Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 4



Pagi ini aku terbangun dari tidurku tanpa alarm. Sedikit heran kenapa alarm ponselnya tidak terdengar. Kubuka gorden yang mengarah ke arah beranda. Wah, matahari sudah mulai naik.



Apa??? Matahari sudah mulai naik???



Kulihat jam di ponselku yang sudah menunjukkan pukul 7.40 pagi dan juga sepertinya aku tanpa sadar mematikan alarmnya saat masih dalam keadaan setengah tertidur. Wajar saja jika aku melakukan itu karena kemarin sama sekali kurang tidur.



Aku langsung bergegas mengenakan seragam sekolah dan berangkat ke sekolah.



Di perjalanan menuju sekolah, aku mampir ke konbini untuk membeli roti dan susu untuk sarapan. Untuk saat ini aku tidak begitu lapar karena kemarin malam makan sedikit lebih banyak. Jadi, roti dan susu ini kumakan saat waktu istirahat saja.



Aku tiba di sekolah sekitar pukul 8:20 pagi. Untung saja tidak telat. Terlihat banyak murid Keiyou-kou yang tiba di sekolah di waktu ini. Tetapi, banyak juga murid yang tiba di sekolah lebih pagi. Kalau tidak salah, ada klub olahraga yang melakukan latihan pagi sebelum pelajaran pertama dimulai.



Aku berjalan menuju Gedung Utama. Terdengar suara orang yang berteriak “Oi…” dari arah kananku. Kulihat ke orang itu, seorang murid laki-laki yang berjalan menuju ke arahku. Mungkin saja dia memanggil temannya yang di dekatku karena jam sekarang banyak murid yang baru tiba di sekolah.



Tiba-tiba bahu kananku ditepuk oleh seseorang yang membuatku berhenti dan menoleh ke belakang.



Dia, orang yang tadi berteriak “Oi” tadi, berkata, “Kenapa kau mengabaikanku?”



Aku dibuat bingung oleh perkataannya. Sepertinya dia memang memanggilku dari tadi. Tetapi, aku sama sekali tidak kenal orang ini.



“Kamu memanggilku?”



“Tentu saja. Memangnya siapa lagi?” Dia menurunkan tangannya dari bahuku.



“Bisa saja kamu memanggil orang lain, kan sekarang banyak orang di sini. Dan juga, aku tidak mengenalmu.”



“Oh iya, maaf. Aku Hiroaki Takahiro dari kelas 2-I.”



Saat seseorang memperkenalkan dirinya, sudah pasti kita juga harus memperkenalkan diri kita.



“Amamiya Ryuki dari kelas 2-D. Jadi, ada perlu apa denganku?”



“Ah… ngga, aku cuma ingin menyapamu. Kukira ngga bisa ketemu denganmu lagi sejak kecelakaan yang terjadi tahun lalu itu.” Hiroaki-san mengatakannya sambil tersenyum.



Tunggu sebentar. Kecelakaan? Apa yang dikatakannya? Apa dia berada di tempat itu saat kecelakaan terjadi?



“Apa maksudmu dengan kecelakaan?”



“Aku melihatnya. Kamu menolong seorang gadis yang hampir tertabrak tapi malah kamu yang tertabrak, kan?”



“Shhh, jangan besar-besar, nanti didengar orang.” Aku mengatakannya sambil meletakkan jari telunjuk tangan kananku di depan mulutku. Lalu menambahkan, “Jadi, kamu melihatnya, ya?”



“Um, yeah… Aku senang bisa bertemu denganmu sekarang. Sepertinya kamu sudah pulih dan sehat, ya? Syukurlah...”



“Ah, iya. Terima kasih, Hiroaki-san.”



“Ngga usah formal begitu, kita kan seumuran. Yoroshiku, Ryuki.”



Aku terbiasa memanggil nama seseorang dengan akhiran “san.” Agak sulit bagiku memanggil nama keluarga mereka tanpa akhiran “san” atau “kun,” apa lagi memanggil nama belakangnya langsung.



Berbeda halnya jika seperti ini. Orang yang bernama Hiroaki Takahiro-san ini terlihat seperti orang yang friendly. Dia dengan mudahnya langsung memanggil nama belakangku. Aku bisa merasakan aura yang berbeda dari dirinya. Mungkin, aku bisa berteman baik dengannya nanti.



“Yoroshiku, Hiroaki.”



“Ah, kamu….”



Aku hanya tertawa kecil melihat reaksinya yang terlihat tidak puas itu terpasang di wajahnya karena memanggilnya seperti itu, sedangkan dia telah memanggil namaku, Ryuki. Mungkin, dia mengharapkanku untuk memanggil namanya seperti dia memanggil namaku.



Untuk gaya bicaraku yang sekarang, mungkin menjadi sedikit formal karena tahun lalu aku sangat jarang berbicara. Tentu saja karena tidak punya teman. Walaupun Namikawa-san, Kayano-san dan Hiroaki mengatakan untuk tidak perlu berbicara secara formal dengan mereka, tentu saja akan memerlukan waktu untuk mengubahnya. Semakin sering aku berbicara dengan mereka, pasti gaya bicaraku juga akan berubah secepatnya.



Dari tadi kami tidak berjalan sedikit pun. Terdengar suara seorang guru dari arah belakang kami yang menyuruh kami untuk masuk ke kelas. “Hey kalian, cepat masuk ke kelas sana.” Itu guru yang sering berdiri di pintu gerbang sekolah setiap pagi.



“Ah, gawat. Itu guru olahraga, Agitsu-sensei. Agitsu-sensei sangat disiplin waktu. Ayo kita masuk.”



“Oh begitu. Ayo.”



Aku dan Hiroaki masuk ke Gedung Utama dan berjalan ke arah kelas masing-masing. Murid-murid yang melihat kami berdua penasaran kenapa aku bisa bersama dengan Hiroaki. Bahkan aku sendiri ingin mengetahuinya. Dia bisa saja langsung masuk ke kelas dengan temannya yang ditemui di loker sepatu tadi. Kenapa sengaja menugguku? Aku tidak tahu.



Aku masuk ke kelas 2-D dan langsung duduk di tempatku. Sepertinya aku yang terakhir tiba di kelas. Fuyukawa-san yang duduk di sebelah kananku menyapa, “Pagi, Amamiya-kun.” Hari ini pun Fuyukawa-san terlihat cantik. Aku membalasnya, “Selamat pagi, Fuyukawa-san.”



Tidak lama kemudian, bel tanda masuk sekolah berbunyi dan seorang guru masuk ke kelas.



Jam pelajaran pertama akan dimulai.



Saatnya fokus untuk belajar.







***







Aahh…



Akhirnya jam pelajaran pertama dan kedua sudah selesai.



Sekarang memasuki waktu istirahat.



Waktu istirahat digunakan murid dan guru untuk beristirahat sejenak sebelum pelajaran selanjutnya dimulai. Kugunakan waktu ini untuk mengisi energi agar bisa tetap fokus. Kuambil roti dan susu yang kubeli tadi dari tasku.



Suasana kelas saat ini terkesan ramai karena murid-murid mulai berbicara. Walaupun ada beberapa murid yang mengulang pelajaran yang diberikan tadi. Aku terus memakan rotiku hingga habis dan kemudian meminum susu. Cukup nikmat untuk sarapan pagi, walaupun telat.



Kulihat ke arah Fuyukawa-san yang dari tadi terdengar ramai. Ternyata dia dikelilingi oleh teman-temannya, baik perempuan maupun laki-laki. Seperti yang diharapkan dari murid populer.



Aku tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan karena aku tidak menaruh perhatian lebih ke pebincangan mereka, tetapi aku mendengar sekilas tentang klub bola basket yang akan melakukan latihan tanding melawan tim basket sekolah lain yang diadakan di Gedung Olahraga sekolah ini. Sepertinya turnamen bola basket sudah dekat. Kalau pertandingannya di adakan di Gedung Olahraga sekolah ini, aku bisa pergi menontonnya.



Kualihkan pandanganku ke arah luar jendela.



Cuaca cerah musim semi yang sedikit berawan.



Sudah dua hari hujan terus turun, tetapi hari ini sepertinya tidak ada hujan. Cahaya matahari menyinari kota, tetapi cahayanya terhalang oleh awan. Awan terus bergerak, meninggalkan matahari agar tidak menghalanginya untuk menyinari kota ini.



Tidak lama kemudian bel berbunyi, tanda jam pelajaran ketiga dimulai dan seorang guru masuk ke kelas kami. “Semuanya, duduk kembali di tempat masing-masing.”



Murid-murid kembali ke tempat duduknya dan mulai melihat ke arah guru yang masuk.



“Saya guru Studi Sosial, Ushimaru Shiruma. Saya akan mengajari kalian norma dalam masyarakat tahun ini.”



Ushimaru-sensei terkesan tegas dari suaranya yang keras hingga mencapai seluruh kelas.



“Hmph… Kalian semua terlihat seperti tumbuh dengan dimanja. Sebelum kita belajar norma kemasyarakatan, mungkin saya harus mulai dengan kaidah menjadi manusia yang layak.” Ushimaru-sensei mengatakannya sambil melihat ke seluruh murid di kelas ini. Kemudian, sensei melihat ke arahku.



“Hey, anak baru.”



“Ya, Sensei.” Aku terkejut dan langsung berdiri di tempatku. Setidaknya panggillah namaku, Sensei. Kalau belum tahu namaku, Sensei bisa menanyakannya. Bisa-bisa, aku dipanggil “anak baru” dengan orang lain nantinya.



“Filsuf Yunani, Plato membagi jiwa manusia ke dalam tiga bagian. Jiwa tersusun dari nafsu, semangat, dan apa lagi?” Ushimaru-sensei memberikanku pertanyaan.



“Logika, Sensei.” Aku menjawabnya langsung.



“Benar. Jadi kamu sudah tahu, ya?”



Aku duduk kembali di kursiku. Aku pernah membaca tentang para Filsuf Yunani, seperti Plato dan Socrates karena sebagian besar waktu kuhabiskan di perpustakaan saat kelas satu SMA dulu.



“Gurunya Plato, Socrates, mengatakan bahwa kejahatan lahir dari ketidapedulian. Orang-orang yang pernah dimanja seperti bayi, diajarkan kalau kejahatan disebabkan oleh individualisme, hanya bisa menjadi sampah masyarakat.” Ushimaru-sensei menjelaskannya dengan suara yang lantang.



Terdengar bisikan-bisikan dari murid kelas.



“Wow, si Amamiya bisa menjawabnya dengan benar.”



“Mungkin dia pindah bukan karena ada orang dalam.”



“Mungkin dia benar-benar pintar.”



Aku hanya bisa diam. Lagi pula, terserah mereka mau mengganggapku seperti apa. Itu hak mereka.



Pelajaran dilanjutkan oleh Ushimaru-sensei dengan menyuruh kami membuka buku.



Murid-murid mulai diam dan yang terdengar hanya suara Ushimaru-sensei.







***







Bel tanda jam pelajaran keempat berakhir telah berbunyi.



Sekarang memasuki waktu istirahat makan siang. Ternyata pelajaran sosiologi dengan Ushimaru-sensei tidak terlalu menguras energi.



Murid kelas 2-D mulai meninggalkan kelas untuk pergi makan siang. Jam di saat seperti ini, murid di kelas hanya kurang dari sepuluh orang, termasuk aku dan Fuyukawa-san.



Fuyukawa-san sedang bicara dengan dua teman perempuannya, sedangkan aku kembali melihat ke arah luar jendela lagi. Sekarang pasti masih ramai murid di kantin, lebih baik kutunggu sebentar lagi saja untuk makan siang di sana.



“AMARYU...”



Siapa itu yang tiba-tiba teriak?



Aku menoleh ke arah pintu belakang kelas dan kulihat seorang laki-laki yang kutemui tadi pagi. Namanya Hiroaki Takahiro-san, murid laki-laki dari kelas 2-I, tiba-tiba datang dan masuk ke kelas ini menuju arah tempat dudukku.



Dua orang temannya Fuyukawa-san melihat ke arah Hiroaki sambil mengatakan, “Hei, itu Hiroaki-kun.” Murid perempuan yang lain juga melihat ke arahnya, termasuk Fuyukawa-san juga.



Menurutku, reaksi para gadis di kelasku ini terhadapat kedatangan Hiroaki adalah hal yang wajar. Aku bisa tahu dari saat bertemu dengannya tadi pagi, kalau dia tipe murid yang populer di kalangan murid perempuan. Dia memiliki wajah yang tampan, gayanya juga terlihat keren walaupun dengan seragam sekolah, dan kacamata yang dipakainya menambahkan image dirinya yang membuatnya terlihat seperti murid yang pintar.



Hiroaki menuju ke tempatku dan kemudian duduk di kursi kosong di depanku. Dia menghadap ke arahku dan berbicara langsung denganku. “Amaryu, ayo makan siang di kantin.”



“Hm? Kamu bicara dengan siapa? Tidak ada orang yang bernama Amaryu di kelas ini.”



“Ada kok orangnya. Dia didepanku sekarang.”



“Kamu bicara apa? Namaku Amamiya Ryuki, bukan Amaryu.”



“Amamiya Ryuki kusingkat jadi Amaryu.”



Saat pelajaran Studi Sosial tadi, Ushimaru-sensei memanggilku dengan sebutan “anak baru,” dan sekarang Hiroaki memanggilku dengan “Amaryu.” Apa sulitnya memanggil dengan nama depan seseorang? Yare-yare…



“Oh begitu. Jadi, ada perlu apa, Hirotaka?”



“Hirotaka?” Hiroaki memasang ekspresi penasaran di wajahnya.



“Namamu kan Hiroaki Takahiro, kusingkat jadi Hirotaka.”



“Ahahaha…” Hiroaki mulai tertawa. “Amaryu, kamu jago buat lucu ya? tambahnya.



Hiroaki tertawa hingga mengeluarkan air mata. Kulihat ke arah sekitar kelas, murid yang ada di sini sekarang menutup mulut mereka dengan tangannya. Sepertinya mereka ikut tertawa karena Hiroaki tertawa. Saat kulihat ke arah Fuyukawa-san, wajahnya seperti sedang menahan tawa.



“Apanya yang lucu. Aku hanya mengikutimu. Jadi, ada perlu apa kemari?”



“Kan sudah kubilang, ayo makan di kantin.”



“Oh… Baiklah. Pergi sekarang?”



“Tentu saja.”



Aku dan Hiroaki pergi meninggalkan kelas 2-D menuju kantin. Sesaat aku hendak keluar dari kelas tadi, kulihat wajah Fuyukawa-san seperti ingin bertanya sesuatu kepadaku. Apa perasaanku saja?



Kami tiba di kantin. Seperti biasa, sangat ramai murid yang makan di sini. Kami menuju konter tempat memesan makanan dan minuman. Di sini terdapat mesin penjual minuman jika kamu ingin minuman yang lain. Selagi kami mengantre, Hiroaki yang berada di depanku bertanya sambil melihat ke belakang.



“Amamiya, kamu pesan apa?”



“Aku pesan soba. Minumnya air putih saja. Kalau kamu, Hiroaki?”



“Aku pesan nasi daging barbeku. Oh iya, sebagai hari pertemuan pertama kita, hari ini aku traktir deh.”



“Kenapa jadi seperti itu? Lagian tidak perlu. Aku ada silver pin.” Kutunjukkan dasiku kepada Hiroaki.



“Wooo… jadi, kamu perwakilan kelas 2-D, ya? Keren, Amamiya.”



“Ah, tidak… Aku jadi perwakilan kelas karena Fuyukawa-san menunjukku untuk menjadi rekannya.”



“Oh, jadi Fuyukawa yang jadi perwakilan kelas 2-D dari murid perempuan.”



“Ya. Tiba-tiba saja dia memilihku. Anehnya lagi, wali kelas dan murid lainnya langsung setuju dengan Fuyukawa-san.”



“Seperti yang diharapkan dari murid populer, Fuyukawa Yukina.”



“Ngomong-ngomong, kamu kenal dengan Fuyukawa-san, Hiroaki?”



“Ah, tidak terlalu. Hanya sekelas dengannya tahun lalu.”



“Heee…”



“Ada apa dengan nada dan wajah yang tidak percaya itu?”



“Ah tidak… hanya saja kenapa kamu tidak kenal dekat dengannya. Seharusnya murid populer sepertimu bisa kenal dekat dengan Fuyukawa-san.”



“Kenapa kamu berpikir aku murid populer?”



“Dilihat saja sudah tahu.”



“Ahahaha, pengamatan yang bagus.”



Tibalah giliran kami memesan makanan kami. Menu makanan dan minuman yang kami pesan diletakkan di nampan. Lalu, kami membawa nampan itu untuk mencari meja makan.



Aku mengikuti Hiroaki di belakangnya. Kami menuju ke meja di sudut kantin. Meja yang terdiri dari empat kursi yang kebetulan sudah tidak ada orang lagi. Kami pun meletakkan nampan yang berisi makanan dan minuman, lalu duduk.



Itadakimasu.



Hm… Makanan di kantin sekolah ini sangat enak. Wajar kalau banyak murid yang makan siang di kantin. Setelah makan, kami duduk-duduk sebentar sambil berbicara.



“Hey Amamiya, apa sudah ketemu dengan orang yang kamu tolong dan orang yang menabrakmu?”



“Belum. Kakek dan nenekku tidak memberitahu apa pun kepadaku. Yang kutahu kalau biaya rumah sakit ditanggung oleh yang menabrakku. Mungkin saja, mereka sudah bertemu denganku saat aku masih belum sadar.”



“Kakek dan nenek? Bagaimana dengan orang tua? Apa mereka sudah ketemu?”



Pada akhirnya, Hiroaki juga menanyakan tentang orang tuaku. Memang pada akhirnya hal ini juga akan diketahuinya suatu saat nanti. Selagi dia menanyakannya, lebih baik kuberitahu kebenarannya.



“Kedua orang tuaku telah tiada.”



“Eh? Bercanda kan, Amamiya?”



“Ayahku meninggal saat aku masih dikandungan ibuku, sedangkan ibuku meninggal saat aku berumur tujuh tahun.”



“Maaf, Amamiya. Aku ngga bermaksud mengingatkanmu tentang itu.” Raut wajah Hiroaki menjadi sedikit sedih.



“Ah, um, tidak apa-apa. Lagi pula nanti juga kamu akan tahu. Selagi kamu menanyakannya, lebih baik kuberi tahu sekarang.”



“Maaf… Jadi, kamu belum pernah ketemu langsung, ya?”



“Um, ya. Seperti itulah.”



“Bahkan gadis yang kamu selamatkan itu?”



“Ya. Ngomong-ngomong, kamu ada di sana saat kecelakaan itu kan, Hiroaki? Apa kamu melihat gadis itu?”



“A…ah, tidak. Hari itu kan hujan deras, aku langsung memanggil guru saat kejadian itu terjadi dan guru menyuruhku untuk masuk. Aku yakin gadis itu seangkatan dengan kita juga.”



“Maksudmu, dia sekarang di kelas dua?”



“Iya.”



“Oh...” Aku minum air putih dari gelas yang berada di depanku.



“Kalau waktunya tiba, pasti kamu bisa ketemu dengan orangnya, Amamiya.”



“Iya. Kamu benar, Hiroaki.”



“Hm… Ayo kembali ke kelas kalau begitu. Waktu istirahat makan siang hampir habis.”



“Baiklah…”



Setelah mengembalikan nampan makanan kami tadi, kami berpisah saat tiba di lantai dua, dan kembali ke kelas masing-masing.



Bel berbunyi sebagai tanda jam istirahat berakhir dan jam pelajaran kelima akan dimulai.







***







Bel tanda sekolah telah berakhir berbunyi tepat pada pukul 15:30 sore. Murid-murid mulai meninggalkan kelas ini. Hari yang panjang di sekolah telah berakhir.



Saat ini aku sedang menopang daguku dengan tangan kiri sambil melihat ke arah luar jendela. Langit mulai berwarna kuning dan matahari mulai bergerak ke arah barat. Lapangan yang tidak basah membuat aktivitas klub sepakbola, baseball, dan atletik dalam keadaan baik.



Hari ini hari Rabu, besok hari Kamis. Aku berdiri dari kursiku menuju roster piket yang ditempel di dinding belakang kelas di dekat pintu dan loker kelas. Jadwal piket dari hari senin sampai rabu diisi enam orang, sedangkan hari kamis sampai jumat diisi lima orang. Kulihat nama-nama murid di hari Kamis karena aku piket di hari kamis. Jadi, aku ingin mengetahui siapa saja yang piket di hari yang sama denganku.



“Amamiya, Takagi-san, Nishimura-san, Moriyama-san, dan Yoshikawa-san. Jadi dua laki-laki dan tiga perempuan, ya?” Aku bergumam di depan roster piket ini.



“Amamiya-kun, kamu belum pulang?” Terdengar suara yang memanggil namaku dari arah pintu. Suara itu dari mulut Fuyukawa-san. Dia kembali ke kelas seperti ada yang ketinggalan.



“Iya, aku ada piket. Fuyukawa-san, ada yang ketinggalan?”



“Um.” Fuyukawa-san menuju ke lokernya dan mengambil sesuatu.



“Itu, sepatu?”



“Iya, karena terburu-buru jadi lupa bawa.”



“Oh… semangat latihan basketnya. Sebentar lagi ada latihan tanding, kan?”



“Tahu dari mana, Amamiya-kun?”



“Tadi saat waktu istirahat aku tidak sengaja mendengarnya. Beri tahu kapan tandingnya, ya? Aku akan pergi untuk mendukungmu, Fuyukawa-san.”



“Baiklah. Nanti akan kuberi tahu.”



“Semangat latihannya.”



“Makasih, Amamiya-kun.”



Fuyukawa-san keluar dari kelas membawa sepatunya sambil tersenyum gembira. Aku tidak tahu apakah karena perkataanku tadi yang membuatnya senang atau karena ada hal lain yang terjadi. Tetapi dengan keadaannya yang seperti itu, pasti latihannya akan membawa kemajuan untuk dirinya.



Baiklah, ayo piket.



Sekarang hanya ada aku di kelas ini. Sedangkan seharusnya ada orang lain di sini untuk membantuku membersihkan kelas. Apa mungkin mereka lupa? atau ada kegiatan klub? atau mereka berniat melakukannya besok pagi? Aku sedikit susah pergi ke sekolah pagi-pagi karena tinggal sendirian. Lebih baik, kulakukan sendiri saja terlebih dahulu.



Kuambil peralatan bersih-bersih dari lemari di belakang kelas dan mulai membersihkan kelas. Kusapu dengan sapu seluruh bagian kelas, dari depan hingga belakang. Aku bisa menyapu dengan cepat karena tidak ada orang lain di kelas ini. Debu yang terkumpul kumasukkan ke tong sampah.



Haaah… kutarik nafas panjang karena telah selesai membersihkan kelas. Dari awal kelas ini tidak begitu kotor ataupun berdebu. Kukeluarkan kantung plastik sampah organik dan anorganik dari dalam tong sampah untuk kubuang. Masalahnya sekarang, aku tidak tahu di mana aku harus membuangnya. Seharusnya letak pembuangan sampahnya ada di daerah belakang sekolah yang berarti aku harus mengganti uwabakiku dengan sepatu terlebih dahulu. Saat ini aku sedang berpikir di depan pintu belakang kelasku.




“Halo, Namikawa-san. Ini, mau buang sampah karena jadwal piket. Tapi, aku tidak tahu di mana letak tempat pembuangan sampahnya”



“Oh… Tempatnya di dekat ruang klub olahraga, di dekat lapangan baseball. Sendirian aja?”



“Iya nih, yang lain tidak tahu ke mana. Mungkin mereka mau melakukannya besok pagi.”



“Kalau begitu, aku bantu buang sampahnya.”



“Eeeh… Aku sendiri saja tidak apa-apa kok.”



“Kalau begitu, aku temani saja.”



“…Ah, terima kasih.”



Aku dan Namikawa-san turun ke lantai satu. Setelah mengganti uwabaki dengan sepatu, kami keluar menuju arah lapangan.



Aku memegang dua kantung plastik sampah berukura besar, di tangan kiri dan di tangan kanan. Kami berjalan di samping lapangan sambil melihat orang-orang yang melakukan aktivitas klub. Sejak keluar dari gedung utama tadi, hanya terdengar suara teriakan anggota klub olahraga yang sedang melakukan aktivitas klub di lapangan itu. Aku dan Namikawa-san hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.



Situasi seperti ini rasanya sedikit aneh karena kami hanya diam. Jadi, kucoba untuk memulai percakapan dengan Namikawa-san. Walaupun ada perasaan sedikit gugup dan canggung, harus kulakukan. Jika tidak, maka aku akan terus gugup dan canggung saat memulai percakapan dengan seorang gadis.



“Ngomong-ngomong Namikawa-san, kamu tidak bersama Kayano-san hari ini?”



“Kalau Chi-chan sudah pulang duluan, katanya ada perlu sih...”



“Kalau Namikawa-san sendiri, kenapa masih di sekolah?”



“Tadi aku bantu mengatur buku di perpustakaan. Walaupun masih ada buku yang belum kuletakkan ke rak.”



“Oh iya, Namikawa-san anggota pustakawan, kan?”



“Iya.”



“Kayano-san juga?”



“Ngga.”



“Oh… Kupikir dia anggota pustakawan juga. Dia terlihat sangat suka baca buku.”



“Hahaha, dia hanya suka baca saja.”



“Namikawa-san sendiri kenapa jadi anggota pustakawan? Apa tidak masuk ke klub?”



“Karena aku suka dengan buku. Anggota pustakawan juga hanya sukarela. Lagian juga ngga ada hal lain yang ingin kulakukan. Mungkin belum ada.”



“Oh, begitu ya…”



“Amamiya-kun sendiri ngga masuk klub?”



“Tidak. Untuk saat ini.”



“Kenapa?”



“Seperti Namikawa-san bilang tadi, belum ada hal yang ingin kulakukan.”



“Begitu ya… Sama dong.” Namikawa-san tersenyum.



Suasana sunyi di antara kami hilang hanya karena obrolan kecil yang dimulai dariku. Kami terus berjalan hingga akhirnya sampai di tempat pembuangan sampah. Letaknya memang dekat dengan ruang klub olahraga.



Tempat pembuangan sambah dibagi dua, organik dan anorganik. Kumasukkan kantung plastik ini ke tempat yang sesuai, organik ke organik dan anorganik ke anorganik.



“Sudah selesai. Terima kasih, Namikawa-san.”



“Sama-sama.”



“Oh iya, besok aku bantu Namikawa-san menyusun buku di perpustakaan.”



“Eeh, kenapa?”



“Namikawa-san sudah membantuku hari ini, jadi aku akan bantu kamu besok. Lagian aku juga tidak ada kegiatan lain.”



“Um. Makasih, Amamiya-kun.”



“Sama-sama. Baiklah, ayo kita pulang.”



Aku dan Namikawa-san berjalan kembali ke gedung utama. Fuyukawa-san mengarah ke pintu gerbang sekolah, sedangkan aku pergi mengambil tasku di kelas. Setelah itu, barulah aku pulang.



Aku berjalan ke arah gerbang sekolah dan ada hal yang tidak terduga. Kukira Namikawa-san sudah pulang, tetapi sekarang dia berdiri di depan gerbang sekolah. Mungkin dia sedang menunggu seseorang. Kucoba menghampirinya.



“Namikawa-san.”



“Amamiya-kun.” Namikawa-san mengarahkan pandangannya kepadaku.



“Kukira kamu sudah pulang.”



“Bukannya tadi Amamiya-kun ajak pulang bareng?”



Eee…?



Apa aku mengajak Namikawa-san pulang bersama?



Apa aku mengatakan seperti itu?



Kapan?



Di mana?



Tunggu sebentar. Aku mengingat kembali saat aku berdua dengan Namikawa-san. Saat setelah membuang sampah, aku mengatakan, “Ayo kita pulang.” Setalah itu aku kembali ke kelas untuk mengambil tas dan bertemu Namikawa-san lagi saat melewati gerbang sekolah.



Hm… Sebentar…



Tadi aku bilang, “Ayo kita pulang.”



Kita???



Mungkin karena aku menggunakan “kita” membuat Namikawa-san berpikir kalau aku mengajaknya pulang bersama. Dia sudah menungguku di sini saat aku mengambil tas, lebih baik aku ikut saja dengannya. Sudah terlanjur. Lagi pula, jalan pulang kami juga sama.



“Ah… Maaf membuatmu menunggu.”



“Uum… ngga apa-apa.”



Cahaya merah mulai terbentang di ufuk barat karena matahari akan tenggelam dan malam akan tiba.



Hari ini aku pulang bersama Namikawa-san. Ini pertama kalinya aku pulang dari sekolah bersama dengan seorang gadis. Kalau ada yang melihat kami, entah gosip apa yang akan tersebar di sekolah nanti.



Kami menyeberangi jalan dan berjalan di trotoar samping sungai. Melihat pemandangan yang sama, pohon sakura yang ada di samping sungai ini. Bunga sakuranya terhamburkan karena hujan kemarin. Sayang sekali. Padahal sudah mekar dengan indah. Masih ada beberapa hari sebelum bunga sakura gugur. Semoga cuaca hari ini dan di hari-hari terakhir mekarnya bunga sakura ini tetap bagus dan cerah agar semua orang bisa menikmati indahnya.



Kami terus berjalan tanpa mengatakan apapun hingga mendekati perempatan tempat kami akan berpisah. Kuberanikan diri untuk berbicara dengannya.



“Namikawa-san, kamu naik kereta kan?”



“Iya...”



Setelah itu, kami terdiam. Suasa di antara kami menjadi sunyi kembali hingga akhirnya kami tiba di perempatan jalan. Aku akan belok ke kiri, sedangkan Namikawa-san akan menyeberangi jalan dan kemudian berjalan lurus menuju arah kota, tempat stasiun berada.



“Amamiya-kun, sampai ketemu besok.” Namikawa-san mengatakannya sambil mengangkat tangan kanannya. Suaranya begitu lembut.



“Ah, iya. Sampai jumpa.”



Kami pun berpisah menuju arah masing-masing.



Cahaya merah di ufuk barat semakin memudar perlahan, menandakan malam akan tiba. Aku yang berjalan di trotoar ini menuju apartemenku memikirkan Namikawa-san agar dia bisa tiba di rumahnya dengan selamat. Semoga kecelakaan seperti kualami satu tahun itu tidak terjadi kepada orang-orang yang kukenal.



Malam ini, ayo makan daging. Mumpung dagingnya masih ada.







***







Paginya diriku, Amamiya Ryuki, selalu cepat.



Karena kemarin hampir telat karena terlalu enak tidur, wajar sih karena hari sebelumnya kurang tidur, hari ini aku bangun cepat seperti biasa berkat alarm ponsel, dilanjutkan dengan olahraga ringan sebelum membuat sarapan.



Matahari sudah terlihat di ufuk timur dengan memancarkan cahaya kuning yang terang. Sepertinya cuaca hari ini akan cerah. Tidak, harus cerah.



Hari ini perasaanku sedikit cemas. Mungkin, karena masalah piket ini. Kemarin hanya aku yang membersihkan kelas dan membuang sampah. Ada baiknya hari ini aku pergi sedikit lebih awal. Atau mungkin kubiarkan saja? Lagian Fuyukawa-san pasti tahu kalau aku sudah melakukan tugas piket.



Aaaah, lebih baik aku pergi lebih awal saja. Tidak bagus juga kalau perwakilan kelas datangnya tidak cepat, apalagi sampai telat.



Aku pergi ke sekolah dari apartemenku pukul 7:15 pagi. Bisa dibilang, aku pergi sangat awal daripada biasanya. Tidak ada buruknya juga pergi sekolah pagi-pagi, bisa menikmati udara pagi di kota dan suasana yang masih tidak terlalu ramai membuat perasaan menjadi nyaman.



Setiba di sekolah, aku langsung menuju kelas. Suasana sekolah saat ini memang terlihat sepi, tapi tidak untuk anggota klub olahraga. Kulihat mereka sudah ada di sekolah sepagi ini, mungkin sudah dari tadi. Terlihat anggota klub tenis sedang mengayunkan raketnya, anggota klub atletik sedang berlari mengelilingi sekolah, anggota klub sepakbola dan baseball sedang berlarian di dalam lapangan.



Aku naik ke lantai dua Gedung Utama, tempat kelasku barada.



Saat memasuki ke kelas, ternyata sudah ada empat orang yang sedang piket. Aku langsung meletakkan tasku di atas mejaku dan pergi membantu yang lain.



Aku menghampiri seorang gadis yang berada di depan papan tulis. Dia sedang membersihkan papan tulis.



“Ano, apa ada yang bisa kulakukan?”



“Oh, Amamiya-kun… Tidak, kamu sudah piket kemarin sewaktu pulang sekolah, kan?” Gadis ini menjawabnya dengan suara yang lembut dan datar.



“Iya. Beneran?”



“Iya. Biar kami lakukan selebihnya.”



“Terima kasih, etto…”



“Moriyama Yumika.”



“Ah, maaf. Aku belum bisa mengingat semua nama murid kelas ini.”



“Tidak masalah. Wajar karena banyak di antara kami yang belum berbicara denganmu. Kalau begitu, aku lanjut piket dulu.”



Aku kembali ke tempat dudukku sambil melihat empat orang ini piket. Pekerjaan mereka lebih ringan karena kemarin sudah kubantu sedikit. Moriyama-san menepuk-nepuk penghapus papan tulis di luar jendela untuk menghilangkan debu dari kapur.



Tidak lama kemudian, tugas piket sudah mereka kerjakan dan mereka sepertinya pergi ke toilet untuk mencuci tangan.



Aku hanya duduk di kursiku sambil memandangi pemandangan di luar jendela. Matahari mulai naik secara perlahan. Anggota klub atletik, tenis, sepakbola, dan baseball menyudahi latihan pagi mereka dan mulai meninggalkan lapangan untuk kembali ke kelas.



Terpikirkan olehku tentang Fuyukawa-san. Apa dia sudah datang ke sekolah dan melakukan latihan pagi? Mungkin saja sih, karena sebentar lagi ada latihan tanding dengan tim sekolah lain. Mungkin sekarang dia sedang beristirahat di suatu tempat.



Satu per satu murid kelas ini masuk ke kelas. Mereka memulai pembicaraan dengan teman mereka. Aku bisa mendengar pembicaraan mereka karena mereka bicara terlalu keras. Seharusnya, mereka bicara dengan nada yang bisa didengar oleh lawan bicaranya saja, tidak perlu terlalu keras.



Tidak lama kemudian, Fuyukawa-san masuk ke kelas sambil menyapa semua orang yang ada di kelas, “Selamat pagi, semuanya!”



Secara refleks, semua orang menjawabnya. “Selamat pagi!”



Fuyukawa-san menuju tempat duduknya dan meletakkan tasnya di atas meja. Kulihat ke arahnya. Sesuai tebakanku, dia baru saja habis latihan pagi. Terlihat keringat di sekitar leher dan kupingnya, juga rambutnya sedikit basah karena keringat.



Fuyukawa-san sepertinya menyadari kalau dirinya sedang kulihat. Dia mengarahkan tatapannya ke arahku. Mata kami saling bertemu. Kulihat wajahnya yang seputih salju itu sedikit memerah. Mungkin karena suhu tubuhnya yang naik karena latihan pagi tadi.



Kami berdua saling bertatapan tanpa mengatakan apapun.



Ah, gawat. Kalau bertatapan seperti ini terus, aku bisa panik sendiri karena menjadi canggung.



Biasanya dia duluan yang menyapaku, tetapi sekarang giliranku duluan yang menyapanya. Kucoba untuk menyapanya. Kalau tidak, tidak akan terjadi kemajuan di antara kami berdua. Juga, aku ingin berteman dengan semua murid di kelas ini.



“Fuyukawa-san, habis dari latihan pagi?”



“Eh, kok tahu?”



“Itu, di sekitar lehermu masih ada keringat dan rambutmu juga sedikit basah.”



“Kamu sangat jeli ya, Amamiya-kun.” Fuyukawa-san mengambil handuk dari dalam tasnya dan mengelap keringat di sekitar lehernya.



“Ah, tidak juga. Kebetulan terlihat olehku.”



“Mm… begitu ya. Apa keringatnya sudah hilang?”



“Sedikit lagi di dekat telinga.”



Fuyukawa-san mengelap lagi keringatnya hingga tidak ada yang tersisa.



“Sudah?”



“Um… sudah.”



Setelah mengelap keringat, Fuyukawa-san memasukkan kembali handuknya ke dalam tas.



“Oh iya Amamiya-kun, latihan tandingnya diadakan hari Sabtu depan, tanggal 23 April pukul 10 pagi, di Gedung Olahraga sekolah kita.”



“Hari Sabtu, ya? Baiklah. Aku akan datang untuk menonton.”



“Beneran?”



“Iya. Semoga saja tidak ada keperluan penting di hari itu.”



“Um… oke.”



Fuyukawa-san tersenyum mendengar jawabanku tadi kalau aku akan datang melihatnya bertanding. Dari dulu, aku memang suka dengan yang namanya olahraga. Walaupun aku tidak begitu tertarik dengan bola basket. Tapi, karena ini menyangkut sekolah, lebih baik aku ikut menyemati mereka yang akan bertanding nanti.



Tidak lama kemudian, bel tanda masuk berbunyi.



Seorang guru masuk ke kalas kami.



Dan jam pelajaran pertama pun akan dimulai.







***







Setelah jam pelajaran keempat selesai, sekarang tiba waktu istirahat makan siang.



Saat guru keluar dari kelas dan diikuti dengan murid kelas ini. Murid-murid keluar dari kelas menuju kantin atau di mana pun itu untuk makan siang. Sama halnya denganku, aku juga berniat untuk makan siang di kantin.



Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki yang menggema dari arah pintu belakang kelas, berteriak memanggil nama seseorang dengan keras. “Amaryu……” Itulah yang keluar dari mulut laki-laki itu. Semua murid yang masih ada di kelas melihat ke arahnya.



Hm, itu kan seperti namaku. Kenapa juga dia teriak-teriak begitu?



Suara itu berasal dari Hiroaki Takahiro, seorang laki-laki yang mengetahui tentang kecelakaan yang terjadi padaku satu tahun lalu. Dia dari kelas 2-I. Ngapain lagi dia ke kelas 2-D? Pasti ada urusan denganku karena dia meneriaki namaku.



Hiroaki menuju tempat dudukku dengan ekspresi wajah yang serius, lalu berdiri di sebelah kananku. Aku yang sedang duduk menopang dagu melihat ke arahnya dan bertanya, “Ada apa, Hiroaki?”



“Amamiya, katanya kamu berpacaran dengan Namikawa dari kelas 2-J?” Hiroaki bertanya kepadaku dengan nafas terengah-engah. Mungkin saat pelajaran berakhir tadi, dia langsung berlari menuju kelasku. Dan, ada apa dengan pertanyaan ini?



“Haaa? Tentu saja tidak. Dari mana datangnya gosip itu?”



Aku melihat sebentar ke arah murid-murid yang masih berada di kelas saat ini. Mereka seperti penasaran juga karena pertanyaan dari Hiroaki tadi. Bahkan ada yang kembali masuk ke kelas karena penasaran dan mereka mulai berbisik dengan teman mereka.



Terlihat Fuyukawa-san di belakang Hiroaki yang masih duduk di tempat duduknya bersama dua orang temannya yang biasa bersama dengannya. Pertanyaan dari Hiroaki membuatku menjadi pusat perhatian saat ini.



“Beneran? Kemarin ada yang lihat kalau kamu pulang bareng Namikawa.”



“Um, ya benar, aku pulang bersama Namikawa-san. Kebetulan kami ketemu di gerbang sekolah.”



“Hm…” Hiroaki bergumam dengan ekspresi penuh tanda tanya.



“Aku baru saja pindah ke sekolah ini, kan? Jadi, tidak mungkin aku ini pacarnya. Aku hanya berteman dengannya.”



“Kalian kan beda kelas, bagaimana kamu bisa berteman dengannya?”



“Hm, dua hari yang lalu aku ketemu dengannya di kafe. Dan, ya, seperti itulah.”



“Kafe, katamu?”



“Ya, di kafe.”



“Satu meja berdua?”



“Um, ya.”



“Itu kan bisa dikatakan kalau kalian sedang berkencan.”



“Ha? Ngomong apa kamu, Hiroaki? Tentu saja bukan. Kami hanya baca buku. Dan, kenapa kamu sangat penasaran begitu?” Aku sedikit tersenyum menunjukkan rasa penasaranku terhadapnya.



“Ah, tidak. Aku hanya penasaran. Kamu hebat ya, Amamiya, bisa berteman dengan orang seperti dia.”



“Memangnya kenapa?” Sekarang aku dibuat penasaran dengan perkataan Hiroaki.



“Ah, bukan apa-apa.”



Hiroaki seperti menyembunyikan sesuatu. Sesuatu mengenai Namikawa-san yang belum kuketahui. Hm, ya, terserah dirinya akan memberitahuku atau tidak. Itu haknya.



“Hmm… jadi, kamu buru-buru ke sini karena ingin menanyakan hal itu?”



“Iya. Haha…” Hiroaki hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya.



“Ada lagi yang ingin kamu tanyakan, Hiroaki? Aku mau ke kantin. Lapar nih.”



“Ah, ngga ada. Kalau begitu, ayo ke kantin.”



“Yuk.”



Hiroaki berjalan ke pintu belakang kelas dan aku mengikutinya dari belakang.



Saat aku beranjak dari kursiku dan melewati Fuyukawa-san, sekilas terlihat wajahnya. Tidak seperti biasanya wajahnya murung, menutup rapat bibirnya, dan terus melihat ke arah bawah. Dia seperti memikirkan sesuatu, hingga tidak menyadari kalau dua orang temannya masih berada di sampingnya.



Pertama kalinya kulihat Fuyukawa-san seperti itu.



Saat aku masih di dekat pintu belakang, terdengar suara temannya yang memanggil nama Fuyukawa-san. Sepertinya dia melamun sejak tadi.



“Yukina, apa kamu dengar?”



“Eh, tentang apa? Maaf, aku melamun. Hehe…” Fuyukawa-san menjawabnya dengan senyum.



“Ini tentang pertandingan tanggal 23 nanti.”



“Yukina, kamu sedang mikirin sesuatu?”



Aku keluar dari kelas sehingga tidak terdengar lagi percakapan mereka.



Sedikit khawatir saat pertama kalinya kulihat Fuyukawa-san dengan raut wajah seperti tadi. Eskpresinya seperti sedih karena kehilangan sesuatu dan juga takut untuk menghadapi sesuatu. Sesuatu yang juga pernah terjadi pada diriku.



Tapi, karena Fuyukawa-san kembali tersenyum dan sifat periangnya juga sudah kembali, walaupun sempat hilang sebentar, sepertinya hal itu tidak perlu kukhawatirkan.



Baiklah, saatnya makan siang. Kira-kira, menu apa yang akan kupesan hari ini, ya?