Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 1



Musim semi telah tiba. Bunga sakura telah bermekaran di seluruh penjuru negeri. Mulai musim semi tahun ini, aku akan bersekolah di Keiyou Gakuen Koukou yang terletak di Tokyo.



Aku berjalan di trotoar di samping sungai sambil melihat sakura yang bermekaran. Karena cuaca yang sedikit mendung, kupercepat langkah kakiku ini menuju sekolah baruku.



Dari kejauhan, sudah terlihat gerbang, pagar, dan gedung sekolah. Aku berdiri di perempatan jalan menunggu lampu penyeberangan berubah warna dari merah ke hijau. Terlihat murid-murid Keiyou memasuki sekolah melalui gerbang sekolah yang besar. Sejenak aku terdiam di sini, walaupun lampu lalu lintas sudah berubah warna, aku tetap tidak bergerak sedikit pun.



“Di sini tempatnya,” aku bergumam. “…Hanya sedikit lagi sampai ke sekolah, namun kejadian itu terjadi.”



Saat memikirkan kembali kejadian di hari itu, berandai-andai jika kejadian itu tidak pernah terjadi, tiba-tiba, rintikan hujan mulai turun dan menyadarkanku. Aku melihat ke arah awan, ternyata sudah ada setumpuk awan hitam yang siap menghujani kota ini. Kulihat murid-murid Keiyou mulai berlarian memasuki sekolah. Ketika lampu penyeberangan berubah menjadi hijau, aku langsung menyeberangi jalan dan menuju ke sekolah.



Aku sudah pernah pergi ke sekolah ini, jadi sudah tahu di mana letak Ruang Staf Pengajaran dan guru yang akan kutemui. Beberapa hari sebelum sekolah dimulai, aku pergi ke sekolah ini untuk mengambil perlengkapan sekolah seperti seragam, pakaian olahraga, uwabaki-sepatu indoor, buku, dan sebagainya.



Aku masuk ke Gedung Utama dan menuju loker sepatu. Terlihat murid-murid sedang mengganti sepatunya dengan uwabaki dan berbicara dengan teman-teman mereka. Aku menuju loker sepatuku seperti yang diberitahu oleh Hiratsuka-sensei. Kucari namaku yang tertulis di loker, “Amamiya, Amamiya…… Aa, ini dia,” terletak di bagian paling bawah kanan loker. Aku berjongkok lalu mengganti sepatuku dengan uwabaki.



“Ah, apakah kamu murid pindahan itu?” Terdengar suara seorang gadis dari arah kiriku, seperti sedang berbicara kepadaku.



Selesai memakai uwabaki, aku berdiri. “…Ah, sepertinya iya.”



Aku melihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang berwarna hitam, dipadu dengan matanya yang indah bewarna biru, seakan bisa menghanyutkan diriku di lautan. Kulitnya putih dan wajahnya kemerahan, mungkin karena dingin. Dia memakai kardigan berwarna merah muda di dalam seragam blazernya, kaus kaki hitam panjang sampai di atas lutut dan rok sekolah sedikit di atas kaus kakinya.



“Sepertinya? Hahaha, kamu lucu ya.” Dia tertawa karena jawabanku.



Aku bahkan tidak ada niatan membuat lelucon. Apalagi ke orang yang tidak kukenal.



“Iya, mungkin saja ada murid pindahan yang lain.”



“Sepertinya tidak ada murid pindahan yang lain. Kalau begitu, sampai jumpa lagi.” Dia melambaikan tangannya ke arahku dan pergi.



“Sampai jumpa.”



Aku melihatnya berjalan menuju tangga. Karena arah yang kutuju juga sama, aku berjalan sesudahnya. Kunaiki tangga dan tiba di lantai dua. Terlihat gadis itu masuk ke kelas yang berada di arah sebelah kiri tangga. Aku langsung menuju ruang guru, hanya lurus saja dari tangga ini. Dari jauh aku melihat Hiratsuka-sensei sudah berdiri di depan ruang guru.



“Ohayou gozaimasu, Hiratsuka-sensei.”



“Ohayou Amamiya-kun. Selamat datang di Keiyou Gakuen Koukou. Ayo masuk ke dalam.”



Aku dan Hiratsuka-sensei masuk ke Ruang Staf Pengajaran, berjalan menuju suatu ruangan yang terletak di ruang ini. Sepertinya ruangan itu digunakan untuk konseling para murid atau karena datangnya orang tua atau wali murid ke sekolah ini. Bisa dikatakan sebagai Ruang Tamu Guru.



“Silakan masuk,” kata Hiratsuka-sensei. Aku pun masuk ke ruangan itu.



Di ruangan ini terdapat sebuah meja kaca berbentuk persegi panjang dan dilengkapi dengan sofa di setiap sisi meja. “Silakan duduk,” kata Hiratsuka-sensei. Aku pun duduk di depannya dan meletakkan tas pundakku di depan kakiku.



“Etto, Amamiya Ryuki-kun, benar kan?” Hiratsuka-sensei bertanya kepadaku sambil melihat suatu berkas.



“Ya, Sensei.”



“Mm… Kamu ditempatkan di kelas 2-D, wali kelasnya Sakamoto-sensei yang mengajar pelajaran Matematika. Apa ada hal yang ingin kamu tanyakan?”



“Sensei mengajar pelajaran apa?”



“Saya mengajar pelajaran Bahasa Inggris dan juga sebagai guru konseling. Apa ada lagi?”



“Tidak ada, Sensei.”



“Baiklah. Karena sebentar lagi ada upacara pembukaan semester dan penyambutan murid baru, kita sekarang ke Aula Sekolah.”



“Baik, Sensei.” Aku mengambil tasku lalu berdiri untuk meninggalkan ruangan ini.



Aku dan Hiratsuka-sensei meninggalkan Ruang Staf Pengajaran dan pergi menuju ke Aula Sekolah yang terletak di lantai satu. Namun, aku tidak tahu di mana letaknya. Kulihat murid-murid lainnya juga sedang berjalan di lorong Gedung Utama lantai satu menuju Aula Sekolah. Terus berjalan melewati kantin hingga akhirnya mereka berbelok ke kanan, Hiratsuka-sensei juga.



Terdapat koridor yang mengarah ke Halaman Sekolah. Melalui koridor ini, kami menuju ke Aula Sekolah. Koridor ini juga menghubungkan dua Gedung Sekolah. Aku berjalan mengikuti Hiratsuka-sensei dan murid lainnya ke aula sekolah.



Sesampai di aula, murid-murid tadi langsung menuju tempat duduk masing-masing. Suasana di aula ini juga sudah ramai. Hiratsuka-sensei memberitahuku arah tempat duduk untuk murid kelas 2-D dengan mengarahkan jarinya. Saat sedang berjalan menuju arah tempat dudukku, Hiratsuka-sensei memanggilku.



“Amamiya-kun.”



“Ya, Sensei?” Akupun berbalik dan melihat ke Sensei.



“Apakah kamu menyesal atas tindakanmu tahun lalu?”



Begitu ya… jadi Hiratsuka-sensei sudah mengetahuinya. Tentu saja Hiratsuka-sensei harus mengetahuinya. Dia adalah guru konseling yang menangani permasalahan para murid. Hal yang wajar jika pihak sekolah memberitahukan tentangku padanya. Walaupun kejadian itu masih melekat di kepalaku, mengungkit hal itu bukanlah suatu yang menyakitkan. Aku tidak memiliki dendam dengan hal itu, jadi akan kujawab pertanyaan Hiratsuka-sensei dengan jujur dan senyum. Saat keluar dari rumah sakit, aku bertekad untuk menjawab pertanyaan apa pun mengenai kejadian itu. Siapapun yang bertanya.



“Saya tidak menyesal karena melakukan hal yang saya anggap benar.”



“Begitu ya. Syukurlah. Sana pergilah ke tempat dudukmu. Mulai hari ini kamu adalah murid sekolah ini. Setelah acara selesai, kembali ke ruang guru terlebih dahulu.”



“Baik, Sensei.”



Aku pergi menuju tempat duduk kelas 2-D yang Hiratsuka-sensei tunjuk tadi. Mencari kursi kosong dan duduk di kursi tersebut. Aku duduk di paling kiri di bagian belakang murid yang akan menjadi teman sekelasku. Kuletakkan tasku di bawah kakiku. Sepertinya masih ada waktu sebelum acara dimulai. Masih ada kursi kosong, berarti ada murid yang belum hadir di sini. Kulihat ke arah sekitar. Mataku tertuju ke arah seorang gadis yang melambai-lambaikan tangannya ke araku yang berada di pintu masuk. Dia sepertinya menuju ke arahku. Ah, gadis ini yang tadi pagi kutemui di loker sepatu.



“Kita ketemu lagi, ya...” Dia tersenyum ke arahku dan duduk di kursi kosong sebelah kananku.



“Ya.” Aku hanya menjawab dengan singkat.



“Ngga kusangka kalau kamu ternyata sekelas denganku. Kebetulan sekali ya.”



“Iya, mungkin kebetulan.”





Tidak, tidak, tidak. Dari yang kulihat di wajahnya itu, sepertinya dia sudah tahu kalau aku akan sekelas dengannya. Aah, waktu aku mengganti sepatu. Mungkin karena terlalu fokus mencari letak lokerku, aku tidak melihat gadis ini yang sedang mengganti sepatunya. Jelas loker sepatu itu untuk kelas 2-D. Dan saat itu dia berkata, “Sampai jumpa lagi.” Berarti dia memang sudah tahu.



“Ngomong-ngomong, namaku Fuyukawa Yukina. Kalau kamu?”



“Amamiya Ryuki.”



“Yoroshiku ne, Amamiya-kun.”



“Hai, kochira koso yoroshiku onegaishimasu, Fuyukawa-san.”



“Ah, acaranya akan dimulai.”



Tanpa kusadari, kursi di sebelah kananku sudah terisi penuh. Aku sama sekali tidak menyadarinya sedikitpun. Mungkin karena aku berbicara dengan orang seperti Fuyukawa-san. Dia gadis yang cantik, gaya biacaranya seperti seorang periang, dan selalu terlihat tersenyum. Kehadirannya seperti matahari yang menyilaukan, namun menghangatkan.



Acara pembukaan semester dan penyambutan murid baru diawali dengan seorang guru yang berperan sebagai pembawa acara ini mengatakan selamat datang di Keiyou Gakuen Koukou. Kemudian, dilanjutkan dengan pidato dari Pak Kepala Sekolah dan pidato dari ketua OSIS. Oh, ketua OSIS-nya murid perempuan dari kelas tiga. Setelah semua rangkaian acara selesai, semua siswa kembali ke kelas masing-masing dan aku harus kembali menuju Ruang Staf Pengajaran. Saat aku akan pergi, Fuyukawa-san berkata, “Sampai jumpa di kelas.” Aku hanya mengangguk.



Setiba di Ruang Staf Pengajaran, aku menemui Hiratsuka-sensei karena akan diperkenalkan ke kelas 2-D sebagai murid pindahan. Walaupun tidak sepenuhnya seperti itu. Aku berjalan menuju kelas 2-D bersamanya.



Hiratsuka-sensei masuk ke kelas 2-D sedangkan aku berdiri di luar kelas. Aku mendengar pembicaraan Hiratsuka-sensei dengan Sakamoto-sensei, wali kelas 2-D. Sepertinya, kelas 2-D baru saja selesai melakukan pengenalan. Cepat juga, ya…



“Sakamoto-sensei, dia sudah datang.”



“Oh iya, hari ini, kan? kalau begitu, silakan suruh dia masuk.”



Hiratsuka-sensei keluar dari kelas dan menyuruhku untuk masuk. Lalu, Hiratsuka-sensei kembali ke Ruang Staf Pengajaran. Saat aku masuk dan berdiri di depan kelas, seketika suasana kelas berubah. Aku melihat wajah murid-murid di kelas ini yang kebingungan, seperti dibanjiri pertanyaan siapa murid itu. Kemudian Sakamoto-sensei berkata.



“Perhatian semuanya. Kita kedatangan murid pindahan. Silakan perkenalkan dirimu.”



“Nama saya Amamiya Ryuki (雨宮琉希). Saya baru pindah ke Tokyo. Jika berkenan, tolong beri tahu saya banyak hal. Yoroshiku onegaishimasu.” Aku membungkukkan badanku.



“Amamiya-kun, silakan duduk di sana.” Sakamoto-sensei menunjukkan ke arah meja kosong yang terletak di paling belakang, tepat di samping jendela.



Saat berjalan ke itu, aku melihat seorang gadis yang kutemui tadi pagi di loker sepatu dan di Aula Sekolah. Dia adalah Fuyukawa Yukina-san. Fuyukawa-san ternyata duduk di sebelah kanan mejaku. Melihatnya tersenyum ke arahku, aku pun membalas dengan tersenyum ke arahnya. Aku duduk dan meletakkan tasku di gantungan tas yang ada di meja. Fuyukawa-san tiba-tiba memanggilku.



“Amamiya-kun, kalau ada yang ingin kamu tanyakan, tanya saja padaku.” Fuyukawa-san mengatakannya dengan suara yang pelan.



“Terima kasih.” Kujawab dengan senyuman di wajahku.



Senyumannya yang lembut membuatku lupa kalau Sakamoto-sensei masih berada di kelas ini. Senyumannya seperti bisa membuatku lupa keadaan di sekitarku. Dia pasti tipe gadis yang terkenal di sekolah ini. Kuyakin hal ini saat kulihat ke arah murid lainnya, ada tatapan menuju ke arahku.



Eh? Apa berbicara dengan Fuyukawa-san akan menarik perhatian murid-murid di sekitarmu?



Terlebih murid laki-laki. Tatapan mereka berbeda saat aku masuk tadi. Mereka menatapku dengan tajam seperti berkata “Oi murid pindahan, ngapain kau sok dekat-dekat dengan Fuyukawa-san?” Benar-benar tatapan yang berbahaya. Setelah itu, Sakamoto-sensei mulai melanjutkan.



“Selanjutnya, kita akan memilih perwakilan kelas. Satu orang dari murid laki-laki dan satu orang dari murid perempuan. Apa ada yang bersedia menjadi perwakilan kelas untuk kelas ini?”



Suasana kelas saat ini menjadi gaduh. Murid kelas ini seperti sedang mengadakan diskusi besar terkait siapa yang akan menjadi perwakilan kelas. “Kamu saja yang jadi perwakilan kelas,” ada yang menyuruh teman sebangkunya untuk mencalonkan diri, ada juga yang bergumam, “Apa aku saja yang menjadi perwakilan kelas?” menyebut dirinya sendiri untuk mencalonkan diri dengan nada malu-malu. Aku bisa mendengarnya secara jelas. Namun di antara itu semua, ada seorang gadis dengan tekad kuat dengan senyum di wajahnya mengangkat tangannya. “Saya, Sensei.” Suara itu berasal dari Fuyukawa-san. Memang, untuk masalah siapa yang akan menjadi perwakilan kelas lebih baik diberikan kepada murid yang memiliki kepribadian seperti Fuyukawa-san. Aku langsung tahu kalau dia merupakan murid populer yang disukai oleh semua murid dan guru.



Semua murid melihat ke arahnya dengan raut wajah bahagia seperti melihat seorang bidadari. Tidak, mungkin seorang penyelamat.



Sakamoto-sensei hanya mengangguk dan kemudian bertanya, “Apa ada yang keberatan Fuyukawa-san menjadi perwakilan kelas dari murid perempuan?”



Semua murid menjawab dengan serentak, “Tidak, Sensei.”



Sakamoto-sensei kemudian menulis nama Fuyukawa-san di papan tulis, menandakan kalau Fuyukawa-san akan menjadi perwakilan kelas dari murid perempuan. Selanjutnya, untuk perwakilan kelas dari murid laki-laki tidak ada yang mengangkat tangan. Eh, kenapa tidak ada seorang pun yang mencalonkan diri? Apa karena Fuyukawa-san sebagai rekannya membuat murid laki-laki menjadi ragu-ragu?



Mungkin, memang berat menjadi rekan dari murid populer. Seperti ada tekanan absolut-tekanan yang datang dari dalam dan luar. Oleh karena itu, orang yang tepat untuk menjadi rekan murid populer adalah seorang murid populer juga. Atau, bisa juga dari kenalannya murid populer tersebut. Namun untuk keadaan ini, siapa orang yang tepat untuk hal itu? Karena aku sebagai murid baru di sekolah ini, mustahil aku tahu siapa orang itu dan tentunya orang itu bukanlah diriku. Mungkin lebih baik jika Fuyukawa-san sendiri yang mengajukan nama perwakilan kelas dari murid laki-laki.



“Apa tidak ada yang mau mencalonkan diri dari murid laki-laki?” Sakamoto-sensei bertanya kepada kami.



Tidak ada jawaban yang datang menghampiri pertanyaan Sakamoto-sensei. Keadaan kelas saat ini menjadi sunyi. Sakamoto-sensei masih berdiri dan menunggu di depan kelas. Keadaan kelas benar-benar hening.



Ayolah siapapun kamu, calonkan saja dirimu untuk menjabat sebagai perwakilan kelas. Dengan begitu, kamu bisa menjadi orang yang terkenal karena bisa bekerja sama dengan orang seperti Fuyukawa-san.



Kemudian terdengar suara yang memecah keheningan ini. Suara itu berasal dari mulut Fuyukawa-san.



“Sensei, bagaimana kalau saya pilih saja?” Fuyukawa-san berdiri.



“Tidak masalah kalau itu hal yang tepat.”



“Kalau begitu, saya pilih Amamiya-kun.” Fuyukawa-san mengatakannya dengan santai sambil melihat ke arahku.



“Haaa, aku?”



“Bisa beri alasannya, Fuyukawa-san?”



“Saya rasa, saya bisa bekerja sama dengan baik bersamanya. Terlebih juga, dia pasti bisa membantu dan menolong saya nanti.”



Tunggu sebentar. Kenapa Fuyukawa-san bisa dengan mudahnya percaya kalau aku bisa membantu dan menolongnya nanti? Bahkan kami baru saja bertemu tadi pagi. Seharusnya dia tidak boleh mempercayai langsung orang yang baru ditemui.



“Begitu, ya… Bagaimana dengan kalian semua? Setuju dengan Fuyukawa-san?”



“Kalau itu yang dikatakan Fuyukawa-san, mau bagaimana lagi.” Terdengar suara dari murid di depanku.



“Iya, mau bagaimana lagi.” Murid lainnya mengatakan hal yang sama.



“Kalau begitu, sudah diputuskan kalau Amamiya-kun akan menjadi perwakilan kelas dari murid laki-laki.” Sakamoto-sensei menulis namaku di papan tulis, di samping nama Fuyukawa-san.



Tunggu sebentar.



Kenapa jadi seperti ini? Aku harus bicara sekarang.



“Sensei, bukannya tugas ini lebih baik diberikan kepada orang lain? Maksud saya, saya murid baru di sini, jadi mustahil kalau saya yang menjadi…”



“Tidak apa-apa Amamiya-kun, aku akan memberitahumu banyak hal nantinya.” Fuyukawa-san memotong perkataanku.



“Ya, seperti yang dikatakannya, Amamiya-kun.” Sakamoto-sensei menjawabnya seakan menyutujui semuanya.



“Amamiya-kun dan Fuyukawa-san, silakan maju ke depan kelas.” Sakamoto-sensei menyuruh kami maju ke depan kelas.



Aku dan Fuyukawa-san berdiri dari tempat duduk kami dan menuju ke depan kelas.



Kenapa ini bisa terjadi?



Apa Dewa Takdir telah merencanakan hal ini untuk terjadi dalam hidupku?



Sakamoto-sensei mengeluarkan dua pin bewarna silver yang berbentuk persegi panjang dari saku jasnya dan memberikannya kepada diriku dan Fuyukawa-san. Aku tidak tahu apa maksud dari silver pin ini. Jadi, aku memasukkannya ke saku sebelah kanan blazerku.



“Semuanya, beri tepuk tangan untuk perwakilan kelas 2-D, Amamiya-kun dan Fuyukawa-san.”



“Yoroshiku onegaishimasu.” Aku dan Fuyukawa-san membungkuk dan diiringi dengan suara tepuk tangan.



“Silakan kembali ke tempat duduk kalian.”



“Baik, Sensei.” Kami pun kembali ke tempat duduk kami.



“Karena perwakilan kelas sudah kita tentukan, selanjutnya untuk jadwal pelajaran dan jadwal piket kelas akan Sensei berikan nanti. Sensei keluar dulu karena ada rapat dengan guru-guru yang lain. Jadi, untuk saat ini kita cukupkan untuk di sini. Silakan nikmati jam bebas kalian sampai istirahat makan siang.”



“Ya, Sensei.” Jawab kami para murid.



Sakamoto-sensei pergi meninggalkan kelas. Namun ada tanda tanya yang muncul di kepalaku tentang silver pin yang diberikan oleh Sakamoto-sensei tadi. Apa itu silver pin? Apa benda itu sebagai tanda perwakilan kelas? Karena Fuyukawa-san tadi berkata akan memberitahukanku banyak hal, jadi kuputuskan untuk bertanya kepadanya.



“Fuyukawa-san, silver pin ini untuk apa?” Aku mengeluarkan silver pin itu dari saku blazerku.



“Pin itu sebagai tanda perwakilan kelas. Pakai silver pin itu di dasimu.”



“Seperti ini?” Aku jepitkan silver pin ini di dasiku.



“Iya. Lihat seperti punyaku.” Fuyukawa-san memperlihatkanku silver pinnya yang sudah dijepitkan di dasinya.



“Wow. Fuyukawa-san, kamu jadi terlihat keren.”



“Ma, makasih.” Fuyukawa-san mengalihkan pandangannya dariku.



Hm? Kenapa Fuyukawa-san terlihat seperti malu-malu? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?



Saat ini jam bebas, jam sudah menunjukkan pukul 10. Aku menopang daguku dengan tangan kiri sambil melihat ke arah luar melalui jendela di sebelah kiri. Hujan sudah mulai turun dengan deras. Aku melihat ke arah lapangan yang luas. Ada lapangan sepak bola, lapangan tenis, dan lapangan baseball. Di luar lapangan sepak bola terdapat garis lintasan lari.



Biasanya di hari pertama sekolah, setiap klub melakukan aktivitas perekrutan anggota baru. Aku tidak melihat satu pun orang di halaman depan Gedung Utama saat memasuki sekolah tadi. Mungkin, mereka hanya menempel brosur klub di papan pengumuman atau di mading tiap-tiap lantai Gedung Utama dan Gedung Khusus. Atau mungkin, mereka melakukannya sekarang karena sekarang jam bebas.



Kalau berbicara tentang klub, sebenarnya aku ingin masuk ke klub tahun ini. Tahun lalu saat kelas satu SMA, aku tidak masuk ke klub mana pun karena cedera dari kecelakaan yang terjadi satu tahun lalu.



Klub, ya? Apa ada klub yang bisa kumasuki? Aku memikirkan hal itu sambil melihat hujan yang membasahi lapangan dan sekolah ini. Dengan tangan kiri yang masih menopang daguku, aku mengalihkan pandanganku ke sekitar kelas ini. Murid-murid di kelas ini mulai meninggalkan kelas. Saat itu juga, mataku bertemu dengan mata Fuyukawa-san. Sepertinya dari tadi dia melihat ke arahku. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, jadi aku hanya tersenyum sambil melihat ke arahnya dan kembali melihat arah luar jendela. Walaupun sebenarnya aku ingin bertanya apakah dia masuk ke suatu klub atau tidak.




Fuyukawa-san masih belum berbicara, padahal aku dan dirinya sedang bertatapan. Aku mulai membuka mulutku untuk menanyakan beberapa hal kepadanya, namun kuurungkan niatku saat melihat dua orang gadis menghampiri dirinya. Aku langsung memalingkan tatapanku ke arah luar jendela. Suara hujan mulai terdengar semakin kuat, aku tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh dua gadis tersebut dengan Fuyukawa-san.



Saat aku menoleh melihat keadaan kelas, Fuyukawa-san bersama dua gadis tersebut telah keluar dari kelas. Begitu juga dengan murid yang lain. Suasana kelas terlihat sepi. Jumlah murid di kelas ini 28 orang, namun hanya ada tujuh murid di kelas saat ini. Mereka hanya duduk di kursi mereka, ada yang membaca buku, memainkan smartphone, dan ada juga yang sedang menulis.



Aku merasa bosan dan harus melakukan sesuatu untuk mengusir kebosanan ini.



Berdiri dari kursiku, aku bergegas keluar dari kelas ini melalui pintu yang terletak di belakang kelas. Pintu ini terus terbuka sejak murid-murid kelas ini keluar. Setelah keluar dari kelas, kututup pintu ini. Kulihat ke kiri dan ke kanan lorong kelas. Banyak sekali murid di sini. Mereka sedang menikmati jam bebas.



Aku pergi ke arah tangga menuju lantai tiga. Kulihat murid-murid yang lewat di dekatku berbisik. Mungkin mereka membicarakan tentang si murid pindahan, yaitu aku.



Di lantai tiga terdapat perpustakaan. Perpustakaan adalah tempat yang bagus untuk menghilangkan rasa bosan dan menghabiskan waktu. Aku masuk ke perpustakaan dan menyaksikan betapa luasnya tempat ini. Terdapat banyak sekali rak-rak buku, meja dan kursi, dan ada tempat yang tertulis “Study Corner” dengan meja yang dilengkapi dengan sekat di sudut perpustakaan. Pasti penambahan sekat ini bertujuan untuk membuat murid yang sedang belajar agar tetap fokus dan bisa menjaga konsentrasinya.



Setelah terkagum-kagum melihat perpustakaan ini, mataku tertuju ke arah seorang gadis yang duduk di balik konter perpustakaan. Rambut hitam panjang terurai di bahunya, tangannya yang lembut membalikkan halaman buku yang dibaca. Kemudian dia menutup bukunya dan melihat ke arahku. Mungkin dia merasa ada orang yang menatapnya. Dia menatapku. Matanya bewarna coklat. Aku langsung membuang tatapanku darinya dan menuju ke rak buku.



Aku melihat seorang gadis yang sedang melompat-lompat untuk mencoba mengambil salah satu buku. Tinggi rak buku ini mungkin mencapai 2.5 meter lebih. Buku yang sedang ingin diambil oleh gadis itu berada di bagian atas rak. Dengan tubuhnya yang pendek itu, mustahil dia bisa mengambil buku itu. Aku menuju ke arahnya dan menjulurkan tanganku ke arah buku yang ingin diambilnya. Perlu sedikit menjinjit untuk mencapai buku itu. Setelah buku itu kuambil, langsung kuberikan kepada gadis ini.



“Ini bukunya.”



“…Makasih.” Dia mengambil buku itu lalu menundukkan sedikit kepalanya.



“…Ya. Sama-sama.”



Dia pergi menuju tempat baca. Sekali lagi kuliat dirinya. Orangnya bertubuh pendek? Atau lebih baik aku bilang mungil? Tingginya kurang dari 160 cm. Rambutnya bewarna coklat dipadu dengan wajahnya yang cantik, matanya berwarna coklat, dan kulitnya yang putih. Dia mulai membuka buku yang tadi dan mulai membacanya.



Di rak buku ini tertulis “Fiksi” yang berarti semua buku yang ada di sini berjenis fiksi. Di rak buku yang lainnya juga tertulis Non-Fiksi, Sains, Sejarah, dan sebagainya. Untuk saat ini, aku ingin membaca buku fiksi dan kembali melihat buku-buku yang ada di rak ini.



Mataku tertuju ke suatu buku yang berjudul “Kimi no Suizou wo Tabetai” yang terletak di bagian bawah rak. Peletakan buku ini seperti ingin menyembunyikan buku ini. Dari judulnya, apakah ini novel horor? Kuambil buku itu dan membaca sinopsis ceritanya yang berada di belakang buku.



Aku menemukan sebuah buku di rumah sakit. Judulnya Cerita Teman si Sakit. Pemiliknya adalah Yamauchi Sakura, teman sekelasku. Dari sana aku tahu dia menderita penyakit pankreas. Buku itu adalah buku harian rahasia miliknya. Namun gadis itu tidak seperti orang sakit. Dia seenaknya sendiri, dia mempermainkan perasaanku, dia suka menggodaku. Dan dia... mungkin mulai menarik hatiku.



Sebentar…



Ini bukan novel horor. Judulnya saja terdengar seperti judul novel horror. Aku yakin 100% kalau ini novel romantis saat membaca sinopsisnya.



Saatnya membaca novel ini.



Aku menuju tempat baca yang ada di tengah perpustakaan. Aku duduk di meja baca yang terletak depan konter pustakawan, dekat dengan pintu perpustakaan. Kulihat ke arah jam dinding yang terletak di belakang konter pustakawan. Masih ada waktu satu jam lebih sebelum istirahat makan siang. Aku mulai membuka novel ini dan membacanya untuk menghabiskan jam bebas yang diberikan ini.







***







Tidak terasa kalau sekarang sudah memasuki waktu isitirahat siang. Karena novel ini belum selesai kubaca, jadi aku berniat untuk meminjamnya. Aku berdiri dari tempat dudukku, lalu menuju konter pustakawan. Gadis anggota pustakawan tadi masih berada di sana dan masih membaca buku.



“Permisi, aku ingin meminjam buku ini.” Aku menghampiri mejanya.



Dia memindahkan penanda buku lalu menutup buku yang dibacanya.



“Silakan tulis nama dan kelasmu di sini.” Dia memberiku buku daftar peminjaman.



“Baiklah.” Aku menulis seperti yang dikatakannya, lalu mengembalikannya.



“Etto, Amamiya Ryuki-kun, kelas 2-D. Apa kamu murid pindahan?”



“…Ah, iya, benar.” Sepertinya berita tentang adanya murid pindahan sudah menyebar.



“Mm… Waktu untuk meminjam satu buku adalah satu minggu. Jadi, tolong kembalikan bukunya di hari Senin selanjutnya. Jika ingin memperpanjang masa pinjamannya, silakan konfirmasi dengan petugas perpustakaan di hari Senin nanti. Apa ada hal yang ingin ditanyakan?” Dia menjelaskannya kepadaku karena aku murid baru di sini.



“Tidak ada.”



Sesaat kemudian, seorang guru masuk ke perpustakaan.



“Otsukaresama Namikawa-san. Sudah saatnya istirahat makan siang.”



“Ya, Sensei.”



Jadi, namanya Namikawa-san. Gadis yang bernama Namikawa-san ini menaruh buku daftar peminjaman kembali ke tempatnya.



“Silakan ambil bukunya. Selamat membaca.”



“Terima kasih.”



“Sama-sama.”



Aku ambil novel tersebut dan segera meninggalkan perpustakaan. Saatnya kembali ke kelas.



Setiba di kelas, aku melihat Fuyukawa-san sedang duduk di tempatnya sambil melihat ke arah luar jendela. Aku menuju tempatku dan memasukkan novel ke dalam laci meja. Lalu, melihat ke arah luar jendela mengikuti Fuyukawa-san. Ternyata masih hujan walaupun tidak sederas tadi. Kulihat ke arah Fuyukawa-san. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Bahkan dia tidak menyadari kehadiranku.



Aah, aku lapar.



Membaca novel tadi membuatku membutuhkan tambahan energi. Aku butuh makanan. Karena sekarang waktu istirahat makan siang, pasti banyak murid di kantin sekolah. Terlebih, aku belum pernah ke kantin walaupun tahu letaknya.



Kantin terletak di Gedung Utama lantai satu. Aku ingin pergi ke kantin sekarang karena lapar. Kira-kira makanan apa saja yang tersedia di sana, aku penasaran. Aku berdiri dari kursiku dan menimbulkan suara akibat gesekan kursi dan lantai. Hal itu membuat Fuyukawa-san terkejut dan melihat ke arahku.



“Lho, Amamiya-kun, kamu ada di sini?”



“Ya, baru saja balik dari perpustakaan.” Sudah kuduga dia tidak sadar saat aku kembali tadi.



“Oh begitu... Ah, ngomong-ngomong, sudah ke kantin sekolah?”



“Belum.”



“Kalau begitu, yuk pergi bareng!”



“Yuk. Kebetulan aku juga berencana ke kantin sekarang.”



“Ayo!”



Aku dan Fuyukawa-san meninggalkan kelas, menuju kantin. Aku berjalan di samping Fuyukawa-san dan melihat dirinya tersenyum-senyum sendiri. Senyumannya yang lembut itu membuatku ikut tersenyum saat mata kami bertemu.



Saat kami berjalan menuju kantin, aku merasa seperti diperhatikan oleh murid-murid lain. Ah, sudah kuduga. Berjalan bersama Fuyukawa-san membuatku mendapatkan perhatian, baik itu murid perempuan atau pun laki-laki. Tidak lama kemudian kami tiba di kantin.



Sugoi… Kantin sekolah ini sangat luas. Banyak murid yang sedang mengantre untuk membeli makan siang dan juga sedang duduk menyantap makanannya. Aku berjalan mengikuti Fuyukawa-san menuju antrean dan berdiri di belakangnya. Saat berada di antrean, dia mulai membuka pembicaraan.



“Amamiya-kun, kamu pesan apa?”



“Hm, apa ya...”



Selagi ditanyakan pertanyaan itu, aku melihat menu-menu makanan yang ada di kantin ini. Ada banyak sekali menu makanan seperti, ramen, soba, udon, nasi kari, nasi barbecue, dan sebagainya. Karena cuaca sekarang hujan dan juga sejuk, maka aku akan memilih itu.



“Aku pesan ramen. Kalau Fuyukawa-san?”



“Aku ramen juga.” Fuyukawa-san menjawab sambil tersenyum



Ramen memang cocok dimakan kapan saja, tetapi makan ramen di cuaca seperti ini adalah yang terbaik.



Tidak lama kemudian, tiba giliran kami memesan makanan.



Pelayan kantin kemudian menanyakan menu makanan yang akan kami pesan.



“Aku pesan ramen dan ocha.”



“Aku juga.”



“Kami memiliki silver pin.”



“Oh, kalian mempunyainya ya?” Pelayan kantin menanyakannya.



“Iya, kami pakai di dasi.” Fuyukawa-san memperlihatkan silver pin di dasinya.



“Ah, ini.” Aku melakukan hal yang sama. Aku bertanya, “Fuyukawa-san, memangnya kenapa kalau punya silver pin?”



“Kita bisa makan secara gratis di kantin saat makan siang. Hanya orang yang memilik silver pin aja, seperti perwakilan kelas dan anggota OSIS.”



“Beneran?” Aku terkejut.



“Iya, beneran.”



Sekali lagi aku dibuat kagum oleh sekolah ini, Keiyou Gakuen Koukou.



Setelah menunggu sebentar, pelayan kantin membawakan dua nampan yang berisi pesanan kami. Aku dan Fuyukawa-san mengambil nampan kami masing-masing, lalu pergi mencari tempat kosong untuk makan. Aku melihat ke sekitar kantin apakah ada meja makan kosong. Kulihat ada satu meja kosong.



“Fuyukawa-san, di sana ada meja kosong.”



“Oh iya. Yuk kita makan di sana.”



Kami pergi ke meja tersebut. Posisi dudukku menghadap ke arah Fuyukawa-san. Ini pertama kalinya aku berhadapan langsung dengannya dengan jarak yang dekat. Kalau dilihat sekali lagi dengan saksama, dia memang gadis yang cantik. Kardigan berwarna merah muda dipadu dengan blazer sekolah yang berwarna hitam terlihat cocok dengan kulit putihnya.



Lupakan itu. Sekarang saatnya makan. Kurapatkan kedua tanganku untuk berdoa. “Itadakimasu.” Aku mengatakannya serentak dengan Fuyukawa-san.



Ramen ini sangat enak. Kuahnya ringan tetapi mengandung rasa umami yang kuat dan mienya padat dan kenyal. Topingnya berupa telur dan irisan daging ayam yang enak. Tanpa sadar, aku sudah memakan semua mienya dan sudah meminum semua kuahnya. Setelah makan, aku meminum ocha dan kuakhiri dengan mengangkat tangan seperti tadi sambil berkata “Gochisousama deshita.”



Aku melihat ke arah Fuyukawa-san. Dia masih memakan ramennya. Karena aku sudah selesai makan, aku hanya duduk dan diam sambil melihat ke arah kiri dan kanan. Sepertinya murid-murid yang sedang makan di sini melihat ke arahku. Tidak, mungkin lebih tepatnya melihat ke arah Fuyukawa-san. Bahkan di kantin pun mereka melihat ke arahnya. Fuyukawa-san pasti benar-benar murid populer di sekolah ini.



Tidak lama kemudian, Fuyukawa-san selesai memakan makanannya. Dia mengatakan “Gochisousama deshita.” Setelah itu dia mencoba membuka pembicaraan kecil denganku.



“Bagaimana menurutmu ramennya, Amamiya-kun?”



“Ramennya enak. Aku sangat suka, terutama kuahnya yang ringan tetapi rasa umaminya sangat kuat.”



“Wah, kamu sangat detail ya.” Fuyukawa-san menjawabnya sambil tertawa.



“Tidak juga…” Aku menjawabnya dengan singkat sambil meminum ocha yang masih tersisa sampai habis.



“Hahaha.”



Tawanya yang manis itu membuat tatapan semua murid yang sedang makan di sini tertuju kepadanya. Mungkin, Fuyukawa-san tidak menyadari dan merasakannya, karena sifatnya yang periang itu. Namun bagiku, aku bisa merasakan tatapan-tatapan itu. Bahkan aku bisa mengetahui kalau ada tatapan menusuk yang diarahkan kepadaku.



Aku merasakan hal yang tidak enak jika terus berada di sini berdua dengan Fuyukawa-san. Jadi, kuputuskan untuk kembali ke kelas. Aku berdiri dan mengambil nampan tersebut untuk kuberikan kepada petugas kantin.



“Fuyukawa-san, aku kembali ke kelas duluan ya.”



“Aku juga ikut.”



Kami berdua membawa nampan kami ke pelayan kantin. Lalu, meninggalkan kantin dan kembali ke kelas. Seperti tadi, murid-murid melihat ke arah kami. Mungkin suatu pemandangan langka di mana mereka melihat Fuyukawa-san yang terkenal itu makan dan jalan bersamaku.



Waktu istirahat makan siang yang masih ada beberapa menit membuatku berpikir jika waktu yang kosong ini bisa kugunakan untuk apa. Tiba-tiba, Fuyukawa-san bertanya kepadaku.



“Amamiya-kun, apa kamu akan masuk klub?”



“Klub, ya? Aku belum memikirkannya. Fuyukawa-san sendiri, masuk klub apa?”



“Aku masuk Klub Bola Basket Putri.”



“Ah, begitu ya.”



Jadi, Fuyukawa-san anggota Klub Bola Basket. Dari yang kulihat, orang sepertinya memang cocok di klub seperti itu.



“Kamu terkejut, Amamiya-kun?”



“Tidak juga. Justru aku kira kamu di Klub Bola Voli.”



“Eh, kenapa?”



“Hmm, ya, dari yang kulihat, kamu punya tinggi badan di atas rata-rata murid perempuan lainnya dan juga postur tubuhmu yang bagus dan atletis.”



“…Ah, begitu ya?”



“Iya, begitu...”



Fuyukawa-san mulai memalingkan pandangannya dari arahku ke arah mejanya dan menghadap ke bawah. Aku tidak bisa melihat ekspresinya saat ini, tetapi aku bisa melihat telinganya yang mulai memerah. Eh, kenapa? Apakah aku mengatakan sesuatu yang membuatnya tersipu?



Saat ini, kami hanya diam. Aku melihat Fuyukawa-san yang masih menghadap ke bawah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Apakah dia saat ini menungguku untuk melanjutkan pembicaraan atau dia ingin menghentikan pembicaraan ini. Aku kebingungan melihat tingkahnya yang seperti itu. Sepertinya, menghentikan pembicaraan ini merupakan pilihan yang bagus.



Aku tidak lagi melihat ke arahnya. Kini, aku melihat ke arah luar jendela. Hujan yang dari tadi turun, sekarang sudah reda. Mulai terlihat matahari yang muncul di balik awan. Aku mengambil ponsel yang ada di saku celanaku dan mulai melihat aplikasi cuaca. Cuaca hari ini memang memiliki persentase hujan yang tinggi. Saat pukul empat sore, hujan diperkirakan akan kembali turun. Setelah melihat-lihat perkiraan cuaca untuk hari ini, kuletakkan ponselku di atas meja sambil terus melihat ke arah luar.



Suasana sejuk musim semi ini membuatku ngantuk dan secara refleks aku menyiapkan posisi tidur di meja. Kuletakkan kedua tanganku di atas meja dan kujatuhkan kepalaku di atasnya. Aku tidak benar-benar tidur. Hanya mengistirahatkan badanku. Sesekali kuubah posisiku untuk melihat ke arah Fuyukawa-san dan ke arah sekitar kelas. Murid-murid kelas ini sudah mulai kembali ke kelas dan mereka memulai pembicaraan. Suasana kelas mulai ramai.



Bel berbunyi, tanda waktu istirahat makan siang telah berakhir.



Aku terbangun karena suara bel itu. Ternyata aku tertidur. Kulihat jam di ponselku, sekarang sudah pukul dua siang. Aku membetulkan posisi badanku dan melihat ke arah depan dan kanan. Terlihat murid kelas 2-D mulai memasuki kelas dan yang terakhir memasuki kelas adalah Sakamoto-sensei, wali kelas 2-D.



Sakamoto-sensei menyuruh semua murid untuk duduk di kursi masing-masing dan kemudian Sensei mulai memberitahu kami hal yang akan disampaikannya.



Dua hal yang disampaikan Sakamoto-sensei adalah jadwal pelajaran dari hari senin sampai dengan jumat dan jadwal piket kelas. Jadwal piketku di hari Kamis. Setelah itu Sakamoto-Sensei memberikan pengarahan kepada kami, lalu kami dibolehkan pulang.



Setelah Sakamoto-sensei meninggalkan kelas, murid-murid kelas 2-D bersiap untuk pulang dan mungkin melakukan kegiatan klub. Aku mengambil buku yang kupinjam dari perpustakaan tadi di laci meja dan memasukkannya ke dalam tas. Kulihat Fuyukawa-san sedang berbicara dengan temannya. Mungkin dia ada kegiatan klub.



Aku langsung meninggalkan kelas menuju loker sepatu. Mengganti uwabaki dengan sepatu dan pergi meninggalkan sekolah.



Menyeberang di perempatan jalan dan terus melangkah menyusuri jalan ini yang membawaku menuju sungai. Kuperlambat langkahku untuk melihat pemandangan di sekitar sungai ini. Terdapat pohon sakura dengan bunganya yang sedang bermekaran menghiasi sungai dan kota ini dengan warna merah mudanya. Sesuatu yang menyejukkan mata.



Setelah puas melihat-lihat, kupercepat langkahku menuju apartemenku yang letaknya tidak terlalu jauh dari sungai ini.