
1
Hari ini aku datang ke sekolah dengan perasaan yang berbeda. Datang lebih pagi daripada biasanya karena kemarin sepulang sekolah aku lupa membersihkan kelas. Memasuki kelas dari pintu yang selalu kulalui, terlihat seorang gadis yang sedang mengatur meja dan kursi. Gadis itu adalah Moriyama-san.
Moriyama-san yang menyadari ada seseorang yang membuka pintu belakang kelas langsung melihat ke arah itu.
“…Ah, Pagi, Amamiya-kun.” Moriyama-san menyapaku dengan senyumannya.
“Selamat pagi, Moriyama-san.”
Aku membalas sapaannya sambil berjalan menuju tempat dudukku. Setelah itu, aku mulai membantunya piket.
Satu per satu murid kelas ini masuk sambil mengatakan “Ohayou” dan kami yang sudah duluan berada di dalam kelas menyapanya kembali. Mereka yang tidak piket langsung keluar dari kelas agar tidak menggangu, sedangkan yang piket langsung melakukan pekerjaannya. Semuanya sudah lengkap, lima orang yang piket di hari ini sudah tiba semua.
Dengan adanya lima orang, piket kelas menjadi lebih cepat selesai. Mm… Bersih dan sangat nyaman untuk belajar.
Sepertinya kemarin mereka lupa melakukan piket saat pulang sekolah. Mungkin karena apa yang terjadi kemarin. Bisa dikatakan kalau itu juga salahku karena langsung pulang.
Atmosfer di kelas ini sudah menjadi lebih hidup dan berwarna. Aura gelap yang sebelumnya menyelimuti kelas ini sudah tidak ada lagi. Murid-murid kelas ini juga sudah mulai mengajakku berbicara. Namun tetap saja ada beberapa murid dari laki-laki dan perempuan yang masih belum bisa menerimaku. Ini hanya masalah waktu. Aku hanya perlu bersikap seperti biasa.
Pukul 8:30 pagi, bel berbunyi menandakan jam pelajaran pertama akan dimulai. Setiap pelajaran di hari ini dan di hari selanjutnya rasanya akan sangat menyenangkan.
Setelah jam pelajaran keempat berakhir, sekarang memasuki waktu istirahat makan siang. Aku sedang merapikan buku dan meletakkannya ke dalam laci meja, tiba-tiba Fuyukawa-san memanggilku.
“Amamiya-kun, mau makan siang bareng?”
“…Ah, iya, ayo makan siang bareng di kantin, Amamiya.” Mizuno-san menambahkan.
“Um, ayo Amamiya. Bukannya ini kesempatan untuk mempererat hubunganmu dengan kami?” Seto-san menambahkan keuntungan jika aku ikut mereka.
“Mm… Baiklah.” Aku mengangguk menyetujui ajakan mereka.
“Kalau begitu, hari ini kelas 2-D akan menyerbu kantin.” Fuyukawa-san mengatakannya sambil tertawa.
Di waktu istirahat makan siang ini, untuk pertama kalinya aku pergi makan siang di kantin bersama teman sekelasku. Walaupun Fuyukawa-san mengajak semua murid kelas 2-D, tapi tidak semua dari mereka ikut makan siang di kantin. Tentu saja keberadaanku bersama murid-murid kelas 2-D membuat murid-murid lain yang bukan dari kelas 2-D terheran-heran. Aku yang dulunya seperti ditolak sekarang bersama dengan mereka yang menolakku. Wajar saja, mereka yang bukan murid kelas 2-D tidak tahu apa yang sudah terjadi kemarin seusai pelajaran terakhir.
Setelah memesan makanan, kami duduk di meja makan. Di meja ini muat untuk enam orang. Aku yang duduk di pinggir kiri meja. Di sebelah kananku ada Fuyukawa-san, dan Mizuno-san. Tepat di depanku ada Moriyama-san, Shimizu-san, dan Seto-san. Untuk pertama kalinya aku duduk berdekatan di samping Fuyukawa-san.
Mm? Ada yang aneh.
Kenapa di meja ini cuma aku yang laki-laki?
Murid laki-laki kelasku yang lainnya berada di meja sebelah, juga dengan murid perempuan yang lain. Setidaknya biarkan aku duduk bersama laki-laki, bukan bersama perempuan. Aku pasti gugup kalau ramai perempuan di sekitarku.
Ah, tidak… Lebih baik aku ambil hal positifnya saja dari keadaan ini. Memang aku gugup, tapi mungkin rasa gugup itu bisa hilang perlahan dengan membiasakannya.
Setelah selesai makan, para gadis mulai berbicara. Fuyukawa-san, Mizuni-san, dan Seto-san berbicara mengenai basket. Sedangkan Moriyama-san dan Shimizu-san hanya diam sambil menyimak pembicaraan mereka.
Di saat mereka bertiga asik berbicara, Moriyama-san mengajakku berbicara.
“Amamiya-kun, gimana rasanya hidup sendiri di Tokyo?”
“Ah, itu, aku juga ingin tahu.”
“Aku juga.”
Fuyukawa-san dan Mizuno-san yang mendengar pertanyaan Moriyama-san itu langsung berhenti berbicara. Mereka berdua sepertinya tertarik dengan pertanyaan dari Moriyama-san.
“Ya, tentu saja hidup sendiri itu berat. Dari Senin hingga Sabtu aku bangun pukul lima pagi. Melakukan pekerjaan rumah sendirian seperti belanja, memasak, dan sebagainya. Tapi, aku sudah terbiasa. Jadi, tidak terlalu berat seperti pertama kali.”
“Oh begitu… Di hari Minggu kamu ngga bagun pagi, Amamiya-kun?”
“Tidak, Moriyama-san.”
“Eh, kenapa?”
“Hari Minggu aku istirahat. Kalau dari Senin hingga Sabtu aku bangun pagi karena mengatur alarm, di hari Minggu kubiarkan bangun sendirinya tanpa alarm.”
“Ah, aku ngerti itu, Amamiya-kun.”
“Um, aku juga.”
Fuyukawa-san, Mizuno-san, Seto-san, dan Shimizu-san mengangguk menyetujui pendapatku. Tentu saja bagi mereka yang mengikuti klub olahraga sangat perlu waktu istirahat setelah melakukan latihan yang berat dan melelahkan.
“Ngomong-ngomong Amamiya, apa kamu sudah bertemu dengan gadis yang kamu selamatkan waktu itu?”
Mizuno-san menanyakan itu langsung. Dia benar-benar orang yang to-the-point.
“Aku juga penasaran.”
“Aku juga.”
Moriyama-san dan Shimizu-san tiba-tiba menjadi lebih bersemangat.
“Ah, soal itu…”
“Jangan bilang kalau belum…” Seto-san memotong perkataanku.
“Aku belum pernah bertemu dengan orangnya.”
“Eh… Benarkah begitu, Amamiya-kun?” Fuyukawa-san seperti terkejut.
“Iya. Mungkin gadis yang kuselamatkan itu sudah mengunjungiku saat aku masih belum sadar.”
“Gadis itu murid Keiyou, kan?”
“Iya, Shimizu-san.”
“Seharusnya gadis itu ucapkan terima kasih sekali lagi karena kamu sudah di sini sekarang. Apa gadis itu ngga tahu kalau kamu di sini sekarang?”
“Aku tidak yakin tentang itu.”
“Kenapa begitu, Moriyama-san?” Aku pun balik bertanya.
“Kedatanganmu di hari pertama saja sudah bikin orang-orang dari kelas lain tahu kalau ada murid baru. Seharusnya gadis itu tahu. Lagian kamu dapat peringkat dua di ujian tengah semester.”
“Mungkin saja gadis itu takut.” Fuyukawa-san mengatakan itu sambil melihat ke arah bawah.
“Mm… Itu bisa saja.” Seto-san mengangguk setuju.
“Kenapa dia takut?”
“Mungkin karena dia sudah pernah membuatmu mengalami kecelakaan itu, Amamiya-kun.”
“Mm…”
Jawaban dari Fuyukawa-san ini membuatku berpikir kembali. Mungkin saja kalau gadis itu takut karena berpikir kalau kecelakaan itu terjadi karena kesalahannya, sehingga membuat orang yang tidak dikenalinya itu masuk ke rumah sakit. Tapi, itu hanya masa lalu. Sekarang aku berada di sekolah yang sama dengannya merupakan fakta kalau aku baik-baik saja.
Tiba-tiba kesunyian melanda meja kami. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar karena menyinggung masa laluku saat kecelakaan itu. Memang kecelakaan itu telah berlalu, tapi tetap saja melekat di pikiranku.
Kita tidak bisa melupakan masa lalu. Tanpa kita sadari, masa lalu akan terus mengikuti kita dari belakang. Oleh sebab itu, kita hanya bisa menerima masa lalu itu menjadi bagian dari diri kita, karena kita yang sekarang dibentuk dari kejadian-kejadian masa lalu.
“…Ah, Amamiya-kun.”
“Ah, benar.”
Kudengar suara dua orang gadis dari arah kiriku. Ada Namikawa-san dan Kayano-san yang sedang mencari meja untuk makan.
“Halo, Namikawa-san, Kayano-san.” Aku menyapa mereka.
“Pertama kalinya aku melihatmu dengan teman sekelasmu, Amamiya-kun.” Kayano-san langsung mengetahui kalau aku bersama teman sekelasku.
“Ah, iya…”
“Datang lagi ke Perpustakaan, ya… Sakura-chan sepertinya ingin bertemu denganmu, Amamiya-kun.”
“Chi-chan, apa yang kamu… Bukan seperti itu, Amamiya-kun.”
“Aku akan datang lagi kok.”
“…Ah, um. Baiklah, aku tunggu.”
“Sampai nanti, Amamiya-kun.”
“Ya, sampai nanti.”
Setelah mengatakan itu, Kayano-san dan Namikawa-san pergi meninggalkan meja kami.
Fuyukawa-san, Mizuno-san, Seto-san, Moriyama-san, dan Shimizu-san memasang wajah penasaran. Ah, mungkin ini pertama kalinya mereka melihatku bebicara dengan santainya dengan orang lain.
“Amamiya-kun, kamu sepertinya kenal dekat dengan mereka.” Moriyama-san menanyakan itu sambil terus melihat ke arah Kayano-san dan Namikawa-san.
“Apa gosib dulu, kalau kamu berpacaran dengan Namikawa-san itu benar?” Mizuno-san langsung menuju lurus ke titik pertanyaan.
“Tentu saja tidak benar.”
“Hee… Benarkah?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, apa ada gadis yang kamu suka, Amamiya-kun?”
“Tidak ada, Fuyukawa-san.”
“Mm…? Tumben Yukina menanyakan itu langsung pada seorang laki-laki.” Seto-san menanyakan itu ke Fuyukawa-san sambil menyeringai.
“Me-memangnya ngga boleh kalau aku tanya seperti itu, Amamiya-kun?”
“…Ah, um, tidak apa-apa sih.”
“Amamiya-kun bilang ngga apa-apa, kok.”
“Hanya jarang saja kamu tertarik kepada laki-laki, Yukina.”
“Um, um. Sepertinya kamu tertarik dengan Amamiya, ya Yukina?”
Seto-san dan Mizuno-san mengatakan hal yang mengejutkan. Moriyama-san dan Shimizu-san hanya bisa diam sambil memperhatikan ke arahku dan Fuyukawa-san.
Rasanya atmosfer di meja ini menjadi semakin berat. Percakapan ini sesuatu yang tidak bisa kuikuti, sepertinya.
“…Ah, aku cuma ingin berteman baik. Apa itu salah?”
“Ngga ada yang bilang kalau itu salah kok, Yukina. Ya kan, Atsuko?”
“Benar, benar. Tahu lebih banyak tentang seseorang bisa bikin berteman dekat dengannya, kan?”
“Um, benar.” Aku mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Mizuno-san.
“Mm… Lagian, apa salahnya tertarik dengan laki-laki seperti Amamiya-kun? Aku sedikit tertarik.”
“Aku juga.”
Moriyama-san dan Shimizu-san mengatakan hal yang membuatku terkejut. Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan itu langsung di depanku.
“…”
“Wajahmu merah, Amamiya. Hahaha.” Mizuno-san menertawakanku.
“Pe-pertama kali ada yang bilang seperti. Aku jadi tidak tahu harus berkata apa.”
“Hahaha.”
“Hahaha.”
Moriyama-san dan Shimizu-san hanya tertawa sambil melihat ke arahku yang kehilangan ketenangan. Sedangkan Fuyukawa-san hanya tersenyum.
Berada di kelompok yang penuh dengan murid perempuan seperti ini memang bisa membuatku kehilangan ketenangan. Dari dulu aku jarang berkumpul dengan murid perempuan. Jadi, bisa dibilang kalau aku tidak terbiasa. Lama kelamaan pasti juga terbiasa. Sekarang aku perlu untuk membiasakan diri dengan mereka.
Setelah menghabiskan waktu berbicara dengan mereka, bel tanda waktu istirahat makan siang berakhir berbunyi. Sebentar lagi jam pelajaran kelima akan dimulai. Kami meninggalkan kantin dan kembali ke kelas.
Alur kehidupan seseorang memang tidak bisa diprediksi. Hanya dengan satu faktor “X” maka semuanya bisa berubah total. Aku yang kemarin ditolak oleh mereka, kini aku bersama mereka, makan siang bersama di kantin sekolah. Benar-benar sesuatu diluar dugaan. Ya, walaupun masih ada yang belum bisa menerimaku di kelas ini. Tapi itu bukanlah masalah yang besar. Itu hanya masalah waktu.
Dengan keadaan sekarang, terus-terusan berada di kelas juga tidak membuatku bosan karena keadaannya sudah nyaman, lebih hidup, dan berwarna.
2
Bel tanda pulang berbunyi setelah jam pelajaran ketujuh selesai. Sepulang sekolah hari ini, aku harus ke Ruang BK seperti yang dikatakan Hiratsuka-sensei kemarin.
Setelah guru keluar dari kelas, aku pergi ke Ruang BK.
Ruang BK terletak di lantai dua, di samping Ruang Staf Pengajar. Kuketuk pintu ruang dan seseorang mengatakan, “Silakan masuk.” Kugeser pintu geser ini dan masuk ke dalam. Di sini sudah ada Hiratsuka-sensei dan juga Shiraishi-san. “Ah, sudah datang.” Hiratsuka-sensei mengatakan itu saat melihat aku masuk ke ruang ini.
Di tengah ruang ini terdapat meja kaca minimalis lengkap dengan sofa. Aku menuju sofa itu dan duduk di sampingnya Shiraishi-san, sedangkan Sensei berada tepat di depanku.
“Baiklah, karena semuanya sudah di sini, mari kita mulai pembicaraan tentang Klub Bantuan. Seperti namanya, klub ini bertujuan untuk membantu para murid. Kalian bisa membantunya langsung atau dengan cara diskusi. Jadi, peran kalian seperti guru konseling. Paham?”
“Saya mengerti.”
“Saya juga.”
“Selanjutnya untuk ketua klub, siapa yang bersedia?”
“…” Shiraishi-san hanya diam.
“Bukannya itu lebih baik Sensei yang memilihnya?”
“Saya hanya ingin bertanya siapa yang bersedia. Nama ketuanya sudah ada dengan saya.”
“Mm… Berarti, seperti itu saja.”
“Baiklah. Ketua Klub Bantuan adalah Shiraishi Miyuki-san. Apa kamu keberatan, Shiraishi-san?”
“Tidak, Sensei.”
“Baguslah. Kalau begitu, saya akan memberi kertas keterangan tentang klub ini kepada kepala sekolah dan juga OSIS. Tunggu di sini sebentar.”
“Baik, Sensei.”
Setelah kujawab, Hiratsuka-sensei keluar dari Ruang BK.
Saat ini, aku berdua dengan Shiraishi di ruangan ini. Dia hanya diam dengan pandangannya ke depan. Tatapannya seperti mengarah ke arah yang sangat jauh, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Namamu Amamiya Ryuki-kun, benar?”
Shiraishi-san tiba-tiba menanyakan namaku. Padahal dulu saat bertemu dengannya di ruang tamu guru, Hiratsuka-sensei sudah memberitahu namaku.
“…Ah ya, benar.”
“Kamu murid pindahan dan bisa mendapatkan peringkat kedua di ujian tengah semester. Kamu pasti hebat.”
“…Ah, tidak juga. Shiraishi-san juga, selamat karena dapat peringkat pertama.”
“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Bukan sesuatu yang luar biasa.”
“Benarkah? Meskipun begitu, tetap saja kamu hebat, Shiraishi-san.”
“…”
Shiraishi-san kembali diam dan tidak lama kemudian Hiratsuka-sensei kembali.
“Shiraishi-san, Amamiya-kun, mari ikut saya ke ruang klub kita.”
“Sudah ada ruang klubnya, Sensei?” Aku jadi bersemangat.
“Tentu saja. Ruangnya ada di Gedung Khusus lantai tiga. Kebetulan masih ada ruang kosong di sana.”
Kupikir ruang klub kami berada di Gedung Klub yang kalau tidak salah letaknya di dekat Aula Sekolah.
“Ruangan di Gedung Klub sudah dipakai semua.” Hiratsuka-sensei sepertinya baru saja membaca pikiranku.
Kami keluar dan mengarah ke Gedung Khusus. Melewati koridor penghubung Gedung Utama dengan Gedung Khusus, menaiki tangga, hingga akhirnya tiba di lantai tiga. Ini bukan pertama kalinya aku berada di Gedung Khusus. Di Gedung ini terdapat laboratorium, ruang musik, ruang seni, dan sebagainya di lantai satu dan dua. Sedangkan di lantai tiga masih banyak ruang yang tidak terpakai, sehingga ada yang dijadikan ruang klub.
Saat kami berjalan menuju ruang klub kami, aku melihat beberapa ruang klub yang ada di sini. aku sendiri tidak tahu klub apa itu. Mereka tidak menuliskan ruang klub apa di pintu masuknya.
“Kita sudah sampai,” kata Hiratsuka-sensei.
Akhirnya kami tiba di ruang yang akan menjadi tempat Klub Bantuan. Letaknya di ujung lantai tiga, arah utara.
Saat memasuki ruang ini, aku berpikir kalau ruangnya pasti kotor dan berdebu, tapi tidak. Walaupun tidak ada yang memakainya, ruang ini tertata rapi, bersih dan tidak berdebu. Meja dan kursi bertumpuk rapi di bagian belakang ruang.
“Bersih dan rapi, ya…”
“Tentu saja, Amamiya-kun. Semua ruang di Gedung Khusus selalu dibersihkan secara berkala oleh petugas kebersihan sekolah. Lain halnya kalau ruang itu dihuni oleh suatu klub. Penghuni klub lah yang harus membersihkannya.”
“Oh begitu ya…”
“Baiklah, ayo kita susun meja dan kursinya.”
Aku, Shiraishi-san, dan Hiratsuka-sensei mulai menyusun meja dan kursi untuk diduki. Mengambil meja dan kursi yang ada, lalu meletakkannya di tengah ruang ini. Empat meja yang dirapatkan, dua kursi di ujung sisi kiri dan kanan, dan satu kursi di tengah.
Aku duduk di kursi sebelah kanan yang dekat dengan pintu, Shiraishi-san duduk di kursi sebelah kiri, dan Hiratsuka-sensei duduk di kursi tengah di depan kami. “Baiklah, selanjutnya akan saya jelaskan tentang aktivitas klub ini,” kata Hiratsuka-sensei yang kemudian batuk untuk membersihkan tenggorokannya.
“Ehm… Mulai hari ini, Klub Bantuan telah resmi dibentuk dengan Shiraishi-san sebagai ketua klub. Untuk aktivitas klubnya sudah bisa dilaksanakan hari ini. Saya sudah menyuruh Klub Koran Sekolah untuk mempromosikan klub Bantuan. Mungkin sebentar lagi mereka sudah menempelkan informasi klub ini di mading-majalah dinding-sekolah.”
“Mm… Sensei, mengenai aktivitas klubnya, kami perlu menunggu murid-murid untuk datang kemari dan meminta bantuan, kan?”
“Tentu saja, Amamiya-kun.”
“Kalau tidak ada seorang pun murid yang datang…”
“Kita memiliki waktu luang yang bisa digunakan untuk belajar atau membaca selagi menunggu mereka untuk datang.” Shiraishi-san memotong kata-kataku.
“Ya, seperti yang dikatakan Shiraishi-san. Ah, ini ada log book. Gunakan buku ini untuk merekam aktivitas kalian saat ada yang datang. Tulis hari dan tanggal, nama dan kelas, permasalahan yang dialami, dan jenis bantuan yang diberikan.”
“Ah, baiklah…”
Jadi kami hanya perlu menunggu murid yang datang ke sini. Selagi kami menuggu, kami bisa melakukan apa pun di waktu itu. Tidak terlalu melelahkan, sepertinya.
“Untuk anggaran klubnya akan saya serahkan besok kepada Shiraishi-san. Kalau begitu, saya kembali dulu. Oh iya, kunci ruang klubnya bisa kamu bawa pulang, Shiraishi-san. Saya punya kuncinya satu lagi. Kalau begitu, selamat berjuang...”
“Baiklah, Sensei.”
“Ya, Sensei.”
Hiratsuka-sensei setelah itu keluar dari ruang klub ini.
Saat ini aku hanya berdua dengan Shiraishi-san tanpa berbicara sepatah kata pun. Shiraishi-san mengeluarkan suatu buku dari tasnya dan mulai membaca.
Oh iya, aku sudah bilang ke Namikawa-san dan Kayano-san kalau akan ke Perpustakaan. Apa harus kulakukan sekarang? Lebih baik ke perpustkaan sebentar untuk meminjam buku dan menyapa Namikawa-san dan Kayano-san. Setelah itu, kembali ke ruang ini.
“Ano, Shiraishi-san…”
“Mm…?” Shiraishi-san memalingkan padangannya dari buku ke arahku dengan ekspresi datar.
“Aku mau ke Perpustakaan sebentar. Ada buku yang ingin kupinjam.”
“Silakan…”
“Terima kasih.”
Aku meninggalkan ruang klub, menuju perpustakaan.
Saat tiba di perpustakaan, terlihat Namikawa-san sedang duduk di balik konter perpustakaan sambil membaca buku. Sepertinya dia sedang menikmati dunia sastra dari buku itu. Tidak baik mengganggunya saat sedang membaca, jadi aku langsung melangkah ke rak buku.
“Amamiya-kun?”
“Mm?”
Aku melihat ke arah sumber suara yang memanggilku. Suara yang aku tahu berasal dari mulut siapa. Namikawa-san ternyata menyadari kehadiranku. Padahal tadi sangat fokus dengan buku yang dibacanya.
“Kamu datang, ya…”
“Ah, tentu saja. Kan sudah kubilang tadi. Kayano-san tidak ada?”
“Ah, kalau Chi-chan suda pulang duluan. Katanya ada perlu.”
“Begitu ya…”
“Mau pinjam buku lagi?”
“Iya…”
“Oh iya, ada beberapa buku baru di bagian rak buku fiksi. Buku referensi baru juga ada kalau kamu perlu untuk belajar.”
“Terima kasih, Namikawa-san.”
“Um…”
Aku pergi ke rak buku fiksi dan melihat beberapa buku novel baru. Buku baru memang terasa memiliki aura tersendiri. Aromanya juga beda. Beberapa buku baru ini memang menarik perhatianku. Aku ambil buku yang menurutku lebih menarik dan membawanya ke Namikawa-san.
“Namikawa-san, aku pinjam buku ini.”
“Baiklah.”
Setelah menulis data peminjaman data dan berkata terima kasih kepada Namikawa-san, segera aku kembali ke ruang klub.
“Amamiya-kun, langsung pulang?”
“Ah, tidak. Aku kembali ke ruang klub.”
“Kamu masuk klub?”
“Iya, baru saja. Mulai hari ini.”
“Klub apa?”
“Klub Bantuan.”
“Eh?” Namikawa-san seperti kebingungan.
“Klub Bantuan, klub yang berada di bawah pengawasan langsung Guru BK. Kata Hiratsuka-sensei, klub ini ada untuk membantu murid-murid jika ada masalah karena masih banyak murid yang segan membicarakannya kepada guru.”
“Oh, aku paham. Jadi, kenapa Amamiya-kun di klub itu?”
“Ah, aku dimasukkan oleh Hiratsuka-sensei. Lagian aku juga tidak ada kegiatan lain.”
“Sendirian?”
“Ah, tidak. Berdua dengan Shiraishi-san.”
“Shiraishi-san???” Namikawa-san seperti terkejut mendengar ada Shiraishi-san.
“Iya. Kamu mengenalnya?”
“Di kelas satu kami sekelas.”
“Mm… Oh iya, Namikawa-san kalau ada masalah atau perlu bantuan, datanglah ke klub kami. Kami akan coba membantu.”
“Ah, um.” Namikawa-san menangguk.
“Kalau begitu, sampai jumpa besok.”
“Um, sampai jumpa.”
Aku segera meninggalkan perpustakaan dan kembali menuju ruang klub sambil membawa satu buku yang kupinjam tadi.
Kugeser pintu ruang klub dan aku terhenti di depan pintu ini. Mataku tertuju kepada seorang gadis bernama Shiraishi-san yang dari tadi duduk sambil membaca buku. Rambut hitamnya berterbangan karena hembusan angin musim semi yang masuk ke dalam ruang ini melalui jendela, yang entah kapan jendela itu dibuka. Mungkin saat aku pergi tadi dia membukanya.
Matanya fokus tertuju ke arah buku yang dipegangnya di atas meja itu. Tangannya yang putih seperti salju itu terlihat sedang membalik-balikkan halaman buku yang sedang dibacanya. Kira-kira buku seperti apa yang dibacanya, ya…
Wajahnya memerah. Sesekali bibirnya yang tipis itu bergerak seperti mengikuti kalimat dari buku itu.
Tiba-tiba, Shiraishi-san meletakkan bukunya dan melihat ke arah pintu dan mata kami pun bertemu.
“Ada apa?” Shiraishi-san melihat ke arahku sambil memiringkan sedikit kepalanya.
“…Ah, tidak ada apa-apa.”
“Oh begitu…” Shiraishi-san kembali ke aktivitas sebelumnya. Dia mulai membaca kembali buku itu.
Entah berapa lama aku terhenti di depan pintu ini.
Setelah pintu kututup, aku duduk di kursi yang terletak dekat dengan pintu ini dan mulai membaca buku yang kupinjam tadi.
Satu per satu halaman kubaca secara perlahan hingga jam dinding yang berada di atas papan tulis menunjukkan pukul 5:30 sore. Sepertinya tidak ada seorang pun yang akan datang hari ini. Wajar saja karena baru dibentuk.
“Shiraishi-san, sepertinya tidak ada yang datang ya,” kataku sambil menutup buku yang kubaca ini.
“Sepertinya begitu.” Shiraishi-san berhenti membaca.
“Wajar saja karena klub ini baru hari ini diumumkan.”
“Iya, benar. Kalau begitu, kita cukupkan saja kegiatan hari ini.”
“Baiklah.”
Setelah mengatakan itu, kami mulai membereskan barang-barang kami dan menutup kembali jendela. Kunci ruangan ini Shiraishi-san yang memegangnya. Setelah dia mengunci ruangan ini, barulah kami meninggalkan Gedung Khusus.
Aku berjalan di belakang Shiraishi-san sampai menuju loker sepatu.
Saat pertama kali bertemu dengan Shiraishi-san, aku sedikit gugup berada di dekatnya dan berbicara dengannya. Tapi hari ini tidak seperti itu. Kenapa, ya…
“Shiraishi-san…”
“Ya?”
“Sampai jumpa besok.”
“Sampai jumpa.”
Setelah mengatakan selamat tinggal, aku langsung pulang ke rumah.
Langit sore yang berwarna merah dan matahari sudah berada di ufuk barat menyinari kota ini dengan cahaya keemasannya itu menemani jalan pulangku.
Semoga besok kami kedatangan klien.
3
Keesokan harinya.
Di pagi hari saat aku tiba di sekolah, suasananya lebih ramai tidak seperti biasanya. Murid-murid berkumpul di depan mading. Apa ada yang menarik?
Ternyata informasi tentang Klub Bantuan sudah tertempel di mading. Jadi karena itu suasana hari ini sudah ramai sejak pagi hari.
Di kelasku juga beberapa orang membicarakan tentang klub itu. Memang terdengar aneh karena biasanya klub dibentuk untuk menyalurkan hobi dan juga untuk berkompetisi. Sedangkan klub ini tujuannya hanya membantu murid-murid di lingkungan sekolah. Ya, setidaknya klub ini pasti bisa berguna untuk murid lainnya.
Di waktu istirahat makan siang, aku pergi ke Ruang Staf Pengajar untuk mengumpulkan tugas. Setelah itu, aku makan sendirian di kantin. Dari kemarin Taka tidak kelihatan. Mungkin dia ada keperluan di Klub Fotografi.
Bel berbunyi. Waktu istirahat makan siang telah berakhir dan sekarang lanjut ke jam pelajaran kelima.
Proses belajar di kelas ini memang sudah menjadi lebih menyenangkan. Mereka yang tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh guru menyempatkan bertanya kepadaku saat pelajaran selesai dan juga ada yang meminjam catatanku. Inilah sesuatu yang disebut dengan kehidupan SMA.
Di saat pelajran ketujuh berakhir dan bel tanda sekolah usai berbunyi, Sakamoto-sensei tiba-tiba masuk ke kelas. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan.
“Etto, seperti yang kalian semua ketahui, barang siapa yang mendapatkan nilai di bawah standar nilai harus mengikuti remedial besok.”
“Eee…………” Semua murid kelas kaget.
Oho… Jadi, bagi yang mendapatkan nilai di bawah standar nilai wajib mengikuti remedial di hari Sabtu saat tidak ada jadwal sekolah. Walaupun murid di sekolah elit, tetap saja pasti ada hal yang mereka sukar untuk dikuasai. Maklum saja, mereka juga manusia.
“Kalian semua seharusnya bisa mencontoh Amamiya-kun. Dia mendapatkan peringkat kedua di ujian tengah semester kemarin. Dia bisa bersaing dengan murid-murid dari kelas A. Padahal baru saja dia dipindahkan ke sini.” Sakamoto-sensei mengatakannya sambil melihat ke arahku.
Mm? Memangnya ada apa dengan kelas A ya? Sepertinya masih ada yang belum kuketahui.
“Amamiya-kun, tolong bantu teman-temanmu kalau ada yang kesulitan dalam pelajaran, ya?”
“…Baik, Sensei.”
“Jangan lupa, besok jadwal remedialnya. Kalau tidak remedial, kalian paham kalau harus mengikuti jam belajar tambahan di hari sabtu, kan?”
“Ya, Sensei.” Semua murid menjawabnya dengan serentak.
“Berjuanglah kalau begitu.”
Setelah mengatakan itu, Sakamoto-sensei meninggalkan kelas ini.
Aku masih berpikir tentang kelas A yang dikatakan Sakamoto-sensei tadi. Mm… Lebih baik kutanyakan pada Fuyukawa-san.
“Fuyukawa-san, sebenarnya ada apa dengan kelas A yang dikatakan Sensei tadi?”
“Oh iya, Amamiya-kun belum tahu, ya…”
“Um, iya.”
“Dari tahun ke tahun yang menempati peringkat atas setiap ujian semuanya dari kelas A. Dari kelas satu sampai kelas tiga. Jadi, peringkat satu sampai 28 pasti berasal dari kelas A.”
“Eee??? Hebat ya kelas A.”
“Ya. Dan Shiraishi-san selalu mendapatkan peringkat satu dari kelas satu lho.”
“Begitu ya… Ngomong-ngomong Fuyukawa-san, kamu dapat peringkat berapa kemarin?”
“Peringkat 41.”
“Sudah kuduga, kamu hebat, Fuyukawa-san.”
“Tapi aku ngga sehebatmu, Amamiya-kun.”
“Tidak, tidak, tidak. Malahan kamu lebih hebat, Fuyukawa-san. Waktu itu, aku pernah bilang kalau akan melakukan sesuatu saat ujian tengah semester, kan?”
“Um, ya. Apa ada hubungannya?”
“Ada. Aku belajar sungguh-sungguh bahkan saat golden week untuk bisa menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya.”
“Ya, seperti itu. Walaupun akhirnya berakhir dengan menceritakan tentang diriku kepada kalian semua. Setidaknya, ini adalah jalan terbaik. Semuanya berkatmu, Fuyukawa-san.”
“Tapi aku ngga berbuat apa-apa.”
“Tidak juga. Sekali lagi, terima kasih ya, Fuyukawa-san.” Aku tersenyum.
“Um…” Fuyukawa-san membalas dengan senyumannya.
“Kalau ada pelajaran yang tidak bisa kamu pahami, tanyakan saja padaku. Mungkin aku bisa membantumu.”
“Um. Makasih.”
Sejak hari itu, aku dan Fuyukawa-san sudah sering berbicara. Walaupun kebanyakan tentang kegiatan sebagai perwakilan kelas.
“Ah… Aku ada kegiatan klub. Sampai jumpa, Amamiya-kun.”
“Ah, um. Sampai jumpa lagi.”
Fuyukawa-san pergi meninggalkan kelas. Saatnya aku juga pergi ke klubku, Klub Bantuan.
Saat aku sedang berjalan munuju ruang klub, beberapa murid sepertinya masih membicarakan tentang Klub Bantuan. Kalau mereka penasaran begitu, lebih baik mereka kunjungi saja. Dengan begitu, mereka bisa bertanya sampai puas.
Sesampai di depan ruang klub, kutarik nafas dulu sebelum membuka pintu ruang klub ini.
Fuuuhhhaaa…
Baiklah, ayo masuk.
Kugeser pintu ini dan pintu terbuka.
Di tengah ruang sudah ada seorang gadis yang duduk dengan buku di tangannya. Gadis itu adalah Shiraishi Miyuki-san. Dia datang sangat cepat ke ruangan ini.
Shiraishi-san menyadari kalau pintu sedang terbuka. Dia mengarahkan pandangannya ke arahku yang sedang berdiri di depan pintu sambil memandangi dirinya.
“Halo.”
“Halo, Shiraishi-san.”
Secara refleks, aku menjawabnya sapaannya.
Setelah menutup kembali pintunya, aku duduk di tempat dudukku seperti kemarin. Mengambil buku yang kupinjam kemarin dari dalam tas dan mulai membacanya. Saking bosannya kemarin karena tidak ada kegiatan, aku hampir menyelesaikan buku ini. Hari ini pasti akan selesai.
Kami hanya duduk sambil membaca buku, menunggu klien datang untuk meminta bantuan dari kami. Mengingat klub ini yang mungkin masih terdengar aneh bagi murid-murid lain, kemungkinan datangnya klien hari ini pasti tetap dalam persentase rendah. Jadi, hal yang bisa kami lakukan adalah memanfaatkan waktu yang ada sesuka hati kami.
Sesekali kulihat ke arah Shiraishi-san yang membalik-balikkan halaman buku yang dibacanya dengan cepat. Apa dia membacanya dengan cepat atau memang bacaannya yang membosankan, aku tidak tahu itu. Sekarang, aku hanya fokus dengan buku yang kupinjam kemarin. Sedikit lagi habis, jadi bisa kukembalikan terus hari ini.
Waktu berlalu begitu cepat saat aku tenggelam ke dunia sastra, sehingga buku ini telah selesai kubaca. Karena masih di jam kerja perpustakaan sekolah, lebih baik aku mengembalikan buku ini secepatnya. Lagian aku tidak yakin kalau akan ada klien yang datang hari ini.
Di perpustakaan, aku tidak bertemu dengan Namikawa-san. Sepertinya dia tidak ke perpustakaan hari ini.
Setelah mengembalikan buku itu, aku kembali ke ruang klub. Terlihat pemandangan yang tidak terduga. Dari kejauhan, kulihat ada dua orang murid perempuan yang tidak kuketahui sedang berdiri di depan pintu ruang klub. Apakah mereka perlu bantuan dari Klub Bantuan? Sepertinya begitu.
Berjalan mendekati arah mereka, ternyata Mizuno-san dan Seto-san.
“Mizuno-san, Seto-san, sedang apa?”
“Kyaa…” Mereka berdua terkejut.
“Amamiya… Jangan kagetin gitu dong.”
“Jantungku hampir copot rasanya.”
“Ah, maaf. Jadi, sedang apa?”
“Kami mau minta tolong sama Klub Bantuan.”
Seto-san menjawabnya sambil melihat-lihat ke arah lorong. Sepertinya dia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya.
“Amamiya sendiri, kamu sedang apa di sini?”
“…Ah, aku? Aku anggota Klub Bantuan.”
“Eh, beneran?” Mizuno-san sedikit terkejut.
“Iya, benar. Masuklah kalau begitu. Kalian ingin meminta bantuan, kan?”
Aku menggeser pintu ini dan mempersilakan mereka masuk.
Mereka berdua terkejut saat melihat ada seseorang gadis yang dikenal oleh seluruh sekolah sedang duduk di tengah ruangan ini.
“Shiraishi-san, kita kedatangan klien.” Setelah mengatakan itu, aku mengambil dua kursi untuk diduduki oleh Mizuno-san dan Seto-san. Kuletakkan dua kursi itu di depan Shiraishi-san. “Silakan duduk,” tambahku. Setelah mereka duduk, barulah aku duduk di kursiku.
“Selamat datang di Klub Bantuan. Apa ada yang bisa dibantu?” Shiraishi-san yang telah berhenti membaca mulai bertanya kepada mereka berdua.
“Jangan sungkan, Mizuno-san, Seto-san, katakan saja.”
“Sebenarnya yang perlu bantuan Atsuko, Amamiya.”
“Oh Mizuno-san, ya…”
“Cepat katakan, Atsuko.” Seto-san terlihat sedang memaksa Mizuno-san untuk berbicara.
“Iya, iya. Begini Shiraishi-san, Amamiya… besok ada remedial, kan?”
“Iya, ada.”
“Um, kenapa dengan itu, Mizuno-san?”
“Aku ikut remedial itu. Nilai matematikaku di bawah standar nilai. Kalau gagal lagi, aku tidak bisa ikut turnamen basket bersama dengan Yukina dan lainnya.”
“Um…Jadi kamu ingin kami membantumu belajar, seperti itu?” Shiraishi-san memegang dagunya seperti sedang berpikir.
“Um… kenapa tidak minta Fuyukawa-san mengajarimu, Mizuno-san?” Tanpa sadar, aku pun sudah memegang daguku.
“Kami tidak ingin merepotkannya. Saat ujian kemarin, dia udah belajar dengan keras dan juga masih bantu kami latihan. Dia itu sudah seperti ace di dalam tim kami. Jadi kami ingin beri dia waktu untuk istirahat.”
“Karena itulah, aku menyarankan Atsuko untuk datang ke sini.”
“Mizuno-san, kamu orang yang baik ya…”
“Kenapa tiba-tiba, Amamiya?”
“Ah, tidak. Bukan apa-apa. Jadi, kami hanya perlu membantu Mizuno-san belajar Matematika?”
“Ya, begitu.” Mizuno-san menjawabnya dengan nada yang pelan, tidak seperti biasanya.
“Aku sih bersedia membantumu, Mizuno-san. Shiraishi-san bagaimana?”
“Karena ini pertama kalinya ada yang meminta bantuan dari klub ini, maka kita harus membantunya.”
“Kalau begitu, kita tulis dulu di Log Book Klub Bantuan.”
“Ya, benar.”
Shiraishi mengambil log book mulai mengisinya. Dia hanya menyuruh Mizuno-san menulis nama dan kelasnya. Setelah itu, dia melanjutkan mengisi bagian yang lainnya.
Aku beranjak dari tempat dudukku menuju tempat Shiraishi-san untuk melihat isi log book itu dan membacanya dari arah kanannya.
“Permasalahan: tidak bisa ikut turnamen basket jika gagal di remedial Matematika. Jenis bantuan yang diberikan: Mengajarinya belajar Matematika. Mm… sepertinya bagus. Kalau begitu, langsung saja kita mulai.”
“Eh, di mana?”
“Di sini saja tidak masalah kan, Shiraishi-san?”
“Iya, tidak masalah.”
“Sebentar, aku ngga membawa buku catatan Matematika. Bagaimana dong?”
“Tidak perlu khawatir, aku membawanya. Jadi kamu pakai saja dulu, Mizuno-san. Kamu bisa kembalikan saat remedialnya tuntas.”
“Makasih, Amamiya.”
“Kalau begitu, aku pergi dulu, Atsuko. Semangat belajarnya.”
“Makasih, Misa.”
Seto-san yang sudah menyelesaikan tugasnya membawa Mizuno-san ke sini pergi meninggalkan ruangan ini.
Mizuno-san mengambil buku catatan dari tasnya.
“Itu untuk apa, Mizuno-san?”
“Ah, ini untuk menulis kembali apa yang kalian jelaskan nanti. Juga kalau ada soal, bisa kukerjakan di buku catatan ini. Tidak mungkin kan aku menulisnya di bukumu, Amamiya.”
“Oh begitu, ya…”
“Ngomong-ngomong, apakah dengan waktu yang sedikit ini bisa membuatnya lulus remedial Matematika? Aku sedikit meragukan itu.” Shiraishi-san mengatakan kenyataan yang benar.
“Benar juga.”
“Bener juga.”
Aku dan Mizuno-san mengatakannya serentak.
“Tapi Shiraishi-san, walaupun waktunya sedikit untuk belajar, pasti ada hal yang bisa kita lakukan untuk membuat Mizuno-san lulus ujian remedial Matematika.”
“Aku akan berusaha semampuku.” Mizuno-san membulatkan tekadnya dan mulai bersemangat.
“Kalau kita mengajarinya dari kisi-kisi ujian, tetap saja membutuhkan waktu yang banyak. Sedangkan 40 menit lagi sekolah akan tutup.”
“Dalam 40 menit itu, kita lakukan sebisa kita dulu.”
“Baiklah. Ayo kita mulai.”
“Mohon bantuannya, Shiraishi-san dan Amamiya.”
Shiraishi-san mulai mengajari Mizuno-san dari bagian yang tidak dia pahami. Di saat itu, aku hanya berpikir apakah ada jalan lain juga sekali-kali aku memberi penjelasan jika ada penjelasan dari Shiraishi-san yang tidak bisa dipahami oleh Mizuno-san.
Shiraishi-san tadi mengatakan kalau belajar dari kisi-kisi ujian saja, tetap memakan waktu.
Kisi-kisi, ya… Bagian-bagian yang akan muncul menjadi pertanyaan saat ujian sesungguhnya. Pasti itu…
“Shiraishi-san, sebentar.”
“Ada apa?”
“Memang kalau kita mengajarinya sekarang tidak akan cukup waktunya. Oleh karena itu, pasti kalau kita mengajarinya bagian-bagian yang akan menjadi pertanyaan nanti, maka pasti berbeda.”
“Kisi-kisi itu yang akan menjadi pertanyaan nanti, maka dia harus belajar semua yang ada di kisi-kisi itu.”
“Tidak. Pasti ada pola.”
“Pola?”
“Pola???”
Shiraishi-san dan Mizuno-san mengatakannya serentak sambil memasang wajah penasaran.
“Tidak mungkin semua yang ada di kisi-kisi itu akan menjadi pertanyaan nantinya. Oleh karena itu, Shiraishi-san, kamu yang sudah sekolah di sekolah ini sejak kelas satu, pasti kamu tahu.”
“Ah, aku paham.”
“Eh, apa?” Mizuno-san tidak bisa mengikuti pembicaraanku dengan Shiraishi.
“Dengan kata lain, kalau kita bisa tahu pola pertanyaannya bagaimana, maka Mizuno-san bisa lulus remedial 100%. Coba kamu ingat kembali soal-soal yang muncul di ujian, Shiraishi-san.”
“…”
“…”
“…”
Kami bertiga terdiam. Lalu Mizuno-san menatapku dengan penuh tanda tanya.
Kumohon, Shiraishi-san. Pasti kamu dapat mengetahi bagaimana polanya.
Sekitar semenit kemudian, Shiraishi-san yang dari tadi memegang dagunya sambil berpikir sepertinya telah menemukan sesuatu.
“Aku mengerti. Coba pinjamkan catatan itu.”
“Ah, ini, silakan.” Mizuno-san memberikan catatanku kepada Shiraishi-san.
Shiraishi-san membalik-balikkan halaman catatan Matematika, dari materi awal hingga materi terakhir yang diujiankan kemarin. Setelah itu, dia menunjukkan catatan itu ke Mizuno-san.
“Kamu fokuskan belajar di sini, di sini, di sini, dan di sini. Jika kamu mengerti semua bagian ini, pasti kamu bisa lulus remedial.”
“Baiklah, Shiraishi-san. Akan kucoba.”
Dengan sisa waktu yang sedikit, aku dan Shiraishi-san menjelaskan semua bagian tadi ke Mizuno-san agar dia bisa. Memberikan soal untuk dikerjakannya dan menjelaskan cara menyelesaikannya jika dia tidak bisa.
Kami selesai tepat saat bel tanda sekolah akan ditutup berbunyi.
“Makasih banyak, Shiraishi-san dan Amamiya-kun.”
“Um, sama-sama.”
“Sama-sama.”
Setelah aku dan Shiraishi-san mengatakan itu, Mizuno-san pamit untuk pulang. Dengan ini, seharusnya dia akan lulus remedial besok. Catatanku juga dibawanya, semoga dia bisa belajar sedikit lagi nanti malam.
Setelah membereskan dan memasukkan barang-barang kami ke dalam tas, kami meninggalkan ruang klub ini.
Aku berjalan di lorong gedung khusus ini bersama dengan Shiraishi-san. Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padanya. Kenapa dia tidak menggunakan namaku saat berbicara denganku. Dia hanya menggunakan kata “kamu.” Padahal dia tahu namaku. Ingin kutanya padanya, tapi aku tidak berani. Lagi pula kami hanya sebatas teman seklub.
Kalau Mizuno-san, Seto-san, dan beberapa murid kelas 2-D mungkin memanggilku tanpa “kun” atau “san” karena lebih mudah. Terserah mereka saja, sih.
Baiklah, saatnya pulang. Kalau kesempatan itu datang, akan kutanya padanya nanti.
Dengan demikian, hari-hariku selepas pulang sekolah akan diisi dengan menunggu seseorang yang datang ke Klub Bantuan sebagai klien.
4
Akhir pekan berakhir dengan begitu cepat dan sekarang telah memasuki hari Senin lagi. Saatnya kembali menjadi seorang pelajar setelah beristirahat kemarin. Biasanya Taka mengerimiku pesan saat akhir pekan yang isinya ajakan pergi entah ke mana, tapi belakangan ini aku sudah jarang bertemu dengannya.
Saat memasuki kelas setelah mengatakan “Selamat pagi,” aku disambut dengan Mizuno-san yang ternyata sudah datang duluan.
“Amamiya, makasih ya… Berkat kamu dan Shiraishi-san, aku berhasil lulus remedialnya. Dan juga, nilanya jauh lebih bagus. Sekali lagi, makasih ya… Ini catatanmu.” Mizuno-san mengatakannya tepat di depan mukaku.
Mizuno-san, kamu terlalu dekat. Aku ambil catatan itu, lalu sedikit mundur.
“Baguslah kalau begitu. Nanti jangan lupa berterima kasih ke Shiraishi-san juga.”
“Baiklah. Sekali lagi, makasih, ya…”
“Iya, sama-sama.”
Setelah itu, aku menuju tempat dudukku.
Karena suara Mizuno-san sangat besar sampai terjangkau ke seluruh sudut kelas 2-D, murid-murid lain mulai penasaran dengan apa yang terjadi.
“Eh, ada apa Atsuko?” Fuyukawa-san langsung bertanya padanya.
“Mizuno-san, kamu kenapa?”
“Jumat lalu, aku dipaksa Misa minta tolong ke Klub Bantuan untuk bisa lulus remedial. Ternyata di klub itu ada Amamiya dan Shiraishi-san. Aku sangat tertolong dengan bantuan mereka.”
“Eh, dua orang peringkat pertama dan kedua anggota Klub Bantuan?”
“Iya. Kalau ada masalah atau perlu konsultasi, datang saja ke sana.”
“Boleh tuh…”
“Lagian kita juga ngga bisa bicara semua hal dengan guru konseling.”
“Ya, benar…”
“Ya, ya…”
Dari pagi, suasana kelas sudah ramai. Aku tidak membencinya. Seperti inilah seharusnya masa sekolah. Lagi pula, seperti kata Sakamoto-sensei waktu itu, aku akan membantu teman-temanku. Semoga mereka bisa menjalani masa SMA dengan nyaman juga, seperti yang kuharapkan.
Rasa terima kasih yang diutarakan Mizuno-san kepadaku tadi rasanya sangat tulus, membuatku senang karena bisa membantu orang lain.
Hari ini aku sungguh menikmati waktu-waktuku di sekolah yang tanpa sadar jam pelajaran ketujuh sudah berakhir. Bel pulang telah berbunyi. Saatnya ke ruang klub.
Saat aku hendak berdiri dari kursiku untuk meninggalkan kelas, Taka yang terengah-engah seperti habis berlari masuk ke kelasku. Dia terburu-buru sekali. Kenapa, ya… Seperti biasa, murid-murid perempuan kelasku terpesona melihat dirinya.
“Itu Hiroaki-kun…”
“Kyaaa, Hiroaki-kun. Kenapa dia ke kelas kita?”
“Pasti dia ada perlu dengan Amamiya.”
“Ah, iya…”
Mm… memang Taka seorang laki-laki yang tampan, alias ikemen. Menjadi pusat perhatian pasti sudah menjadi kesehariannya.
Taka menuju ke tempatku sambil tersenyum.
“Yo, Taka… Lama ngga ketemu. Ada apa ke sini?”
“Yo, Ryuki… Sebenarnya ada yang ingin kutunjukkan.”
“Apa itu?”
“Sebentar.”
Taka mulai mengambil sesuatu dari dalam tas pundaknya. Dia mengeluarkan beberapa kertas. Sepertinya itu cetakan foto.
“Itu kan foto yang kamu potret saat kita ke Meiji Jingu?”
“Ya, tepat sekali. Aku ingin kamu lihat hasil fotonya.”
“Oh begitu…” Aku ambil dan melihat-melihat foto itu.
Foto yang dihasilkan Taka sangat bagus, menurutku. Dia memang menggunakan kamera ponselnya saat itu, tapi tidak kusangka kalau hasilnya bisa sebagus ini. Kemampuannya dalam menggunakan kamera sangat luar biasa.
“Kamu mengeditnya lagi?”
“Tentu saja agar hasilnya lebih bagus.”
Dengan kemampuannya memotret sudah bagus ditambah dengan kemampuannya dalam mengedit fotonya, Taka luar biasa. Dia hebat.
“Eh, apa ini?”
“Bolehkah kami lihat, Hiroaki-kun?”
Mizuno-san dan Fuyukawa-san yang sudah di dekat kami menanyakan itu. Mereka seperti penasaran. Ah, Seto-san juga ada. Mereka selalu bertiga kalau kuingat-ingat.
“Ini foto yang kuambil saat aku dan Ryuki ke Meiji Jingu beberapa waktu yang lalu.”
“Heee… Kalian sepertinya dekat, ya… sudah panggil dengan nama masing-masing.” Mizuno-san tajam sekali.
“Ya bisa dibilang begitu. Ya ngga, Ryuki?”
“…Ah, iya.”
“Dan kau,Ryuki… sepertinya hubungan dengan teman sekelas sudah semakin baik.”
“Ya, seperti itu. Aku sudah jelaskan semuanya kepada mereka. Kan sudah kukatakan sebelumnya, setiap orang itu memiliki gilirannya masing-masing. Giliranku sudah tiba dan sudah kulakukan.”
“Baguslah kalau begitu.”
“Ini fotonya... hasilnya bagus-bagus, ya… Kalau bisa, jangan kebanyakan memotretku.” Aku mengembalikan foto-foto itu kepada Taka.
“Ngga apa-apa, kan? Kamu kan keren, Ryuki.”
“Eh, coba lihat foto-foto itu.” Seto-san meminta untuk melihat foto-foto itu.
Seto-san, Mizuno-san, dan Fuyukawa-san, mereka bertiga bergantian melihatnya.
Sedangkan aku hanya bisa diam mendengar tanggapan Taka mengenai diriku yang katanya keren. Dilihat dari mana pun, aku tidak pernah berpikir diriku ini keren atau tampan. Aku hanya seorang laki-laki biasa dari suatu desa di Prefektur Nagano yang sedang bersekolah di Tokyo.
“Bagus ini, Hiroaki-kun. Amamiya-kun juga terlihat keren.”
“Iya, seperti Misa katakan, foto-fotonya bagus, Hiroaki-kun.”
“Um, aku juga setuju dengan Misa dan Atsuko.”
“Lihat, Ryuki! Mereka saja bilang kalau kau keren.”
“Iya, iya…” Aku menyetujui saja, lagi pula aku tidak suka berdebat karena hal seperti ini.
“Ah, ini… foto Amamiya yang di Sumur Kiyomasa terlihat lucu, ya…” Seto-san mengambil selembar foto itu.
“Iya, benar.”
“Iya…”
Mizuno-san dan Fuyukawa-san tersenyum-senyum saat melihat foto itu.
Mau bagaimana lagi, itu saat aku disuruh menutup mata dan merilekskan tubuh. Wajar terlihat lucu.
“Kalau begitu, aku pergi ke ruang klub dulu.” Aku berdiri dari kursiku.
“Eh, kamu masuk klub, Ryuki? Taka sedikit terkejut. Oh iya, dia belum tahu.
“Iya. Amamiya anggota Klub Bantuan yang waktu itu ada infonya di mading. Jumat kemarin, aku dan Atsuko pergi ke sana untuk minta bantuan.”
“Heee… kalau aku ke sana, berarti bisa bantu aku dalam pemotretanku, kan?
“Kalau itu, mungkin saja bisa kulakukan.”
“Anggotanya siapa saja?”
“Aku dan Shiraishi-san.”
“Oh… Shiraishi-san, ya? Kebetulan sekali kan, Ryuki?”
“Apanya?”
“Kau kan tertarik dengan Shiraishi-san, jadi rasanya pas sekali bisa seklub dengannya.”
“Eh?”
Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Seto-san terkejut.
Aku dan Taka melihat ke arah mereka.
“Kenapa dengan kalian bertiga? Ah, apa kalian tertarik dengan Ryuki?” Taka mengatakannya sambil menyeringai.
“Hey Taka, jangan katakan sesuatu yang bisa bikin salah paham. Aku cuma ingin tahu Shiraishi-san itu orangnya seperti apa. Itu saja.”
“Iya, iya…”
“Sampai jumpa…”
Setelah mengatakan selamat tinggal, aku meninggalkan kelas dan menuju ruang Klub Bantuan.
Saat membuka pintu ruang klub, Shiraishi-san sudah tiba duluan di sana. Dia sedang membaca buku, sama seperti kemarin. Buku yang dibacanya kali ini masih buku yang sama seperti kemarin. Apa dia membacanya dua kali?
Setiap kali masuk ke ruangan ini, aku selalu menyapanya.Setelah menyapanya, aku duduk di kursiku. Kulemaskan tubuhku, lalu menghela nafas sambil melihat ke langit-langit ruangan ini. Pelajaran Pendidikan Olahraga hari ini sedikit menguras staminaku. Tadi pagi, kami melakukan pertandigan bola voli dengan kelas 2-B. Sudah lama sekali tidak bermain enam versus enam, jadi aku bermain dengan serius. Hasilnya, kelas 2-A menang dan aku kelelahan, tapi juga menyenangkan. Kelas gabungan memang menyenangkan.
“Uhuk, uhuk…” Shiraishi-san terbatuk kecil.
Aku yang menyadari itu langsung melihat ke arahnya.
“Kenapa, Shiraishi-san? Apa kamu terkena Flu?”
“Tidak apa-apa. Bagaimana dengan hasil remedial temanmu itu?”
“Ah, Mizuno-san, ya… Dia lulus remedialnya dan nilainya juga lebih bagus. Dia mengatakan terima kasih untukmu, Shiraishi-san. Ah, mungkin sebentar lagi dia ke sini untuk mengatakan terima kasih langsung kepadamu.”
“Begitu ya…”
“Ya, begitu. Sudah kuduga, Shiraishi-san memang hebat.”
“Ah, tidak. Kamu yang hebat karena bisa menemukan cara termudah.”
Itu dia… Shiraishi-san tidak menggunakan namaku. Dia masih hanya menggunakan “anata-kamu” saat berbicara denganku. Saat berbicara, dia juga tidak melihat ke arahku. Dia tetap fokus dengan buku yang dibacanya. Sungguh gadis yang berbeda.
“Ngomong-ngomong,” Shiraishi-san menambahkan, “Hiratsuka-sensei sudah memberikan anggaran klub.”
“…Ah, baguslah… Setidaknya dengan anggaran itu kita bisa pakai untuk menjamu klien kita yang datang ke sini.”
“Maksudmu?”
“Kita gunakan uang itu untuk memberi klien kita minum dan camilan saat mereka sedang membicarakan masalahnya kepada kita. Bagaiaman kalau kita beli peralatan teh dan sedikit camilan?”
“Mm… ide bagus. Kalau begitu, akan kubeli.”
“Perlu kutemani? Ini kan untuk klub.”
“Tidak perlu, aku pergi sendiri saja.”
“Ah, begitu ya…”
Setelah itu, percakapan kami terhenti.
Suasana ruang klub kembali menjadi sunyi. Sesekali terdengar suara dari ruang klub sebelah. Aku pergi ke arah jendela dan melihat anggota klub olahraga yang sedang mengelilingi sekolah. Mereka sangat bersemangat.
Kembali ke tempat dudukku. Aku, yang tidak membawa buku bacaan hari ini dan juga masih terasa lelah, mengatur posisi badan untuk tiduran di atas meja ini sambil menunggu klien yang datang. Kalau tertidur dan ada klien yang datang ke sini, pasti aku terbangun. Lain halnya kalau tidak ada yang datang. Untuk jaga-jaga, kuatur juga alarm di ponselku.
5
Akh…
Aku terbangun karena leherku sakit akibat tiduran di meja di ruang klub ini. Entah berapa lama aku tertidur di sini. Aku masih dalam posisi tiduran di meja dengan wajah mengahadap ke pintu.
Di sebelah kiriku ada Shiraishi-san yang sedang berbicara dengan seseorang. Suara ini, sepertinya aku mengetahuinya. Suara ini dari mulutnya Mizuno-san.
“Halo, Shiraishi-san.”
“Halo.”
“Aku datang mau ucapkan terima kasih karena kemarin kamu dan Amamiya sudah bantu aku belajar. Aku lulus ujian remedialnya.”
“Begitu ya. Perlu kubangunkan dia?”
“Ah, ngga usah. Di jam Pelajaran Olahraga tadi pagi, kami main voli dengan kelas 2-C. Dia bagitu semangat. Pasti dia capek.”
“Hm, begitu ya…”
“Lagian dia juga hidup sendiri di sini. Udah pasti dia capek. Biarkan dia istirahat sebentar.”
“Hidup sendiri?”
“Eh? Kamu ngga tau dia pindah ke sini dari Nagano?”
“Tidak.”
“Ah, begitu ya… Lebih baik kamu tanya langsung. Dia kan teman klubmu sekarang.”
“Ah, um.”
“Kalau begitu, aku pamit dulu. Sekali lagi makasih ya…”
“Iya, sama-sama.”
Suara langkah kaki Mizuno-san mendekat ke arahku karena dia akan keluar dari ruangan ini. Aku yang dari tadi sudah terbangun mencoba menutup kembali mataku agar dia tidak tahu kalau aku sudah bangun. Dia menggeser pintu ruangan ini, lalu pergi setelah menutup kembali kursinya. Langkah kakinya lama kelamaan semakin menghilang.
Aku terkejut saat Mizuno-san tidak menceritakan tentangku langsung kepada Shiraishi-san. Kupikir, dia akan langsung menceritakan semuanya. Ternyata dia memang orang yang memiliki hati yang baik. Walaupun awalnya dia sangat tidak menyukai diriku.
Tidak lama kemudian, alarm ponselku berbunyi di waktu yang sudah kuatur sebelumnya yaitu pukul 17:45. 15 menit sebelum sekolah tutup.
Aku langsung mematikan alarm itu dan bangun dari posisi tidurku sambil merentangkan tangan. Ah, rasanya sudah tidak terlalu lelah lagi, tapi leherku sedikit sakit yang membuatku memutar-mutarkan kepalaku.
Baiklah, mungkin sekarang saatnya untuk pulang. Sudah pasti tidak ada lagi orang yang datang ke sini.
Kulihat ke arah Shiraishi-san. Dia tidak duduk di kursinya sambil membaca buku, melainkan sedang berdiri di dekat jendela, memandangi halaman sekolah yang gelap karena terhalang dengan gedung khusus ini. Entah kenapa pandanganku tidak bisa kualihkan dari dirinya.
Setelah beberapa saat, dia memalingkan pandangannya ke arahku yang memang dari tadi memandangi dirinya, sehingga mata kami bertemu. Mataku terbuka lebih lebar, membuatku tidak merasakan kantuk lagi.
“Ah, kamu sudah bangun, ya…”
“Iya…”
“Kalau begitu, kita cukupkan aktivitas klub kita hari ini sampai di sini.”
“Ah, iya. Sudah tidak ada yang datang lagi juga…”
“Iya…”
Kami bersiap-siap untuk pulang. Menutup semua jendela dan memastikan tidak ada barang kami yang tertinggal. Lalu, kami keluar dari ruangan ini dan mengunci pintunya.
Aku berjalan di belakang Shiraishi-san menuju loker sepatu dan mengatakan selamat tinggal saat tiba di sana.
Hari yang melelahkan di sekolah telah berakhir. Saatnya pulang ke apartemen, makan, mandi, lalu tidur. Hari esok sedang menunggu gilirannya untuk datang.