Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 2



Keiyou Gakuen Koukou atau juga disingkat dengan Keiyou-kou merupakan salah satu sekolah elit yang berlokasi di Tokyo. Sekolah ini memiliki sistem tersendiri dan kurikulum sekolah untuk mempersiapkan murid-muridnya masuk ke Universitas.



Saat aku kelas tiga SMP, aku mendapatkan informasi tentang Keiyou Gakuen Koukou dari Kepala Sekolah dan juga menyuruhku untuk mengambil ujian masuk melalui jalur beasiswa. Hasilnya, aku lulus. Kepala sekolah, guru, dan teman-temanku merasa senang karena aku diterima menjadi murid dari sekolah elit. Namun, aku merasakan perasaan yang bercampuraduk, antara senang dan sedih. Senang karena mendapatkan beasiswa dan sekolah di salah satu sekolah elit. Sedih karena harus meninggalkan kakek dan nenek.



Aku hanya tinggal bersama kakek dan nenek. Ayahku meninggal saat aku masih dikandungan ibuku dan ibuku meninggal saat aku berumur tujuh tahun. Setelah kedua orang tuaku tiada, aku diasuh dan dibesarkan oleh kakek dan nenekku. Mereka berdua bekerja sebagai petani sehari-harinya. Sejak kecil aku sering mengikuti mereka pergi ke sawah dan kebun, juga melihat bagaimana mereka menjual hasil dari sawah dan kebun di pasar.



Saat mengatakan kalau aku lulus ujian masuk Keiyou Gakuen Koukou, mereka menangis gembira dan menyuruhku untuk pergi bersekolah di sana. Mereka mengatakan kalau aku tidak perlu memikirkan mereka. Mereka mengatakan kalau ini untuk masa depanku, maka mengambil beasiswa itu dan meninggalkan mereka serta kampung halamanku merupakan pilihan terbaik.



Setelah tamat dari SMP, aku akan bersekolah di Tokyo, di Keiyou Gakuen Koukou. Beasiswa yang kuterima dari sekolah ini mencakup seluruh administrasi sekolah, seperti seragam, buku, dan sebagainya. Satu minggu sebelum sekolah dimulai, aku berangkat ke Tokyo menggunakan bus untuk mengambil seragam, buku, dan perlengkapan lainnya. Lalu menuju apartemen seperti yang dikatakan oleh guru SMP-ku sebagai tempat tinggalku di sini. Aku bertemu dengan pemilik apartemen dan menyelesaikan transaksi penyewaan apartemen ini. Biaya sewa per bulan di apartemen ini terbilang murah, kamarnya tidak terlalu sempit, dan suasana di sekitar apartemen juga nyaman, merupakan tempat yang cocok untuk anak SMA sepertiku. Aku tidak sabar memulai kehidupan SMA-ku. Namun itu tidaklah terjadi.



Di hari pertama sekolah, aku pergi ke sekolah sedikit telat karena salah mengatur alarm ponselku. Berjalan di trotoar pinggir sungai sambil melihat sakura yang mekar dan akhirnya tiba di perempatan jalan. Menunggu lampu penyeberangan berubah warna untuk menyeberang. Saat itu, hujan mulai turun sedikit demi sedikit. Mengambil payung dari dalam tas yang kusiapkan sebelum pergi ke sekolah. Banyak murid-murid Keiyou-kou berlarian masuk melalui gerbang sekolah yang besar. Hujan menjadi lebih deras, membuat pandanganku menjadi terbatas. Setelah lampu penyeberangan berubah menjadi hijau, aku langsung menyeberangi jalan.



Melihat ke arah kanan, ternyata ada mobil yang bergerak dan di kiriku ada seorang gadis yang menyeberangi jalan sambil berlari. Mobil itu bergerak dengan kecepatan tinggi sehingga bisa membuat mobil itu menabrak gadis itu. Mungkin pengemudi mobil itu tidak dapat melihat dengan jelas karena hujan deras. Aku berteriak ke gadis itu, “Berhenti.” Namun, dia tidak mendengarnya. Secara tidak kusadari, aku berlari menuju ke arahnya dan mendorongnya, tetapi terlambat untukku menghindari mobil itu. Aku ditabrak mobil itu di hari pertamaku bersekolah dan kehilangan kesadaran setelah itu.



Saat aku sadar, aku telah berada di rumah sakit. Kakek dan nenek berada di sampingku saat aku sadar. Mereka menangis sambil berkata, “Syukurlah.” Semua biaya pengobatanku ditanggung oleh orang yang menabrakku. Ternyata, aku tidak sadar selama seminggu akibat kepalaku terbentur saat itu.



Akibat kecelakaan itu, aku mengalami patah tulang kaki kanan dan luka di daerah keningku. Memerlukan waktu sekitar tiga minggu agar bisa keluar dari Rumah Sakit. Karena tidak bisa bersekolah di Keiyou-kou, pihak sekolah memindahkanku ke salah satu SMA di dekat kampung halamanku, Nagano Prefektur. Pihak sekolah juga mengatakan kalau aku akan menjadi murid Keiyou-kou di tahun kedua nanti.



Pada akhirnya, aku tidak bertemu dengan gadis yang kutolong dan orang yang menabrakku. Mungkin saja mereka telah menemuiku saat aku masih belum sadar.







***







Satu tahun setelah kejadian itu, aku kembali bersekolah di Keiyou-kou. Jadi, kalau dibilang murid pindahan tidak sepenuhnya benar. Mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai murid yang datang kembali.



Mulai hari ini aku telah menjadi murid kelas dua SMA. Hari pertama sekolah berakhir lebih cepat karena hanya ada upacara pembukaan semester dan penyambutan murid baru dan beberapa hal lainnya seperti bertemu wali kelas, memilih perwakilan kelas, dan sebagainya. Sekolah hari ini diakhiri dengan arahan dari Sakamoto-sensei, wali kelasku.



Saat ini aku berada di jalan pulang menuju apartemenku. Jarak antara apartemenku dengan sekolah tidaklah terlalu jauh. Aku pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Waktu tempuh dari apartemenku ke sekolah sekitar tiga puluhan menit.



Beberapa meter ke depan akan ada perempatan jalan. Jika belok ke kiri maka akan mengarah ke apartemenku, jika lurus ke depan maka akan tiba di kota dan stasiun kereta, dan jika belok ke kanan akan mengarah ke kawasan belanja. Saat ini, aku memiliki waktu luang karena pulang sekolah yang lebih awal, jadi kuputuskan untuk untuk belok ke kanan, menuju kawasan belanja. Setelah berjalan sekitar 10 menit, akhirnya aku sampai.



Ini pertama kalinya bagiku mengunjungi kawasan belanja. Aku melihat ke arah kiri dan kanan dan melewati gang-gang di tempat ini. Terdapat banyak toko yang menjual berbagai sayur-sayuran, buah-buahan, makanan, dan minuman. Suasana di tempat ini terkesan ramai. Saat berjalan terus ke depan, aku melihat beberapa kafe. Lebih baik menghabiskan waktu luangku ini dengan membaca novel yang kupinjam tadi.



Aku melihat-lihat kafe yang tidak terlalu banyak pelanggan. Setelah berputar-putar sebentar, aku masuk ke suatu kafe yang menjual donat dan kopi. Suasana di dalam kafe cukup menenangkan dan tidak terlalu banyak pelanggan. Terlihat masih banyak kursi dan meja kosong yang tidak ditempati pelanggan. Aku menuju arah konter kafe untuk memesan. “Selamat datang. Silakan pesanannya?” Seorang pelayan wanita kafe menanyakan pesananku. Karena ini pertama kalinya ke kafe ini, aku berpikir sejenak sambil melihat menu yang terpajang di atas. Tidak ada yang mengantri di belakangku saat ini, jadi aku tida perlu terburu-buru untuk memesan.



“Donatnya tiga dan satu kopi susu panas.”



“Semuanya menjadi 880 yen.”



Kuambil selembar uang 1000 yen dari dompetku, lalu kuberikan ke pelayan itu dan kuterima uang kembalian dengan struk pesananku.



“Ini pesanannya. Terima kasih banyak.” Pelayan itu meletakkan nampan berisi pesananku tadi di depanku.



“Sama-sama.” Kuambil nampan tersebut, lalu pergi mencari tempat duduk.



Suasana kafe yang tidak ramai pelanggan sekarang ini membuatku memiliki banyak pilihan di mana aku akan duduk. Namun, tempat yang paling bagus adalah di dekat jendela yang mengarah ke arah luar kafe. Aku duduk di kursi, meletakkan nampan di meja, dan mengambil novel yang tadi kupinjam dari tasku.



Kuambil mug itu dan mulai menyeruput kopi susu ini, ditemani dengan donat dan novel. Kegiatan sepulang sekolahku sepertinya baru akan dimulai. Kubuka novel itu dan mulai membacanya. Membaca novel memanglah nikmat jika ditemani dengan segelas minuman dan sepiring makanan. Keputusan memilih tempat ini sangat tepat karena suasananya yang nyaman dan jaraknya yang tidak terlalu jauh dari apartemenku.



Sambil membalik-balikkan halaman novel ini, kumakan donatnya, dan jika terasa haus, kuseruput kopi susu ini.



Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa sadar, aku telah memakan semua donatnya dan meminum habis kopi susunya. Sedangkan yang tersisa adalah halaman-halaman dari novel ini yang belum terbaca. Kutaruh penanda buku dan menutup novel ini, melihat ke arah luar jendela di mana keadaan di kawasan belaja yang mulai ramai. Terasa sedikit gelap di luar sana membuatku penasaran. Kulihat ke arah atas ternyata awan hitam sudah menyelimuti kawasan belanja ini dan siap menjatuhkan tetesan-tetesan air hujan. Tidak lama kemudian, hujan turun dengan deras sesuai prediksi cuaca yang kulihat di ponselku saat di sekolah tadi.



Aku mengambil ponsel dari saku kiriku. Sekarang pukul lima sore dan tidak ada pesan masuk. Tentu saja tidak ada, yang mengetahui nomor ponselku hanyalah kakek dan nenekku. Aku tidak memiliki ponsel saat SMP, jadi teman-teman SMP-ku tidak mengetahuinya.



Sudah lebih dari satu jam aku berada di kafe ini. Karena di luar hujan, kuputuskan untuk berada sedikit lebih lama di kafe ini, lalu pulang setelah hujan reda. Semoga hujannya tidak terlalu lama.



Oh iya, aku suka hujan. Aku tidak tahu kenapa. Bahkan namaku mengandung huruf hujan (雨). Suara hujan yang terdengar sampai ke dalam kafe membuatku rileks. Suasana sunyi dan sejuk membuatku mengantuk walaupun baru saja meminum kopi susu. Ah, lebih baik aku pesan minuman lagi. Aku berdiri dari kursiku dan menuju konter kafe. Entah sejak kapan kafe ini didatangi banyak pelanggan sekarang. Tempat duduk yang tadinya kosong sekarang sudah terisi dan antrean mulai panjang.



Aku mengantre untuk memesan. Setelah menunggu, tiba giliranku untuk memesan. Saat aku ingin bilang ingin memesan kopi, pelayan wanita yang ada di konter memberitahuku kalau aku bisa mengisi ulang kopi secara gratis di mesin penuang kopi yang terletak di dekat konter di sebelah kanan. Kenapa tidak bilang dari tadi sih, ya ampun…. Aku pun kembali ke mejaku, mengambil mug, dan mengisinya dengan kopi. Setelah itu aku kembali ke tempatku.



Kuseruput kopi ini dan rasanya pahit. Ya ampun… hidup sudah pahit, jadi setidaknya biarlah kopi terasa manis. Di atas meja terdapat gula kotak, kumasukkan dua kotak gula, lalu kuminum. Hmm, masih pahit. Kumasukkan satu lagi dan kudapat rasa yang pas.



Saat aku sedang menikmati kopi ini ditemani dengan pemandangan hujan yang mengguyur kota ini di luar jendela, seseorang memanggilku yang sumber suaranya berada di dekatku. Tepatnya dari arah depan. “Amamiya Ryuki-kun, kan?”



Suara itu berasal seorang gadis yang sedang memegang nampan berisi makanan dan minuman. Dia mengenakan seragam Keiyou-kou yang blazernya sedikit basah, juga rambut panjang yang terurai di bahunya sedikit basah. Wajahnya cantik dan matanya berwarna coklat. Aku bertemu dengannya tadi saat di sekolah. Dia gadis yang duduk di konter perpustakaan. Namanya kalau tidak salah Namikawa-san.



Ini pertama kalinya aku bertemu dengan murid Keiyou-kou di luar sekolah, terlebih yang kutemui adalah seorang gadis. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Baiklah, pertama-tama, jawab pertanyaannya dan ikuti alur pembicaraan yang dikatakan olehnya. Ini bisa jadi salah satu peluang untuk berteman dengan orang yang kelasnya berbeda denganku.



“Ah, iya. Kamu yang tadi di perpustakaan, kan?”



“Iya. Namaku Namikawa Sakura dari kelas 2-J. Yoroshiku ne.”



“Aku Amamiya Ryuki dari kelas 2-D. Kochira koso yoroshiku.”



“Um, aku sudah tahu kok.”



“Ah, iya.” Bahkan aku memperkenalkan diriku sekali lagi.



Jadi, nama belakangnya Sakura, Namikawa Sakura-san.



Kejadian tidak terduga di hari pertama sepulang sekolah di musim semi, bertemu dengan seorang gadis cantik di kafe.



Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus kukatakan sekarang?



Ini situasi yang pertama kali kuhadapi. Terutama, aku tidak sering berbicara dengan seorang gadis. Oh, tunggu sebentar, dari tadi pagi aku sering berbicara dengan seorang gadis. Gadis itu bernama Fuyukawa Yukina-san.



Well, untuk saat ini lebih baik kusuruh Namikawa-san untuk duduk terlebih dahulu.



“Namikawa-san, duduklah.”



“Um.” Namikawa-san duduk di kursi yang masih satu meja denganku. Lalu, dia meletakkan nampannya dan mulai meminum minumannya. Minuman yang dibelinya sepertinya cappucino dan makanan yang dibelinya berupa tiga potong donat.



“Amamiya-kun, kamu sedang apa di tempat ini?” Namikawa-san bertanya padaku setelah menyeruput cappucino panasnya.



“Tadinya aku ingin langsung pulang, tapi karena masih banyak waktu, kuputuskan untuk jalan-jalan di sekitar sini karena aku baru saja pindah ke Tokyo, dan masuk ke kafe ini untuk membaca novel yang kupinjam tadi.”



“Oh iya, kamu kan murid pindahan. Tapi, bukannya sekolah kita ngga nerima murid pindahan dari sekolah lain?”



“Um ya… banyak hal yang terjadi.”



“Ah, begitu ya…”



Setelah pembicaraan pendek itu, Namikawa-san tidak menanyakan apa-apa lagi. Dia mulai mengambil suatu buku dari tasnya, kemudian mulai membacanya. Sedangkan diriku hanya menikmati kopi ini sambil melihat ke arah luar jendela di mana hujan turun dengan deras. Sesekali kulihat ke arah Namikawa-san. Kulihat jarinya membalikkan halaman per halaman buku yang dibacanya dan sesekali menyeka rambutnya ke arah telinganya. Kalau aku sudah pulang dari tadi, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Namikawa-san di tempat seperti ini.



Namikawa-san yang menyadari kalau dirinya sedang ditatap olehku mulai memalingkan pandangannya ke arahku.



“Ada apa, Amamiya-kun?”



“Ah, begini, kenapa Namikawa-san ada di sini?”



“Kalau sekolah berakhir lebih cepat, biasanya aku ke kafe ini untuk membaca.”



“Ah, begitu ya...” Aku mulai melihat ke arah luar jendela, sedangkan Namikawa-san mulai membaca bukunya lagi.



Suasana sunyi menyelimuti meja ini. Hanya terdengar suara hujan yang turun dengan deras. Melihat Namikawa-san yang sedang asik membaca bukunya, aku pun mulai membuka kembali novel yang kubaca tadi. Kulanjutkan bacaanku sambil menunggu hujan reda.



Cerita dari novel ini sedikit memberikanku gambaran tentang apa yang dilakukan murid SMA bersama dengan orang yang disukainya, atau bisa dibilang bersama pacarnya, mungkin. Seperti pergi jalan-jalan bersama, makan yakiniku bersama, nonton di bioskop, baca buku bersama, dan sebagainya.



Oh, tunggu sebentar, baca buku bersama? Apa hal ini termasuk juga?



Terasa janggal bagiku. Tidak, tidak, tidak, itu seharusnya tidak masuk. Lihatlah posisiku sekarang. Aku duduk bersama seorang gadis dalam satu meja di kafe ini dan sedang membaca buku. Tentu saja ini bagian tidak terduga yang terjadi padaku, tidak ada hubungannya dengan orang yang kusukai. Ah, lebih baik kulanjutkan membaca lagi, lebih cepat selesai maka lebih baik karena bisa membaca novel yang lain.







***







Aku penasaran sekarang sudah pukul berapa. Kulihat di ponselku sudah tertulis pukul 6 sore. Kulihat keadaan di luar melalui jendela, ternyata hujan sudah reda. Semoga hujannya tidak labil. Kalau tiba-tiba hujan saat aku sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen, maka aku bisa basah kuyup.



Namikawa-san masih membaca buku. Sepertinya, dia tipe pembaca sepertiku yang melupakan keadaan sekitar saat membaca. Well, karena tadi dia menyapaku saat tiba di sini, lebih baik aku mengatakan kepadanya kalau aku hendak pulang. Kumasukkan novel dan ponselku ke dalam tas, lalu mengambil nampanku tadi untuk diletakkan di tempat yang sudah disediakan untuk para pelanggan yang akan meninggalkan kafe ini, berupa rak bertingkat di dekat pintu keluar.



“Ano, Namikawa-san, aku pulang duluan.”



“Sudah mau pulang?”



“Iya, takutnya nanti hujan lagi. Aku tidak bawa payung.” Saat kukatakan itu, Namikawa-san melihat ke arah luar. “Hujannya sudah reda, tapi ada kemungkinan akan turun lagi.” Tambahku.



“Benar juga. Kalau begitu, aku pulang juga.” Namikawa-san meletakkan penanda halaman di bukunya dan memasukkan buku itu ke dalam tasnya. Setelah itu membawa nampan miliknya. Kami meletakkan nampan itu di tempatnya, lalu meninggalkan kafe ini.



Saat keluar dari kafe ini, Namikawa-san mengambil payungnya yang diletakkan di keranjang payung di depan kafe dan memegang payungnya di tangan kirinya. Kami pun berjalan menuju jalan utama kawasan belanja ini. Suasana di sekitar sini mulai kembali ramai karena hujan sudah reda, ditambah lagi sekarang memasuki jam belanja untuk makan malam. Terlihat banyak ibu-ibu dan pegawai kantoran yang lewat di jalan ini.



Aku berjalan berdampingan dengan Namikawa-san. Seingatku, jika berjalan berdampingan dengan seorang gadis, maka laki-laki harus berada di samping jalan. Sekarang, hal itu kupraktikkan. Aku berpindah ke arah kanan Namikawa-san yang dekat dengan jalan. Namikawa-san yang melihat hal ini hanya menundukkan kepalanya, sehingga aku tidak mengetahui ekspresi apa yang dia lakukan sekarang. Kami terus berjalan hingga menuju perempatan jalan, lalu menunggu lampu penyeberangan berubah warna.




“Aku ke arah sana.” Kutunjuk ke depan, ke arah apartemenku.



“Kalau begitu, sampai jumpa di sekolah.” Namikawa-san melambaikan tangan kanannya.



“Ya, sampai jumpa.”



Kami pun berpisah di perempatan jalan setelah lampu penyeberangan berubah warna. Aku langsung bergegas pulang ke apartemenku sebelum awan hitam yang berada di atasku menjatuhkan tetesan-tetesan hujan.







***







Tadaima.



Kata pertama yang kukatakan saat masuk ke kamar apartemenku. Walaupun tidak ada orang di sini selain diriku, aku tetap mengakatan “tadaima,” lalu mengunci kembali pintunya.



Aku tinggal sendirian di kamar apartemen ini. Kamarnya tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu sempit. Dari arah pintu masuk, di sebelah kanan terdapat dapur dan kulkas, sedangkan di sebelah kiri terdapat kamar mandi. Selanjutnya, di ruang tengah terdapat tempat tidur di sudut kamar, meja, dan rak buku. Untuk lemari pakaian terletak di dekat tempat tidur. Kamarku sendiri terletak di lantai lima apartemen ini. Pemandangan dari arah beranda kamar ini cukup untuk membuatku merasa rileks.



Aku langsung menuju tempat tidur dan langsung tiduran. Mengingat-ngingat kembali kejadian hari ini, sungguh hari yang penuh dengan kejadian tidak terduga di hari pertama sekolah. Dimulai dengan menjadi perwakilan kelas, makan siang bersama Fuyukawa-san, bertemu dan pulang bersama Namikawa-san. Kejadian-kejadian tersebut bukanlah hal yang buruk, justru mungkin hal yang baik karena setidaknya aku sudah memiliki kenalan di sekolah baruku. Ya, setidaknya aku sudah mengenal dua orang.



Saat kulihat jam dinding di depanku menunjukkan pukul 6:30 malam, aku langsung bangun dan mengganti seragamku dengan pakain biasa, berupa kaos dan celana olahraga panjang. Selanjutnya adalah memasak.



Memasak bukanlah sesuatu yang asing bagiku. Dari kecil aku sudah sering memasak dengan nenekku dan juga ada pelajaran memasak di SMP. Untuk tahun ini, pelajaran memasak juga dimasukkan dalam kurikulum pelajaran Ekonomi Rumah Tangga. Aku bisa dapat ilmu memasak lagi.



Aku menuju dapur dan membuka kulkas. Bahan-bahan yang ada di dalam kulkas ini semua berasal dari kampungku, walaupun sebagian besar hanyalah sayuran seperti tomat, timun, selada, kubis, dan taoge, dan beberapa butir telur. Di bagian freezer ada daging sapi yang dibeli kakekku sebelum aku pergi ke tokyo dan beberapa ikan kalengan yang bisa mengisi konsumsiku selama beberapa hari ke depan.



Aku sudah mulai tinggal di Tokyo, di kamar apartemen ini, sejak 2 hari yang lalu, tepatnya hari sabtu. Sejak tinggal di sini aku belum pernah berbelanja, lagi pula masih ada bahan makanan di kulkas. Kalaupun harus pergi belanja, kawasan belanja yang tadi merupakan tempat yang pas untuk membeli bahan makanan.



Baiklah, waktunya memasak makan malam.



Aku sangat menikmati memasak. Memasak itu seperti seni bagiku yang mana hasilnya akan memuaskan seseorang. Dalam keadaan sekarang, seseorang itu adalah diriku sendiri. Aku membuat daging tumis saus yakiniku dengan kubis dan taoge.



Baiklah, saatnya makan. Nasi yang hangat ditambah tumisan daging, kubis, dan taoge. Ini akan menjadi kombo yang pas.



Nasi yang baru saja matang di panci tanah liat ini kumasukkan ke dalam mangkuk nasi, dan tumisan daging dan sayur tadi kumasukkan ke dalam mangkuk nasi yang sama. Nasi yang hangat dibasahi dengan saus yakiniku dan daging beserta sayuran di atasnya membuatku ngiler. Kuambil sumpit dan berdoa.



Itadakimasu.



Rasanya enak, melebihi ekspektasiku. Dagingnya lembut, kubis dan taogenya terasa segar. Energiku mulai pulih kembali. Ada yang mengatakan kalau kamu kelelahan maka makanlah daging. Walaupun hari ini aku tidak terlalu lelah, setidaknya menu ini bisa kubuat lagi saat aku merasa lelah.



Nasi, daging, kubis, dan taoge masuk ke mulutku. Masuk lagi, lagi, dan lagi. Tetapi, ada sesuatu yang kurang, rasa manis yang menghangatkan. Ah, aku lupa memasukkan bawang bombai ke masakanku. Arggh, bisa-bisanya aku lupa.



“Gochisousama deshita.” Setelah selesai makan, aku mencuci semua peralatan masak dan makan sambil memikirkan menu sarapan untuk besok pagi. Nasi, telur orak-arik, ditambah salad dari selada, timun, dan tomat cukup untuk mengisi energi sebelum pergi ke sekolah. Baiklah, aku akan buat itu saja.



Tidak terasa sudah pukul delapan malam. Melakukan sesuatu yang disukai memang mebuat waktu berjalan begitu cepat. Ya, memasak memang merupakan salah kegiatan yang kusukai.



Sekarang sudah waktunya untuk mandi. Kamar mandi di kamar apartemenku hanya memiliki shower, tidak ada bath tub untuk berendam. Misi selanjutnya yaitu mencari pemandian umum. Berendam juga sangat ampuh untuk menghilangkan lelah.



Selesai mandi dan memakai pakaian, aku keluar ke arah beranda dan melihat pemandangan dari lantai lima apartemen ini. Cahaya lampu yang menerangi daerah ini terasa sangat menenangkan. Angin musim semi yang dingin menusuk masuk ke kulitku yang membuatku meninggalkan beranda dengan cepat. Kubuatkan teh untuk menghangati tubuh ini.



Novel yang belum selesai kubaca saat ini ada di dalam tas. Kuambil novel itu dan menaruhnya di atas meja. Karena tidak ada hal lain yang kulakukan, lebih baik segera kuselesaikan membaca novel ini. Jadi, novel ini bisa kukembalikan besok setelah pulang sekolah.



Kubuka novel ini di halaman yang kutandai dengan penanda buku. Sesekali kuseruput teh dan membalikkan halaman demi halaman. Semakin lama kubaca, kesadaranku seperti dibawa masuk ke novel itu.



Air mata mulai berjatuhan.



Nafas mulai tidak beraturan.



Dan sekarang, mulai susah bernafas.



Itulah yang menggambarkan keadaanku saat ini.



Aku menyeka air mata yang jatuh dengan lengan baju kaus yang kupakai. Aku berusaha menarik nafas untuk menormalkan nafasku yang tidak beraturan ini, yang membuat dadaku terasa sesak. Saat pernafasanku kembali normal, kulanjutkan membaca.



Perasaan yang tertulis di novel ini tersampaikan dengan jelas menuju hatiku. Perasaan sakit yang menyayat hatiku, sehingga aku menjatuhkan air mata, lagi, dan lagi.



Perasaan pahit dari kehilangan seorang yang berharga bagi dirinya. Kehilangan seorang gadis yang telah membuat dirinya berubah.



Perasaan sedih nan pedih yang mengalir tidak mengizinkan dirinya untuk membendungnya.



Selama ini, dirinya telah memilih untuk bertemu dengan gadis itu.



Sampai saat ini, dirinya tidak tahu kebahagiaan yang seperti ini, juga rasa pahit seperti ini.



Dirinya telah hidup sebagai manusia untuk pertama kalinya berkat gadis itu.



Karena saling memahami bersama gadis itu.



Terima kasih.



Padahal ungkapan terima kasih saja tidak cukup, tetapi gadis itu sudah tiada walaupun dirinya harus mengucapkannya.



Seberapa pedihnya dirinya menangis, tidak akan tersampaikan lagi.



Seberapa kuat dirinya berteriak, tidak akan tersampaikan lagi.



Tidak akan tersampaikan lagi rasa bahagia dan pedih itu.



Hari-hari bersama gadis itu merupakan waktu yang paling membahagiakan daripada waktu lainnya.



Dirinya ingin bersama lebih lama lagi dengan gadis itu.



Walaupun mustahil, lebih baik dirinya disampaikan.



Meskipun hanya untuk kepuasan pribadi dirinya, alangkah baiknya jika gadis itu mendengarnya.



Dirinya menyesal.



Sudah tidak ada lagi hal yang dirinya sampaikan kepada gadis itu.



Sudah tidak ada lagi hal yang dirinya berikan kepada gadis itu.



Padahal begitu banyak hal dirinya terima dari gadis itu.



Tak satupun dari dirinya.



Dirinya menangis.



Menangis.



Dengan berlinang air mata, kulanjutkan membaca novel ini hingga selesai.



Suasana malam musim semi yang sunyi dan dingin di kamar ini membuatku dengan jelas mendengar isak tangisanku dan rasa hangat dari air mataku.



Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku.



Kulihat wajahku di cermin. Mataku memerah dan sedikit bengkak.



Setelah itu, aku mengambil novel itu dan memasukkannya ke dalam tas. Novel ini harus kukembalikan secepat mungkin, jika tidak, maka ada kemungkinan aku akan membacanya lagi dan menangis seperti ini lagi.



Kulihat jam dinding, jarum pendek mengarah ke angka 12 sedangkan jarum panjang mengarah ke angka 4. Sudah pukul 12:20 tengah malam. Tidak kusangka waktu berjalan begitu cepat. Lebih baik segera tidur. Kuambil ponsel yang dari tadi masih berada di dalam tas, lalu kuatur alarm dan kuletakkan di atas meja. Kumatikan lampu kamar.



Aku berbaring di tempat tidur dan kutarik selimut.



Kututup kedua mataku.



Namun, tidak bisa tidur.



Tulisan novel tadi terbayang di kepalaku.



Membuat rasa sedih datang kembali.



Kucoba untuk mengalihkan pikiranku.



Namun itu tidak berhasil.



Tanpa cahaya di dalam kegelapan, aku merasakan emosi yang dalam.



Sesekali air mataku menetes.



Kuseka dengan selimut.



Lama kelamaan, kelopak mataku terasa berat.



Dan, mataku tertutup.