Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 14



1




Tidak terasa sekarang sudah memasuki bulan Juni. Banyak hal telah terjadi sejak aku beresekolah di Tokyo.



Hari ini tanggal 4 Juni, hari Sabtu, aku memiliki janji dengan Taniguchi-san.



Janji ini mengenai kemenangan tim bola voli putri saat penyisihan Inter High yang mana aku akan menemaninya belanja jika tim bola voli putri meraih kemenangan.



Namun, perjalanan tim bola voli putri di penyisihan Inter High sudah berakhir. Mereka mengalami kekalahan di pertandingan keempat mereka. Saat mereka kalah, beberapa pemain seperti Nazuka-san, Shimizu-san, Taniguchi-san, dan beberapa orang yang tidak kuketahui namanya, mengunjungi ruang klub bantuan, tempatku berada setelah sekolah usai, dan meminta maaf.



Awalnya, aku tidak mengerti kenapa mereka meminta maaf padaku mengenai kekalahan yang dialamimereka. Ternyata, mereka takut aku kecewa terhadap kekalahan itu.



Aku menjelaskan lagi kepada mereka kalau selama mereka bertanding dengan sungguh-sungguh untuk meraih kemenangan, maka apapun hasilnya bukanlah masalah. Memang benar kalau menang akan terasa sangat menyenangkan, tapi kekalahan bukanlah hal yang memalukan. Rasa semangat yang mereka kerahkan saat bertanding itu seperti bisa kurasakan dan kuterima dengan bangga.



Kekalahan ini mungkin merupakan kekalahan pertama yang sangat menyakiti perasaan mereka. Setidaknya, mereka bisa belajar dari kekalahan ini untuk bangkit kembali.



Hal yang berbeda dialami oleh tim bola basket putri. Fuyukawa-san dan kawan-kawan berhasil melaju ke babak selanjutnya. Kalau tidak salah, mereka akan memainkan pertandingan babak perempat final pekan depan. Semoga mereka bisa menjadi juara dan mewakili Tokyo turnamen utama nanti.



Setelah itu, kukatakan kepada Taniguchi-san kalau aku akan menepati janji waktu itu. Setelah mencari waktu yang pas, kuputuskan untuk menepati janji itu pada hari ini.



Kami akan bertemu di depan Patung Hachiko, Shibuya, pukul 1:30 siang.



Sekarang sudah lewat pukul 1 siang. Aku harus bersiap-siap untuk pergi. Pergi lebih awal ke tempat pertemuan sudah menjadi kebiasaanku.



Aku mengenakan baju kaus biasa berwarna biru dan celana jeans berwarna hitam, memakai sepatu berwarna hitam-putih, dan tidak lupa membawa tas pundak.



Dari Daikanyama, aku berjalan kaki menuju Stasiun Shibuya.



Cuaca hari ini sedikit mendung. Pergantian musim dari musim semi ke musim panas memang selalu diawali dengan musim hujan. Semoga saja tidak ada hujan yang turun hari ini. Untuk jaga-jaga, aku menyempatkan mampir ke konbini untuk membeli payung lipat dan memasukkannya ke tas pundakku.



Setelah sampai di Stasiun Shibuya, aku berdiri di depan Patung Hachiko untuk menunggu Taniguchi-san.



Sambil memainkan ponsel di tanganku, aku melihat ke kiri dan ke kanan.



Tak lama kemudian, kulihat seorang gadis keluar dari arah Stasiun Shibuya. Gadis yang kukenal dan yang membuat janji denganku. Gadis itu adalah Taniguchi Hitoka-san.



Mata kami bertemu dan dia segera berjalan ke arahku.



Dia memakai pakaian musim panas. Baju berwarna violet dengan lengan suar yang menutupi lengan bawahnya dan desain front slit yang ringan memberikan efek yang bagus. Setiap kali bergerak, lengan bajunya seperti berkibar, seperti memberikan kesan feminim. Dia memakai rok putih berenda setinggi lututnya. Terdapat tas kecil berwarna biru yang tersangkut di bahunya.



Dia terlihat sangat berbeda jika dibandingkan dengan seragam sekolah dan pakaian olahraga yang selalu dipakainya saat berada di sekolah dan di kegiatan klub. Hari ini dia terlihat sangat feminim.



“Maaf membuatmu menunggu, Amamiya-kun,” kata Taniguchi-san saat menghampiriku.



“…”



“Hm? Kenapa, Amamiya-kun?”



“Ah, selamat siang, Taniguchi-san… etto, ini pertama kalinya aku ketemuan dengan Taniguchi-san di luar sekolah dengan pakaian bebas,” kataku sedikit gugup.



“Benar juga, ya.”



“Kamu terlihat feminim dan manis, Taniguchi-san.”



“…”



Taniguchi-san terdiam.



Tingkah lakunya seperti seorang gadis yang sedang tersipu malu.



Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?



Padahal, aku hanya mengatakan secara jujur dari apa yang kulihat.



Aku terus melihat ke arahnya hingga akhirnya mulutnya mulai bergerak kembali.



“Makasih,” katanya sambil melihat ke arah lain.



“Um. Terus, sekarang kita ke mana?”


“Mau nonton film dulu? Ada film yang mau kunonton.”



“Boleh.”



“Kalau begitu, ayo kita ke TOHO Cinema.”



Setelah mengatakan tempat tujuannya, aku mengikuti Taniguchi-san dengan berjalan di sampingnya. Ini pertama kalinya bagiku pergi bersama dengan seorang gadis di akhir pekan. Aku sama sekali tidak tahu harus mengajaknya ke mana setelah ini karena aku sendiri masih baru di Tokyo.



Setelah berjalan sekitar dua menit dari Patung Hachiko, kami tiba di TOHO Cinema dan masuk ke dalam.



Kami sedang melihat daftar film yang akan tayang untuk hari ini.



Saat aku sedang melihat-melihat, Taniguchi-san memanggilku.



“Amamiya-kun, ini film yang mau kunonton,” katanya sambil menunjuk ke salah satu poster film.


“Sepertinya menarik,” jawabku singkat sambil mengangguk.



“Tentu saja. Film ini diadaptasi dari novel, lho. Novelnya ini memenangkan kompetisi novel yang diadakan Kadokawa.”



“Begitu ya. Aku enggak tau.”



“Aku sudah baca novelnya. Love story sangat terasa.”



“Kalau begitu, ayo kita nonton.”



Kami membeli tiket dan tidak lupa pula membeli makanan dan minuman untuk kami bawa saat menonton nanti.



Terakhir kali aku pergi ke bioskop bersama dengan Taka karena dia yang mengajakku. Kali ini aku pergi ke bioskop bersama seorang gadis. Apa boleh buat karena aku sudah berjanji dengannya.



Kami duduk di tempat kami masing-masing dan tidak lama kemudian film dimulai.







2




Sungguh film yang menarik.



Sesekali pergi ke bioskop merupakan pilihan yang bagus untuk mencari kesenangan.



Kami berdua meninggalkan biokop ini sambil bercerita tentang film yang baru saja kami tonton. Sungguh menyenangkan bisa membicarakannya dengan orang lain.



“Gimana, Amamiya-kun? Sungguh film yang bagus, kan?”



“Iya. Ceritanya sangat menyentuh.”



“Bagian mana yang kamu suka?”



“Hm… Aku suka saat si laki-laki mulai mengubah gaya hidupnya yang awalnya menutup diri dengan dunia karena arahan si gadis.”



“Um, Aku juga suka bagian itu. Tapi…”



“Tapi?”



“Bagian yang paling kusuka yaitu saat si laki-laki menerima dan menghadapi kenyataan kalau si gadis hanya memiliki waktu hidup yang sebentar. Tanpa sadar, aku meneteskan air mata.”



“Sebenarnya, Aku juga meneteskan air mata, lho.”



“Beneran?”



“Iya. Cerita dari film tadi itu sedikit mengingatkanku dengan suatu novel yang kubaca.”



“Oh, begitu ya.”



“Makasih sudah ngajakin aku nonton, Taniguchi-san.”



“Iya, sama-sama.”



“Kita ke mana sekarang?”



“Ke Shibuya 109.”



“Ah, tepat di depan TOHO Cinema.”



“Iya, ayo kita ke sana.”



“Ayo,” jawabku singkat.



“Oh iya, Amamiya-kun, katanya kamu tinggal sendirian di Tokyo?”



“Iya. Kok kamu bisa tau? Ah! Pasti dari Shimizu-san dan Nazuka-san, kan?”



“Iya. Hehe…” Dia pun tertawa dan melanjutkan, “Mengenai belajar memasak yang waktu itu kamu katakan…”



“Oh iya, kapan kamu bisa ajarin aku masak?”



“Gimana kalau besok?”



“Besok, ya? Bagus tuh.”



“Kalau begitu, besok, ya? Bahan-bahan makananannya nanti biar aku siapkan.”



“Eh? Nggak apa-apa gitu?”



“Iya. Nggak apa-apa, kok.”



“Makasih, ya. Oh iya, kemarin, Aku dapat kiriman bahan makanan juga dari Nagano, seperti beras, sayur, dan telur.”



“Iya, sama-sama. Berarti, bahan makanan selain itu nanti akan kubawa.”



Setelah berjalan sebentar, kami tiba di Shibuya 109.



Taniguchi-san berjalan terus seperti sudah terbiasa berbelanja di sini dan aku hanya mengikutinya.



Kami tiba di lantai tiga.



Saat sedang berjalan, aku melihat ke arah kiri dan kanan. Terdapat banyak toko yang berjualan. Namun, perasaanku sedikit menjadi kacau karena di lantai ini terdapat toko yang menjual pakaian dalam wanita. Secara refleks, aku membuang pandanganku dari arah toko itu dan langsung melihat ke arah Taniguchi-san yang berjalan di depanku. Tak lama kemudian, kami tiba di toko pakaian.



Taniguchi-san terlihat sangat antusias dalam memilih baju. Satu per satu baju diletakkan di depan tubuhnya untuk mengecek apakah cocok dengan tubuhnya itu.



Dia memiliki tubuh yang tidak pendek, juga tidak tinggi, namun sangat proporsional. Kulitnya putih. Rambutnya tidak panjang dan juga tidak pendek, berwarna coklat dan lurus. Dia memiliki wajah yang cantik, menurutku.



Aku yang berada di sampingnya hanya bisa melihatnya memilih-milih baju, hingga akhirnya dia menanyakan baju mana yang lebih bagus.



“Amamiya-kun.”



“Ya?”



“Menurutmu, baju mana yang bagus?”



Dia memegang dua baju di tangan kiri dan kanannya yang berwarna biru dan merah.



Jujur saja, aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang fashion wanita. Jadi, yang bisa kupilih adalah baju yang menurutku cocok untuk dirinya.



“Menurutku yang berwarna biru itu cocok dengan kulitmu. Ah, sebentar… mungkin, warna merah muda ini juga cocok,” kataku saat melihat baju lain di dekatnya.



“Kalau begitu, aku coba dua-duanya dulu, deh.”



“Ah, iya.”



Dia mengambil baju berwarna merah mudah itu satu lagi, mencoba memakainya di kamar ganti.



Aku menunggu sambil melihat ke arah sekitarku. Beberapa pelayan wanita dari toko ini melihat ke arahku yang membuatku merasakan adanya keanehan dan ketidaknyamanan.



Selagi Taniguchi-san mencoba pakaian tadi, datanglah seorang pelayan wanita menghampiriku. Sepertinya dia sudah mengamati kami dari tadi.



“Baju ini cocok untuk pacar anda,” katanya sambil menunjukkan baju berwarna hitam.



Baju musim panas kamisol berwarna hitam dengan leher berbentuk V memang terlihat manis. Tidak ada salahnya untuk dicoba. Baju seperti ini sangat pas digunakan saat memasuki akhir Juli hingga Agustus.



“Terima kasih,” kataku secara spontan.



Pelayan itu pergi sambil tersenyum.



Ah, aku lupa mengatakan kalau aku bukan pacarnya.



Taniguchi keluar dari kamar ganti pakaian dengan pakaian yang berwarna merah muda yang kupilih tadi.



“Gimana, Amamiya-kun?”



“Terlihat cocok.”



“Kalau begitu, aku coba satu lagi.”



“Ah, sebentar.”



“Ada apa?”



“Tadi ada pelayan yang saranin baju ini,” kataku sambil mengambil baju tadi. “Menurutku cocok dengan Taniguchi-san.”



“Kalau begitu, aku coba juga.”



Dia mengambil baju itu dari tanganku dan kembali ke kamar ganti.



Dia keluar setelah mengganti bajunya satu per satu untuk meminta pendapatku. Sekarang, dia sudah selesai mencoba semua baju itu



“Jadi, baju mana yang menurutmu bagus, Amamiya-kun?”



“Hm… menurutku yang berwarna merah muda dan hitam ini sangat cocok. Warna biru tadi juga bagus.”



“Kalau begitu, aku beli ketiganya.”



“Apa nggak apa-apa kamu nanya ke aku? Aku sebenarnya nggak terlalu tau tentang hal seperti ini.”



“Nggak apa-apa, kok. Aku kan cuma minta pendapatmu, Amamiya-kun. Jadi, kalau kamu jawab dengan jujur, Aku jadi sedang.”



“Begitu ya. Baiklah. Yang tadi Aku jujur, ya.”



“Haha, Aku tau, kok.”



Dia tertawa.



Wajahnya yang terpasang ekspresi tawa itu sangatlah manis, hingga membuatku ingin melindunginya.



“Selanjutnya, Aku mau cari celana dan rok. Amamiya-kun, tolong, ya,” katanya sambil memberikan baju yang dia pilih tadi kepadaku.



“Ah, um,” jawabku sambil mengambil baju-baju itu.



Perasaanku saat ini sedikit bercampuraduk.



Pertama, Aku senang karena bisa membantu Taniguchi-san dalam memilih pakaian yang ingin dia beli dan dia juga terlihat senang.



Kedua, pandangan para pelayan kepadaku yang berada di samping Taniguchi-san sedikit aneh. Apa karena Aku terlihat seperti anak desa? Entahlah. Lebih baik Aku mengikuti Taniguchi-san saja dan menghiraukan keadaan sekitarku.


Taniguchi-san berjalan menuju bagian celana dan rok. Dia mulai mencari rok yang sesuai dengan baju yang sudah dipilihnya. Seperti tadi, dia mencobanya dan memintaku untuk memberikan pendapat. Anehnya, dia setuju dengan semua pendapatku untuk celana dan rok.



Akhirnya, dia memilih celana jeans panjang dan juga rok yang setinggi lututnya.



Kami menuju kasir sambil membawa baju, celana, dan rok.



Taniguchi-san terlihat senang.



“Terbeli juga, deh.”



“Masih ada yang ingin kamu beli?”



“Hm… Aku ingin beli sepatu dan juga tas.”



Sudah kutebak, pasti masih ada benda yang ingin dia beli.



“Begitu ya.”



“Kamu nggak keberatan nemanin aku, kan?”



“Tentu saja nggak. Malahan, aku senang bisa nemanin kamu.”



“Ah, begitu ya.”



Taniguchi-san tersenyum. Sepertinya, aku baru saja mengatakan hal yang ingin didengarnya.



Waktu itu, memang dia mengajakku untuk berbelanja secara tiba-tiba. Mungkin dia berpikir kalau aku akan enggan karena memang kami hanya sebatas kenalan yang saat itu aku membantu latihan klub bola voli putri. Tidak mungkin aku menerima ajakannya dengan perasaan enggan. Jika aku merasa enggan, maka sudah kukatakan sejak saat dia mengajakku dan menolak ajakannya.



“Kalau begitu, ayo ke toko selanjutnya.”



“Ayo. Ikut aku, Amamiya-kun.”



“Iya,” kataku sambil mengambil meraih tangan kanannya.



“A-Amamiya-kun?”



“Biar aku bawa belanjaannya.”



“Ah, maksudnya itu, ya. Makasih.”



“Um.”



Kami menuju lift menuju lantai lima. Di lantai ini terdapat berbagai macam aksesoris, seperti tas, sepatu, topi, dan sebagainya.



Taniguchi-san menuju suatu toko sepatu. Sepertinya, dia memang sudah sering datang ke tempat ini. Dia sudah tahu toko yang mana yang akan dia kunjungi.



Di toko ini, dia akhirnya membeli satu sandal dan sepatu wanita. Selanjutnya, tas.



Aku terus mengikutinya sambil membawa belanjaannya.



Di toko tas, dia menanyakan tas mana yang cocok untuknya. Karena tubuhnya yang tidak tinggi dan tidak pendek, maka tas wanita berukuran sedang mungkin terlihat cocok untuknya. Sedangkan untuk warna tasnya mungkin tas berwarna cerah cocok untuknya. Akhirnya, dia membeli tas berwarna merah.



Sepertinya, dia sudah membeli semua apa yang diinginkannya. Sekarang, kedua tanganku sudah penuh dengan barang belanjaannya. Ternyata, seorang gadis kalau berbelanja memang tidak bisa sedikit.



“Ah,” kata Taniguchi-san seperti terkejut.



“Ada apa, Taniguchi-san?”



“Amamiya-kun, ayo kita ke lantai empat dulu sebelum pulang. Aku lupa beli sesuatu.”



“Baiklah.”



Ternyata, ada satu hal lagi yang belum dia beli.



Turun ke lantai empat menggunakan lift, dia menuju toko Adidas. Sepertinya dia ingin membeli perlengkapan olahraga.



“Sebenarnya, aku mau beli pakaian dan sepatu olahraga yang baru.”



“Begitu ya. Karena itulah, kamu ke sini.”



“Iya. Aku ingin bantu klub voli supaya jadi lebih kuat. Karena itulah, Aku harus tau tentang voli.”



“Semangat yang bagus. Pasti akan berhasil.”



“Makasih. Kalau begitu, bantu aku pilih, dong, Amamiya-kun.”



“Serahkan padaku.”



Kami melihat-lihat seisi toko sebelum menentukan mana yang harus dibeli. Aku melihat satu set pakaian olahraga yang bisa dikenakan saat bermain bola voli. Aku langsung menyarankannya dan Taniguchi-san langsung menyetujuinya. Untuk sepatu, aku menunjuk suatu sepatu olahraga berwarna putih-merah muda yang menurutku itu akan sangat cocok untuk Taniguchi-san dan dia memilih sepatu itu.



Setelah membayarnya, kami pun selesai dalam kegiatan belanja dan siap meninggalkan tempat ini. Kami pun kembali ke Stasiun Shibuya.



“Taniguchi-san, nggak apa-apa dengan belanjaan sebanyak ini?”



“Aku akan dijemput dengan mobil. Jadi, nggak masalah. Kalau naik kereta, mungkin sedikit merepotkan dengan belanjaan sebanyak ini.”



“Begitu ya. Kapan kamu dijemput?”



“Mungkin 15 menit lagi tiba. Jadi, Aku tunggu di sini dulu.”



“Begitu ya. Kalau begitu, Aku temanin kamu sampai dijemput.”



“Eh? Nggak apa-apa?”



“Iya. Apartemenku nggak jauh dari sini.”



“Makasih.”



“Iya.”



“Oh iya, untuk besok, bisa kasih tau alamat apartemenmu?”



“Ah, aku kelupaan.”



Aku memberikan alamat apartemenku yang di Daikanyama kepada Taniguchi-san. Ini pertama kalinya aku memberikan alamat ini kepada orang lain. Dia mencatat alamat apartemenku di ponsel miliknya.



“Kalau begitu, besok jam berapa, Amamiya-kun?”



“Karena kita akan masak, berarti sebelum jam makan siang. Jam 10 atau 11.”



“Jadi, jam 11 saja.”



“Baiklah.”



“Aku jadi sangat menantikannya.”



“Aku juga.”



Sambil menunggu Taniguchi-san dijemput, aku dan dia berbincang-bincang sedikit tentang klub voli dan tentang pertandingan mereka di Inter High.



Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan pakaian formal serba hitam muncul.



“Ah, Aku sudah dijemput. Sampai jumpa besok, Amamiya-kun.”



“Ya, sampai jumpa.”



Ternyata, pria itu supirnya Taniguchi-san.



Baiklah, sekarang giliranku untuk pulang dan menyiapkan semuanya untuk besok.







3




Setelah kemarin menghabiskan waktu bersama Taniguchi-san, aku akan menghabiskan watu di hari Minggu ini bersamanya lagi di kamar apartemenku.



Hari ini, dia akan mengajariku memasak sesuatu yang mudah dan enak. Aku sangat menantikannya.



Karena ini pertama kalinya ada orang lain yang akan masuk ke kamar ini, maka kugunakan waktu yang ada untuk membersihkan ruangan ini. Padahal kemarin, aku baru saja membersihkan ruangan ini, tapi aku harus melakukannya lagi karena hari ini merupakan hari yang spesial.



Setelah membersihkan ruangan, termasuk bagian dapur dan kamar mandi, aku menyiapkan segala peralatan yang akan kami gunakan untuk memasak nanti.



Waktu terus berlalu. Detik menjadi menit dan menit menjadi jam.



Saat waktu terus mendekati pukul 11, rasanya perasaanku menjadi gugup.



Tentu saja aku gugup karena hari ini ada seorang gadis yang datang ke kamar ini untuk pertama kalinya.



Setelah selesai membersihkan dan menyiapkan peralatannya, aku membersihkan tanganku di wastafel yang ada di dapur. Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk. Pasti itu Taniguchi-san.



Setelah mengelap tangan, aku membuka pintu kamar.



“Selamat siang, Amamiya-kun,” sapa Taniguchi-san saat dia melihatku membukakan pintu.



“Selamat siang, Taniguchi-san.”



Aku melihatnya berdiri di depan pintu sambil memegang plastik yang berisi bahan makanan seperti yang dikatakannya kemarin. Dia memakai pakaian musim panas yang kemarin dibelinya. Baju berwarna merah muda dengan desain leher-V, lengan baju yang tidak panjang memperlihatkan lengannya yang putih, rok berenda berwarna putih setinggi lutut. Hari ini, dia terlihat cantik juga seperti kemarin.



“Ini, bahan makanan yang kemarin aku bilang,” katanya mengangkat kedua tanannya untuk memperlihatkan kepadaku.



“Makasih. Maaf ya, ngerepotin.” Aku pun mengambilnya.



“Nggak apa-apa, kok.”



“Kalau begitu, silakan masuk.”



“Um, ya. Permisi.”



Taniguchi-san masuk ke dalam, lalu melepas sepatu yang dikenakannya. Aku siap untuk menutup pintu.



“Ama-“



“-Miya!”



“Whoa…”



Orang yang muncul saat aku hendak menutup pintu dan orang yang mengagetkanku ini adalah Nazuka-san dan Shimizu-san.



“Ngagetin saja,” kataku sambil mengelus dadaku.



“Kami datang juga, lho.”



“Kenapa kalian ada di sini?”



Saat aku bertanya kepada mereka berdua, Taniguchi-san yang berada di belakangku seperti sedang tertawa. Aku pun berbalik untuk melihat ke arahnya.



“Aku yang mengajak mereka, Amamiya-kun. Apa nggak boleh?”



“Tentu saja boleh, tapi setidaknya kasih tau, dong.”



“Kami mau ngagetin kamu,” kata Shimizu-san sambil tertawa kecil.



“Kita sukses melakukannya, Sumire.”



“Hahaha, iya. Kamu lucu banget tadi waktu kaget, Amamiya-kun.”



“Baiklah, baiklah. Silakan masuk, Nazuka-san, Shimizu-san.”



“Permisi,” kata mereka berdua.



Setelah mereka berdua masuk, aku melihat ke luar apakah ada orang lain dan sepertinya tidak ada. Lalu, aku menutup pintu kamar ini.



Mereka bertiga sekarang sedang berdiri di ruang tengah kamar ini sambil melihat ke seluruh sisi kamar.



“Heh… jadi seperti ini kamar anak laki-laki, ya.”



“Maaf ya, Taniguchi-san. Kamarku nggak ada apa-apa. Silakan duduk di mana saja kalian suka.”



“Ah, nggak apa-apa, kok.”



“Kamarmu rapi, ya, Amamiya-kun. Apa kamu selalu membersihkannya?”



“Iya, Shimizu-san. Setiap minggu aku selalu membersihkan kamar ini.”



“Begitu ya. Pantas saja.”



“Silakan duduk di mana saja kalian suka.”



“Oh iya, Amamiya-kun. Aku bawa minuman, nih,” kata Nazuka-san sambil memberikan plastik berisi minuman kepadaku.”



“Kalau aku bawa kue,” kata Shimizu-san sambil memberikan sekotak kue kepadaku.



“Makasih, ya. Maaf ngerepotin kalian.”



“Nggak masalah, kok. Ya, kan, Izumi?”



“Iya, benar.”




“Um, ya.”



Aku menuju dapur untuk meletakkan semua yang diberikan oleh mereka dan setelah itu memberikan minuman kepada mereka. Untung saja aku selalu menyediakan teh barley dingin yang bisa kuberikan kepada mereka.



Setelah menyediakan teh untuk mereka bertiga, aku kembali ke dapur.



Minuman dan kue yang diberikan Nazuka-san dan Shimizu-san langsung kumasukkan ke dalam kulkas.



Saat kulihat bahan makanan yang dibawa Taniguchi-san, terdapat banyak sekali bahan makanan. Bahkan ada daging dengan kualitas baik. Rasa daging ini pasti sangatlah enak. Sepertinya, dia sudah merencakan semuanya dengan sempurna karena semua bahan makanan ini bisa digunakan membuat makanan untuk porsi lebih dari empat orang.



Wajar saja. Dia merupakan manajer klub bola voli putri. Pasti sangat mudah merencakan hal seperti ini. Dan juga, kemarin, saat aku menemaninya berbelanja semuanya berjalan lancar dan tidak memakan waktu terlalu lama.



Di antara semua bahan makanan ini, ada satu bahan makanan yang menarik perhatianku. Kenapa ada coklat batang?



Taniguchi-san menghampiriku di dapur. Dia membawa celemek miliknya sendiri, tapi belum dipakai. Masih dipegang di tangannya.



“Kita akan masak apa hari ini, Taniguchi-san?”



“Kari.”



“Kari, katamu?”



“Iya. Kamu nggak suka?”



“Kari itu makanan kesukaanku, lho.”



“Beneran? Syukurlah kalau kamu suka. Kamu bisa membuatnya?”



“Bisa, sih. Tapi, rasanya selalu ada yang kurang. Nggak seenak yang pernah ibuku buat.”



“Kalau begitu, hari ini, Aku akan ajarin kamu bagaimana membuat kari menjadi makanan yang super enak.”



“Makasih, Taniguchi-san.”



“Ayo kita mulai dengan memakai celemek.”



“Tunggu sebentar. Aku lupa di mana kusimpan celemekku.”



“Oke.”



Saat Taniguchi-san sedang memakai celemeknya, aku berusaha mencari celemekku di lemari kecil di ruang tengah. Aku tidak pernah memasak saat memakai celemek.



Setelah memeriksa lemari kecil itu, akhirnya aku menemukannya.



Aku pun kembali ke dapur.



“Dapat celemeknya?”



“Ada, nih,” kataku sambil memakai celemek ini.



“Amamiya-kun, bisa tolong ikatkan bagian pinggang celemekku ini?”



“Ah, bisa.”



“Tolong, ya.”



Aku mendekati Taniguchi-san dan berdiri di belakangnya. Kuikat kain yang berada di bagian pinggang celemek ini seperti yang dikatakannya.



“Sudah, nih.”



“Makasih.” Taniguchi-san mengatakannya sambil tersenyum.



“Sama-sama. Oh iya, Taniguchi-san. Kenapa ada coklat batang? Bukannya kita mau buat kari?”



“Fufu… kita akan pakai coklat itu ke dalam kari.”



“Eh? Serius?”



“Iya. Dalam masakan kari, ada beberapa bahan rahasia yang bisa ditambahkan untuk membuat kari semakin enak. Salah satunya dengan menambahkan coklat.”



“Aku baru tau. Apa ada bahan lain selain coklat?”



“Ada, seperti apel, madu, kopi instan, yoghurt, saus steak, juga red wine.”



“Taniguchi-san hebat.”



“Makasih, Amamiya-kun. Baiklah, ayo kita siapkan semua bahan-bahannya. Bawang, kentang, dan wortel dikupas dan dibersihkan. Terus, dipotong-potong. Aku urus yang lainnya.”



“Siap, Chef Taniguchi.”



“Kenapa manggil aku dengan sebutan ‘chef’?”



“Haha, soalnya waktu itu kamu manggil aku ‘pelatih.’ Jadi… ini balasannya.” Aku tertawa kecil.



“Benar juga, ya. Haha.” Taniguchi-san pun ikut tertawa.



Baiklah. Sekarang saatnya untuk memasak.



Pasti kari yang kubuat bersama Chef Taniguchi rasanya enak.




4




Di saat aku dan Chef Taniguchi sedang memasak makanan kari terenak yang mungkin belum pernah kumakan, sesekali aku melihat ke arah Nazuka-san dan Shimizu-san yang berada di ruang tengah dekat tempat tidurku. Mereka berdua terlihat sedang membicarakan sesuatu.



Aku terus mengikuti instruksi dari Chef Taniguchi dan mendengar semua penjelasan yang dikatakannya dengan fokus yang tinggi.



Tiba-tiba…



“Sepertinya kalian sedang bersenang-senang.”



Shimizu-san berdiri di dekat dapur sambil melihat ke arah kami berdua. Nazuka-san juga.



“Sumire, ada apa?”



“Nggak ada apa-apa. Cuma mau lihat kalian bedua saja.”



“Lihat apa? Nggak ada yang menarik di sini.”



“Um, nggak ada yang menarik di sini,” kataku menguatkan perkataan Chef Taniguchi.



“Ada, kok. Kalian berdua kayak pasanganan, lho. Ya, kan, Izumi?”



“Iya. Aku juga berpikir seperti itu.”



“Mana mungkin. Ya, kan, Taniguchi-san?”



“…”



Taniguchi-san terdiam.



Dia berhenti melakukan perkerjaan memasaknya dan menundukkan pandangannya sehingga membuatku tidak bisa melihat ekspresi di wajahnya.



“Taniguchi-san?”



“Ah, um. Te-tentu saja nggak mungkin. Ada-ada saja kalian berdua. Haha…”



“Hm…” Shimizu-san melihat ke arah Taniguchi-san seperti curiga dengan jawabannya yang lambat.



“Ngomong-ngomong, ada yang bisa kubantu?” tanya Nazuka-san.



“Nggak apa-apa. Biar aku sama Amamiya-kun saja yang memasak. Kalian tunggu saja.”



“Begitu ya. Baiklah.”



“Lagian, Izumi nggak pintar memasak?”



“Tapi, Aku kan mau bantu kalian juga.”



“Sudah, sudah. Kita duduk dan tunggu saja, Izumi. Kalau kita bantu mereka berdua masak kari, bisa-bisa karinya jadi nggak enak.”



“Um, um. Seperti yang dikatakan Sumire. Kalian tunggu saja, ya.”



“Baik…”



Kegiatan memasak terus berlanjut.



Kari yang kami berdua buat ini tidak lama lagi akan segera matang.



Sekarang, aku akan menanak nasi dalam periuk tanah liat. Dengan menggunakan periuk ini, nasi yang sudah matang akan terasa lebih enak. Rasanya sangat berbeda jika dibandingkan dengan menanak nasi menggunakan rice cooker. Apalagi, aku memakai beras yang dikirimkan dari Nagano. Pasti Taniguchi-san, Nazuka-san, dan Shimizu-san akan menyukainya.



“Amamiya-kun, kamu masak nasi pakai periuk tanah liat itu?”



“Iya.”



“Nggak ada rice cooker?”



“Nggak. Masak nasi pakai periuk ini bikin nasinya jadi enak, lho.”



“Iya, benar. Aku suka nasi yang dimasak di periuk tanah liat. Rasa nasinya benar-benar keluar.”



Akhirnya kami selesai memasak setelah waktu berlalu kurang lebih selama dua jam.



“Karinya sudah siap,” kata Taniguchi-san dengan ekspresi senang di wajahnya.



“Nasinya juga sudah siap.”



“Hore…!!!” teriak Nazuka-san dan Shimizu-san.



Aku mempersiapkan piring, sendok, dan gelas.



Aku bertugas untuk memasukkan nasi ke semua piring, sedangkan Taniguchi-san yang memasukkan kari. Setelah itu, kami membawanya ke meja bundar yang ada di ruangan tengah.



Tidak lupa aku mengambil minuman yang dibawakan Nazuka-san dan meletakkannya di atas meja. Dia membawa jus jeruk dan sepertinya ini jus kualias terbaik.



Kami duduk di meja bundar ini dengan posisiku di dekat tempat tidur, di sebelah kanan di dekat beranda ada Nazuka-san, di sebelah kiriku di depan dapur ada Taniguchi-san, dan di depanku ada Shimizu-san.



“Wah… aromanya sangat harum.”



“Aroma nasinya juga. Pasti enak, nih.”



“Tentu saja. Chef Taniguchi yang membuatnya untuk kita semua.”



“Baiklah. Ayo kita makan. Amamiya-kun!”



Taniguchi-san melihat ke arahku. Sepertinya dia ingin aku mengatakan “itadakimasu.”



Aku mengangkat kedua tanganku ke depan dadaku dan merapatkan keduanya seperti sedang berdoa.



Mereka bertiga mengikutiku.



Dan…



“Itadakimasu.”



“Itadakimasu,” kata mereka serentak.



Ini merupakan pertama kalinya di kamar ini aku makan bersama orang lain. ada yang bilang kalau makan bersama teman akan membuat makanannya terasa lebih enak dan itu merupakan suatu kenyataan. Aku tidak tidak tahu pasti kenapa hal itu bisa terjadi, tapi menurutku itu semua karena keadaan kebersamaan yang membuat suasana hati menjadi nyaman dan membuat lidah menjadi lebih sensitif dalam mengecap makanan yang kita makan. Mungkin, suasana hati dapat mempengaruhi otak yang membuat indera tubuh, seperti lidah, bereaksi sepenuhnya.



Saat aku memakan kari buatan Taniguchi-san ini, rasanya seperti mengingatkanku dengan kari yang pernah aku makan dulu. Mengingatkanku dengan kari yang selalu dibuat ibuku sewaktu aku kecil yang sepertinya pernah kulupakan. Tapi kari ini lebih enak.



“Ini enak.”



“Iya. Ini enak sekali, Hitoka.”



“Um. Kamu memang jago masak, Hitoka.”



“Hitoka memang hebat.”



“Nggak kok. Aku juga masih belajar.”



“Tapi ini sangat enak, lho. Mungkin ini kari terenak yang pernah kumakan,” kataku sambil terus memakan kari ini.



“Nah, Hitoka. Bahkan Amamiya-kun bilang seperti itu.”



“Pasti Taniguchi-san akan jadi istri idaman.”



“…” Taniguchi-san, Nazuka-san, dan Shimizu-san terdiam dan berhenti memakan karinya.



Nazuka-san dan Shimizu-san melihat ke arah Taniguchi-san, sedangkan Taniguchi-san melihat ke arahku. Mereka bertiga seperti kaget dengan perkataanku tadi.



Apa aku mengatakan hal yang aneh, ya?



Aku harus melakukan sesuatu untuk membuat mereka kembali berbicara. Aneh sekali saat mereka diam secara tiba-tiba.



“Ah, um, bukannya Shimizu-san dan Nazuka-san pikir seperti itu juga?” tanyaku untuk mengembalikan pembicaraan.



“Ah, ya, tentu saja.”



“I-iya. Aku juga pikir seperti itu.”



“Hitoka orangnya baik, cantik, pintar, dan jago masak. Laki-laki mana yang nggak mau gadis seperti dia untuk dijadikan istri? Pokoknya, Hitoka itu seorang gadis idaman.”



“Hentikan, dong.”



“Hitoka jadi malu. Haha…” Shimizu-san mulai tertawa melihat tingkah Taniguchi-san yang tersipu malu akibat pujian yang dilontarkan.



“Hitoka malu-malu seperti ini makin manis. Ya, kan, Amamiya?”



“Eh?”



Sebentar, Nazuka-san. Kenapa kamu malah menanyakan hal itu kepadaku langsung?



Nazuka-san memang jarang berbicara. Tapi saat dia berbicara, dia langsung mengatakannya to-the-point tanpa basa-basi.



Taniguchi-san melihat ke arahku karena menunggu jawaban dariku.



Sebenarnya, ini membuatku malu untuk menjawabnya.



Tapi…



Aku harus menjawabnya dengan jujur. Mereka adalah temanku.



“Um, ya. Taniguchi-san memang manis,” jawabku langsung sambil melihat ke arah Taniguchi-san.



Dia menundukkan kepalanya setelah mendengar jawabanku, sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi apa yang ada di wajahnya. Sedangkan Nazuka-san dan Shimizu-san, mereka berdua hanya menyeringai.



“A… ariga…”



Dengan pandangan yang masih menunduk, dia seperti sedang mencoba mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat pelan.



“Hm?” Aku menjadi penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya.



“Apa yang ingin kamu katakan, Hitoka? Kami nggak bisa dengar,” kata Shimizu-san seperti ingin membuat Taniguchi-san mengatakannya dengan jelas.



“Aaah, sudah-sudah. Ayo kita makan lagi. Amamiya-kun, kalau mau tambah, karinya masih ada.” Taniguchi-san mengatakannya dengan suara yang lantang dan tegas.



“Ah, baiklah, Chef Taniguchi.”



“Kalian juga, Izumi, Sumire.”



“Iya, iya.”



Pertama kalinya aku melihat sikap Taniguchi yang seperti itu. Sepertinya dia tidak tahan karena ditekan oleh Nazuka-san dan Shimizu-san dan ingin mengakhiri pembicaraan ini.



Kami pun melanjutkan memakan nasi kari ini seperti yang dikatakan Chef Taniguchi.



Sekali lagi, kari ini benar-benar enak.




5




Setelah selesai makan, Nazuka-san dan Shimizu-san menawarkan diri mereka berdua untuk membersihkan peralatan masak dan makan, berserta dapurku.



Awalnya, aku menolaknya. Tapi mereka sangat ingin melakukannya. Mereka bilang kalau aku dan Taniguchi-san sudah membuat makanan tadi, maka sisanya biar mereka yang urus.



Aku dan Taniguchi-san berada di beranda kamar ini untuk mencari udara sambil melihat keadaan di luar apartemen. Setelah itu, kami masuk ke kamar lagi.



Taniguchi-san mulai melihat ke seluruh arah kamar ini, seperti sesuatu yang menarik yang belum pernah dia lihat.



Wajar saja karena kebanyakan murid Keiyou berasal dari keluarga elit nan kaya raya. Melihat kamarku yang kecil seperti ini pasti merupakan hal baru bagi mereka.



Aku menuju sisi tempat tidur untuk bersandar. Melihat Nazuka-san dan Shimizuka-san yang sepertinya sedang kewalahan dalam melakukan pekerjaan mereka. Pasti mereka memang tidak terbiasa dengan pekerjaan seperti itu. Melihat mereka dalam keadaan kewalahan seperti itu membuatku tersenyum kecil.



“Kenapa tersenyum seperti itu, Amamiya-kun?” tanya Taniguchi-san karena melihatku tersenyum sendiri tanpa sebab.



“Ah, itu… lucu saat kulihat mereka berdua. Pasti mereka nggak terbiasa sama sekali dengan pekerjaan seperti itu.”



“Oh… kamu benar. Haha…” Taniguchi-san melihat ke arah mereka dan tertawa.



Wajah Taniguchi-san saat tertawa sangatlah manis. Tanpa sadar, aku sudah memalingkan pandanganku ke wajahnya. Dia melihat ke arahku dan hanya memiringkan sedikit kepalanya karena bingung atau sedang memikirkan sesuatu.



“Oh iya, Amamiya-kun. Kamu murid pindahan, kan? Sebelumnya kamu bersekolah di mana?”



Ah, benar juga. Dia belum mengetahui apa-apa tentang itu. Untuk saat ini, hanya murid kelas 2-D yang sudah kujelaskan semuanya saat pengumuman hasil ujian tengah semester, Namikawa-san, Kayano-san, dan Taka. Lebih baik kuceritakan padanya. Belakangan ini, kami juga sudah mulai berteman dekat.



“Ah, um… sebenarnya, Aku murid Keiyou dari tahun pertama.”



“Eh? Beneran?”



“Iya.”



“Terus, kenapa kamu masuk di tahun kedua?”



“Di hari pertama sekolah di tahun pertama, Aku mengalami kecelakaan karena menolong seorang gadis yang hampir tertabrak mobil. Karena itulah, Aku dipindahkan kembali ke Nagano dan bersekolah di salah satu SMA di sana yang dekat dengan tempat tinggalku.”



“Aku ingat kalau waktu itu memang ada kecelakaan di dekat sekolah. Ternyata itu kamu, ya.”



“Iya. Ini bekas luka saat itu,” kataku sambil memperlihatkan bekas luka di keningku yang selalu kututup dengan poniku.



Taniguchi-san yang duduk di seberang meja mendekat ke arahku dan duduk di depanku.



“Pasti berat, ya.” Taniguchi-san sambil mengelus kepalaku.



Are? Taniguchi-san? Apa yang kamu lakukan?



Jantungku berdebar kencang. Dia sangat dekat. Aku dapat mencium aroma manis darinya yang sedang mengelus kepalaku.



Saat kulihat ke arah dapur di sebelah kiriku, Nazuka-san dan Shimizu-san menyeringai. Mereka tersenyum lebar karena melihat Taniguchi-san sedang mengelus kepalaku.



Aku membuang pandanganku dari arah mereka. Ini membuatku malu.



“Ano, Taniguchi-san?”



“Ah, maaf.”



“Um, nggak apa-apa.”



Sepertinya, tanpa sadar dia mengelus kepalaku.



Pertama kalinya ada orang yang melakukan itu padaku. Terlebih, orang itu adalah seorang gadis. Perasaanku menjadi campur aduk karena perlakuannya tadi.



“Ngomong-ngomong, kamu sudah ketemu dengan gadis yang kamu tolong itu?”



“Belum.”



“Gadis itu murid Keiyou, kan?”



“Sepertinya. Sebenarnya, Aku nggak terlalu ingat kejadian waktu itu.”



“Dia nggak jenguk kamu di rumah sakit juga?”



“Iya.”



“Aku nggak percaya ada orang seperti itu. Kalau orang yang menabrakmu?”



“Aku juga nggak ketemu. Yang kutahu, orang yang menabrakku itu yang membayar semua biaya perawatan rumah sakit. Kakek dan nenekku nggak mengatakan apapun tentang gadis yang kutolong itu, maupun orang yang menabrakku.”



“Kakek dan nenek? Kamu tinggal bersama mereka?”



“Iya.”



“Orang tuamu nggak di sini?”



“Ah, um. Kedua orang tuaku sudah meninggal.”



“Ah, maaf.”



“Ya, nggak apa-apa, kok.”



“…”



Taniguchi-san terdiam dan menundukkan pandangannya. Dia seperti merasa bersalah karena membuatku menceritakan tentang masa laluku.



“Nggak perlu merasa bersalah, Taniguchi-san. Aku menceritakannya karena kamu sudah kuanggap sebagai temanku.”



“Um, ya,” jawab Taniguchi-san sambil mengangguk kepalanya.



“Mungkin agak telat, tapi mulai dari sekarang yoroshiku ne.”



“Aku juga.”



Senyum mulai kembali menghiasi ekspresi di wajahnya Taniguchi-san. Sudah seharusnya dia tersenyum seperti itu karena aku sangat menyukai senyum manis di wajahnya itu. Terasa sangat alami dan indah.



Aku memang baru saja bertemu dan berteman dengannya melalui klub bantuan. Keputusanku untuk masuk ke klub bantuan mungkin merupakan keputusan yang tepat.



Dulu, ibuku pernah mengatakan padaku untuk menjadi orang yang bisa membantu orang lain. Aku senang karena bisa mewujudkan perkataan ibuku dengan masuk ke klub itu. Secara tidak sadar, mungkin aku menyetujui masuk klub itu karena perkataan ibuku. Dengan masuknya aku di klub itu juga aku dapat bertemu dan berteman dengan murid dari kelas lain.



Nazuka-san dan Shimizu-san sepertinya sudah selesai melakukan pekerjaan mereka. Mereka berdua pun menuju ke arah kami dan duduk.



“Hah… pertama kali aku cuci piring,” kata Shimizu-san sambil menghela nafasnya.



“Aku juga. ternyata nggak semudah yang kubayangkan.”



“Tentu saja. Kalian jangan meremehkan pekerjaan rumah.”



“Haha…” Aku tertawa kecil.



“Hah… Aku akhirnya sadar.”



“Sama, Aku juga.”



“Oh iya, Amamiya-kun. Tadi kamu bilang kalau orang tuamu sudah meninggal, kan?”



“Kalian dengar, ya?



“Iya, kami dengar.”



“Iya, itu benar. Ayahku meninggal saat Aku belum lahir, sedangkan ibuku meninggal saat aku berumur tujuh tahun.”



“Pasti sulit dan berat, ya.”



“Um, iya.”



Jika Aku mengatakan tidak, maka itu akan menjadi sebuah kebohongan. Aku sudah berjanji untuk selalu jujur kepada teman-temanku.



Saat itu memanglah masa yang sulit, berat, dan menyakitkan. Bisa dikatakan saat itu merupakan titik terendah dalam hidupku. Kehilangan kedua orang tua di saat Aku masih kecil terasa sangat berat dan menyakitkan.



Tapi…



Aku harus tetap kuat dan semangat. Hingga akhirnya, aku bisa bersekolah di Tokyo dengan menerima beasiswa dari hasil kerja kerasku belajar di sekolah.



“Tapi,” aku melanjutkan perkataanku yang tadi.



“Sekarang aku sudah punya teman yang menyenangkan seperti kalian. Karena itu, Aku berterima kasih kepada kalian karena sudah menjadi temanku, bahkan sampai datang ke kamarku yang kecil ini sambil membawa makanan dan minuman, makan siang bersamaku, dan berbicara denganku. Ini pertama kalinya Aku makan bersama orang lain di sini. Terima kasih, ya.” Aku menundukkan kepalaku ke arah mereka bertiga.



Aku melihat ke bawah sekarang, sehingga membuatku tidak bisa melihat wajah mereka bertiga dan juga ekspresi di wajah mereka. Aku terus menundukkan kepalaku sampai mereka mengatakan sesuatu.



“Amamiya-kun, angkat kepalamu.” Taniguchi-san memegang bahuku.



Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arahnya yang berdiri tepat di depanku.



“Kami juga berterima kasih padamu karena sudah membantu klub kami. Dengan bantuanmu, kami bisa meraih kemenangan yang kami impikan. Aku bersyukur karena bisa bertemu denganmu, mengenalmu, dan menjadi temanmu.”



“Seperti yang Hitoka katakan, kami sungguh bersyukur bisa bertemu denganmu dan menjadi temanmu.”



“Iya, benar.”



“Makasih Taniguchi-san, Shimizu-san, Nazuka-san. Mulai sekarang, bergantunglah pada teman kalian ini. Datanglah lagi ke klub bantuan kalau ada masalah atau sekedar mampir.”



“Iya, pasti kami akan datang lagi, kok.”



“Ya., tentu saja.”



“Um.”



Dengan sadar, aku mulai tersenyum.



Senyum mulai memenuhi ekspresi wajahku karena perasaan senang. Mereka benar-benar teman yang baik dan dengan bersama mereka membuatku merasa nyaman untuk membicarakan semua tentangku. Sekali lagi kukatakan dengan jelas dan dengan senyuman di wajahku.



“Terima kasih, ya.”



Seketika mereka bertiga menjadi diam. Mereka tercengang seperti melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya, sesuatu yang menakjubkan dan membuatku bingung.



“Hm? Kalian kenapa?”



“Ah, nggak ada apa-apa. Ya, kan, Sumire?”



“Iya, nggak ada apa-apa kok. Ya, kan, Izumi?”



“Ya. Nggak ada apa-apa, kok.”



Kenapa tingkah mereka menjadi aneh seperti itu, ya?



Entahlah, aku tidak paham. Mereka saja tidak tahu kenapa bisa tercengang seperti itu.


“Oh iya, mau makan kue yang dibawa Shimizu-san?”



“Mau,” jawab mereka secara serentak.



Akhirnya, kami memakan kue yang dibawa Shimizu-san sampai habis. Setelah itu, mereka bertiga meninggalkan kamarku untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.



Kari yang dibuat tadi masih tersisa banyak. Dengan begitu, aku tidak perlu memasak beberapa hari kedepan. Aku hanya perlu memanaskan kari ini untuk makan.



Hari sangat menyenangkan. Aku tidak menyangka kalau di kamar yang kecil ini, aku bisa makan bersama dengan tiga orang lainnya.



Satu per satu harapan dan doa yang kupanjatkan saat mengunjungi Meiji Jingu mulai terkabulkan.



Sekarang, aku harus menjadi orang yang bisa diandalakan oleh teman-temanku. Oleh karena itu, aku harus berusaha dan bersemangat.



Ibu dan ayah, aku tidak sendirian lagi. Sekarang, aku sudah mempunyai teman yang mempercayaiku dan ada teman yang mulai mengandalkanku. Apakah kalian melihatnya dari atas sana?



Waktu terus berlalu dan sekarang sudah malam.



Besok sudah hari Senin dan aku akan kembali bersekolah.



Aku mulai menyiapkan semua untuk kegiatan belajar di sekolah besok karena hari ini aku sangat senang. Perasaan ini tidak tertahankan sehingga membuatku membuka buku untuk belajar.



Semoga hari esok menyenangkan.