
1
Senin kembali datang.
Seperti biasa, aku bangun dari tidurku setelah mendengar alarm ponselku berbunyi.
Seperti biasa di pagi hari yang sunyi dengan suhu udara yang masih sejuk, aku melakukan olahraga ringan demi membuat tubuhku bugar. Setelah itu, aku sarapan pagi untuk mengisi energi agar bisa menjalani hari Senin yang panjang ini di sekolah.
Mulai hari ini, seragam sekolah akan berganti menjadi seragam musim panas. Yang membedakan antara seragam musim dingin dengan musim panas hanya blazer. Sekarang, aku tidak perlu memakai blazer lagi.
Setelah memeriksa semua pintu terkunci, aku berangkat ke sekolah.
Saat hendak meninggalkan apartemen, hujan mulai turun sedikit deras yang dapat membuat seragamku basah hanya dalam beberapa detik. Aku kembali ke kamar untuk mengambil payung. Setelah itu, aku pun berangkat ke sekolah dengan harapan hujan tidak menjadi lebih deras.
Setelah tiga puluhan menit berjalan kaki, akhirnya aku sampai di sekolah. Walaupun dengan cuaca hujan, Agitsu-sensei tetap berada di dekat gerbang sekolah dengan payung di tangan kirinya. Murid-murid yang berjalan melewati gerbang ini mengatakan “selamat pagi” kepada sensei, walaupun ada juga yang tidak menyapa sensei. Aku sendiri selalu menyapa sensei yang selalu berada di dekat gerbang ini. Sampai sekarang, aku belum pernah melihat sensei tidak berada di sini di pagi hari sebelum pelajaran pertama dimulai.
Murid-murid Keiyou terlihat sudah memakai seragam musim panas mereka. Sesuatu yang menarik perhatianku adalah baju mereka tidak sama di bagian lengan. Ada yang memakai baju lengan pendek dan ada lengan panjang. Aku sendiri memakai baju lengan pendek.
Kalau tidak salah, sebelum bersekolah di sini, kita bisa memilih sendiri untuk memakai baju lengan panjang atau lengan pendek dan untuk murid perempuan bisa memilih tipe dasi. Tidak hanya itu, aku pernah melihat murid perempuan yang memakai celana panjang, bukan rok. Apakah karena dia memilih celana panjang sejak awal atau meminjam celana teman laki-lakinya, aku tidak tahu.
Memasuki Gedung Utama, aku meletakkan payung di tempat peletakan payung, lalu menuju loker sepatu.
Aku terdiam seperti patung saat memikirkan hal yang baru saja terjadi kemarin di depan loker.
Kemarin, aku sangat senang, tapi sekarang perasaan senang itu memudar seperti dibalut dengan perasaan yang tidak jelas.
Kucoba untuk berpikir kenapa hal itu bisa terjadi dan kudapatkan satu kesimpulan.
Sepertinya aku mengatakan sesuatu yang memalukan kemarin.
Dengan kata lain, aku malu untuk bertemu dengan Taniguchi-san, Nazuka-san, dan Shimizu-san hari ini.
Tapi…
Apakah mereka bertiga menganggap apa yang kukatakan kemarin itu sesuatu yang memalukan? Apakah ini hanya asumsiku saja kalau yang kukatakan kemarin merupakan sesuatu hal yang memalukan?
Memikirkan hal ini tidak ada gunanya.
Apa boleh buat. Itu semua sudah terjadi. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Setelah memakai uwabaki milikku, aku menuju kelas yang berada di lantai dua.
Aku berdiri di pintu belakang yang selalu kugunakan untuk masuk dan melihat keadaan kelas sambil menyandarkan tangan kiriku di kosen pintu. Saat ini, aku terlihat seperti sedang mencari seseorang. Tidak salah karena aku sedang mencari Nazuka-san dan Shimizu-san.
Saat memandangi suasana kelas yang sudah ramai ini, tiba-tiba di belakangku terdengar suara seseorang, “Nggak masuk, Amamiya-kun?”
Suara lembut itu berdengung di telingaku. Suara yang sangat familiar bagiku karena pemilik suara inilah yang mengajakku berbicara pertama kali saat aku kembali ke sekolah ini. Dia adalah Fuyukawa Yukina-san.
Aku berbalik untuk melihat ke arahnya, lalu kujawab, “Ah, um, tentu saja masuk.”
Kami berdua pun masuk bersama dan duduk di tempat kami masing-masing.
Fuyukawa-san terlihat sedikit berkeringat karena pasti dia baru saja selesai latihan pagi. Dia mengelap keringat yang ada di sekitar lehernya dengan handuk yang dikeluarkan dari tasnya.
“Latihan pagi lagi, ya, Fuyukawa-san?”
“Iya. Lawan kami nanti semakin kuat. Jadi Aku juga harus bertambah kuat.”
“Tapi… apa kamu cukup istirahatnya?”
“Eh?”
“Kalau kamu latihan terus tanpa istirahat yang cukup, takutnya nanti kamu kelelahan dan cedera, Fuyukawa-san.”
“Tenang saja. Istirahatku cukup dan Aku juga makan makanan yang bergizi.”
“Benarkah?”
“Iya. Coba lihat aku.”
Aku pun mengubah posisi tubuhku dan melihat ke arahnya.
Seperti yang dikatakannya, dia terlihat baik-baik saja. Tidak terlihat tanda-tanda kalau dia kelelahan atau semacamnya. Malahan, dia terlihat sangat bersemangat.
“Gimana?”
“Hm… sepertinya kamu memang baik-baik saja.”
“Tentu saja.”
“Baguslah kalau begitu. Jangan sampai cedera lagi, ya. Kalau cedera kan bisa gawat.”
“Um, ya.”
“Semoga klub kalian bisa mewakili Tokyo di inter high nanti.”
“Makasih, Amamiya-kun.”
“Sama-sama.”
“Amamiya-kun, pagi!”
Seseorang tiba-tiba memanggil namaku sehingga membuatku berhenti berbicara dengan Fuyukawa-san dan melihat ke arah datangnya suara itu.
Suara itu berasal dari Shimizu-san yang baru saja masuk ke kelas dengan Nazuka-san.
“Pagi, Amamiya-kun.”
“Ah, pagi, Shimizu-san, Nazuka-san.”
Saat kupikir untuk menghindari mereka berdua hari ini untuk menenangkan pikiranku terlebih dulu, mereka berdualah yang menyapaku. Memang mustahil untuk menghindari teman yang sekelas karena pasti akan bertemu.
“Kemarin menyenangkan, ya. Aku dan Izumi menikmatinya.”
“Ahaha… Aku juga.”
“Lain kali, ayo kita lakukan lagi. Hitoka pasti ikut juga. Ya, kan, Izumi?”
“Iya, tentu saja.”
“Ah, um. Soal waktunya, nanti kita bicarakan lagi.”
“Yey, asik.”
Setelah selesai berbicara, Shimizu-san dan Nazuka-san terseyum ke arahku sebelum mereka menuju kursi mereka masing-masing. Senyuman mereka terlihat seperti menertawakanku.
Apa mereka mengingat perkataanku kemarin yang sebenarnya memang memalukan?
Setelah mereka berdua duduk di kursi mereka masing-masing, aku yang dari tadi melihat ke arah mereka berdua sekarang kembali melihat ke arah Fuyukawa-san.
Ekspresi di wajahnya menunjukkan kalau dia sedang bingung dan penasaran. Di dalam pikirannya pasti berisi tanda tanya sekarang. Dia mulai membuka mulutnya.
“Kamu kemarin bersama dengan Nazuka-san dan Shimizu-san, Amamiya-kun?”
“Um, iya. Awalnya, Aku dengan Taniguchi-san, tapi dia ajak Nazuka-san dan Shimizu-san juga. Aku terkejut mereka berdua datang juga.
“He… di mana?”
“Di kamar apartemenku.”
“Be-begitu ya. Kalian memangnya ngapain?”
“Kemarin, Taniguchi-san ngajarin aku masak kari pakai bahan rahasia. Ternyata bahan rahasianya itu adalah coklat. Rasa kari yang kami buat sangat berbeda dan sangat enak.”
“Se-sepertinya menyenangkan, ya.”
“Iya, tentu saja. Lagian kemarin, pertama kalinya ada orang yang masuk ke kamarku dan makan bersamaku. Aku sangat senang kemarin.”
“Ano, Amamiya-kun…”
“Ya, Fuyukawa-san?”
Bel tanda masuk berbunyi setelah.
“Ah, nggak ada apa-apa.”
“Hm, begitu ya.”
Tak lama kemudian, wali kelas kami, Sakamoto-sensei, masuk ke dalam kelas dan homeroom untuk hari ini akan segera dimulai.
2
Sekarang waktu istirahat siang.
Pelajaran olahraga memang selalu menguras tenagaku sehingga perlu bagiku untuk mengisi ulang tenagaku di kantin. Sebenarnya aku memiliki stamina yang lumayan, tapi karena pelajaran selanjutnya memerlukan konsentrasi dan kerja otak yang maksimal, aku harus menyuplai gula untuk otakku agar bekerja nanti.
Kadang-kadang, Taka mengajakku makan siang di kantin, tapi hari ini aku sama sekali tidak melihatnya. Fuyukawa-san juga beberapa kali mengajakku makan di kantin bersama murid kelas 2-D lainnya, tapi hari ini sepertinya dia makan siang di ruang klub karena ada sesuatu yang perlu dibicarakan kepada anggota klub bola basket putri. Oleh karena itu, aku pergi ke kantin sendirian.
Setelah mengantri, aku memesan satu porsi gyuudon dan sebotol air mineral. Karena memiliki silver pin yang kupakai di dasi sebagai tanda perwakilan kelas, aku bisa makan secara gratis di kantin sekolah.
Aku mengambil nampan yang berisi menu makan siangku dan berbalik untuk mencari meja makan kosong. Saat sedang melihat ke seluruh arah kantin, seorang gadis berdiri dan melambai-lambaikan tangan kanannya. Mata kami pun bertemu dan dia tersenyum dengan lembut. Gadis itu seseorang yang kukenal. Gadis yang mengahabiskan waktunya akhir pekan kemarin bersamaku. Gadis itu adalah Taniguchi-san. Dia terus tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku pun menuju ke arahnya dan akhirnya dia berhenti melakukan itu.
“Amamiya-kun, ayo makan bersama,” kata Taniguchi-san saat aku tepat berdiri di depannya.
“Ah, halo, Pelatih Amamiya.”
“Halo.”
Kulihat sampai ke ujung meja yang diisi orang ini, ternyata semuanya anggota dari klub bola voli putri. Ada beberapa gadis yang tidak kuketahui namanya, tapi aku familiar dengan wajahnya. Nazuka-san dan Shimizu-san juga sedang makan di meja ini. Jumlahnya tujuh orang.
“Ah, halo, semuanya. Memangnya boleh Aku makan di sini? Ini kan tempat kalian dari klub voli.”
“Amamiya-kun kan juga sudah bagian dari klub kami. Benar, kan, semuanya?”
“Um. Kamu kan sudah bantu kami menang, Amamiya-kun.”
“Benar. Amamiya-kun sudah jadi bagian dari klub kami sejak saat itu. Jadi nggak perlu sungkan.”
“Dengar itu, Amamiya-kun? Kapten kami yang bilang, lho.”
“Makasih, semuanya.”
“Kalau begitu, duduklah. Mari makan.”
“Ah, iya,” kataku sambil duduk di kursi yang letaknya di ujung meja dan tepat di depan tempat duduk Taniguchi-san.
Shimizu-san dan Nazuka-san tersenyum dan tertawa bersamaan saat aku duduk. Sepertinya mereka mengingat apa yang kukatakan kemarin. Sepertinya itu memang hal yang memalukan. Seharunya aku memang tidak duduk di sini.
Taniguchi-san tersenyum. Senyumannya memang selalu indah untuk dipandang. Tanpa sadar, kubalas senyumannya dengan senyumanku dan melupakan perlakuan Nazuka-san dan Shimizu-san tadi. Dia tertegun dan berhenti menggerakkan sumpitnya. Aku menjadi bingung kenapa dia tiba-tiba seperti itu.
“Kenapa tiba-tiba berhenti, Taniguchi-san?
“…”
Dia masih terdiam dan tidak menggerakkan sumpitnya.
Sekitar tiga detik kemudian, dia menggerakkan mulutnya.
“Ah, ng-nggak ada apa-apa. Mari makan, semuanya!”
“Um, ya. Itadakimasu.”
Gyuudon kantin ini memang enak. Dagingnya banyak, lembut, dan rasanya seperti meleleh saat masuk ke dalam mulut. Memakan daging saat sedang terasa lelah dapat membuatku menjadi lebih baik dan tenagaku kembali pulih. Aku selalu memilih menu ini di hari Senin karena pelajaran olahraga membuatku lelah.
Beberapa saat kemudian, kami selesai makan siang. Beberapa anggota klub bola voli putri yang tidak kuketahui namanya sedang berbicara dengan santai menikmati sisa waktu istirahat siang. Nazuka-san dan Shimizu-san yang duduk di sebelah kananku juga melakukan pembicaraan kecil. Sementara itu, aku hanya menopang daguku dengan tangan kiri sambil memperhatikan mereka yang sedang berbicara dan juga ke arah lain yang aku sendiri tidak tahu apa yang kuperhatikan.
Mereka terus berbicara sambil tersenyum dan tertawa karena pasti mereka membicarakan hal yang menyenangkan. Pasti menyenangkan bisa berbicara dengan santai seperti itu sambil tersenyum dan tertawa.
Saat sedang melihat ke arah yang tidak menentu, mataku bertemu dengan mata seorang laki-laki berkacamata dengan tampang ikemen. Dia adalah Hiroaki Takahiro dari kelas 2-I.
“Ah, Ryuki… kamu makan siang sendirian?” tanyanya langsung saat melihatku.
“Nggak. Kamu bisa lihat, kan? Aku dengan klub voli putri.”
“He…”
“Kamu sendiri, makan sendirian?”
“Nggak. Aku dengan teman seklub ini,” jawab Taka sambil melihat ke arah temannya yang berada di belakangnya.
Aku melihat ke arah teman-temannya yang berada di belakangnya. Jumlah mereka lima orang, tiga perempuan dan dua laki-laki.
“Oh, klub fotografi, ya. Kalau begitu, makan terus sana!”
“Ya. Sampai nanti, Ryuki.”
“Ya, Taka.”
Taka dan teman-temannya berjalan menuju meja kosong.
Aku terus memperhatikan Taka dari belakangnya. Dari sini aku tahu kalau dia memang murid yang populer di sekolah ini. Saat dia berjalan, beberapa murid perempuan yang ada di kantin melihat ke arahnya. Auranya memang berbeda. Dia bisa menarik perhatian para gadis dengan aura ikemen-nya itu.
Seorang gadis dari kelompok Taka berbalik dan melihat ke arahku dengan tatapan mata yang tajam. Panjang rambutnya hanya sebahu dan tubuhnya tidak pendek untuk seorang gadis. Dengan perasaan yang sedikit terkejut dan panik, aku memalingkan pandanganku ke Taniguchi-san.
Taniguchi-san sepertinya sedang memandangai sesuatu yang ada di belakangku sambil minum dari sedotan minumannya. Karena penasaran, aku membalikkan badanku untuk melihat ke arah yang dilihatnya. Namun, tidak ada sesuatu yang spesial. Hanya ada beberapa murid laki-laki dan perempuan yang sedang makan di meja yang sama sambil bercengkerama.
Aku kembali melihat ke wajahnya dan sepertinya dia tidak melihat ke arah beberapa murid yang berada di belakangku, tapi sepertinya dia melihat ke arahku. Sambil terus menyedot minuman dari gelasnya, dia melihat ke arahku yang tepat berada di depannya. Namun, apakah benar kalau yang dilihatnya itu adalah aku?
“Taniguchi-san, sedang lihat apa?” tanyaku dengan nada yang sedikit lebih pelan.
“Ah, nggak ada kok.”
“Begitu ya.”
“Um, i-iya.” Taniguchi-san menghabiskan minumannya, lalu melanjutkan. “Amamiya-kun kenal dengan Hiroaki-kun? Sepertinya kalian berteman dekat.”
“Ah! Aku juga penasaran,” kata Shimizu-san dengan rasa penasaran tergambar di wajahnya.
“Aku juga.” Bahkan Nazuka-san ikut penasaran.
Tidak hanya itu, beberapa anggota klub bola voli putri yang berada di meja ikut penasaran juga dengan pertanyaan Taniguchi-san. Mereka berhenti berbicara dan melihat ke arahku.
“Um, ya… bisa dibilang seperti itu. Taka tahu tentang kecelakaan itu dan mungkin karena itulah kami menjadi dekat.”
“Kenapa dia bisa tahu tentang kecelakaan itu?” Nazuka-san yang menyadari hal itu langsung menanyakannya.
“Tunggu… kecelakaan? Sebenarnya kalian bicarakan apa, sih?” Seorang gadis bertanya karena sama sekali tidak mengerti alur percakapan kami.
“Oh iya, kalian belum tahu, ya. Gimana, Amamiya-kun?”
Wajar saja karena hanya sedikit orang yang mengetahui tentang ini.
Klub bola voli putri sudah menganggapku bagian dari mereka dan juga sepertinya mereka sudah menganggapku sebagai teman, walaupun aku masih belum mengetahui nama mereka semua. Namun, mereka sudah menerimaku kehadiranku. Oleh karena itu, tidak ada alasan lagi bagiku untuk menyembunyikan tentang kecelakaan itu.
“Biar Aku yang ceritakan, Taniguchi-san.”
Aku pun menceritakan tentang kejadian itu dan tentang bagaimana aku bisa masuk ke sekolah ini lagi di tahun kedua. Satu hal yang tidak kuceritakan adalah mengenai kedua orang tuaku yang sudah tiada.
Mereka yang pertama kali mendengar hal ini sedikit terkejut, sama seperti orang lain yang mengetahui tentang ini.
“Jadi… Taka tahu tentang kecelakaan itu karena dia…”
“…Berada di dekat tempat kejadian itu,” kata Nazuka-san memotong perkataanku.
“Ya, benar sekali.”
“Kalau begitu, bukannya Hiroaki-kun tahu gadis yang Amamiya-kun selamatkan?” Nazuka-san benar-benar tajam.
“Dia bilang nggak tahu. Sudah kutanya waktu itu.”
“Tapi… apa itu benar?”
“Hm…?”
“Apa maksudmu, Izumi?” Taniguchi-san bertanya menggantikanku.
“Begini… Hiroaki-kun tahu kalau Amamiya-kun yang menjadi korban saat itu karena berada di dekat tempat kecelakaan itu. Bukannya aneh kalau dia nggak tahu siapa gadis yang Amamiya-kun selamatkan? Bukannya dia seharusnya tahu karena berada di tempat itu?” Pikiran Nazuka-san benar-benar tajam.
“Berarti Hiroaki-kun membohongi Amamiya-kun?”
“Tunggu dulu, Shimizu-san. Terlalu cepat untuk menyimpulkannya. Taka bilang waktu itu dia langsung memanggil guru dan disuruh masuk. Jadi dia nggak bisa melihat wajah gadis itu.”
“Hm… bisa saja Hiroaki-kun menyembunyikan sesuatu.”
“Ah, kamu berpikiran seperti itu, Hitoka? Aku juga. Pasti ada informasi yang sengaja nggak diberitahu kepadamu, Amamiya-kun.”
“Tapi Shimizu-san… untuk apa Taka nggak bilang informasi itu?”
“Mungkin saja Hiroaki-kun berjanji dengan gadis itu untuk nggak memberitahukannya padamu, Amamiya-kun.”
“Itu mungkin saja, Amamiya-kun.”
“Kemungkinan, ya.”
“Ya, masih sebatas kemungkinan. Kemungkinan itu pasti nggak satu, kan?”
“Benar.”
Bel berbunyi yang menandakan waktu istirahat makan siang telah berkahir. Saat meletakkan kembali nampan sebelum kembali kelas, aku menyempatkan diriku untuk bertanya kepada Taniguchi-san tentang suatu yang menggangguku hari ini.
“Taniguchi-san,” kataku seperti berbisik.
“Aku mau tanya sesuatu.”
“Mau tanya apa?”
“Kemarin, apa aku mengatakan hal yang memalukan?”
“Oh, tentang itu. Tentu saja bukan. Aku, Izumi, dan Sumire merasa senang karena bisa mengetahui tentang Amamiya-kun.” Taniguchi-san menjawabnya dengan senyuman di wajahnya.
“Tapi… Nazuka-san dan Shimizu-san dari tadi seperti menertawakanku. Mereka tersenyum dan juga tertawa.”
“Ah… itu tandanya mereka berdua sedang gembira. Seperti yang kubilang tadi.”
“Begitu, ya.”
“Um.”
Ternyata aku hanya salah sangka terhadap mereka berdua. Mereka tidak menertawakanku atas apa yang kukatakan kemarin, melainkan mereka berdua senang karena sudah mengetahui tentangku dan sudah menjadi temanku.
Kami pun kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan kegiatan belajar, tapi masih ada satu hal lagi yang mengganggu pikiranku.
Benar apa yang dikatakan Taniguchi-san tadi. Kemungkinan tentu saja ada, tapi nilai kebenarannya masih belum bisa dipastikan.
Saat pertama kali makan siang dengan Taka, ekspresi dan nada bicaranya berubah saat kutanya apakah dia melihat gadis itu. Apakah benar dia tidak mengatakan dengan jujur dan masih menyembunyikan sesuatu? Ini membuatku penasaran.
Aku juga penasaran kenapa dia bisa mendapatkan nomor ponselku waktu itu. Dia bilang mendapatkannya dari Hiratsuka-sensei dengan nada bicara yang berbeda daripada biasanya. Dia mengatakannya seperti sedang memberikan jawaban yang dipikirkan terlebih dulu, bukan secara spontan karena sudah mengetahui jawabannya. Bisa kukatakan kalau sebenarnya dia tidak meminta nomor ponselku dari sensei, tapi dari orang lain. Saat itu hanya Fuyukawa-san yang mengetahui nomor ponselku. Apa berarti dia memang meminta nomor ponselku dari Fuyukawa-san? Dia juga pernah mengatakan kalau pernah sekelas dengan Fuyukawa-san yang memungkinkannya untuk bisa meminta nomor ponselku darinya.
Ah… memikirkan hal ini tidak ada gunanya. Memang benar kalau aku ingin mengetahui siapa gadis yang kutolong itu, tapi tetap saja aku tidak dapat mengetahuinya kalau hanya berpikir. Aku harus mencari tahu. Tapi… aku harus melakukan apa? Kalau kutanya pada Taka, pasti dia mengatakan hal yang sama seperti waktu itu. Teman macam apa aku ini yang mencurigai temannya sendiri? Sudah, sudah, aku berhenti saja. Lebih baik kufokuskan pikiranku untuk mendengar penjelasan dari guru dan belajar sebagaimana mestinya seorang murid SMA.
Pasti waktunya akan tiba saat di mana aku mengetahui kebenaran siapa gadis yang kutolong itu dan siapa orang yang menabrakku itu.
“Kebenaran itu hanyalah satu,” dan “Kebenaran akan selalu terungkap,” kata seorang detektif fiksi yang sering kubaca sewaktu kecil dulu.
3
Waktu terus berjalan hingga akhirnya tibalah waktu pulang sekolah setelah bel berbunyi yang menandakan waktu belajar hari ini telah berakhir.
Pikiranku masih melayang-layang akibat memikirkan apa yang dikatakan oleh Taniguchi-san dan kawan-kawan saat makan siang tadi. Saat belajar tadi, aku tidak terlalu bisa fokus walaupun aku berusahan untuk fokus. Perkataan mereka terngiang-ngiang di pikiranku.
Aku masih berada di kelas, menopang dagu di tangan kiri sambil melihat ke arah lapangan. Sekarang sudah tidak hujan lagi, tapi lapangan tampak sedikit basah. Saat kulihat ke atas ternyata ada awan hitam besar yang siap menurunkan hujan di sekitar sini. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.
Beberapa murid kelas ini sedang bersiap-siap untuk membersihkan kelas karena jadwal piket mereka. Aku sadar hal itu dan meninggalkan kelas menuju ruang klub. Sebelum itu, aku mampir ke perpustakaan untuk meminjam buku. Sangat membosankan bila harus menunggu seseorang klien tanpa melakukan apa-apa. Selain itu, aku dan Shiraishi-san juga tidak terlalu melakukan tukar-menukar frasa.
Masuk ke perpustakaan, aku melihat Namikawa-san sedang duduk di konter perpustakaan sambil membaca sebuah buku. Melihatnya yang sedang asik membaca, kuurungkan niatku untuk menyapanya. Sekarang, aku menuju rak buku fiksi untuk mencari bahan bacaan untuk dibaca di ruang klub dan di rumah.
Keadaan perpustakaan saat ini sedikit lebih ramai atau hanya perasaanku saja,ya.
Aku berkeliling di rak buku fiksi hingga mendapatkan satu novel yang menarik perhatianku saat membaca blurb-nya. Novel ini kubawa ke konter untuk kupinjam. Ah, aku tidak melihat Kayano-san di sini. Mungkin saja dia sudah pulang.
Namikawa-san sama sekali tidak menyadari kehadiranku di depannya dan terus membaca. Kukira dengan berdiri di dekatnya, dia bisa menyadariku, ternyata tidak. Aku pun memamanggilnya, “Namikawa-san.”
Dia dengan cepat menutup buku yang dibacanya dan melihat ke arahku yang sudah berdiri di depannya dari tadi.
“Amamiya-kun…”
“Halo.”
“Halo. Mau pinjam buku, ya?”
“Iya. Ini bukunya,” jawabku sambil menyerahkan novel tadi.
“Baiklah,” Namikawa-san mengambil novel itu dan dicatat di buku peminjaman.
Setelah selesai, dia memberikan buku itu kepadaku.
“Ini bukunya. Silakan dinikmati.”
“Makasih.”
“Sama-sama.”
“Kalau begitu, Aku ke ruang klub dulu. Sampai jumpa, Namikawa-san.”
“Ya. Sampai jumpa lagi, Amamiya-kun.”
Meninggalkan perpustakaan, sekarang saatnya untuk menuju ruang klub.
Aku membuka pintu geser ruang klub dan melihat seorang gadis sedang duduk di tengah ruangan ini sambil membaca buku yang dipegangnya dan terdapat secangkir teh di mejanya. Gadis itu adalah Shiraishi Miyuki-san yang merupakan ketua klub bantuan. Dia selalu sudah berada di ruang ini saat aku masuk. Aku duduk di kursi yang biasanya kutempati dan mengambil novel yang tadi kupinjam untuk kubaca sambil menunggu klien yang kedatangannya tidak bisa diprediksi.
“Ehem ehem,” terdengar seperti Fuyukawa-san sedang membersihkan tenggorokannya. Hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Dia melakukannya untuk memanggilku.
Aku punya nama juga, Shiraishi-san. Ya ampun.
Aku melihat ke arahnya dan dia melihat ke arahku, sehingga dia mata kami bertemu. Bibirnya yang tipis itu mulai bergerak. Akhirnya kata keluar dari mulutnya.
“Sepertinya kamu sudah menepati janjimu dengan manajer klub voli putri.”
“Hah? Kenapa Shiraishi-san bisa tahu?” Aku sedikit kaget.
“Aku melihat kalian di 109. Kebetulan, waktu itu Aku juga sedang belanja.”
“Ah… begitu ya. Kenapa nggak menyapa kami?”
“Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian.”
Percakapan pun berakhir. Dia kembali membaca bukunya.
Kubuka novel yang kuambil tadi dan kubaca tulisan yang ada di dalamnya. Paragraf demi paragraf dan halaman demi halaman kubaca hingga akhirnya aku merasa haus.
Hal yang selalu ada di ruangan ini adalah teh. Sejak peralatan sudah dibeli oleh Shiraishi-san, setiap harinya di ruangan ini tersedia teh yang diseduh oleh dirinya. Teh yang digunakan juga berbeda tiap harinya. Rasa dan aroma yang berbeda setiap harinya membuatku tidak bosan untuk meminum teh yang diseduh Shiraishi-san. Aku menuju meja yang digunakan untuk meletakkan peralatan teh dan menuangkan teh ke dalam gelas kertas. Seperti biasa, masih ada satu cangkir yang belum digunakan sama sekali.
Cuaca di luar sangat mendung membuat suhu udara menjadi sejuk. Menyeruput teh hangat ini merupakan hal yang sangat bagus.
Suasana di ruangan ini sangat hening. Kalau kubuat diriku menjadi fokus, maka aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri.
Shiraishi-san dan aku sangat jarang berbicara walaupun kami berada di satu ruangan. Yang kami lakukan biasanya adalah membaca buku. Terkadang aku tiduran di meja karena tidak tahu melakukan apa. Percakapan seperti tadi sangat jarang terjadi.
Suasana hening dan nyaman ini membuatku sangat menikmati membaca novel ini. Kesadaranku masuk ke dunia sastra dan terperangkap di dunia itu. Aku memang bukan tipe orang yang membaca dengan cepat, tapi kalau dalam suasana seperti ini akan berbeda.
Halaman demi halaman kubalik untuk mengetahui kelanjutan ceritanya yang membuatku semakin penasaran. Sesekali kuseruput teh yang berada mejaku. Jika sudah habis, aku akan menuangkannya lagi.
Waktu terus berjalan. Detik berganti menit, menit berganti ke jam. Saat badanku terasa sedikit pegal, kesadaranku kembali ke dunia nyata. Aku melakukan gerakan ringan untuk menghilangkan rasa pegal itu. Saat kulihat ke arah jam dinding yang berada di dinding depanku, jarum pendek jam itu akan menuju angka enam dan jarum pendeknya berada di angka delapan.
Ternyata sudah jam 5:40 sore.
Aku melihat ke arah Shiraishi-san yang ternyata sudah tidak membaca buku lagi. Dia berada di dekat jendela sambil melihat ke arah luar. Ternyata hujan sudah turun dan lumayan deras. Jika aku berjalan dari Gedung Utama ke gerbang sekolah tanpa menggunakan payung, aku akan basah sebelum sampai ke gerbang.
Shiraishi-san memindahkan arah pandangannya sehingga mata kami pun betemu. Aku langsung memalingkan pandanganku dan mulai membereskan barang-barangku.
“Hari ini nggak ada yang datang, ya.”
“Iya.”
“Kalau begitu, ayo kita pulang.”
“Baiklah.”
Setelah membereskan semuanya, kami meninggalkan ruang ini setelah mengunci pintunya.
Di koridor yang sepi ini yang hanya ada kami berdua, kucoba untuk membuka percakapan dengannya.
“Oh iya, Shiraishi-san pulang dengan apa?”
“Mobil.”
“Eh? Kamu nyetir mobil ke sekolah?”
“Tidak. Ada supir yang mengantar dan menjemputku.”
“Oh, begitu ya. Kalau aku jalan kaki.”
“Begitu ya.”
Percakapan pun berakhir.
Aku tidak tahu harus membicarakan apa saat bersama dengannya. Tatapan mata dan nada bicara yang dingin membuatku takut untuk melanjutkan percakapan sedikit lebih lama. Akhirnya kami berpisah di loker sepatu.
Dari loker sepatu, kulihat Fuyukawa-san sedang berdiri di depan pintu masuk Gedung Utama. Sepertinya dia tidak membawa payung.
Setelah memakai sepatuku, aku menuju ke arahnya.
“Fuyukawa-san belum pulang?”
“Ah, Amamiya-kun. Belum, nih. Aku lupa bawa payung.”
“Nggak minta dijemput aja sama orang tuamu?”
“Ah, mereka sedang ada urusan kerja.”
“Begitu ya.”
Aku berdiri di samping Fuyukawa-san dan mulai berpikir. Hari ini aku membawa payung yang bisa kugunakan untuk pulang melewati hujan ini. Haruskah aku mengajaknya untuk pulang bersamaku? Apa jadinya kalau ada orang yang membuat gosip seperti dulu itu hanya karena aku pulang bersama dengannya? Fuyukawa-san pasti akan kesusahan.
Aku harus melakukan sesuatu. Kulihat ke arah sekitarku, sudah banyak murid yang pulang. Hanya beberapa murid yang masih berada di sekolah. Di saat cuaca hujan seperti ini, melihat wajah seseorang pasti sedikit susah karena hujan mengganggu pandangan seseorang. Tidak. Sudah pasti akan mengganggu pandangan seseorang karena hujan semakin deras. Aku ini temannya Fuyukawa-san, maka aku harus melakukannya.
“Fuyukawa-san, Aku ada bawa payung,” kataku sambil mengeluarkan payung dari tasku. “Mau pulang bareng?”
“Eh?” Fuyukawa-san seperti terkejut mendengar ajakanku. Ekspresi di wajahnya tergambar seperti itu.
“Em… begini… arah pulang kita searah, kan? Jadi... kalau kamu mau, kita bisa pulang bersama.”
“Mau,” jawab Fuyukawa-san secara cepat dan dengan senyuman di wajahnya.
“Baiklah. Ayo kita pulang.”
Aku membuka payungku dan kami pun berjalan meninggalkan sekolah.
Untuk pertama kalinya aku bersama seorang gadis dalam satu payung. Selain itu, gadis itu adalah Fuyukawa-san. Gadis cantik, populer, dan ace-nya klub bola basket putri. Tidak heran kalau banyak yang menyukainya. Sekolah ini memang banyak murid perempuan yang cantik, tapi sepertinya dia lebih populer.
Kami berjalan bersama begitu dekat sehingga membuat lengan kananku menyentuh lengan kirinyanya. Karena hal itu, jantungku berdetak begitu cepat. Aku pun menepi sedikit untuk memberikan celah di antara lengan kami. Alhasil bahuku basah terkena hujan karena sudah melewati payung ini dan jantungku berdetak dengan normal seperti biasa. Seperti ini lebih baik.
“Amamiya-kun, kamu basah, tuh.”
“Hm?”
Ternyata dia menyadarinya. Bagaimana sekarang?
“Mendekat lagi saja.”
“Tapi…”
“Sini… Aku saja yang pegang payungnya,” Fuyukawa-san menjulurkan tangannya untuk memegang pegangan payung dan tanpa sengaja dia memegang tanganku.
Aku terkejut dan melepas tangan kananku dari pegangan payung ini. Walaupun hanya sebentar, aku dapat merasakan betapa lembut tangannya.
Payung ini jatuh dan terbawa angin karena tidak ada yang memegangnya lagi.
“Ah… payugnyanya,” teriak Fuyukawa-san.
Secara refeleks, kukejar payung itu. Hanya membutuhkan tiga langkah untuk mengambilnya kemabli. Setelah payung itu kuambil, aku kembali ke arah Fuyukawa-san lalu memayunginya.
“Ah, maaf, Fuyukawa-san. Kamu jadi basah.”
“Amamiya-kun juga. Kenapa tiba-tiba kamu lepas?”
“Eng, soalnya Aku terkejut.”
“Terkejut kenapa?”
“Eng… karena kamu memegang tanganku.”
“Eh? Cuma karena itu?”
“Iya. Kamu memegangnya tiba-tiba, sih, Fuyukawa-san”
“Maaf.”
“Nggak apa-apa, kok. Ayo kita pulang.”
“Um, ayo.”
Jadi inilah yang disebut dengan aiaigasa. Berbagi payung dengan seseorang dan berjalan bersama dalam keadaan hujan terdengar agak romantis.
Hal ini pertama kalinya bagiku. Sebelumnya, aku sama sekali belum pernah berbagi payung dengan seorang gadis. Di situasi sekarang, jarak di antara kami menjadi dekat kembali. Lebih dekat daripada biasanya. Lengan dan bahu yang bersentuhan membuatku gugup dan hatiku berdebar-debar. Sesekali mata kami bertemu. Namun, kami langsung mengalihkan pandangan kami ke arah lain. Sepertinya bukan aku saja yang gugup di keadaan seperti ini.
Tak lama kemudian, kami sampai di apartemenku.
“Ini apartemen tempatku tinggal.”
“Nggak terlalu jauh dari rumahku, ya.”
“Iya, benar. Kalau begitu, Fuyukawa-san, kamu pakai saja payungku ini.”
“Makasih, ya. Besok kukembalikan.”
“Iya. Sampai jumpa, Fuyukawa-san.”
“Sampai besok.”
Aku memberikan payungku ini kepada Fuyukawa-san, lalu berlari menuju apartemen. Kubalikkan badanku untuk melihat ke arahnya. Dia sedang melambaikan tangannya ke arahku. Aku pun membalasnya dengan melakukan hal yang sama. Setelah itu aku menaiki tangga untuk menuju kamarku.
Keesokan hari, aku bertemu Fuyukawa-san di persimpangan jalan menuju sekolah. Dia mengembalikan payungku di sana dan kami pun berangkat ke sekolah bersama. Seperti biasa jika ada seorang laki-laki yang berjalan di dekat Fuyukawa-san, sudah pasti dia akan menjadi bahan tatapan seluruh murid Keiyou yang melihatnya.
Dari gerbang sekolah, aku sudah menarik perhatian semua murid karena bersama dengan Fuyukawa-san. Mereka hanya melihatku dan mulai berbisik. Sepertinya kejadian ini akan terus berlanjut jika aku di dekatnya.
Daripada memikirkan hal itu, lebih baik fokus untuk studi sosial yang sudah ada di depan mata.
Rabu, 8 Juni, merupakan hari di mana trip studi sosial dilaksanakan. Sebelumnya, setiap murid kelas dua diwajibkan untuk mengisi suatu kuisioner untuk menentukan tempat studi sosial yang akan dituju. Hasilnya, aku akan menuju pembangkit listrik yang ada di Kawasaki, Prefektur Kanagawa. Kelompok sudah ditentukan oleh guru yang terdiri dari tiga orang dan setiap murid bergerak bersama anggota kelompok masing-masing.
Kami berangkat ke tempat studi sosial menggunakan bus yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah. Di dalam bus, aku sama sekali tidak melihat wajah dari sesorang yang kukenal, tapi itu bukanlah masalah. Dua orang murid laki-laki yang sekelompok denganku dengan santainya mengajakku berbicara. Ini kesempatan bagiku untuk mendapatkan teman dari kelas yang berbeda.
Setiba di pembangkit listrik, kami mengikuti pemandu kami yang berasal dari pembangkit listrik ini. Dia membawa kami melihat satu per satu peralatan dan menjelaskan proses yang terjadi.
Pembangkit listrik ini menggunakan energi termal untuk menghasilkan listrik. Air dipanaskan untuk menghasilkan uap air yang kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin. Turbin mengubah energi gerak menjadi energi listrik. Energ listrik ini kemudian dikirim di sepanjang saluran transmisi listrik dan melalui gardu ke rumah pelanggan.
Dengan pergi ke tempat ini rasanya membuat ilmuku semakin bertambah.
Setelah semua agenda untuk studi sosial ini selesai, kami kembali ke sekolah. Wajah murid-murid terlihat begitu senang karena mereka baru saja melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Aku juga demikian.
Bus kami merupakan bus yang terakhir tiba di sekolah. Banyak bus sudah keluar dari sekolah karena sudah mengantar kembali murid-murid dan beberapa murid juga ada yang mulai meninggalkan sekolah.
Setelah turun dari bus dan mengatakan selamat tinggal untuk dua orang teman sekelompokku, di perkarangan depan sekolah, kulihat kerumunan orang yang tidak biasa. Ada banyak orang yang kukenal sedang berkumpul di depan pintu masuk Gedung Utama. Di sana ada Taka, Fuyukawa-san, Mizuno-san, Seto-san, Namikawa-san, Kayano-san, Taniguchi-san, Nazuka-san, dan Shimizu-san. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu. Karena ingin menyapa mereka selagi mereka bersama, aku mendekat ke arah mereka.
“Fuyukawa-san, sebenarnya kamu, kan? Gadis yang diselamatkan Amamiya-kun.”
Apa yang baru saja kudengar?
Fuyukawa-san adalah gadis yang kutolong waktu itu?
Apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan?