Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 17



1


Kebenaran merupakan suatu hal yang diinginkan oleh semua orang. Semua orang ingin mengetahui kebenaran apa yang ada di sekitar mereka. Kebenaran yang baik dan kebenaran yang buruk. Tidak peduli apa pun itu, semua orang ingin mengetahuinya.



Bagiku, kebenaran tentang gadis yang kutolong waktu itu masih menjadi tanda tanya besar. Pihak sekolah mungkin mengetahui sesuatu, tapi tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Sedangkan Taka mengatakan kalau dia tidak tahu siapa gadis itu. Namun, pada akhirnya, kebenaran tentang hal itu terungkap dengan sendirinya.



Sehabis pulang dari trip studi sosial, kulihat kumpulan orang yang tidak biasa bersama di perkarangan depan Gedung Utama dan mendengar sesuatu yang mengagetkanku.



Apa yang ditanya Namikawa-san kepada Fuyukawa-san membuatku penasaran.



Aku berhenti melangkah ke arah mereka, terdiam, dan hanya bisa memperhatikan mereka dari jarak yang bisa membuatku mendengar percakapan mereka..



“A-apa maksudmu, Namikawa-san?”



“Sumire-chan dan Izumi-chan sudah memberitahukanku semuanya.”



“Shimizu-san dan Nazuka-san?”



“Ya. Aku yang memberitahukannya kepada Sakura.”



“Salah satu anggota klub voli kami melihat langsung saat kecelakaan itu terjadi.”



Ternyata Namikawa-san dan Kayano-san berteman dengan Nazuka-san, Shimizu-san, dan Taniguchi-san. Apa ini yang Taka maksud kalau aku hebat karena bisa berteman dengan Namikawa-san?



“Benar, kan, Fuyukawa-san?”



“Tunggu dulu. Kenapa kalian percaya dengan orang itu? Apa dia punya bukti kalau Yukina adalah gadis yang diselamatkan Ryuki?”



Yukina? Taka memanggil Fuyukawa-san dengan namanya? Oh iya, dia pernah bilang kalau pernah sekelas dengan Fuyukawa-san. Hubungan apa yang ada di antara mereka berdua? Sepertinya mereka berdua memang dekat.



“Hiroaki-kun, kamu temannya Amamiya-kun, kan? Kenapa kamu nggak bilang hal sebenarnya?”



“Hal apa yang kamu maksud, Taniguchi?”



“Gadis yang diselamatkan Amamiya-kun adalah Fuyukawa-san. Kenapa kamu nggak jujur ke Amamiya-kun?”



“…”



“Kenapa diam?”



“Fuyukawa-san, gadis itu kamu, kan?” Namikawa-san kembali bertanya.



“Iya. Akulah gadis yang ditolongnya waktu itu. Akulah yang membuatnya tertabrak.”



Apa yang baru saja kudengar dari mulutnya Fuyukawa-san? Apakah ini kebenarannya?



“Ah, Amamiya-kun.” Kayano-san menyebut namaku saat dia menyadari kalau aku berada di dekat mereka.



Fuyukawa-san mengubah arah pandangannya ke arahku. Mata kami bertemu sehingga membuat dia terkejut.



“Amamiya-kun… kamu mendengarnya?” tanya Fuyukawa-san dengan ekspresi terkejut.



“Taka, kenapa kamu nggak jujur aja ke aku?”



“Ryuki… Aku…”



Entah kenapa aku mulai bertanya kepada Taka terlebih dulu.



“Hah…” aku mengembuskan napas, lalu melanjutkan. “Kukira kamu orang yang jujur dan bisa kupercaya. Kamu dapat nomor ponselku pasti dari Fuyukawa-san, kan? Kalau kuingat lagi sejak kamu menghampiriku dulu, kamu bilang nggak tahu siapa gadis yang kutolong itu.”



“Eng… Ryuki, sebenarnya…”



“Fuyukawa-san, kenapa kamu nggak bilang ke aku kalau kamu lah gadis yang kutolong waktu itu?” Tanpa mendengar jawaban dari Taka, aku bertanya ke Fuyukawa-san.



“Aku…”



“Kenapa? Kenapa kamu nggak bilang?” Aku bertanya dengan suara yang pelan sehingga membuat murid lain yang masih berada di sekitar sini tidak mendengarkannya.



“A-aku…”



“Kenapa? Tolong jawab aku.”



“Amamiya…” tiba-tiba Mizuno-san memanggilku.



“Ssttt. Bisa kamu diam dulu, Mizuno-san? Aku nggak tanya ke kamu. Aku tanya ke Fuyukawa-san sekarang,” kataku sambil meletakkan jari telunjuk di depan mulutku.



Aku tidak tahu bagaimana ekspresiku saat ini, tapi ada satu hal yang jelas. Perasaanku saat ini rasanya sangat berbeda daripada biasanya. Dadaku sedikit terasa sesak, dan bahkan sulit untuk bernapas.



Saat aku menginginkan jawaban langsung dari mulut Fuyukawa-san, dia justru pergi meninggalkan tempat ini dengan berlari.



“Fuyukawa-san!!!” Aku meneriaki namanya.



“Yukina, tunggu!”



Fuyukawa-san terus berlari, melewati gerbang sekolah hingga tidak terlihat lagi.



“Oi, Ryuki. Kenapa kamu mendesaknya sepeti itu?”



“Ha?”



Terdengar suara tamparan dan tiba-tiba pipi kiriku terasa sakit. Seseorang baru saja menamparku dan orang yang melakukannya adalah Mizuno-san. Ini pertama kalinya aku ditampar oleh seseorang.



“Amamiya, dengar. Yukina nggak bisa bilang hal sebenarnya pasti karena dia takut. Waktu itu kamu dengar juga saat kita makan siang bersama, kan?”



Ah, sepertinya Fuyukawa-san bilang seperti itu.



Mizuno-san melanjutkan, “Dia takut kalau kamu tahu hal sebenarnya, kamu akan membencinya.”



“Ryuki… Aku nggak bisa kasih tahu ke kamu karena Aku sudah berjanji dengan Yu- Fuyukawa.”



“Janji?”



“Iya. Dia memintaku jangan ceritakan hal ini ke kamu. Dia ingin mengatakannya langsung ke kamu. Maafkan aku karena sudah membohongimu dan memang benar kalau Aku dapat nomor ponselmu dari dia.”



“Begitu, ya.”



Awan yang ada di atas kami perlahan-lahan mulai menjatuhkan tetesan air.



“Oh iya, Aku baru tahu kalau Namikawa-san dan Kayano-san berteman dengan Shimizu-san, Nazuka-san, dan Taniguchi-san.”



“Apa itu yang harus kamu katakan, Amamiya?”



“Apa maksudmu, Seto-san?”



“Ryuki, ada hal yang harus kamu lakukan sekarang.”



“Amamiya, kamu nggak sadar?”



“Kali ini apa, Mizuno-san?”



“Kejar Yukina. Sekarang!”



“Kenapa?”



“Apa kamu nggak sadar kalau semua yang Yukina lakukan ke kamu merupakan caranya untuk meminta maaf dan sebagai cara menebus kesalahannya padamu?”



“Ha? Dia bahkan nggak bilang ‘aku minta maaf’ ataupun ‘terima kasih’ ke aku.”



“Oi, Ryuki. Buka pikiranmu. Fuyukawa melakukan semua ini untuk bisa dekat denganmu. Dia ingin mengenalmu, memahamimu, melakukan semuanya demi membayar rasa bersalahnya karena membuatmu tertabrak waktu itu.”



“…” Aku terdiam karena apa yang dikatakan Mizuno-san dan Taka adalah hal yang benar.



Waktu pertama kali tiba di sekolah ini di tahun keduaku, ada seorang gadis dengan senyuman manis di wajahnya mengajakku berbicara di loker sepatu. Di aula sekolah saat upacara pembukaan semester dan penyambutan murid baru, gadis itu mengajakku berbicara dan memperkenalkan namanya, Fuyukawa Yukina-san. Dia juga merekomendasikanku sebagai perwakilan murid laki-laki untuk kelas 2-D. Dia tidak khawatir terhadap bagaimana orang menganggapku, bahkan dia hampir bertengkar dengan temannya sendiri.



Saat dia mengatakan ingin menjadi temanku, betapa senangnya hatiku saat itu karena aku juga menginginkan hal yang sama. Dia orang yang berharga bagiku di sekolah ini. Aku ingin terus berteman dengannya, menjalankan tugas perwakilan kelas bersama dengannya, dan lain sebagainya. Aku tidak ingin hubungan kami berakhir di sini.



Mungkin… akulah yang terburuk.



Dari awal, aku tahu kalau aku tidak akan bisa membencinya, tapi ada apa dengan sikapku tadi? Rasanya seperti bukan diriku yang sebenarnya. Apakah ini yang disebut dengan “persona”?



Kukepal tangan kananku dan kuarahkan sebuah pukulan ke arah pipi kananku. Rasanya sakit, tapi ini tidak lebih sakit dari apa yang dirasakan Fuyukawa-san.



“Amamiya-kun, apa yang kamu lakukan?”



“Tenang saja, Namikawa-san. Aku hanya memukul seorang idiot. Terima kasih semuanya, aku pergi dulu.”



Tanpa mendegar satu pun jawaban dari mereka, aku langsung berlari meninggalkan sekolah untuk mencari Fuyukwa-san. Dia seharusnya masih berada di sekitar sini.



Aku berlari di sepanjang Sungai Meguro melihat seorang gadis yang sedang berlari juga dari kejauhan. Sepertinya itu Fuyukawa-san.



Kukejar dia dari belakang dan saat mulai mendekat kuteriakkan nama seseorang, “Fuyukawa-san, tunggu.”



Gadis yang berlari itu berhenti dan melihat ke arah belakang. Ternyata benar gadis itu adalah Fuyukawa-san. Dia yang menyadari kalau aku sedang mengejarnya kembali berlari dari kejaranku. Dia berlari semakin kencang tanpa adanya rasa lelah yang memperlambat larinya. Wajar saja, dia anggota klub bola basket.



“Fuyukawa-san, tunggu!!!”



Dia sama sekali tidak menoleh ke arahku yang berlari di belakangnya.



Aku hanya bisa terus berlari sambil terus memanggil namanya dan dia sama sekali tidak mau berhenti. Kupanggil lagi dan dia tidak menoleh ke belakang. Lagi dan lagi, hasilnya tetap sama.



Kami sekarang sudah berada di pinggir Sungai Meguro, tempat di mana kami melihat bunga sakura setelah kami mengatakan keinginan kami untuk berteman. Kejadian di hari itu masih lekat di ingatanku.



Perlahan tapi pasti, aku mendekatinya. Sepertinya kakiku yang pernah patah karena kecelakaan itu sudah pulih sempurna 100%. Aku bisa dash ke arahnya.



Saat jarak di antara kami semakin menipis, kupanggil namanya lagi. “Fuyukawa-san, tunggu!”



Dia tetap saja tidak berhenti.



Apa yang harus kukatakan kepadanya saat ini agar dia mau untuk berhenti?



Saat aku melewati tempat di mana kami melihat bunga sakura saat itu, sesuatu muncul di kepalaku. Mungkin, inilah yang bisa kukatakan untuk membuatnya berhenti.



Sekuat tenanga kuteriakkan namanya.



“YUKINA-SAN!!!”



Tiba-tiba dia berhenti.



“Tunggu aku, Fuyukawa-san,” kataku sambil mengatur pernapasanku dengan menghela dan mengembuskan napas.



“Kenapa kamu mengejarku?” Fuyukawa-san menjawab pertanyaanku tanpa berbalik.



“Ah-ah… tentu saja, ah… karena kamu lari, Fuyukawa-san.” Setelah napasku kembali normal, aku melanjutkan. “Kenapa kamu lari?”



“Aku takut.”



“Takut kenapa?”



“Aku takut untuk berhadapan denganmu, Amamiya-kun.”



“Kenapa?”



“Aku sudah membohongimu. Aku nggak bilang apa-apa kepadamu karena sudah menolongku saat itu. Aku nggak bilang ‘terima kasih.’ Pasti kamu membenciku sekarang, kan? Sudah, tinggalkan saja aku sendirian. Aku bukan gadis baik seperti kamu pikirkan. Aku…”



“Fuyukawa-san, berbaliklah. Kumohon.”



Akhirnya dia berbalik dan aku bisa melihat wajahnya. Saat mata kami bertemu, dia langsung menundukkan pandangannya yang membuatku tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya sekarang. Namun, saat dia berbalik tadi, terlihat jelas kalau dia sangat sedih dan air matanya jatuh membasahi pipinya.



Tanpa pikir panjang, aku langsung memeluknya.



“Aku nggak akan membencimu, Fuyukawa-san.”



“Amamiya-kun?”



“Aku tahu kamu pasti punya alasan kenapa kamu nggak bisa bilang ke aku kalau kamu lah gadis yang kutolong. Pasti kamu merasa ketakukan tentang hal yang akan terjadi saat kamu mengatakan hal itu. Ditambah lagi rasa bersalahmu yang besar karena membuatku tertabrak saat itu. itu semua karena kamu orang yang baik, Fuyukawa-san. Aku nggak menyesal atas tindakanku saat itu karena itu adalah tindakan yang benar. Mungkin… Aku akan menyesal jika nggak menolongmu waktu itu. karena itu, Aku hanya ingin satu hal.”



“Apa itu?”



“Ucapkan ‘terima kasih’ kepadaku.”



“Amamiya-kun, terima kasih karena sudah menolongku waktu itu. Terima kasih, Amamiya-kun. Terima kasih…”



Suara tangisan mulai terdengar jelas. Fuyukawa-san tidak sanggup membendung rasa sedihnya lagi, sehingga dia mulai menangis di bahuku.



“Aku senang kalau gadis yang kutolong itu sangat sehat sekarang.”



“Aku sangat ketakukan saat melihatmu terbaring di jalan dan keluar darah di kepalamu. Aku sangat ketakutan juga untuk menjengukmu di rumah sakit dan untuk mengatakan terima kasih. Tapi… ada ketakukan yang lebih besar yaitu Aku nggak bisa bertemu denganmu lagi saat kutahu kalau kamu sudah dipindahkan ke Nagano. Maafkan aku karena sudah membohongimu. Maafkan aku.” Isak tangisnya mengiringi perkataan yang diucapkannya.



“Sekarang nggak ada yang perlu kamu takutkan lagi. Aku juga minta maaf, Fuyukawa-san.”



“Eh?”



“Aku seharusnya nggak mengatakan hal seperti tadi. Aku seharusnya nggak mendesakmu. Pikiranku tadi sangatlah kacau karena tiba-tiba dadaku terasa sesak. Tapi… Aku sadar kalau kehadiranmu sangat berharga bagiku. Aku nggak mau hubungan kita hancur. Aku ingin terus bersama denganmu. Sebagai temanmu. Bukannya waktu kita sudah mengatakan kemauan kita masing-masing untuk menjadi teman? Aku nggak mau hal itu hancur.”



“Um. Maaf, Amamiya-kun. Dan juga terima kasih.”



“Um, ya.”



Aku masih terus memeluk Fuyukawa-san. Sudah berapa lama waktu berlalu dalam keadaan seperti ini, aku tidak tahu.



Saat ingin melepas pelukanku kepadanya, tiba-tiba kedua tangannya menyentuh punggungku. Dia membalas pelukanku dengan memelukku juga.



“Aku bersyukur bisa bertemu denganmu lagi. Terima kasih sudah kembali. Akhirnya… Aku bisa mengatakan semuanya. Semua yang kupendam lebih dari setahun.”



“Aku juga bersyukur karena akhirnya kamu mengatakannya.”



Kami tidak tahu sudah berapa lama kami saling berpelukan. Aku tidak bisa melepaskan pelukannya begitu saja karena dia masih menangis. Isak tangisnya masih terdengar jelas.



“Sudah… jangan nangis lagi. Ayo kita pulang sebelum hujannya menjadi deras.”



“Um. Ayo pulang.”



Aku melepas pelukanku dan Fuyukawa-san juga. Dia mengelap air mata yang jatuh membasahi pipinya dengan lengan seragam sekolahnya yang panjang itu. Setelah air mata yang ada di wajahnya hilang, kami berjalan untuk pulang.




2


Terkadang hujan tidak begitu baik. Hujan tiba-tiba turun dengan deras sebelum kami tiba di rumah masing-masing. Karena sudah dekat dengan apartemenku, aku mengusulkan Fuyukawa-san untuk berteduh di sana. Dia tidak menolaknya.



Kami tiba di apartemenku, di kamarku, dengan keadaan setengah basah. Lain kali, aku harus memeriksa prediksi cuaca untuk hari esok dan selanjutnya.



“Kita jadi basah, ya.”



“Iya.”



“Biar kubawa pakaian ganti. Fuyukawa-san ke kamar mandi saja dulu.”



“Um.”



Tubuh Fuyukawa-san terbilang tinggi untuk seorang gadis. Oleh karena itu, pakaianku pasti muat untuk dia pakai.



Aku mengambil baju kaus dan celana olahraga untuk dia pakai, juga handuk. Tak lupa juga plastik untuk memasukkan pakaian basahnya untuk dibawa pulang. Kuketuk pintu kamar mandi untuk memberikan ini padanya. “Fuyukawa-san, ini pakaiannya.”



Dia membuka sedikit pintu kamar mandi. Dia menampakkan sedikit wajahnya di balik pintu dan menjulurkan tangan kirinya.



“Makasih, Amamiya-kun.”



“Iya, sama-sama.”



“Oh iya, Amamiya-kun. Satu hal lagi.”



“Hm?”



“Jangan ngintip, ya.”



“Tentu saja nggak. Cepat pakai pakaiannya. Aku juga mau ganti pakaian.”



“Kawaii,” kata Fuyukawa-san dengan suara yang kecil.



“Eh? Apa?”



“Nggak ada apa-apa.”



Dia tersenyum, lalu menutup pintunya.



Kalau kuingat lagi, ini pertama kalinya aku bersama seorang gadis di kamar ini. Minggu lalu, aku bersama tiga orang gadis, sedangkan hari ini hanya seorang gadis.



Tidak apa-apa. Tidak akan terjadi hal apa-apa.



Dia keluar dengan memakai pakaian yang kuberikan dan terlihat sangat pas dengan tubuhnya.



Baiklah, sekarang giliranku untuk mengganti pakaian. Bisa saja aku terkena demam kalau seperti ini terus.



Aku menyuruhnya duduk di ruang tengah kamar ini selagi aku mengganti pakaian di kamar mandi.



Setelah mengganti pakaian, aku mengecek tasku. Untung saja tas ini anti air, sehingga isi di dalam tasku tidak basah. SMA Keiyou memang luar biasa.



Fuyukawa-san duduk di dekat meja sambil menundukkan pandangannya. Sepertinya masih ada hal yang dipikirkan olehnya.



Aku menuju dapur untuk membuat teh. Dia sebagai tamu sekarang, sudah seharusnya aku memberikannya minum. Setidaknya teh ini dapat menghangatkan tubuhnya sedikit.



Kuletakkan dua gelas teh di atas meja, lalu aku duduk di seberangnya.



“Fuyukawa-san, silakan minum tehnya.”



“Makasih, Amamiya-kun.”



“Um.”



Dia mulai meminum tehnya dan aku juga melakukan hal yang sama.



Suara hujan yang deras menghiasi kamar ini. Tidak ada percakapan yang terjadi saat kami sedang minum teh. Aku sendiri tidak tahu harus mengatakan apa lagi setelah apa yang sudah terjadi tadi. Ah, kalau kuingat lagi, aku baru saja melakukan sesuatu yang memalukan. Apa seharusnya aku harus memeluknya tadi? Memegang tangannya agar tidak lari juga salah satu pilihan. Aaah… aku baru saja melakukan hal yang memalukan.



Bagaimana dengan Fuyukawa-san sendiri? Sepertinya dia tidak merasa keberatan tadi. Apa memeluknya tadi merupakan pilihan yang tepat? Lebih baik aku meminta maaf karena sudah memeluknya.



“Eng… Fuyukawa-san.”



“Ya, Amamiya-kun?”



“Begini… maaf tadi Aku langsung memelukmu. Kamu pasti terkejut, kan? Tiba-tiba ada orang memelukmu.”



“Ah, um… nggak apa-apa.”



“Syukurlah.”



“Malahan Aku senang karena kamu peluk,” katanya dengan suara yang sangat pelan.



“Hm? Kamu bilang apa?” Suara hujan yang deras ini membuatku tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya.



“Ah, bukan apa-apa.”



“Oh. Begitu, ya.”



“Ngomong-ngomong, Amamiya-kun, apa kamu tahu siapa yang menabrakmu waktu itu?”



“Ah… Aku baru saja mau tanya itu padamu, Fuyukawa-san.”



“Jadi kamu nggak tahu, ya?”



“Iya. Kamu tahu, Fuyukawa-san?”



“Maaf, Aku juga nggak tahu.”



“Beneran?”



“Iya. Waktu itu, Aku nggak bisa lihat wajahnya. Tapi… pemilik mobil limosin saat itu pasti murid SMA Keiyou, sama seperti kita.”



“Kenapa kamu bisa pikir seperti itu?”



“Aku lihat orang yang keluar dari mobil itu. Seorang gadis yang memakai seragam sekolah yang sama seperti kita.”



“Begitu, ya.”



“Saat di rumah sakit, Amamiya-kun nggak ketemu dengan orangnya?”



“Nggak. Yang kutahu biaya perawatan rumah sakit sudah ditanggung oleh orang yang menabrakku itu.”



“Begitu, ya.”



“Um...”



“Oh iya, Amamiya-kun, kalau kamu ketemu dengan gadis pemilik mobil itu, gimana sikapmu nanti?”



“Gimana, ya? Aku nggak tahu pasti.”



“Begitu, ya. Sepertinya akan sama seperti tadi,” kata Fuyukawa-san dengan suara yang pelan. Lagi-lagi aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya karena hujan yang masih terus mengguyur.



“Oh iya, satu lagi.”



“Hm?”



“Kenapa beasiswaku di sekolah itu nggak dicabut, ya?”



“Ah, benar juga.”



“Apa orang yang menabrakku waktu itu punya hubungan dengan sekolah kita?”



“Kemungkinannya ada saja, sih.”



“Iya, kamu benar.”



Kami melanjutkan minum teh yang masih tersisa di gelas kami masing-masing.



Suana kamar ini menjadi sunyi kembali. Hanya terdengar suara hujan yang dari tadi masih mengguyur kota ini.



Fuyukawa-san kembali menundukkan pandangannya. Sudah pasti masih ada sesuatu yang dipikirkannya.



“Amamiya-kun…” dia memanggil namaku dengan pandangannya masih ke bawah. Awalnya, kukira dia sedang bergumam sendiri, tapi sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu padaku.



“Ya?”




Fuyukawa-san, kamu terlalu dekat.



Dia begitu dekat. Aku bisa mencium aroma manis dari tubuhnya walau dia sudah memakai pakaian yang kuberikan. Dia memegang bajuku dengan pandangan yang masih ke bawah.



“Hey, Amamiya-kun, selama ini kamu sendirian, kan?”



“Apa maksudmu, Fuyukawa-san?”



“Aku tahu kalau kedua orang tuamu sudah meninggal. Kamu tinggal bersama kakek dan nenekmu di Nagano dan sekarang kamu tinggal sendirian di Tokyo.”



“Jadi kamu sudah tahu, ya?”



“Iya. Sebenarnya, kedua orang tuaku sudah menjengukmu waktu di rumah sakit. Mereka tahu tentangmu di sana dan menceritakannya padaku.”



Kakek dan nenekku sama sekali tidak memberitahu tentang ini padaku. Seharusnya mereka bilang saja kalau orang tua dari gadis yang kutolong itu datang untuk menjengukku. Kenapa mereka diam tanpa memberitahukan kebenarannya?



Fuyukawa-san melajutkan, “Seharusnya waktu itu Aku ikut dengan orang tuaku untuk bilang terima kasih karena sudah menolongku. Tapi… Aku terlalu takut untuk bertemu denganmu.”



“Sudah nggak apa-apa, Fuyukawa-san. Setidaknya kamu sudah katakan semuanya hari ini.”



“Apa kamu masih ingin menjadi temanku atas semua yang sudah kulakukan? Apa kamu nggak membenciku? Apa kamu…”



“Fuyukawa-san!”



Aku memotong perkataannya, melihat ke wajahnya dan mengelus kepalanya. Dia melihat ke arahku sehingga mata kami bertemu, lalu kulanjutkan. “Tadi sudah kubilang, kan? Aku akan tetap menjadi temanmu. Bukannya waktu itu kita sama-sama ingin menjadi teman?”



“Iya, tapi…”



“Itu saja sudah cukup. Itu perasaanmu yang sesungguhnya, kan?”



“Iya. Beneran begitu saja sudah cukup?”



“Iya, benar, karena Aku juga ingin berteman denganmu, Fuyukawa-san.”



“Syukurlah.”



“Karena itu, jangan pikirkan lagi tentang hal ini. Semuanya sudah selesai hari ini. Kita bisa kembali ke hubungan kita sebelumnya.”



“Um, baiklah.”



Dengan begini, masalah ini sudah selesai. Kami bisa kembali seperti biasa, seorang teman yang berada di kelas yang sama dan sebagai sesama perwakilan kelas 2-D. Sangat disayangkan jika aku menjauhinya karena hal ini. Tentu saja bukan diriku yang sesungguhnya jika aku menjauhinya karena kebenaran yang dia sembunyikan itu.



Aku ingat kembali perkataan ibuku dulu. Ibu pernah bilang kalau setiap orang pasti memiliki hal yang tidak bisa dikatakan meskipun ingin dikatakan dan dibalik semua itu pasti ada alasan yang kuat untuk membuatnya melakukan itu. Mungkin hari ini, aku dapat mengerti apa yang ibu katakan itu.



Fuyukawa-san tidak bisa mengatakan terima kasih padaku dan memberitahuku kalau dia lah gadis yang kuselamatkan itu karena rasa takut yang menghantuinya jika hal itu membuatku membencinya atas kecelakaan yang terjadi. Rasa bersalah dan penyesalan, dia memendam rasa itu lebih dari satu tahun. Namun sekarang, dia sudah melepas semuanya dengan mengatakan semuanya. Sekarang tidak ada yang mengikatnya lagi. Dia bisa menjadi dirinya, Fuyukawa-san, yang sebenarnya tanpa terikat dengan rasa bersalah dan penyesalan itu lagi. Mungkin, aku bisa mengetahui sisinya yang belum pernah kuketahui.



Senyuman mulai kembali menghiasi wajahnya yang cantiknya. Melihatnya tersenyum, aku pun ikut tersenyum. Senyum indahnya itu terasa sangat alami seperti pertama kali bertemu dengannya di loker sepatu pada April lalu.



“Amamiya-kun, boleh aku berada di sini sedikit lebih lama?”



“Boleh, kok. Lagian di luar masih hujan deras.”



“Ngomong-ngomong, Amamiya-kun, tanganmu…”



“Ah, maaf.” Ternyata tanganku masih berada di kepalanya. Secepatnya kuturunkan tanganku kembali. Rasanya memalukan.



Apa ini karena efek dari hal yang disebut dengan “persona”? Teori kepribadian yang membuat orang bersikap berbeda daripada biasanya. Mungkin sifatku sedikit berbeda hari ini sejak mengetahui kebenaran dari gadis yang kutolong waktu itu dan perasaan yang Fuyukawa-san katakan.



“Nggak apa-apa,” katanya sambil memegang tanganku.



“Fuyukawa-san?”



Kenapa tiba-tiba dia memegang tanganku?



“Tanganmu besar, ya.”



“Ah, ya, mungkin.”



“Kalau dibandingkan dengan tanganku, tanganmu ini besar. Dengan tangan ini, kamu pasti sudah melakukan banyak hal dan juga melewati berbagai kesulitan.”



“…”



“Karena itu, Amamiya-kun, Aku ingin kamu bergantung padaku. Kamu nggak sendirian lagi sekarang. Ada aku yang berada di dekatmu, di sisimu, sebagai temanmu.”



“Makasih, Fuyukawa-san. Kamu juga, bergantunglah padaku.”



“Um,” jawab Fuyukawa-san dengan seyuman di wajahnya.



Fuyukawa-san berada di rumahku hingga hujan sedikit mereda yaitu sekitar pukul enam sore. Kulihat ramalan cuaca di ponselku menunjukkan hujan akan terus mengguyur kota Tokyo sampai malam nanti. Oleh karena itu, aku menyuruhnya pulang sebelum malam. Kupinjamkan payung yang bisa digunakannya untuk melindunginya dari hujan saat pulang ke rumanhya. Kami mengucapkan selamat tinggal di depan kamarku dan dia pergi meninggalkan apartemen ini.



Kejadian hari ini sangat memengaruhi keadaan batinku. Syok yang kuterima saat mengetahui semua kebenaran dibalik kecelakaan tahun lalu membuat tubuhku terasa lelah. Terlebih lagi saat mengejar Fuyukawa-san.



Aku mulai memasak untuk makan malam. Kari yang kubuat bersama Taniguchi-san tersisa sedikit lagi, jadi aku akan memasak menu tambahan untuk makan malam hari ini.



Setelah makan, aku mandi. Mungkin besok aku harus ke pemandian umum Komeisen yang terletak di Meguro. Tempat ini kudapat saat mencari tempat pemandian umum di internet. Beruntung tempatnya dekat dengan apartemenku. Berendam di bak mandi yang luas pasti sangat menyenangkan.



Malam hari biasanya kugunakan waktuku untuk belajar kembali atau membaca novel yang kupinjam dari perpustakaan. Namun, malam ini aku tidak akan melakukan itu. Kelopak mataku terasa berata sesudah mandi. Aku pun langsung tidur setelah mematikan lampu.



Semoga besok semuanya akan kembali normal.



Semuanya.




3


Alarm berbunyi dan saat mataku terbuka, pagi telah datang.



Saat hendak melakukan olahraga ringan seperti biasa, sepertinya ada suatu masalah. Badanku terasa tidak begitu baik, terasa lemas dan tidak bertenaga, untuk melakukan tiu. Ditambah lagi dengan badanku yang menggigil, padahal sekarang sudah bulan Juni. Mungkin hari ini aku terkena demam karena kemarin terguyur hujan hingga basah.



Sakit di saat seperti ini sangat buruk karena masih harus pergi ke sekolah. Mengingat bahwa aku memiliki beasiswa di SMA Keiyou, sehingga membuatku harus tetap hadir meski dalam keadaan begini. Tidak apa. Ini hanya demam biasa. Sebelum pergi ke sekolah, aku hanya perlu membeli obat. Namun sebelum itu, aku harus menyiapkan sarapan dulu.



Pagi ini matahari bersinar terang. Prakiraan cuaca yang kulihat di ponsel tadi menunjukkan kalau hari ini akan cerah dan sedikit berawan. Namun, kemungkinan turunnya hujan tetap ada walaupun kemungkinannya kecil. Semoga saja hari ini cerah agar pakaian yang basah kemarin dapat kering dengan cepat.



Di dalam perjalanan menuju sekolah, aku menuju konbini untuk membeli obat. Setelah sarapan tadi, tiba-tiba aku mulai batuk. Sepertinya ini lebih buruk dari yang kukira.



Sesampai di sekolah, kulihat Agitu-sensei berdiri di dekat gerbang sambil seperti biasa dan juga beberapa murid yang memakai masker. Pasti mereka terkena flu. Seharusnya aku membeli masker tadi.



Memang bukan hal yang aneh melihat banyak orang memakai masker pada waktu seperti ini. Perubahan iklim seperti ini sering membuat orang-orang terkena flu dan demam. Kalau kuingat lagi, aku sering terkena demam atau flu di saat seperti ini sewaktu kecil. Alasannya tentu saja karena perubahan iklim yang membuat sistem imun menurun. Namun, aku hanya butuh satu hingga dua hari untuk sembuh setelah meminum obat dan beristirahat.



Saat memasuki Gedung Utama, perasaanku sedikit aneh. Di loker sepatu milikku saat memakai uwabaki, kuliat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan sesuatu. Mungkin itu adalah rasa khawatir, apakah percakapan yang kemarin juga didengar dan diketahui oleh murid lain. Sepertinya tidak ada yang mengetahuinya. Baiklah, saatnya menuju kelas.



Aku menggeser pintu geser kelas dan mengatakan selamat pagi dengan suara yang pelan. Hanya beberapa murid yang menyadariku tiba di kelas. Saat kulihat ke seisi kelas, kulihat Fuyukawa-san sedang berbicara dengan Mizuno-san dan Atsuko-san. Fuyukawa-san menyadari kehadiranku yang baru saja tiba di kelas dan langsung menyapaku dengan nada suara yang ceria. “Pagi, Amamiya-kun!” Sepertinya dia sudah kembali seperti Fuyukawa-san yang biasanya.



Aku menjawabnya dengan suara yang pelan, lalu duduk di kursiku.



Memperhatikan seisi kelas yang tidak ada berubah, sama seperti biasa yang diisi dengan obrolan murid SMA, sejak insiden kemarin membuatku yakin kalau tidak ada murid kelas 2-D yang mengetahuinya, kecuali Mizuno-san, Seto-san, Shimizu-san, dan Nazuka-san.



Saat aku duduk, bel tanda masuk berbunyi dan pelajaran pertama hari ini akan dimulai. Pelajaran pertama yaitu Bahasa Inggris yang diisi oleh Hiratsuka-sensei.



Aku dapat mengikuti kegiatan belajar seperti biasa. Sesekali aku batuk, tapi kutahan agar tidak mengganggu. Dengan demikian, kegiatan belajar berlangsung dengan nyaman. Kudengar dan kucatat apa yang sensei jelaskan. Sepertinya aku bisa menjalani hari ini di sekolah sampai waktu belajar selesai.



Di saat memasuki pertengahan jam pelajaran, tubuhku mulai menggigil dan kepalaku terasa berat. Aku begitu naif karena berpikir bisa mengikuti semua pelajaran hari ini.



Ah… aku sudah nggak kuat. Lebih baik aku minta izin ke ruang UKS.



Aku mengangkat tangan kananku, lalu berkata, “Eng, Sensei.”



“Ada apa, Amamiya-kun?”



“Boleh Saya pergi ke ruang UKS? Saya merasa tidak enak badan.”



“ya, silakan. Dari tadi Sensei lihat sepertinya wajahmu sedikit pucat, Amamiya-kun. Kamu demam?”



“Sepertinya.”



“Kalau begitu, cepat ke ruang UKS. Bisa jalan sendiri?”



“Tentu saja bisa. Terima kasih, Sensei.”



Kalau hal seperti ini, aku tidak perlu membutuhkan bagian kesehatan kelas untuk membawaku ke ruang UKS karena aku masih sanggup berjalan.



Saat aku hendak berdiri dari kursiku untuk meninggalkan ruangan, mataku bertemu dengan mata Fuyukawa-san. Ekspresinya yang tadi pagi terlihat ceria, sekarang menjadi sedikit murung. Aku tidak mengatakan apa-apa kepadanya dan langsung meninggalkan kelas.



Setiba di ruang UKS, aku langsung membuka pintunya dengan cara menggesernya dan kulihat di meja depanku, ada Mitsui-sensei yang sedang duduk sambil membaca buku. Sepertinya buku kesehatan.



“Ah… Amamiya-kun, ada apa datang ke ruang ini di jam seperti ini?”



“Begini, Mitsui-sensei, Saya merasa tidak enak badan. Jadi Saya mau istirahat di ruang ini.”



“Begitu, ya. Wajahmu juga tampak pucat. Kamu bisa tidur di ranjang mana saja.”



“Terima kasih, Sensei.”



Aku menuju kasur yang ditunjuk, melepas uwabaki, dan langsung berbaring di ranjang. Ini sudah kedua kalinya aku berbaring di ranjang ruang UKS. Yang berbeda hanya letak ranjangnya saja. Aku berbaring di ranjang yang paling jauh dari jendela. Saatnya untuk menutup mata.



Ketika mataku tertutup, ada tangan lembut yang menyentuh keningku. Aku langsung membuka mataku kembali karena terkejut. Kenapa bisa ada orang di ranjangku. Ternyata tangan itu merupakan tangan Mitsui-sensei.



“Ah, hm, Sensei?”



“Sepertinya kamu hanya demam. Coba ukur suhu badanmu dulu dengan termometer ini. Letakkan termometer di bawah lidah. Terus, tunggu dua sampai tiga menit sampai alarm termometernya berbunyi.”



“Ah, baiklah.”



Aku melakukan apa yang sensei katakan. Dengan begini, aku dapat mengetahui suhu tubuhku saat ini. Alarm termometer berbunyi dan aku langsung melihat hasilnya.



“Berapa derajat, Amamiya-kun?



“38,5 derajat celcius,” jawabku sambil mengembalikan termometer ke sensei.



“Hm… Saya ambil obat dulu. Ada obat yang bagus.”



“Terima kasih, Sensei. Maaf sudah merepotkan.”



“Tidak, tidak. Ini kan pekerjaan saya.”



Sensei menuju lemari obat dan mulai mencari obat yang dikatakannya. Kalau ada obat yang bisa membuat badanku kembali sehat seperti semula, maka aku harus meminumnya.



“Ah, dapat. Amamiya-kun, minum obat ini,” kata sensei sambil mendekat ke arahku dengan membawa obat berbentuk pil yang masih terbungkus di tangannya.



Beruntung aku membawa air mineral yang tadi kubeli di konbini. Sebenarnya obat yang tadi kubeli masih ada di dalam tasku. Karena sensei menawarkan obat yang manjur untuk demam, lebih baik kuterima saja.



Setelah meminum obatnya, aku kembali tidur dan sensei kembali ke mejanya. Obat yang diberikan sensei memberikan efek kantuk kepada orang yang meminum obat itu. Alhasil, kelopak mataku langsung terasa berat dan menutup mataku.



Kalau begini jadinya, lebih baik aku tidak pergi ke sekolah hari ini.




4


Mataku terbuka saat mendengar suara bel yang berbunyi. Entah sudah berapa lama aku tidur di ruang UKS, aku tidak tahu pasti. Saat kulihat jam di ponselku, sekarang sudah pukul 15:30. Aku tebangun karena bel tanda pulang yang berbunyi yang artinya aku melewatkan banyak pelajaran hari ini dan makan siang.



Badanku sekarang sepertinya sudah tidak terlalu panas seperti tadi. Obat yang diberikan Mitsui-sensei sepertinya memang bekerja dengan baik. Dengan keadaan seperti ini, aku bisa langsung kembali ke kelas lalu pulang, tapi saat ini pasti masih banyak murid di kelas dan pasti ada yang sedang piket. Lebih baik aku tidak mengganggu mereka. Untuk sementara, aku berada di sini saja untuk beristirahat sedikit lagi.



Ruang UKS yang sepi memang sangat cocok untuk beristirahat. Ranjang yang ditutupi dengan tirai dapat membuat orang tidur dengan nyaman. Ranjang yang empuk ini membuatku ingin tidur lebih lama lagi karena tempat tidur di apartemenku tidak senyaman ranjang di sini. Seperti yang diharapkan dari sekolah elit.



Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku saat mengingat kembali apa yang terjadi kemarin. Sebenarnya, hubungan apa yang ada di antara Taka dan Fuyukawa-san. Taka sampai memanggil Fuyukawa-san dengan namanya, Yukina, yang berarti hubungan mereka sangat dekat. Tapi kenapa sekarang hubungan mereka terlihat renggang? Jawabannya hanya satu yaitu pasti ada terjadi sesuatu di antara mereka. Kalau bisa, aku ingin melakukan sesuatu agar mereka bisa kembali seperti dulu.



Setelah pulang sekolah, aku memiliki kegiatan klub sebagai anggota klub bantuan yang dibentuk oleh Hiratsuka-sensei yang merupakan guru bimbingan konseling. Aku harus memberitahukan kepada Shiarishi-san kalau hari ini keadaanku tidak sehat, sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan klub. Karena ruang klub bantuan berada di gedung yang sama dengan ruang UKS, yaitu di Gedung Khusus, aku memutuskan untuk menuju ruang klub dulu untuk memberitahukannya.



Aku bangun dari ranjang dan bergegas keluar dari ruang ini. Mitsui-sensei berada di mejanya sambil membaca buku yang tadi.



“Ah, Amamiya-kun, sudah baikan?” tanya Mitsui-sensei saat melihatku berjalan.



“Sudah, Sensei. Seperti yang Sensei bilang, obatnya langsung memberikan efek. Suhu badan saya juga sepertinya sudah turun.”



“Begitu, ya. Syukurlah.”



“Terima kasih, Sensei.”



“Sama-sama. Untuk besok, lebih baik kamu tidak pergi ke sekolah dulu. Istirahat saja dulu hingga benar-benar pilih dan sehat.”



“Ya, Sensei. Saya akan melakukan seperti yang Sensei katakan. Kalau begitu, Saya permisi dulu.”



“Um. Hati-hati, ya.”



Setelah keluar dari ruang UKS, aku langsung menuju ruang klub bantuan yang terletak di lantai tiga. Seperti biasa, kubuka pintu geser ruang klub tanpa mengetuk pintunya terlebih dulu. Seorang gadis sedang duduk muncul sebagai pemandangan di depan mataku. Dia adalah Shiraishi-san, ketua klub bantuan. Dia sedang membaca buku seperti biasa. Sepertinya hari ini pun tidak ada klien yang meminta bantuan.



Dia melihat ke arahku karena mendengar suara pintu yang dibuka. Aku segera menuju ke depannya untuk memberitahukannya.



“Eng… Shiraishi-san, maaf, sepertinya hari ini Aku nggak bisa ikut kegiatan klub. Kondisiku sedang nggak sehat sekarang. Jadi aku minta izin untuk pulang sekarang dan juga besok aku nggak bisa datang. Mitsui-sensei bilang kalau Aku harus beristirahat dulu supaya pulih.”



“Begitu, ya. Kalau kamu memang merasa tidak sehat, apa boleh buat. Lebih baik prioritaskan untuk sehat kembali. Semoga cepat sembuh.”



“Makasih, Shiraishi-san.”



“Oh iya, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot datang ke sini untuk mengatakan hal itu. Bukannya kamu sudah punya nomor ponselku?”



“Eh?” Aku langsung mengecek kontak di ponselku dan ternyata memang sudah ada kontak Shiraishi-san dengan nama 白石美雪さん (Shiraishi Miyuki-san).



“Ada, kan?”



“Iya, ada. Aku lupa karena nggak pernah meneleponmu dan mengirimu pesan lewat Line, padahal kontakmu sudah muncul di akun Line milikku.”



“Kalau begitu, lebih baik kamu telepon atau mengirimiku pesan saja untuk memberitahukan hal seperti ini.”



“Baiklah. Kalau begitu, Aku pulang dulu. Sampai jumpa.”



“Ya.”



Setelah itu, aku meninggalkan ruang klub untuk kembali ke kelas. Buku dan tasku masih berada di sana.



Aku kembali memikirkan tentang hubungan Taka dan Fuyukawa-san. Jika hubungan seseorang dengan yang lain dapat berubah karena ada sesuatu yang terjadi, maka hubunganku dengan Fuyukawa-san juga akan berubah. Jika kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin sekarang aku bukanlah temannya. Karena kecelakaan itu terjadi, rasa bersalah yang ada pada dirinyalah yang membuatnya ingin menjadi temanku untuk menebus rasa bersalahnya. Itu berarti dia mungkin akan kembali ke dirinya semula, dirinya sebelum terjadi kecelakaan itu.



Aku tiba di depan kelas dan sepertinya sudah tidak ada lagi orang di dalam. Saat memasuki kelas, ada seorang gadis yang sedang duduk di kursi sebelah kanan tempatku. Gadis itu adalah Fuyukawa-san. Dia melihat ke arah pintu saat mendengar suara pintu yang dibuka. Mata kami bertemu dan dia segera berdiri menuju ke arahku dengan ekspresi khawatir di wajahnya.



“Amamiya-kun, kamu nggak apa-apa?”



“Ah, iya. Cuma demam saja. Bukan hal yang besar, kok.”



“Ini pasti salahku karena hal kemarin.”



“Bukan. Ini bukan salah Fuyukawa-san. Sebenarnya Aku sering terkena demam saat perubahan iklim. Jadi ini bukan salah Fuyukawa-san. Ini salahku karena nggak menjaga kesehatan.”



“Um, begitu, ya. Sudah minum obat?”



“Sudah, kok. Tadi, Mitsui-sensei memberiku obat demam yang manjur. Berkatnya, demamku sudah sedikit turun.”



“Syukurlah. Sebaiknya kamu nggak perlu ke sekolah dulu besok. Istirahat saja dulu biar sehat kembali.”



“Um, iya. Mitsui-sensei juga bilang seperti itu.”



“Begitu, ya.”



“Kalau begitu, Aku pulang dulu, Fuyukawa-san.”



“Ah, Amamiya-kun, ayo pulang sama-sama.”



“Hm? Kamu nggak ada kegiatan klub?”



“Nggak ada. Hari ini kami istirahat dulu untuk pertandingan selanjutnya.”



“Begitu, ya. Kalau begitu, ayo kita pulang.”



“Um.”



Pada akhirnya, aku pulang bersama Fuyukawa-san. Seperti biasa, setiap kali aku berada di dekatnya, aku akan menjadi pusat perhatian murid-murid lainnya kalau masih berada di lingkungan sekolah. Fuyukawa-san sama sekali tidak memperhatikan mereka yang juga meliha ke arahnya. Dia hanya fokus terus berjalan menuju gerbang sekolah sambil sesekali melihat ke arahku.



Aku sedikit penasaran kenapa Fuyukawa-san masih berada di kelas tadi. Seharusnya dia bisa saja pulang terus ke rumah untuk beristirahat sebelum pertandingan selanjutnya. Apa dia menungguku? Melihat tingkah lakunya sekarang, bisa saja dia memang menungguku, tapi untuk apa?



“Eng, Fuyukawa-san.”



“Ya?”



“Kenapa kamu masih di kelas tadi? Bukannya lebih baik kalau kamu terus pulang ke rumah untuk beristirahat?”



“Aku menunggumu, Amamiya-kun.”



“Eh?”



“Aku khawatir. Wajahmu saat di jam pelajaran tadi sangat pucat. Mungkin saja terjadi sesuatu padamu dan ternyata benar. Kamu terkena demam.”



“Kenapa kamu begitu khawatir padaku?”



“Aku takut melihatmu sakit. Itu mengingatkanku dengan kejadian tahun lalu itu.”



“Ah… begitu, ya. Maaf.”



“Kenapa kamu minta maaf?”



“Karena membuatmu khawatir.”



“Nggak apa-apa. Bukannya wajar kalau seorang teman mengkhawatirkan keadaan temannya?”



“Iya, kamu benar.”



Apa yang kupikirkan tentang Fuyukawa-san ternyata salah. Sepertinya Fuyukawa-san yang sekarang tetaplah Fuyukawa-san yang kukenal. Hubungan kami tidak berubah. Kami masih berteman. Dia bahkan sampai mengkhawatirkanku. Dia memang orang yang baik.



Tapi…



Jika diantara Taka dan Fuyukawa-san juga pernah terjadi sesuatu, bukannya aneh kalau hubungan mereka menjadi renggang?



Aku benar-benar penasaran. Jika aku megetahui sesuatu, mungkin aku dapat melakukan sesuatu agar Taka dan Fuyukawa-san bisa kembali ke hubungan mereka sebelumnya.



Daripada terus berpikir, lebih baik kutanyakan langsung pada Fuyukawa-san yang sekarang sedang bersama denganku. Dengan begitu, semuanya akan kuketahui. Hanya saja jika dia ingin menceritakannya.



“Fuyukawa-san, boleh Aku tanya sesuatu?”



“Boleh. Mau tanya tentang apa, Amamiya-kun?”



“Eng… sebenarnya Aku penasaran dengan hubunganmu dengan Taka. Sepertinya hubungan kalian cukup dekat.”



“Ke-kenapa kamu berpikir seperti ini?” Suaranya merendah seperti menahan suara yang keluar dari mulutnya.



“Kemarin, Aku dengar dia memanggilmu dengan Yukina.”



“Hanya karena itu kamu mengira kalau hubunganku dengan Hiroaki-kun cukup dekat?”



“Iya. Bukannya memanggil dengan nama belakang itu dilakukan kalau hubungan sudah cukup dekat?”



“Itu juga, sih. Terus, kenapa Amamiya-kun manggil Hiroaki-kun dengan Taka? Berarti hubungan kalian juga cukup dekat.”



“Kalau itu, dia memintaku untuk memanggilnya seperti itu. Eh… tunggu sebentar. Apa dia panggil kamu dengan Yukina karena kamu suruh?”



“Iya, tapi beda.”



“Eh… apa itu?”



“…” Fuyukawa-san tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum. Namun, senyuman yang ada di wajahnya itu terlihat seperti senyuman yang dipaksakan. Kemudian, dia mempercepat langkahnya dan mendahuluiku.



Aku terus mengikutinya hingga tiba di Sungai Meguro. Dia terus berjalan tanpa melihat ke arahku yang berada di belakangnya. Melewati Jembatan Taman Nakame, yang letaknya di depan Taman Naka Meguro, dia tiba-tiba berhenti dan memegang pagar besi di pinggir jembatan. Dia mulai melihat ke arah sekitar sungai. Kuhentikan langkahkaku dan kulakukan hal yang sama seperti dirinya. Ini mengingatkanku saat aku dan dia melihat sakura di sekitar sini di April lalu.



“Seperti yang Amamiya-kun bilang. Dulu, hubunganku dengan Taka bisa dibilang sangat dekat. Dulu, Aku berpacaran dengan Taka.”



Aku baru saja mendengar suatu hal yang luar biasa.



Dulu? Berarti sekarang dia sudah putus dengan Taka.



“Begitu, ya. Kenapa kalian putus?”



“…”



“Ah, maaf. Kalau nggak mau bilang juga nggak apa-apa.”



“…Aku lihat dia sedang bersama gadis lain. Kemudian…”



“Hm?”



“Mereka berdua berciuman.” Fuyukawa-san menundukkan pandangannya. Sepertinya dia baru saja mengatakan hal yang tidak ingin dikatakannya.



“Eh…? Dia selingkuh? Kapan itu terjadi?”



Apa benar Taka akan melakukan hal seperti itu? Aku sama sekali tidak percaya.



“Di malam Christmas Eve dua tahun yang lalu saat kami masih kelas tiga SMP.”



“Jadi… kalian dari SMP yang sama?”



“Um, iya.”



Tapi…



Kenapa waktu itu Taka bilang dia hanya teman sekelas dengan Fuyukawa-san dan tidak terlalu kenal dengannya? Padahal dia adalah mantan pacarnya Fuyukawa-san. Pasti dia punya suatu alasan kenapa tidak mengatakan hal yang sebenarnya.



“Maaf, ya, sudah membuatmu menceritakan tentang masa lalumu dengan Taka.”



“Nggak apa-apa, kok. Lagian itu hanya masa lalu.”



“Apa kamu jadi benci dia sekarang?”



“Aku nggak benci dia. Hiroaki-kun hanya sebatas teman bagiku.”



“Begitu, ya.”



“Ayo pulang, Amamiya-kun.” Fuyukawa-san melepas pegangannya pada pagar besi jembatan.



Sebelum pulang ke apartemen, aku mengatakan kepada Fuyukawa-san kalau aku harus ke konbini terlebih dulu untuk membeli bento sebagai menu makan malamku. Tanpa ekspresi menolak, dia mengikutiku juga ke sana. Di waktu sore seperti ini, sangat jarang ada bento yang tersisa karena banyak orang yang membelinya di waktu pagi dan siang untuk makan siang. Begitulah yang dikatakan Fuyukawa-san, tapi sepertinya hari ini aku sedikit beruntung. Aku mendapatkan bento yang kebetulan hanya tersisa satu lagi.



Di bawah langit sore yang berwarna kuning ini, kami berpisah di persimpangan jalan setelah mengucapkan selamat tinggal.