Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 26



Chapter 23: Amamiya Ryuki Kembali ke Sekolah


Hari ini, Kamis, aku bisa kembali ke sekolah karena hukumanku sudah berakhir. Aku sudah selesai berolahraga, mandi, dan juga sarapan pagi. Tepat pukul 7:45 pagi aku berangkat ke sekolah.


Di jalan Sungai Meguro, aku melihat Shiga dari kejauhan yang sedang berjalan menuju sekolah. Aku berlari kecil untuk menyusulnya.


"Yo, Shiga. Selamat pagi."


"Ah, Amamiya. Pagi. Oh, ya, hari ini, kamu bisa kembali ke sekolah, ya."


"Iya. Aku sungguh merasa bosan selama dua hari karena tidak ke sekolah."


"Saat kamu tidak ke sekolah, banyak hal yang terjadi, lo. Dan itu semua tentangmu."


"Eh!? Benarkah?"


"Iya."


"Memangnya apa yang terjadi?"


"Ada rumor yang beredar kalau kamu itu seorang preman, dan lain sebagainya."


"Ah... sepertinya tentang aku yang berkelahi dengan para preman waktu itu tersebar dengan cepat, ya."


"Tapi, Amamiya, ada orang yang mengatakan hal sebenarnya ke seluruh sekolah agar rumor burukmu itu hilang."


"Siapa?"


"Mizuno."


"Atsuko-san?!"


"Berkat dia, rumor burukmu sudah tidak terdengar lagi kemarin. Um, ya, walaupun masih ada yang membicarakan tentangmu."


"Aku tidak tahu."


Ah, pantas saja waktu Atsuko-san datang ke apartemenku, dia terlihat kelalahan. Padahal tidak ada latihan bola basket waktu itu. Aku harus mengatakan terima kasih padanya karena telah menghilankan rumor buruk itu.


"Um, ya, seperti itulah yang terjadi. Jangan lupa katakan terima kasih padanya."


"Ya, akan kukatakan nanti."


Tak lama kemudian, kami sudah tiba di persimpangan jalan dekat sekolah, tempat di mana aku mengalami kecelakaan tahun lalu, dan sampai di sekolah.


Biasanya ada Agitsu-sensei yang berdiri di dekat gerbang masuk sekolah, tapi kali ini tidak. Bukan berarti tidak ada siapa-siapa di sana, melainkan ada beberapa anggota OSIS. Itu dari komite kedisiplinan sekolah. Ah, ada ketua OSIS juga. Sepertinya mereka sedang melakukan pengecekan seragam. Aku dan Shiga masuk melewati gerbang itu, melewati komite kedisiplinan sekolah dan ketua OSIS.


"Jadi, hari ini kamu mulai kembali ke sekolah, ya?"


Kudengar suara ketua OSIS yang sepertinya bertanya kepadaku. Aku berbalik dan menjawabnya, "Ya."


"Semoga hukuman itu bisa membuatmu sadar."


"Senpai mengatakannya seperti aku sudah melakukan kesalahan." Ah, aku benar-benar tidak suka berbicara dengan orang seperti ketua OSIS. Sudut pandang kami sungguh berbeda.


"Bukannya kamu memang sudah melakukan kesalahan dengan cara melanggar peraturan sekolah?"


"Benar, tapi apa yang kulakuka waktu itu bukan kesalahan."


"Apa kamu berniat melakukan hal yang sama jika hal itu terjadi lagi?"


"Ya. Jika tidak, hanya penyasalan yang tersisa."


"Tidak peduli siapa orangnya?"


"Ya. Bahkan jika orang itu adalah Senpai, aku juga akan menolongnya." Karena aku sudah berjanji dengan ibuku yang sudah tiada kalau seorang lelaki harus melindungi perempuan.


"Be, begitu, ya."


Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku berbalik untuk menuju ke kelas. Kukira Shiga sudah pergi duluan, ternyata dia masih bediri di belakangku.


"Uwaaa, kamu tidak ragu-ragu melawan perkataan Ketua OSIS, ya, Amamiya."


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Kalau kamu di posisiku di saat kejadian itu, apa yang akan kamu lakukan?"


"Sudah pasti aku akan lari untuk meminta pertolongan. Aku tidak seberani kamu."


"Eh? Jadi kamu Amamiya Ryuki-kun, ya?"


Tiba-tiba ada seorang murid perempuan yang menanyakan itu kepadaku. Dia berhenti tepat di depanku dan aku hampir menabraknya. "Uwa...!" Itu mengagetkanku.


"Jadi, kamu, kan?"


Aku dan Shiga menatap satu sama lain. Wajahnya penuh dengan ekspresi penasaran. Sepertinya dia juga tidak tahu siapa gadis ini. Kemudian, aku melihat ke arah gadis itu dan menjawab pertanyaannya.


"Ah, iya. Namaku Amamiya Ryuki, kelas 2-D."


Gadis yang berdiri di depanku ini adalah murid kelas tiga. Aku tahu dari dasinya karena terdapat pin yang berbentuk angka tiga. Sedangkan di dasiku angka dua.


"Hm...." Gadis ini terdiam dan hanya melihat ke arahku.


"...?" Aku kebingungan.


"..."


"Apa ada perlu sesuatu?"


"Ah, maaf. Amamiya-kun!"


"Ya?"


"Ayo masuk ke klub karate?"


"Ha? Senpai siapa?"


"Ah, maaf. Namaku Kuze Ayaka, kelas 3-A, ketua klub karate."


"Ayaka, tidak usah mengajaknya," kata ketua OSIS yang tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan kami.


"Memangnya kenapa, Kana?"


"Kamu tahu, kan? Kalau dia diskors karena melanggar peraturan sekolah."


"Ya, aku tahu kalau dia diskors karena berkelahi dengan preman yang ingin membawa temannya. Bukankah itu sangat keren?"


"Keren dari mana?"


"Dia berhasil menolong temannya itu dan juga menumbangkan dua orang preman. Luar biasa, kan?


"Aku sama sekali tidak mengerti. Lakukan sesukamu saja." Ketua OSIS langsung kembali bertugas dengan tidak lagi melihat ke arah kami.


Kami berjalan menuju Gedung Utama sambil melanjutkan pembicaraan tadi.


"Ya ampun, Kana. Dia sama sekali tidak mengerti. Bagaimana, Amamiya-kun?"


"Terima kasih ajakannya, Senpai. Tapi aku tidak bisa."


"Eh? Kenapa?!"


"Aku sudah ada klub."


"Begitu, ya. Ngomong-ngomong, klub apa?"


"Klub bantuan."


"Ah, yang waktu itu pernah Hiratsuka-sensei usulkan."


"Iya."


"Apa boleh buat. Kalau begitu, datanglah sesekali untuk melihat kami latihan, kalau bisa, sih."


"Ah, ya."


"Sampai jumpa." Kuze-senpai langsung pergi menuju arah loker sepatunya.


Aku dan Shiga menuju arah loker sepatu kelas 2-D dan langsung menuju ke arah kelas. Di sini, banyak orang yang melihat ke arahku seperti pertama kali aku berada di sekolah ini. Sepertinya aku menarik perhatian mereka lagi.


"Seperti yang kukatakan tadi, walaupun rumormu sudah tidak ada lagi, masih saja ada yang mengungkitnya. Seperti tidak ada tema obrolan saja. Mereka memilihmu karena kamu sangat menonjol. Karena itulah perhatian sering tertuju padamu."


"Ya. Padahal aku tidak suka menjadi pusat perhatian."


"Haha. Mungkin kamu memang ditakdirkan untuk menjadi pusat perhatian, sih."


"Tidak. Coba lihat itu." Aku mangarahkan pandangan kepada seorang gadis yang dikerumuni banyak orang di koridor lantai satu ini, tepatnya di depan kelas 1-C.


Gadis itu memiliki postur tubuh tinggi dan juga langsing. Kakinya yang panjang bak model di majalah-majalah wanita ataupun iklan di televisi. Rambut hitamnya yang panjang itu berkilauan. Wajahnya yang cantik dan murah senyum itu seperti dengan mudah menarik orang-orang di sekitarnya.


"Ah, dia? Itu wajar."


"Kenapa?" tanyaku sambil kami menaiki satu per satu anak tangga.


"Dia seorang model profesional. Namanya Sasaki Akane. Aku tidak tahu dia di kelas berapa. Mungkin kelas 1-C. Dia sering muncul di televisi dan juga majalah. Dia sudah menjadi model sejak SD."


"Wah, hebat, ya. Orang secantik itu memang cocok sekali menjadi model."


"Benar, kan? Terlebih lagi, dia memiliki fan club di sekolah ini."


"Serius?"


"Serius."


"Heee...."


Setiba di depan kelas, kami berpisah. Aku masuk melalui pintu belakang kelas, sedangkan Shiga masuk melalui pintu depan.


Saat aku menggeser pintu dan menampakkan diriku ke murid kelas 2-D, mereka semua melihat ke arahku.


"Ah, itu Amamiya-kun."


"Akhirnya hukumanmu sudah selesai, ya."


"Yo, Amamiya, bagaimana liburannya?"


Teman-teman sekelasku menyambutku dengan hangat dan juga ada yang bercanda.


"Liburan apanya? Aku merasa sangat bosan."


"Hahaha...." Beberapa orang tertawa karena jawabanku.


Tanpa kusadari, aku sudah membangun ikatan pertemanan dengan semua orang di kelas ini. Aku merasa senang karena sudah datang ke sekolah ini.


Sebelum duduk di tempatku, aku menuju ke arah Atsuko-san yang sepertinya dari tadi dia melihat ke arahku.


"Atsuko-san, terima kasih, ya."


"Eh? Kenapa?"


"Tentang rumor itu. Aku sudah dengar dari Shiga. Dia juga menyuruhku untuk berterima kasih padamu."


"Ah... begitu, ya."


"Iya. Terima kasih, ya."


"Ah, um, bukan apa-apa, kok."


Setelah itu, aku duduk ke tempatku dan tidak lama kemudian pelajaran pun dimulai. Hari yang panjang di sekolah setelah dua hari tidak bisa hadir akhirnya dimulai kembali. Aku sangat bersemangat.


***


Jam pelajaran keempat telah usai dan akhirnya sekarang memasuki istirahat makan siang. Aku diajak makan di kantin bersama oleh tiga murid laki-laki kelasku, nama mereka Satake Aki, Furukawa Ryouta, dan Uemura Touma. Mereka bertiga bisa dikatakan orang yang paling sering berbicara denganku di kelas. Mereka sering bertanya tentang pelajaran yang mereka tidak mengerti. Namun, sebelum pergi ke kantin, aku harus menyelesaikan tugasku dulu sebagai perwakilan kelas dengan membawa buku ke ruang guru, sedangkan mereka bertiga menungguku di kantin untuk mengambil tempat.


Sambil makan di kantin, kami membicarakan tentang kegiatan klub, dan lain sebagainya. Kami juga saling bertukar informasi lainnya tentang apa yang sedang hangat diperbincangkan di internet dan televisi.


"Jadi, siapa, Amamiya?"


"Siapa apanya?" tanyaku yang sama sekali tidak mengerti apa yang ditanyakan Furukawa.


"Perempuan yang kamu suka."


"Ha? Tentu saja tidak ada."


"Eh, serius?"


"Iya."


"Dari yang kulihat, kamu begitu dekat Fuyukawa dan Mizuno. Kupikir kamu menyukai seseorang di antara mereka berdua."


"Aku juga berpikir seperti Satake," kata Uemura yang kemudian meminum tehnya.


"Bahkan kamu memanggil Mizuno dengan namanya dan dia juga memanggilmu dengan namamu. Pasti kalian cukup dekat."


"Ah, bukan begitu, Satake. Itu karena Atsuko-san yang ingin memanggilku seperti itu. Sebagai gantinya, aku juga harus memanggilnya dengan namanya."


"Kenapa?"


"Aku tidak tahu."


"Hm ...."


"Tapi tidak hanya mereka saja, lo. Shimizu, Nazuka, dan juga Taniguchi dari kelas 2-C," kata Furukawa yang mencoba menambahkan.


"Iya, benar juga."


"Iya, iya."


"Jadi, bagaimana, Amamiya?" tanya Furukawa sekali lagi.


"Sudah, katakan saja pada kami."


"Ayolah."


"Oi, oi. Tadi, kan, sudah kubilang kalau tidak ada perempuan yang kusuka."


"Kalau begitu, biar kuganti pertanyaannya."


Sekarang giliran Uemura yang bertanya.


"Hm?"


"Apa ada perempuan yang menarik perhatianmu?"


"Perempuan yang menarik perhatianku? Hm...." Aku memegang daguku dengan tangan kiri lalu melihat ke arah kanan. Tiba-tiba tatapanku menuju ke arah Shiraishi-san yang sedang makan siang sendirian.


"Jadi, Shiraishi-san, ya?"


"Eh!?" Aku kaget ketika Furukawa mengatakan itu dan segera memalingkan pandanganku ke arahnya.


"Heee...."


"Hooo...."


"Jadi begitu, ya...."


"Ada apa dengan kalian bertiga?"


"Ah, tidak. Kami hanya menyadari kalau kamu tertarik dengan Shiraishi-san."


"Aku bahkan belum menjawab pertanyaan kalian."


"Dilihat saja sudah tahu. Ya, kan?"


"Ya." Satake dan Uemura menjawabnya dengan serentak.


"Kenapa jadi seperti itu?" Aku menjadi semakin tidak mengerti.


"Apa kamu tidak sadar? Arah pandanganmu sama sekali tidak berpindah dari arah Shiraishi." Satake menjelaskan.


"Ya, kami melihatnya, lo."


"Eh!? Beneran?"


"Ya."


"Begitu, ya." Aku sama sekali tidak menyadari hal itu. Mungkin aku menatapnya terlalu lama.


"Jadi, bagaimana?" tanya Uemura sekali lagi.


"Hm, mungkin kalian benar."


"Kenapa kamu bisa tertarik dengan Shiraishi-san?"


"Aku dan Shiraishi-san berada di satu klub, tapi kami sangat jarang berbicara."


"Oh iya, kalian satu klub, ya."


"Karena itu, rasanya aku ingin lebih mengenalnya dan ingin bisa berbicara dengannya secara normal seperi aku berbicara dengan kalian."


"Ah, begitu, ya."


"Dia sepertinya tidak punya teman di sekolah ini. Bahkan kita tidak bisa mendekatinya. Seperti ada penghalang yang tidak terlihat di sekitarnya."


"Ah, aku juga berpikiran seperti itu, Uemura," kataku yang sekali lagi melihat ke arah Shiraishi-san yang masih makan.


"Bahkan dia mendapat julukan 'Ratu Es' sejak SMP."


"Kamu di SMP yang sama dengan Shiraishi-san, Furukawa?"


"Ya. Aku dan Uemura."


"Oh, begitu, ya."


"Kami mendukungmu, Amamiya."


"Ya. Semoga kamu bisa melakukan sesuatu agar dia bisa berubah."


Ah, Shiga juga mengatakan hal yang sama.


"Hm, ya, terima kasih."


"Baiklah, ayo kembali ke kelas!" ajak Satake.


"Ayo!"


Kami membawa piring dan gelas kotor ke tempatnya sebelum kembali ke kelas.


"Eh, Amamiya-kun?"


Aku mendengar suara seorang gadis yang memanggil namaku dari arah antrian. Suara itu tidaklah asing yang pertama kali kudengar saat berada di perpustakaan.


"Ah, Namikawa-san. Kayano-san juga."


"Kamu mulai bersekolah hari ini, ya?" tanya Namikawa-san dengan ekspresi penasaran.


"Iya."


"Syukurlah, kupikir kamu mendapat hukuman lebih lama."


"Hahaha." Aku hanya bisa tertawa kecil.


"Kalau begitu, sampai nanti," kata Namikawa-san sambil melambaikan tangannya.


"Jangan lupa ke perpustakaan, ya, Amamiya-kun," kata Kayano-san sambil tersenyum ke arah Namikawa-san.


"Ah, iya. Sampai nanti."


Namikawa-san dan Kayano-san pergi mengambil menu makanan mereka, sedangkan aku dan ketiga temanku pergi meninggalkan kantin.


"Amamiya...!"


"Ada apa, Satake?"


"Sejak kapan kamu berteman dengan Namikawa?"


"Di minggu pertama sejak aku dipindahkan ke sekolah ini. Memangnya kenapa?"


"Ah, tidak apa-apa."


"Dia itu murid populer, lo. Kamu tahu, Amamiya?" tanya Uemura.


"Ah, ya, aku pernah dengar hal itu. Tapi kenapa?"


"Dia anak dari seorang konglomerat yang kaya raya, tapi dia tetap sederhana. Dia cantik dan juga ramah dengan orang lain."


"Ah, begitu. Aku baru tahu."


"Tidak heran kalau banyak laki-laki yang menyukainya,"


"Tapi orang-orang tetap segan dengannya karena statusnya itu."


Di saat kami sedang menaiki tangga, aku bertemu dengan Taka.


"Ryuki, bisa bicara sebentar?


Sepertinya Taka sedang mencariku dari tadi. "Ya, tentu saja," jawabku.


"Kalau begitu, kami duluan."


"Ah, ya."


"Ayo ke tempat biasa!" ajak Taka.


"Jadi, ada apa, Taka?"


"Mengenai hal 'itu'. Kupikir lebih cepat maka lebih baik."


"Ya, aku juga berpikir seperti itu. Terlebih ujian juga sudah hampir dekat."


"Ujian? Hampir saja kulupakan. Hahaha."


"Ya ampun."


"Jadi, bagaimana?"


"Bagaimana kalau hari Jumat ini setelah kegiatan klub?"


"Berarti sekitar jam 5.30 sampai 6 sore, ya?"


"Bagaimana?"


"Oke. Di atap sekolah, kan?"


"Ya. Nanti akan kukatakn ke Fuyukawa-san."


"Tolong, ya, Ryuki."


"Ya. Tapi ada sesuatu yang menggangguku."


"Apa itu?"


"Apa sebaiknya kukatakan kalau yang ingin bicara dengannya itu kamu?"


"Kalau dia tahu aku orangnya, mungkin dia tidak akan mau datang."


"Hm...."


"Cuma ini satu-satunya cara agar dia mau datang."


"Baiklah. Akan kukatakan padanya di hari Jumat nanti."


"Terima kasih, Ryuki."


Setelah selesai merencakan semuanya, aku dan Taka kembali ke kelas masing-masing. Tak lama kemudian, jam istirahat siang berakhir dan aku bersiap untuk menyambut pelajaran selanjutnya.


***


Akhirnya bel tanda pulang berbunyi. Semua murid bersiap-siap untuk melakukan kegiatan klub mereka. Sebelum aku pergi ke ruang klubku, aku pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku yang akan kubaca nanti karena aku tahu kalau aku dan Shiraishi-san tidak banyak berbicara. Jadi, kami pasti hanya menghabiskan waktu di ruangan dengan membaca buku atau belajar.


Di perpustakaan, sudah banyak murid yang datang. Tidak hanya murid kelas tiga, tetapi juga murid kelas satu dan dua. Mengingat ujian akhir semester yang hampir tiba, mereka semua belajar dari sekarang agar memperoleh nilai yang lebih baik dari ujian tengah semester yang lalu.


Di balik konter perpustakaan, aku tidak melihat Namikawa-san di sana. Mungkin dia sedang ada keperluan lain.


Aku segera menuju rak buku untuk mencari buku yang akan kubaca nanti di ruang klub. Kuambil satu baku dari rak dan kubaca sinopsinya. Ternyata tidak menarik, maka kuletakkan kembali. Aku terus bejalan sambil melakukan hal itu berulang-ulang.


"Ah, Amamiya-kun, sedang mencari buku?" Seseorang memanggilku.


Aku langsung melihat ke arah suara tersebut, "Iya. Kamu juga, Kayano-san?"


"Iya. Aku masih belum menemukan buku yang menarik."


"Aku juga."


"Hm, ini juga tidak menarik. Hei, Amamiya-kun, tolong ambilkan buku yang itu, dong."


"Yang mana?"


"Itu, di atas kepalamu."


"Oh, baiklah."


Buku yang ingin dilihat Kayano-san berada di rak bagian atas yang mana tempat itu tidak bisa dijangkau olehnya karena tubuhnya yang kecil. Ini mengingatkanku saat aku pertama kali bertemu dengannya.


"Ini," kataku sambil memberikan buku yang dimintainya.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Kayano-san langsung membaca buku itu, sedangkan aku masih mencari buku apa yang akan kubaca. Di saat aku masih kebingungan, dia memanggilku lagi.


"Amamiya-kun, tolong letakkan ke tempat yang tadi. Bukunya tidak menarik."


"Begitu, ya." Aku segera menuju ke arah Kayano-san, mengambil bukunya, dan meletakkannya ke tempat asalnya.


"Mungkin lebih baik kalau aku belajar saja hari ini."


"Itu terserah kamu, sih."


"Kalau kamu sendiri bagaimana, Amamiya-kun?"


"Aku? Kalau aku selalu belajar di malam hari."


"Kamu rajin sekali, ya. Tidak heran kalau nilai ujian tengah semestermu sangat bagus."


"Hm, ya, karena aku berusaha keras."


"Eh, itu Sakura-chan." Kayano-san sepertinya tidak mendengar perkataanku sampai habis dan dia langsung pergi menuju ke arah Namikawa-san.


Aku segera kembali mencari buku yang ada di rak ini hingga akhirnya kudapatkan buku yang menarik. Buku itu adalah light novel. Aku pernah membaca novel ringan sebelumnya, tepatnya saat aku masih SMP. Novel itu dipinjamkan oleh temanku. Mendapati novel ini ada di perpustakaan sekolah cukuplah mengagetkanku.


Saat aku hendak meminjam buku ini di konter, aku melihat Kayano-san dan Namikawa-san yang sedang duduk. Tumben Namikawa-san tidak duduk di balik konter. Mungkin dia sedang belajar. Aku segera ke tempat mereka berdua.


"Namikawa-san, sedang belajar?"


"Ah, Amamiya-kun, kamu datang, ya? Iya, sedang belajar."


"Iya, tadi aku berbicara dengan Kayano-san di sana."


"Chi-chan, kenapa tidak bilang kalau Amamiya-kun sudah di sini?"


"Haha, maaf, maaf. Lagian orangnya sudah di sini, kan? Juga tepat di depanmu, Sakura-chan."


"I-iya, sih."


Aku segera duduk di sebelah Namikawa-san untuk melihat apa yang sedang dia tulis di bukunya. Oh, dia sedang belajar Kimia.


"Ah, aku baru ingat sesuatu," kata Kayano-san. Dia segera berdiri dan mengambil tasnya yang ada di atas meja. "Aku pulang dulu, ya, Sakura-chan, Amamiya-kun."


"Eh? Sudah mau pulang?"


"Iya. Amamiya-kun, tolong bantu Sakura-chan belajar, ya."


"Serahkan padaku. Masih ada waktu sebelum aku pergi ke ruang klub."


"Kalau begitu, tolong, ya. Sakura-chan, semangat!" Kayano-san mengatakannya sambil tersenyum licik seperti sedang mempermainkanku dan Namikawa-san.


"Dia benar-benar pulang, ya. Padahal dia bisa ikut belajar denganmu di sini."


"Iya," jawab Namikawa-san dengan suara yang pelan.


"Apa kamu tidak keberatan kalau aku yang mengajarimu?"


"Sama sekali tidak, kok. Malahan aku senang."


"Begitu, ya. Kalau begitu, di mana yang kamu tidak mengerti?"


"Di sini," kata Namikawa-san sambil menunjukkan bagian yang dia tidak mengerti.


Aku menjelaskan secara pelan dan rinci agar Namikawa-san bisa memahaminya dengan mudah. Aku juga membantunya dalam mengerjakan beberapa soal yang ada.


"Terima kasih, Amamiya-kun. Sepertinya aku sudah mulai mengerti. Aku hanya perlu menyelesaikan soal lebih banyak lagi."


"Ya, sama-sama. Aku juga sekalian mempelajari ulang."


"Apa kamu bisa mengajariku Matematika? Ada bagian yang tidak kumengerti di pelajaran tadi."


"Tentu saja."


Namikawa-san membuka tasnya dan mengeluarkan buku Matematika. Dia membuka halaman di bagian yang dia tidak mengerti dan aku mulai menjelaskannya agar dia paham. Ketika aku mulai mengajarinya Matematika, beberapa murid yang ada di sekitar kami mulai membicarakan kami. Karena perpustakaan sunyi, aku dapat mendengar apa yang mereka katakan.


"Hei, itu Amamiya-kun dan Namikawa-san."


"Ya. Mereka sedang belajar Matematika."


"Apa mereka berdua sedekat itu?"


"Tidak tahu."


"Sebelumnya ada rumor kalau mereka berpacaran, lo."


"Eh!? Serius?"


"Iya. Ada yang melihat mereka berdua pulang bersama."


"Terus, bagaimana?"


"Ya, itu hanya rumor. Tentu saja tidak benar."


"Ah, sayang sekali."


Aku tidak tahu apakah Namikawa-san mendengar pembicaraan tahu. Dia tetap fokus dengan apa yang kujelaskan sehingga dia bisa menyelesaikan soal-soal yang kusuruh, meskipun masih kuberitahu langkah awal dalam menyelesaikannya. Dari yang kuperhatikan, dia bukan tidak bisa menyelesaikannya, tetapi dia tidak tahu harus diapakan soal itu. Aku mengerti apa yang dialaminya karena aku juga seperti itu dulu.


"Ternyata susah juga, ya."


"Memang begitu, Namikawa-san. Kita harus banyak-banyak menyelesaikan soal-soal agar bisa."


"Ya. Sepertinya sudah mulai paham. Semua soal di sini akan kuselesaikan."


"Bagus. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya."


"Ke ruang klub?"


"Iya."


"Kalau begitu, terima kasih, ya, karena sudah mengajariku."


"Sama-sama. Semangat, ya." Aku berdiri, lalu segera pergi ke konter untuk mendaftarkan buku pinjamanku.


Saat aku sudah keluar dari perpustakaan, aku mendengar suara Namikawa-san yang memanggilku. "Amamiya-kun!"


Aku berbalik, lalu berkata, "Ada apa, Namikawa-san?"


"Tolong ajari aku lagi nanti, ya. Boleh?"


"Tentu saja. Dengan senang hati."


"Sampai jumpa besok."


"Ya, sampai jumpa."


Aku tidak tahu kenapa Namikawa-san mengejarku untuk mengatakan hal itu. Tentu saja aku akan senang jika dia ingin aku mengajarinya. Jarang-jarang ada orang yang memintaku seperti itu.


Saat kulihat jam di ponselku, ternyata sekarang sudah pukul 4.33 sore. Aku sudah telah 33 menit. Aku segera bergegas ke ruang klub.


Sesampai di depan ruang klub, aku menggeser pintunya seperti biasanya dan melihat Shiraishi-san sudah duduk di tempatnya, ditemani dengan buku, camilan, dan teh. Aku langsung duduk di tempatku dan mengambil buku yang kupinjam tadi dari perpustakaan.


"Kupikir kamu tidak datang lagi hari ini," kata Shiraishi-san dengan nada bicaranya yang dingin seperi biasa. Dia mengatakan itu tanpa melihat ke arahku sedikit pun. Leherku terasa dingin karena perkataannya itu.


"Tadi aku di perpustakaan. Ada temanku yang memintaku untuk mengajarinya belajar. Jadi, aku membantunya dulu sebelum ke sini." Aku lalu mulai membaca buku.


"Ah, begitu."


"Bukannya kamu sudah tahu kalau aku hanya tidak bisa hadir selama dua hari?"


"Ya, aku tahu. Kupikir kamu tidak datang karena alasan yang lain."


"Tentu saja tidak. Tidak ada kegiatan lain yang membuatku tidak bisa hadir untuk kegiatan klub. Untuk saat ini."


"Untuk saat ini? Artinya akan ada kemungkinan kalau kamu tidak bisa hadir karena ada kegiatan lain?"


"Ya. Kemungkinan itu pastilah ada."


"Kamu benar. Kemingkinan itu juga ada bagiku."


"Apa ada yang meminta bantuan saat aku tidak hadir?"


"Tidak ada."


"Begitu, ya."


"Lalu, bagaimana dengan keadaanmu?"


"Eh?"


"Aku sudah mendenger semuanya kalau kamu mendapat hukuman karena melanggar peraturan sekolah akibat berkelahi dengan preman yang ingin membawa temanmu. Kamu juga mendapatkan beberapa luka memar dan itu masih terlihat di sekitar bibirmu."


Jujur saja, aku kaget saat Shiraishi-san mengetahui semuanya.


"Ah, iya. Keadaanku sudah membaik. Memar di badanku sudah hilang secara perlahan."


"Kenapa kamu tidak memanggil bantuan di saat itu? Kamu seharusnya tahu kalau tiga lawan satu tidaklah imbang."


"Aku takut kalau aku memanggil bantuan, Atsuko-san sudah dibawa duluan. Aku memang tidak yakin bisa menang melawan preman-preman itu. Untung saja mereka lengah dan aku bisa menghadapi mereka. Walaupun satu orang berhasil kabur."


"Beruntung kamu menghadapi mereka yang tidak membawa senjata tajam."


"Iya, kamu benar. Kalau mereka membawa itu, tidak tahu apa yang akan terjadi padaku."


"Mungkin hanya beberapa luka karena terkena pisau."


"Itu minimalnya."


"Iya."


Aku tidak tahu kenapa dengan Shiraishi-san hari ini. Hari ini, dia banyak berbicara. Coba kutanyakan lagi agar pembicaraan ini tetap lanjut.


"Kalau menurut Shiraishi-san, apa aku pantas mendapatkan hukuman skorsing selama dua hari?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Karena kamu telah melakukan sesuatu yang tidak semua orang berani melakukannya. Jika kamu tidak berhadapan dengan preman-preman itu dan memilih untuk lari, mungkin temanmu itu sudah dibawa oleh mereka. Bahkan jika kamu pergi meninggalkan temanmu untuk meminta tolong, tidak ada jaminan kalau kamu bisa mengejar mereka dan menyelamatkan temanmu. Menurutku, tindakanmu patut diberi pujian dari pihak sekolah."


Mendengar Shiraishi-san mengatakan itu, aku berhenti membaca, lalu melihat ke arahnya. Dia berbicara apa adanya. Mungkin itulah isi pikirannya, pendapat pribadinya.


"Begitu, ya." Aku merasa senang mendengar pendapatnya.


"Tapi lebih baik jangan terlalu ceroboh dalam melakukan sesuatu. Kamu beruntung tidak terluka parah."


"Iya. Pak polisi juga mengatakan hal yang sama waktu itu. Kalau Shiraishi-san di posisiku, apa yang akan kamu lakukan?"


"Kurang lebih sama seperti yang kamu lakukan."


"Kamu pernah belajar bela diri?"


"Ya."


"Heeeh. Hebat, ya."


"Kamu juga, kan?"


"Iya, sih."


"Kalau begitu, kamu juga hebat."


"Ahaha...."


Aku kembali mengalihkan pandanganku ke buku yang kupinjam dan kami pun berhenti berbicara. Seperti biasa, teh sudah diseduh oleh Shiraishi-san dan aku bisa mengambilnya. Kali ini, rasa tehnya cukup berbeda dari pada biasa.


"Teh ini enak. Rasanya berbeda dari teh sebelumnya. Aromanya juga enak."


"Syukurlah kalau kamu suka."


"Ya. Terima kasih, Shiraishi-san."


"Ya, sama-sama."


Setelah itu, kami kembali melanjutkan kegiatan kami dengan membaca buku yang ada di depan kami masing-masing. Sepertinya hari ini tidak ada klien. Namun, setidaknya, aku bisa berbicara dengan Shiraishi-san hari ini dan itu cukup memberiku sesuatu yang baru.


Aku pernah mendengar orang-orang mengatakan kalau dia memiliki julukan Ratu Es yang Jenius. Namun, menurutku, dia sepertinya tidak seperti itu. Ada sesuatu yang membuatnya bersikap dingin terhadap orang lain. Kalau memang aku bisa membuatnya berubah, aku ingin melakukan itu.


Aku memang harus sering-sering mengajaknya berbicara. Dari percakapan ini, aku bisa menyimpulkan kalau dia tidak membenci percakapan. Apa yang menjadi masalah adalah tema percakapan. Kali ini beruntung karena ada sesuatu yang bisa kami bicarakan. Pasti akan ada sesuatu yang bisa kami bicarakan nanti.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan ini diketuk. Mungkin ada orang yang membutuhkan bantuan kami. "Silakan masuk," kataku.


Pintu digeser dan muncullah orang yang kami kenal.


"Hiratsuka-sensei?"


"Ah, Amamiya-kun, akhirnya kamu bisa ke sekolah lagi, ya."


"Iya."


Hiratsuka-Sensei berjalan menuju arahkan dan menjulurkan tangannya. Kemudian...


"Aduh... sakit, Sensei!!!"


Sensei menyubit pipiku dan menariknya dengan kuat sehingga aku harus bangun dari tempat dudukku.


"Kamu ini, ya... jangan melakukan tindakan yang ceroboh."


"Iya, iya, aku mengerti, Sensei."


"Pfff."


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Shiraishi-san karena mendengar dia tertawa kecil. Kupikir itu hanya ilusi saja, tapi sepertinya tidak. Aku menjadi yakin kalau dia benar-benar tertawa karena dia menutup mulutnya dengan tangan tangan kanannya.


Sensei kemudian melanjutkan, "Apa kakek dan nenekmu tahu tentang kejadian itu?"


Dengan Sensei yang masih menyubitku, aku menjawab pertanyaannya. "Ti-tidak. Saya tidak ingin membuat mereka khawatir."


"Kalau begitu, jangan lakukan tindakan yang ceroboh lagi. Mengerti?"


"Mengerti, saya mengerti."


Sensei mengakhiri mencubit pipiku setelah kujawab pertanyaannya. Aku langsung duduk kembali. Sensei kemudian duduk di kursi yang ada di depanku.


"Ya ampun, kamu ini. Kenapa kamu punya keberanian untuk melakukan tindakan seperti itu, Amamiya-kun? Apa kamu tidak memikirkan konsekuensi setelahnya?"


"Tentu saja saya memikirkannya. Tapi, Sensei, saya harus melakukannya. Saya sudah berjanji dengan ibu saya yang sudah tiada kalau saya harus menolong orang yang butuh pertolongan." Apalagi kalau seorang perempuan di dalam bahaya. Lagipula, aku sudah banyak ditolong oleh orang-orang di sekelilingku, kataku di dalam hati.


"Bukan berarti kamu harus mengorbankan dirimu. Apa kamu sudah lupa dengan kejadian di pembukaan semester tahun lalu?"


"Tentu saja saya masih mengingatnya. Tapi kejadian di hari itu lebih ke kecelakaan. Sepertinya. Mungkin."


"Pokoknya, tolong jangan melakukan tindakan yang ceroboh lagi!"


"Ya, Sensei."


"Sensei, dia bukan murid pindahan?" tanya Shiraishi-san secara tiba-tiba.


"Ah, Shiraishi-san belum tahu, ya. Apa Amamiya-kun keberatan untuk menceritakannya?"


Hiratsuka-sensei mengedipkan matanya beberapa kali saat mengatakan itu. Aku sama sekali tidak mengerti apa arti dari isyarat mengedipkan mata itu.


"Tidak, kok, Sensei."


"Kalau begitu, kamu ceritakan saja ke Shiraishi. Sensei mau kembali dulu."


"Jadi, Sensei datang ke sini tidak ada perlu?"


"Ada, sih."


"Eh!? Lalu, kenapa tidak mengatakan keperluan, Sensei?"


"Sensei hanya ingin menceramhimu saja."


"Eh!?"


Setelah itu, Hiratsuka-sensei keluar dari ruangan ini.


"Lalu?" Shiraishi-san melihat ke arahku dengan tatapan yang sedikit berbeda. Bukan tatapan dingin seperti biasanya.


Aku melihat ke arah Shiraishi-san dan menceritakan tentangku kepadanya. Dia mendengarkan dengan baik. Dia juga sudah tidak menyentuh buku yang dibacanya. Dia hanya fokus mendengarkan apa yang kukatakan.


"Jadi, kamu yang tertabrak waktu itu, ya."


"Eh?"


"Mobil yang menabrakmu saat itu adalah mobil yang kunaiki."


Aku sungguh kaget saat mengetahui hal itu. Ternyata orang yang berada di dalam mobil itu adalah Shiraishi-san. Kebenaran yang sangat mengejutkan hingga aku tidak bisa berbicara untuk melanjutkan percakapan ini.