Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 18



Chapter 17



Amamiya Ryuki Harus



Beristirahat




1


Aku berharap di saat aku bangun di pagi hari ini, keadaanku sudah membaik dan sembuh dari demam ini. Namun, kenyataannya tidak seperti itu.



Bunyi alarm ponsel yang bertujuan untuk membangunkanku tidak terdengar olehku. Alasannya sederhana. Keadaanku tidak membaik hari ini walau kemarin obat yang diberikan Mitsui-sensei sangat manjur. Jadi aku tidur lebih lama daripada biasanya. Aku beranjak dari tempat tidurku pukul delapan pagi untuk sarapan dan minum obat.



Di keadaan seperti ini, sulit bagiku untuk memasak. Menu yang paling mudah untuk sarapan pagi ini yaitu tamagokake gohan. Aku hanya perlu nasi dan telur.



Nasi yang sudah matang kumasukkan ke dalam mangkuk, dan kumudian kumasukkan telur mentah ke dalamnya. Tidak lupa kutambahkan shouyu. Pertama kalinya aku makan menu ini sejak tinggal di Tokyo.



Ada satu yang masih menganggu pikiranku saat ini. Ini tentang hubungan Taka dengan Fuyukawa-san. Aku masih tidak percaya kalau Taka melakukan hal seperti itu dengan gadis lain di saat dia sedang berpacaran dengan Fuyukawa-san. Tentu saja Fuyukawa-san merasa tersakiti karena dikhianati. Namun, dia tidak membenci dan tetap menganggap Taka sebagai teman. Untuk bisa melakukan itu, pasti membutuhkan hati yang kuat. Dia memang orang yang luar biasa.



Satu lagi, alasan kenapa Taka tidak memberitahukan tentang hubungannya dengan Fuyukawa-san padaku. Memang dia mengatakan hal yang jujur yaitu hanya teman sekelas Fuyukawa-san, tapi pasti ada alasan yang membuatnya tidak mengatakan tentang hubungan mereka yang lebih dari sebatas teman itu. Untuk saat ini, pasti sedikit orang yang mengetahui tentang ini. Mungkin hanya Mizuno-san dan Seto-san karena mereka berdua sangat dekat dengan Fuyukawa-san. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau Fuyukawa-san tidak menceritakan tentang hubungannya dengan Taka pada mereka berdua. Aku juga tidak tahu kapan Fuyukawa-san, Seto-san, dan Mizuno-san menjadi teman dekat. Jika mereka bertiga sudah bersama sejak SMP, maka sudah pasti mereka tahu tentang ini.



Untuk kedepannya, mungkin aku akan mencoba untuk bertanya pada Taka tentang hal ini. Apakah benar dia selingkuh dengan gadis lain? Pasti ada jawaban yang sesungguhnya dari semua itu karena kebenaran hanya ada satu.



Setelah makan, aku minum obat. Kalau tidak salah, obat demamnya ada di tas sekolahku. Saat kuperika isi tasku, ternyata obat pemberian Mitsui-sensei ada di dalamnya. Tersisa tiga tablet. Kalau ada obat ini, lebih baik kuminum obat ini saja. Obat demam yang kubeli di konbini kemarin saat pergi sekolah lebih baik kusimpan.



Setelah minum obat, aku kembali menuju tempat tidur untuk duduk di atasnya. Langsung tidur setelah makan, itu tidak baik untuk kesehatan.



Suhu tubuhku sedikit naik lagi dan kepalaku berat. Walaupun begitu, kupaksa untuk membuka buku pelajaran. Bukan untuk belajar, tapi untuk menandai bagian-bagian yang kulewatkan kemarin dan hari ini, Jumat. Jika aku sudah sehat kembali, aku akan mempelajarinya. Setelah menandai semuanya, kuletakkan buku di atas meja.



Selanjutnya, aku harus menurunkan suhu tubuhku terlebih dulu. Dengan hanya minum obat, efeknya ada tapi memerlukan waktu. Untuk itu, aku harus menyiapkan kompres yang akan kuletakkan di kepalaku. Dengan begitu, efek dari obat dan kompres ini akan membuatku sembuh lebih cepat. Semoga saja.



Aku mencari kain di lemari yang ada di sudut ruangan. Seharusnya ada di dalam lemari ini. Ah, ada. Selanjutnya, kuambil wadah untuk memasukkan air berupa mangkuk. Mangkuk ini ukurannya lebih besar dari ukuran mangkuk nasi. Karena kupakai ini saja. Kucelupkan kain ke dalam air, lalu kuperas dan kuletakkan di dahiku. Mangkuk berisi air ini kuletakkan di lantai dekat tempat tidur agar aku mudah untuk membasahi kain ini lagi nantinya. Sekarang saatnya untuk berbaring lagi di tempat tidur.



Aku berpikir kalau sakit itu memang sangat tidak mengenakkan. Tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Pertama kalianya aku tidak pergi ke sekolah dan pertama kalinya aku sakit saat tinggal di Tokyo. Kalau hal ini berulang di lain waktu, maka aku harus benar-benar menjaga kesehatanku agar tidak sakit lagi. Hidup sendiri di kota besar memang tidak mudah, tapi setidaknya aku tidak merepotkan orang lain. Aku harus bisa melakukan semuanya sendiri, termasuk merawat diriku yang sakit karena tidak ada orang lain di sini.



Saat kulihat ponselku yang terletak di sebelah bantal, terdapat panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari nomor kakekku. Kakek dan nenekku sering menanyakan bagaiamana kabarku di sini. Kalau mereka tahu aku sedang sakit, pasti mereka khawatir dan akan datang ke sini. Aku tidak ingin merepotkan mereka yang sudah tua. Kubalas pesan itu dengan singkat, “Ryuki baik-baik saja seperti biasanya.”



Lama kelamaan, aku menjadi nyaman bersatu dengan tempat tidur ini walau tidak seempuk ranjang di ruang UKS.



Aku memejamkan mataku sehingga tidak dapat melihat apa-apa lagi.



Aku berhenti memikirkan hal-hal lain. Sekarang aku harus memfokuskan diri untuk kembali sehat.



Biarkan aku tidur lagi hari ini untuk mengistirahatkan badanku yang sedang sakit ini.




***




Setelah berulang kali bangun lalu tidur kembali, membasahi kain kompres, dan makan siang beserta minum obat, aku akhirnya bangun sekitar pukul 5:30 sore. Kepalaku sudah tidak terasa berat lagi dan juga suhu badanku sudah turun. Kalau begini, besok aku sudah pasti sudah sembuh total.



Kulihat ponselku yang kuletakkan di dekat bantal. Terdapat pesan dari Taniguchi-san. Isi pesannya yaitu dia akan datang ke sini untuk menjengukku. Ah, sepertinya dia tahu kalau aku tidak datang ke sekolah karena sakit. Pasti Shimizu-san dan Nazuka-san yang memberitahukannya.



Saat aku sedang meregangkan badanku karena tidur kelamaan, tiba-tiba bel kamar ini berbunyi. Apakah itu Taniguchi-san? Kenapa bisa secepat ini?



Aku belum mandi dari kemarin karena kondisiku yang tidak memungkinkanku untuk mandi. Jadi aku hanya menyemprotkan sedikit parfum agar sedikit wangi. Sungguh menyedihkan.



Aku menuju ke arah pintu dan membukanya.



“Halo, Amamiya-kun. Kami datang untuk menjengukmu.”



Di depan pintu ini ada tiga orang yang kukenal. Taniguchi-san tidak datang seorang diri, tapi dia datang bersama dengan Kayano-san dan Namikawa-san. Pertama kalinya bagi Kayano-san dan Namikawa-san datang ke tempatku. Sedangkan bagi Taniguchi-san, ini yang kedua kali baginya.



“Ah, halo. Kukira kamu datang sendirian, Taniguchi-san.”



“Ehehe… awalnya sih.”



“Awalnya?”



“Waktu pulang, Aku ketemu dengan Chiaki dan Sakura. Saat kubilang mau pergi ke rumah Amamiya-kun, mereka jadi ingin ikut juga.”



“Ah, begitu, ya.”



“Amamiya-kun, ini. Aku bawa buah untukmu.” Fuyukawa-san memberikan bingkisan buah.



“Makasih, Namikawa-san. Ayo, silakan masuk.”



Mereka bertiga masuk dan duduk di ruang tengah, sedangkan aku pergi ke dapur untuk memasukkan bingkisan buah ini ke dalam kulkas dan memberikan mereka bertiga minuman.



“Maaf, ya, nggak ada apa-apa,” kataku sambil membawakan mereka minuman berupa mugicha, lalu kuletakkan di atas meja.



“Ah, nggak usah repot-repot, Amamiya-kun. Kamu kan masih belum sehat.”



“Ya, benar juga sih.”



“Jadi… gimana keadaanmu sekarang?” Taniguchi-san bertanya setelah meminum mugicha yang kuberikan.



“Sudah lebih baik daripada kemarin dan tadi pagi.”



“Sakit saat tinggal sendirian di sini pasti berat, ya.”



“Iya, kamu benar, Namikawa-san.”



“Apa kamu sudah kasih kabar ke kakek dan nenekmu, Amamiya-kun?”



“Kalau itu… nggak kukasih tahu, Kayano-san.”



“Eh? Kenapa?”



“Aku nggak mau buat mereka khawatir. Kalau kuberi tahu, pasti mereka akan datang ke sini. Lagian cuma demam. Aku masih bisa merawat diriku sendiri. Makan, minum obat, dan istirahat saja sudah cukup.”



“Benarkah seperti itu?” Taniguchi-san tiba-tiba memasang ekspresi penasaran di wajahnya sambil mengerutkan dahinya.



“Apa maksudmu, Taniguchi-san?”



“Pasti ada hal yang nggak bisa kamu lakukan sendirian di saat sedang sakit.”



“Itu benar, tapi Aku nggak apa-apa.”



“Amamiya-kun, sudah lihat wajahmu di cermin?”



“Memangnya kenapa?”



“Kamu sepertinya kehilangan berat badan dan itu terlihat di wajahmu.”



“Eh? Benarkah?”



“Iya. Coba kamu lihat dulu.”



Aku menuruti perkataan Taniguchi-san dan langsung menuju kamar mandi untuk melihat wajahku di cermin. Ternyata benar seperti apa yang dikatakan Taniguchi-san. Aku terlihat sedikit kurus. Mungkin semua energi habis untuk mengembalikan kondisi tubuhku ke keadaan semula.



Setelah itu, aku kembali ke tempat mereka.



“Bagaimana?” tanya Taniguchi-san.



“Iya, seperti perkataanmu tadi, Taniguchi-san.”



“He… Hitoka-chan benar-benar jeli, ya. Sakura-chan jadi tersaingi.”



“Apa maksudmu, Chi-chan?”



“Apa maksudmu, Chiaki?”



Namikawa-san dan Taniguchi-san serentak melontarkan pertanyaan yang sama kepada Kayano-san.



“Ah, nggak ada apa-apa. Jadi… kenapa Hitoka-chan bisa sadar kalau berat badan Amamiya-kun berkurang?”



“Eng… hm… kenapa, ya?”



“Mencurigakan, ya, kan, Sakura-chan?”



“Kenapa tanya ke aku?”



“Bukannya kamu juga penasaran?”



“Iya sih.”



“Kamu nggak penasaran, Amamiya-kun?”



“Ah, hm… mungkin karena saat itu kami menghabiskan waktu bersama lumayan lama.”



“He… apa maksudnya itu?” Namikawa-san mulai menatapku dengan tatapan yang dingin dan tajam. Juga, ekspresinya berubah menjadi datar.



“Sabtu kemarin, Aku menemani Taniguchi-san belanja karena sudah berjanji dengannya. Terus di hari Minggu, Taniguchi-san mengajariku memasak kari di sini karena Aku memintanya mengajarkanku memasak.”



“Janji seperti apa itu, Amamiya-kun?” Kayano-san mulai menggali informasi. Seperti biasa, dia memang sangat penasaran kalau ada sesuatu di dekatnya.



“Waktu itu, Taniguchi-san bilang kalau klub voli putri bisa menang, dia memintaku untuk menemaninya belanja.”



“Kenapa ke Amamiya-kun?”



“Amamiya-kun pernah melatih klub kami saat pelatih kami nggak datang. Aku tahu kalau Amamiya-kun baru saja pindah ke Tokyo, jadi Aku bilang seperti itu untuk membawanya jalan-jalan sedikit. Walaupun kami hanya berada di sekitar Shibuya.”



“Um, iya. Aku senang ada orang yang mengajakku. Lagian, Aku juga nggak punya hal lain yang harus kukerjakan di hari libur. Untuk saat ini juga.”



“Hoho… terus, kenapa Amamiya-kun meminta Hitoka-chan mengajarimu memasak?”



“Ah… waktu itu, Taniguchi-san, Shimizu-san, dan Nazuka-san mengujungi klub bantuan. Taniguchi-san membawa kue kering untuk aku dan Shiraishi-san. Kuenya sangat enak dan cocok untuk dimakan sambil minum teh. Shimizu-san dan Nazuka-san bilang kalau Taniguchi-san jago memasak, jadi Aku memintanya untuk mengajariku membuat makanan yang mudah.”



“Oh begitu, ya.” Kayano-san mulai tersenyum-senyum sendiri sambil melihat ke arah Taniguchi-san.



“Ya. Waktu itu, Taniguchi-san mengajariku membuat kari. Karinya sangat enak, lo. Ah… waktu itu, Shimizu-san dan Nazuka-san datang ke sini juga., jadi kami berempat makan bersama di sini. Waktu itu sangat menyenangkan, ya, Taniguchi-san.”



“Um, iya. Menyenangkan.”



“Jadi… Hitoka nggak sendirian ke kamar ini?”



“Te-tentu saja, Sakura.”



Saat mendengar jawaban dari Taniguchi-san, ekspresi Namikawa-san kembali seperti semula. Ekspresinya tidak lagi datar dan tatapan matanya menjadi normal.



“Hm… sepertinya Sakura-chan akan tersaingi.”



“Eh? Apa maksudmu, Chi-chan?”



“Kalau kamu diam saja, kamu akan ketinggalan, lo.”



“Tentang apa?”



“Lagi-lagi kamu pura-pura nggak tahu.”



“…?” Aku dan Taniguchi-san bertatapan sambil memasang ekspresi yang penuh tanda tanya. Kami sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Kayano-san. Bahkan Namikawa-san juga tidak.



Kayano-san mendekati Namikawa-san yang duduk di sebelah kirinya dan membisikkan sesuatu ke telinga Namikawa-san.



Seketika, ekspresi Namikawa-san berubah menjadi kaget dan mulai memelototi Kayano-san.



“Chi-chan… bukan begitu.”



“Kesempatan itu nggak datang sendiri, lo, Sakura-chan.”



“Tetap saja nggak itu nggak mudah.”



“Iya sih.”



Aku hanya melihat mereka berdua dengan penuh tanda tanya di dalam kepalaku. Mungkin inilah yang disebut dengan “perbincangan para gadis.” Sebagi laki-laki, sudah pasti aku tidak bisa memahami makna dari perbincangan mereka berdua. Sedangkan Taniguchi-san terlihat seperti memahami apa yang mereka berdua bicarakan.



“Sakura, mungkinkah kamu…”



“Bukan. Bukan seperti yang kamu pikirkan kok, Hitoka.”



“Benarkah?”



“Iya, benar kok.”



“Hehe…” Kayano-san tertawa sambil tersenyum-senyum.



Aku hanya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tanpa rasa ingin bertanya. Percakapan tadi bukan sesuatu yang terlibat denganku. Memilih diam merupakan pilihan terbaik.



Aku mulai meminum mugicha karena tenggorokan dan bibirku mulai mengering. Begitu juga mereka bertiga. Setelah membicarakan sesuatu yang tidak bisa kupahami karena bukan tempatku untuk terlibat di dalamnya, mereka bertiga mulai meminum kembali mugicha yang kuberikan tadi dan langsung habis. Aku pun menawarkan mereka minuman kembali.



“Mau tambah minumnya?”



“Nggak usah, Amamiya-kun.”



“Iya, nggak usah. Kami nggak mau merepotkanmu.”



“Ah, begitu ya.”



“Aku minta tambah dong, Amamiya-kun.”



“Tunggu sebentar, Kayano-san.”



Aku mengambil mugicha yang ada di dalam kulkas dan kuletakkan di atas meja. Lalu kutuangkan ke gelasnya Kayano-san. Pasti dia merasa haus karena terlalu banyak berbicara.



“Makasih, Amamiya-kun.”



“Um, ya. Sama-sama.”



“Oh iya, Amamiya-kun. Bagaimana hubunganmu dengan Fuyukawa-san sekarang?” tanya Kayano-san setelah meneguk mugicha yang baru saja kutuangkan ke dalam gelasnya.



“Hubungan kami masih seperti biasa. Kami masih berteman.”



“Apa dia sudah menjelaskan semuanya?”



“Sudah kok. Aku bisa bilang kalau Fuyukawa-san menderita karena rasa bersalah dan rasa takut. Aku bisa memahaminya semuanya.”



“Begitu, ya.”



“Oh iya. Aku baru tahu kalau Namikawa-san dan Kayano-san berteman dengan Taniguchi-san, Nazuka-san, dan Shimizu-san.”



“Keluarga kami sudah dekat dari dulu. Jadi kami sudah berteman sejak kecil,” jawab Namikawa-san sambil melihat ke arah Kayano-san dan Taniguchi-san.



“Iya. Sebenarnya Aku juga kaget mengetahui Sakura dan Chiaki berteman dengan Amamiya-kun.”



“Suatu pertemuan akan membawamu ke pertemuan selanjutnya. Benar, kan, Amamiya-kun?” tanya Kayano-san padaku sambil tersenyum.



“Um, iya. Aku juga berpikir seperti itu.”



“Lagi pula, Amamiya-kun punya pesona yang kuat. Pasti akan ada banyak orang berada di sekitarnya.”



“Sepertinya Sakura-chan dapat merasakan pesona Amamiya-kun, ya?”



“Kamu juga, kan, Chi-chan?”



“Iya.”



“Kalian terlalu berlebihan. Pesonaku nggak seperti yang kalian katakan.”



“Nggak, nggak. Pesonamu memang kuat, lo, Amamiya-kun.”



“Iya. Buktinya, kamu sekarang sudah punya banyak teman. Itu termasuk salah satu buktinya.”



“Semoga saja yang kalian katakan itu benar.”



“Bukannya memang seperti itu? Ya, kan, Hitoka?”



“Iya.”



Mereka bertiga tersenyum dan mulai tertawa kecil, sedangkan aku hanya diam tanpa balasan terhadap apa yang mereka katakan. Mereka terlalu memujiku sehingga membuatku malu.



“Ah, sudah saatnya pulang,” kata Taniguchi-san saat melihat jam ponselnya.



“Ah, benar. Ayo kita pulang, Sakura-chan.”



“Kalau begitu, kami pulang dulu, Amamiya-kun. Cepat sembuh, ya.”



“Makasih.”



“Jangan lupa makan yang banyak, Amamiya-kun.”



“Ya, Taniguchi-san.”



“Sampai jumpa lagi di sekolah, Amamiya-kun.”



“Sampai jumpa lagi.”



“Iya, sampai ketemu lagi di sekolah.”



Mereka bertiga akhirnya keluar dari kamarku dan meninggalkan apartemen ini.



Keadaanku sekarang sudah lebih baik, mungkin karena datangnya mereka ke sini membuatku mendapatkan energi postif.



Aku mulai memasak untuk makan malam hari ini. Memang agak sedikit lebih cepat daripada waktu makan malamku yang biasa karena aku ingin pergi ke suatu tempat. Suatu tempat yang dari kemarin ingin kukunjungi. Malam ini mungkin waktu yang tepat.



2



Setelah selesai makan malam dan membersihkan dapur serta mencui piring dan gelas, aku meniggalka rumah untuk pergi ke suatu tempat, tempat yang sangat ingin kukunjungi. Tempat itu adalah pemandian umum. Terdapat satu pemandian umum bernama Kohmeisen di Kamimeguro, Kota Meguro, yang jaraknya hanya sekitar delapan menit dengan berjalan kaki.



Cuaca malam ini terasa sedikit dingin padahal sudah bulan Juni. Apa karena demam yang belum sembuh total membuat tubuhku merasakan suhu dingin? Entahlah.



Akhirnya aku sampai di Komeisen. Di tempat ini tidak hanya menyediakan pemandian umum saja, tapi juga sauna. Aku datang ke sini hanya untuk mandi, bukan sauna.



Setelah membayar 450 yen, aku diberikan keranjang kecil dan handuk.



Aku membuka semua pakaianku dan meletakkannya di keranjang yang diberikan, lalu meletakkannya di loker tempat peletakan pakaian.



Di dalam kamar mandi yang luas ini sudah terdapat beberapa orang yang sedang membersihakan badannya sebelum masuk ke dalam bak mandi yang luas. Saatnya untukku membersihkan tubuhku ini.



Kumulai dengan membersihkan tubuh, kepala, dan kemudian kaki. Setelah itu, saatnya menuju bak mandi untuk berendam. Tempat ini akan menadi tempat yang bagus karena di kamarku tidak terdapat bak mandi untuk berendam.



Aku masuk ke dalam bak bandi dan bersandar ke sisi bak. Air hangat yang nikmat ini membuatku mengerluarkan suara yang setiap orang akan mengeluarkannya dari mulut mereka.



“Ah~~~.”



Sungguh nikmat. Air hangat ini seperti membuat tubuhku kembali prima dan membuat rasa lelah yang ada di tubuh ini larut terbawa dengan air yang ada di bak ini.



“Nyamannya…”



“Nyamannya…”



Seseorang mengatakannya serentak dan sama sepertiku. Seketika, aku pun melihat ke arah munculnya suara ini.



“Ah, kamu…”



Ternyata ada seseorang yang kuketahui berada di sampingku.



“Ah, kamu… Amamiya-kun, kan?”



“Shiga-san. Kebetulan sekali bertemu di sini.”



Orang yang berada di sampingku ini ada Shiga Natsuki-san, murid SMA Keiyou yang sekelas denganku. Orang yang berpasangan denganku saat bermain voli di awal pelajaran olahraga.



“Nggak perlu formal begitu. Panggil Shiga saja.”



“Ah, baiklah. Panggil aku Amamiya saja kalau begitu.”



“Baik. Sepertinya ini pertama kalinya kamu ke sini?”



“Iya. Aku baru saja tahu ada pemandian umum di sini.”



“Oh iya, kamu baru pindah ke Tokyo dari Nagano, kan?”



“Iya. Kamu sering ke sini, Shiga?”



“Lumayan sering sih. Biasanya di hari Jumat.”



“Karena hari terakhir sekolah?”



“Bisa dibilang seperti itu. Untuk menghilangkan rasa lelah karena sekolah.”



“Begitu, ya.”



Ini pertama kalinya aku berbicara dengan Shiga seperti ini. Di sekolah, dia sama sekali tidak banyak berbicara. Dari yang kulihat, dia hanya berbicara kepada orang yang mengajaknya berbicara. Dia sama sekali tidak membuka pembicaraan dengan teman-teman sekelas. Ditambah lagi, dia selalu sendirian. Beberapa kali kulihat dia berada di perpustakaan sambil membaca buku.



“Oh iya, katanya kamu demam. Apa sudah baikan?”



“Ah… sudah, kok. Sepertinya…”



“Sepertinya?”



“Aku sendiri nggak bisa bilang sudah sembuh total. Saat berjalan ke tempat ini, suhu malam ini terasa dingin bagi tubuhku.”



“Ah, karena itu kamu bilang ‘sepertinya,’ ya?”



“Ya. Tapi aku sudah minum obat yang diberikan Mitsui-sensei. Setidaknya keadaanku sekarang sudah jauh lebih baik daripada kemarin dan tadi pagi.”



“Baguslah kalau begitu.”



“Ah…!” Aku mendesah saat menurunkan badanku yang membuat air dalam bak ini merendam tubuhku sampai leher.



“Hm? Kenapa?”



“Air hangat ini terasa sangat nyaman, membuatku ingin tidur.”



“Haha, um, ya, semua orang pasti akan seperti itu.”



“Ngomong-ngomong Shiga, tempat tinggalmu di sekitar sini?”



“Ah, iya. Kalau kamu, Amamiya?”



“Di Daikanyama.”



“Oh, di sana, ya.”



“Oh iya, Shiga, apa kamu bergabung di klub sekolah?”



“Aku masuk klub sastra.”



“Jadi kamu punya hal yang ingin kamu lakukan, ya?”



“Iya. Sebenarnya aku ingin jadi penulis.”



“Wow, hebat. Semangat.” Sepertinya bebicara dengan Shiga cukup menyenangkan.



“Eh? Kamu nggak mentertawaiku karena ingin jadi penulis?”



“Eh? Kenapa juga aku harus mentertawaimu? Menurutku, penulis itu keren.”



“Ah… begitu, ya. Makasih. Sebenarnya, setiap orang yang kuberi tahu kalau aku ingin menjadi penulis akan mentertawaiku.”



“Apa-apaan itu? Bukannya setiap orang bebas ingin menjadi apa yang mereka inginkan? Aneh sekali mereka itu.”



“Iya. Mungkin kamu orang pertama yang nggak menertawaiku, Amamiya.”



“Benarkah?”



“Iya.”



“O-oh…” Aku menjadi tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.



“Aku heran kenapa keinginanku untuk menjadi penulis dianggap lucu oleh murid-murid yang lain.”



“Bukankah jawabannya sederhana?”



“Eh? Apa?” Shiga memasang ekspresi penasaran di wajahnya.



“Mereka nggak bisa melakukan apa yang kamu lakukan. Dengan kata lain, mereka nggak bisa menulis seperti seorang penulis lakukan. Mereka hanya menutupi itu dengan cara mentertawaimu.”



“Aku sama sekali nggak pernah berpikiran seperti itu.”



Sudah pasti seseorang akan merasa iri saat ada orang lain bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang tersebut. Rasa iri itu membuatnya ingin menyangkal. Mentertawakan orang yang bisa melakukan hal itu salah satu caranya.



“Um, ya, seperti itulah manusia.”



“Kamu benar. Aku nggak suka berbicara dengan orang seperti itu. Mereka juga seperti nggak menghargaiku.”



“Karena itulah kamu sering sendirian di sekolah?”



“Ya, seperti itulah.”



Jadi, itu alasannya yang membuat Shiga sangat jarang berbicara di kelas. Dia mirip denganku. Saat aku pindah ke salah satu SMA di Nagano setelah keluar dari rumah sakit, sama sekali tidak ada orang yang menganggapku dan berbicara padaku. Mungkin aku bisa menjadi temannya.



“Ngomong-ngomong, ini pertama kali bagi kita berbicara seperti ini, ya?”



“Ah, iya. Waktu di pelajaran olahraga, kita nggak banyak bicara.”



“Um, ya. Sepertinya benar kata Shimizu-san dan Nazuka-san kalau kamu orangnya menarik, Amamiya.”



“Eh? Mereka bilang seperti itu?”



“Ya. Aku nggak sengaja dengar pembicaraan mereka. Mereka juga bilang kalau kamu punya pesona yang berbeda. Sepertinya aku bisa paham itu semua.”



“Mereka hanya melebih-lebihkan saja. Aku nggak seperti itu, lo.”



Ya, benar. Aku hanya murid SMA biasa yang beruntung bisa bersekolah di sekolah elit .



“Hm… tapi sepertinya nggak seperti itu sih.”



“Entahlah. Terserah mereka saja.”



“Ahahaha. Oh iya, kamu masuk klub apa?”



“Aku? Aku masuk klub bantuan.”



“Ah, klub bantuan, ya? Klub yang Hiratsuka-sensei bentuk, kan? Aku lihat selebaran tentang klub itu di mading.”



“Iya, benar.”



“Jadi, apa kamu lakukan di klub itu?”



“Hanya duduk, membaca buku, dan minum teh sambil menunggu murid yang datang untuk meminta bantuan. Oh iya, kalau kamu perlu bantuan, datang saja ke klubku, Shiga.”



“Baiklah. Terus, kamu sendirian di klub itu?”



“Nggak. Ada Shiraishi-san sebagai ketua klub. Hanya kami berdua.”



“Shiraishi-san, ya?”



“Hm? Kamu kenal?”



“Kenal sih nggak, tapi semua murid Keiyou tahu Shiraishi-san. Dari yang kudengar, dia nggak punya teman.”



“Kamu sepertinya sering mendengar percakapan di sekitarmu?”



“Ah… mau gimana lagi. Gadis-gadis itu bicara dengan jelas tanpa bisik-bisik. Lagian, aku juga sering sendiri dan nggak sengaja mendengar obrolan mereka. Mereka seperti nggak mempermasalahkan obrolan mereka didengar orang lain.”



“Ahaha… ada saja orang aneh, ya, membicarakan tentang orang lain.”



“Yah, tentu saja ada orang yang seperti itu.”



“Kamu benar. Haha.”



Memang benar seperti apa yang dikatakan Shiga. Gosip tentang orang yang terkenal di sekolah pasti menyebar dengan jelas, seperti saat aku pulang bersama Namikawa-san dan pergi sekolah bersama Fuyukawa-san. Jika tidak ada gosip, mungkin mereka tidak punya bahan obrolan yang bisa dibicarakan dengan teman-temannya.



“Mungkin kamu bisa jadi teman Fuyukawa-san, Amamiya.”



“Nggak, nggak, nggak. Itu nggak mungkin… sepertinya.”



“Hm? Kenapa?”



“Shiraishi-san menatapku dengan tatapan dingin. Nada bicaranya juga terkesan dingin, bahkan dia belum pernah memanggilku dengan namaku.”



“Apa kamu yakin Shiraishi-san orang seperti itu?”



“Nggak sih. Mungkin pernah terjadi sesuatu padanya sehingga membuatnya membuat jarak dengan orang lain.”



“Karena itulah kamu harus coba menjadi temannya. Aku yakin kalau kamu pasti bisa, Amamiya.”



“Um, ya… setidaknya aku bisa berusaha untuk menjadi temannya.”



“Baguslah. Semangat, ya.”



Setelah puas berendam di bak besar sambil terus berbicara, kami pulang sekitar sembilan malam.



Di depan Kohmeisen ini, terdapat mesin penjual minuman. Sebelum pulang, kami membeli minuman susu. Tidak pas rasanya kalau setelah berendam di air hangat tidak minum susu. Susu juga bagus untuk tubuh.



Arah jalan pulang kami berdua berbeda. Shiga ke arah Kamimeguro, sedangkan aku ke arah Daikanyama. Kami mengatakan selamat tinggal setelah minum susu, lalu berpisah.



Tubuhku sekarang terasa hangat dan sudah mudah kugerakkan.



Saat kulihat ke langit malam, terdapat banyak awan yang menghalangi cahaya bintang dan bulan. Semakin dekat dengan apartemenku, tetesan air mulai berjatuhan dari atas. Ini hanya hujan rintik-rintik, tapi bukan tidak mungkin kalau hujan deras akan datang setelah ini. Oleh sebab itu, aku mulai mempercepat langkahku menuju apartemenku.



“Tadaima,” kataku saat masuk ke kamar.



Aku terdiam sejenak melihat kamar ini. Ternyata, kamar ini terasa begitu sepi. Tidak apa-apa.



Tak lama kemudian, hujan deras mulai turun. Sekarang, hanya suara hujan yang menghiasi kamar ini. Beruntung, pakaianku di jemuran sudah kering dan sudah kumasukkan ke dalam kamar sebelum pergi tadi.



Aku merasa sedikit kesepian karena tadi rasanya kamari ini terasa sangat ramai walaupun hanya ada tiga orang yang datang menjengukku. Setidaknya, sudah ada temanku yang datang ke kamar ini. Jika ada kesempatan, mungkin mereka akan datang lagi.



Baiklah, saatnya tidur. Aku harus mengistirahatkan tubuh ini agar bisa kembali ke kondisi semula. Kondisi di mana aku bisa melakukan semuanya pekerjaan rumah tangga sendirian dan berolahraga. Kondisiku harus kembali prima saat Senin nanti.



Oyasumi.



3




Pagi datang.



Seperti biasa setelah bangun tidur, aku melakukan olahraga ringan dan sepertinya tidak ada masalah. Push up dan sit up bisa dengan mudah kulakukan. Tubuh ini sudah kembali sehat seperti sebelumnya. Kepalaku tidak terasa berat ataupun sakit dan saat menggerakkan tubuhku, tidak ada terasa sakit atau apapun. Intinya, semuanya sudah kembali seperti sebelumnya.



Hari ini, Sabtu, aku tidak memiliki janji dengan orang lain, tapi aku punya sesuatu yang harus kulakukan. Hari Sabtu adalah hari untuk bersih-bersih dan melakukan semua perkerjaan rumah tangga. Itulah hari Sabtu bagiku. Bagi mereka yang tidak tinggal sendiri, hari Sabtu sebagai akhir pekan yang digunakan untuk berpergian bersama teman atau pacar mereka.



Setelah sarapan pagi, aku langsung mulai membersihkan kamar ini yang dimulai dari kamar mandi. Sebulan sekali, aku membersihkan kamar mandi. Jadwalnya yaitu setiap pekan pertama di awal bulan. Namun, kamar mandi ini tidak perlu dibersihkan sekarang karena tidak terlalu bernoda. Oh iya, benar juga. Aku harus membeli pengharum kamar mandi.



Baiklah, selanjutnya mencuci pakaian. Hanya dengan memasuk baju dan celana ke dalam mesin cuci dan tunggu sampai selesai. Kemajuan teknologi benar-benar sangat membantu manusia.



Selanjutnya membersihkan kamar ini yang dimulai dari dapur. Meskipun aku seorang laki-laki, aku suka berada di dapur. Dapurku ini tidak kotor seperti yang orang bayangkan karena aku sangat menyukai kebersihan. Menurutku, kebersihan itu merupakan salah satu nilai keindahan. Oleh sebab itu, semua sisi kamar ini selalu kujaga agar terlihat bersih karena aku tidak terlalu suka membersihkan kamar. Alasannya yaitu kalau aku mulai membersihkan kamar, aku tidak akan bisa berhenti sebelum semuanya bersih. Begitu juga dengan piket di sekolah, tidak akan berhenti sebelum kelas terlihat bersih. Dengan kata lain, aku cinta kebersihan, tapi tidak suka membersihkan. Memang terdengar aneh, tapi seperti itulah kenyataannya.



Setelah selesai membersihkan seluruh sisi kamar ini, kulanjutkan membersihkan kaca jendela. Aku keluar ke beranda dan mulai membersihkan semua kaca jendela ini. Hujan tadi malam membuat kaca-kaca ini berdebu yang mengakibatkan cahaya matahari tidak dapat masuk sepenuhnya ke dalam kamar ini.



Cuaca cerah hari ini membuatku merasa nyaman karena terkena cahaya matahari yang hangat ini. Sepertinya, cuaca hari ini akan cerah seharian. Setelah membersihkan semua kaca jendela, aku menikmati angin yang berhembus dari beranda ini sambil merasakan kehangatan cahaya matahari.



Ah… cahaya matahari yang hangat dan angin yang berhembus terasa enak.



Aku kembali ke dalam kamar untuk melihat prakiraan cuaca. Ternyata benar cuaca hari ini cerah. Kemungkinan hujan hanya sepuluh persen. Baiklah, saatnya menjemur pakaian.



Dengan cuaca cerah seperti ini, semua pakaian ini akan kering sore nanti. Tidak lupa juga aku menjemur kasur tempat tidurku di beranda. Dengan begitu, kegiatan rumah tangga hari ini sudah selesai. Besok, Minggu, bisa kugunakan waktuku untuk beristirahat penuh.



Hari ini aku tidak memiliki rencana apa-apa. Berada di kamar seharian mungkin sudah menjadi rencanaku sejak awal.



Aku tidak hadir mengikuti pelajaran selama dua hari yang berarti aku ketinggalan banyak materi pelajaran. Namun, ini bukanlah masalah besar bagiku. Kemarin, aku sudah menandai materi apa-apa saja yang harus kupelajari untuk mengejar ketertinggalan. Baiklah, sekarang saatnya belajar.




Baiklah, semuanya sudah kuurutkan. Sekarang saatnya mulai belajara dari materi pelajaran yang paling mudah.



Tidak ada halangan ataupun hambatan. Semuanya berjalan dengan lancar.



Tiba-tiba bel kamar ini berdering. Sepertinya ada orang yang datang. Aku sama sekali tidak ingat jika ada orang yang mau datang ke sini hari ini.



Aku menuju ke arah pintu, lalu membuka pintu.



“Selamat siang, Amamiya-kun.”



Seorang gadis yang berdiri di depan pintu kamarku memberi salam kepadaku. Dia tersenyum kepadaku. Wajahnya sangat cantik saat dia tersenyum. Dia memakai baju putih dengan leher berbentuk-V dan lengan pendek, serta rok coklat setinggi lututnya. Rambut panjang hitamnya yang mengkilau jatuh dan terurai di bahunya. Terdapat tas yang disangkut di bahu kirinya. Dia adalah teman sekelasku dan menjawab sebagai perwakilan murid perempuan kelas 2-D. Dia adalah Fuyukawa Yukina-san. Kenapa dia di sini?



“Selamat siang. Ada apa sampai datang ke sini, Fuyukawa-san?”



“Ah, ini, aku mau kasih materi pelajaran yang sudah dicetak dari sensei dan juga mengembalikan pakaianmu, Amamiya-kun.”



“Oh begitu, ya. Silakan masuk.”



“Ah, iya, permisi.”



Fuyukawa-san masuk dan langsung menuju ruang tengah kamar ini, sedangkan aku menuju dapur untuk memberinya minuman. Masih ada mugicha di dalam kulkas. Kutuangkan ke dalam dua gelas, satu untukku dan satu untuknya. Saat kulihat, dia sedang melihat ke seisi ruangan ini, juga melihat buku yang sedikit berserakan di atas meja.



Aku berjalan ke arahnya sambil membawa dua gelas mugicha dingin dan meletakkannya di atas meja.



“Silakan diminum, Fuyukawa-san.”



“Makasih, Amamiya-kun.”



Suhu di kamar ini perlahan menjadi lebih hangat. Mugicha dingin memang cocok di saat seperti ini. Aku juga membuka pintu yang menuju ke beranda kamar ini. Angin perlahan masuk ke dalam ruangan ini dan sedikit menyejukkan kami yang sedang duduk di dalam ruangan ini. Saat angin berhembus masuk ke dalam kamar ini, tercium aroma manis yang tidak asing bagiku. Aroma manis ini berasal dari Fuyukawa-san.



Fuyukawa-san mulai meminum mugicha-nya. Beberapa tetes keringat terlihat di lehernya. Mungkin suhu di luar lebih panas dari yang kubayangkan. Dia menyisakan sedikit minumannya, lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sambil minum, aku terus melihatnya.



“Ini pakaianmu yang kemarin kamu kamu pinjamkan. Sudah kucuci, kok. Dan ini, materi pelajaran dari sensei.”



“Makasih, ya, Fuyukawa-san. Maaf sudah merepotkan.”



“Nggak, kok.”



Aku langsung meletakkan pakaian itu ke dalam lemari, sedangkan materi pelajaran ini kuletakkan di atas meja.



“Kamu sedang belajar, ya, Amamiya-kun?”



“Ah, iya. Karena dua hari nggak mengikuti pelajaran, aku harus mengejar ketertinggalan. Dengan adanya cetakan meteri pelajaran ini, pasti akan sangat membantuku belajar.”



“Begitu, ya. Apa aku menganggumu karena datang ke sini?”



“Tentu saja tidak.”



“Syukurlah. Kupikir aku mengganggumu setelah apa yang kulakukan padamu.”



“Hm…?”



“Aku masih kepikiran tentang hal ini kalau akulah yang membuatmu sakit. Ini pasti salahku.”



“Tunggu sebentar, Fuyukawa-san. Ini semua bukan salahmu. Ini semua salahku sendiri karena nggak menjaga kesehatan. Ini semua sama sekali nggak ada hubungannya denganmu.”



“Tapi… bisa saja kamu menjadi sakit karena shock yang kamu terima saat mengetahui semuanya. Oleh karena itu, ini pasti salahku.”



Apa yang dikatakan Fuyukawa-san sedikit mengejutkanku. Memang benar jika daya tahan tubuhku turun karena shock saat mengetahui semua itu, tapi juga aku sering terkena demam di saat pergantian musim seperti ini. Namun, aku tidak ingin membenarkan hal itu. Ini semua tidak ada hubungannya dengan Fuyukawa-san.



“Sudahlah, Fuyukawa-san. Jangan bicarakan hal itu lagi. Semuanya sudah berakhir waktu itu.”



“Maaf. Gimana keadaanmu sekarang, Amamiya-kun?”



“Um, ya, sudah lebih baik daripada kemarin. Mungkin sudah kembali seperti semula.”



“Syukurlah.”



“Oh iya, gimana dengan turnamen basketnya?”



“Ah, um, kami menang di pertandingan kemarin. Sekarang kami sudah masuk ke semifinal.”



“Wah, selamat. Kapan pertandingan semifinalnya?”



“Jumat pekan depan.”



“Begitu, ya. Jangan lupa jaga kesehatan, ya, Fuyukawa-san. Jangan terlalu memaksakan diri juga. Kalau cedera, bisa gawat nanti.”



“Iya. Makasih, Amamiya-kun.”



“Um. Kalau menang, tim basket putri sekolah kita akan mewakili Tokyo di Inter High, ya. Keren.”



“Iya, tapi nggak mudah.”



“Um, ya, aku tahu, kok. Ganbatte ne, Fuyukawa-san.”



“Ganbarimasu.”



“Kamu mau minum lagi?”



“Ah, nggak usah. Aku mau pulang sekarang.”



“Begitu, ya.”



Fuyukawa-san berdiri dan menuju ke arah pintu dan aku mengikutinya.



“Makasih, ya, Fuyukawa-san.”



“Iya, sama-sama. Sama jumpa lagi di sekolah, Amamiya-kun.”



“Ya, sampai jumpa lagi.”



Setelah itu, Fuyukawa-san pergi meninggalkan apartemen ini. Di dalam kamari ini hanya ada aku seorang sekarang.



Baiklah, saatnya untuk kembali belajar. Aku bersikap seperti layaknya murid penerima beasiswa, yaitu dengan nilai tinggi di setiap ujian. Bukan hal yang sulit jika aku tetap konsisten dalam belajar karena konsistensi itu kunci segalanya.



Aku berhenti belajar saat memasuki jam makan siang, sekitar pukul 12:30.



Sebelum memasak makan siang untuk hari ini, kulihat bahan makanan apa saja yang ada apa saja yang tidak. Dengan demikian, nanti malam aku bisa pergi ke kawasan belanja di Meguro untuk belanja.



Setelah makan siang dan membersihkan dapur, aku kembali belajar karena tidak ada hal lain yang harus kulakukan. Untuk saat ini, belajar lebih penting.



Kubaca buku dan cetakan yang diberikan Fuyukawa-san tadi dan kutulis di buku catatanku. Menulis membuatku mengingatku apa yang kupelajari. Sepertinya dengan menulis dapat menstimulasi otak.



Ada satu hal yang harus dilakukan setelah belajar, yaitu mengistirahatkan otak. Otak manusia memang luar biasa, tapi tentu saja harus diistirahatkan. Caranya sederhana. Hanya dengan tidur siang. Ini yang selalu kulakukan jika belajar di rumah.



Kurapikan buku dan kertas yang ada di meja ini, setelah itu aku beranjak ke tempat tidur. Aku tidak perlu terburu-buru belajar karena bisa kulanjutkan nanti malam dan besok hari.



Tempat tidurku ini terdiri dari dua kasur. Kasur yang kujemur merupakan kasur bagian atas. Sambil berbaring di tempat tidur, aku memikirkan apa yang harus kulakukan saat bangun nanti. Dimulai dari mengangkat jemuran, meletakkan kasur kembali, menyetrika pakaian, dan malamnya pergi belanja di Kawasan Belanja Meguro.



Angin yang berhembus masuk ke dalam kamar ini membuatku semakin mengantuk.



Kelopak mataku mulai terasa berat dan akhirnya mataku tertutup.






4







Minggu.



Seperti biasa, aku bangun tanpa alarm. Kasur yang kemarin kujemur di bawah sinar matahari membuatku tidur lebih nyenyak. Tidurku sangat puas. Sepertinya sudah lama aku tidak tidur sepuas ini.



Aku terkejut saat melihat jam di ponselku. Aku yang biasanya bangun sekitar pukul delapan atau sembilan pagi di hari Minggu, hari ini aku bangun pukul 11 siang. Pantas saja tidurku sangat puas. Waktu tidurku lebih lama daripada biasanya. Seingatku, aku tidur sekitar pukul satu malam setelah belajar. Mungkin otakku terlalu lelah karena belajar. Oleh karena itu, aku tertidur lebih lama untuk mengistirahatkan otakku ini.



Setelah merapikan tempat tidur, aku mulai memasak sesuatu untuk dimakan. Tidur sangat lama membuatku lapar. Otaku juga perlu asupan gula sebelum mulai belajar.



Sarapanku berupa roti, telur orak-arik, dan sosis yang merupakan hasil belanja tadi malam, dilengkapi dengan secangkir teh. Mungkin sudah telat untuk disebut sebagai sarapan karena sebentar lagi sudah masuk waktu makan siang. Kalau lapar lagi, aku hanya perlu memasak lagi.



Sambil makan, aku membalik-balikkan halaman buku pelajaran untuk mengecek materi pelajaran. Materi yang harus kekejar tinggal sedikit lagi. Kalau aku terus belajar mulai dari sekarang, mungkin semuanya akan selesai maksimal tiga jam lagi.



Kalau di rumah kakek dan nenek, aku pasti akan dimarahi karena belajar sambil makan. Di saat makan, aku hanya boleh makan, tidak boleh melakukan hal lain, apalagi belajar. Rasanya aku kangen dengan mereka.



Setelah selesai makan dan membersihkan dapur, saatnya belajar dengan serius.



Aku mulai memikirkan sesuatu. Belajar di dalam kamar ini terus menerus sepertinya membuatku bosan. Mengganti suasana tempat belajar mungkin akan membuat pikiranku lebih terbuka. Ada satu tempat yang cocok dan letaknya juga tidak jauh, yaitu di Daikanyama T-Site. Saatnya mandi dan setelah itu memasukkan buku dan cetakan materi pelajaran ke dalam tas pundakku.



Saat tiba di Daikanyama T-Site dan aku langsung menuju Starbucks yang ada di Toko Buku Tsutaya di gedung ketiga.



Aku memesan minuman espresso affogato frappucino, setelah itu langsung mencari tempat untuk duduk dan mulai belajar.



Harga satu minuman ini setara dengan satu shio ramen.



Suasana ramai di sini sama sekali tidak menggangguku karena orang-orang yang datang ke sini untuk membaca.



Di lantai dasar ini, kita bisa menikmati minuman yang kita beli dan membaca semua buku yang ada. Inilah alasannya aku memilih tempat ini.



Materi pelajaran yang tinggal untuk kupelajari hari ini sedikit susah. Beruntung cetakan materi yang kemarin diberi Fuyukawa-san sangat membantu. Semuanya sudah kupelajari dan kucatatat. Lebih cepat dari perkiraanku.



Sebelum pulang, aku menyempatkan diriku untuk membaca suatu buku yang ada di sini. Setidaknya bisa menghiburku sedikit setelah belajar dari kemarin. Tentu saja itu hal yang tidak bisa dihindarkan karena aku seorang pelajar. Sudah menjadi kewajibanku untuk belajar. Terlebih lagi, aku murid yang menerima beasiswa.



Kurasa tidak terlalu berlama-lama di sini merupakan pilihan bagus karena besok aku harus kembali ke sekolah. Waktu yang tersisa lebih baik kugunakan untuk beristirahat. Kukembalikan buku yang kuambil tadi pada tempatnya dan bersiap untuk pulang.



Awan terlihat sedikit mendung, tapi aku tidak menghiraukan hal itu.



Sambil berjalan kembali ke apartmen, aku memikirkan menu makan malam apa yang akan kubuat malam ini. Mungkin aku akan membuat sedikit lebih banyak karena aku tidak makan siang.







***







Hari yang kutungu-tunggu akhirnya tiba.



Hari Senin, aku mulai kembali bersekolah seperti biasa.



Berangkat ke sekolah dengan perasaan sedikit berbeda daripada biasanya. Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya ada sesuatu yang menggangguku.



Hari ini aku pergi lebih cepat daripada biasanya karena istirahatku sudah cukup dan juga aku bangun lebih awal. Sekitar pukul delapan pagi, aku tiba di sekolah. Agitsu-sensei seperti biasa berdiri di dekat gerbang masuk sekolah, melihat murid yang masuk dan menyapa kembali murid yang menyapanya.



Aku langsung menuju ke arah kelas.



Aku berdiri di pintu masuk kelas dan melihat beberapa murid yang sudah berada di dalam kelas. Ada yang sedang berbicara dengan kelompok kecilnya dan ada yang sibuk dengan dirinya sendiri, seperti membaca dan mendengar lagu dengan memakai earphone.



Fuyukawa-san, Seto-san, dan Mizuno-san tidak terlihat di dalam kelas. Pasti mereka sedang melakukan latihan pagi. Semoga mereka bisa menang di turnamen nanti dan menjadi perwakilan Tokyo di Inter High.



Untuk saat ini, mungkin aku ingin menghindari kontak dengan Mizuno-san. Dia terkadang terlihat sangat mengerikan. Di hari Kamis yang lalu, dia menamparku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ditampar oleh seorang gadis. Memikirkannya saja membuatku mengingat kembali rasa sakitnya ditampar olehnya. Tanpa sadar, aku sudah mulai mengelus pipiku yang ditamparnya.



Sekarang, aku tahu bagaimana sifat Mizuno Atsuko-san yang sebenarnya. Seperti namanya, Atsuko, dia bersifat atsui-panas, tapi sangat perhatian dengan temannya.



Shimizu-san dan Nazuka-san juga tidak terlihat. Apa mereka masih melakukan latihan pagi? Apa ada turnamen bola voli lagi setelah Inter High nanti?



“Selamat pagi, Amamiya-kun.”



Terdengar suara dari arah belakangku yang sedikit mengagetkanku.



Secara refleks, aku berbalik. Ternyata Moriyama-san, murid kelas 2-D yang hari piketnya sama denganku.



“Ah, selamat pagi, Moriyama-san.”



“Kenapa kamu terkejut?”



“Nggak ada apa-apa, kok.”



Tentu saja terkejut. Kukira orang yang menyapaku adalah Fuyukawa-san dan kawan-kawan yang sudah kembali dari latihan pagi.



“Oh begitu, ya. Gimana keadaanmu? Sudah sehat?”



“Sudah, kok.”



“Syukurlah. Nggak masuk?”



“Masuk, kok.”



Setelah itu, aku masuk ke dalam kelas dan duduk di kursiku.



Kulihat ke arah lapangan yang luas, murid-murid dari klub sepak bola dan bisbol sudah mulai menghentikan latihan pagi mereka, juga klub atletik.



Cahaya matahari yang sudah meninggi memberikan kehangatan. Cuaca cerah seperti ini sangat cocok untuk melakukan olahraga luar ruangan, seperti sepak bola, bisbol, dan tenis. Pas sekali hari ini ada jadwal pelajaran olahraga. Aku sangat menantikan hari ini karena di hari-hari sebelumnya hanya olahraga dalam ruangan, seperi bola basket, bola voli, dan badminton. Semoga saja hari ini olahraga sepakbola.



Tak lama kemudian, aku mendengar suara Shimizu-san dan Nazukan-san yang masuk ke dalam kelas sambil mengatakan selamat pagi. Kulihat ke arah mereka berdua yang sedang berjalan menuju arahku. Tidak terlihat keringat yang berarti mereka berdua tidak melakukan latihan pagi hari ini.



“Selamat pagi, Amamiya-kun.”



“Pagi, Amamiya-kun.”



“Selamat pagi, Shimizu-san, Nazuka-san.”



“Kamu sudah sehat?”



“Ya, tentu saja.”



“Syukurlah.”



“Oh iya, Nazuka-san, nggak ada latihan pagi hari ini?”



“Nggak.”



“Kami lanjut latihan setelah Inter High, Amamiya-kun. Untuk sekarang, gedung olahraga dipakai klub basket. Tim putra maupun putri akan bertanding di babak semifinal hari Jumat ini.”



Ternyata tim basket putra kuat juga. Aku baru tahu.



“Oh begitu, ya. Semoga mereka bisa menang.”



“Iya. Dengan begitu, mereka akan mewakili Tokyo di Inter High.”



“Um, iya. Sesudah Inter High, apa ada turnamen lagi?”



“Iya, ada. Turnamen Musim Gugur Tokyo.”



“Benarkah? Aku baru tahu. Jadi kalian ikut turnamen itu nanti?”



“Iya.”



“Tentu saja.”



“Semangat, ya.”



“Ini masih bulan Juni, lo, Amamiya-kun.”



“Bukannya terlalu cepat untuk menyemangati kami?”



“Setidaknya aku menyemangati kalian. Kalau kalian perlu bantuan saat latihan lagi, aku siap membantu, kok.”



“Wah, itu sangat membantu, Amamiya-kun.”



“Iya. Makasih, Amamiya-kun.”



“Um, iya, sama-sama.”



Di saat sedang berbicara dengan Shimizu-san dan Nazuka-san, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggilku.



“Eh? Amamiya, kamu sudah sehat?”



Hanya ada dua orang yang memanggilku tanpa akhiran “kun.” Mereka adalah Seto-san dan Mizuno-san. Itu artinya salah satu di antara mereka yang memanggilku. Intonasi suara yang keluar saat memanggilku itu sedikit tinggi. Aku tahu itu bukan suara Seto-san. Suara Seto-san sedikit lebih rendah daripada suara itu. Dengan kata lain, itu suara Mizuno-san.



Saat kulihat ke arah kanan, ada Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Seto-san yang sudah berada di kelas setelah melakukan latihan pagi. Mereka bertiga menuju ke arah tempat dudukku.



Saat mengetahui mereka bertega menuju ke tempatku, Shimizu-san dan Nazuka-san segera menuju tempat duduk mereka.



“Sampai nanti, Amamiya-kun.”



“Ah, ya.”



Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya mereka berdua seperti menghindari Fuyukawa-san dan kawan-kawan. Apa karena kejadian di hari Kamis yang lalu itu?



Saat Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Seto-san berdiri di dekatku, aku langsung menjawab pertanyaan Mizuno-san yang tadi.



“Ah, um, ya… aku sudah sehat.” Setelah menjawabnya, aku segera memalingkan muka dari arah Mizuno-san.



“Syukurlah kamu sudah sehat, Amamiya.”



“Iya. Makasih, Seto-san.”



“Hm? Kamu kenapa, Amamiya?”



“Ah, bukan apa-apa, kok. Ayo segera duduk, homeroom akan segera dimulai, lo.”



“Masih ada waktu 15 menit lagi sebelum pelajaran dimulai.”



“Eh? Benarkah?” Saat kulihat ke arah jam dinding, ternyata benar apa yang dikatakan Mizuno-san.



“Kamu sedikit aneh, Amamiya-kun.”



“Eh? Aneh? Aku seperti biasa, kok.”



Apa Fuyukawa-san mulai menyadari sesuatu?



“Kalau begitu, kenapa kamu memalingkan muka dari arah kami?”



Ah… Mizuno-san sangat peka.



“Eng, begini… leherku sedikit sakit karena salah posisi saat tidur. Hal yang sering terjadi, kan?”



Ah, gawat. Aku hampir tidak tahu harus memberikan alasan apa.



“Begitu, ya. Semoga nggak apa-apa, ya.”



“Um, ya.”



“…”



Setelah itu, mereka bertiga menuju ke tempat duduk masing-masing. Sepertinya sekarang sudah aman karena sudah tidak ada Mizuno-san di dekatku.



Mizuno-san duduk di bagian depan kelas, sedangkan aku di paling belakang. Sudah pasti dia tidak melihat ke arah belakang karena dia tidak memiliki urusan apa-apa.



Saat hendak kupalingkan pandanganku ke arah kanan tempat Fuyukawa-san berada, tidak sengaja aku melihat ke arah Mizuno-san yang sedang berdiri di samping tempat duduknya sambil melihat ke arah belakang kelas. Lebih tepatnya dia sedang melihat ke arahku. Mata kami akhirnya bertemu. Dia mengerutkan keningnya sambil memasang ekspresi wajah yang penuh dengan tanda tanya. Segera aku memalingkan muka dari pandangannya dan mengurungkan niatku untuk sekali lagi mengatakan terima kasih kepada Fuyukawa-san karena sudah mengantarkan cetakan materi pelajaran.



Waktu terus berjalan dan akhirnya bel tanda masuk bebunyi. Jam pelajaran pertama berupa homeroom dari wali kelas akan segera dimulai.



Seperti biasa, Sakamoto-sensei mengatakan hal-hal yang penting, juga informasi terkini yang sedang terjadi di Tokyo. Sensei mengatakan kalau saat ini di kawasan Shibuya sedang tidak aman karena adanya preman yang berkeliaran pada malam hari. Untuk itu, kami dihimbau untuk tidak keluar terlalu lama saat malam.



Setelah homeroom, kami memasuki pelajaran olahraga. Sugita-sensei menyuruh kami berkumpul di lapangan sepak bola setelah mengganti pakaian. Sepertinya kami akan memainkan sepak bola hari ini. Aku sangat menantikannya.



Di lapangan sepak bola, ada kelas 2-C juga. Kulihat Taniguchi-san melambaikan tangannya ke arahku dengan senyum di wajahnya. Aku membalasnya dengan mengangkat tangan kananku.



Sebagai perwakilan kelas, aku menyuruh teman sekelasku untuk berbaris.



Sugita-sensei datang sambil membawa bola di kedua tangannya. Akhirnya, aku bisa bermain sepak bola. Yeah… akhirnya.



“Semuanya sudah hadir, Amamiya?”



“Sudah, Sensei.”



“Bagaimana dengan murid perempuan, Fuyukawa?”



“Ya, sudah semua, Sensei.”



“Bagus. Untuk hari ini, kita akan bermain sepak bola denga kelas 2-C. Pertama, murid laki-laki yang akan bermain terlebih dulu. Setelah itu, murid perempuan. Baiklah, kita mulai dengan pemanasan dulu.”



Tentu saja sebelum melakukan olahraga, pemanasan harus dilakukan terlebih dulu untuk meminimalisir terjadinya cedera. Pemanasan dilakukan mulai dari bagian atas tubuh hingga bawah, dari kepala hingga kaki. Kelas 2-C juga melakukan hal yang sama.



Pemanasan selesai dan sekarang saatnya sepak bola dimulai. Sinar matahari yang menyinari kota ini mulai memberikan rasa panas kepada tubuhku. Wajar saja karena sekarang sudah memasuki bulan Juni. Meskipun begitu, cuaca masih berubah terus menerus. Semoga saja tidak hujan hari ini. Aku sangat ingin bermain sepak bola sekarang.



“Oh iya, Amamiya-kun.”



“Ya, Sensei?”



“Untuk hari ini, kamu lebih baik tidak ikut bermain sepak bola saja.”



“Eh? Kenapa, Sensei?”



“Saya dapat kabar dari Sakamoto-sensei kalau kamu tidak mengikuti pelajaran di hari Kamis dan Jumat karena terkena demam. Jadi untuk hari ini, kamu lihat saja dari pinggir lapangan. Masih ada kesempatan untukmu bermain sepak bola di hari pelajaran olahraga selanjutnya.”



“Tapi Sensei, saya sudah sembuh, lo.”



“Untuk jaga-jaga saja. Kamu tinggal sendirian di Tokyo, kan? Kalau kamu sakit lagi, kamu akan menderita. Saya juga ahli dalam bidang kesehatan, lo. Tidak hanya di bidang olahraga.”



Ya, tentu saja. Olahraga bersangkut paut dengan kesehatan. Aku juga mengerti tentang itu, sensei.



“Jadi, ikuti saja perkataan saya.”



“Benar apa yang dikatakan Sugita-sensei, Amamiya-kun. Lebih baik kamu istirahat saja dulu.”



“Atau kalau kamu memang sangat ingin bermain sepak bola, saya berikan satu bola untuk kamu tendang-tendang di pinggir lapangan.”



Jika memikirkan perkataan Sugita-sensei dengan akal sehat, maka apa yang dikatakannya itu benar. Jika aku sakit lagi dan lebih parah, akan sangat menyiksaku. Untuk hari ini, mungkin aku bisa menahan keinginanku untuk bermain sepak bola. Masih ada kesempatan di lain hari. Setidaknya aku bisa menendang-nendang bola sebagai luapan rasa rinduku terhadap sepak bola.



“Baiklah, Sensei. Saya mengerti. Kalau begitu, saya berdiri di pinggir lapangan saja sambil menendang-nendang bola.”



“Begitu dong. Baiklah, semua murid laki-laki masuk ke dalam lapangan. Untuk murid, perempuan berdiri di luar lapangan. Kalian akan bermain selama 30 menit. Amamiya, ini ambil bolanya.” Sugita-sensei memberiku bola untuk kumainkan di pinggir lapangan.



Semua murid laki-laki dari kelas 2-C dan 2-D mulai memasuki lapangan. Aku tidak tahu bagaimana kemampuan murid laki-laki kelas 2-C dalam bermain sepak bola. Namun, aku tahu kalau mereka terbiasa dan suka dengan olahraga. Kami pernah bermain bola voli dan bola basket sebelumnya. Kelasku menang tipis saat bermain dengan kelas 2-C dalam permainan bola voli dan kalah total di permainan bola basket.



Sugita-sensei yang mengambil peran sebagai wasit menuip peluit sebagai tanda permainan dimulai. Kick-off dilakukan oleh kelas 2-C.



Murid-murid yang tidak bermain berada di pinggir lapangan. Mereka menyoraki untuk memberi semangat kepada murid laki-laki dari kedua kelas. Aku mengambil jarak sedikit lebih jauh dari mereka karena aku ingin melakukan juggling. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak menendang bola.



Ternyata aku masih jago melakukan juggling. Sambil terus melakukan itu, sesekali kulihat ke arah mereka yang sedang bermain bola. Dari penglihatanku, kelas 2-C terus menekan pertahanan kelas 2-D. Mereka sepertinya tahu kalau kelas 2-D sangat lemah dalam olahraga ini. Juga, sepertinya mereka tidak bermain dengan serius. Mereka tertawa-tawa dan bahkan bercanda dengan teman setim. Tidak lama kemudian, gol tercipta dari tendangan jarak jauh. Kelas 2-C memimpin 1-0. Ayo kelas 2-D, kalian pasti bisa.



“Amamiya-kun, kenapa kamu nggak ikut main?”



Terdengar suara seseorang yang kukenal dari arah kiri. Kuhentikan melakukan juggling dan kulihat ke arahnya. Suara itu dari mulut Taniguchi-san. Dia menghampiriku sendrian di saat teman-temannya sedang memberi semangat kepada teman mereka yang sedang bermain.



“Nggak. Sugita-sensei tahu kalau aku baru saja sembuh. Jadi aku istirahat dulu. Padahal aku sudah sehat, lo.”



“Sepertinya kamu sangat ingin main sepak bola, ya?”



“Iya. Sepak bola olahraga favoritku.”



“Gimana dengan voli?”



“Itu favorit kedua.”



“He… begitu, ya. Kukira voli olahraga favoritmu yang pertama karena kamu sangat jago.”



“Nggak, nggak. Aku hanya suka olahraga saja. Nggak bisa dibilang jago.”



“Tapi orang lain pasti menganggapmu jago. Izumi dan Sumire saja bilang kalau kamu jago.”



“Ahaha…”



“Di sepak bola, posisimu di bagian apa, Amamiya-kun?”



“Penjaga gawang.”



“Ah, begitu. Cocok sih, soalnya kamu tinggi.”



“Iya, teman-temanku juga pernah bilang seperti itu.”



“Siapa penjanga gawang favoritmu?”



“Hm… aku suka beberapa nama, tapi untuk nomor satu tentu saja Petr Cech. Kamu tahu, Taniguchi-san?”



“Maaf, aku nggak begitu tahu tentang sepak bola.”



“Ah, nggak apa-apa. Kalau Taniguchi-san, kenapa suka dengan voli?”



“Eh?”



“Pasti kamu jadi manajer klub bola voli putri karena suka dengan voli, kan?”



“Ah… sebenarnya nggak begitu. Aku dipaksa sama Sumire dan Izumi.”



“Eh, serius?”



“Iya. Tapi aku senang berada di klub itu.”



“Baguslah.”



“Hehe…” Taniguchi-san tertawa kecil dan wajahnya dipenuhi dengan senyumnya yang manis.



Aku ikut tersenyum karena melihat senyumnya itu. Senyumnya begitu murni dan indah, ditambah dengan wajahnya yang cantik membuat siapa saja akan terkesima.



Saat sedang terkesima melihat senyuman di wajahnya itu, tiba-tiba terdengar teriakan seorang murid laki-laki dari arah dalam lapangan, “Awas!!!”



Kulihat ke arah datangnya suara, ada bola yang mengarah ke Taniguchi-san. Dengan refleks seperti seorang penjaga gawang, kugerakkan badanku dan kuluruskan tangan kiriku ke arahnya, tepat di depan wajahnya. Bola itu berhasil kutepis. Syukurlah, bola itu tidak mengenainya. Tinggi bola yang melayang itu kira-kira sama dengan tingginya. Kemungkinan bola itu akan mengenai wajahnya c



“Hei, hati-hati dong!” kataku dengan suara yang keras.



“Maaf,” respon anak laki-laki kelas 2-C. Sepertinya dia yang menendang bola itu ke arah sini.”



“Amamiya, tidak apa-apa?” tanya Sugita-sensei dengan berteriak.



“Ya, tidak apa-apa, Sensei.”



Setelah itu, Sensei meniup peluit dan permainan pun dilanjutkan.



“Taniguchi-san, nggak apa-apa, kan?”



“Um. Makasih, ya, Amamiya-kun.”



“Syukurlah. Kukira aku bakal telat untuk menangkis bola itu. Lebih baik kamu kembali ke tempat teman-temanmu.”



“Ah, um, iya.”



Taniguchi-san kembali ke tempat murid-murid lain yang berada di pinggir lapangan.



Permainan sepak bola antara kelas 2-C dan kelas 2-D untuk murid laki-laki dimenangkan oleh kelas 2-C dengan skor akhir 4-0. Setelah itu, dilanjutkan dengan murid perempuan. Skor akhir yaitu 1-3 dengan kemenangan kelas 2-D. Fuyukawa-san mencipatakan satu gol, sedangkan dua gol lagi diciptakan oleh Mizuno-san.



Pelajaran olahraga pun selesai dan kami kembali ke kelas untuk mengganti pakaian dan melanjutkan pelajaran lain.






5







Jam istirahat makan siang.



Sepeti biasa, aku makan siang di kantin sekolah. Berkat silver pin ini, aku tidak perlu membayar untuk makan di sini. Perasaanku sekarang sedikit kesal karena tidak dapat kesempatan untuk bermain sepak bola. Padahal aku sangat menantikannya. Karena itu, aku memesan gyuudon porsi ekstra. Orang-orang sering bilang kalau sedang kesal, makanlah. Dengan demikian, perasaan hatimu akan membaik. Jadi aku akan mencoba hal itu sekarang.



Aku sendirian di kantin saat ini. Setelah pelajaran keempat, aku langsung keluar dari kelas untuk menuju kantin untuk menghindari kontak dengan Mizuno-san. Saat mata kami bertatapan tadi pagi, sepertinya dia mulai menyadari sesuatu. Dia tipe gadis yang peka, jadi hanya butuh waktu yang singkat untuk dapat memahami tingkahku yang sedang menghindarinya. Semog saja dia tidak makan siang di kantin.



Tidak terlihat muka orang yang kukenal di sini. Kupikir tadi aku akan bertemu dengan Namikawa-san, Kayano-san, atau Shiraishi-san. Bahkan Taka tidak terlihat batang hidungnya. Padahal ada yang ingin kutanyakan padanya tentang hubungannya dengan Fuyukawa-san. Mungkin aku hanya terlalu cepat berada di sini.



Setelah mendapat tempat duduk, aku mulai memakan gyuudon porsi ekstra ini. Daging lembut dan juicy membuatku tidak bisa berhenti memakannya. Bawang bombai yang sudah terkaramelisasi memberikan rasa manis dan gurih. Saat dimakan dengan daging secara bersamaan, rasa yang dihasilkan sangat luar biasa.



Hanya ada makanan di pikiranku sekarang. Ternyata benar kalau memakan makanan enak di saat suasana hati sedang buruk dapat memperbaiki suasan hati. Semua makanan di kantin ini enak, jadi itu sangat membantuku. Sekarang, aku hanya perlu menunggu sampai hari Senin depan agar bisa bermain sepak bola di pelajaran olahraga.



Keadaan kantin secara perlahan semakin ramai. Murid-murid datang untung mengisi kembali energi mereka.



Sesudah meminum mugicha dingin, aku keluar dari kantin karena semua makananku sudah habis.



Di koridor lantai satu ini, aku melihat Mizuno-san bersama dengan Fuyukawa-san dan Seto-san. Mereka sepertinya ingin makan siang di kantin.



Untuk menghindari bertemu dengan Mizuno-san, aku harus menggunakan jalan lain untuk kembali ke kelas. Di sebelah kananku ada tangga untuk menuju lantai dua, tapi pasti akan ketahuan dengannya. Pintu keluar kantin ada dua: pintu menuju koridor kelas dan pintu menuju halaman dalam sekolah. Jadi aku harus masuk kembali ke dalam kantin dan keluar dari pintu yang menuju halaman dalam sekolah. Aku tidak tahu apakah dia sempat menyadari kehadiranku atau tidak, tapi aku harus segera menjauh darinya sekarang.



Di halaman dalam sekolah, banyak pohon dan terdapat tempat duduk di bawahnya. Di sini, banyak murid yang memakan bento-nya bersama teman-temannya. Cuaca cerah seperti ini memang asik untuk makan di luar di tempat yang teduh. Di bawah pohon pilihan terbaik.



Sebenarnya aku tidak memiliki hal yang harus kulakukan sekarang. Jika aku kembali ke kelas, aku juga hanya duduk dan diam sambil membaca sesuatu atau melihat ke arah lapangan dengan tatapan kosong. Perpustakaan sepertinya ide yang bagus, tapi aku tidak punya niat membaca sekarang.



Akhirnya, kuputuskan untuk duduk di dekat mesin penjual minuman yang terletak di dekat Gedung Khusus. Aku hanya perlu jalan di koridor ini. Kumasukkan uang 100 yen dan kupilih jus jeruk, lalu duduk di kursi yang ada di sini. Dari sini, aku dapat melihat Aula Sekolah yang dari tadi ada orang yang keluar masuk sambil membawa semacam kostum. Mungkin itu anggota klub drama. Juga, murid-murid yang sedang makan di bawah pohon. Seperti inilah yang kehidupan SMA di sini.



Saat bel berbunyi yang menandakan jam isitirahat makan siang sudah berakhir, aku kembali menuju kelas dengan hati-hati agar tidak bertemu dengan Mizuno-san. Memang sulit untuk menghindarinya karena kami berada di kelas yang sama. Namun, pasti ada cara.



***



Sekolah hari ini akhirnya berakhir.



Saat guru keluar, aku langsung keluar dari kelas. Aku sempat melihat ke arah Mizuno-san yang sudah siap untuk meninggalkan kelas. Seperti biasa, dia akan menemui Fuyukawa-san yang duduk di sebelah kananku. Mata kami bertemu dan dia memasang ekspresi penasaran di wajahnya. Berbeda dengannya, aku sedikit terkejut saat mata kami bertemu. Dengan terburu-buru, akhirnya aku berhasil keluar dari kelas untuk menuju ruang klub bantuan. Semoga saja dia tidak mencariku.



Untuk pertama kalinya, aku tiba di saat Shiraishi-san belum berada di dalam ruang klub. Pintu masih terkunci karena hanya dia yang memegang kuncinya. Ah, ada satu orang lagi, Hiratsuka-sensei.



Aku hanya menunggu kedatangan Shiraishi-san sambil mondar-mandir di depan ruang klub. Terlihat beberapa murid yang tiba di lantai ini dan masuk ke ruang di samping ruang klub kami. Tak lama kemudian, Shiraishi-san muncul dan berjalan menuju arahku.



“Tumben kamu berada di sini lebih cepat daripada biasanya.”



“Um, ya… seperti itulah. Karena nggak ada hal yang perlu kulakukan, jadi aku datang ke sini lebih cepat.”



Padahal kenyataannya, aku berusaha menghindari Mizuno-san.



“Oh begitu. Sepertinya kamu sudah kembali sehat, ya.”



“Iya. Tapi saat jam pelajaran olahragai, aku nggak dibolehkan untuk main sepakbola. Sensei bilang karena baru saja sembuh. Padahal dari hari Jumat sudah sembuh. Ah… aku sangat ingin main sepakbola.”



“Oh…”



Shiraishi-san membuka kunci pintu ruangan ini, setelah itu kami masuk.



Aku sama sekali tidak apa yang pertama kali Shiraishi-san lakukan saat masuk ke dalam ruang klub ini. Jadi, ini pertama kalinya aku melihatnya. Dia memulainya dengan membuat teh. Sambil duduk, aku terus memperhatikannya. Di saat menunggu teh tersebut mengeluarkan semua zat-zat yang terkandung dan akan terlarut ke dalam air, dia membuka jendela untuk membuat angin masuk ke dalam agar udara di ruagan ini mengalami pergantian.



Saat tehnya sudah siap, dia menuangkannya ke dalam cangkir teh dan membawanya ke mejanya. Teh itu diminum sedikit, setelah itu dia mengambil buku dan mulai membaca.



Angin berhembus masuk ke dalam ruangan ini. Cahaya yang kekuningan mewarnai ruangan ini. Hanya ada dua orang di ruangan ini tanpa melakukan pertukaran frasa satu sama lain. Mungkin hal seperti ini akan terus berlanjut jika aku tidak mencoba untuk membuka pembicaraan dengannya.



Aku mengingat kembali perkataan Shiga untuk mencoba menjadi temannya, tapi sepertinya itu memang hal yang sulit. Shiraishi-san yang sedang membaca buku memancarkan aura yang berbeda, seperti menghalang orang lain untuk berbicara padanya. Nada bicaranya yang dingin juga akan membuat orang untuk berpikir dua kali untuk mengajaknya berbicara. Tatapan matanya juga sangat berbeda dari kebanyakan gadis pada umumnya, begitu dingin. Aku merinding saat dia berbicara dan menatapku dengan nada bicara dan tatapan yang dingin itu.



Kalau kubandingkan antara Mizuno-san dengan Shiraishi-san, maka Shiraishi-san lah yang paling menakutkan bagiku. Hanya melihat tatapan matanya yang dingin saja sudah membuatku takut. Padahal dia gadis yang cantik. Sangat disayangkan.



Semoga orang yang dapat mengubahnya muncul di suatu saat nanti.



Siapa saja punya peluang itu. Namun, peluang terbesar ada padaku yang berada satu klub dengannya.



Shiga, aku akan berusaha semampuku untuk menjadi temannya Shiraishi-san. Kumohon, doakan aku agar bisa menjadi temannya.