
1
Entah kenapa hari ini aku bangun dengan keadaan badan yang kurang segar. Otot-ototku terasa sedikit sakit. Saat melakukan push-up, otot lenganku terasa sakit. Saat menggerakkan kepalaku untuk melihat ke kiri dan ke kanan, leherku menjadi sakit. Ini pasti akibat dari permainan voli kemarin yang membuat otot-otoku menjadi tegang dan akibat salah posisi tidur yang membuat leherku sedikit susah digerakkan dan terasa sakit. Sungguh permulaan pagi yang tidak bagus. Walaupun sebelumnya aku pernah mengalami hal yang serupa saat membaca novel yang sedih itu. Aku sendiri tidak ingin mengingat judulnya lagi.
Seperti biasa, sesudah membuat dan makan sarapan pagi ini, aku langsung berangkat ke sekolah, SMA Akademi Keiyou. Tentu saja dengan berjalan kaki. Berjalan di trotoar sambil melihat keadaan sekelilingku merupakan hiburan tersendiri saat berangkat ke sekolah.
Sekarang sudah pertengahan Mei yang mana sebentar lagi musim panas akan tiba. Seragam pun berganti menjadi seragam musim panas. Suhu udara sudah naik secara perlahan-lahan. Aku menghadap ke arah datangya cahaya matahari. Hari ini pun terlihat menyilaukan. Cuaca cerah memang indah.
Sekolah sudah terlihat di depan mata. Aku menyeberangi jalan di perempatan, tempat di mana kecelakaan itu terjadi, lalu berjalan ke arah pintu gerbang sekolah bersamaan dengan murid-murid Keiyou lainnya.
Seperti biasa juga, mereka masih memandang rendah diriku sambil berbisik dengan teman mereka. Lakukan sesuka hati kalian saja.
Masuk ke sekolah melalui gerbang besar sambil mengatakan “Selamat pagi” kepada Agitsu-sensei yang berdiri di dekat gerbang. Hari ini pun Agitsu-sensei berada di situ. Sepertinya memang sudah menjadi kebiasaanya berada di dekat gerbang di pagi hari. Pasti Agitsu-sensei mempunyai alasan kenapa selalu berada di situ. Apa karena kecelakaan tahun lalu membuatnya selalu berada di dekat gerbang sebagai pengawas?
“Pagi, Amamiya-kun…”
Suara lembut menggema di telingaku yang sepertinya suara itu berasal dari arah belakangku. Suara yang sudah kukenal.
“Ah, pagi, Namikawa-san…”
Aku berhenti sejenak untuk melaraskan posisiku berjalan dengan Namikawa-san. Ah gawat, aku belum bisa menggerakkan leherku secara leluasa.
Sejak masuk ke sekolah ini, aku cenderung berbicara sedikit formal, berbeda dari murid lainnya. Tapi hari ini kucoba untuk mengubah itu. Aku sudah tidak berbicara terlalu formal dengan Taka sejak ke Meiji Jingu bersamanya. Ini seharusnya bisa menjadi langkah yang baru untukku agar bisa menjadi pribadi yang mudah diajak berbicara. Dengan demikian, aku bisa dengan mudah berteman dengan mereka. Pastilah aneh saat ada murid yang berada di tahun dan kelas yang sama, tapi malah berbicara secara formal. Ah, tunggu sebentar. Aku mengenal seseorang seperti itu walaupun tidak sekelas dengannya.
Karena saat ini aku bertemu dengan Namikawa-san, mungkin ada baiknya langsung kupraktikkan.
“Amamiya-kun, sepertinya kamu agak beda hari ini.”
“Beda di mananya?”
“Kamu terlihat kaku. Seperti robot saat lihat ke arahku.”
“Ah… ini, leherku sakit. Ngga bisa bebas digerakin.”
“Pasti karena salah posisi tidur.”
“Sepertinya sih. Kemarin aku kelelahan, jadi asal tidur.”
“Begitu ya…”
“Lagian nanti juga bisa bebas digerakin lagi.”
“Iya…”
Kami bersamaan masuk ke Gedung Utama dan berpisah saat menuju loker sepatu masing-masing. Setelah memakai uwabaki-ku, kulihat Namikawa-san seperti sedang menunggu seseorang. Mungkinkah Kayano-san? Saat aku berjalan di depannya untuk menuju arah tangga, dia langsung mengikutiku. Jadi, ternyata dia menungguku.
“Kukira kamu menunggu orang lain, Namikawa-san.”
“Tentu saja tidak. Aku kan dari tadi bersamamu, Amamiya-kun.”
“Ah, benar juga.”
“Ngomong-ngomong, gaya bicaramu udah berubah, ya, Amamiya-kun.”
“Ah, ini… Iya. Apa aneh?”
“Ah, tentu aja ngga. Kenapa tiba-tiba berubah?”
“Kupikir kalau kuubah gaya bicaraku yang sebelumnya agak formal, aku bisa jadi orang yang mudah diajak bicara, dan bisa dapat teman lagi.”
“Begitu ya… Malah rasanya lebih nyaman bicara denganmu seperti itu. Rasanya ngga seperti bicara dengan orang asing. Ya mungkin, pada awalnya sedikit sulit. Tapi, aku suka gaya bicaramu yang sekarang, Amamiya-kun.”
“Ah, um, makasih, Namikawa-san.”
“Iya…” Namikawa-san tiba-tiba tersenyum. Senyumannya sangat manis.
“Kalau gitu, sampai jumpa lagi.”
“Sampai jumpa.”
Setiba di lantai dua, kami berpisah menuju arah kelas masing-masing.
Ada sesuatu yang membuatku penasaran. Murid-murid yang berada di halaman depan sekolah dan di lantai satu tadi, semuanya melihat ke arah Namikawa-san. Ada juga yang berbisik. Pandangan mereka ke Namikawa-san berbeda. Bukan pandangan untuk merendahkan seperti yang mereka lakukan kepadaku, tapi ini lebih seperi pandangan yang mengagumi dirinya. Bisa kubilang hampir mirip dengan padangan mereka ke Fuyukawa-san.
Taka pernah bilang kepadaku kalau aku hebat bisa berteman dengan Namikawa-san. Siapa sebenarnya Namikawa-san ini?
Memasuki kelas dari pintu yang biasa sambil mengatakan “Selamat pagi” yang kemudian dibalas dari teman sekelasku yang sudah berada duluan di kelas. Setelah memberikan senyuman, aku menuju tempat dudukku, meletakkan tas pada gantungan tas di meja, dan mulai memegang leherku.
Leher kaku seperti ini rasanya sangat tidak mengenakkan sekali. Kalau kupaksakan menggerakkannya ke arah kiri dan kanan, bisa saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, aku menggerakkannya sedikit-sedikit sambil kupijat.
Suasana kelas ini di pagi hari tidak terlalu ramai seperti di waktu istirahat makan siang. Kalau ditanya lebih suka yang mana antara suasana kelas yang ramai atau yang tidak terlalu ramai, maka akan kujawab dengan suasana kelas yang tidak terlalu ramai. Bukannya aku membenci suasana kelas yang ramai, hanya saja aku belum terbiasa dengan itu.
Saat kulihat ke arah luar jendela, hari ini pun anggota klub olahraga melakukan latihan pagi dengan serius. Mau bagaimana lagi, ujian tengah semester telah usai dan sebentar lagi akan ada turnamen. Fuyukawa-san pasti berlatih dengan serius. Tidak hanya Fuyukawa-san tapi juga Mizuno-san, Seto-san, Shimizu-san, dan Nazuka-san.
“Pagi!”
Suara itu terdengar dari arah pintu. Itu suara Fuyukawa-san.
Saat kulihat ke arah pintu, Mizuno-san, Seto-san, Shimizu-san, dan Nazuka-san, mereka memasuki kelas dengan sedikit berkeringat di wajah mereka. Baru saja dibicarakan dan mereka langsung saja muncul. Mereka memang baru saja melakukan latihan pagi, tapi mereka sama sekali tidak terlihat lelah. Malahan aku yang terlihat kelelahan.
“Pagi, Amamiya-kun.”
“Ah, pagi, Fuyukawa-san.”
“Are, kayaknya kamu ngga enak badan, ya?”
“Ah, sedikit. Rasa capek kemarin masih terasa sampai hari ini.”
“Ngga ke UKS aja?”
“Ngga apa-apa.”
“Hm…”
“Kenapa, Fuyukawa-san?”
“Ah, ngga. Rasanya gaya bicaramu udah berubah aja.”
“Ah, um, aku ingin jadi orang yang mudah diajak bicara.”
“Gitu ya… bagus. Aku suka gaya bicaramu yang sekarang sih…”
“Makasih. Tadi Namikawa-san juga bilang sepertu itu.”
“Oh… Begitu ya…”
“Um.”
Tepat diakhir perkataanku tadi, bel berbunyi.
Dengan keadaan yang sedikit kelelahan seperti ini, hari-hariku di sekolah akan dimulai kembali. Ini merupakan kewajiban seorang pelajar, yaitu belajar di sekolah.
Ayo fokus untuk belajar. Jangan biarkan tubuh yang lelah ini mengganggu pikiranku.
2
Di sekolah ini, SMA Akademi Keiyou, terdapat mata pelajaran yang harus bergabung dengan kelas lain yaitu olahraga, juga pelajaran pilihan. Pelajaran pilihan sendiri untuk murid kelas dua dapat memilih dua pelajaran. Aku memilih Seni Musik II dan Matematika B.
Sekarang jam pelajaran ketiga yaitu pelajaran pilihan Matematika B di Gedung Khusus lantai satu. Di dalam ruangan ini terdapat murid yang berasal dari kelas-kelas lain tentunya. Di ruangan ini banyak murid dari kelas 2-A, kelas yang berisi murid-murid pintar. Sedikit menarik perhatianku saat melihat Shiraishi-san berada di ruangan ini. Aku sama sekali tidak sadar. Mungkin karena aku selalu duduk di paling belakang di dekat pintu keluar, sedangkan dia selalu duduk di paling depan dekat jendela luar.
Di pelajaran pilihan ini aku belum pernah berbicara sepatah kata pun. Guru yang mengajar juga tidak melakukan absen, hanya sekali saat pertama kali saja. Dia sangat percaya dengan murid-muridnya, pasti.
Saat hasil ujian tengah semester diumumkan beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan perhatian lebih di ruangan ini sekarang, jika kubandingkan dengan sebelumnya, saat baru saja pindah ke sini. Awalnya mereka tidak terlalu memperhatikanku, khususnya murid-murid dari kelas 2-A. Mereka sama sekali tidak tertarik karena itu tindakan yang tidak perlu, yang tidak menghasilkan keuntungan. Sedangkan selain murid dari kelas 2-A selalu memandangiku dengan tatapan menusuk dan merendahkan.
Hasil ujian itu telah mengubah cara pandang mereka terhadapku, tidak hanya bagi murid kelas 2-A, tapi juga mereka dari kelas lain.
Jam pelajaran pilihan berakhir sampai di jam pelajaran keempat. Sekarang sudah memasuk waktu istirahat makan siang. Untuk pertama kalinya aku tidak langsung keluar dari ruangan hari ini. Seorang murid yang duduk di sebelahku menanyakan beberapa bagian yang tidak dia mengerti padaku saat pelajaran berakhir. Dengan senang hati aku membantunya dengan menjelaskan bagian itu agar bisa dipahami. Tidak memakan waktu terlalu lama, hanya lima menit saja. Dia mengatakan terima kasih, lalu keluar dari ruangan. Aku tidak tahu nama dan dari kelas berapa. Yang kuketahui hanya dia seorang gadis yang terlihat manis. Menjelaskan kepadanya tadi benar-benar membutuhkan keberanian lebih. Rasa gugup jika di dekat seorang gadis harus bisa dibuang. Aku harus lebih terbiasa.
Saat keluar dari ruangan ini dan berniat kembali ke kelasku, di lorong Gedung Khusus ini terdengar suara seorang gadis yang memanggil namaku, “Amamiya Ryuki-san.” Seperti itu.
Kulihat ke arah kiriku, muncul lagi seorang murid perempuan. Dia berdiri di depan ruangan ini seolah dia mengetahui kalau aku berada di sini. Seorang gadis dengan tinggi badan sekitar 160 cm, rambutnya ponytail berwarna coklat, kulitnya putih, matanya berwarna coklat, dan memakai kacamata dengan frame berwarna biru.
Sepertinya gadis ini tidak mengambil pelajaran Matematika B karena seandainya dia mengambilnya dia pasti berbicara dengaku langsung di dalam ruangan saat pelajaran berakhir tadi.
“Iya, ada perlu denganku?”
“Ngga ada. Aku hanya ingin menyapamu.”
“Begitu ya. Etto…”
“Ah, maaf. Namaku Iwase Ayumi dari kelas 2-A.”
Iwase-san menjulurkan tangan kanannya ke arahku. Sepertinya dia ingin berjabat tangan. Tanpa pikir panjang, aku pun menjabat tangannya. Lalu melepasnya. Pertama kalinya aku berjabat tangan dengan seorang gadis SMA. Ini sebuah kemajuan.
“Di ujian akhir semester nanti, aku ngga akan kalah darimu, Amamiya-san.”
“Eh?”
“Sebelumnya, peringkatku selalu berada di bawah peringkatnya Shiraishi-san. Aku udah angap dia sebagai rival. Tapi, saat kamu pindah ke sekolah ini, peringkat dua udah kamu rebut dariku dengan mudahnya. Jadi... jadilah rivalku.”
“Jadi, kamu cuma mau bilang itu?”
“Iya. Aku kesal saat lihat peringkatku di bawahmu. Kenapa peringkatku bisa di bawah seorang murid pindahan.”
“Kamu peringkat tiga, ya?”
“Iya.”
“Oh…”
“Karena itulah, jadilah rivalku untuk ujian akhir semester nanti.”
“Ah, um, aku ngga keberatan.”
“Eh, beneran?”
“Iya, lagian ini pertama kalinya ada orang yang menganggapku rivalnya. Rasanya, aku sedikit senang.”
“Begitu ya… Makasih.”
“Um, ya. Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu.”
“Ah, iya. Sampai jumpa.”
Setelah berbicara dengan Iwase-san, aku langsung kembali ke kelasku untuk meletakkan buku. Setelah itu, saatnya makan siang di kantin.
Belajar Matematika saat tubuh masih kelelahan karena hari kemarin benar-benar hal yang berat. Aku perlu mengonsumsi makanan yang mengandung jumlah kalori yang banyak untuk bisa menopang tubuhku hari ini. Nasi daging barbeku pilihan yang cocok. Daging memang sangat cocok dimakan saat tubuh sedang kelelahan.
Hari ini aku makan siang di kantin sendirian. Ada yang bilang kalau makan bersama teman bisa membuat makanan yang kita makan terasa lebih enak. Itu memang benar. Tapi, kalau aku makan siang dengan kelompok yang semuanya perempuan, mungkin aku tidak bisa menikmati makanan yang kumakan karena gugup. Bukannya aku tidak mau makan bersama kelompok yang semuanya murid perempuan, tapi untuk saat ini aku ingin memulihkan keadaanku dulu. Memang berada di kelompok seperti itu membuatku gugup dan canggung. Tapi itu harus kubiasakan agar rasa gugup dan canggung itu bisa hilang.
Saat makan siang di kantin sendirian, aku memilih meja yang terletak di bagian belakang. Tempat seperti ini sangat nyaman untuk orang yang ingin makan sendirian.
Seperti biasa, menu makan siang di kantin ini sungguh enak. Mendapatkan silver pin sebagai perwakilan kelas tidaklah buruk. Walaupun aku tidak terlalu banyak melakukan tugas perwakilan kelas karena kebanyakan Fuyukawa-san lah yang melakukannya. Karena hubunganku dengan kelas sudah baik, walaupun belum 100%, aku ingin membantu Fuyukawa-san lebih banyak lagi. Dia pasti kelelahan karena melakukan tugas-tugas seperti itu, ditambah lagi dia juga anggota klub bola basket putri.
Selesai makan siang, aku langsung kembali ke kelas untuk beristirahat sebentar. Dari tadi saat pelajaran pilihan, leherku sudah tidak kaku lagi. Sekarang hanya sedikit pegal. Yang parah sekarang di bagian lengan dan kaki.
Saat bermain bola voli kemarin aku sama sekali tidak menahan diri. Aku mengeluarkan semua tenaga dan kemampuanku. Karena sudah lama tidak olahraga, tubuhku tidak sanggup mengimbanginya sehingga membuat otot-ototku tegang. Aku memang harus belajar menahan diri.
Saat terasa lelah, menyendiri merupakan pilihan yang sangat bagus. Berinteraksi dengan orang-orang bisa membuatmu semakin lelah. Ini dari pengalamanku sendiri.
3
Jam pelajaran terakhir telah selesai. Sekolah hari ini pun berakhir.
Dengan langkah yang semakin berat aku menaiki tangga menuju Ruang Klub Bantuan yang terletak di ujung lantai tiga Gedung Khusus. Mungkin Shiraishi-san sudah berada di ruang klub duluan seperti biasanya.
Aku tiba di depan ruang klub. Saat kugeser pintunya, tidak terbuka. Ternyata masih terkunci yang berarti Shiraishi belum datang ke ruang klub. Apa aku datang terlalu cepat, ya…
Karena pintu ruang klub yang tidak terbuka, kuputuskan untuk melihat-lihat beberapa ruangan yang ada di lantai tiga ini. Beberapa ruangan digunakan sebagai ruang klub. Aku menjadi sedikit penasaran dengan klub apa yang ada di lantai ini.
Ada Klub Sastra, Klub Kaligrafi, Klub Astrologi, dan Klub Koran Sekolah di lantai tiga Gedung Khusus ini. Bisa dikatakan kalau Klub Bantuan merupakan tetangga mereka yang baru.
Tidak lama kemudian, Shiraishi-san datang sambil membawa suatu kotak dengan menggunakan kedua tangannya.
Aku menghampiri dirinya karena penasaran.
“Halo Shiraishi-san. Apa itu?”
“Peralatan teh.”
“Sudah kamu beli, ya… Sini biar kubawa saja.”
“Makasih.”
Aku pun mengambil kotak itu dan membawanya ke ruang klub. Shiraishi-san membuka kunci pintu dan kami pun masuk ke ruang klub ini.
Shiraishi-san mengambil satu meja untuk menjadikannya tempat untuk peralatan teh ini, setelah itu kubuka kotak ini.
Di dalamnya ada teko kaca untuk menyeduh teh dan dua cangkir. Kupindahkan ke meja yang diambil oleh Shiraishi-san tadi. Ruangan ini menjadi sedikit keren karena ada peralatan teh ini. Selanjutnya, kalau mau menyeduh the maka memerlukan air panas. Apa harus ke Ruang Staf Pengajar untuk meminta air panas? Aku pun mulai memikirkannya.
Shiraishi-san dari tadi hanya diam saja. Aku yang bingung sekarang seperti menjadi tontonan bagi dirinya. Dia berjalan ke meja peralatan teh ini sambil membawa termos dan daun teh. Ukuran termosnya sangat pas untuk mengisi air ke dalam teko ini. Dia memasukkan daun teh ke dalam teko, lalu menuangkan air panas dari termosnya itu. Proses menyeduh pun dimulai.
“Biar aku yang melakukannya.”
“Ah, um, makasih.”
“…”
Shiraishi-san sedikit terkejut saat aku mengatakan itu. Ah, benar juga. Hari ini gaya bicaraku berbeda daripada biasanya. Bisa dibilang seperti inilah gaya bicaraku yang sesungguhnya. Mungkin karena itulah sedikit kaget yang mana saat aku berbicara dengannya selalu menggunakan bahasa yang terkesan formal.
Aku pun duduk di tempat dudukku dan melemaskan semua otot-ototku. Karena tidak ada hal yang bisa kulakukan sekarang, aku hanya menyaksikan Shiraishi-san mempersiapkan minuman teh.
Dari awal, ruangan ini memang sedikit gelap karena letaknya di bagian timur sehingga membuat cahaya matahari bisa masuk ke dalam ruangan ini karena terhalang gedung.
Cahaya yang sedikit ini masuk dengan menembus kaca-kaca jendela ini membuat dirinya seperti disorot dengan lampu di pertunjukan.
Semakin lama kulihat ke arahnya, dia seperti menjadi semakin indah untuk dipandang. Memang dia merupakan gadis yang cantik. Tapi rasanya, sangat sulit bagiku untuk memalingkan padanganku dari dirinya. Mungkin seperti yang dikatakan Taka kalau aku sedikit tertarik dengannya.
Ya, pasti itu. Taka benar. Aku memang tertarik dengan Shiraishi-san.
Aku ingin dia menjadi…
Terdengar suara ketukan pintu yang membuatku tiba-tiba terkejut. Apa tadi yang kupikirkan, sekarang sudah lupa.
Aku dan Shiraishi-san bertatapan. Sepertinya dia sepemikiran denganku. Baiklah, aku katakan saja.
“Ya, silakan masuk.”
Pintu digeser dan masuklah dua orang yang kukenal. Mereka adalah Shimizu-san dan Nazuka-san dari klub bola voli putri. Sejujurnya aku terkejut saat tahu kalau itu mereka.
“Silakan masuk, Shimizu-san, Nazuka-san.”
Aku bangun dari kursiku dan mengambil kursi untuk mereka duduki.
“Makasih, Amamiya-kun.”
“Makasih.”
Shimizu-san dan Nazuka-san duduk di depan tempat duduknya Shiraishi-san.
Sepertinya tehnya sudah jadi.
Tapi tunggu dulu. Peralatan teh itu hanya ada dua cangkir, sedangkan sekarang ada empat orang di ruangan ini. Mau diletakkan di mana minuman untuk dua orang ini?
Aku mulai berpikir kembali. Seperti biasa, dengan tangan kana yang memegang daguku.
Shiraishi-san kembali ke tempat letak tasnya dan mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ada beberapa gelas kertas. Bahkan dia sudah menyiapkan itu. Shiraishi-san, kamu luar biasa.
Shiraishi-san menuangkan teh dan memberikannya ke Shimizu-san dan Nazuka-san. Juga dia sendiri telah menuangkan teh ke cangkirnya sendiri.
Tunggu sebentar… punyaku tidak ada. Ya sudah, lagi pula aku juga tidak sedang haus.
“Kamu bisa tuangkan teh ke cangkirmu sendiri.”
“Ah, um, baiklah.”
Jadi dia menyuruhku melakukannya sendiri. Baiklah, baiklah…
“Jadi, ada yang bisa kami bantu?”
“Kami dari Klub Bola Voli Putri mau minta bantuan kalian.”
“Apa ada masalah, Shimizu-san?”
“Hari ini pelatih kami ngga bisa datang, mungkin juga beberapa hari ke depan juga…”
“…Karena itu kami ingin minta bantuan kalian.”
Shimizu-san dan Nazuka-san menjelaskan secara bergantian.
“Bukannya kalian bisa latihan dengan anggota putra?”
“Ah, iya. Seperti yang dikatakan Shiraishi-san. kenapa ngga latihan sama anggota putra aja?”
“Itu ngga bisa.” Nazuka-san menjawabnya dengan cepat.
“Itu ngga bisa, Amamiya-kun. Klub voli putra dilatih dengan pelatih yang keras. Sedangkan kami, pelatih kami seorang wanita yang memang ngga menuntut kami untuk menang.”
“Oh, begitu ya… Hm…”
“Hm…”
Aku mulai memegang daguku untuk bisa berpikir lebih jernih agar bisa membantu mereka berdua. Kira-kira apa yang harus kami lakukan untuk mereka.
“Eh, Izumi.”
“Ya, kenapa, Sumire?”
“Mereka berdua mirip, ya…”
“Ah, iya…”
Apa yang mereka bicarakan, ya…
Ah, jangan pedulikan itu. Teruslah berpikir. Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu mereka latihan.
“Kamu… punya pengalaman di bola voli?”
Shiraishi-san menanyakan sesuatu dengan nada datar yang terkesan dingin itu.
“Tentu saja aku punya.”
“Aku juga.”
Shimizu-san dan Nazuka menjawabnya secara bergantian.
Tentu saja mereka punya pengalaman bola voli karena mereka di klub bola voli. Kenapa juga Shiraishi-san menanykan hal itu pada mereka berdua. Aku sama sekali tidak mengerti.
“Bukan kalian berdua. Aku tahu kalau kalian pasti sudah punya pengalaman di bola voli.”
“Eh, jadi Shiraishi-san, kamu nanya ke Amamiya-kun?”
“Benar.”
“Iya.”
Dan terjadi lagi. Shiraishi-san sama sekali tidak menggunakan namaku. Hanya menggunakan “kamu” setiap kali berbicara denganku. Pasti ada alasannya, tapi aku tidak berani menanyakannya.
“Amamiya-kun pernah ikut turnamen bola voli saat SMP.” Shimizu-san menjawabnya untuk Shiraishi-san.
“Benarkah itu?”
“…Um, benar.”
“Karena itulah kemarin kamu…”
“Eh, kenapa?”
“Tidak ada. Murid laki-laki di kelas 2-D ada berapa orang yang jago bola voli?”
“Kalau menurutku sih cuma Amamiya-kun aja.”
“Ya, aku setuju. Amamiya-kun bisa jump-serve lho, Shiraishi-san. Kemarin saat kelas kami bermain dengan kelas 2-C, Amamiya-kun keren banget lho…”
“Kamu berlebihan, Nazuka-san.”
“Memang keren lho…ya kan, Sumire?”
“Um… kamu terlihat keren lho, Amamiya-kun.”
“Hm…” Shiraishi-san hanya bergumam sedikit sambil berpikir.
“Kita ngga bicara tentang permainan kemarin, tapi sekarang tentang klub kalian.” Aku menyeret kembali ke topik awal.
“Ah, iya…”
“Jadi, bagaimana?”
Nazuka-san dan Shimizu-san mulai meminum teh mereka.
“Bagaimana kalau kami yang membantu klub kalian latihan?”
“Maksudmu, Shiraishi-san dan Amamiya-kun bantu kami latihan?”
“Iya, seperti itu.”
“Menurutku, itu cara yang bagus.”
“Aku juga pikir begitu, Izumi.”
Nazuka-san dan Shimizu-san setuju dengan apa yang dikatakan Shiraishi-san.
“Apa kalian ngga keberatan kalau kami yang bantu kalian latihan?”
“Pasti ngga ada yang keberatan.”
“Iya, pasti.”
Shimizu-san dan Nazuka-san menjawabnya sangat percaya diri dengan senyuman di wajah mereka.
Aku sedikit penasaran, sebenarnya kapten klub bola voli putri siapa. Seharusnya yang meminta bantuan dari kami adalah kapten mereka.
“Aku dari tadi penasaran, sebenarnya siapa sih kapten klub voli putri?”
“Tentu saja Izumi kaptennya.”
“Oh, jadi Nazuka-san kaptennya, ya… Kukira Shimizu-san kaptennya.”
“Sumire wakil kaptennya.”
“Oh… baiklah.”
“Oh iya sebelumnya kalian mengatakan kalau pelatih kalian akan ngga bisa hadir beberapa hari ke depan. Kira-kira berapa hari?”
“Hm… berapa hari kira-kira, Izumi?”
“Kira-kira dua atau tiga hari.”
“Sekarang sudah hari Selasa, berarti kami akan membantu kalian sampai Rabu atau Kamis.”
“Iya. Tolong bantuannya, Shiraishi-san dan Amamiya-kun.”
“Um… Oh iya, Shiraishi-san, jangan lupa tulis log book-nya.”
“Iya, aku mengerti.”
Shiraishi-san mulai menulis di log book seperti yang dikatakan Hiratsuka-sensei, pembina klub ini. Selagi dia mengisi log book itu, Aku beranjak dari tempat dudukku ke meja tempat peralatan teh diletakkan untuk mengambil teh. Teko kaca yang berisi teh, cangkir, dan gelas kertas.
Shiraishi-san, Shimizu-san, dan Nazuka-san sudah meminum habis teh mereka. Hanya aku yang belum meminum teh itu. Tiba-tiba aku menjadi haus karena dari tadi terus berbicara. Rasanya badanku menjadi sedikit lebih lelah. Ini gawat.
Kutuangkan teh ke dalam gelas kertas ini. Setelah itu aku menuju ke tempat Shiraishi-san untuk melihat log book yang sedang ditulisnya. Saat kuhirup aroma teh ini, aromanya sangat berbeda jika dibandingkan dengan teh-teh yang pernah kuhirup. Saat kuminum tehnya, rasanya sangat enak. Tubuhku yang tadi kelelahan sekarang sudah sedikit membaik. Pasti ini teh herbal premium yang dibawa olehnya.
“Enak…”
“Baguslah kalau kamu suka.”
Aku melihat ke arah log book dan membacanya. Permasalahan: pelatih bola voli putri tidak hadir. Jenis bantuan yang diberikan: anggota klub bantuan menjadi pelatih sementara.
Hm, sepertinya sudah pas. Saatnya langsung membantu mereka. Sebelum itu, kuhabiskan dulu teh ini.
“Jadi, kapan bisa kita mulai, Nazuka-san?”
“Sekarang. Kami tunggu di Gedung Olahraga.”
“Um, baiklah.”
Nazuka-san dan Shimizu-san keluar dari ruangan ini menuju Gedung Olahraga.
Aku dan Shiraishi-san bersiap-siap juga untuk keluar. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal. Aku tidak membawa pakaian olahraga hari ini. Kalau sepatu, sudah kusimpan di loker sepatu setelah pelajaran olahraga pertama kali.
Hm… apa boleh buat. Pakai seragam sekolah ini saja langsung tidak masalah sepertinya. Hanya perlu meletakkan blazer ini di kelas. Setelah itu langsung ke Gedung Olahraga. Lagi pula hanya melatih. Bukan berarti aku ikut bermain langsung. Um, ya, tidak apa-apa.
4
Aku tiba di Gedung Olahraga yang besar ini. Suasana di tempat ini sungguh ramai. Anggota klub olahraga sedang latihan di sini. Aku melihat Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Seto-san yang sedang melakukan lay-up bersama anggota klub bola basket putri dan juga putra.
Rasanya aku menjadi tidak enak karena memakai seragam sekolah di sini yang mana semua orang di tempat ini memakai pakaian olahraganya.
Aku melihat ke kiri dan ke kanan, sepertinya Shiraishi-san belum sampai. Kulangkahkan kakiku menuju lapangan bola voli tempat anggota klub bola voli putri. Seperti yang dikatakan tadi, klub bola voli putra latihannya sangat intens. Itu menu latihan yang diperlukan untuk bersaing di level nasional.
“Amamiya-kun, di sini.”
Shimizu-san memanggilku dengan suara yang keras sehingga mudah untukku mengetahui letak dirinya.
“Kamu ngga ganti pakaian, Amamiya-kun?”
“Aku ngga bawa pakaian olahraga.”
“Apa boleh buat. Ayo kita mulai. Izumi udah tunggu, tuh.”
“Ngga tunggu Shiraishi-san dulu?”
“Oh iya. Shiraishi-san mana?”
“Kayaknya sedang ganti pakaian.”
“Um, baiklah…”
“Selagi nungguin Shiraishi-san, lakukan pemanasan terus.”
“Oke…”
Shimizu-san berlari ke arah Nazuka-san dan seluruh anggota klub bola voli putri mulai melakukan pemanasan.
Suara teriakan yang menggema ke seluruh gedung ini membuatku bernostalgia. Aku juga pernah melakukan latihan saat SMP dulu. Waktu itu sangat menyenangkan.
Saat melihat-lihat ke sekelilingku, mataku bertemu dengan mata Fuyukawa-san. Fuyukawa-san sedikit kaget melihatku berada di tempat seperti ini.
Dari pintu masuk, kulihat Shiraishi-san masuk dengan pakaian olahraga. Berarti benar kalau tadi dia sedang mengganti pakaiannya. Dia melihat-lihat ke arah sekitar. Saat matanya bertemu dengan mataku, dia langsung menuju ke tempatku.
“Maaf aku telat.”
“Ah, ngga apa-apa. Lagian mereka baru aja mulai.”
“Jadi, latihan seperti apa yang akan kamu berikan kepada mereka?”
Oh iya, aku belum sempat memikirkan latihan apa yang akan kuberikan kepada mereka. Kalau kuandalkan pengalamanku untuk melatih mereka, sepertinya cukup untuk mengisi kekosongan ini.
“Mungkin, latihan receive, spike, dan block.”
“Begitu ya…”
“Shiraishi-san bisa olahraga voli?”
“Aku mengerti tentang olahraga voli, tapi aku tidak mahir dalam olahraga.”
“Oh begitu…”
“Amamiya-kun… kami udah selesai pemanasan.” Nazuka-san memanggilku.
“Kalau begitu, aku ke sana dulu.”
“Ya.”
Seperti biasa, Shiraishi-san menjawabnya dengan nada suara yang agak dingin kepadaku. Sebenarnya tidak hanya kepadaku, tapi juga kepada Mizuno-san, Seto-san, Shimizu-san, dan Nazuka-san, bahkan ke Hiratsuka-sensei juga.
Aku masuk ke dalam lapangan bola voli. Rasanya berat. Tantangannya berat karena mereka semua murid perempuan. Aku menjadi gugup dan canggung.
“Amamiya-kun?”
“Ah, i-iya. Etto, berapa jumlah anggota klub voli putri?”
“Semuanya ada 14 orang
Gawat. Aku harusnya sudah mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini. Ah, mungkin karena mereka bukan berasal dari yang sama denganku. Aku bisa dengan santai berbicara dengan Shimizu-san dan Nazuka-san, tapi karena ada orang yang tidak kukenal, itulah yang membuatku menjadi gugup.
Tenanglah… Ini juga bisa menjadi kesempatan bagus untuk membiasakan diri dengan situasi seperti ini.
“Pastinya latihannya ngga jauh beda. Hari ini kita latihan receive, spike, dan block. Pertama kita mulai dengan latihan receive. Manajer klub volinya ada?”
“Ada. Itu yang berada di luar lapangan. Namanya Taniguchi Hitoka.”
Sepertinya ahli bicara klub bola voli putri ini berada di Shimizu-san.
“Baiklah. Ayo kita mulai.”
“Hitoka… latihan akan dimulai.” Nazuka-san memanggil Taniguchi-san.
“Ah, iya.” Taniguchi-san berlari menuju lapangan.
Para pemain mulai berbaris.
Manajer, Taniguchi-san, berdiri di dekatku untuk memberikan bola kepadaku. Tanpa kusadari, Shiraishi-san juga berdiri di samping Taniguchi-san.
“Kamu Amamiya Ryuki-kun, kan?”
“Ah, iya.” Aku kaget kalau Taniguchi-san tahu namaku.
“Permainan volimu kemarin sangat bagus.”
“Eh? Kemarin?”
“Ah, maaf. Aku Taniguchi Hitoka dari kelas 2-C.”
Pantas saja Taniguchi-san berani mengatakan kalau permainan voliku bagus, ternyata dia di kelas 2-C yang saat itu bermain dengan kelas kami, 2-D.
“Ayo mulai latihannya. Jangan buang waktu lagi.”
Suara dengan nada dingin terdengar dari arah samping Taniguchi-san. Walaupun ini di Gedung Olahraga yang penuh dengan suara teriakan, suara Shiraishi-san terdengar sangat jelas.
“Ah, baiklah. Ayo mulai, Amamiya-kun.”
“Baiklah.”
Aku naik ke tangga yang dibutuhkan untuk bisa membuatku berdiri melewati net, sehingga aku bisa dengan mudah memukul bola ke arah pemain voli ini untuk melakukan receive.
Satu per satu pemain masuk ke lapangan. Aku memukul bola ke arah pemain itu, lalu pemain itu melakukan receive terhadap bola pukulanku. Beberapa kali kuberi penjelasan untuk melakukan receive yang baik dan benar kepada pemain yang buruk dalam receive. Beberapa pemain yang buruk dalam receive berasal dari kelas 1. Mungkin masih pemula. Mereka masih bisa berkembang.
Kehadiranku di lapangan voli putri ini membuat orang-orang lain yang berada di sini melihat ke arahku. Memang sangat aneh melihat seorang murid laki-laki berada di lapangan voli perempuan sambil melatih para anggota klub bola voli putri ini. Bahkan pelatih bola voli putra melihat ke arahku.
Setelah melakukan latihan receive, kupindahkan tangga ini ke luar lapangan, dan saatnya lanjut ke latihan selanjutnya.
“Selanjutnya kita lakukan latihan spike. Setter siap di posisinya, dan pemain lainnya mulailah berbaris.”
Tinggi net bola voli putri lebih pendek daripada net bola voli putra. Dengan tinggi anggota klub bola voli putri yang terbilang berada di angkat 160 cm, pasti akan ada beberapa orang yang kesulitan dalam melakukan spike. Tapi, tidak masalah. Mereka masih bisa berkembang. Mungkin ada baiknya aku menjelaskan sedikit kepada anggotanya.
“Mungkin ada beberapa di antara kalian yang masih kesulitan meng-spike bola. Jadi, ada baiknya kalau aku coba beri contoh, terutama kepada yang masih baru. Setter, tolong berikan toss kepadaku.”
Untuk melakukan spike, ada beberapa step harus diketahui. Bagi orang yang sudah berpengalaman, tubuh mereka yang mengingat step-step itu.
Sedikit sulit melakukan spike tanpa pakaian olahraga. Tapi, itu bukanlah masalah. Taniguchi-san melemparkan bola ke arahku, dan aku pun siap untuk melakukan spike.
Step pertama yaitu membangun momentum dengan lengan maju ke depan. Step kedua, berakselerasi dengan mengayunkan lengan ke belakang dan telapak tangan terbuka ke atas. Selanjutnya, injak dan tutup untuk mengubah energi dari akselerasi ke depan menjadi energi vertikal. Ayunkan lengan ke atas dengan lompatan untuk meningkatkan energi vertikal. Lengan untuk memukul bola dalam posisi siap dan lengan yang berlawanan mencapai titik tertinggi. Gunakan otot inti dan rotasi bahu untuk mentrasnfer daya ke pukulan, lalu ayunkan melewati bola.
Bola yang dilambungkan oleh setter sangat tinggi dan sangat bagus arahnya bolanya. Aku berlari, melompat, dan kupukul bola itu. Uwaaa, rasanya sangat nikmat. Suara bola yang kupukul tadi lumayan keras sehingga membuat orang-orang penasaran.
“Baiklah, kira-kira begitu. Ayo semangat.”
“Ya, Pelatih.”
“Eh? Jangan sebut Pelatih, dong.”
“Kamu kan pelatih kami sekarang.”
“Iya, tapi kan ngga enak juga. Panggil nama aja, Nazuka-san.”
“Baiklah, Pelatih Amamiya.”
Mereka sekarang menambahkan namaku. Padahal sudah kubilang nama saja. Mereka membuatku gugup karena mamanggilku seperti itu. Beberapa pemain voli putri mulai tersenyum. Mungkin karena melihat tingkahku yang mulai gugup.
Latihan dilanjutkan. Mereka mulai melakukan spike, satu per satu pemain. Seperti yang kuduga, memang ada yang masih kesulitan. Setidaknya mereka sudah dapat dasarnya. Hanya perlu latihan lagi.
Setelah spike, sekarang lanjut ke latihan block. Untuk latihan ini, aku meminta dua pemain yang berposisi sebagai middle blocker untuk melakukan block terhadap spike dariku. Mereka tidak keberatan, malahan mereka semakin bersemangat.
Di latihan block ini, dua orang terus bergantian untuk menahan spike dariku. Rasanya aku semakin menikmati dalam membantu mereka latihan. Aku terus-terusan melakukan spike dan mereka terus-terusan untuk mencoba mem-block bola pukulanku. Pemain yang bertubuh pendek juga mencoba untuk melakukan block. Aku salut melihat kegigihan mereka dalam latihan.
Pada akhirnya, latihan block selesai. Kuakhiri dengan menyuruh mereka beristirahat sebentar dan setelah itu dilanjutkan dengan satu set pertandingan enam lawan enam. Tentu saja, aku yang akan menjadi wasitnya.
Para pemain bola voli putri mulai kembali ke dalam lapangan dan membagi menjadi dua tim yang akan bertanding satu sama lain. Walaupun ini bisa dikatakan dengan mini game saat latihan, aku ingin mereka bermain dengan serius. Tapi, aku bukan siapa-siapa yang bisa menyuruh mereka seperti itu.
Saat aku hendak memulai pertandingan dengan meniup peluit yang diberikan Taniguchi-san, tiba-tiba Nazuka-san memanggilku.
“Amamiya-kun, kamu dipanggil oleh pelatih voli putra.”
“Eh?” Aku sedikit terkejut.
“Pergi aja, Amamiya-kun. Biar aku yang jadi wasit. Lagian juga ada Shiraishi-san.”
“Baiklah. Tolong, Taniguchi-san, Shiraishi-san.”
Aku pergi ke arah lapangan bola voli tempat para pemain putranya latihan. Pelatih voli putra itu menghampiri diriku saat dia lihat aku berjalan ke arah lapangan mereka.
“Maaf, anda memanggil saya?”
“Ah, iya, maaf. Ada yang ingin kutanyakan. Kamu ingin masuk klub voli?”
“Kalau saya bilang tidak ingin masuk, mungkin itu sebuah kebohongan. Tapi…”
“Tapi?”
“Saya sudah masuk klub lain.”
“Begitu ya…”
“Iya.”
“Kalau begitu, mau coba bermain bersama anggota klub voli putra ini?”
“Eh, boleh?”
“Semuanya, ayo kita mulai pertandingan satu set. Ada seseorang yang ingin bermain juga.”
Akhirnya aku bermain satu set dengan anggota klub bola voli putra.
Aku bermain tanpa pakaian olahraga yang melekat di tubuhku. Rasanya sedikit sulit untuk bergerak leluasa. Permainan terus berlanjut hingga akhirnya satu set berakhir. Timku menang dengan skor 25-22. Sungguh permainann yang menyenangkan. Tanpa sadar, aku juga bermain dengan seluruh kemampuanku. Hasilnya, sekarang aku menjadi lelah.
Setelah satu set pertandingan voli itu, pelatih klub bola voli putra mengatakan kalau permainanku bagus dan sangat disayangkan kalau aku tidak bergabung dengan klubnya.
Aku ingin, tapi tidak bisa. Dengan memperhitungkan semuanya, masuk ke klub olahraga saat hidup sendiri di kota besar, ditambah lagi sebagai murid penerima beasiswa yang memiliki ketentuan-ketentuan tertentu yang diberikan oleh pihak sekolah, seperti nilai hasil ujian harus di atas 80, maka masuk ke klub olahraga merupakan pilihan yang buruk.
Kembali ke lapangan bola voli putri, mereka sepertinya sudah duluan selesai. Mungkin sekarang sudah hampir pukul enam sore, aku harus pulang.
“Amamiya-kun, Shiraishi-san, makasih atas bantuannya.” Seluruh anggota klub bola voli putri membungkuk ke arahku dan Shiraishi-san.
“Iya, sama-sama.” Aku menjawabnya dengan senyuman. Rasanya sangat menyenangkan saat mendapatkan ucapan terima kasih.
“Sama-sama.”
“Kalian udah boleh pulang, kok. Selanjutnya biar kami yang membersihkan tempat ini.” Taniguchi-san mengatakannya sambil membawa keranjang bola.
“Makasih, Taniguchi-san.”
Aku dan Shiraishi-san meninggalkan Gedung Olahraga ini.
Rasanya hari ini aku melakukan sesuatu yang kurang baik, yaitu bermain bola voli dengan sekuat tenaga yang akhirnya membuatku semakin kelelahan. Aku memang tidak tahu kapan harus menahan diri. Sepertinya, aku memang harus belajar untuk menahan diri.
Ada sedikit hal yang membuatku penasaran. Dari awal, aku memang sudah merasa kelelahan, tapi saat bermain bola voli tadi, rasa lelahnya tidak terlalu terasa oleh tubuhku. Ini sebuah misteri.
Saat ini aku berjalan dengan Shiraishi-san yang dari tadi hanya diam. Dari awal, dia memang seorang pendiam. Mengajaknya bicara mungkin ide yang bagus, tapi aku tidak begitu yakin. Dia sama sekali tidak menggunakan namaku saat aku berbicara dengannya. Apakah dia membenci diriku ini?
“Kamu…”
Tiba-tiba Shiraishi-san membuka mulutnya. Tentu saja bukan sebuah nama.
“Ya?”
“Hari ini gaya bicaramu berbeda dengan hari-hari kemarin.”
“Iya. Teman sekelasku juga bilang seperti itu?”
“Kenapa kamu mengubah gaya bicaramu?”
“Aku ingin jadi orang yang mudah diajak bicara. Kalau bicara formal dengan orang yang sebaya, rasanya seperti menutup diri. Jadi, aku ingin buka diriku ini dan bisa dapat banyak teman.”
“Begitu ya…”
“Um, kira-kira seperti itu.”
Aku ingin bilang kalau Shiraishi-san harus mengubah cara bicaranya yang formal itu. Tapi, kuurungkan niatku itu. Aku bukan siapa-siapanya dia. Kami hanya dua murid yang berada di klub yang sama karena ajakan Hiratsuka-sensei. Aku bisa yakin kalau dia tidak menganggapku sebagai teman. Aku hanya rekannya di Klub Bantuan ini.
Kami berpisah di loker sepatu. Setelah memakai uwabaki, aku langsung menuju kelasku untuk mengambil blazer dan tas milikku. Saatnya pulang ke apartemen.
Hari yang melelahkan ini akhirnya akan segera digantikan dengan hari baru yang akan datang sebagai hari esok. Untuk hari esok, aku harus bisa lebih fit. Karena itulah, malam ini kugunakan waktuku untuk beristirahat. Tidak lupa juga dengan makan yang banyak untuk mengisi energi kembali.