriak.


"Kaaaaa... Booooommmm...!!! " suara Ledakan dari bom yang terpasang pada mannequin tersebut.


semua orang berpencar dan mencari tempat perlindungan masing-masing.


Pak Santoso yang berhasil meraih senjatanya pun ikut berlari ke arah lantai 2.