Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 25



Chapter 22: Kedatangan Mizuno Atsuko-san


Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku, Amamiya Ryuki, mendapatkan hukuman skorsing dari sekolah. Memang benar kalau aku sudah melanggar peraturan sekolah dengan berkelahi dengan para preman yang berusaha membawa Atsuko-san. Apa yang kulakukan seharusnya tidaklah salah karena aku sudah menolong seseorang dari bahaya. Namun, di mata ketua OSIS SMA Akademi Keiyou, tindakanku itu dianggap sebagai pelanggaran. Setidaknya, kepala sekolah sepertinya tidak berpikir demikian. Buktinya adalah pak kepala sekolah meringankan hukumanku, dua hari saja.


Seperti biasa, aku selalu bangun cepat dan selalu melakukan olahraga. Setelah itu, aku mandi untuk membersihkan badanku dari keringat, lalu sarapan pagi. Sama sekali tidak ada yang berbeda. Kalau pun harus kukatakan apa yang berbeda, itu adalah aku yang tidak bisa pergi ke sekolah hari ini sampai besok. Meskipun begitu, aku tetap belajar di kamar ini sendirian, tanpa guru dan teman sekelas.


Belajar bukan hal yang sulit bagiku. Hanya saja belajar sendirian membuatku cepat jenuh dan akan berakhir dengan tertidur di meja jika kupaksakan. Apalagi jika pelajarannya matematika, fisika, dan kimia. Pelajaran itu sangat menguras energiku.


Tepat pukul 9 pagi, aku mulai belajar. Sambil terus membaca dan mencoba menyelesaikan soal yang ada di buku teks, aku memikirkan bagaimana keadaan di sekolah sekarang, khusunya di kelas 2-D. Pasti ada murid yang penasaran kenapa aku tidak ke sekolah hari ini. Namun, sepertinya mereka tidak perlu bertanya padaku saat aku kembali datang ke sekolah nanti karena pasti ada rumor yang tersebar kenapa aku tidak datang ke sekolah hari ini.


Sekarang, hal yang harus kupikirkan adalah tentang rencana Taka untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi dengan Fuyukawa-san. Rencana itu awalnya pada hari ini. Namun, karena hukuman, aku harus mencari hari lain. Kira-kira hari apa yang pas, ya? Mungkin hari Kamis atau Jumat.


“Ah, sial!” gumamku. Karena memikirkan hal itu, aku tidak fokus dengan soal yang kukerjakan. Pasti ada yang salah. Aku harus menyelesaikannya dari awal lagi.


***


Keiyou Gakuen Koukou.


Pagi datang dan kegiatan di SMA Akademi Keiyou berlangsung seperti biasanya. Sama sekali tidak ada yang berubah. Ada murid yang melakukan latihan pagi, membersihkan kelas, dan ada yang sudah belajar di perpustakaan. Kalau pun ada yang berubah, itu hanya jumlah murid yang datang ke sekolah hari ini. Hal itu dikarenakan adanya seorang murid yang bernama Amamiya Ryuki-kun dari kelas 2-D mendapatkan hukuman skorsing selama dua hari.


Amamiya Ryuki-kun mendapatkan hukuman itu karena melanggar peraturan sekolah. Dia berkelahi dengan preman untuk menolong temannya, Mizuno Atsuko-san, yang hendak dibawa oleh tiga orang preman. Apa yang dilakukan olehnya itu seharusnya diapresiasi. Dia berani menantang dan berkelahi dengan tiga orang preman untuk menolong teman sekelasnya. Karena hal itu, dia mendapatkan luka memar di beberapa bagian tubuhnya, termasuk wajahnya.


Apa yang dilakukannya itu terdengar hingga ke ketua OSIS. Ketua OSIS terlihat tidak menyukai hadirnya di sekolah ini. Meskipun begitu, dia tertolong berkat kepala sekolah yang datang. Pada akhirnya, dia hanya mendapatkan 2 hari skorsing dari sekolah.


Bel berbunyi yang menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai. Di kelas 2-D yang merupakan kelas Amamiya Ryuki, teman sekelasnya penasaran kenapa dia tidak datang hari ini.


“Eh? Apa Amamiya-kun telat hari ini?”


“Mungkin saja.”


“Padahal dia tidak pernah telat sebelumnya.”


“Apa mungkin dia tidak datang ke sekolah? Mungkin dia sakit.”


“Ah, itu masuk akal.”


“Iya. Dia berkelahi, sih, dengan preman untuk menolong Mizuno-san. Mungkin rasa sakitnya baru datang sekarang setelah hormon adrenalinnya hilang.”


“Iya, mungkin saja.”


Tak lama kemudian, seorang guru masuk ke kelas 2-D dan langsung mulai mengajar tanpa memberitahu apa-apa kepada teman sekelasnya Amamiya-kun. Guru itu juga tidak bertanya kepada murid kelas 2-D kenapa Amamiya-kun tidak datang. Hal itu membuat murid di kelas itu semakin penasaran. Tidak mungkin orang serajin Amamiya-kun tidak datang ke sekolah tanpa mengatakan apa-apa.


Benar, Amamiya-kun tidak mengatakan apa-apa kepada teman sekelasnya. Hanya Mizuno Atsuko-san yang mengetahui alasan dibalik tidak hadirnya Amamiya-kun hari ini.


Jam istirahat pun tiba. Murid-murid mulai memakan menu makan siang. Ada yang makan siang di kelas, di kantin, di ruang klub, di halaman sekolah, dan di atap sekolah. Di saat inilah rumor tentang Amamiya-kun tersebar ke seluruh sekolah. Tidak tahu siapa yang menyebarkan rumor ini. Rumor ini mengatakan tentang alasan Amamiya-kun tidak hadir ke sekolah untuk hari ini dan besok. Ya, rumor ini mengaakan kalau dia diskors selama dua hari karena sudah melanggar peraturan sekolah.


Murid-murid kelas 2-D langsung menemui Mizuno-san yang pasti mengetahui sesuatu. Teman Amamiya dari kelas lain seperti Taniguchi Hitoka-san yang dari kelas 2-C segera mencari Shimizu Sumire-san dan Nazuka Izumi-san untuk meminta penjelasan. Namikawa Sakura dari kelas I dan Kayano Chiaki dari kelas 2-H juga mencoba mencari penjelasan dari informasi itu. Sebagai teman Taniguchi-san, Namikawa-san, dan Kayano-san, Shimizu-san dan Nazuka-san menceritakan semuanya apa yang sudah diceritakan dari Mizuno-san. Mereka bertiga merasa kesal karena seharusnya Amamiya-kun tidak mendapatkan hukuman.


Sementara itu, Iwase Ayumi-san mencoba bertanya kepada Shiraishi Miyuki-san karena mereka berada di kelas yang sama dan dia tahu kalau Shiraishi-san berada di klub yang sama dengan Amamiya-kun. Tentu saja Shiraishi-san tidak bisa menjawab apa-apa karena Amamiya-kun tidak memberitahukannya. Namun, Shiraishi-san mengatakan kalau rumor itu kemungkinan besar memang fakta. Dia menjelaskan kepada Iwase-san kalau wajah Amamiya-kun terdapat luka memar ketika bertemu di kantin dan hal itu cukup sebagai bukti bahwa Amamiya-kun sudah berkelahi. Tentu saja dia bukan orang bodoh yang akan berkelahi tanpa alasan.


Rumor yang menyebar ke seluruh sekolah terdengar seperti sebuah rumor yang membuat Amamiya-kun seperti bukan murid teladan. Tentu saja orang murid yang melanggar peraturan sekolah dan mendapatkan skors bukan murid teladan. Beberapa murid yang tidak mengenalnya mulai beranggapan seperti “Amamiya Ryuki dari kelas 2-D bukanlah murid teladan.”


Mizuno-san yang sadar akan bahayanya rumor yang buruk seperti ini meminta bantuan dari murid kelas 2-D untuk meluruskan rumor itu dengan cara menceritakan apa yang terjadi. Dia juga meminta bantuan klub basket perempuan.


Di hari pertama Amamiya-kun tidak hadir di sekolah, sudah banyak hal yang terjadi. Mizuno-san sangat berusaha keras agar tidak ada rumor buruk yang masih menyebar. Dia melakukan semua ini agar keberadaan Amamiya-kun di sekolah ini tidak memburuk. Dia juga beranggapan kalau semua hal ini terjadi karena salahnya, meskipun Amamiya-kun sudah mengatakan kalau yang terjadi saat itu bukanlah salahnya.


***


Badanku terasa segar setelah bangun dari tidur siangku. Kalau aku tidak diskors, tidak mungkin aku bisa tidur siang seperti ini.


Aku sudah menyelesaikan kegiatan belajarku dan juga sudah makan siang. Aku tidur siang karena otakku merasa lelah dan tidak ada hal lain yang bisa kulakukan.


Cuaca yang mulai mendung dan ditambah dengan angin yang berhembus masuk ke dalam kamarku melalui jendela membuatku ingin tidur lagi. Rasa nyaman ini membuatku tidak ingin melakukan apa-apa.


Aku mengambil ponselku dan kembali ke tempat tidur. Sekarang sudah pukul 16:22 yang artinya sekolah hari ini sudah berakhir.


“Ah… kalau tidak diskors, pasti sekarang aku sudah berada di ruang klub dan akan melakukan rencana itu.”


Ya, benar. Rencana untuk meluruskan kesalahpahaman di antara Taka dan Fuyukawa-san. Karena hari ini dan besok aku tidak bisa hadir ke sekolah, rencana itu harus diundur dulu dan aku harus memikirkan waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana itu. Itu berarti aku harus berdiskusi dengan Taka lagi.


Hm? Aku baru sadar kalau ada beberapa pesan masuk di LINE. Ketika kulihat, pesan itu dari teman-temanku yang menanyakan tentang hukumanku. Aku ingin membalas pesan-pesan itu, tapi sepertinya itu tidak perlu karena di akhir pesan itu, mereka sudah mengetahui semuanya. Tertulis di sana kalau Atsuko-san sudah menjelaskan semuanya.


Tiba-tiba aku mendengar pintu kamarku diketuk seseorang. Aku bangun dari tempat tidur dengan perasaan sedikit malas menuju pintu. Ketika kubuka, seseorang yang kukenal berada di depan kamarku dengan seragam sekolah yang masih dikenakannya.


“Atsuko-san?”


“Halo, Ryuki.”


“Kenapa ke sini?”


“Aku ingin memberikan catatan pelajaran tadi.”


“Oh, ya, aku meminta tolong padamu untuk ini, ya. Kamu bisa berikan nanti saat aku sudah bisa hadir di sekolah.”


“Iya, sih, tapi…”


“Kalau begitu, ayo masuk saja dulu.”


“Ah, iya. Permisi!”


Sementara Atsuko-san duduk di ruang tengah, aku mengambil mugicha dari kulkas dan meletakkannya di atas meja.


“Maaf, ya, aku tidak punya apa-apa. Ini, silakan diminum, Atsuko-san!”


“Tidak apa-apa, kok. Terima kasih, Ryuki.”


Sekarang sudah pukul 16:33 dan Atsuko-san berada di sini. Apa dia tidak ada latihan basket hari ini?


Atsuko-san mengambil sesuatu dari dalam tas pundaknya setelah meminum mugicha. “Ini buku catatanku.” Ada tiga buku yang dikeluarkan dari dalam tasnya.


“Terima kasih, Atsuko-san. Aku jadi tertolong. Kenapa tidak kamu berikan besok saja?”


“Sebenarnya ada yang ingin kuminta darimu, Ryuki.”


“Apa itu?”


Tiba-tiba Atsuko-san terlihat menjadi lebih serius.


“Tolong ajari aku Matematika!”


Oh, ya, Atsuko-san lemah di pelajaran Matematika. Kalau nilainya nanti jelek di ujian semester, dia harus mengambil waktu belajar tambahan di sekolah yang bisa membuatnya tidak bisa ikut turnamen Inter High.


“Boleh, kok. Kalau nilai jelek di ujian nanti, mungkin saja kamu tidak bisa ikut Inter High, kan?”


“Iya, benar.”


“Kalau begitu, ayo kita mulai!”


“Ya, mohon bantuannya, Ryuki.”


Mungkin ini pertama kalinya aku belajar dengan orang lain di kamar ini. Aku menjadi bersemangat, padahal tadi aku ingin tidur lagi. Sungguh aneh. Apa karena Atsuko-san yang datang kemari, ya?


Sambil menyalin catatan pelajaran hari ini yang diberikan oleh Atsuko-san, aku menyuruhnya untuk menyelesaikan soal-soal yang ada di buku Matematika. Dia menuruti perkataanku dan langsung memulainya. Di saat ada bagian yang dia tidak tahu untuk memakai rumus yang mana, aku menjelaskan kepadanya secara perlahan karena kemampuan setiap orang itu berbeda.


“Hm… Begitu, ya. Kamu sangat bagus dalam menjelaskannya, Ryuki. Sepertinya aku bisa menyelesaikan soal lainnya.”


“Aku senang mendengarnya. Kalau begitu, coba kamu lakukan lagi. Tujuh soal selanjutnya sudah kuselesaikan tadi pagi. Jadi, coba selesaikan satu per satu soal, lalu cocokkan dengan jawaban punyaku. Kalau ada yang tidak dimengerti, akan kujelaskan lagi. Berjuanglah, Atsuko!”


“Ya, Ryuki-sensei.”


“Kenapa pakai ‘sensei’ sekarang?”


“Agar lebih semangat.”


“Ahaha. Kamu lucu, ya, Atsuko-san.”


Waktu yang kami habiskan berdua di kamar ini sambil belajar terus berjalan. Atsuko-san terlihat sudah memahami dengan baik materi Matematika hari ini dan mulai terbiasa dengan soal-soal yang dikerjakannya hingga akhirnya aku menyuruhnya untuk menyelesaikan soal yang sedikit lebih rumit. Aku sendiri belum menyelesaikan soal itu, sih.


“Eh… kok, soal ini terlihat beda, ya!? Eh?! Hm!?”


“Bagaimana, Atsuko-san?”


“Tunggu sebentar, Ryuki-sensei. Aku masih belum menyerah.”


“Baiklah.”


Waktu yang sudah Atsuko-san habiskan untuk menyelesaikan soal itu adalah 15 menit dan masih terus bertambah karena belum terselesaikan.


Seketika aku berhenti menyalin dan mulai memperhatikannya yang berada tepat di depanku. Angin yang berhembus masuk ke kamar ini membuat rambunya yang pendek itu berterbangan. Dia menggunakan tangan kirinya untuk merapikan rambutnya dan tangan kanannya masih terus memegang pensil mekanik. Wajahnya sangat serius. Perhatiannya tidak teralihkan sama sekali.


“Ada apa, Ryuki? Kenapa kamu melihatku?” Tiba-tiba Atsuko-san melihat ke arahku.


“Ah, bukan apa-apa, kok. Hanya saja, kamu terlihat indah ketika sedang berusaha dan serius.”


Hm? Apa yang baru saja kukatakan?


“Be-Benarkah?” Wajah Atsuko-san tiba-tiba saja memerah.


“Iya.”


“Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan seperti itu.”


“Begitu, ya. Lalu, bagaimana dengan soalnya?”


“Tunggu sedikit lagi. Kamu sendiri bagaimana, Ryuki? Sudah disalin semua?”


“Tinggal sedikit lagi.”


“Cepat, ya.”


“Ahaha… Tadi pagi, aku juga mempelajari ini dan mencatatnya di buku catatanku. Jadi, aku hanya mencatat apa yang dijelaskan guru karena yang dari buku paket sudah kucatat poin-poin pentingnya.”


“Baiklah.”


Aku meninggalkan Atsuko-san dengan soal Matematika agar dia bisa lebih berkonsentrasi.


Beberapa saat kemudian, aku sudah menyalin catataannya. Akhirnya bisa kuistirahatkan tanganku. Sementara itu, Atsuko-san…


“Waaa… Aku sama sekali tidak mengerti dengan soal ini,” kata Atsuko-san dengan suara yang sedikit keras.


“Sudah selesai?”


“Sudah cukup! Aku tidak bisa menyelesaikannya. Kamu sudah menyelesaikan soal ini, Ryuki?”


“Tidak, belum.”


“Eh… Lalu, kenapa kamu menyuruhku menyelesaikan soal ini?”


“Agar kita bisa mengerjakannya sama-sama sekarang. Aku sudah menyalin semua dari buku catatanmu.” Aku mengembalikan buku itu kepada Atsuko-san. “Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Aku lalu beranjak dari posisiku untuk duduk di sebelah Atsuko-san.


“Baiklah, ayo kita mulai, Atsuko-san!”


“Ya, Sensei!”


“Soal ini lebih sulit daripada soal lainnya. Jadi, kalau ada yang tidak dimengerti, langsung ditanya, ya. Ini bakal panjang, lo.”


Ketika duduk di samping Atsuko-san, aku mencium aroma manis. Pasti aroma ini datang dari Atsuko-san. Karena angin yang berhembus, aroma ini tercium dengan sangat jelas. Aroma lembut.


“Ya. Mohon bantuannya, Sensei.” Atsuko-san menjawabnya penuh dengan semangat.


“Baiklah. Ayo kita mulai.”


Waktu terus berjalan dan penjelasan untuk soal ini masih belum selesai. Itu karena banyaknya pertanyaan yang timbul. Dia terus bertanya dan aku terus memberikan jawaban dan penjelasan, lalu dia menulisnya. Aku tidak tahu sudah berapa belasan menit waktu sudah berjalan hanya untuk soal ini. Wajar, sih, karena soalnya memang sulit. Bagiku saja soal ini sudah sulit, apalagi untuk Atsuko-san yang memang Matematika adalah pelajaran terlemahnya. Pasti akan memakan waktu lebih lama dari yang kupikirkan.


Akhirnya, soal ini selesai diselesaikan oleh aku dan Atsuko-san. Ya, walaupun aku yang mengerjakan semuanya untuk mendapatkan jawabannya. Namun, tetap saja, soal ini diselesaikan oleh dua orang.


“Akhirnya selesai juga,” kata Atsuko-san sambil menghembuskan napas lega.


“Jangan lupa dipelajari lagi, ya, agar tidak lupa. Matematika seperti itu, harus diulang-ulang agar lancar.”


“Baik, Sensei.”


“Sudah, tidak perlu pakai ‘sensei’ lagi.”


“Hahaha. Terima kasih sudah mengajariku, Ryuki.”


“Sama-sama. Ini juga kesempatan bagus bagiku untuk belajar kembali. Kalau perlu untuk kuajari lagi, bilang saja, ya.”


“Um, ya, terima kasih.”


Mugicha yang kuletakkan tadi sudah habis karena kami minum. Tadi itu benar-benar menguras tenaga. Aku benar-benar perlu asupan glukosa sekarang.


Ketika kulihat ke arah luar, cuaca sudah sangat mendung. Pasti sebentar lagi akan segera hujan. Oh, ya, sekarang sudah jam berapa, ya.


“Ah, sudah hampir jam 18:30. Aku harus pulang sekarang.”


Ternyata sudah hampir dua jam kami belajar bersama.


“Sebaiknya kamu cepat-cepat, lo. Sepertinya bakal hujan deras.”


“Ya, aku ta—”


Suara hujan yang mengguyur tiba-tiba membuat perkataan Atsuko-san terpotong. Aku segera menutup jendela dan menghidupkan lampu ruangan ini.


“Bagaimana sekarang, Atsuko-san?”


“Ah, sungguh tidak beruntung. Mungkin aku bisa lari sampai ke stasiun terdekat.”


“Tapi di luar, hujannya deras sekali. Kamu pasti basah. Bisa saja kamu terkena demam esok hari.”


“Benar juga. Padahal aku ingin pulang naik kereta hari ini.”


“Memangnya kamu biasanya ke sekolah naik apa?”


“Mobil.”


Seperti yang diharapkan dari orang kaya.


“Kalau begitu, telepon saja sopir yang mengantarmu.”


“Iya. Tidak ada cara lain sepertinya.”


Atsuko-san kemudian berjalan menuju jendela, lalu menelepon sopirnya sambil melihat ke arah luar yang sudah diguyur hujan.


Sementara Atsuko-san sedang bertelepon, aku membersihkan meja, lalu mencuci gelas sambil memikirkan menu makan malam apa yang aka kubuat untuk malam ini.


“Ryuki.” Atsuko-san memanggilku.


“Ada apa, Atsuko-san?”


“Apa aku boleh berada di sini sedikit lebih lama?”


“Apa terjadi sesuatu?”


“Iya. Bal mobilnya sedang diganti karena bocor. Kemungkinannya aku akan dijempur sekitar 40 menit sampai satu jam lagi.”


“Begitu, ya. Boleh, kok.”


“Sekali lagi, terima kasih, ya.”


“Tidak, tidak. Kalau begitu, ayo makan malam di sini saja dulu.”


“Eh? Makan malam?”


“Iya.”


“Di sini?”


Aku mengangguk, “Um.”


“Tidak, tidak. Aku tidak bisa merepotkanmu lebih dari ini, Ryuki.”


“Tidak, kok. Lagian kamu sudah repot-repot datang ke sini. Dan juga, kamu terlihat sedikit lelah. Mungkin karena ada sesuatu yang terjadi di sekolah tadi. Jadi, makanlah di sini.”


“Baiklah.”


“Yosh. Aku senang.”


“Sampai sebegitunya?”


Sepertinya aku begitu senang karena Atsuko-san menerima permintaanku untuk makan malam di sini.


“Eh?! Aneh, ya?”


“Iya. Padahal aku cuma mengikuti perkataanmu untuk makan malam di sini saja.”


“Hm, ya, mungkin karena ini pertama kalinya aku makan malam bersama orang lain di sini. Karena itulah aku jadi sangat senang. Haha.”


“Ah, jadi begitu, ya.”


“Um.”


Atsuko-san kemudian menuju dapur dan berdiri di dekatku. “Jadi, Ryuki, kamu mau buat apa untuk makan malam?”


“Menu makan malam yang biasa-biasa saja, sih. Karaage dan sup miso.”


“Ho…”


“Apa kamu tidak suka?”


“Tidak, tidak. Aku suka, kok. Aku cuma kagum denganmu, Ryuki. Kamu masak setiap hari seperti ini.”


“Kamu tidak bisa memasak, Atsuko-san?”


“Hm… hanya sedikit.”


“Begitu, ya. Mau bantu aku?”


“Ya, dengan senang hati.”


“Yosh, ayo kita mulai!”


Dengan begitu, aku dan Atsuko-san mulai menyiapkan makanan yang akan kami makan, dimulai dari mencuci beras dan sayur, memotong ayam menjadi ukuran yang lebih kecil, dan lain sebagainya. Dari yang kulihat, dia hanya tidak sering memasak sehingga membuatnya kaku. Namun, semua yang kujelaskan kepadanya bisa dia lakukan dengan baik. Waktu terus berjalan dan kami pun semakin dekat dengan menyelesaikan menu makam malam ini. Sekitar 40 menit kemudian, semuanya sudah selesai. Ada nasi putih hangat yang baru saja masak, karaage yang renyah dan juicy, dan miso sup. Menu makan malam yang biasanya kubuat.


Semua makanan kami letakkan di atas meja tempat kami belajar tadi. Kami duduk saling berhadapan.


“Akhirnya semuanya sudah siap. Kelihatannya enak, nih.”


“Semoga kamu suka, Atsuko-san.”


“Um.”


“Kalau begitu, ayo kita makan! Itadakimasau.”


“Itadakimasu.”


Atsuko-san memakannya dengan lahap. Raut wajahnya terlihat senang. Sepertinya dia menyukai makanan yang kubuat bersamanya ini. Baiklah, aku juga harus makan.


***


“Semuanya enak, lo, Ryuki,” kata Atsuko-san. “Gochisousama deshita.”


“Syukurlah kalau kamu suka. Gochisousama deshita.”


“Ternyata kamu jago memasak, ya. Aku baru tahu.”


“Tidak, tidak. Aku tidak sejago yang kamu bayangkan, lo.


“Tapi ini benar-benar enak.”


“Ahaha. Terima kasih.”


Tuk, tuk, tuk.


Terdengar pintu kamar yang diketuk.


Tanpa kusadari, hujan sudah tidak terlalu deras. Hal itu membuat suara pintu yang diketuk terdengar dengan jelas.


“Ah, itu mungkin sopirku.”


Atsuko-san langsung berdiri dan bergerak ke arah pintu. Aku mengikutinya dari belakang.


“Selamat malam, Nona Atsuko (Atsuko Ojousama). Saya datang untuk menjemput Nona.”


Orang yang berdiri di depan kamarku berupa seorang pria dewasa dengan setelan berwarna hitam. Orangnya keren.


“Terima kasih. Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku mau membantu Ryuki dulu.”


“Tidak perlu, Atsuko-san. Kamu boleh langsung pulang, kok. Biar selanjutnya kubereskan.”


“Eh! Tapi—”


“Sudah, sudah, tidak apa-apa, kok. Tunggu sebentar, biar kuambilkan tasmu.”


Kuambil tas Atsuko-san, lalu keberikan kepadanya yang sudah bersiap-siap pergi dari kamar ini.


“Ini tasmu, Atsuko-san.”


“Terima kasih, ya, Ryuki, untuk semuanya.”


“Tidak, tidak. Justru aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Tadi itu juga menyenangkan, lo.”


“Aku senang mendengarnya. Kalau begitu, sampai jumpa lagi. Oyasumi.”


“Ya, sampai jumpa. Oyasumi.”


Atsuko-san berjalan meninggalkan kamar ini. Sopirnya yang berada di belakangnya berbalik menuju arahku yang masih berada di depan pintu karena aku sedang melihat Atsuko-san pergi. Ada apa ini?


“Ryuki-sama, terima kasih.”


“Ah, iya.”


“Kalau begitu, saya pamit.”


“Iya.”


Jadi, orang itu hanya ingin mengatakan terima kasih. Wajahnya tadi terlihat begitu serius. Kupikir aku sudah melakukan kesalahan.


Baiklah, saatnya membereskan semuanya. Setelah itu, mandi. Kemudian, minum teh sambil membaca novel, ditemani dengan suara hujan yang membuatku nyaman.


Kupikir hari ini akan kulalui dengan bermalas-malasan. Namun, dengan kedatangan Atsuko-san, semuanya berubah 180 derajat. Karena itulah aku sangat berterima kasih karena kedatangannya.