Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 21



Aku sedikit penasaran kenapa manajer dari Klub Sepakbola SMA Akademi Waseida berdiri di dekat gerbang sekolah. Dia sendirian, tidak ada temannya yang lain di dekatnya. Seharusnya dia tidak berada di sini lagi karena pertandingan latihan sudah selesai. Apa yang terpikirkan olehku adalah dia sedang menunggu seseorang. Mungkin saja dia sedang menunggu seseorang yang akan datang untuk menjemputnya. SMA Akademi Waseida mempunyai hubungan dekat dengan sekolahku, SMA Akademi Keiyuo, itu berarti sekolah itu juga sekolah elite lainnya yang ada di Tokyo. Sudah pasti banyak murid yang berasal dari keluarga elite juga.



Aku berjalan melewatinya lalu kukatakan, “Selamat tinggal.” Tiba-tiba dia menarik bajuku. Eh… ada apa ini? Apa dia menungguku di sini? Apa aku sudah melakukan sesuatu?



“Tunggu!”



“Ah, ya? Apa ada perlu sesuatu?”



“Kamu… Ryu-chan, ya?”



“Kenapa kamu bisa tahu nama panggilanku sewaktu kecil?”



Sontak aku kaget mendengar pertanyaannya itu. “Ryu-chan” adalah nama panggilanku sewaktu kecil. Teman-temanku di desa memanggilku seperti itu. Lalu, kenapa gadis ini mengetahui itu?



“RYU-CHAN!!! Aku merindukanmu.”



Tiba-tiba gadis yang tidak kukenal ini memelukku dan ada sensasi lembut yang menyentuh dadaku. Apa itu yang menyentuhku tadi?



“Hei, sebentar. Hentikan!”



Tanpa mendengar perkataanku, dia masih terus memelukku. Tubuhnya sangat dekat. Dengan tangan kiri yang masih menutup hidungku dan tangan kanan yang terkunci karena pelukannya, aku tidak bisa melakukan apa pun.



Aku tidak tahu harus bagaimana. Ketika kulihat ke arah kiri dan kanan, semua murid yang masih berada di sekitar sini melihat ke arahku. Seketika aku menjadi pusat perhatian.



Ketika kulihat ke arah wajahnya, dia tampak senang dan terus tersenyum. Akhirnya aku hanya bisa diam sambil menunggu selesai memelukku.



“Amamiya-kun?”



Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Ketika kulihat ke arah kananku, ada Namikawa-san.



“Na-Namikawa-san? Mau pulang, ya?”



“Iya. Siapa gadis itu?”



“Aku nggak tahu.”



“Kenapa dia memelukmu?”



“Aku juga nggak tahu.” Kemudian aku kembali melihat ke arah gadis yang masih memelukku ini. “Hei. Sudah, hentikan!”



“Ah, maaf, Ryu-chan. Aku benar-benar kangen kamu, jadi aku langsung memelukmu tanpa sadar.”



“Ryu-chan?” Namikawa-san melihat ke arahku dengan ekspresi penuh dengan tanda tanya di wajahnya.



“Kenapa kamu tahu nama panggilanku sewaktu kecil? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”



“Ini aku, lo! Aika.”



“Aika?” Entah kenapa nama itu tidak begitu asing bagiku.



“Eh!? Mungkinkah kamu nggak ingat aku?”



“Iya. Maaf. Mungkin kamu salah orang.”



“Bohong. Waktu musim panas dulu, aku pernah ke desamu bersama ayahku. Kita bertemu di dekat sawah lalu menjadi teman. Kita menghabiskan musim panas dengan bermain bersama. Kamu nggak ingat?”



“Ah… kamu gadis yang waktu itu dari kota?”



“Iya. Sudah lama nggak ketemu, ya, Ryu-chan. Sudah hampir 10 tahun.”



“Iya, kamu benar, Aika-chan.”



Jadi dia dari Tokyo, ya. Tidak kusangka aku bisa kembali bertemu dengan teman masa kecilku di sini. Dalam 10 tahun, penampilannya sangat berbeda. Dia sekarang memiliki tubuh yang tinggi bagi seorang gadis, rambut yang panjang dan berkilau, dan juga kulit yang putih. Wajahnya yang dulu cantik sepertinya menjadi semakin cantik. Tidak kusangka kalau dia adalah gadis waktu itu.



Akhirnya aku bisa mengetahui namanya lagi. Aku memanggilnya dengan “Aika-chan” dan dia selalu memanggilku dengan “Ryu-chan.” Aku tidak tahu kenapa dia menambahkan “-chan” padahal aku seorang laki-laki. Walaupun begitu, aku menerima saja nama panggilan itu. Kalau kupikir lagi, dialah orang yang membuat semua teman-temanku di desa memanggilku seperti itu.



“Jadi, siapa dia, Amamiya-kun?”



Aku lupa kalau Namikawa-san masih berada di sini. Tiba-tiba dia menatapku dengan tatapan yang dingin, begitu juga suaranya. Aku bingung kenapa tiba-tiba dia berubah seperti ini.



“Dia temanku sewaktu kecil.”



“Ryu-chan, siapa gadis ini?”



“Dia temanku di sekolah.”



“Begitu, ya. Perkenalkan, namaku Aikawa Aika (相川 愛花).”



“Namaku Namikawa Sakura.”



“Hei, Ryu-chan. Aku minta maaf karena waktu itu nggak sempat pamit denganmu.”



“Um, ya. Nggak apa-apa, kok. Yang penting, kita sudah ketemu lagi sekarang.”



“Um,” jawab Aika-chan sambil mengangguk lalu dia melanjutkan. “Beri tahu aku nomor ponsel dan ID LINE-mu, Ryu-chan.”



“Baiklah.”



Setelah menukar nomor ponsel dan ID LINE, Aika-chan terlihat senang. Mungkin bisa kembali bertemu denganku membuatnya senang. Aku juga.



“Amamiya-kun?”



“Ya?”



“Ngomong-ngomong, aku belum punya nomor ponsel dan ID LINE-mu.”



“Eh, benarkah?”



“Coba lihat di ponselmu.”



Aku langsung memastikan itu dengan mengecek daftar kontak di ponselku dan ternyata benar kalau tidak ada nama Namikawa Sakura-san.



“Iya, benar. Punyamu belum ada, Namikawa-san.”



“Kalau begitu, ayo tukaran nomor ponsel dan ID LINE juga.”



“Baiklah.”



Akhirnya aku mendapatkan nomor ponsel dan ID LINE Namikawa-san juga. Dengan begitu, daftar kontak di ponselku sudah bertambah.



“Amamiya-kun, dari tadi aku penasaran. Kenapa tanganmu menutup hidungmu dengan handuk kecil itu?”



“Ah, ini, ya? Hidungku terkena bola, jadi mimisan.”



“Kenapa bisa terkena bola? Apa yang kamu lakukan?”



“Aku bantu Klub Sepakbola. Kapten mereka memintaku untuk menjadi kiper karena semua kiper mereka sedang sakit.”



“Eh!? Jadi kamu bukan anggota Klub Sepakbola, ya, Ryu-chan?”



“Iya.”



“Terus, apa kamu baik-baik saja?”



“Ya. Ini hal yang sering terjadi.”



“Darahnya sudah berhenti, Ryu-chan?”



“Belum sepenuhnya berhenti.”



Tiba-tiba tubuhku condong ke samping karena kehilangan keseimbangan dan kepalaku terasa berat. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mungkin darah yang keluar lebih banyak daripada mimisan yang pernah terjadi sebelumnya.



“Kamu baik-baik saja, Ryu-chan?” Aika-chan memegang tanganku. Jika dia tidak melakukan itu, mungkin aku sudah jatuh.



“Ya. Makasih, Aika-chan.”



“Sepertinya kamu kekurangan darah, Amamiya-kun.”



“Iya, pasti seperti itu.”



“Ya, aku tahu. Aku harus makan banyak, nih.”



“Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang. Di mana rumahmu, Ryu-chan?”



“Di Daikan’yama.”



“Hm… sekitar tiga kilometer dari sini, ya. Aku akan panggil taksi. Tunggu, ya.”



“Eh!? Taksi mahal, lo, Aika-chan! Aku nggak—”



“Tenang saja. Aku yang bayar, kok. Tunggu sebentar, ya.” Aika-chan berjalan menuju persimpangan jalan di dekat sekolah untuk mencari taksi.



Aku menunggunya di dekat pintu gerbang sambil berbicara dengan Namikawa-san.



“Benarkah kamu baik-baik saja, Amamiya-kun? Bagiku kamu nggak terlihat baik-baik saja.”



“Ya, aku baik-baik saja. Asalkan aku makan yang banyak malam ini, pasti keadaanku akan kembali seperti biasa.”



“Syukurlah kalau begitu.”



“Um.”



“Ngomong-ngomong, kenapa dia berteman denganmu?”



“Dia dan ayahnya pernah mengunjungi desaku saat musim panas 10 tahun lalu. Aku nggak terlalu ingat banyak hal. Tapi aku ingat saat kami menghabiskan liburan musim panas kami bersama. Dia gadis pertama yang pernah dekat denganku.”



“Dekat, ya. Bahkan kalian memanggil dengan nama depan masing-masing.”



“Iya.”



“Terus, kenapa kamu nggak ingat dia tadi?”



“Setelah beberapa hari dia meninggalkan desaku, ibuku meninggal. Mungkin aku lupa tentangnya karena syok atas kematian ibuku.”



“Begitu, ya. Maaf.”



“Nggak apa-apa.”



Beberapa saat kemudian, sebuah taksi berhenti di depanku. Aika-chan keluar dari dalam taksi lalu berjalan ke arahku.



“Ryu-chan, ayo pulang!”



“Ya. Kalau begitu, aku pulang dulu, Namikawa-san. Sampai jumpa.”



“Ya, sampai jumpa.”



Aku masuk ke dalam taksi bersama Aika. Sopir taksi menanyakan tempat tujuan kami dan aku memberitahukannya. Hanya dalam beberapa menit, kami sampai di depan apartemenku. Setelah membayar, kami keluar dari taksi.



“Apa nggak apa-apa kamu yang bayar, Aika-chan?”



“Iya. Ini juga hal kecil.”



“Makasih, ya.”



“Iya, sama-sama. Jadi, di mana kamarmu, Ryu-chan?”



“Di lantai tujuh. Ayo masuk dulu kalau kamu mau.”



“Mau, mau. Ayo jalan!”



Setelah itu, kami menuju kamarku. Aku langsung membuka pintu yang terkunci dan menyuruh Aika-chan masuk.



“Jadi ini kamarmu, ya, Ryu-chan? Pertama kalinya aku ke kamar anak laki-laki.”



“Begitu, ya. Silakan duduk di mana saja. Aku ke kamar mandi dulu.”



“Iya.”



Di kamar mandi, aku membuka hidungku yang kututup dengan handuk kecil ini untuk melihat apakah darahnya sudah berhenti atau belum. Darahnya sudah berhenti. Aku merasa lega. Hidungku terlihat berwarna merah seperti badut walaupun tidak semerah itu. Aku mulai membersihkan wajahku dan hidungku hingga ke lenganku. Handuk kecil ini akan kucuci saat aku mandi nanti.



Aku keluar dari kamar mandi dan melihat Aika-chan duduk di dekat meja sambil melihat-lihat ke seluruh ruangan ini. Tadi dia bilang kalau ini merupatakan kali pertama dia masuk ke kamar anak laki-laki. Pasti dia sedang membandingkannya dengan kamarnya. Aku mengambil mugicha yang ada di kulkas dan gelas, lalu meletakkannya di atas meja. Aku duduk tepat di sebelah kanannya.



“Silakan diminum, Aika-chan.”



“Makasih, Ryu-chan.” Aika-chan meneguk mugicha dengan cepat, lalu dia melanjutkan. “Bibi mana? Apa kamu tinggal sendirian di sini?”



“Ah, mengenai itu… ibu sudah meninggal. Jadi aku tinggal sendirian di sini.”



“Bohong, kan?”



“Itu kenyataan.”



“Kapan bibi meninggal?”



“Beberapa hari setelah kamu kembali. Mungkin akibat syok atas kematian ibu, aku lupa tentangmu, Aika-chan.”



“Nggak mungkin.” Aika-chan terlihat murung.



Sudah seharusnya aku mengatakan kebenarannya. Aika-chan sering bertemu dengan ibu saat dia berada di desaku waktu itu. Dia juga sering datang ke rumahku untuk bermain. Kehadirannya itu membuat ibuku senang karena ibu tidak memiliki anak perempuan. Sekarang ibu sudah tiada. Mungkin dia ingin bertemu dengan ibu lagi, tapi itu sudah tidak bisa.



“Jadi, sekarang kamu tinggal sendirian di Tokyo?”



“Iya.”



Tiba-tiba Aika-chan memelukku lagi.



“A-Aika-chan?”



“Jangan khawatir, ya, Ryu-chan. Kamu punya aku sekarang. Aku akan selalu berada di sisimu.”



Mendengar perkataan Aika-chan membuatku senang. Mungkin perkataan seperti ini yang sudah lama ingin kudengar. Aku pun tersenyum.



“Um. Makasih, ya, Aika-chan.”



“…” Aika-chan tiba-tiba terdiam dengan matanya terus melihat ke arah wajahku.



Ini terjadi lagi. Apa ada yang aneh di wajahku saat aku tersenyum?



“Aika-chan?”



“Ah, um, ya, sama-sama, Ryu-chan.”



“Kenapa kamu tiba-tiba diam? Apa ada yang aneh di wajahku?”



“Nggak ada apa-apa, kok.”



“Benarkah?”



“I-iya.”



“Begitu, ya.”



“Ngomong-ngomong, kenapa aku nggak pernah ketemu kamu tahun lalu? Seharusnya kita sudah ketemu tahun lalu kalau kamu sudah berada di SMA Keiyou karena sekolah kita lumayan sering melakukan latihan bersama.”



“Sebenarnya…” Aku menjelaskan semua hal yang terjadi terjadi tahun lalu kepada Aika-chan. “Begitulah ceritanya. Jadi aku baru masuk ke SMA Keiyou tahun ini.”



“Nggak mungkin…” Aika-chan tiba-tiba menjadi murung lagi. “Seandainya aku bisa menolongmu, kamu nggak harus menderita seperti itu. Rasa sakit, penderitaan, dan kesengsaraan.” Air mata keluar dari matanya dan mulai membasahi pipinya.



“Namun, rasa sakit akan menguatkan seseorang menapaki hidup. Penderitaan akan menumbuhkan kebijaksanaan. Kesengsaraan yang melewati batas akan melahirkan kekuatan yang nggak bisa diduga.”



“Ryu-chan?”



“Itu semua bagian dari kehidupanku. Apa yang sudah terjadi biarkanlah berlalu. Itu akan menjadi pengalaman hidupku. Jadi, aku harus terus melangkah menuju masa depan.”



“Tapi… kalau sendirian pasti ada batasnya.”



“Iya, kamu benar. Tapi sekarang, aku sudah punya kamu, Aika-chan. Aku juga sudah punya teman yang baik. Sudah, jangan nangis lagi, Aika-chan! Kamu jadi jelek, lo, kalau nangis. Sini, kuhapus air matamu. Jadi jangan nangis lagi, ya.”



“Um…”



Lalu kuhapus air matanya yang membasahi pipinya dengan tanganku. Entah kenapa keadaan seperti ini membuatku merasa déjà vu. Aku sangat tidak bisa melihat seorang gadis atau wanita dewasa menangis. Itu mengingatkanku dengan ibu. Ibu pernah bilang kalau anak laki-laki harus bisa menjadi sandaran bagi seorang perempuan yang menangis. Aku masih sangat kecil waktu, jadi aku tidak mengerti maksudnya. Namun, sekarang aku sudah mulai mengerti.



“Ya… begitu, dong. Aika-chan punya wajah yang cantik, jadi kalau nangis, kecantikannya bisa hilang, lo.”



“Ya, aku nggak nangis lagi, kok.”



“Syukurlah.” Aku sangat senang melihat Aika-chan tidak menangis lagi. “Ayo senyum, Aika-chan!” kataku sambil memperlihatkan senyumku ke arahnya. Dia perlahan mulai tersenyum kembali.



“… Ngomong-ngomong, kamu masak sendiri untuk makan, Ryu-chan?”



“Tentu saja. Minggu lalu, temanku datang ke sini untuk mengajarkanku membuat kari. Kari yang kami buat enak, lo. Aku jadi ingin kamu memakannya, Aika-chan.”



“Heh… Temanmu itu seorang gadis?”



“Iya. Namanya Taniguchi-san. Dia nggak datang sendirian, sih. Dia datang bersama kedua temannya.”



“Hm… tapi memangnya kamu nggak bisa membuat kari, Ryu-chan?”



“Bisa, sih. Tapi dia memberitahuku bahan rahasia agar kari jadi tambah enak.”



“Begitu, ya. Sepertinya Taniguchi-san itu sangat pintar memasak, ya.”



“Iya. Mungkin di lain waktu, aku akan memintanya mengajariku lagi.”



“Kalau begitu untuk hari ini, aku akan membuatkan makan malam untukmu, Ryu-chan.”



“Eh! Sudah jam enam lewat sekarang, lo. Kamu nggak pulang? Orang tuamu nanti khawatir.”



“Tenang saja. Aku tinggal bilang ke ayah kalau aku sedang berada di rumah teman.”



“Tapi Aika-chan, bukan hal yang baik kalau di kamar laki-laki ada seorang gadis di malam hari. Jadi lebih baik kamu pulang saja. Kamu boleh datang ke sini lagi kapan pun kamu mau, kok.”



“Tapi Ryu-chan, kamu tadi hampir jatuh, lo. Apa kamu baik-baik saja?”



“Maaf sudah mengkhawatirkanmu. Aku nggak apa-apa, kok. Makan malam bisa kubuat sendiri.”



“Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu.”



“Um.”



Aku mengantar Aika-chan menuju pintu kamar ini.



“Sampai jumpa, Ryu-chan.”



“Ya, sampai jumpa.”



“Nanti aku datang lagi, ya.”



“Ya.”



Perlahan-lahan, langkah Aika-chan menjauh dari kamar ini lalu meninggalkan apartemen ini.



Hari ini aku merasa senang. Pertama, aku bisa bermain sepakbola bersama anggota Klub Sepakbola Keiyou. Kedua, aku bertemu dengan seorang gadis yang dulu sangat dekat denganku setelah hampir 10 tahun tidak pernah bertemu. Dia terus bertambah cantik.



Di bagian yang lain, aku mengalami mimisan karena terkena bola yang sedikit membuatku pusing akibat banyakny darah yang keluar. Namun, itu bukan hal yang perlu dipermasalahkan.



Aku mulai memasak untuk makan malam setelah mengganti seragam. Seperti yang dikatakan Shiraishi-san tadi, aku akan mengonsumsi makan yang mengandung zat besi, zat tembaga, vitamin B6, dan vitamin B12.



Setelah makan malam dan mandi, aku menghabiskan waktu dengan bersantai di beranda. Melihat lingkungan sekitar sambil minum teh hangat. Malam ini terlihat mendung yang kemungkinan hujannya tinggi. Wajar saja, sekarang sudah bulan Juni dan pasti akan dipenuhi dengan musim hujan.



Aku kembali ke kamar dan menutup pintu ke beranda setelah merasa rileks. Sekarang saatnya belajar.



Ah, mungkin aku harus tidur lebih awal malam ini.







***







Keesokan harinya saat aku tiba di sekolah, entah kenapa banyak murid yang melihat ke arahku. Ini seperti dulu ketika aku pergi bersama Fuyukawa-san. Aku tidak mengerti kenapa aku menjadi pusat perhatian lagi. Beberapa hari ini, aku jarang berinteraksi dengan Fuyukawa-san atau dengan temanku yang lain.



Di loker sepatu, kucoba untuk berpikir apa yang membuat aku menjadi pusat perhatian. Namun, aku tidak mendapatkan suatu alasannya. Jika tidak ada dampak negatif ke orang lain, maka tidak apa-apa.



Sesampai di kelas, aku masuk sambil mengatakan “Selamat pagi” kepada semua teman sekelasku yang sudah berada di dalam kelas.



“Itu dia baru datang,” kata Mizuno-san.



“…?” Aku bingung dengan perkataan itu. Sepertinya Mizuno-san sedang membicarakan tentangku dengan yang lainnya.



Tampaknya, Klub Basket Perempuan tidak memiliki latihan pagi hari ini. Aku melihat Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Seto-san sudah berada di kelas. Seharusnya aku pergi lebih telat sedikit agar peluang berinteraksi dengan Mizuno-san menjadi sedikit.



Dengan ekspresi sedikit penasaran, aku langsung duduk di kursiku lalu melihat ke arah murid kelas ini. Mereka seperti punya pertanyaan yang ingin ditanyakan kepadaku. Ketika kulihat ke arah Fuyukawa-san, dia seperti sedang gelisah. Apa ada sesuatu yang sedang mengganggunya?



Tiba-tiba Shimizu-san berdiri lalu melihat ke arahku.



“Amamiya-kun, katanya kamu punya hubungan asmara dengan seorang gadis dari SMA Waseida, ya?”



“Eh! Tentu saja nggak ada.”



“Kalau nggak ada, kenapa kemarin kamu berpelukan dengan seorang gadis di dekat gerbang sekolah? Ada orang yang melihatnya. Rumor tentangmu jadi tersebar.”



Jadi ini yang membuatku menjadi pusat perhatian hari ini. Seperti biasa, rumor begitu cepat tersebar di sekolah ini. Waktu itu ada juga rumor yang mengatakan aku berpacaran dengan Namikawa-san hanya karena kami pulang bersama. Entah siapa yang menyebarkan rumor-rumor seperti itu.



“Bukan seperti itu. Aku nggak memeluknya. Gadis itu yang memelukku.”



“Jadi, apa hubunganmu dengan gadis itu?”



“Dia teman masa kecilku. Aku nggak nyangka bisa ketemu dengannya lagi di sini setelah berpisah selama hampir 10 tahun.”



“Teman masa kecil?” tanya Fuyukawa-san dengan suara yang kecil.



“Iya.”



“Kenapa kamu bisa berteman dengannya? Dia itu murid SMA Waseida, lo. Dia pasti dari keluarga elite.” Mizuno-san seperti tidak menerima kalau aku berteman dengan Aika-chan.



“Dulu, dia pernah ke desaku di Nagano. Mungkin dia ingin mengikuti ayahnya karena ayahnya ada kerjaan di sana. Kami bertemu lalu menjadi teman. Seperti itu.”



“Begitu, ya. Jadi, kenapa dia memelukmu?” tanya Shimizu-san lagi.



“Hm… dia merindukanku. Itu yang dia bilang.”



“Dengan kata lain, gadis itu hanya teman Amamiya-kun yang bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Dia pasti kangen dan itu membuatnya memeluk Amamiya-kun dengan nggak sengaja.”



“Iya, seperti itu.” Aku kagum melihat Nazuka-san yang bisa menyimpulkan secara tepat.



“Jadi, gadis itu bukan pacarmu, ya, Amamiya-kun?”



“Tentu saja bukan, Fuyukawa-san.”



“Begitu, ya.” Fuyukawa-san tiba-tiba mulai tersenyum kembali. Kegelisahan yang tadi seperti sudah hilang entah ke mana.



“Jadi, kalau gadis itu bukan pacarmu, siapa juga pacarmu, Amamiya-kun?” Moriyama-san tiba-tiba melayangkan pertanyaan



“Hah? Tentu saja nggak ada.”



“Kalau orang yang kamu suka?”



“Aku suka semua temanku, kok.”



“Maksudku suka dalam arti asmara.”



“Hm… nggak ada.”



“Eh! Benarkah?”



“Iya.”



“Begitu, ya.”



“Ngomong-ngomong, kenapa dengan hidungmu, Amamiya-kun?” tanya Shimizu-san dengan ekspresi penasaran terpasang jelas di wajahnya.



“Ah… ini? Kemarin aku terkena bola tepat di hidung.”



“Serius? Kenapa bisa kena bola?”



“Kemarin aku membantu Klub Sepakbola sebagai kiper mereka.”



“Kami lihat kemarin bagaimana Amamiya bermain sebagai kiper. Aku, Atsuko, dan Yukina.” Seto-san mulai menambahkan.



“Iya. Saat di keadaan satu lawan satu, Amamiya berhasil menahan tendangan dari pemain lawan karena terkena wajahnya. Terus, bola yang memantul itu ditendang lagi. Amamiya melompat ke arah kanan untuk menahan bola yang ditendang itu. Hasilnya, bola itu mengenai tiang gawang lalu ke luar lapangan. Orang yang melihat penyelamatan itu terkagum-kagum, lo.”



“Iya. Atsuko juga kagum melihatnya.”



“Tentu saja aku kagum. Sangat jarang ada kiper yang bisa melakukan double-save seperti itu, Yukina.”



“Iya, kamu benar. Tapi double-save itu dibayar dengan Amamiya-kun mengalami mimisan sehingga nggak bisa bermain lagi.”



“Iya. Sangat disayangkan. Kalau Amamiya masih bisa main, tim sepakbola kita nggak akan kalah.”



“Darah yang keluar juga banyak. Ya, kan, Amamiya?”



“Kamu benar, Seto-san. Mimisan karena terkena bola sudah sering kualami, sih. Tapi yang kemarin itu, darah yang keluar lebih banyak. Aku sampai kehilangan keseimbangan.”



“Sekarang kamu sudah baik-baik saja?”



“Sudah, kok, Nazuka-san.”



“Syukurlah kalau begitu.”



“Hei, Amamiya-kun.” Fuyukawa-san memanggilku dengan suara yang kecil.



“Ada apa, Fuyukawa-san?”



“Apa benar kamu baik-baik saja?”



“Aku baik-baik saja, kok. Bukan pertama kalinya aku mimisan karena terkena bola.”



“Aku nggak mau kejadian seperti dulu terulang lagi. Jadi berhati-hatilah. Jangan terlalu memaksakan diri, ya.”



Tampaknya, Fuyukawa-san mengkhawatirkanku karena dia masih mengingat kejadian tahun lalu itu. Itu artinya kegelisahannya yang tadi itu karena mengingat kejadian tahun lalu itu. Dia takut kejadian seperti itu terulang lagi walaupun dengan situasi yang berbeda.



Seperti yang dia katakan, aku harus lebih berhati-hati dan tidak terlalu memaksakan diri. Hidungku terkena bola kemarin karena kelengahanku. Jika aku sedikit lebih cepat membuang muka, pasti bola itu akan mengenai pipiku. Dengan begitu, aku tidak harus ditarik keluar karena mimisan.



“Maaf sudah mengkhawatirkanmu, Fuyukawa-san. Aku akan lebih berhati-hati. Makasih, ya.”



“Um,” jawabnya sambil senyum.



“Eh… Yukina sedang bisik-bisik dengan Amamiya. Apa yang kalian bicara sampai harus berbisik seperti itu?”



“Bukan apa-apa, kok, Atsuko. Ya, kan, Amamiya-kun?”



“Ya, bukan apa-apa.” Aku menjawabnya tanpa melihat ke arah Mizuno-san.



“Oh, begitu.”



Beberapa saat kemudian, bel tanda masuk berbunyi. Saatnya pelajaran pertama akan dimulai.







***







Setelah pelajaran di jam pertama dan kedua selesai, aku harus menuju ke kelas selanjutnya yang ada di gedung khusus karena pelajaran selanjutnya adalah pelajaran pilihan, yaitu Matematika B.



Aku senang berada di kelas ini karena murid sekelasku tidak ragu untuk bertanya kepadaku jika ada sesuatu yang mereka tidak mengerti.



Sambil terus fokus kepada guru yang sedang menjelaskan, aku sedikit penasaran dengan pelajaran pilihan yang diambil Shiraishi-san, murid peringkat satu di sekolah ini.



Proses belajar berjalan lancar tanpa ada hambatan. Aku dapat memahami semua yang dijelaskan guru dengan mudah.



Setelah 2 jam pelajaran, saatnya memasuki jam istirahat makan siang.



Ketika aku sedang berjalan di koridor gedung khusus untuk kembali ke kelas, seseorang memanggilku, “Amamiya-san.”



“Halo, Iwase-san.”



Gadis yang memanggilku adalah Iwase Ayumi-san, murid kelas 2-A yang menganggap dirinya sebagai saingan Shiraishi-san. Beberapa waktu yang lalu, dia ingin aku menjadi rivalnya dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Aku merasa senang karena dia menganggapku sebagai rivalnya dan dia orang pertama yang melakukan itu.



Dia mempunyai penampilan layaknya seorang murid yang pintar. Kacamata yang dipakainya itu sangat menambah pesonanya. Dia memiliki kulit yang putih, rambut lurus yang panjangnya hanya sampai bahu, tubuh yang langsing, dan tinggi tubuhnya mungkin sekitar 160 cm, atau lebih.



“Ada yang ingin kutanyakan padamu, Amamiya-san.”



“Apa?”



“Ada rumor tentang kamu punya hubungan asmara dengan murid SMA Waseida. Apa itu benar?”



“Rumor itu, ya? Itu salah. Gadis itu teman masa kecilku. Kami sudah lama berpisah dan ketemu lagi kemarin.”



“Begitu, ya. Jadi, kamu nggak ada hubungan asmara dengan siapa pun sekarang?”



“Iya, nggak ada. Kenapa tiba-tiba tanya tentang itu?”



“Aku ingin memastikan saja.”



“Hm… begitu, ya.”



Entah sejak kapan aku sudah tidak gugup lagi saat berbicara dengan seorang gadis. Kalau kupikir baik-baik, ini berkat Fuyukawa-san, Namikawa-san, dan Kayano-san.



Lain halnya dengan Shiraishi-san. Sampai sekarang, aku masih belum berani untuk mengajaknya bicara selain tentang kegiatan klub. Bahkan Shiga menyuruhku untuk bisa berteman dengannya. Mungkin ini hanya masalah waktu. Aku akan berusaha. Sedikit demi sedikit.



“Ngomong-ngomong, kamu sering makan siang di mana, Iwase-san? Aku nggak pernah lihat kamu di kantin.”



“Tentu saja kamu nggak pernah lihat aku di sana. Aku selalu makan siang di kelas.”



“Eh! Selalu? Kenapa?”



“Sebenarnya aku sulit untuk berinteraksi dengan orang lain. Jadi aku nggak punya banyak teman. Karena itulah aku selalu makan siang di kelas.”



“Benarkah? Menurutku nggak begitu.”



“Eh?”



“Buktinya, kamu dengan mudahnya bisa berbicara denganku sekarang. Juga, bukannya kamu yang memanggilku waktu itu?”



“Bukan begitu. Tadi, aku hanya ingin memastikan apakah rumor itu benar dan berpengaruh padamu sebagai rivalku. Sedangkan waktu itu, aku ingin mengetahui siapa yang mengalahkanku dan hampir mengalahkan rivalku, Shiraishi-san, di ujian tengah semester.”



“Jadi, kamu hanya anggap aku sebagai rivalmu saja?”



“Iya. Bagaimana denganmu?”



“Tentu saja kamu sudah kuanggap sebagai rival dan teman.”



“Kenapa?”



“Sederhana. Kita sudah memperkenalkan diri masing-masing dan juga sudah bersalaman waktu itu, kan? Bukankah itu bisa dikatakan sebagai awal dari pertemanan? Meskipun kita jarang berbicara, hanya sesekali setelah pelajaran pilihan, aku tetap anggap kamu sebagai teman.”



“…” Iwase-san terdiam karena kata-kataku itu dan masih tetap menatap wajahku.



Mungkin aku baru saja mengatakan hal yang salah, seperti menganggapnya langsung sebagai teman. Padahal dia hanya memintaku untuk menjadi rivalnya saja.



“Ah, maaf, kalau aku seenaknya anggap kamu sebagai temanku.”



“Ah, nggak. Entah kenapa aku senang mendengarnya. Mungkin dari lubuk hati terdalam, aku juga ingin kamu menjadi temanku.”



“Aku sudah jadi temanmu, kok.”



“Tapi…”



“Tapi kenapa?”



“Apa kamu nggak masalah berteman dengan orang sepertiku? Orang-orang bilang, aku ini gadis membosankan yang hanya bisa belajar. Bahkan ada yang memanggilku dengan sebutan ‘Si Kacamata Kutu Buku’ sejak kelas satu.”



“Aku sama sekali nggak mempermasalahkan hal itu. Lagi pula, itu hanya anggapan orang lain. Benar, kan? Mereka bilang seperti itu karena mereka belum mengenalmu. Mereka hanya melihatmu dari luar saja, dari penampilanmu. Benar atau salahnya tentang itu, aku akan tahu setelah menjadi temanmu dan mengenalmu lebih dalam.” Sepertinya kalimat yang keluar dari mulutku sedikit aneh.



“Aku senang. Jadi mulai sekarang, kamu sebagai rival dan temanku, ya, Amamiya-san.”



“Ya, Iwase-san.”



Setelah itu, kami berdua berjalan bersama menuju gedung utama untuk kembali ke kelas kami masing-masing. Masih terlihat beberapa murid yang melihat ke arahku karena rumor tentangku dengan gadis dari SMA Waseida yang tidak lain adalah teman masa kecilku, Aika-chan. Aku sama sekali tidak terganggu dengan rumor itu. Kebanaran tentang rumor itu juga sudah kuberita tahu kepada teman sekelasku dan Iwase-san. Nanti juga rumor tentang itu akan hilang dengan sendirinya karena sudah ada orang yang mengetahui kebenarannya.



Sekarang sudah tiba jam istirahat makan siang yang berarti aku harus makan untuk mengisi kembali energi yang sudah kugunakan saat belajar tadi.



“Amamiya-san.” Tiba-tiba Iwase-san memanggilku saat aku hendak masuk ke dalam kelas. “Mau makan siang bersama di kantin?”



“Boleh, kok. Kalau begitu, aku tunggu di sini, ya. Lalu kita ke kantin bersama.”



“Ya. Tunggu, ya.” Iwase-san langsung menuju kelasnya dan aku masuk ke dalam kelasku.



Di dalam kelas, aku tidak melihat kehadiran Mizuno-san. Itu berarti dia sudah pergi untuk makan siang dengan Fuyukawa-san dan Seto-san. Aku langsung meletakkan bukuku ke dalam laci mejaku.



Aku tidak tahu harus sampai kapan menghindari Mizuno-san, padahal aku tahu bahwa menghindarinya terus menerus tidak dapat menyelesaikan apa-apa.



Kalau kupikir lagi, aku hanya tidak terlalu mengenalnya. Aku tahu dia gadis yang baik dan selalu memikirkan tentang temannya. Berkat dia yang menamparku waktu itu, aku jadi sadar apa telah kulakukan waktu itu salah dan aku jadi tahu apa yang harus kulakukan. Jika dia tidak menamparku waktu itu, mungkin aku tidak akan sadar atas apa yang telah kulakukan dan itu akan membuat hubunganku dengan Fuyukawa-san akan berakhir. Berkat dirinya, aku dan Fuyukawa-san tetap memiliki hubungan yang baik sebagai teman dan perwakalan kelas ini. Mungkin aku harus berterima kasih dan meminta maaf padanya nanti.



“Amamiya-san.”



Tiba-tiba aku mendengar suara lembut dari seorang gadis yang memanggilku dari arah pintu. Ketika aku berpaling ke arah kana, aku melihat Iwase-san sedang berdiri di dekat pintu. Dia memegang bento di tangannya. Aku menuju ke arahnya.



“Iwase-san. Ayo ke kantin!”



“Ya, ayo!”



Setiba di kantin, aku langsung mengantri untuk memesan makanan. Sedangkan Iwase-san, dia langsung mencari tempat.



Sejak tiba di sini, aku menjadi pusat perhatian karena rumor tentang hubunganku dengan gadis daris SMA Waseida. Beberapa orang melihat ke arahku lalu berbisik. Terserah mereka saja. Itu hak mereka. Kalau memang mereka ingin tahu kebenaran dari rumor itu, mereka hanya perlu tanya kepadaku.



Akhirnya tiba giliranku untuk memesan. Aku memesan gyuudon dengan porsi ekstra daging karena daging sapi mengandung zat besi, vitamin B6 dan B12 yang dapat meningkatkan produksi sel darah marah. Setelah itu, aku menuju ke tempat Iwase-san.



Aku melihat Taka sedang makan bersama anggota klubnya. Ini kesempatan yang bagus untuk mengatakan rencanaku kepadanya agar dia bisa menyelesaikan kesalahpahaman dengan Fuyukawa-san. Dia tahu kalau aku selalu makan siang di kantin. Walaupun sekarang dia tidak tahu kalau sekarang aku sudah berada di kantin, dia akan mengetahuinya ketika hendak keluar dari sini.



Sedangkan Shiraishi-san, aku tidak melihat dia ada di sini. Kemungkinannya ada dua, dia sudah selesai makan di sini atau dia membawa bento dan memilih tempat lain untuk tempat makan siangnya.



“Maaf sudah membuatmu menunggu, Iwase-san.” Aku langsung duduk di kursi yang terletak di depan Iwase-san sehingga kami saling berhadapan.



“Nggak, kok.”



“Begitu, ya.”



“Hm? Kamu perwakilan kelas, ya, Amamiya-san? Itu ada pin di dasimu.”



“Iya. Ayo makan! Itadakimasu.”



“Itadakimasu.”



Aku melihat isi dari bento Iwase-san yang berupa nasi yang di atasnya dilapisi dengan nori, tamagoyaki, karaage, sosis, dan sayuran seperti timun, tomat ceri, dan brokoli. Kalau kubandingkan dengan porsi gyuudon ini, porsi dari bento-nya sedikit lebih banyak. Padahal aku memesan porsi ekstra.



Kalau aku tidak mendapatkan pin sebagai tanda perwakilan kelas sehingga membuatku harus membayar untuk makan di kantin, aku akan membawa bento untuk makan siang walaupun dengan menu sederhana.



Saat makan, kami tidak berbicara sama sekali. Kami hanya diam sambil menikmati menu makan siang kami masing-masing.



“Amamiya-kun?”



Tiba-tiba aku mendengar suara seorang gadis yang memanggil namaku. Suaranya tidak asing bagiku. Ketika kulihat ke arah datangnya suara itu, yaitu dari sebelah kiriku, ada Taniguchi-san berdiri sambil memegang nampan yang berisi menu makan siangnya.



“Ah, Taniguchi-san. Sendirian saja?”



“Iya. Kalau kamu, Amamiya-kun? Ah… nggak sendirian, ya.”



“Iya. Aku bersama Iwase-san.”



“Halo,” kata Iwase-san sambil menundukkan sedikit kepalanya.



“Ah, halo.”



“Kalau begitu, ayo makan bersama kami, Taniguchi-san. Masih ada kursi yang kosong, nih.”



“Iya.” Taniguchi-san duduk di sebelah kananku. “Itadakimasu,” katanya dan langsung memakan nasi omeletnya.



Seperti biasa, gyuudon dari kantin ini rasanya tetap sama. Tanpa kusadari, aku sudah menghabiskannya.



“Ah… seperti biasa, gyuudon-nya enak.”



“Oh, kamu sudah menghabiskannya, ya, Amamiya-san.”



“Haha, iya. Rasanya enak, sih. Aku nggak sadar kalau sudah habis memakan semuanya.”



“Kalau begitu, mau makan bento-ku?”




“Iya, boleh, kok. Nih!” Iwase-san memberiku nasi dengan nori, karaage, dan tamagoyaki. Sepertinya dia hanya ingin memakan sayuran saja.



“Makasih, ya. Tapi kenapa?”



“Porsi hari ini terlalu banyak untukku.”



“Ah… aku juga berpikiran seperti itu tadi. Kenapa porsi bento-mu sangat banyak. Kupikir itu memang porsi makanmu.” Aku mulai makan lagi.



Sebenarnya, aku sudah lumayan kenyang berkat gyuudon porsi ekstra itu. Namun, sangat disayangkan jika makanan itu dibuang karena tidak dimakan. Jadi lebih baik aku yang memakannya. Orang-orang dari keluarga elite mungkin tidak mengerti bagaimana para petani bekerja demi menghasilkan sumber makanan. Aku sangat mengerti hal itu. Karena itulah aku tidak akan menyiakan makanan. Lagi pula, aku sedang dalam masa pertumbuhan sehingga memerlukan banyak nutrisi.



“Nggak mungkin porsi makanku sebanyak ini.”



“Iya, nggak mungkin porsi makannya sebanyak itu, Amamiya-kun. Kami ini, para gadis, nggak makan sebanyak itu. Kami harus perhatikan porsi makan agar berat badan kami nggak naik.”



“Iya, benar. Aku bahkan menghitung jumlah kalori dari makananku agar nggak melebihi kebutuhan kalori harian. Secara umum, kalori harian bagi laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, lo, Amamiya-san.”



“Begitu, ya. Merepotkan, ya.”



“Demi tubuh yang ideal, itu bukanlah apa-apa. Ya, kan, Iwase-san?”



“Iya, kamu benar, Taniguchi-san.”



“Oh… karena itulah kalian memiliki tubuh yang langsing, ya. Jadi, berapa berat badan kalian?”



“Rahasia.”



“Menanyakan berat badan pada seorang gadis itu hal yang tabu, lo, Amamiya-san. Juga, wanita dewasa cenderung sensitif mengenai umur, lo.”



“Benarkah?”



“Iya, benar, lo, Amamiya-kun. Contohnya seperti Hiratsuka-sensei. Sampai sekarang belum ada seorang murid pun yang tahu berapa umurnya.”



“Begitu, ya. Aku jadi belajar hal baru.”



“Hahaha.” Taniguchi-san dan Iwase-san tertawa dan tersenyum.



Aku sama sekali tidak tahu kalau menanyakan berat badan dan umur wanita tidak baik dilakukan. Entah dari mana hal tabu itu datang, tapi akan kuingat.



“Tapi, kalau kalian makan dengan porsi kecil, bukankah kebutuhan nutrisi kalian bisa jadi nggak tercukupi? Kita ini sedang dalam masa pertumbuhan, lo. Nanti pertumbuhan kalian bisa terhambat.”



“…”



“…”



“…?”



Iwase-san dan Taniguchi-san terdiam dan mereka saling bertatapan satu sama lain. Aku jadi bingung melihat mereka seperti itu. Mungkin mereka sedang memikirkan apa yang kukatakan tadi.



Setelah saling bertatapan, mereka berdua melihat ke arahku. Mereka menyilangkan kedua tangan di depan dada mereka sehingga terlihat seperti mereka sedang menutupi dada mereka masing-masing.



“Pertumbuhan apa maksudmu?!” tanya Taniguchi-san dengan suara yang tegas.



“Pertumbuhan yang kamu maksud itu pertumbuhan dada, ya, Amamiya-san?” Iwase-san menanyakannya dengan suara yang terdengar dingin, hampir mirip dengan suara Shiraishi-san.



“Ha? Bukan. Bukan seperti itu. Maksudku seperti tinggi badan. Aku sama sekali nggak bermaksud menyinggung hal itu.”



“Hm…”



“Begitu, ya.”



“Ayo kita makan lagi!”



Setelah itu, kami kembali menikmati makan siang kami masing-masing.



Walaupun aku sudah lumayang kenyang, akhirnya aku sanggup menghabisi makanan yang diberikan Iwase-san. Perutku terasa sangat penuh. Sedangkan mereka berdua sudah menghabisi makanan mereka terlebih dulu.



“Ah… kenyangnya. Gochisousama deshita.”



“Kamu nggak perlu memaksa, Amamiya-san. Seharusnya kamu bilang saja tadi kalau kamu sudah kenyang dan nggak bisa makan lagi.”



“Tapi kalau nggak dimakan, nanti akan dibuang, kan?”



“Iya.”



“Daripada dibuang, lebih baik kumakan saja. Lagian, aku nggak suka menyia-nyiakan makanan. Rasanya seperti nggak menghormati orang yang sudah membuat makanan ini dan menyiapkan bahannya.”



“Kamu benar.”



“Jadi, porsi bento-mu harus kamu sesuaikan, Iwase-san.”



“Iya. Nanti akan kubilang ke koki yang membuat bento ini.”



“Ngomong-ngomong, boleh aku tanya sesuatu, Amamiya-san? Aku penasaran.”



“Boleh, kok.”



“Kenapa hidungmu bisa merah seperti itu?”



“Itu… aku juga penasaran.”



“Ah, ini, ya?” kataku sambil memengang hidungku. “Kemarin aku jadi kiper untuk bantu Klub Sepakbola latihan tanding. Saat aku hendak menghalang pemain lawan satu lawan satu, bola yang ditendangnya mengenai hidungku. Kupikir kamu sudah dengar dari Ishikawa-senpai, Taniguchi-san.”



“Rikka-senpai nggak bilang apa-apa. Terus, apa kamu nggak apa-apa?”



“Sebenarnya karena terkena bola itu, aku mimisan. Sedikit membuatku pusing karena banyak darah yang keluar. Tapi sekarang, aku sudah baik-baik saja.”



“…” Iwase-san tiba-tiba memasang ekspresi kaget dan tidak mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya setelah aku mengatakan apa yang terjadi akibat terkena bola itu.



“Begitu, ya. Kalau Klub Sepakbola minta kamu untuk jadi kiper lagi, apa kamu mau?”



“Tentu saja.”



“Kenapa? Kamu bahkan mimisan karena membantu mereka dengan menjadi kiper.”



“Hm… karena aku suka sepakbola. Aku juga sering mimisan karena terkena bola di hidung. Lagian, kegiatan klubku seperti itu. Tentu saja kalau aku sedang sehat. Kalau kurang sehat, sudah pasti aku nggak bisa membantu mereka seperti Senin kemarin.”



“Oh, benar juga. Waktu itu, Rikka-senpai bilang kalau kamu kurang sehat. Jadi kamu nggak bisa membantu mereka. Lebih baik jangan terlalu memaksakan diri. Kalau sakit, nanti kamu akan kesusahan.”



“Iya.”



“Hm? Kamu kenapa diam saja, Iwase-san? Padahal kamu yang tanya.”



“Ah, um… Aku hanya kaget saja. Pasti sakit terkena bola sampai mimisan.”



“Ya, begitulah. Itu risiko seorang kiper. Apapun yang terjadi harus melindungi gawang agar nggak kebobolan.”



“Apa nggak mengganggu kegiatan belajarmu?”



“Nggak, kok.”



“Ngomong-ngomong, hubungan kalian berdua seperti apa?”



“Dia temanku.”



“Dia rivalku.”



“…?”



“…?”



Aku dan Iwase-san saling bertatapan karena jawaban kami yang berbeda dengan.



“Yang mana yang benar?”



“Iwase-san teman dan juga rivalku. Ya, kan, Iwase-san.”



“Iya.”



“Lalu kenapa rival?”



“Ah… soal itu, Iwase-san kesal saat peringkatnya di ujian tengah semester lalu di bawahku. Lalu dia memintaku untuk jadi rivalnya.”



“Begitu, ya. Memang benar, sih, Iwase-san di setiap ujian selalu berada di peringkat dua, di bawah Shiraishi-san. Tapi, ya… kamu hebat, ya, Amamiya-kun, bisa langsung dapat peringkat dua. Padahal kamu baru saja pindah ke sekolah ini.”



“Iya. Amamiya-san hebat. Karena itulah aku ingin dia jadi rivalku. Dalam belajar.”



“Begitu, ya. Pasti menyenangkan ada rival. Ya, kan, Amamiya-kun?”



“Iya. Aku senang saat Iwase-san menganggapku sebagai rivalnya. Karena itu pertama kalinya aku punya rival.”



“Ayo kita bertarung secara sehat di ujian akhir semester nanti, Amamiya-kun!”



“Ya. Aku nggak akan kalah, lo.”



“Aku juga.” Iwase-san menjawabnya sambil tersenyum.



“Aku juga harus belajar.”



“Ayo lakukan yang terbaik!”



“Ya, masih ada waktu satu bulan untuk belajar sebelum ujian.”



“Ya, aku akan berusaha!”



Iwase-san dan Taniguchi-san saling tersenyum. Pasti ini pertama kali bagi mereka berdua saling berbicara. Sebenarnya cukup aneh. Iwase-san bilang dia susah untuk berinteraksi dengan orang lain. Namun kenyataannya, dia bisa berinteraksi denganku dan Taniguchi-san seperti orang yang sudah lama kenal.



“Iwase-san, lihat! Kamu bisa berinteraksi dengan orang lain. Kamu bisa dengan santainya berbicara denganku dan Taniguchi-san.”



“Ah, benar juga. Kenapa, ya.”



“Eh!? Jadi Iwase-san susah untuk berinteraksi dengan orang lain, ya.”



“Iya, Taniguchi-san.”



“Begitu, ya.”



“Hm, ya, setidaknya kamu sudah bisa berinteraksi denganku dan Taniguchi-san. Secara perlahan, kamu pasti bisa.”



“Semoga saja.”



Mungkin Iwase-san bisa berinteraksi dengan orang lain awalnya. Sejak awal, dia bisa berinteraksi dengan temannya yang sedikit itu. Itu berarti dia juga bisa berinteraksi dengan orang lain. Hal yang membuatnya susah untuk melakukan itu mungkin akibat anggapan orang-orang yang mengatakan dia gadis membosankan yang hanya bisa belajar. Secara tidak sadar, dia mulai menjauhi dan menutup pintu interaksi dengan mereka yang tidak dia kenal. Kalau dia mulai mencoba untuk membuka pintu interaksi itu, aku yakin dia bisa berinteraksi dengan mereka yang kenyataannya dia bukanlah gadis membosankan yang hanya bisa belajar.



Ketika kulihat ke arah kiri, ada Taka yang sedang membawa nampan untuk dikembalikan ke petugas kantin lalu mata kami saling bertemu.



“Hei, Ryuki. Wah, hari ini kamu makan siang dengan dua orang gadis, ya.”



“Taka, ada yang ingin kukatakan padamu mengenai ‘hal itu’ sekarang.”



“Kamu sudah memikirkan sesuatu, ya? Baiklah.”



“Iwase-san, Taniguchi-san! Aku duluan, ya.”



“Ya, sampai jumpa.”



“Sampai nanti.”



Aku membawa nampanku ke petugas kantin bersama Taka. Setelah itu, kami keluar menuju halaman dalam sekolah dan duduk di bangku yang ada di bawah pohon.



“Jadi, apa yang ingin kamu katakan?”



“Aku mau kamu datang ke pertandingan basket Fuyukawa-san nanti.”



“Hah? Kenapa?”



“Kurasa kamu harus menunjukkan ‘sesuatu’ ke dia.”



“Apa ‘sesuatu’ itu?”



“Hm… bagaimana bilang, ya. Mungkin… seperti memperlihatkan kalau kamu ada di dekat dia.”



“Hah? Apa yang kamu katakan? Bukankah aneh kalau aku tiba-tiba datang menonton pertandingannya?”



“Tapi kamu harus menunjukkan ‘sesuatu’ itu.”



“Baiklah, aku akan datang.”



“Kamu tahu kapan dan di mana, kan?”



“Ya, aku tahu. Pertandingan semifinal hari ini dan final hari Sabtu. Di Gimnasium Metropolitan Tokyo.”



“Eh?! Hari ini? Bukankah Jumat?”



“Jadwalnya dipercepat.”



“Begitu, ya.”



“Terus, apa lagi yang sudah kamu pikirkan?”



“Ah, um. Untuk menyelesaikan kesalahpahaman itu, kamu harus menjelaskan ke dia.”



“Itu sudah kulakukan, kan? Kenapa aku harus menjelaskan lagi?”



“Ada kemungkinan kalau waktu itu dia nggak mendengar penjelasanmu itu.”



“Eh!?”



“Tenang saja. Aku akan di sana saat kamu menjelaskan ke dia.”



“Terus, tempatnya di mana?”



“Itu mau kutanya ke kamu. Bagaimana kalau di atap sekolah?”



“Bisa, sih. Tapi banyak murid di sana, baik di jam istirahat makan siang ataupun sepulang sekolah.”



“Hm… mungkin aku bisa minta bantuan Shiraishi-san untuk menjaga pintu ke atap sekolah agar nggak ada orang lain yang datang ke sana.”



“Hm, itu bisa juga. Eh, oi!? Kamu ceritakan ke Shiraishi-san tentang aku dan Fuyukawa?” Taka penuh dengan ekspresi panik di wajahnya.



“Eh!? Apa nggak boleh?”



“Ah, kamu ini… aku nggak mau ada orang lain tahu tentang itu.”



“Maaf, seharusnya aku lebih berhati-hati saat menjelaskan padanya.”



“Apa boleh buat. Apa yang sudah terjadi, ya, terjadilah. Balik ke sola tadi. Tetap saja sudah ada orang duluan di sana.”



“Kalau di akhir-akhir sebelum sekolah tutup bagaimana?”



“Hm… mungkin bisa. Sekitar pukul 5:45 sore.”



“Baiklah. Untuk waktunya kuserahkan padamu.”



“Kalau begitu, Selasa depan saja.”



“Selasa, ya. Baiklah!”



“Tolong, ya, Ryuki!”



“Ya.”



Aku melihat ekspresi di wajah Taka yang sedikit murung. Sudah pasti dia merasa tersiksa karena kesalahpahaman yang tidak kunjung selesai sampai sekarang, juga rasa bersalah yang tinggal di dalam hatinya. Sudah jelas kalau dia sangat mencintai Fuyukawa-san, bahkan sampai sekarang. Dia memang terlihat ceria seperti layaknya ikemen di luar sana, tapi hatinya tidak seperti itu. Dia terus menekan dirinya untuk terlihat selalu ceria, selalu tampil sempurna di depan orang lain. Namun di depanku, dia sudah menunjukkan siapa dia sebenarnya. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Yang jelas, aku akan membantunya untuk keluar dari kesalahpahaman yang menyiksanya itu.



“Kalau begitu, ayo kembali ke kelas!”



“… Ah, ya. Aku ke tempat temanku dulu. Sampai nanti, Ryuki.”



“Baiklah. Sampai nanti.”



Aku kembali ke kelas karena jam istirahat tinggal sedikit lagi. Kugunakan waktuku untuk bersantai di kelas sambil melihat ke arah luar jendela. Cuaca mulai mendung yang mana tadi pagi terlihat cerah. Lagi pula, ini sudah bulan Juni. Bukan hal yang aneh kalau hujan turun secara tiba-tiba. Mungkin beberapa hari ke depan, hujan akan turun setiap hari.



Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Namun, tidak untuk kesalahan yang sama. Aku percaya dengan kata-kata itu. Buktinya, aku bisa kembali bersekolah di sekolah ini, SMA Akademi Keiyou. Aku juga masih bisa berteman dengan Fuyukawa-san atas apa yang terjadi di antara kami. Walaupun dia yang membuatku tertabrak mobil, membuatku masuk rumah sakit dan mengalami patah tulang kaki, dan membuatku tidak bisa bersekolah di sekolah ini tahun lalu, aku masih menerimanya sebagai temanku. Aku tahu aku punya hak untuk membencinya. Namun pada akhirnya, aku tidak bisa membencinya.



Aku kaget dan marah saat mengetahui kebenaran kejadian itu minggu lalu. Pasti Shiraishi-san merasakan hal yang sama sepertiku pada Christmas Eve waktu itu. Namun pada waktu itu, aku disadarkan Mizuno-san dengan tamparannya di pipi kiriku. Akhirnya aku memberikan Fuyukawa-san kesempatan untuk berbicara. Hubungan pertemanan yang hampir hancur saat itu akhirnya tidak menjadi hancur.



Dengan kata lain, aku harus bisa menyadarkan Fuyukawa-san karena hati dan pikirannya masih tertutup akibat syok dan rasa marah kepada Taka. Setelah itu, barulah Taka menjelaskan semuanya dengan jelas.



Masalahnya sekarang adalah bagaimana cara menyadarkannya. Tidak mungkin aku melakukan hal yang sama seperti Mizuno-san menyadarkanku. Itu bukan sesuatu hal yang boleh dilakukan seorang anak laki-laki kepada seorang gadis. Pasti ada caranya. Belum lagi aku harus menyelesaikan masalahku dengan Mizuno-san walaupun ini hanya anggapanku sendiri. Memikirkannya sekaligus membuatku pusing. Lebih baik kupikirkan nanti saja satu per satu.



Beberapa saat kemudian, bel tanda jam istirahat selesai berbunyi dan kemudian masuklah seorang guru ke dalam kelas.



Baiklah, lebih baik aku memfokuskan pikiranku untuk belajar.







***







Bel pulang yang berbunyi menandakan sekolah hari ini sudah selesai. Guru meninggalkan kelas dan murid-murid juga.



Setelah bersekolah di sini sekitar dua bulan, aku baru sadar kalau bel pulang bunyinya berbeda dengan bel masuk dan bel ganti pelajaran. Namun, itu tidak terlalu penting jika sudah tahu waktu masuk dan pulang sekolah, dari pukul 8:30 hingga 15:30.



Sebelum meninggalkan kelas, aku melihat ke arah Fuyukawa-san yang sudah bersiap untuk meniggalkan kelas karena ada pertandingan semifinal hari ini. Aku tidak bisa menontonnya untuk memberi dukungan. Setidaknya aku menyemangatinya saja.



“Fuyukawa-san.”



“Hm? Ada apa, Amamiya-kun?”



“Hari ini pertandingan semifinal, kan?”



“Iya.”



“Kalau begitu, ganbatte ne! Aku nggak bisa datang untuk memberi dukungan di sana, tapi setidaknya aku ingin menyemangatimu.” Padahal aku sudah menyuruh Taka untuk datang.



“Makasih, ya.”



“Um.”



“Yukina! Ayo ke ruang klub untuk rapat strategi!”



“Ya, Atsuko. Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa besok.”



“Ya, sampai jumpa.”



Fuyukawa-san berjalan menuju ke arah Mizuno-san yang sudah berdiri di dekat pintu bersama Seto-san. Tidak sengaja aku melihat ke arah Mizuno-san dan dia juga melihat ke arahku. Aku langsung memalingkan pandanganku dari tatapannya.



Aku masih sedikit takut bertatapan dengannya. Saat melihat dan menatap ke arahnya, aku jadi ingat kembali saat dia menamparku. Bahkan aku masih ingat rasa sakit dari tamparannya itu. Kupikir dia sudah mulai sadar kalau aku sedang menghindarinya.



Setelah Fuyukawa-san, Mizuno-san, dan Seto-san pergi, aku langsung mengambil tasku lalu keluar menuju ruang klub.



Ketika sedang berjalan di koridor penghubung untuk pergi ke gedung khusus, aku melihat Iwase-san. Sepertinya dia ada perlu sesuatu di gedung khusus. Aku berlari sedikit untuk menghampirinya yang berjalan di depanku.



“Iwase-san.”



“Ah, Amamiya-san.”



“Mau ke mana?”



“Ke laboratorium kimia.”



“Untuk apa ke sana?”



“Untuk apa? Tentu saja untuk kegiatan klub.”



“Jadi kamu anggota Klub Kimia, ya. Aku baru tahu.”



“Ah, benar juga. Aku belum bilang ke kamu, ya. Amamiya-san sendiri mau ke mana?”



“Ke ruang klub.”



“Kamu masuk klub apa?”



“Klub Bantuan. Tahu?”



“Eh!? Satu klub dengan Shiraishi-san?”



“Iya. Ah, aku juga belum bilang ke kamu.”



“Jadi kegiatan apa yang dilakukan Klub Bantuan?”



“Seperti namanya, kami membantu para murid. Seperti kemarin, aku bantu Klub Sepakbola dengan menjadi kiper mereka.”



“Kalau murid yang punya masalah, bagaimana?”



“Kami bantu, kok. Tapi kami bantu dia untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, bukan kami yang menyelesaikan masasalahnya untuknya.”



“Begitu, ya.”



“Ya, seperti itulah yang dikatakan Hiratsuka-sensei.”



“Ah, benar juga. Hiratsuka-sensei yang membuat klub itu, kan?”



“Iya. Dan entah kenapa aku yang nggak masuk apapun sebelumnya disuruh masuk klub itu. Tapi, ya… aku nggak keberatan juga. Setidaknya klub ini cukup bermanfaat untuk murid-murid sekolah ini.”



“Begitu, ya. Tapi… kenapa sensei membentuk klub itu? Bukannya sudah ada guru bimbingan konseling yang bisa membantu murid kalau ada masalah?”



“Sensei bilang, sih, banyak murid yang nggak percaya dengan orang dewasa untuk membicarakan permasalahan mereka. Coba bayangkan! Kalau Iwase-san punya masalah, lebih memilih untuk menceritakannya ke siapa? Ke teman atau guru?”



“Aku nggak tahu.”



“Eh!? Kenapa?”



“Aku belum pernah punya masalah.”



“Begitu, ya. Kalau teman dekat? Punya, kan?”



“Nggak.”



“Benarkah?”



“Iya.”



“Mungkin kamu belum bisa menemukannya saja di antara temanmu yang sedikit itu. Jika kamu punya masalah, kamu bisa menceritakan dan meminta saran padanya agar masalah itu bisa selesai. Dengan begitu, kamu bisa merasa lebih baik. Pasti ada orang yang bisa kamu percaya. Kalau memang kamu masih belum bisa menemukannya, mungkin aku bisa menjadi orang itu.”



“Amamiya-san…”



“Pokoknya, jika ada masalah, jangan dipendam, ya. Mungkin kamu bisa datang ke Klub Bantuan dan mungkin kami bisa membantumu.”



“Ah, iya. Makasih.”



Setelah tiba di gedung khusu, kami harus berpisah karena tujuan kami berbeda.



“Kalau begitu, aku ke lantai atas dulu. Sampai jumpa.”



“Iya, sampai jumpa.” Iwase-san tampak senang. Dia menunjukkan senyumnya lagi.



Setelah mengatakan selamat tinggal, aku menuju ke arah tangga dan tiba di ruang klub. Seperti biasa, Shiraisi-san sudah berada duluan di ruangan ini. Ketika aku masuk ke dalam, dia tiba-tiba melihat ke arahku karena mendengar suara pintu yang dibuka. Biasanya dia sama sekali tidak melihat ke arahku ketika aku masuk karena dia tahu kalau orang yang masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk pintu adalah aku. Setelah aku duduk, dia mulai membuka mulutnya.



“Jadi hari ini kamu datang lebih cepat, ya. Tidak seperti kemarin.”



“Ya, begitulah. Kemarin karena ada piket saja.”



“Begitu, ya.”



“Apa kamu nggak piket setelah pulang sekolah?”



“Tidak. Aku melakukannya di pagi hari.”



“Begitu, ya. Hari apa kamu piket?”



“Rabu.”



“Jadi, kamu tiba di sekolah pukul berapa kalau ada piket?”



“Aku selalu tiba di sekolah pukul 7:30.”



“Serius? Cepat, ya. Dengan apa kamu pergi ke sekolah?”



“Dengan mobil.”



“Begitu, ya. Kalau aku pergi ke sekolah dengan jalan kaki. Perlu waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke sini. Jadi susah untuk datang lebih awal. Makanya piket kulakukan setelah pulang sekolah.”



“Aku dengar dari Mizuno-san, kamu tinggal sendirian di Tokyo?”



“Iya.”



“Wajar saja. Pasti ada beberapa hal yang kamu lakukan di pagi hari sebelum berangkat.”



“Ahaha. Benar, sih. Sebenarnya aku bisa saja pergi lebih awal kalau nggak olahraga pagi.”



“Olahraga pagi?”



Ada apa ini? Tiba-tiba Shiraishi-san mulai menanyakan beberapa hal tentangku. Aku menjadi senang karena keheningan yang selalu ada di ruangan ini menghilang. Tidak hanya itu, berbicara dengannya terasa menyenangkan. Ini merupakan peluang bagiku untuk bisa mengenalnya dan dia bisa mengenalku. Dengan demikian, mungkin aku bisa menjadi temannya. Semoga percakapan seperti ini bisa terjadi di hari-hari selanjutnya juga.



“Setiap pagi, aku berolahraga untuk menjaga fisikku. Dulu, aku pernah masuk rumah sakit dan rasanya fisikku melemah. Oleh karena itu, aku harus mengembalikan fisikku seperti dulu dan untuk menjadi lebih sehat.”



“Sepertinya kamu sangat suka berolahraga.”



“Iya.”



“Apa ada alasannya?”



“Nggak ada alasan khusus, sih. Sejak dulu, aku sudah aktif bergerak. Aku main sepakbola, bisbol, dan voli.”



“Kupikir ada alasan khusus.”



“Ah! Aku ingat satu hal. ‘Pikiran yang sehat berada di tubuh yang sehat’.”



“Sebab itu kamu…”



“Hm?”



Shiraishi-san tidak mengatakannya secara lengkap apa yang keluar dari mulutnya. Itu membuatku penasaran apa yang sebenarnya ingin dia katakan.



“Walaupun begitu, kamu tidak terlihat seperti orang yang sudah lama tidak berolahraga. Maksudku, saat latihan voli bersama Klub Voli Perempuan dan saat kamu diajak latihan bersama Klub Voli Laki-Laki, kamu punya stamina yang bagus.”



“Hm… dari April lalu, aku sudah mulai rutin berolahraga di pagi hari. Mungkin karena itu.”



“Apa saja yang kamu lakukan?”



“Awalnya hanya push-up, sit-up, pull-up, dan squat. Tapi sejak bulan Mei, aku sudah mulai running.”



“Setiap hari?”



“Nggak. Akhir pekan kugunakan untuk beristirahat dan kegiatan lain, seperti mencuci pakaian, membersihkan kamar, dan belanja.”



“Begitu, ya. Apa kamu pikir aku bisa melakukan hal seperti itu juga?”



“Tentu saja kamu bisa. Kamu cukup melakukan running saja. 10 atau 15 menit saja sudah cukup, lo. Dicoba saja dulu. Ah, aku nggak memaksa, ya.”



“Iya. Mungkin akan kucoba nanti.”



“Yang penting jangan memaksakan diri saja.”



“Itu pasti dari pengalamanmu, kan?”



“Haha. Iya.”



“Baiklah. Akan kuingat.”



“…”



Seketika, aku berhenti membuka mulutku. Aku hanya diam sambil menatap wajah Shiraishi-san dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Dia tersenyum walaupun senyumnya tidak terlalu lebar. Senyumnya terasa begitu lembut, murni, dan indah. Apa yang telah terjadi padanya sehingga dia terlihat sangat berbeda hari ini?



“Terus, bagaimana dengan mimisanmu?”



“Ah, itu bukan apa-apa. Bukan pertama kalinya aku mimisan karena terkena bola.”



“Baguslah. Ngomong-ngomong, aku sudah buatkan teh. Silakan diminum.”



“Makasih. Maaf, ya, selalu kamu yang membuatnya.”



“Tidak apa-apa.”



“Begitu, ya.”



Aku segera berdiri dari kursiku dan menuju tempat peralatan teh. Teh yang sudah diseduh ini kutuangkan ke dalam gelas kertas. Setelah itu, aku kembali ke kursiku dan mulai membuka buku yang kupinjam kemarin dari perpustakaan sekolah.



“Kenapa kamu tidak menggunakan cangkir itu?”



“Eh?!”



“Aku membeli set peralatan teh itu dengan dua cangkir karena hanya kita berdua anggota klub ini, tapi kamu malah tidak menggunakannya.”



“Ah… begini… kurasa aku nggak pantas saja.”



“Kenapa? Kamu anggota klub ini, kan?”



“Iya, sih. Tapi…”



“Kalau begitu, mulai besok, gunakan cangkir itu untuk minum teh.”



“Ah, ya. Akan kugunakan.”



Shiraishi-san hari ini sangat berbeda. Apa yang telah terjadi? Memang benar kalau perubahannya ini hal yang bagus, tapi entah kenapa ada hal yang mengganjal di pikiranku.



Apa dia sebenarnya mencoba untuk membuka dirinya agar bisa berteman denganku? Jika benar seperti itu, maka kami memiliki keinginan yang sama. Semoga saja seperti itu.



“Oh, ya, mengenai rumor dengan manajer Klub Sepakbola Waseida. Apa itu benar?”



“Jadi kamu sudah dengar rumor itu, ya?”



“Ya. Rumor akan selalu tersebar dengan cepat di mana pun kita berada.”



“Rumor itu salah. Sebenarnya…”



Aku menjelaskan semua tentang hubunganku dengan manajer Klub Sepakbola Waseida, Aika-chan, kepada Shiraishi-san. Mungkin dengan membuka diriku, dia bisa membuka dirinya juga kepadaku sehingga kami bisa menjadi teman. Lagi pula, itu tujuanku dari awal, bukan karena Shiga yang menyuruhku.



“Jadi, dia teman masa kecilmu, ya. Wajar saja jika dia memelukmu karena sudah lama sekali tidak bertemu denganmu dan itu membuatnya merindukanmu.”



“Iya. Dia juga bilang seperti itu.”



“Begitu, ya.”



“Spertinya kamu hari ini banyak bicara, ya, Shiraishi-san.”



“Benarkah?”



“Ya, benar. Kita bahkan belum pernah berbicara panjang seperti itu.”



“Maaf jika itu mengganggumu.”



“Nggak-nggak. Aku suka kamu yang seperti ini, Shiraishi-san.” Aku menjawabnya sambil tersenyum ke arah Shiraishi-san. Tentu saja karena aku senang melihatnya berbeda daripada biasanya. Terlihat seperti dia sedang mencoba untuk membuka dirinya kepadaku. Aku mulai yakin kalau dia ingin mencoba berteman denganku. Semoga aku tidak keliru menganggapnya seperti itu.



“… Begitu, ya. Baguslah.”



Setelah itu, Shiraishi-san kembali membuka buku yang tadi sedang dibacanya dan mulai membacanya kembali. Percakapan kami berakhir di sini karena aku tidak tahu harus membuka pembicaraan yang seperti apa. Akhirnya, aku kembali membaca buku sambil menikmati teh yang tidak kuketahui jenisnya ini.



Tuk, tuk, tuk. Terdengar suara pintu ruang klub yang diketuk seseorang. Aku mengatakan, “Silakan masuk.” Dua orang yang kukenal masuk ke ruangan ini.



“Ah, Takezawa-senpai dan Ishikawa-senpai. Silakan duduk,” kataku sambil mengambil kursi satu lagi dan meletakkannya di depan mejaku dan Shiraishi-san.



“Jadi, ada keperluan apa hari ini?” tanya Shiraishi-san setelah memberikan teh kepada mereka berdua lalu duduk kembali di kursinya.



“Kalian sudah dengar rumor itu, kan? Rumor tentang hubungan Amamiya-kun dengan manajernya Klub Sepakbola Waseida.”



“Rumor itu, ya. Tentu saja sudah. Rumor selalu beredar dengan cepat di mana saja.”



“Kalau kamu, Amamiya-kun?”



“Ya, sudah. Aku juga sudah menjelaskan semuanya ke teman sekelasku dan Shiraishi-san.”



“Jadi, apa rumor itu benar, Amamiya?”



“Bagaimana, Amamiya-kun?”



“Sebenarnya…”



Aku menjelaskan lagi kepada mereka berdua.



“Jadi begitu.”



“Kupikir kamu pacarnya, Amamiya-kun.”



“Tentu saja bukan. Senpai datang ke sini hanya untuk menanyakan itu saja?”



“Nggak juga. Kami ingin menanyakan apakah rumor itu benar atau salah dan ingin mengucapkan terima kasih untukmu karena sudah membantu kami kemarin, Amamiya-kun.”



“Ah, iya, sama-sama. Aku senang bisa membantu kalian dan juga bisa kembali bermain bola walaupun nggak sampai akhir.”



“Bagaimana dengan mimisanmu, Amamiya-kun?”



“Sudah nggak apa-apa, kok, Ishikawa-senpai.”



“Syukurlah.”



“Amamiya, kalau kamu ingin mendekati si manajer itu, kamu harus masuk klub kami. Dengan begitu, kamu bisa bertemu dengannya lagi.”



“Itu nggak perlu, Takezawa-senpai.”



“Kenapa?”



“Kami sudah tukaran nomor ponsel dan ID LINE. Dia juga sudah tahu di mana letak apartemenku. Dia juga bilang kalau dia akan datang lagi ke tempatku.”



“Kamu tinggal sendirian di Tokyo, Amamiya-kun?”



“Iya. Asalku dari Nagano.”



“Jangan lakukan hal aneh-aneh, ya, Amamiya!”



“Tentu saja nggak!”



“Haha. Kalau begitu, ayo kita balik, Rikka.”



“Ya. Kami balik dulu, ya. Makasih untuk tehnya.”



“Iya.”



Takezawa-senpai dan Ishizawa-senpai keluar dari ruangan ini.



Aku dan Shiraishi-san kembali melanjutkan aktivitas kami sebelumnya, yaitu membaca buku sampai kami merasa sudah tidak ada lagi yang akan datang ke ruangan ini. Setelah itu, kami bersiap untuk pulang, tepat pada pukul 17:30. Setelah mengatakan selamat tinggal, kami berpisah di loker sepatu.



Kulangkahkan kakiku meninggalkan sekolah ini untuk kembali ke apartemenku. Cahaya matahari yang berwarna oranye mewarnai langit dengan indah meskipun ada beberapa awan abu-abu yang menghalangi cahaya itu. Aku tidak tahu kapan awan abu-abu itu akan menurunkan hujan sehingga aku mempercepat langkahku menuju apartemenku.



Akhirnya aku sampai di kamarku tepat saat hujan mulai turun. Aku beruntung tidak kehujanan walaupun aku membawa payung untuk menjaga-jaga.



Ponselku tiba-tiba bergetar di saku celanaku. Kulihat nama yang meneleponku. Ternyata Aika-chan. Aku langsung mengangkatnya.



“Halo, Ryu-chan?”



“Ya. Ada apa, Aika-chan?”



“Boleh aku ke tempatmu di hari Sabtu nanti?”



“Boleh, kok. Memangnya ada apa sampai harus datang ke sini?”



“Ada yang ingin kubicarakan.”



“Baiklah. Aku ada di apartemen hari Sabtu nanti. Datang saja di jam yang kamu bisa. Akan kutunggu di sini.”



“Ya. Sampai jumpa.”



“Sampai jumpa.”



Kira-kira apa yang ingin dibicarakan Aika-chan, ya. Aku menjadi sedikit penasaran. Apa boleh buat. Lebih baik kutunggu saja. Lagi pula, hari Sabtu hanya tinggal dua hari lagi.



Daripada memikirkan itu, aku penasaran bagaimana hasil pertandingan basket Fuyukawa-san dan kawan-kawan. Semoga saja mereka menang dan menuju babak final.



Dengan datangnya hari esok, Jumat, aku pasti akan mengetahui hasilnya bagaimana. Saatnya bersiap untuk memasak makan malam.