
Sekarang sudah memasuki pukul 4:25 sore.
Aku yang hari ini tidak diberikan izin untuk berolahraga di pelajaran olahraga, padahal aku sangat ingin bermain sepak bola, masih memiliki banyak energi yang tersimpan di tubuhku ini. Kondisiku sekarang sudah baik-baik saja, tapi tetap saja tidak diberikan izin. Apa boleh buat. Ini perkataan dari sensei dan aku lebih baik mematuhinya.
Di ruang klub bantuan, aku hanya duduk sambil membaca buku saku yang kubawa dari rumah. Buku ini sudah beberapa kali kubaca dan masih tetap kubaca lagi. Alasannya hanya 1, yaitu buku ini sangat menarik. Sedangkan Shiraishi-san yang berada di sebelah kiriku, dia juga membaca buku yang tidak kuketahui buku apa yang sedang dibaca.
Aku mulai memikirkan tentang keberadaan klub bantuan di sekolah ini. Apakah klub ini benar-benar perlu atau tidak. Hiratsuka-sensei sama sekali tidak mengatakan apa-apa lagi saat klub ini terbentuk. Meskipun begitu, fakta bahwa kami sudah membantu beberapa orang tidaklah berubah.
Sepertinya hari ini tidak ada yang akan datang ke ruang klub ini untuk meminta bantuan.
Di saat aku berpikiran seperti itu, tiba-tiba terdengar suara pintu ruang yang diketuk oleh seseorang. Aku menutup buku yang sedang kubaca ini dan melihat ke arah Shiraishi-san. Dia juga melakukan hal yang sama dan melihat ke arahku. Sepertinya harus aku yang menjawab.
“Ya, silakan masuk.”
Pintu dibuka dan masuklah dua orang ke dalam ruangan ini, murid laki-laki dan perempuan, sambil berkata, “Permisi.”
Murid laki-laki yang datang ke ruangan ini memakai baju bola, sedangkan murid perempuan memakai pakaian olahraga. Sepertinya mereka dari klub sepak bola.
Aku segera mempersiapkan kursi untuk mereka berdua, sedangkan Shiraishi-san memberikan teh kepada mereka berdua.
“Silakan duduk dan minum tehnya.”
“Makasih.”
Mereka berdua duduk dan mulai meminum tehnya.
“Jadi, apa ada yang bisa kami bantu?” tanyaku kepada mereka berdua.
Si murid laki-laki meletakkan gelas kertas ke meja dan mulai berbicara.
“Kami perlu bantuanmu, Amamiya.”
“Maaf, kamu siapa?”
“Ah, maaf. Aku Takezawa Kirio dari kelas 3-F. Aku kapten klub sepak bola.”
“Aku manajer klub sepak bola, Ishikawa Rikka dari kelas 3-H.”
“Aku Amamiya Ryuki dan di sebelahku ini Shiraishi Miyuki. Jadi, bantuan apa, Senpai?”
“Penjaga gawang kami nggak bisa ikut latihan tanding karena demam. Karena itu, kami perlu bantuanmu untuk menjadi penjaga gawangnya.”
Demam, ya? Pasti kasusnya hampir sama sepertiku. Perubahan cuaca, atau mungkin kelelahan.
“Bukannya ada penjaga gawang cadangan?”
“Ya. Kami punya dua penjaga gawang cadangan. Penjaga gawang utama kami terkena demam, penjaga gawang cadangan pertama kami nggak bisa ikut karena punya suatu urusan, dan penjaga gawang cadangan kedua kami terkena diare.” Ishikawa-senpai menjawabnya dengan cepat sambil menjelaskan semua kondisi penjaga gawang mereka.
“Begitu, ya. Sangat disayangkan.”
“Karena itulah, kami perlu kamu untuk menjadi penjaga gawang.”
“Tapi kenapa aku?”
“Mengenai itu, manajer klub voli putri, Hitoka-chan, yang kasih tahu ke aku kalau Amamiya-kun dari klub bantuan bisa main sepak bola dan posisinya sebagai penjaga gawang.”
Jadi Taniguchi-san lah yang memberitahukan kepada mereka. Sepertinya hubungan sesama klub olahraga cukup dekat.
“Ya, seperti yang dikatakan Rikka. Bisa kamu bantu kami, Amamiya?”
“Tolong, Amamiya-kun.”
Takezawa-senpai dan Ishikawa-senpai melihat ke arahku dengan penuh harapan yang tergambar di wajah mereka berdua. Ini merupakan peluang bagiku untuk bermain sepak bola.
“Dengan senang hati. Lagian, aku juga sedang ingin main sepak bola.”
Saat kukatakan seperti itu, wajah Takezawa-senpai dan Ishikawa-senpai dihiasi dengan ekspresi bahagia. Mereka pasti senang karena mendapat penjaga gawang untuk bisa dimainkan di latihan tanding.
“Kalau begitu, ayo ke ruang klub sepak bola sekarang.”
“Tunggu sebentar!” Shiraishi-san membuka mulutnya. Nada suaranya begitu dingin, membuat kami yang ingin keluar dari ruangan ini menuju ke ruang klub sepak bola tidak bisa bergerak untuk bangkit dari kursi kami masing-masing.
“Ada apa, Shiraishi-san?”
“Aku tidak bisa menerima permintaan dari klub sepak bola.”
“Kenapa?” Takezawa-senpai menatap Shiraishi-san dengan serius.
“Dia baru saja sembuh dari demam.”
“Tapi Amamiya terlihat sehat-sehat saja. Ya, kan, Rikka?”
“Iya. Amamiya-kun juga ingin bermain sepak bola, lo.”
“Dan… dia tidak diizinkan untuk bermain sepak bola dulu.”
“Eh?” Takezawa-senpai dan Ishikawa-senpai kaget mendengar hal itu.
“Nggak diizinkan? Oleh siapa?”
“Tanya langsung padanya.”
“Oleh siapa, Amamiya?”
“Oleh siapa, Amamiya-kun?”
Takezawa-senpai dan Ishikawa-senpai serentak melontarkan pertanyaan yang sama kepadaku. Mereka berdua juga menatapku dengan ekspresi penuh dengan tanda tanya. Sepertinya peluangku untuk bermain sepak bola hari ini sudah tidak ada. Lebih baik aku memberitahukan mereka berdua.
“Sugita-sensei. Tapi… tapi aku baik-baik saja sekarang. Untuk bermain sebagai penjaga gawang bukan hal sulit bagiku.”
“Jadi Sugita-sensei yang melarangmu untuk nggak main sepak bola dulu, ya, Amamiya?”
“Iya.”
“Eh?”
“Apa yang dikatakan Sugita-sensei itu semuanya demi kebaikan murid. Sensei seperti bisa melihat kondisi fisik seseorang. Patuhi saja, Amamiya-kun. Semua juga demi kebaikanmu.”
Ternyata Sugita-sensei bukan guru olaraga biasa.
“Apa nggak apa-apa dengan kalian, Senpai?”
“Nggak apa-apa, kok. Mungkin aku yang akan turun sebagai penjaga gawang darurat.”
“Um. Walaupun posisi asli Kirio-kun sebagai bek tengah, dia lumayan bisa menjadi penjaga gawang.”
“Begitu, ya. Keren, Takezawa-senpai.”
“Haha.” Takezawa-senpai tertawa sedikit saat aku memujinya.
“Kalau begitu, kami kembali dulu. Maaf sudah menggaggu waktu kalian, Amamiya-kun dan Shraishi-san.”
“Ah, nggak apa-apa, kok. Aku senang kalau ada orang yang datang ke klub ini. Lain kali, kalau perlu bantuan, datanglah lagi ke klub kami. Mungkin kami bisa bantu kalian nanti.”
“Makasih.”
“Makasih juga untuk tehnya.”
Takezawa-senpai dan Ishikawa-senpai keluar dari ruangan ini.
Sekarang, hanya ada aku dan Shiraishi-san di ruangan ini. Dia kembali membaca bukunya yang sempat terhenti tadi, sedangkan aku sedikit kecewa dan juga senang di saat bersamaan. Aku kecewa karena tidak dapat kesempatan untuk bermain sepak bola bersama klub sepak bola, tapi aku senang karena aku tidak melakukannya atas perkataan dari Sugita-sensei. Kalau aku ikut bermain sepak bola bersama klub sepak bola, mungkin aku akan cedera atau sebagainya. Pasti itu akan menyiksaku.
Ada satu hal yang menarik rasa penasaranku, yaitu kenapa Shiraishi-san tahu kalau aku tidak diizinkan untuk bermain sepak bola, atau lebih tepatnya tidak diizinkan untuk berolahraga. Aku sama sekali tidak mengatakan apapun padanya tentang hal ini. Lebih baik kucoba untuk bertanya padanya.
“Oh iya, Shiraishi-san. Kenapa kamu tahu kalau aku nggak diizinkan untuk main sepak bola?” Aku bertanya sambil melihat ke arahnya.
“Kebetulan, aku melihatmu di lapangan tadi pagi. Kamu hanya berdiri di pinggir lapangan, sedangkan murid laki-laki lainnya main sepak bola.” Shiraishi-san menjawab pertanyaanku tanpa mengalihkan pandagannya dari arah buku yang sedang dibacanya itu.
“Hanya karena itu saja kamu bisa menebak seperti itu?”
“Bukan menebak.”
“Eh? Lalu apa?”
“Aku juga pernah seperti itu.”
“Kamu pernah berada di pelajaran olahraga dengan Sugita-sensei. Seperti itu, ya, Shiraishi-san?”
“Iya.”
“Begitu, ya.”
“Ya.”
Kalau begitu, Shiraishi-san pasti lebih tahu tentang Sugita-sensei daripada aku. Juga, Takezawa-senpai dan Ishikawa-senpai langsung menarik kembali permintaan mereka karena tahu tentang itu. Menuruti perkataan sensei merupakan pilihan terbaik saat ini.
Aku kembali membaca buku dan meminum teh sambil menikmati waktu pulang sekolah di ruang klub bantuan. Suasana sepi dan sunyi membuatku masuk ke dunia sastra dari buku yang kubaca ini. Buku yang menarik akan tetap menarik walaupun sudah dibaca beberapa kali.
Sinar matahari yang menyinari ruangan ini secara perlahan mulai meredup. Aku menyukupkan membaca buku ini dan memasukkannya ke dalam tas pundakku. Kulihat ke arah Shiraishi-san, dia sudah berhenti membaca dan bukunya sudah tidak ada di atas mejanya.
Karena sudah tidak ada orang yang datang ke ruangan ini, Shiraishi-san menyukupkan kegiatan kami hari ini sampai di sini.
“Hari ini cukup sampai di sini.”
“Kamu benar. Kalau begitu, ayo kita pulang.”
Seperti biasa, kami membereskan ruangan ini sebelum pulang. Aku membuang gelas kertas yang digunakan untuk minum teh, sedangkan Shiraishi-san mencuci peralatan teh di wastafel dekat tangga. Setelah semuanya selesai, kami keluar dan dia mengunci ruangan ini.
Sekarang, ada satu hal yang harus diwaspadai.
Sekarang sudah memasuki jam pulang murid dari kegiatan klub. Itu berarti, aku bisa saja bertemu dengan Mizuno-san di loker sepatu, di halaman depan sekolah, atau di gerbang sekolah. Dia tipe gadis yang tajam. Mungkin dia sudah tahu kalau aku sedang menghindari kontak dengannya.
Aku terus berjalan di belakang Shiraishi-san hingga tiba di loker sepatu.
“Shiraishi-san, sampai jumpa besok.”
“Ya, sampai jumpa.”
Seperti biasa, Shiraishi-san menjawabnya dengan nada yang dingin, lalu dia menuju ke loker sepatunya.
Aku melihat ke sekelilingku sebelum menuju loker sepatuku. Karena loker sepatu diatur menurut kelas masing-masing murid, sudah pasti peluang aku bertemu dengan Mizuno-san di loker sepatu cukup tinggi, mengingat sekarang waktu kegiatan klub sudah berakhir. Dia pasti akan ke loker sepatu terlebih dulu sebelum pulang.
Tapi…
Dia anggota klub bola basket putri yang sekarang sedang latihan untuk mempersiapkan diri sebelum bertanding di babak semifinal. Pasti dia tidak akan langsung pulang setelah latihan. Dia dan teman-temannya pasti sedang melakukan cool down dan mungkin ada hal yang akan disampaikan oleh pelatih mereka. Dengan kata lain, sekarang saatnya aku pulang. Aku langsung mengganti uwabaki-ku dengan sepatu, lalu segera keluar dari Gedung Utama.
Di depan Gedung Utama, aku melihat Fuyukawa-san, Seto-san, dan Mizuno-san yang sedang berjalan menuju gedung ini dari arah kanan yang merupakan arah untuk menuju Gedung Olahraga. Mereka bertiga terlihat sedang berbicara, hingga akhirnya mereka bertiga menyadari kehadiranku dan melihat ke arahku.
Aku sungguh naif memikirkan kalau mereka sedang cool down dan mendengarkan instruksi dari pelatih mereka. Sebenarnya, mereka sudah selesai latihan dan sudah melakukan cool down dan juga mungkin sudah mendengar instruksi dari pelatih mereka beberapa menit yang lalu. Tidak mungkin mereka latihan terlalu lama latihan karena itu dapat memengaruhi kondisi fisik para pemain nantinya.
“Amamiya-kun, sudah mau pulang?” Fuyukawa-san memanggilku dengan sedikit berteriak. Jarak di antara kami sekitar belasan meter, sudah pasti dia harus berteriak sedikit agar suaranya dapat kudengar.
“Iya. Sampai jumpa besok.”
Setelah menjawab pertanyaan Fuyukawa-san, aku langsung berlari kecil menuju ke arah gerbang sekolah dan menjauh dari sekolah ini.
Aku sempat melihat ke arah Mizuno-san saat menjawab pertanyaan Fuyukawa-san tadi. Dari ekspresi di wajahnya, sepertinya dia sudah tahu kalau aku sedang menghindarinya.
Sepertinya aku harus menyusun rencana untuk bisa menghindarinya lagi besok di sekolah.
Memikirkan tentangnya saja membuatku menyentuh pipi kiriku yang pernah ditamparnya. Bahkan rasa sakit dari tamparannya itu masih bisa kurasakan.
Semoga beberapa hari selanjutnya aku bisa terus menghindarinya untuk membuat diriku bisa menghadapinya lagi. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri sekarang.
Semoga semuanya berjalan lancar untuk beberapa hari ke depan.