Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 3



Alarm berbunyi.



Aku terbangun dari tidurku dan segera merapikan tempat tidur, melipat selimut, olahraga ringan sebentar seperti push-up dan sit-up, lalu ke kamar mandi. Kucuci mukaku dan kulihat mukaku di cermin. Mata merah dan sedikit bengkak. Ini semua karena novel yang kubaca tadi malam. Novel pertama yang membuatku menangis karena ceritanya. Benar-benar luar biasa. Sampai sekarang aku masih terbayang kalimat novel itu. Ah, sudah, sudah. Lebih baik segera memasak untuk sarapan pagi ini, lalu pergi ke sekolah.



Teh, nasi dengan telur orak-arik, dan salad telah selesai.



Kuletakkan semuanya di atas meja bundar dekat tempat tidurku. Aku duduk dan mulai makan. Kuangkat tanganku beserta sumpit di tanganku dan berdoa, “Itadakimasu.”



Setelah makan, kuminum teh dan mengatakan “Gochisousama deshita.” Aku cuci semua peralatan memasak dan makan-minum. Lalu tidak lupa untuk sikat gigi dan mulai mengganti pakaianku dengan seragam sekolah. Aku berdiri di depan cermin kamar mandi untuk merapikan seragamku. Silver pin yang menempel di dasiku sedikit mereng sehingga sulit dilihat, jadi kuperbaiki posisinya. Kurapikan rambutku dan akhirnya siap untuk berangkat ke sekolah.



Jam dinding menunjukkan pukul 7:25 pagi.



Kuambil buku di rak dekat meja bundar untuk pelajaran hari ini dan kumasukkan ke dalam tas. Kumasukkan ponsel ke saku celana. Setelah memastikan kalau sudah mengunci pintu ke beranda dan hal lainnya, aku pergi ke arah pintu dan memakai sepatu. Yosh, saatnya untuk pergi.



Kukunci kamarku dan kuncinya kumasukkan ke dalam tas pundakku.



Menuruni tangga dan bergegas menuju skolah.



Cuaca musim semi di pagi hari ini terlihat sedikit mendung. Terlihat awan abu-abu yang sepertinya bisa menjatuhkan tetesan-tetesan hujan, tanpa kuketahui kapan itu akan terjadi. Untuk jaga-jaga, ada baiknya jika aku membawa payung hari ini.



Di jalan menuju sekolah sebelum perempatan jalan, tempat kemarin aku berpisah dengan Namikawa-san, terdapat konbini. Kuputuskan untuk ke konbini itu terlebih dulu dengan harapan dapat menemukan payung.



Aku masuk ke konbini dan mencari payung. Pas sekali ada payung yang dijual di sini. Terlebih payungnya juga banyak dan memiliki motif dan warna yang berbeda-beda. Kuambil payung vinil bewarna hitam dan kubawa ke kasir. Harganya 300 yen. Setelah membayar, aku keluar dan pergi ke sekolah dengan memegang payung di tangan kananku.



Kumpulan awan bewarna abu-abu menemaniku langkahku ke sekolah. Kucoba lihat prediksi cuaca di ponselku. Terlihat prediksi cuaca hari ini dan untuk beberapa hari ke depan berupa hujan ringan. Untuk akhir pekan, cuacanya cerah. Ini hanya prediksi. Belum tentu itu akan terjadi sesuai prediksi tersebut.



Aku tiba di tempat favoritku saat menuju sekolah, sungai yang terdapat pohon sakura. Jika sudah sampai di sini, maka jarak ke sekolah sudah dekat. Kuhirup udara pagi di sekitar sini yang bercampur dengan aroma manis bunga sakura.



Terus berjalan hingga tiba di perempatan jalan dekat sekolah, tempat terjadinya kecelakaan tahun lalu. Kecelakaan saat aku mencoba menolong seorang gadis yang hampir ditabrak oleh mobil. Mencoba melupakan kejadian itu justru malah membuatku semakin mengigatnya. Semoga gadis yang kutolong itu tidak melakukan hal yang dapat membahayakan nyawanya lagi dan untuk Si Penabrak agar tidak melakukan hal yang bodoh lagi yang dapat membahayakan nyawa orang lain.



Murid-murid Keiyou-kou sudah masuk ke sekolah. Mereka mengatakan selamat pagi kepada Sensei yang berdiri di dekat gerbang masuk sekolah. Sensei itu memakai pakaian olahraga.



Setelah menyeberangi jalan, aku masuk melalui gerbang sekolah, mengatakan selamat pagi kepada Sensei itu dan bergegas ke Gedung Utama.



Di Gedung Utama di dekat loker sepatu terdapat tempat khusus untuk meletakkan payung. Wah, ternyata banyak payung yang diletakkan di sini. Bahkan ada payung yang mirip dengan punyaku.



Banyak murid yang sedang berbicara dengan temannya dan yang mengejutkan adalah mereka melihat ke arahku, seperti membicarakan tentangku. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Lebih baik kuletakkan saja payung ini terus.



Kuganti sepatuku dengan uwabaki dan langsung menuju kelas.



Kunaiki tangga menuju lantai dua.



Suasa di lorong lantai dua begitu ramai. Berbeda dengan kemarin. Hari ini murid-murid Keiyou-kou seperti mendapatkan sesuatu yang bisa dibicarakan bersama teman-teman mereka. Seperti mendapatkan Big News atau gosip baru, mungkin.



Hal yang sama kurasakan saat di loker sepatu tadi.



Lagi-lagi mereka melihat ke arahku.



Mereka mulai berbisik-bisik dengan teman di samping mereka.



Jujur saja, apa yang mereka lakukan tidak menggangguku. Hanya saja itu membuatku berpikir apa aku telah melakukan sesuatu. Mereka terus menatapku yang berjalan menuju kelas 2-D. Ya ampun, jika kalian punya sesuatu untuk ditanyakan, tanyakan saja langsung kepadaku.



Aku masuk ke kelas dari pintu belakang, lalu mengatakan “ohayou gozaimasu,” dan langsung duduk di kursiku. Seperti yang kurasakan di lorong tadi, murid kelas 2-D mengalihkan perhatian mereka ke arahku. Kenapa aku bisa dapat perhatian semua murid?



Aku tidak melihat kehadiran Fuyukawa-san dari tadi. Kulihat ke mejanya yang berada di sebelah kananku, tasnya tidak ada. Mungkin dia belum datang.



Masih ada waktu 20 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Aku masuk ke posisi tiduran di atas meja dengan wajahku mengahadap ke bawah dan memejamkan kudua mataku. Kugunakan waktu yang sedikit ini untuk mengistirahatkan mataku yang dalam keadaan tidak baik ini. Efek dari membaca novel itu berupa mata merah dan sedikit bengkak karena menangis. Beneran, aku nangis. Ceritanya masih terbayang di kepalaku.



Tunggu sebentar.



Apa orang-orang tadi menyadari kondisi mataku?



Dari saat aku mampir ke konbini dan murid-murid Keiyou di lorong dan di kelas.



Apa mereka menyadari kalau aku habis menangis?



Tidak, tidak, tidak. Tidak mungkin.



Daripada memikirkan itu, lebih baik aku fokus istirahat walaupun sebentar.







***







“Ohayou, Amamiya-kun.”



Suara yang kukenal terdengar dari kuping kananku. Aku bangun dan melihat ke arah datangnya suara itu. Suara itu berasal dari mulut Fuyukawa-san. Kubetulkan posisi tubuhku dan kubalas sapaannya. “Ohayou, Fuyukawa-san.” Dia seperti terkejut saat melihat wajahku. Setelah dia duduk, dia mulai bertanya kepadaku.



“Amamiya-kun, kenapa dengan matamu? Matamu merah dan sedikit bengkak.”



“Ah, ini, tidak apa-apa. Hanya kurang tidur saja.” Mana mungkin aku bilang menangis karena novel yang kubaca.



“Sudah pakai obat mata?”



“Kalau itu, belum.”



“Ayo ke ruang UKS sekarang. Nanti matanya bisa semakin parah.”



Apa yang dikatakan Fuyukawa-san ada benarnya. Tetapi, sekarang waktunya tidak tepat. Sebentar lagi pelajaran pertama untuk hari ini akan dimulai.



“Iya sih, tapi sebentar lagi pelajaran akan dimulai.”



“Ngga apa-apa, kita permisi sebentar. Lagian tidak akan lama.”



Kulihat jam dinding yang berada di atas papan tulis, ternyata masih ada waktu 10 menit lagi sebelum pelajaran pertama dimulai. Lebih baik kuturuti saja perkataan Fuyukawa-san.



“Um, baiklah. Ruang UKS-nya di mana?”



“Oh iya, Amamiya-kun belum tahu, ya. Ruang UKS ada di lantai satu Gedung Khusus.”



“Baik, aku pergi dulu.” Aku bangun dari tempat dudukku dan langsung meninggalkan kelas ini.



Setiap perbincangan yang terjada antara diriku dengan Fuyukawa-san selalu manarik perhatian murid kelas ini. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian yang dilihat dengan tatapan menusuk.



Tiba-tiba blazerku ditarik. Fuyukawa-san lah yang menarik blazerku.



“Ada apa, Fuyukawa-san?”



“Aku juga ikut.”



“Eeeh, aku sendiri saja yang pergi.”



“Ngga. Aku juga ikut ke ruang UKS.”



“Baiklah, baiklah...”



Ekspresi Fuyukawa-san tadi saat melihat mataku seperti ketakutan. Aku tidak tahu pasti kenapa. Aku hanya bisa menebak kalau dia teringat sesuatu yang buruk, seperti hal kecil yang dapat membahayakan, sesuatu yang mungkin pernah terjadi pada dirinya.



Akhirnya, aku pergi ke ruang UKS bersama Fuyukawa-san. Aku mengikutinya di belakang. Kami menuruni tangga dan menuju ke depan Gedung Utama, tempat loker sepatu berada. Berjalan lurus sampai menemui pintu koridor penghubung Gedung Utama dengan Gedung Khusus. Setelah tiba di Gedung Khusus, belok arah kanan dan akhirnya tiba di depan ruang UKS.



Fuyukawa-san mengetuk pintu ruang UKS, tetapi tidak ada jawaban. Dia membuka pintu geser ruang UKS. “Sensei, Mitsui-sensei.” Kami berdua masuk ke ruang UKS, dan ya, tidak ada orang di sini. “Sepertinya Mitsui-sensei belum datang,” tambahnya.



“Mitsui-sensei?”



“Iya, Mitsui-sensei. Guru UKS. Aneh ya… biasanya jam segini Sensei sudah ada di sini.”



“Hm… mungkin ada keperluan sebentar.”



Aku melihat-lihat ke sekitar ruang UKS. Ruang ini lebih luas jika dibandingkan dengan SMA-ku dulu. Terdapat meja untuk guru UKS, beberapa kursi, lemari obat, tempat tidur, timbangan untuk mengukur berat dan tinggi badan, dan lainnya.



Fuyukawa-san berjalan ke arah lemari tempat obat-obatan tersimpan. Dia mulai mencari sesuatu. Sepertinya mencari obat mata. Apakah tidak apa-apa langsung mencari obatnya tanpa harus memberitahu guru UKS telebih dahulu?



“Fuyukawa-san, sedang apa?”



“Cari obat mata.”



“Apa tidak apa-apa langsung mencarinya? Apa tidak perlu beri tahu Sensei dulu?”



“Ngga apa-apa. Lagian kan ini darurat.”



Aku masih berdiri di depan pintu sambil melihat Fuyukawa-san.



Wajahnya yang cantik itu berubah menjadi sangat serius saat mencari obat mata.



Terbesit pertanyaan di kepalaku.



Apakah pernah terjadi sesuatu di masa lalunya hingga membuatnya sangat mengkhawatirkan orang di sekitarnya?



“Ada…” kudengar dia mengatakan itu. “Amamiya-kun, duduk di sini,” tambahnya. Kuturuti perkataannya dan duduk di kursi yang terletak di depan meja guru UKS. Tunggu sebentar, jangan bilang kalau dia yang akan melakukannya?



“Mana obatnya, Fuyukawa-san? Biar kulakukan sendiri.”



“Amamiya-kun, kamu duduk saja, biar kulakukan.”



“Biar aku saja. Aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendirian.”



“Ngga! Amamiya-kun, kamu duduk saja. Biar aku yang melakukannya.” Wajah Fuyukawa-san menjadi semakin serius.



“Baiklah… kala begitu, tolong.”



“Begitu dong.”



Fuyukawa-san berdiri di depanku.



Sangat dekat.



Lebih dekat dari biasanya.



Aroma manis tercium dari parfum yang digunakannya.



Nafasnya terdengar jelas karena sangat dekat.



Jantungku berdebar dengan cepat.



Aku berusaha mengatur arah tatapanku agar tidak menatap langsung dirinya.



Dia membuka tutup botol obat mata.



Memegang wajahku dengan tangan kirinya.



Meneteskan obat ke mata kananku.



Sesaat mata kananku menerima tetesan obat itu, secara spontan aku menutup mata kananku dan saat itulah suara pintu yang dibuka terdengar . “Ara ara, maaf mengganggu.” Suara terdengar dari arah pintu.



“Bukan begitu, Mitsui-sensei. Ini ngga seperti Sensei bayangkan.” Fuyukawa-san melepaskan tangannya, meletakkan obat mata di atas meja, dan menuju ke arah Mitsui-sensei untuk menjelaskan apa yang terjadi.



Uwaaaaa, tadi itu benar-benar gawat. Kalau aku murid laki-laki biasa, mungkin aku akan jatuh cinta kepada Fuyukawa-san.



Selagi Fuyukawa-san menuju ke arah sensei, aku teteskan sendiri obat itu. Tch, ternyata pedis juga.



Kucoba mengedipkan mataku untuk membuat tetesan obat ini menyebar merata ke seluruh mataku. Hanya dua tetes per mata. Setelah selesai, aku bertanya ke Fuyukawa-san, “Fuyukawa-san, letak obatnya tadi di mana?”



“Ah, biar aku letakkan.” Fuyukawa-san berjalan ke arahku dan mengambil obat itu dan meletakknya kembali di tempatnya.



Mitsui-sensei masuk dan menuju ke arahku. “Coba sensei lihat sebentar,” kata Mitsui-sensei sambil memegang wajahku dan melihat ke arah mataku. Aduh Sensei, Anda terlalu dekat.



“Hmm… matamu sepertinya kelelahan dan sedikit iritasi, Amamiya-kun. Untuk hari ini lebih baik kamu tidur lebih cepat untuk mengistirahatkan matamu itu dan jangan lupa untuk memakai obat mata.”



“Baiklah, Sensei.”



“Bagus.” Mitsui-sensei melepaskan tangannya dari wajahku, lalu duduk di kursi tempat guru UKS. “Amamiya-kun, saat pulang hati-hati ya. Jangan sampai terjadi kejadian seperti tahun lalu,” tambahnya.



“Ah, iya, Sensei. Saya akan berhati-hati.”



“Kalau begitu, kami kembali ke kelas dulu, Sensei.” Fuyukawa-san menambahkan.



Kami keluar dari ruang UKS dan kembali ke kelas.



Aku sama sekali tidak terkejut kalau Mitsui-sensei mengetahui kecelakaan tahun lalu. Wajar kalau semua guru sudah mengetahuinya. Tetapi, apa yang membuatku penasaran adalah sikap Fuyukawa-san. Ekspresi wajahnya berubah saat Mitsui-sensei menyinggung kejadian itu, seperti terkejut, dan dia tidak mananyakan apa pun tentang kejadian yang dikatakan Sensei. Timbul dugaan di kepalaku kalau dia mengetahui sesuatu. Apa mungkin dia ada di sana saat kejadian itu terjadi? Apa dia mengetahui sesuatu? Tidak, tidak, tidak. Dari sifatnya yang baik dan ramahnya itu, kuyakin kalau dia hanya tidak ingin menanyakan masa lalu seseorang.



Saat kami tiba di kelas, bel berbunyi, dan pelajaran pertama akan dimulai.



Daripada memikirkan itu, lebih baik aku fokus untuk belajar. Sebagai murid yang diterima dengan progam beasiswa, aku memiliki banyak persyaratan yang harus kutuntaskan. Salah satunya yaitu nilai setiap pelajaranku harus di atas 75. Setiap pelajaran, bukan rata-rata keseluruhan pelajaran. Persyaratan ini hanya berlaku untuk murid yang mendapatkan beasiswa.



Nilai 75 bukanlah hal yang sulit kalau belajar dengan benar. Mengingat kondisiku sekarang yang tinggal sendirian, aku harus mengatur jadwal untuk belajar di luar jam sekolah juga. Dan, aku berniat untuk mencari kerja paruh waktu. Karena saat ini aku belum masuk klub atau mungkin tidak masuk klub, jadwalku masih agak senggang. Walaupun begitu aku tidak boleh lengah.



Seorang guru memasuki kelas.







***







Gawat.



Aku sama sekali tidak bisa fokus.



Penjelasan dari guru tidak bisa kupahami.



Aku hanya bisa mencatat.



Sial…….



Aku tidak menyangka kalau efek dari membaca novel itu membuatku tidak fokus pada pelajaran, ditambah lagi kurangnya waktu tidurku. Saat Sensei menjelaskan, tiba-tiba saja aku teringat dengan cerita novel itu. Membuat perasaan tidak nyaman kembali. Sama sekali tidak bisa fokus dan konsentrasi.



Bel berbunyi.



Jam pelajaran keempat telah berakhir.



Waktu istirahat makan siang tiba.



Setelah Sensei keluar dari kelas, aku langsung menuju kantin tentunya. Saat ini belum banyak murid di sini, antrean juga sedikit. Aku bisa dengan cepat mendapatkan makanan pesananku. Kali ini aku memesan nasi kari yang sedikit lebih ditambah dengan segelas ocha. Berkat silver pin ini, aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk makan siang di sekolah.



Setelah pesananku berada di nampan, aku pergi mencari meja makan. Di pojokan lebih pas kalau makan sendiri.



Rasa nasi kari ini sangat enak. Sungguh terasa rempah-rempahnya. Rasa pedasnya membuat tubuhku hangat.



Setelah selesai makan dan minum, keadaan kantin sudah ramai. Aku langsung kembali ke kelas. Berlama-lama di kantin hanya akan membuatku menjadi bahan pembicaraan orang sekitar.



Aku duduk di kursiku.



Saatnya masuk ke mode tiduran di atas meja.



Untuk jaga-jaga, kuatur alarm untuk membangunkanku jika aku tertidur.



Kupejamkan mataku.



Beristirahatlah wahai mataku.



Cuaca musim semi yang sedikit mendung memang menyejukkan tapi karena aku makan nasi kari pedas tadi, rasa pedasnya itu seperti sedang menghangatkan tubuhku sekarang. Namun ada perasaan aneh. Bisa dibilang perasaan yang melankolis.



Persasaan melakolis yang melanda diriku hari ini seperti menarik keluar semua energi positif dan yang tertinggal hanya energi negatif. Bisa dikatakan kalau keadaanku sekarang penuh dengan elektron. Penuh dengan muatan energi negatif.



Haaaah, sungguh tidak mengenakkan.



Di saat seperti andai saja ada proton yang membawa muatan energi positif yang dapat menetralkanku. Tidak, kalau bisa membuatku penuh dengan muatan energi postif. Itu akan memudahkanku untuk melanjutkan kegiatan pelajaran nanti.



“Amamiya-kun, kenapa? Seperti kurang sehat aja.” Muncul Fuyukawa-san dari arah kananku.



Tanpa meninggalkan posisi tidurku, aku melihat ke arahnya.



“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin beristirahat sedikit. Di pelajaran tadi aku sama sekali tidak bisa fokus dan konsentrasi.”



“Beneran ngga apa-apa?”



“Iya...”



“Begitu ya...”



Fuyukawa-san membalasnya dengan suara yang pelan, lebih pelan dari biasanya, seperti suara orang yang kecewa. Mungkin dia ingin aku jujur kepadanya.



“Lagian pasti besok sudah baikan. Ini bukan masalah besar.” Ya, ini bukanlah masalah besar.



“Benar juga. Pasti Amamiya-kun sudah baikan besok. Aku percaya itu.” Fuyukawa-san menjawabnya sambil memalingkan tatapannya dariku.



Aku tidak tahu ekspresi apa yang ada di wajahnya. Hmm, lebih baik aku istirahat sedikit lagi mumpung masih ada waktu.



Suasana kelas saat istirahat makan siang hari ini tidak begitu ramai. Dari suara yang terdengar, kira-kira ada sekitar tujuh orang. Suara Fuyukawa-san terdengar jelas. Dia sedang berbicara dengan murid kelas. Sifatnya yang ceria itu membuatnya dikelilingi oleh banyak orang.



Untuk saat ini, aku masih sendiri tanpa banyak orang di sekelilingku. Namun, aku berharap agar bisa membuat banyak teman di sekolah ini.



Kuingat-ingat kembali saat berada di kelas satu SMA. Aku masuk sekolah terlambat tiga minggu lebih karena memerlukan waktu untuk sembuh dan juga mengurus administrasi keterangan pindah sementara dari Keiyou-kou. Karena keterlambatan itu, aku tidak memiliki teman. Teman sekelasku berpikir kalau aku orang aneh karena masuk sekolah sangat telat. Walaupun begitu, aku bisa mengejar ketertinggalan dan mendapatkan peringkat pertama di setiap ujian. Itu hal yang wajar karena sebagian besar waktu kuhabiskan untuk belajar. Ya, sendirian itu tidak terlalu buruk.



Namun untuk tahun ini, di Keiyou Gakuen Koukou, setidaknya aku telah memiliki kenalan, walaupun hanya masih dua orang, Fuyukawa Yukina-san dan Namikawa Sakura-san. Semoga pertemuanku dengan mereka berdua dapat membawaku ke pertemuan dengan orang-orang lain.



Itulah yang kuharapkan saat ini.



Aku bukanlah tipe orang yang bisa dengan mudah mengajak orang berbicara, apa lagi di sekolah ini, banyak murid memandang rendah diriku. Karena inilah, harapan itu menjadi sulit diwujudkan. Bukankah sudah sewajarnya seseorang akan menjauhi orang yang memandangnya rendah? Itulah yang kulakukan sekarang.



Pertemuan pasti akan terjadi. Sekarang, aku hanya perlu menunggu sampai waktunya tiba.



Suasana kelas menjadi lebih ramai saat memasuki akhir waktu istirahat makan siang.



Pada akhirnya aku tidak tertidur dan mematikan alarm yang kuatur tadi.



Aku mengintip dari lenganku yang kujadikan bantal ke sudut-sudut kelas. Mereka berbicara bersama kelompok kecilnya yang terdiri dari dua sampai tujuh orang. Kelompok yang berisi tujuh orang tentulah kelompok dari Fuyukawa-san yang berada di sebelah kananku. Mereka membicarakan banyak hal, seperti kegiatan klub, film yang mereka tonton, musik yang mereka dengar, dan lainnya. Pokoknya yang menjadi perbincangan para murid SMA.



Tidak lama kemudian, bel berbunyi, menandakan waktu istirahat makan siang telah berakhir.



Murid yang masih berada di luar mulai memasuki kelas.



Aku bangun dari posisi tidur ke posisi duduk. Menyiapkan buku dan pulpen untuk pelajaran selanjutnya.



Seseorang masuk ke kelas kami sambil mengatakan, “Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing.”



Hiratsuka-sensei adalah orangnya. Sensei masuk ke kelas kami lebih cepat, bahkan bel untuk pelajaran kelima saja belum berbunyi.



“Saya, Hiratsuka Shiomi, akan mengajar pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas ini.” Setelah itu, Hiratsuka-sensei menambahkan, “Jangan khawatir. Saya juga masih sebagai guru konseling,” setelah melihat ke arah murid-muridnya yang penasaran.








***







Mengistirahatkan mata yang kulakukan di jam istirhat siang tadi ternyata pilihan tepat. Aku bisa fokus dan menangkap ilmu yang disampaikan oleh Hiratsuka-sensei.



Setelah bel berbunyi, menandakan pelajaran jam pelajaran keenam berakhir dan Hiratsuka-sensei meninggalkan kelas, aku pergi ke toilet yang berada di ujung lorong.



Jam terakhir, yaitu jam pelajaran ketujuh, diisi oleh homeroom dari wali kelas kami, Sakamoto-sensei.



Waktu berlalu dengan cepat.



Bel tanda pulang telah berbunyi.



Sakamoto-sensei meninggalkan kelas.



Murid-murid kelas 2-D mulai bersiap untuk pulang atau melanjutkan kegiatan klub.



Hari ini hari selasa, hari kedua sejak sekolah dimulai. Meskipun begitu, kegiatan klub sudah dimulai . Itulah yang kupikirkan saat melihat ke arah Fuyukawa-san. Dua orang gadis, sepertinya seklub dengan dirinya, menghampiri dirinya dan berkata, “Yukina, ayo ke ruang klub. ”



Fuyukawa-san yang masih duduk di kursinya menjawab dengan senyum di wajahnya., “Ayo, aku jadi tidak sabar.” Dia berdiri dari kursinya dan menuju ke lokernya yang terletak di belakang kelas. Sepertinya ada sesuatu yang diambilnya. Kemudian mengatakan ke temannya, “Ayo kita pergi.”



Fuyukawa-san dan dua orang temannya pergi ke klub. Saat kuperhatikan lagi, dua orang temannya itu berasal dari kelas ini juga. Kenapa aku baru sadar sekarang?



Melihat Fuyukawa-san yang senang karena akan kedatangan para junior di Klub Basket Putri membuatku berpikir untuk masuk ke klub juga. Saat ini aku belum masuk ke klub apapun, bahkan sama sekali tidak tahu klub apa saja yang ada di sekolah ini.



Aku duduk menopang dagu di tangan kiriku sambil melihat ke arah luar jendela di sisi kiri. Cuaca sedikit mendung, namun tidak memiliki tanda-tanda kalau hujan akan turun. Kulihat ke arah lapangan sepakbola dan baseball yang mulai didatangi aggota klub.



Aku bisa melihat mereka semua karena letak kelas 2-D di lantai dua. Melihat mereka mengeluarkan seluruh tenaganya untuk didedikasikan ke olahraga yang disuikai. “Semangat jiwa muda…” Aku bergumam kecil.



Suasana kelas saat ini sudah sangat sepi. Hanya tinggal diriku dan beberapa orang yang akan piket membersihkan kelas. Sepertinya mereka orang yang kena jadwal piket besok, hari rabu. Mereka melakukannya seusai pulang sekolah. Jadwal piketku di hari kamis, berarti besok setelah pulang sekolah, lebih baik aku membersihkan kelas saat tinggal sedikit orang. Piket di pagi hari agak sulit kulakukan karena tinggal sendirian. Di pagi hari saja sudah banyak hal yang kulakukan.



Kulihat ke arah jam dinding yang terletak di atas papan tulis.



Jam itu menunjukkan pukul 4:10 sore.



Aku berdiri dari kursiku, mengambil tas, dan pergi ke perpustakaan agar tidak mengganggu mereka yang sedang piket.



Ada novel yang akan kukembalikan hari ini. Novel berjudul “Kimi no Suizou wo Tabetai” yang kupinjam kemarin. Novel yang membuatku merasakan pedihnya ditinggal oleh seseorang yang berharga bagi hidup. Walaupun aku pernah merasakan perasaan seperti itu, tetapi tetap saja aku tidak mampu menahan sedih nan pedih itu. Kalau kuingat kembali ceritanya, mungkin aku akan menangis lagi. Mungkinkah karena aku orang yang memiliki nilai Emotional Quotient yang tinggi? Entahlah.



Aku masuk ke perpustakaan, lalu menuju konter perpustakaan. Ada seorang pustakawan wanita duduk di balik konter. Kemarin, yang duduk di sana adalah Namikawa-san. Mungkin hari ini dia memiliki keperluan lain. Saat aku berada di depan konter, aku mengeluarkan novel yang kupinjam.



“Permisi. Saya ingin mengembalikan novel ini.”



Pustakawan itu mengambil novel itu, lalu membuka buku daftar pinjaman dan mencocokkan dengan keterangan peminjaman novel yang ada di belakang novel.



“Baiklah, novel ini telah saya terima. Terima kasih telah mengembalikannya dengan cepat.”



“Ah, iya...”



“Bisakah kamu letakkan di tempat saat kamu ambil novel ini?” Pustakawan mengatakannya sambil memberikan novel itu.



“Ya, tidak masalah.”



“Terima kasih, saya jadi tertolong.”



Aku melihat ke arah kiri Pustakawan itu, ternyata ada banyak sekali buku yang dikembalikan tetapi belum diletakkan di tempatnya. Ya, setidaknya aku membantunya meringankan pekerjaannya.





Aku pergi ke rak buku tempat mengambil novel ini.



Saat aku tiba di rak itu, aku melihat seorang gadis yang sedang mencari buku. Dia mengambil buku, melihatnya, dan meletakkannya lagi.



….Ah, aku ingat gadis ini. Gadis ini yang kemarin kesusahan mengambil buku di bagian atas rak sehingga aku membantunya mengambil buku tersebut. Aku berdiri di sampingnya, lalu meletakkan novel ini. Tugas selesai.



Saat kulihat ke arahnya sekali lagi, dia melihat ke arahku juga. Sepertinya dia menyadari ada seseorang di sampingnya.



“Ah, kamu yang kemarin. Makasih ya sudah membantuku kemarin.”



“Sama-sama. Sedang mencari novel?”



“Hmm, iya. Kalau ngga salah letaknya di sini. Kamu sendiri sedang apa?”



“Aku hanya meletakkan kembali novel yang kupinjam kemarin.”



“….Ah, ketemu. Ini dia.” Dia mengambil salah satu novel dari rak ini.



“Baguslah…” Responku sambil tersenyum.



Ekspresinya yang manis saat mendapatkan novel itu spontan membuatku tersenyum. Ini pertemuan kedua kami di perpustakaan.



“Saatnya membaca lagi. Hehe.” Dia berdiri dan tersenyum kepadaku.



“Chi-chan, sudah dapat bukunya?”



Terdengar suara yang familiar bagiku. Terlihat seseorang datang menuju rak ini sambil memegang ponsel di tangan kanannya. Seorang gadis dengan rambut hitam dan panjang yang terurai di bahunya, tas di bahu kirinya, dan memakai stoking hitam panjang yang menutupi kakinya. Gadis itu ialah Namikawa-san.



“Sudah nih, Sakura-chan.” Gadis di sampingku ini menjawabnya.



“Baguslah.”



Namikawa-san berdiri di samping gadis ini dan melihat ke arah buku yang dipegangnya. Namikawa-san yang menyadari kehadiranku di samping gadis ini menyapaku, “Ah, ada Amamiya-kun. Konnichiwa. Chi-chan, kamu kenal laki-laki ini?”



“Konnichiwa, Namikawa-san.” Aku membalas sapaannya.



Gadis ini seperti kebingungan melihat diriku dan Namikawa-san saling menyapa seperti telah kenal.



“Ngga. Tapi, kemarin dia membantuku mengambil buku di bagian atas rak. Sakura-chan, kamu kenal dengan laki-laki ini?”






“Bisa dibilang begitu,” Namikawa-san menjawabnya sambil tersenyum. Lalu, dia melanjutkan “…Amamiya-kun, ini temanku sejak kecil, Kayano Chiaki dari kelas 2-H.”



“Hajimemashite. Kayano Chiaki desu.” Kayano-san menundukkan sedikit kepalanya ke arahku.



“Aku Amamiya Ryuki, dari kelas kelas 2-D.” Aku juga melakukan hal yang sama secara spontan.



“Jadi Sakura-chan, bagaimana kalian bisa kenal satu sama lain?” Kayano-san menatap Namikawa-san dengan ekspresi ingin tahu yang besar.



“Kebetulan aku bertemu Amamiya-kun di kafe sepulang sekolah kemarin.”



“Iya. Kemarin aku kaget saat ada orang yang tiba-tiba menyebut namaku.”



“Hmmm…” Kayano-san menggumam seakan meminta penjelasan lebih.



“Kebetulan aku ingat namamu karena kemarin hanya Amamiya-kun yang datang meminjam buku. Jadi ya….” Namikawa-san menjelaskan dengan tenang.



“Oh begitu...” Aku dan Kayano-san menjawabnya bersamaan, lalu tertawa. Sepertinya dia menerima penjelasan Namikawa-san, jadi aku tidak perlu menambahkan penjelasannya lagi.



Ini pertama kalinya aku berbicara dengan dua orang langsung sejak masuk ke sekolah ini. Namikawa-san tipe gadis yang tenang, sedangkan Kayano-san tipe gadis dengan penuh rasa penasaran.



Sebuah pertemuan akan membawamu menuju pertemuan lainnya.



Aku mempercayai kata-kata itu.



Entah pertemuan seperti apa yang terjadi nanti, aku hanya bisa bersabar, menunggu hal itu terjadi.







***







Namikawa-san dan Kayano-san sekarang sedang membaca bukunya masing-masing.



Saat ini aku berada di Study Corner yang terletak di sudut perpustakaan. Kucoba pelajari kembali pelajaran tadi pagi yang tidak bisa kupahami. Lebih tepatnya mata pelajaran sebelum istirahat makan siang karena teringat cerita dari novel itu. Oh, tidak. Jangan mengingatnya lagi. Jika kuingat, maka persaan melankolis itu akan datang lafi. Ini akan mengacaukan fokus dan konsentrasiku.



Bahkan perasaan seseorang dapat memengaruhi kesehariannya.








Diriku yang tadi dilanda perasaan melankolis karena mengingat kembali cerita novel itu membuatku ini tidak bisa tidur tadi malam dan hari ini fokus dan konsentrasiku menjadi kacau. Alhasil, dampaknya ke keseharianku di sekolah yaitu pelajaran yang disampaikan oleh guru sama sekali tidak melekat di otakku.



Kucoba jernihkan pikiranku saat ini.



Kembali ke buku pelajaran.



Baca, baca, dan baca.



Pahami, pahami, dan pahami.



Misalnya, diriku tadi yang dilanda perasaan melankolis karena mengingat kembali cerita novel itu membuat diriku ini tidak bisa tidur tadi malam, dan hari ini fokus dan konsentrasi menjadi kacau. Alhasil, efek ke tubuhku yaitu merasa ngantuk padahal masih sore hari, mata merah dan sedikit bengkak karena iritasi. Sedangkan efek ke keseharianku di sekolah yaitu pelajaran yang disampaikan oleh sensei sama sekali tidak melekat di otakku.



Aku ini tipe murid yang tidak akan berhenti belajar sebelum paham. Biasanya aku belajar di malam hari karena suasana lebih sunyi, tapi kali ini aku belajar sepulang sekolah. Lagian juga aku tidak punya aktivitas apapun sepulang sekolah. Berbeda saat masih di kampung halamanku yang mana saat pulang sekolah aku membantu kakek dan nenek, walaupun tidak setiap hari.



Aku mendengar langkah kaki seseorang yang menuju ke arahku. Karena meja di Study Corner bersekat, aku tidak bisa melihat siapa orang itu. “Amamiya-kun, kamu sedang belajar apa?” terdengar suara yang lemah dari arah kananku. Suara itu berasal dari Kayano-san.



“Kayano-san, ya? Sedang baca ulang pelajaran tadi pagi. Entah kenapa hari ini sedikit tidak fokus.”



“Oh… ngga apa-apa?”



“Apanya?”



“Amamiya-kun sedikit berbeda saat dengan yang kemarin. Matamu juga terlihat tidak sehat.”



Kayano-san mengatakan hal yang diluar perkiraanku. Sepertinya diriku di hari ini memang terlihat sangat berbeda. Tadi pagi saat melihat wajahku sendiri di cermin, aku bahkan sempat bertanya “siapa anda?” di dalam hati.



“…Ya, aku hanya kurang tidur.”



“Karena membaca novel yang kamu pinjam kemarin?”



“…Hm, iya.”



“Ceritanya memang menyedihkan, ya? Aku sampai menangis saat membacanya dulu.”



“Eeeeh, beneran?”



“Iya. Saat Si Aku menangis di depan ibunya Sakura, aku dapat perasaannya. Aku masih bisa mengingat ceritanya sampai sekarang. Amamiya-kun, kamu pasti menangis juga saat membacanya, kan? Matamu mengatakannya.”



“Jujur saja, memang seperti itu. Saat aku mengingat kembali ceritanya, perasaan melankolis mendatangi diriku. Aku juga pernah merasakan hal seperti itu, kehilangan seseorang saat aku kecil.” Aku berdiri dari kursiku dan memasukkan semua buku ke dalam tas. Lalu menambahkan, “Kayano-san, lebih baik kita berbicara di sana.” Aku menunjuk ke arah Namikawa-san berada.



“Bagaimana dengan belajarnya?”



“Sudah selesai.”



“Um, baiklah.”



Kami menuju ke meja tempat Namikawa-san membaca. Kayano-san duduk di samping Namikawa-san, dan aku duduk di depan Namikawa-san, meletakkan tasku di kursi kosong sebelah kanan.



Kayano-san mulai melanjutkan pembicaraan yang tadi, “Maksudmu pernah mengalami hal seperti itu, bagaimana Amamiya-kun?”



Namikawa-san yang mendengar itu menutup bukunya. Lalu bertanya, “Kalian bicarakan apa?”



“Amamiya-kun bilang, dia pernah merasakan hal yang sama seperti di novel Kimi no Suizou wo Tabetai, novel yang dipinjamnya kemarin itu. Kamu sudah pernah membacanya juga kan, Sakura-chan?”



Saat ini, di perpustakaan dipenuhi banyak murid yang sedang membaca dan belajar. Jadi, kami berbicara dengan suara yang pelan agar tidak mengganggu.



“Sudah. Tapi Chi-chan, apa ngga apa-apa menanyakan hal pribadinya Amamiya-kun?”



“…Benar juga. Maaf ya, Amamiya-kun.”



“…Sebenarnya aku tidak keberatan memberitahukannya kepada temanku.”



Aku sama sekali tidak keberatan menceritakan hal ini karena ada yang menanyakannya. Menurtuku, akan lebih baik jika kita bisa membuka diri kita kepada orang lain melalui cerita tentang diri kita yang mana bisa membuat mereka menerima dan mengenal diri kita.



“Teman, ya?”



“Teman?



Namikawa-san dan Kayano-san bergumam bersamaan.



“…..”



Aku melihat ke arah mereka berdua. Aku berpikir kenapa mereka menggumamkan itu. Pikiranku sedikit kacau hari ini, jadi aku kurang sigap menanggapinya. Mereka melihat ke arahku dengan ekspresi penuh tanda tanya. Ah, aku paham.



“Ma, maaf sudah seenaknya menganggap kalau kalian temanku. Padahal aku baru saja pindah ke sini, kita juga baru ketemu dua kali, dan hanya mengetahui nama dan kelas masing-masing. Ya, mana mungkin bisa menjadi teman kalian secepat itu. Kenalan mungkin lebih cocok, ya...” Aku mengatakannya secara spontan. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi mukaku saat ini. Namun secara jelas aku sedikit panik karena mengatakan sesuatu yang tidak kupikirkan terlebih dahulu.



“Aku sudah anggap kamu sebagai teman kok, Amamiya-kun.” Namikawa-san merespon perkataanku tadi dengan senyuman di wajahnya.



“Temannya Sakura, berarti temanku juga.” Kayano-san juga tersenyum.



“Kalian berdua…” Seketika aku terharu mendengar mereka berdua mengatakan hal itu.



“Amamiya-kun, jangan nangis.” Kayano-san mengatakannya seperti ingin mempermainkanku.



“Aku tidak nangis.”



“Hahaha.” Kayano-san tertawa kecil.



Namikawa-san hanya tersenyum kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. Pasti dia tertawa juga. Aku mulai tertawa melihat mereka tertawa. Tawa mereka yang manis itu seperti membuat perasaanku membaik. Ah, mungkin ini yang kuharapkan tadi. Proton yang membawa muatan energi positif. Mereka berdua Si Proton itu.



“Kalian berdua, terima kasih.” Aku menundukkan kepalaku ke arah mereka berdua.



“Um… Yoroshiku ne, Amamiya-kun.”



“Yoroshiku, Amamiya-kun….”



Namikawa-san dan Kayano-san tersenyum. Senyuman di wajah mereka begitu tulus. Terasa sangat manis, lembut, dan menghangatkan perasaanku.



“Yoroshiku onegaishimasu…”



“Jadi, kamu kehilangan siapa, Amamiya-kun? Apa pacarmu?” Kayano-san kembali menanyakan topik yang tadi kami bicarakan.



“Bukan… Aku belum pernah punya pacar.”



“Satu pun?” Namikawa-san bertanya dengan ekspresi ingin tahu.



“Iya...”



“Kalau bukan pacar, terus siapa?”



“Orang tuaku.”



“Ah, maaf ya. Aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu ke masa lalumu.”



“Um, iya. Tidak apa-apa.”



Aku belum pernah menceritakan tentang ini kepada murid kelas 2-D. Namun, aku telah menceritakannya kepada dua murid dari kelas lain yang kutemui di perpustakaan. Mereka berdua yang telah mengetahui hal ini hanya terdiam. Suasana perpustakaan semakin menjadi sunyi.



Kayano-san terdiam sambil melihat ke arah bawah, sama seperti Namikawa-san. Aku tidak tahu ekspresi seperti apa di wajah mereka saat ini. Kualihkan pandanganku ke arah jendela untuk melihat cuaca di luar sana. Rintikan hujan mulai turun membasahi sekolah.



Suasana sunyi seperti ini rasanya tidak mengenakkan jika berlangsung lama. Jadi, kucoba menghilangkan suasana ini.



“Ngomong-ngomong, kupikir kalian berdua tipe orang yang sulit diajak bicara. Tapi, ternyata tidak seperti itu.”



Mereka berdua mulai mengangkat kepalanya dan melihat ke arahku.



“Aku kira Amamiya-kun yang seperti itu.”



“Apa aku terlihat seperti itu, Kayano-san?”



“Iya… ya kan, Sakura-chan?”



“Iya…”



“Ah, begitu ya…”



Karena satu tahun berada di SMA yang tidak memiliki teman, mungkin hal itu lah yang membuatku terasa sedikit sulit untuk diajak bicara. Padahal, aku suka berbicara. Aku senang bersosialisasi, baik itu dengan orang yang seumuran denganku, senior dan junior di sekolah, dan para tetangga di desa. Setidaknya sekarang aku bisa mengubah tanggapan itu. Aku bisa lebih sering berbicara dengan Namikawa-san dan Kayano-san.



“Tapi, saat kamu menolongku kemarin, aku merasakan kalau kamu punya daya tarik yang unik. Jadi, aku ngga sungkan mengajakmu bicara tadi. Kalau kamu, Sakura-chan?”



“Aku setuju denganmu, Chi-chan. Saat aku ketemu Amamiya-kun kemarin di kafe, aku merasakan sesuatu yang berbeda dari dirinya, seperti berkharisma. Jadi, kucoba sapa deh...”



“Ah, begitu ya… Terima kasih.”



Sebelumnya, tidak ada orang yang mengatakan kalau aku mempunyai daya tarik yang unik atau berkharisma. Jujur saja aku tidak tahu harus menanggapi seperti apa perkataan mereka tadi. Jadi, aku hanya mengatakan terima kasih.



“Ya… dan Amamiya-kun, jangan bicara formal begitu dengan kami. Kita kan seumuran.”



“Um, santai saja bicara dengan kami, Amamiya-kun. Ya kan, Chi-chan?”



“Um, um.” Kayano-san mengangguk.



“Akan kuusahakan.”



Sekarang pukul 5:35 sore dan perpustakaan tutup pukul enam sore.



Aku mengambil tasku, lalu berdiri.



“Kalau begitu, aku pulang duluan, ya. Gawat kalau hujan deras.”



“Ya, sampai jumpa lagi besok.”



“Sampai jumpa.”



Kejadian tidak terduga di mana Namikawa-san dan Kayano-san hari ini telah menganggapku sebagai teman mereka. Mereka berdua bisa dianggap sebagai teman pertamaku di sekolah ini. Aku tidak bisa menganggap langsung Fuyukawa-san sebagai teman. Memang kami sekelas, menjabat perwakilan kelas, dan dia sering berbicara denganku. Tetapi, bukankah itu hal yang wajar dilakukan seseorang kepada teman sekelasnya? Walapun dalam kasusku ini yang berbicara denganku di kelas hanya Fuyukawa-san. Hanya dia seorang.



Aku tidak tahu apa yang murid kelas 2-D pikirkan tentangku. Dari pengamatanku sampai saat ini, mereka seperti tidak menerima kehadiran diriku di kelas itu. Kalau waktunya tiba, pasti mereka nantinya bisa menerimaku sebagai teman sekelas mereka.



Setiap orang punya gilirannya masing-masing.



Daripada terus memikirkan sesuatu yang tidak jelas, lebih baik aku bergegas pulang ke apartemenku untuk beristirahat, seperti yang dikatakan Mitsui-sensei. Kupercepat langkahku yang berjalan di bawah awan abu-abu ini. Walaupun saat ini hujan rintik-rintik, bukan berarti tidak ada kemungkinan terjadinya hujan deras. Semoga hujan derasnya tidak turun sekarang.