Second Chance in My High School Life

Second Chance in My High School Life
Episode 13



1




Akhir pekan telah datang kembali. Aku kembali melakukan pekerjaan mingguan di hari Sabtu, dimulai dari mencuci pakaian, membersihkan tempat tidur dan kamar, dan menjemur pakaian. Waktu berjalan begitu cepat karena pekerjaan ini yang tanpa kusadari jam telah menunjukkan pukul 12 siang. Ya, waktu memang berjalan dengan sangat cepat diri kita sedang menikmati sesuatu. Tentu saja pekerjaan ini kunikmati, jika tidak maka tidak akan kulakukan.



Karena sudah jam 12 siang, saatnya memasak untuk makan siang. Bahan makanan tinggal sedikit, namun ini bukanlah masalah besar. Hanya perlu buat apa saja yang bisa dimakan, lagi pula hari ini aku tidak berniat untuk pergi ke mana-mana, kecuali nanti malam untuk berburu bahan makanan di jam diskon kawasan belanja.



Sambil makan, aku terpikirkan tentang hasil pertandingan Fuyukawa-san dan kawan-kawan, dari tim bola basket dan bola voli putri. Sampai sekarang, salah satu dari mereka belum memberikan kabar apa-apa kepadaku. Ada beberapa kemungkinan kenapa belum ada kabar dari mereka.



Pertama, pertandingannnya belum dilaksanakan. Kedua, pertandingannya sudah selesai namun mereka kelelahan. Ketiga, mereka tidak sempat mengabari karena hari ini ada pertandingan lanjutan karena menang di pertandingan pertama. Keempat, mereka tidak ingin memberitahu kabar buruk kalau mereka kalah. Semuanya mungkin saja.



Setelah selesai makan dan melamun sebentar, aku mencuci peralatan untuk makan dan memasak, setelah itu berbaring di tempat tidur sambil menunggu kabar dan pakaian menjadi kering.


Menunggu itu hal yang membosankan, ya…



Rasanya mataku mulai berat. Aku mulai mengantuk. Ya, ini memang ngantuk. Lebih baik tidur siang sebentar. Dengan begitu, waktu akan berjalan sangat cepat.



Aku terbangun dari tidur siangku dan melihat jam di ponselku menunjukkan pukul 15:22. Tidak ada pesan masuk, maupun panggilan tak terjawab.



Memikirkan sesuatu yang tidak jelas seperti ini tidak ada gunanya. Kutunggu saja kabar dari mereka. Sekarang saatnya mengambil pakaian yang sudah dan kering dan mulai menyetrika pakaian agar tidak kusut dan tidak ada waktu yang terbuang, mengingat aku belum mengisi kuisioner yang diberikan Sakamoto-sensei.



Angin yang masuk melalui beranda ke dalam kamar membuatku merasakan kalau musim panas sudah sangat dekat. Tibanya musim panas, maka seragam pun berganti ke seragam musim panas.



Angin yang masuk menyejukkan sedikit tubuhku. Aku terus melanjutkan menyetrika pakaian ini hingga selesai pukul 5 sore, lalu kumasukkan ke dalam lemari. Tetap belum ada kabar yang datang.



Kuingat kembali kata-kata Shiraishi-san kemarin tentang aku yang sudah membantu tim bola voli putri latihan. Saat itu aku tidak bisa memberi banyak hal kepada mereka karena aku hanya seorang murid yang menyukai olahraga bola voli. Meskipun begitu, kurasa di hari terakhir menjadi pelatih mereka, permainan mereka semakin membaik. Pasti mereka bisa meraih kemenangan. Kalau tim bola basket putri, mungkin tidak terlalu perlu kupikirkan, mengingat mereka bermain sangat bagus saat pertandingan latihan April lalu.



Sambil beristirahat, aku teringat kalau sudah hampir dua bulan berada di Tokyo. Sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di sekitar sini. Banyak hal telah terjadi sejak aku kembali ke SMA Akademi Keiyou. Dari awalnya yang seorang diri, sekarang aku sudah memiliki teman.



Ponselku yang kuletakkan di atas meja bergetar karena ada panggilan masuk. Saat kulihat, yang meneleponku adalah Taniguchi Hitoka-san. Gadis pertama yang meneleponku langsung di saat aku telah memiliki ponsel.



“Halo, Taniguchi-san?”



[“Amamiya-kun, kami menang!!!”] Taniguchi-san terdengar sangat gembira.



“Wah, selamat ya… aku ikut senang.”



[“Makasih. Kami semua senang banget.”]



“Syukurlah. Oh iya, pertandingannya baru aja selesai?”



[“Iya. Pertandingan kami diundur ke hari ini. Dan juga…”]



“Dan juga?”



[“Kami menang di dua pertandingan hari ini.”]



“Eh… hebat. Nazuka-san dan Shimizu-san gimana?”



[“Permainan mereka berdua bagus banget tadi. Ini semua berkat pelatihanmu, Pelatih Amamiya.”]



“Ah, bukan. Ini semua berkat kerja keras kalian. Aku malahan ngga ngelakuin apa-apa.”



[“Tapi tetap aja karena kamu melatih kami dan menyuruh kami menang. Rasanya senang banget bisa menang.”]



“Gitu, ya… um, aku ikut senang juga karena bisa jadi bagian dari kemenangan kalian. Ngomong-ngomong, gimana perasaan pelatih kalian?”



[“Pelatih kami sampai nangis karena kami menang.”]



“Mm… semangat untuk pertandingan selanjutnya.”



[“Iya. Oh iya, Amamiya-kun, tentang janji waktu itu.”]



“Mm, aku ingat, kok. Nemanin Taniguchi-san belanja, kan?”



[“Ah, um, iya...”]



“Nanti kabarin aja lagi biar bisa kita cocokkan waktunya.”



[“Iya. Makasih, ya, Amamiya-kun.”]



“Um…”



[“Udah dulu, ya. Sampai jumpa di sekolah.”]



“Ya, sampai jumpa lagi.”



Taniguchi-san menutup teleponnya.



Saat berbicara dengannya, nada suaranya begitu ceria. Aku tidak pernah mendengar dia berbicara seperti itu. Pasti ekspresi wajahnya penuh dengan senyuman sekarang, baik Nazuka-san maupun Shimizu-san. Dengan begini, pemain tim bola voli putri tidak akan berhenti lebih cepat seperti murid kelas tiga yang sekarang. Bagi murid kelas dua sekarang, mereka masih bisa bermain hingga Turnamen Inter High tahun depan. Semoga mereka bisa meraih hasil yang bagus.



Matahari sudah berada di ufuk barat yang membuat warna senja mewarnai langit kota ini. Secara perlahan cahaya matahari mulai memudar dan warna oranye ini hilang, digantikan dengan warna biru gelap. Malam pun tiba. Baiklah, saatnya memasak untuk makan malam, lalu berbelanja bahan makanan di kawasan belanja.



Aku keluar dari kamar apartemenku pukul 8:30 malam. Terus berjalan hingga tiba di kawasan belanja yang terlihat mulai ramai dikunjungi oleh orang yang sebagian besar adalah para wanita. Karena masih belum pukul semibilan malam, waktu diskon belum diberlakukan, aku mengelilingi kawasan belanja ini dengan harapan mendapatkan sesuatu.



“Kamu Amamiya-kun, kan?”



Terdengar suara seorang wanita dari dekat, tepatnya dari arah kiri diriku yang sedang berjalan menyusuri pertokoan di kawasan belanja ini. Saat kulihat ke sumber suara itu, terlihat seorang wanita yang sedang memegang barang belanjaannya. Seorang wanita yang pernah kutemui sebelumnya.



“Ah, ibunya Fuyukawa-san. Selamat malam.” Aku langsung membungkukkan badanku ke arahnya.



Tidak kusangka malam ini aku bertemu dengan ibunya Fuyukawa-san di kawasan belanja ini. Apa ada terjadi sesuatu pada Fuyukawa-san yang membuatnya tidak pergi berbelanja di malam ini?



“Mau belanja, ya, nak?”



“Iya, Bibi. Karena belum waktu diskon, jadi keliling aja dulu. Oh iya, Fuyukawa-san tidak ikut?”



“Oh, begitu. Yukina tidak ikut. Kamu tidak dapat kabar darinya?”



“Kabar? Tidak ada.” Sepertinya terjadi sesuatu.



“Saat pertandingan basket tadi siang, kakinya Yukina mengalami cedera.”



“Eh? Cederanya tidak parah, kan, Bibi?” Nah, seperti dugaanku kalau terjadi sesuatu pada Fuyukawa-san. Karena itulah mungkin dia tidak mengatakan apa-apa kepadaku.



“Iya, tidak parah. 2-3 hari istirahat, kakinya sudah baikan lagi.”



“Syukurlah. Pertandingannya bagaimana? Tim bola basket putri menang?”



“Mereka menang. Setidaknya kalau Yukina beristirahat, dia bisa bermain di pertandingan selanjutnya. Begitu kata dokter.”



Kemungkinan pertandingan selanjutnya di hari Rabu atau Kamis. Kalau memang dengan beristirahat 2-3 hari bisa memulihkan kakinya Fuyukawa-san, maka dia akan bisa tampil di pertandingan berikutnya. Tapi, apakah tidak apa-apa langsung tampil di pertandingan langsung? Aku sedikit khawatir. Semuanya tergantung keputusan pelatih mereka.



“Begitu ya… semoga Fuyukawa-san cepat baikan.”



“Terima kasih, Amamiya-kun. Kamu anak yang perhatian, ya, nak…”



“Ah, um, bukannya sudah sewajarnya perhatian dengan teman sekelas?”



“Iya, benar. Mulai sekarang, tolong bantu Yukina kalau ada masalah, ya, nak…”



“Um, ya, Bibi.”



“Baiklah, sebentar lagi sudah mau pukul sembilan. Bibi juga mau belanja.”



“Ah, iya.” Aku melihat jam di ponselku. Lima menit menuju pukul sembilan malam.



“Amamiya-kun…”



“Ya, Bibi?”



“Sini ikut Bibi belanja. Ada toko yang menjual sayuran dan ikan di sana.” Ibunya Fuyukawa-san menunjuk ke arah dalam kawasan belanja. Arah itu menuju tempat yang dikatakan Fuyukawa-san waktu itu.



“Ah, saya juga ingin ke sana. Waktu itu Fuyukawa-san yang memberitahukannya.”



“Begitu ya… kalau begitu, ayo ke sana.” Ibunya Fuyukawa-san mulai tersenyum.



“Iya, Bibi.”



Akhirnya aku pergi ke toko yang pernah Fuyukawa-san beritahukan kepadaku bersama dengan ibunya. Keadaan macam apa ini yang telah membawaku berbelanja bersama dengan ibunya Fuyukawa-san.



Setelah selesai berbelanja bahan makanan, aku dan ibunya Fuyukawa-san meninggalkan kawasan belanja ini dan berjalan ke jalan utama.



“Amamiya-kun, kamu pergi dengan berjalan kaki?”



“Iya, Bibi.”



“Bibi bawa mobil. Biar bibi antar kamu, nak.”



“Eh, tidak apa-apa, kok, Bibi.”



“Tidak apa-apa, nak. Tempat tinggalmu di Daikan’yama, kan?”



“Iya…”



“Biar Bibi antar saja sekalian.”



“Ah, um, baiklah, Bibi. Terima kasih.”



“Ayo…”



Aku mengikuti ibunya Fuyukawa-san ke arah mobil yang terparki di tempat parkir mobil yang letaknya beberapa meter ke depan dari kawasan belanja. Masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan samping setir. Tempat setir mobil ini berada di sebelah kiri. Sepertinya mobil ini buatan Eropa. Dan akhirnya, aku diantar kembali ke apartemenku dengan mobil ibunya Fuyukawa-san.



“Jadi, kamu tinggal di apartemen, ya, nak?”



“Iya, Bibi.”



“Sendiri?”



“Iya.”



“Pasti berat, ya?”



“Iya, untuk awalnya. Sekarang sudah terbiasa.



Setelah memberitahukan alamat apartemenku, ibunya Fuyukawa-san langsung mengantarkanku tepat di depan apartemenku.



“Terima kasih, Bibi.”



“Sama-sama, nak.”



“Oyasuminasai.”



Setelah keluar dari mobil, aku berdiri di samping jalan menunggu mobil ibunya Fuyukawa-san pergi. Setelah mobil itu berjalan, barulah aku masuk ke kamarku yang berada di lantai lima apartemen ini.



Setelah masuk dan mengunci pintu kamar, semua bahan makanan yang kubeli tadi langsung kumasukkan ke dalam kulkas.



Aku tiduran di tempat tidur sambil memikirkan tentang Fuyukawa-san. Kenapa dia tidak mengabariku tentang turnamen itu dan cedera yang dialaminya. Mungkin lebih baik jika aku yang menanyakannya langsung tadi sore. Kalau kukirim pesan sekarang ke Fuyukawa-san, rasanya sedikit aneh karena ini sudah malam. Dia juga pasti penasaran dari mana aku bisa mengetahui tentang cederanya. Semakin sulit untuk mengirimnya pesan.



Kalau dipikir-pikir lagi, ibunya Fuyukawa-san mungkin memberitahukan kepada Fuyukawa-san kalau dirinya bertemu denganku di kawasan belanja tadi dan menanyakan tentang Fuyukawa-san. Mungkin sekarang Fuyukawa-san sedang bebicara dengan ibunya tentang aku yang sudah mengetahui kalau dia mengalami cedera kaki.



Ponselku bergetar sehingga mengejutkanku. Aku sampai lupa kalau ponselku masih di saku celana. Malam-malam begini ada yang telepon merupakan hal yang pertama terjadi pada hidupku. Etto, ini… yang meneleponku adalah Fuyukawa Yukina-san. Eh… kenapa ini tiba-tiba.



Aku bangun dari posisi tiduran ke posisi duduk di tempat tidur. Baiklah, ayo angkat teleponnya.



[“Amamiya-kun!”] Suara Fuyukawa-san terdengar sangat tegas.



“Selamat malam, Fuyukawa-san. Ada apa malam-malam begini telepon?” Aku menjawabnya dengan nada bicara yang santai seperti biasa.



[“Kamu ketemu ibuku di kawasan belanja tadi?”]



“Iya, benar.” Ternyata seperti yang kupikirkan tadi.



[“Ah, ternyata benar, ya…”] Nada bicara Fuyukawa-san menurun.



“Aku dengar dari ibumu katanya kakimu cedera. Kamu engga apa-apa, kan, Fuyukawa-san?”



[“Iya, cederanya engga parah, kok.”]



“Syukurlah kalau begitu. Jangan terlalu maksain dirimu, Fuyukawa-san. Sekarang harus sembuh dari cedera kaki. Kalau cedera lagi, mungkin bisa lebih parah. Aku engga mau itu terjadi padamu.”



[“Ah, um, makasih, Amamiya-kun.”]



“Ah, iya… seharusnya kamu bilang ke aku. Aku nungguin dari siang sampai malam kabar darimu.”



[“Maaf, Amamiya-kun. Aku engga berani bilang ke kamu.”]



“Aku khawatir, lho. Setidaknya karena aku udah dengar dari ibumu, sedikit membuatku lega.”



[“Maaf… aku cuma engga mau kamu khawatir. Maaf udah membuatmu khawatir juga.”]



“Iya, aku maafin, kok. Lain kali, kabarin aku, ya, Fuyukawa-san? Aku juga ingin bantu kamu.”



[“Makasih, Amamiya-kun.”]



“Um, sama-sama.”




“Baguslah kalau begitu. Aku senang dengarnya.”



[“Hehe… sekali lagi, makasih, ya, Amamiya-kun. Selamat tidur.”] Nada suara Fuyukawa-san kembali naik. Sepertinya dia kembali ke Fuyukawa-san yang ceria.



“Iya. Selamat tidur.”



Pembicaraan kami di telepon akhirnya terhenti.



Aku senang Fuyukawa-san bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan walaupun aku sudah mendengar duluan dari ibunya. Setidaknya kuingin dia bisa mengandalkanku. Bukannya dulu dia ingin menjadi temanku? Kalau begitu, dia harus mengandalkanku seperti apa yang dia katakan padaku waktu itu untuk mengandalkan dirinya. Semoga cederanya bisa cepat sembuh dan bisa kembali tampil di pertandingan selanjutnya.



Baiklah, kumatikan semua lampu dan tidak lupa mengecas baterai ponselku. Saatnya tidur.







2




Akhir pekan memang selalu berakhir lebih cepat. Tanpa sadar, sekarang sudah hari Senin. Saatnya kembali ke kegiatan sehari-hariku berupa seorang pelajar.



Sesampai di kelas, murid-murid kelas sedang berbicara mengenai pertandingan bola basket dan bola voli. Jujur saja, aku tidak terlalu paham mengenai sistem turnamennya. Saat dulu di SMP, aku hanya mengikutinya karena diminta bantu saja, tanpa menjelaskan sistem turnamennya. Wajar kalau sampai sekarang aku tidak tahu apa-apa mengenai sistemnya.



Aku duduk di kursi dan meletakkan tas di gantungan tas di meja dan mulai menopang dagu di tangan kiriku sambil melihat keadaan kelas ini. Seseorang yang selalu menyapaku di pagi hari ini tidak ada. Fuyukawa-san mungkin saja tidak hadir karena cedera. Memikirkannya saja membuatku semakin khawatir.



Aku melihat Nazuka-san dan Shimizu-san berjalan ke arahku.



“Amamiya-kun, kemarin kami menang.” Shimizu-san mengatakannya dengan nada gembira.


“Rasanya sangat menyenangkan.” Nazuka-san juga mengatakannya dengan gembira.



“Selamat ya. Setelah pertandingan waktu itu, Taniguchi-san meneleponku untuk kasih tau hasil pertandingannya.”



“Eh, jadi kamu sudah tau, ya? Padahal aku ingin ngagetin kamu, Amamiya.” Shimizu-san tampak kecewa di raut wajahnya.



“Haha… semangat untuk pertandingan selanjutnya, Shimizu-san, Nazuka-san.”



“Um, kami akan berusaha untuk menang lagi. Ya, kan, Izumi?”



“Tentu saja.”



Melihat ekspresi mereka berdua aku menjadi senang dan tersenyum. Pasti mereka bisa menang lagi.



“Pagi, semuanya...!” terdengar suara yang tidak asing dari pintu masuk kelas. Suara yang selalu mengatakan selamat pagi kepadaku. Aku memalingkan pandanganku ke arah pintu dan kulihat di sana adalah Fuyukawa-san. Tanpa sadar aku sudah berdiri sambil melihat ke arahnya. Dengan langkah yang pelan dia berjalan menuju tempat duduknya.



“Pagi, Amamiya-kun.”



“Pagi, Fuyukawa-san. Kakimu engga apa-apa?”



“Um. Lagian cederanya juga engga terlalu parah, kok.”



“Syukurlah.”



“Eh, kenapa dengan kakinya Fuyukawa-san?” Shimizu-san sepertinya tidak tahu. Dia begitu penasaran. Bahkan Nazuka-san memasang wajah penasaran sambil melihat ke arah kakinya Fuyukawa-san.



“Saat pertandingan terakhir kemarin, kakiku cedera sedikit. Tapi sekarang sudah baikan. Aku bisa tampil di pertandingan selanjutnya.”



“Syukurlah kalau begitu.”



“Ya, syukurlah.”



Kemudian Fuyukawa-san duduk di kursinya, begitu juga denganku. Melihat keadaanya sekarang membuatku sedikit lebih lega. Semoga dia bisa tampil di pertandingan selanjutnya tanpa ada masalah.



“Ah, Nazuka-san, Shimizu-san, kemarin kalian menang, kan? Selamat ya!”



“Iya, makasih Fuyukawa-san.”



“Kami akan berusaha menang lagi di pertandingan selanjutnya.”



“Ayo sama-sama berusaha, Nazuka-san. Shimizu-san juga.”



“Tentu saja.”



Aku hanya bisa diam mendengar mereka berbicara tentang kegiatan dari klub mereka. Walaupun aku masuk klub, tapi kegiatan klub tersebut sungguhlah tergantung dari adanya orang yang meminta bantuan atau tidak. Jika tidak ada orang yang meminta bantuan, maka aku hanya diam sambil membaca buku untuk menghabiskan waktu.



Semakin dekat hubungan seseorang dengan seseorang yang lain maka semakin mudah baginya untuk khawatir tentang seseorang itu. Apa benar kalau hubunganku dengan Fuyukawa-san, Shimizu-san, dan lainnya menjadi semakin dekat? Aku sendiri masih sedikit meragukannya. Kalau dipikir-pikir lagi, sudah banyak hal yang berubah sejak aku mulai berteman dekat dengan mereka, terlebih dengan Fuyukawa-san. Dari awal, ini merupakan doaku saat mengunjungi Meiji Jingu. Mungkin dewa telah mendengarnya.



“Ah, iya, Amamiya-kun!”



“Mm? Ada apa, Shimizu-san?”



“Kami kan menang…”



“Iya…”



“Janjimu dengan Hitoka masih ingat, kan?”



“Ya, tentu saja.”



“Baiklah.”



Shimizu-san dan Nazuka-san hanya tersenyum-senyum, sedangkan Fuyukawa-san memiringkan kepalanya dengan ekspresi penuh tanda tanya.



“Janji dengan Hitoka? Taniguchi Hitoka dari kelas 2-C?” Fuyukawa-san bertanya.



“Iya, Fuyukawa-san.”



“Iya… Hitoka bilang kalau tim voli putri menang, Amamiya-kun harus berkencan dengannya.”



“Eh?” Fuyukawa-san terkejut dengan apa yang dikatakan Shimizu-san.



“Bukan kencan, tapi nemanin Hitoka belanja, Sumire.”



“Ah, iya, belanja. Hahaha…”



“Begitu ya, Amamiya-kun?”



“Um, iya.”



“Heh…”



“Ada apa ini? Kayaknya lagi seru, nih.” Mizuno-san datang menuju tempat kami untuk masuk ke dalam pembicaraan kami.



“Ah, Mizuno-san. Ini nih, tentang janjinya Amamiya-kun dengan Hitoka.” Shimizu-san langsung menjelaskannya dengan santai.



“Hitoka dari kelas 2-C? Janji apa emangnya, Amamiya-kun?”



“Nemanin Taniguchi-san belanja karena tim voli putri menang.”



“Belanja, ya?” Mizuno-san tersenyum-senyum.



“Iya, belanja. Dan, kenapa kamu senyam-senyum sendiri, Mizuno-san?”



“Hahaha… habisnya, kamu lucu, Amamiya.”



“Eh? Kenapa emangnya?”



“Itu jelas-jelas ajakan untuk kencan. Ya, engga?”



“Haha… iya.”



“Kamu cuma engga sadar aja, Amamiya-kun.”



Nazuka-san dan Shimizu-san tertawa dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mizuno-san, tapi sepertinya tidak dengan Fuyukawa-san.



Berbeda dengan Mizuno-san, Nazuka-san, dan Shimizu-san yang tertawa, Fuyukawa-san hanya diam sambil memerhatikan dan mendengarkan obrolan kami dengan raut wajah seperti ingin mengatakan sesuatu.



“Benerkah? Aku engga pikir seperti itu. Saat itu Taniguchi-san bilang nemanin belanja.”



“Sebelumnya Hitoka bilang untuk kencan, kan, Amamiya-kun?” Shimizu-san mencoba membuatku untuk mengingat kembali kejadian di ruang klub saat itu.



“Hm…” Aku mulai memikirkannya. Saat mulai berpikir, tangan kananku kuletakkan di daguku.



Memang saat itu Taniguchi-san bilang untuk berkencan dengannya. Tapi, dia kemudian menarik kembali perkataannya dengan menggantinya untuk menemani dia belanja. Jadi, apa yang benar? Kalau diteliti lebih lanjut maka perkataannya yang pertama merupakan keinginannya, yaitu untuk berkencan. Mungkin itu yang diinginkannya. Tapi kalau rasanya aku tidak perlu terlalu curiga terhadapnya. Mau orang lain bilang itu kencan, setidaknya aku tidak mengganggapnya seperti ini. Hanya menemaninya belanja saja.



“Gimana, Amamiya-kun?”



“Ah, iya, Taniguchi-san memang bilang untuk berkencan dengannya.”



“Nah…”



“Hahaha, akhirnya kamu sadar.”



“Jadi, gimana?”



“Gimana apanya, Nazuka-san?”



“Tetap pergi?”



“Tentu saja. Aku sudah janji dengan Taniguchi-san. Janji harus ditepati.”



“Kamu pernah kencan sebelumnya, Amamiya-kun?” Fuyukawa-san yang dari tadi diam, sekarang mencoba bertanya.



“Tentu saja belum pernah.”



“Oh, begitu…”



“Sudah nentuin kapan waktunya?” Mizuno-san sangat penasaran dengan hal ini.



“Belum. Mungkin nanti habis turnamennya.”



“Ah, um, pasti begitu, ya. Lagian kualifikasi untuk mewakili Tokyo di Inter High masih lanjut.”


“Kualifikasi? Sebenarnya aku sendiri masih belum paham sistem turnamen Inter High.”



“Oh, kamu belum ngerti ya, Amamiya-kun? Sekarang kami semua masih berebut tempat untuk mewakili SMA dari Tokyo untuk bertanding di Inter High yang turnamennya skala nasional.”



“Jadi, pertama-tama di tingkat prefektur dulu, terus ke nasional?”



“Iya, seperti itu. Setelah itu, barulah Inter High yang dilaksanakan di bulan Agustus di Gedung Olahraga Nasional Tokyo.”



Mizuno-san menjelaskan dengan sangat jelas sehingga membuatku mengerti semuanya. Jika mereka bisa terus menang dan menjadi juara di tingkat prefektur, maka mereka bisa mendapatkan tiket untuk bertading di level nasional.



“Oh, aku ngerti sekarang. Makasih, Mizuno-san.”



“Iya, sama-sama.”



“Ah, iya, Fuyukawa-san, jangan sampai cedera lagi, ya? Kamu kan ‘ace’ dari tim basket putri.”



“Ah, um, iya, Amamiya-kun.”



“Ufufu…” Mizuno-san tertawa lagi sambil meletakkan tangan di depan mulutnya.



“Kenapa Atsuko? Ada yang aneh?”



“Ah, engga, cuma lucu aja liat tingkahmu ke Amamiya, Yukina.”



“Eh?” Aku sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Mizuno-san.



“Lucu kenapa juga?”



“Sebenarnya aku juga sepikiran dengan Mizuno-san.”



“Aku juga.”



Bahkan Shimizu-san dan Nazuka-san berpikiran sama seperti Mizuno-san. Mungkin bagi mereka yang sudah mengenal Fuyukawa-san sejak kelas satu, pasti mereka lebih tahu. Terlebih bagi Mizuno-san yang sudah seklub dengan Fuyukawa-san.



“Kamu jadi lebih penurut, Yukina. Kemarin saat kakimu cedera, kamu keras kepala supaya jangan diganti karena masih bisa lanjut.”



“Itu karena…”



Saat Fuyukawa-san masih ingin melanjutkan perkataannya, aku memotongnya.



“Beneran begitu.”



“Iya, Amamiya. Yukina kadang-kadang keras kepala juga. Ya, pada akhirnya Yukina juga ditarik keluar setelah kami paksa.”



“Syukurlah. Kalau Fuyukawa-san tetap ingin bermain, cederanya bisa jadi lebih parah. Jangan terlalu memaksakan diri, Fuyukawa-san.”



“Ah, um, baiklah.” Fuyukawa-san menjawabnya dengan nada yang pelan.



Tidak lama kemudian, bel berbunyi yang menandakan bahwa pelajaran pertama akan segera dimulai.



Semoga hari ini menjadi hari yang menyenangkan.