
1
Pelajaran di hari Kamis dimulai dengan pelajaran Bahasa Jepang dari Kawakami-sensei. Kali ini pun tentang penulisan essay.
“Kadang-kadang Saya lihat orang-orang menulis sama persis di di essay mereka. Jangan pikir kalian bisa lolos dengan menyalin dari beberapa hal yang ada di situs web. Saya tahu, paham?”
Tentu saja menyalin dari dari internet akan sangat mudah diketahui. Apalagi guru yang sudah berpengalaman. Pasti sangat mudah mengetahuinya.
“Mencuri ide seseorang merupakan plagiat. Itu sama seperti kejahatan mencuri hal lain. Sangat menyebalkan berususan dengan hak cipta seperti itu belakangan ini. Oh iya, kalian tahu ini?”
Dan ini, saatnya Kawakami-sensei mulai melemparkan pertanyaan kepada kami.
“Kalian tahu bagaimana Sir Arthur Conan Doyle mempunyai karakter terkenal Sherlock Holmes, kan?”
“Ya, Sensei.”
“Suatu waktu, penulis lain menggunakan Holmes di ceritanya tanpa izin, sehingga Doyle melakukan protes. Dan, selanjutnya Amamiya-kun?”
“Ya, Sensei?”
“Apa nama novel terkenal lainnya yang Sherlock Holmes muncul di dalamnya?”
“Arsene Lupin, Gentlemen Burglar. Karangan Maurice Leblanc.”
“Hooo, kamu suka novel misteri, ya? Kamu benar, Amamiya-kun.”
Tiba-tiba, beberapa murid kelas ini meneriaki diriku.
“Sasuga yang dapat peringkat dua di ujian tengah semester.”
“Aku bahkan ngga tau jawabannya.”
“Diam, semuanya!” setelah semuanya diam, Kawakami-sensei melanjutkan, “Itu merupakan pertunjukan utama di antara tuan pencuri dan detektif terkenal. Tapi kemudian, Maurice Leblanc, yang merupakan penulis dari seri Lupin, mengubah nama Sherlock di bukunya. Dia mengubahnya menjadi ‘Herlock Sholmes.’ Hanya memindahkan S ke awal nama belakangnya.”
“Hee, jadi gitu ya…”
“Amamiya memang pintar…”
“Ah, gawat, Sensei liatin kita.”
Entah apa yang mereka lakukan di saat jam pelajaran seperti ini. Lebih baik diam dan dengarkan saja.
“Baik Lupin maupun Holmes, keduanya sering muncul di beberapa karangan cerita lainnya. Tapi itu hanya untuk penghormatan, bukan plagiat. Dan sekarang, Arsene Lupin bersinonim dengan ide dari ‘pencuri bayangan.” Dia dikenal di seluruh dunia.”
Mendengar penjelasan Kawakami-sensei tentang Arsene Lupin membuatku ingin membaca kembali novelnya Maurice Leblanc tersebut, walaupun ceritanya masih kuingat dengan jelas. Lebih baik membaca novel yang lain saja.
Tidak lama kemudian, pelajaran Bahasa Jepang berakhir dan dilanjutkan dengan pelajaran Matematika dari wali kelas kami, Sakamoto-sensei.
“Seperti yang kalian ketahui, sekolah kita akan ada Tur Studi Sosial pada bulan Juni nanti. Untuk sekarang, saya berikan kuesioner tentang tempat seperti apa yang ingin kalian pergi untuk melihat-lihat dan belajar.”
Tur Studi Sosial diwajibkan untuk murid kelas dua yang dilaksanakan pada bulan Juni. Tur ini bertujuan untuk memberi gambaran bagaimana tempat kerja yang akan dipilih para murid nanti.
“Kuesionernya bisa dikumpulkan hari Kamis selanjutnya. Jadi, gunakanlah waktu untuk memilih tempat yang sesuai dengan keinginan kalian nanti. Baiklah, pelajaran akan dimulai.”
“Kiritsu, rei…”
Pelajaran Matematika bersama Sakamoto-sensei cukup menyenangkan. Rasanya waktu berjalan begitu cepat dan pada akhirnya berakhir.
Bel berbunyi menandakan waktu istirahat makan siang.
Catatan Mizuno-san yang dipinjamkannya kemarin belum kukembalikan, jadi sekarang saatnya untuk mengembalikannya.
Mizuno-san biasanya makan siang bersama Fuyukawa-san dan Seto-san. Aku menunggu dirinya untuk menghampiri Fuyukawa-san. Saat itu tiba, barulah kukembalikan.
“Mizuno-san. Ini catatanmu. Makasih ya…”
“Eh, udah selesai kamu tulis, Amamiya-kun?”
“Udah, kok.”
“Cepat, ya…”
“Um, kalau begitu aku ke kantin dulu. Sekali lagi, makasih ya…”
“Sama-sama.”
Fuyukawa-san dan Seto-san hanya terdiam melihatku berbicara dengan santainya dengan Mizuno-san. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa sesantai ini berbicara degannya.
Aku langsung keluar dari kelas dan menuju kantin.
Cuaca hari ini cerah. Tidak ada tanda-tanda akan hujan. Banyak murid yang makan di halaman sekolah daripada di kantin. Aku juga ingin bisa makan siang di halaman sekolah.
Setiba di kantin, aku langsung memesan makan siangku dan mencari meja makan. Dua kali secara berturut, aku melihat Shiraishi-san makan di kantin ini. Dia sendirian seperti kemarin. Apa benar dia memang tidak punya teman makan?
Tanpa sadar kakiku berjalan menuju arahnya dan telah berada di depannya. Shiraishi-san yang sepertinya menyadari kehadiran seseorang di hadapannya berhenti memakan makanannya dan melihat ke arah depannya.
“…”
Shiraishi-san hanya menatapku tanpa mengatakan apa pun. Tatapan yang dingin.
“Ah, ya, Shiraishi-san. Sendirian aja?”
“Jangan menanyakan sesuatu yang sudah kamu tahu.”
Rasanya aku menjadi bodoh jika berada di dekatnya.
“Ahaha, maaf. Boleh aku duduk di sini?”
“Silakan.”
“Makasih.”
Shiraishi-san kembali memakan makan siangnya.
Aku langsung duduk dan meletakkan nampan yang berisi makan siangku. Kulihat Shiraishi-san makan dengan elegan. Saat dia memalingkan pandangannya ke arahku, aku langsung berusaha memalingkan pandanganku darinya dan memegang sumpit. Saatnya makan ramen ini. Itadakimasu.
Mau berapa kali memakan makanan dari kantin ini tetap saja tidak bosan. Rasanya enak. Apa ada seorang chef yang berada di dapurnya, ya? Sedikit membuatku penasaran.
Akhirnya ramenku habis kumakan, sedangkan Shiraishi-san masih memakan makan siangnya yang berupa mie udon.
“Gochisousama deshita. Aku duluan, Shiraishi-san.”
“…” Shiraishi-san hanya melihatku tanpa mengatakan apa pun.
Karena waktu isitrahat makan siang masih tersisa, daripada kembali ke kelas yang tidak ada kegiatan apa-apa, lebih baik aku pergi ke perpustakaan.
Suasana perpustakaan di saat waktu istirahat siang selalu sepi. Rasanya sudah lama aku tidak ke tempat ini.
Namikawa-san tidak ada, juga Kayano-san. Kalau mereka makan siang di kantin, pasti tadi akan bertemu denganku. Mungkin saja mereka makan siang di halaman sekolah.
Nanti sepulang sekolah ada kegiatan klub bantuan seperti biasa. Daripada duduk tanpa melakukan apa pun, lebih baik untuk membaca suatu buku. Itulah tujuanku datang ke perpustakaan sekarang.
Aku hanya membaca buku yang ingin kubaca atau buku yang menarik perhatianku. The Gallant Rogue. Buku yang menceritakan tentang Ishikawa Goemon, seorang bandit yang mencuri untuk membagikannya ke orang yang tidak mampu. Kupilih buku ini dan kubawa ke konter pustakawan untuk mengisi administrasi peminjaman buku. Baiklah, saatnya kembali ke kelas.
2
Sekolah hari ini rasanya berakhir begitu cepat. Setelah bel tanda pulang berbunyi, aku langsung keluar dari kelas menuju ruang klubku. Aku bertemu dengan Hiratsuka-sensei ketika hendak menuju ke Gedung Khusus melalui koridor penghubung di lantai dua.
“Aaa, Amamiya-kun.”
“Ya, Sensei?”
“Mau ke ruang klub?”
“Iya.”
“Apa ada kendala dengan permintaan bantuan dari murid lainnya?”
“Untuk saat ini belum ada, Sensei.”
“Kalau begitu, semangat ya!”
“Ya, Sensei.”
Sesudah percakapan kecil dengan Hiratsuka-sensei, aku pergi ke Gedung Khusus, tempat ruang klub bantuan berada.
Saat menaiki tangga, aku bertemu dengan Shiraishi-san yang berada di depanku. Aku mengikutinya dari belakang hingga sampai ke depan ruang klub bantuan. Saat itulah dia sadar kalau aku sudah berada di belakangnya. Mungkin dari awal dia sudah menyadarinya. Dia sama sekalit tidak terkejut melihatku yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
Shiraishi-san yang mempunyai kunci ruangan ini membuka kunci pintunya dan akhirnya kami masuk ke ruangan klub ini.
Seperti biasa aku langsung duduk di tempat dudukku dan langsung membaca buku yang tadi kupinjam, sedangkan Shiraishi-san sedang membuat teh.
Pandangankan tidak lagi kulihat ke arah Shiraishi-san karena aku terfokuskan dengan buku yang kupegang ini. Lama kelamaan aku pun masuk ke dunia sastra dari buku ini. Tatapan mataku hanya ke satu arah, yaitu buku ini yang kupegang di atas meja agar aku tidak terlalu menunduk yang dapat membuat leherku menjadi sakit nantinya.
Kubalik halaman per halaman buku ini yang membuatku semakin penasaran dengan cerita dari Ishikawa Goemon.
Saat membaca, pikiranku hanya terfokuskan ke buku dan biasanya tidak menyadari keadaan sekitarku lagi. Mungkin, Shiraishi-san sudah membuat teh dan sedang meminum teh itu sambil membaca buku juga. Hanya itu yang tergambarkan dari keadaan di ruang klub ini saat ini.
Kegiatan klub hari ini mungkin hanya diisi dengan membaca karena belum ada tanda-tanda kehadiran klien yang meminta bantuan ataupun yang mau berkonsultasi. Kami hanya bisa menunggu sampai ada yang datang. Kalau memang tidak ada yang datang, berarti kami hanya perlu seperti ini saja.
Aku tidak tahu sudah berapa lama membaca buku ini. Hal yang jelas kalau aku sudah membaca buku ini sedikit lama sehingga membuatku haus dan aku pun kembali ke kesadaranku semula dari dunia sastra buku ini.
Teh yang dibuat oleh Shiraishi-san masih ada. Dia memang membuatnya sedikit banyak karena tidak tahu berapa orang nantinya yang tiba-tiba masuk ke ruangan ini. Aku pun beranjak dari kursiku dan menuju tempat peralatan teh itu. Kutuangkan teh ini ke dalam gelas kertas yang sudah diletakkannya, walaupun ada satu cangkir kaca dari set peralatan teh ini. Aku tidak menggunakan cangkir itu. Tidak tahu kenapa aku tidak cocok minum dari cangkir itu.
Setelah menuangkan teh, aku kembali ke kursiku. Menyeruput teh yang enak ini. Rasa teh ini berbeda dengan teh yang kemarin. Kali ini rasanya lebih kuat. Sangat nikmat.
“Teh ini enak, Shiraishi-san.” Tanpa sadar aku mengatakan kesanku terhadap teh ini.
“Begitu ya? Kalau begitu, baguslah kalau kamu suka.”
Nada suara yang dingin dari Shiraishi-san rasanya seperti mendinginkan ruangan ini dan membuat tubuhku menggigil. Semakin sering bersamanya, perlahan aku mulai mengenalnya tanpa perlu bertanya mengenai dirinya. Aku pun meminum habis teh yang ada di gelas kertas ini dan lanjut membaca.
Saat aku hendak membaca, terdengar ketukan di pintu ruang klub ini. Aku mengatakan, “Silakan masuk,” dan dari arah pintu masuk dua orang yang kukenal.
“Halo Amamiya-kun, Shiraishi-san.”
“Halo kalian berdua…”
“Halo Shimizu-san, Nazuka-san.”
“Halo.”
Shimizu-san dan Nazuka-san pun masuk dan menuju ke arahku. Aku langsung berdiri dan mengambil dua kursi yang tersusun rapi di belakang ruangan ini.
“Silakan duduk.”
“Makasih, Amamiya-kun.”
“Hitoka, ayo masuk saja.” Nazuka-san memanggil nama Taniguchi-san yang tidak ada di sini.
“Eh? Taniguchi-san?”
“Iya, dia juga datang ke sini. Ayo masuk saja.”
Dari arah pintu masuklah seorang gadis yang baru kukenal. Taniguchi Hitoka, murid kelas 2-C yang menjabat sebagai manajer klub bola voli putri.
“Ah, ha-halo…”
Ternyata benar, Taniguchi-san juga datang ke sini. Aku pun mengambil kursi satu lagi.
“Duduklah.”
“Makasih, Amamiya-kun.”
Sungguh pemandagan yang berbeda melihat ada tiga orang yang datang ke ruang klub ini. Shiraishi-san bangun dari kursinya dan menuju tempat meja perlatan teh. Aku juga beranjak dari kursiku untuk membantunya. Lagi pula dua di antara mereka merupakan teman sekelasku.
“Ini, minumlah,” kataku sambil memberikan teh yang telah berada di gelas kertas.
“Makasih, Amamiya-kun.”
“Makasih ya…”
“Um, makasih…”
Ada apa dengan Taniguchi-san? Sepertinya tingkahnya berbeda saat masuk ke ruangan ini.
Setelah mereka bertiga meminum teh itu, Shiraishi-san mulai berbicara.
“Jadi, ada keperluan apa kalian datang ke sini?”
“Kami cuma ingin mengucapkan terima kasih.” Shimizu-san menjawabnya dengan cepat.
“Tapi, bukannya kalian ada latihan hari ini? Turnamennya kan besok.”
“Ah, soal itu, hari ini kami hanya melakukan rapat strategi di ruang klub bersama pelatih kami.”
“Ya, seperti kata manajer kami.” Nazuka-san memperjelas.
“Begitu ya…”
“Hitoka! Itu, itu…”
“Ah, iya, ini… kami bawa sesuatu untuk kalian sebagai tandai terima kasih.”
Taniguchi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.
“Apa itu?” Shiraishi-san sepertinya penasaran dengan apa yang dibawa oleh mereka.
“Ini kue kering. Makanlah, Shiraishi-san.”
“Terima kasih. Kalau begitu, aku ambil.”
“A-amamiya-kun, kamu juga. Silakan…”
“Um, makasih ya udah repot-repot.”
“Ah, ngga, kok. Aku juga hobi membuat kue.”
“Eh, ini buatan Taniguchi-san?”
“Iya, Amamiya-kun. Hitoka sangat jago kalau soal memasak. Apa pun itu.” Shimizu-san mengatakan itu sambil mengambil dan memakan kue kering itu.
Nazuka-san juga mulai mengambil kue kering itu juga dan memakannya.
“Heee? Hebat ya, Taniguchi-san.”
“Ah, um, ngga sehebat itu juga.”
Aku mengambil dan memakan kue kering buatan Taniguchi-san ini. Dia membuatnya lumayan banyak. Cukup untuk lima orang yang sedang berada di ruangan ini. Memakan kue kering ini sambil meminum teh, sangat cocok.
“Kue-nya enak. Gimana menurutmu, Shiraishi-san?”
“Iya, benar. Kue-nya enak.”
“…Ma-makasih.”
Seperti dugaanku, Taniguchi-san sedikit aneh sejak tiba di ruangan ini.
“Taniguchi-san?”
“Ah, ya… kenapa, Amamiya-kun?”
“Tingkahmu sejak masuk ke ruangan ini sedikit aneh. Apa kamu sakit?”
“Ah, ngga, kok. Aku seperti biasanya.”
“Apa ada yang ingin kamu bilang?”
“Sebenarnya ada hal lain yang membuat kami datang ke sini.” Shimizu-san menjawabnya untukku.
“Bilang aja. Ngga usah sungkan.”
“Amamiya-kun sudah bilang gitu. Bilang aja, Hitoka.”
“Um, ayo bilang, Hitoka.”
Shimizu-san dan Nazuka-san meyakinkan Taniguchi-san.
“Um, baiklah… Amamiya-kun!”
“Ah, iya?”
Kali ini ekspresi wajah dari Taniguchi-san menjadi sedikit serius. Kenapa tiba-tiba berubah seperti itu keadaannya?
“Beri tahu aku nomor ponsel dan ID chat milikmu.”
“Ha?”
“Ha?”
“Ha?”
Aku, Nazuka-san, dan Shimizu-san terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Taniguchi-san. Kupikir Taniguchi-san akan mengatakan sesuatu yang lebih serius daripada ini.
“Tapi, kenapa tiba-tiba kamu meminta nomor ponsel dan ID chat-nya Amamiya-kun, Hitoka?”
“Etto… aku mau minta sarannya untuk kegiatan klub kita nanti.”
“Ah, gitu ya…”
“Langsung bilang aja kalau gitu saat seusai latihan kemarin.”
“Aku kelupaan.”
“Ooh… baiklah, lagian aku ngga keberatan.”
“Makasih…”
“Ngomong-ngomong, aku juga belum punya nomor ponsel dan ID chat-mu, Amamiya-kun.”
“Aku juga.”
Akhirnya, kami menukar nomor ponsel dan ID chat kami masing-masing. Di kontak ponselku sekarang sudah bertambah nama orang yang nomornya kumiliki. Nazuka Izumi-san, Shimizu Sumire-san, dan Taniguchi Hitoka-san.
“Shiraishi-san, kamu udah punya nomor ponselnya Amamiya-kun?”
Saat Shimizu-san menanyakan itu kepada Shiraishi-san, aku sedikit takut mendengar jawabannya. Kami berdua tidak terlalu banyak bicara karena memang begitulah sifatnya Shiraishi-san. Lagi pula, dulu aku tidak terlalu berteman dekat dengan seorang gadis. Jadi, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
“Tidak, belum.”
“Kalau begitu kenapa ngga tukaran nomor ponsel aja terus?”
“Ah, uum…”
Shiraishi-san memindahkan tangannya dari buku ke dagunya. Dia pasti sedang berpikir.
“Kamu ketua klubnya, kan, Shiraishi-san? Harusnya punya nomor ponsel anggotanya dong. Aku aja punya semua nomor ponsel anggota klub voli putri.”
Shimizu-san berusaha meyakinkan Shiraishi-san. Tapi rasanya ini juga tidak baik untuk memaksakan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya.
“Shimizu-san, jangan memaksa seperti itu.”
“Ah, maaf.”
“Tidak. Apa yang dikatakannya ada benarnya. Sebagai ketua klub bantuan, aku harus punya nomor ponselmu.”
Angin apa yang berhembus sehingga membuat Shiraishi-san seperti itu?
“Um, baiklah.”
Pada akhirnya, aku dan Shiraishi-san menukar nomor ponsel dan ID chat kami. Shiraishi Miyuki-san terdaftar di kontak ponselku.
“Ya… pada akhirnya kamu dapat nomor ponsel kami semua, ya, Amamiya-kun?”
“Iya, Shimizu-san.”
“Ayo kita makan kue keringnya lagi. Kasihan Hitoko kalau ngga habis.”
“Iya…”
Dengan teh dari klub bantuan dan kue kering dari Taniguchi-san, kuhabiskan waktu sepulang sekolahku berada di klub ditemani Shiraishi-san, Nazuka-san, Shimizu-san, dan Taniguchi-san. Saat mereka tidak menanyakan apa-apa lagi kepadaku, aku mulai kembali membaca buku yang tadi, pikirku. Tapi, aku sedikit penasaran dengan mereka bertiga. Apa tidak mereka tidak ada kegiatan lagi?
“Ano, Taniguchi-san, kalian ngga ada kegiatan lagi?”
“Ah, ngga ada lagi, kok.”
“Apa kami mengganggu kalian?”
“Bukan begitu, Nazuka-san. Kupikir kalian ada kegiatan lagi karena besok kan turnamennya dimulai. Aku sama sekali ngga keberatan kalian di sini.”
“Begitu ya… Kalau Shiraishi-san?”
“Aku tidak keberatan.”
“Sudah, sudah, Izumi. Mereka berdua orang yang baik, kok. Pasti ngizinin kita di sini.”
“Um, benar juga, Sumire.”
“Ayo makan lagi.”
Semuanya menjadi tenang sekarang saat kedua belah pihak mengetahui kalau klub bantuan tidak keberatan dengan kehadiran mereka bertiga di sini dan klub bola voli yang tidak memiliki kegiatan lagi. Semuanya meminum teh dan memakan kue kering sambil menikmati kegiatan masing-masing mereka di sini. Shiraishi-san dan diriku sedang asik membaca buku, sedangkan mereka bertiga sedang berbicara tentang pertandingan besok.
Nikmat juga membaca buku sambil makan kue kering dan minum teh. Mungkin yang membuatnya nikmat karena teh dan kue keringnya memang terasa sangat enak bagiku. Hebat sekali Taniguchi-san bisa membuat kue kering seenak ini. Mungkin aku bisa menanyakan padanya resep masakan yang mudah dimasak untuk orang yang hidup sendiri. Baiklah, kutandai buku ini dulu untuk kulanjutkan esok hari.
“Oh iya, Taniguchi-san. Kamu pintar memasak, kan?”
“Eeh? Kenapa memangnya, Amamiya-kun?”
“Ajari aku masak makanan yang mudah dibuat untuk orang yang hidup sendiri, dong.”
“Hidup sendiri?”
“Hidup sendiri?”
Taniguchi-san dan Shiraishi-san menanyakannya bersamaan.
“Ah, iya, kalian berdua belum tau, ya?”
“Ah, iya. Aku hidup sendiri di Tokyo. Aku kan pindahan dari Nagano.”
“Jadi, kamu sendirian aja di sini, Amamiya-kun?”
“Iya, benar.”
“Kupikir kamu pindah ke sini karena ikut orang tuamu.”
“Aah, tentu saja itu ngga mungkin.”
“Hm, begitu ya… Boleh saja kuajari memasak. Tapi, di mana?”
“Mm… di mana, ya?”
“Di apartemenmu aja, Amamiya-kun.”
Shimizu-san mengusulkan di apartemen tempat ku tinggal sekarang.
Ide yang bagus. Dengan itu, tidak ada pihak lain yang merasa kerepotan karena meminjam dapurnya untuk belajar memasak.
“Ah, iya, di apartemenku saja, Taniguchi-san.”
“Di-di apartemenmu?”
“Iya. Lagian aku tinggal sendiri di apartemen. Ngga ada yang ganggu, kok.”
“Ng-ngga ada yang ganggu?”
“Iya. Gimana?”
“Tunggu, batinku belum siap.”
“Tentu saja bukan sekarang. Nanti saja. Lagian Taniguchi-san, kamu kan ada tugas sebagai manajer tim voli putri.”
“Ah, um, iya. Nanti ya…”
“Hm… sepertinya Hitoka memang bertingkah aneh hari ini. Ya, kan, Izumi?”
“Iya. Kamu ngga seperti biasanya, Hitoka.”
“Eh… apa aku memang kelihatan, ya?”
“Dari tadi kan udah kubilang…”
“Hahaha…”
“Hahaha…”
Nazuka-san dan Shimizu-san mulai tertawa karena tingkahnya Taniguchi-san yang mulai aneh. Aku hanya ikut tersenyum karena melihat mereka berdua tertawa.
Tuk, tuk, tuk.
Terdegar suara pintu yang diketuk. Sepertinya ada orang yang akan masuk ke sini. “Silakan masuk,” kataku.
Pintu terbuka dan seseorang yang kukenal masuk ke ruangan ini. Seorang murid laki-laki yang termasuk murid populer di sekolah ini, dengan tampang ikemen dan bekacamata.
“Yo Ryuki… Ah, halo semua.”
“Yo, Taka.”
“Ah, halo, Hiroaki-kun.”
“Halo, Hiroaki-kun.”
“Halo…”
“…”
Aku beranjak dari kursiku untuk mengambil kursi untuk taka duduk. Sudah menjadi tugasku yang memberikan kursi bagi tamu yang datang ke ruangan ini.
“Hee… sedang rame, ya…”
“Ya, begitulah. Ini, duduklah!” kuletakkan kursi ini tepat di depan tempatku duduk.
“Makasih.”
“Jadi, ada apa datang ke sini?”
“Memangnya aku ngga boleh datang ke sini?”
“Mungkin.”
“Apa-apaan itu, Ryuki?”
“Jadi, ada perlu dengan kami, klub bantuan?”
“Ah, ngga juga. Aku cuma mau mampir ke sini aja. Lagian ini kan pertama kalinya aku ke sini.”
“Um, ya, benar juga. Kalau ngga ada urusan, mending jangan ke sini.”
“Eh…? Kenapa memangnya?”
“Kehadiranmu mungkin bisa mengganggu seseorang.”
Tanpa sadar aku mulai melihat ke arah Shiraishi-san. Dia sama sekali tidak terganggu dengan kegiatan membacanya. Mungkin aku sedikit berlebihan.
“Kayaknya ngga ada yang terganggu, deh.”
“Ah, um, kamu benar. Mau teh, Taka?”
“Boleh…”
Kuambil teh untuk Taka dan kuberikan untuknya.
“Ini tehnya.”
“Makasih, Ryuki.”
Taka langsung meminum teh itu dan tangan kanannya mulai mengambil kue kering Taniguchi-san yang belum habis ini.
“Kue kering ini enak. Ya, ngga, Ryuki?”
“Um, ya. Itu buatan Taniguchi-san.”
“Eh, beneran?”
“I-iya. Itu aku yang buat.”
“Wah, kamu hebat ya, Taniguchi.”
“Ah, ngga juga, kok.”
Satu per satu kue kering itu masuk ke mulutnya Taka. Dari tadi aku sudah memakan lumayan banyak kue kering itu, jadi sudah sedikit kenyang. Setidaknya dengan datangnya Taka bisa membuat kue ini cepat habis.
Taka terus memakan kue kering itu hingga akhirnya habis.
“Makasih ya atas kue keringnya.”
“Um, iya…”
“Hiroaki-kun, kue itu sebenarnya untuk Amamiya-kun, lho… ya, kan, Hitoka?”
“Eh, beneran? Maaf, Ryuki. Udah kuabisin.”
“Bukan gitu juga, Sumire, Hiroaki-kun…”
Saat kucoba untuk kembali membaca buku, konsentrasiku terganggu. Jadi, kuurungkan niatku untuk melanjutkan bacaanku tadi.
“Oh iya, Taka. Kamu ngga ada kegiatan klub hari ini?”
“Ada.”
“Jadi kenapa di sini?”
“Hanya mampir. Sekalian untuk lihat-lihat seperti apa klubmu.”
“Oh begitu ya…”
“Dan juga…” Taka mendekat ke arah telingaku dan berbisik, “aku penasaran dengan hubunganmu dengan Shiraishi.”
“Hah?”
“Aku kembali dulu. Makasih atas teh dan kuenya.”
Taka keluar dari ruangan ini dengan ekspresi senang dan penuh senyum. Entah apa yang dipikirkannya tentang diriku dan Shiraishi-san.
“Kalau begitu, kami pulang dulu.”
“Ah, um. Lagian besok turnamennya, kan? Semangat ya untuk besok.”
“Makasih, Amamiya-kun.”
“Ano, Amamiya-kun!”
Tiba-tiba Taniguchi-san berbicara dengan suara yang keras, tegas, dan jelas. Jujur saja, aku terkejut mendengar suaranya yang berubah itu saat memanggil namaku.
“Apa kamu punya pacar? Atau apa ada gadis yang kamu sukai sekarang?”
Ada apa dengan pertanyaan ini, Taniguchi-san? Oh iya, pertanyaan seperti ini sebelumnya sudah pernah ditanyakan kepadaku.
“Saat ini ngga ada.”
“Ano, kalau besok kami menang, mau ngga kamu berkencan denganku?”
“Ha?”
“Eh?”
“Eh?”
Aku, Nazuka-san, dan Shimizu-san terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Taniguchi-san. Tiba-tiba aku seperti berada di situasi komedi cinta.
“Hitoka, kamu serius?”
“Serius, Hitoka?”
“Ah, eh, etto, maksudku... bukan kencan seperti itu. Ah, iya, nemanin aku belanja misalnya. Seperti itulah.”
Ah, aku mengerti. Taniguchi-san sedikit aneh dari tadi karena dia berusaha untuk mengumpulkan keberanian dan melawan rasa malunya untuk mengatakan itu kepadaku. Mungkin seperti itu. Mungkin.
Jujur saja, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan saat ini. Tiba-tiba mengatakan hal seperti itu membuatku terkejut. Pertama kalinya ada yang mengatakan hal itu dan orang yang mengatakan itu merupakan seorang gadis cantik yang merupakan manajer klub bola voli putri. Apa yang harus kukatakan sekarang?
“Gimana, Amamiya-kun?”
“Etto… gimana ya…”
“Ngga mau, ya?”
“Bukan begitu…”
“Ayo, Amamiya-kun… berikan jawabanmu. Hitoka udah beranikan dirinya untuk nanya ke kamu. Masa’ kamu ngga kasih jawaban.”
“Seperti yang Sumire bilang. Berikan jawabanmu, Amamiya-kun.”
Wah… Shimizu-san dan Nazuka-san mulai mendesak diriku ini untuk menjawab permintaan dari Taniguchi-san.
Tunggu sebentar. Kalau kuanggap ini sebagai permintaan untuk klub bantuan, mungkin aku bisa menerimanya. Tapi, apa itu sesuatu yang tepat yaitu menggunakan kegiatan klub sebagai alasan? Tentu saja itu bukan sesuatu yang tepat.
Ah, tidak. Tunggu sebentar. Ini bukan kencan, hanya menemani Taniguchi-san berbelanja. Kalau itu maka tidak masalah. Ya, tidak masalah.
“Baiklah, Taniguchi-san.”
“Eh? Kamu mau?”
“Iya, kalau menang, kan?”
“Iya!”
Tiba-tiba tatapan mata Taniguchi-san berubah seperti terpancarkan api yang menandakan semangat dalam dirinya telah menyala.
“Syukurlah, Hitoka.”
“Bagus, Hitoka.”
“Kalau begitu, kami pulang dulu. Sampai jumpa, Amamiya-kun.”
“Sampai jumpa, Amamiya-kun, Shiraishi-san.”
“Sampai jumpa.”
“Um, sampai besok.”
“Sampai jumpa.”
Mereka bertiga telah keluar dari ruangan ini. Sekarang yang berada di ruangan ini hanyalah aku dan Shiraishi-san. Karena hanya ada kami berdua, ruangan ini menjadi sunyi tanpa suara sedikit pun. Ya memang seperti inilah keadaan sebenarnya ruangan ini, ruang klub bantuan.
Mengenai jawabanku tadi terhadap perminataannya Taniguchi-san, apakah itu sudah tepat? Aku sama sekali tidak tahu jawaban yang tepat di situasi seperti itu tadi. Wajar saja itu yang pertama kalinya. Kalau hanya menemaninya belanja, kurasa jawaban tadi itu sudah tepat. Lagipula, aku bisa mengisi waktu luang juga dengan berjalan-jalan di kota. Hm, seperti tidak buruk.
Rasanya tubuhku menjadi lelah karena memikirkan hal tadi itu. Kulihat jam di ponselku yang sudah menunjukkan pukul 17:40. Sepertinya kegiatan klub untuk hari ini bisa dicukupkan. Tidak ada tanda-tanda orang yang akan datang ke ruang klub ini. Tidak, memang pasti tidak ada orang yang akan datang ke sini lagi untuk hari ini karena sudah hampir waktu tutup sekolah.
Kumasukkan buku bacaanku ke dalam tas dan meletakkan tas itu di pundakku seakan-akan bersiap untuk pulang. Kulihat ke arah Shiraishi-san, dia juga melakukan hal yang sama.
“Karena sepertinya sudah tidak ada yang datang, mungkin kita cukupkan kegiatan kita untuk hari ini.”
“Um, iya.”
Hari ini untuk pertama kalinya teh yang dibuat oleh Shiraishi-san telah habis diminum. Kami membersihkan ruangan ini sebelum kami pulang. Aku membuang gelas kertas ini ke tong sampah dan meletakkan kembali kursi yang kuambil untuk para tamu tadi, sedangkan Shiraishi-san mencuci teko dan cangkir teh di keran air yang terdapat di lorong gedung lantai tiga ini.
Setelah semuanya selesai, Shiraishi-san mengunci pintu ruangan ini, dan kami pun berjalan meninggalkan Gedung Khusus ini.
Hari yang panjang tapi tidak seperti hari yang panjang saat berada di sekolah akhirnya berakhir. Kulangkahkan kakiku untuk meninggalkan sekolah ini. Berjalan di trotoar ditemani dengan cahaya senja yang sudah memberikan warna pada sore hari kota ini.
3
Pagi kembali datang dan aku pun berangkat ke sekolah. Hari ini, Jumat, adalah hari di mana turnamen Inter High dimulai. Pasti klub olahraga yang mengikuti turnamen ini sudah sangat menantikannya.
Saat tiba di sekolah, banyak murid-murid yang membicarakan tentang turnamen ini saat aku sedang mengganti sepatu di loker. Sepertinya olahraga sesuatu yang populer di sekolah ini, melihat banyak sekali murid yang antusias.
Setelah memakai uwabaki, aku langsung bergegas menuju kelasku yang berada di lantai dua. Suasa di lorong ini pun ramai.
Aku terus berjalan menuju kelas dan bertemu Fuyukawa-san di depan pintu kelas.
“Pagi, Amamiya-kun.”
“Ah, pagi, Fuyukawa-san.”
Pagi yang cerah dengan matahari bersinar terang dan sapaan beserta senyuman yang Fuyukawa-san berikan kepadaku sepertinya baru saja telah membuat hariku menjadi sangat indah. Sebuah awal yang indah.
“Oh iya, Fuyukawa-san, hari ini turnamennya, kan?”
“Iya. Pertandingannya dimulai pukul 5 sore.”
“Begitu ya… semangat ya. Aku dukung.”
“Makasih, Amamiya-kun.”
“Um… Ngomong-ngomong, sedang apa di depan kelas?”
“Ah, ngga ada, aku baru aja balik dari ruang klub.”
“Kalau gitu, ayo masuk. Sebentar lagi pelajaran mau dimulai.”
“Um, iya…”
Pada akhirnya aku masuk bersamaan dengan Fuyukawa-san ke dalam kelas.
Aku duduk di kursiku sambil melihat keadaan kelas ini dari sudut belakang kelas yang dapat melihat seluruh keadaan kelas 2-D ini secara jelas.
Keadaan kelas sebelum pelajaran dimulai memang ramai diisi dengan berbagai macam obrolan murid, walaupun sebagian besar membicarakan tentang turnamen nanti.
Murid dari kelas ini yang akan mengikuti turnamen Inter High dari kelas ini yang kutahu ada lima orang yaitu Nazuka-san dan Shimizu-san dari klub bola voli putri; Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Seto-san dari klub bola basket putri. Mereka berlima sudah datang dari tadi.
Kalau disuruh memiilih untuk menonton pertandingan tim bola voli putri atau tim bola basket putri, pasti aku memilih untuk menonton pertandingannya tim bola voli putri. Alasannya sederhana yaitu bola voli merupakan olahraga favoritku. Namun sekarang aku sedikit tertarik dengan olahraga bola basket sejak melihat pertandingan latihan tim bola basket putri melawan tim bola basket SMA Putri Akademi Nakano.
Pertandingan olahraga lain yang ingin kunonton yaitu sepakbola dan bisbol. Bisa dibilang itu semua olahraga favoritku sejak kecil. Sudah lama aku tidak bermain sepakbola dan bisbol karena kakiku patah karena kecelakaan itu. Memikirkan tentang olahraga ini membuatku ingin bermain. Aku ingin menangkap dan menendang bola, ingin menangkap, melempar, dan memukul bola bisbol. Pasti menyenangkan kalau bisa bermain lagi. Setidaknya sejak kembali ke sekolah ini, aku sudah bisa bermain bola voli. Sesuatu yang harus kusyukuri.
Tidak lama kemudian bel berbunyi, saatnya belajar. Hiratsuka-sensei sudah masuk ke kelas ini. Jam pelajaran pertama… oh iya, Bahasa Inggirs. Aku bahkan lupa jadwal pelajaran hari ini. Saatnya mengambil buku referensi di lokerku.
Pelajaran Bahasa Inggris bersama Hiratsuka-sensei terasa menyenangkan. Suasana kelas begitu nyaman saat bersama Hiratsuka-sensei. Pasti Hiratsuka-sensei bukan seorang guru biasa.
“…merupakan seorang maestro di dunia seni. Seniman dengan mata yang bagus sangat langka di Jepang. Saya ingin tahu apakah beliau memiliki sinestesia. Mengenai sinestesia… salah satu dari banyaknya istilah Bahasa Inggris datang dari kata dasar Bahasa Yunani. Kalian tidak pernah mendengarnya? Ini sebuah kondisi di mana indra kalian bisa bersilangan satu sama lain, seperti melihat musik sebagai warna. Amamiya-kun, sepertinya kamu mulai melamun.”
“Ah, maaf, Sensei…”
Tanpa sadar tadi aku mulai menatap ke sesuatu yang jauh, entah apa yang terpikirkan tadi hingga membuatku melamun. Ada sesuatu yang mengusik pikiranku.
“Baiklah, giliranmu. Kata dasar dari synesthesia adalah ‘syn’ dan ‘aisthesis.’ Apa arti dari kata-kata itu?”
“’Etto… ‘syn’ memiliki arti ‘together-bersama’ dan ‘aisthesis’ memiliki arti ‘senses-indra,” Sensei.”
“Bagus. Kamu sudah belajar, ya. Sayangnya, sinestesia merupakan sesuatu yang dimiliki sejak lahir. Kalian tidak bisa pelajari itu. Beberapa orang genius dalam sejarah pernah memiliki sinestesia. Kompser Franz Liszt pernah menginstruksikan orkestranya untuk memainkan warna ungu. Penyair Arthur Rimbaud juga dikatakan bisa melihat warna dalam huruf. Melihat warna dalam suara dan huruf, dan merasakan bentuk dalam rasa dan angka. Orang genius dan orang biasa melihat dunia dengan berbeda. Bisakah kalian memahaminya?”
“Ya, Sensei…”
Sinestesia, ya… sangat menarik.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya sudah memasuki waktu istirahat makan siang setelah pelajaran keempat selesai. Rasanya waktu berjalan begitu cepat ketika sedang menikmati sesuatu yang kita suka.
Saat tiba waktu istirahat makan siang, suasana kelas ini kembali ramai seperti terlepas dari rantai yang mengikat mereka saat jam pelajaran berlangsung tadi. Sungguh menarik melihat perubahannya dari belakang kelas.
Seperti biasa, Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Seto-san, mereka bertiga pergi makan siang bersama. Hal yang tidak biasa yaitu saat aku makan siang bersama mereka bertiga dan orang lain di kantin seperti kejadian di hari sesudah aku menceritakan tentangku kepada semua murid kelas 2-D. Ya, itu memang kejadian yang tidak biasa. Sedangkan Nazuka-san dan Shimizu-san selalu berdua, sang kapten dan wakil kapten tim bola voli putri. Kalau Moriyama-san, hm… aku tidak terlalu mengetahui tentangnya.
Baiklah, aku juga harus makan siang. Tentu saja di kantin sekolah yang menyajikan makanan yang enak, terlebih gratis karena aku memiliki silver pin sebagai perwakilan kelas.
Setelah keluar dari kelas dan berada di lorong, aku bertemu dengan Taka yang sepertinya hendak menemuiku di kelas.
“Yo Ryuki. Baru saja aku mau ke kelasmu. Ayo ke kantin.”
“Yo Taka. Ayo. Aku juga mau ke kantin.”
“Oke, ayo pergi.”
“Ya.”
Akhirnya aku ke kantin bersama Taka.
Setiba kami di kantin, kami langsung memesan makanan untuk makan siang kami, dan menuju meja makan yang kosong.
“Ah, Amamiya-kun.”
“Ah, iya. Halo Amamiya-kun, Hiroaki-kun.”
Aku dan Taka yang hendak berjalan ke meja makan yang kosong berpapasan dengan Namikawa-san dan Kayano-san yang juga sedang mencari meja makan.
“Halo, Namikawa-san, Kayano-san.”
“Ah, halo, Namikawa, Kayano. Kalian udah dapat meja?”
“Belum, nih.”
“Kalau gitu, ayo kita duduk di sana aja.” Taka menunjuk ke arah meja makan kosong yang berada di tengah bagian belakang kantin.
“Oke. Ayo, Sakura-chan. Sakura-chan?”
“Ah, iya, ayo, Chi-chan.”
Saat berjalan menuju meja makan yang ditunjuk oleh Taka tadi, aku bertanya ke Namikawa-san. Pertama kalinya kulihat dia melamun.
“Namikawa-san, kamu ngga apa-apa?”
“Ngga apa-apa, kok, Amamiya-kun. Cuma kepikiran sesuatu aja tadi.”
“Ah, begitu ya…”
Kami duduk di meja ini dengan posisiku berada di sebelah kiri Taka, di depanku ada Namikawa-san, di depan Taka ada Kayano-san.
“Ayo kita makan,” seru Taka.
“Itadakimasu,” kata kami berempat bersamaan dan mulai menyantap makan siang kami.
Seperti kebanyakan murid lainnya, kami menyantap makan siang sambil berbicara. Hanya berada bersama Shiraishi-san saat makan siang yang tidak memperbolehkan berbicara saat makan.
Ngomong-ngomong kali ini saat mencari meja makan yang kosong tadi, aku sama sekali tidak melihat Shiraishi-san. Mungkin dia makan siang di kantin hanya sesekali, tidak setiap hari seperti diriku.
“Oh iya, Ryuki. Gimana dengan Shiraishi-san?”
“Hm? Gimana apanya?”
“Kamu bilang waktu itu tertarik dengannya, kan?”
“Eh, beneran tu, Amamiya-kun?”
Kayano-san memang tipe orang yang penasaran. Dia menjadi sangat penasaran saat ada hal baru yang belum dia ketahui. Lagi-lagi karena ulah Taka yang asal berbicara tanpa mengingat tempat.
Sifat penasaran Taka dengan Kayano-san rasanya sangat cocok dalam menginvestigasi sesuatu. Saat ini mereka seperti sedang menginvestagasi diriku.
“Hee… Amamiya-kun tertarik dengan Shiraishi-san, ya…”
Namikawa-san yang biasanya terlihat tenang dengan nada bicaranya yang lembut untuk pertama kalinya nada bicaranya terkesan dingin dengan tatapan matanya ke arahku yang sedikit lebih tajam daripadanya.
“Maksudku, aku cuma ingin tau orangnya seperti apa karena kami kan satu klub. Bukan tertarik karena suka dengan Shiraishi. Bukan gitu.”
“Hm, gitu ya…” Shiraishi-san kembali normal seperti lega karena jawabnku.
“Mm, wajar sih kalau kamu tertarik dengan Shiraishi-san, Amamiya-kun. Dia orangnya sedikit misterius, kan?”
“Kayano-san… kamu ngerti, ya? Iya, Shiraishi-san orangnya misterius.”
“Hehe, aku ngerti, kok. Ya, Shiraishi-san udah gitu sejak kelas satu.”
“Gitu ya…”
“Jadi, gimana, Ryuki? Udah tau tentang, Shiraishi-san?”
“Ngga semudah itu. Aku aja jarang bicara dengan Shiraishi-san. Nada bicara dan tatapannya begitu dingin.”
“Mm… berarti cuma masalah waktu aja.”
“Hm… kamu benar, Taka.”
Kalau diingat-ingat, Taka memanggil semua orang tanpa imbuhan “san” ataupun “kun” pada orang lain. Seperti saat berbicara denganku saat pertama kali bertemu, dia langsung mencoba memanggilku dengan “Ryuki” dan memanggil Namikawa-san dan Kayano-san tanpa memakai “san.” Hanya nama Shiraishi-san yang dia pakai akhiran “san.” Berarti dia memang tidak pernah punya hubungan apapun dengan Shiraishi-san.
“Ah, iya, Namikawa. Kamu sudah ketemu dengan orang yang kamu kagumi itu?”
Lihat. Rasa penasaran Taka sama seperti Kayano-san.
“Taka… lagi-lagi kamu nanyain langsung tanpa mikir-mikir, ya…”
“Aku kan penasaran. Memangnya kamu ngga penasaran, Ryuki?”
“Um, ya, sedikit.”
Ya, akan menjadi bohong kalau aku mengatakan tidak penasaran tentang itu.
“Nah, kan… jadi, gimana Namikawa?”
“Mungkin sudah lama aku ketemu dengan orangnya.”
“Hee… Syukurlah.”
“Syukurlah. Semoga kamu bisa bicara langsung dengan orang itu, Namikawa-san.”
“Ah, um, iya…” Namikawa-san tersenyum.
“Udah, udah… ayo kita makan dulu sebelum makanannya jadi dingin.” Kayano-san seperti ingin mengalihkan pembicaraan ini.
“Benar juga.”
“Um, iya. Ayo makan lagi.”
Taka dan diriku menghentikan pembicaraan tentang orang yang dikagumi oleh Namikawa-san.
Tangan kami terus bergerak menggerakkan sumpit untuk memasukkan makanan ke dalam mulut kami dan mulut kami hanya mengunyah makanan itu. Tidak ada pertukaran frasa lagi saat kami sedang makan. Dan akhirnya, kami semua selesai memakan makan siang kami. Gochisousama deshita.
“Makanan kantin ini selalu lezat, ya…” seru Taka kepada kami.
“Kamu benar, Taka.”
“Ryuki, kamu enak banget bisa gratis makan di kantin.”
“Ahaha… ya, aku kan perwakilan kelas.”
“Amamiya-kun, kamu selalu makan siang di kantin?”
“Iya, Kayano-san. Setidaknya aku bisa hemat pengeluaran uang.”
“Mm… iya, ya.”
“Oh iya, Ryuki, kamu ngga niat cari kerja sambilan?”
“Ada, sih… cuma belum sempat cari.”
“Coba aja cari di Shibuchika.”
“Ya, nanti.”
“Ah, ngomong-ngomong, udah tentuin tempat untuk studi sosial nanti?”
“Belum.”
“Belum juga.”
“Sama.”
Kayano-san, Namikawa-san, dan diriku ternyata masih belum menentukan tempat untuk studi sosial nanti. Bagaimana dengan Taka?
“Gitu ya… yah, lagian aku juga belum, sih.”
Sudah kuduga.
“Mm, lagian masih ada waktu untuk mikir tempatnya.”
“Kamu benar, Ryuki.”
“Amamiya-kun, kamu ingin pergi ke tempat seperti apa?”
“Mm… aku belum tau juga, Kayano-san. Mungkin aku ikut anak kelas aja.”
“Itu pilihan terakhir, Ryuki.”
Pembicaraan kami terus berlanjut entah ke mana yang pada akhirnya membuatku menjadi diam karena tidak bisa mengikuti pembicaraannya. Mungkin lebih tepatnya kalau aku tidak terlalu ingin berbicara karena memikirkan hal apa yang mengusik pikiranku tadi.
Sebelum waktu istirahat makan siang berakhir, kami kembali ke kelas masing-masing. Saat keluar dari kantin, sudah beberapa hari kulihat kalau murid-murid sudah tidak terlalu memikirkan tentang kehadiranku. Mereka hanya mengabaikan sesuatu yang tidak mereka kenal. Mungkin ini yang terbaik. Tapi, beda halnya jika ada Fuyukawa-san, Namikawa-san, dan Taka di dekat diriku. Perhatian mereka seperti ditarik karena kehadiran ketiga orang itu. Aku jadi semakin penasaran dengan perkataan Taka waktu itu.
Siapa sebenarnya Namikawa-san?
4
Setelah jam pelajaran ketujuh selesai, bel berbunyi, dan sekolah pun berakhir. Murid yang mengikuti turnamen nanti mulai meninggalkan kelas tepat setelah guru keluar. Aku hanya mengatakan ganbatte kepada Fuyukawa-san sebelum dia keluar tadi.
Akhirnya turnamen mereka dimulai. Aku hanya bisa berharap timnya Fuyukawa-san dan Nazuka-san bisa menang di pertandingan pertama hari ini. Baiklah, saatnya menuju ke ruang klub.
Memasuki ruang klub yang sudah tidak asing lagi bagi diriku, Shiraishi-san sudah duduk di kursinya dengan secangkir teh di mejanya dan buku di tangannya.
“Halo, Shiraishi-san.”
Seperti biasa, aku menyapanya saat masuk ke ruangan ini. Sepertinya sudah menjadi kebiasaanku saat masuk ke ruangan ini untuk selalu menyapa dirinya.
Shiraishi-san melihat ke arahku, lalu mengatakan, “Halo.” Nada bicara datar yang sama. Ya, seperti itulah Shiraishi-san.
Aku langsung duduk di kursiku dan mulai melanjutkan bacaanku tentang Ishikawa Goemon. Saatnya menenggelamkan kesadaran ke dalam dunia sastra. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang sambil menunggu seseorang yang datang mengunjungi klub ini untuk meminta bantuan ataupun saran.
Suasana ruangan yang sunyi membuat kegiatan membaca menjadi sangat nyaman. Aku tidak tahu sudah berapa lama sejak mulai membaca buku ini kembali. Saat mulai merasa haus karena turunnya kadar air di dalam tubuh, barulah aku berhenti membaca dan beranjak dari tempatku menuju meja peralatan teh. Kutuangkan teh ke dalam satu gelas kertas yang masih banyak tersedia ini, walaupun ada satu cangkir dari set peralatan teh ini yang masih belum digunakan.
“Ehem… ehem…” Terdengar seperti Shiraishi-san yang sedang membersihkan tenggorokannya.
Aku menghiraukannya dan kembali ke kursiku untuk membaca.
“Ehem… ehem…” Shiraishi-san melakukannya lagi.
Sekilas, aku memaliingkan pandanganku dari buku yang kubaca ini ke arah Shiraishi-san. Padahal sedang berada di bagian yang seru dari buku ini. Saat kulihat ke arahnya, dia juga melihat ke arahku sehingga mata kami pun bertemu.
Apa “ehem-ehem” tadi merupakan cara Shiraishi-san memanggil diriku? Aku juga punya nama seperti orang lainnya, wahai Shiraishi-san.
“Ada apa, Shiraishi-san?” Aku mulai membuka pembicaraan karena wajahnya tampak seperti kebingungan.
“Sepertinya hari ini turnamennya dimulai.”
“Ah, iya. Fuyukawa-san dari tim basket putri bilang kalau pertandingan pertama dimulai pukul 5 sore. Kemungkinan untuk tim voli putri juga sama.”
“Begitu ya…”
“Um, ya, gitu…”
“Apa kamu tidak ingin datang untuk menonton?”
“Menonton siapa?”
“Tim voli putri.”
“Tentu saja ingin, tapi…”
“Tapi?”
“Ya… aku kan ada kegiatan klub hari ini di sini. Lagian aku ngga tau di mana pertandingannya diadakan.”
“Apa kamu tidak penasaran dengan pertandingan pertama mereka?”
“Jadi bohong kalau aku bilang ngga penasaran.”
Ah… mungkin aku melamun saat pelajaran Bahasa Inggris tadi karena penasaran dengan pertandingan pertama tim bola voli putri. Apakah mereka bisa menang atau tidak. Pasti karena itu.
“Semoga saja mereka bisa meraih kemenangan di pertandingan pertama hari ini. Kamu sudah melatih mereka dengan baik, walaupun hanya sebentar.”
“Ah, um, kamu benar, Shiraishi-san. Semoga aja.”
“Dengan begitu, kamu bisa berkencan dengan manajer mereka.”
“Eh, itu? Itu kan bukan kencan, cuma nemanin Taniguchi-san belanja.”
“Benarkah seperti itu?”
“Ya, benar…”
“…”
Shiraishi-san tidak lagi menjawab dan memalingkan pandangannya kembali ke arah bukunya. Sekilas saat memalingkan padangannya ke buku, dia seperti tersenyum. Apa imajinasiku saja?
Aku pun kembali ke buku yang sedang kubaca. Jumlah halaman yang belum dibaca hanya tinggal sedikit lagi. Hari ini pasti akan kuselesaikan membaca buku ini.
Mengenai hasil pertandingan pertama tim bola voli putri, mungkin nanti Nazuka-san atau Shimizu-san atau Taniguchi-san yang akan mengabariku. Sekarang aku hanya bisa berdoda dan menunggu.
Waktu terus berjalan. Detik menjadi menit, menit menjadi jam. Buku ini pun akhirnya selesai kubaca. Kulihat jam di ponselku, ternyata sudah menunjukkan pukul 17:35. Masih ada waktu sebelum perpustakaan dan sekolah ditutup.
“Sepertinya hari ini tidak ada yang datang. Mari kita cukupkan kegiatan kita untuk hari ini.”
“Ah, um, kamu benar.”
Di saat aku ingin pamit pulang duluan, Shiraishi-san mengakhiri kegiatan klub untuk hari ini. Timing yang sangat pas. Aku membantu dirinya merapikan tempat ini dan menutup kembali jendela yang ternyata terbuka. Setelah itu, kami keluar dan Shiraishi-san mengunci pintu ruangan ini.
“Sampai jumpa, Shiraishi-san.”
“Selamat tinggal.”
Setelah mengatakan selamat tinggal di depan ruang klub, aku bergegas menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku. Setelah melewati koridor penghubung antar gedung, aku tiba di perpustakaan. Syukurlah masih dibuka. Baiklah, ayo masuk.
Di perpustakaan pada jam sore hari memang terlihat banyak orang yang membaca dan belajar. Banyak di antara mereka semua merupakan murid kelas tiga. Aku langsung menuju ke konter pustakawan untuk mengembalikan buku ini. Di balik konter ada seorang yang kukenal. Dia adalah Namikawa-san. Ternyata dia sudah melihat ke arahku saat aku masuk tadi.
“Halo, Amamiya-kun. Ada apa?”
“Ah, ini, aku mau kembalikan buku ini.” Kukeluarkan buku dari dalam tasku.
“Um… makasih.” Namikawa-san telah menerimanya.
“Iya, sama-sama. Kalau gitu, aku pulang dulu.”
“Ano, Amamiya-kun…”
“Ya?”
“Mau pulang bareng?”
“Ah, um, boleh. Kalau gitu, aku liat-liat buku dulu.”
“Ya.” Namikawa-san tersenyum gembira.
Secara otomatis aku pun ikut tersenyum saat melihat senyuman yang indah di wajahnya itu.
Masih ada waktu sekitar 10 menit sebelum perpustakaan dan sekolah ditutup. Aku melihat-lihat buku di rak tapi tidak dapat suatu buku yang menarik perhatianku. 10 menit terlalu sedikit untuk melihat-lihat buku.
Saat aku sedang kebingungan, Namikawa-san menghampiri diriku.
“Amamiya-kun?”
“Ah, Namikawa-san. Pulang sekarang?”
“Iya.”
“Yuk.”
Akhirnya aku meninggalkan perpustakaan bersama Namikawa-san. Kami pun meninggalkan sekolah untuk pulang.
Di perjalanan, kami tidak terlalu banyak berbicara. Aku tidak tahu harus berbicara tentang apa, begitu juga Namikawa-san. Di saat seperti inilah harus ada sesuatu yang bisa membuat sesuana menjadi hidup.
Di perjalanan sepulang sekolah bersama seorang gadis. Situasi seperti ini sebelumnya juga pernah. Ini merupakan kali kedua bagi kami pulang bersama.
Mengingat kembali saat pertama kali bertemu Namikawa-san di kafe yang ada di kawasan belanja setelah pulang sekolah di hari pertamaku di sekolah ini, rasanya sudah banyak hal yang terjadi. Hubunganku dengan Namikawa-san sudah seperti seorang teman. Tapi, ada satu hal yang belum kumiliki dari dirinya.
“Ano, Namikawa-san.”
“Iya?”
“Mau tukaran nomor ponsel dan ID chat?”
Namikawa-san menghentikan langkahnya dan terdiam. Eh, apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?
“Namikawa-san?”
“Ah, um, boleh, kok. Lagian aku juga mau nanyain itu.”
“Wah, kebetulan, ya…”
“Iya…” Namikawa-san tersenyum.
Kami pun menukar nomor ponsel dan ID chat milik kami masing-masing. Akhirnya, satu kontak baru terdaftar di ponselku ini dengan nama Namikawa Sakura-san.
“Makasih ya, Namikawa-san.”
“Iya, sama-sama.”
Kami melanjutkan perjalanan kami. Setelah melewati taman, kami mengatakan selamat tinggal, lalu berpisah karena arah pulang kami yang berbeda.
Tadaima.
Sesampai di apartemen, aku menghidupkan lampu kamar dan langsung tiduran di tempat tidur. Pikiranku penuh dengan rasa penasaran tentang hasil pertandingan tim bola voli putri. Memikirkannya pun tidak ada gunanya. Saatnya siap-siap untuk memasak makan malam.
Saat melihat isi kulkas, ada beberapa bahan makanan yang sudah habis. Karena beberapa hari kemarin sempat tidak fit, aku tidak berbelanja. Untuk makan malam hari ini buat apa saja yang bisa kubuat. Lagian besok hari Sabtu, sekolah libur. Saatnya belanja besok malam saat waktu diskon.
Setelah masak, makan, dan membersihkan dapur, saatnya mandi. Tetap saja pikiranku masih terisi dengan tim bola voli putri. Bahkan sampai terpikirkan saat mandi.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian, aku keluar ke beranda untuk melihat suasana lingkungan tempat tinggalku sambil menghirup udara malam dengan ponsel di tanganku, menantikan kabar dari Nazuka-san atau Shimizu-san ataupun Taniguchi-san.
Waktu terus mengalir secara perlahan tapi pasti. Malam semakin larut dan mataku mulai terasa berat dan semakin berat. Angin malam yang berhembus semakin dingin. Pada akhirnya aku kembali masuk kamar, lalu mengunci pintu ke beranda. Sepertinya kabar dari mereka bertiga tidak akan tiba. Lagi pula, mereka pasti kelelahan sehingga tidak ada waktu untuk mengirimi diriku pesan. Semoga saja tidak ada yang cedera.
Kumatikan lampu sehingga hanya ada kegelapan di kamar ini. Kutarik selimut dan kupejamkan mataku.
Oyasumi…