
Chapter 11
Beberapa Orang Mulai Peduli Kepada
Amamiya Ryuki
1
Pagi datang.
Suasana di kamar apartemenku yang sunyi ini berubah saat alarm ponsel berbunyi untuk membangunkanku. Aku langsung bangun, merapikan tempat tidur, dan memulai latihan pagi seperti biasa.
Walaupun aku tidur sedikit lebih lama daripada biasanya, sepertinya rasa lelah di tubuh ini belum hilang sepenuhnya. Sepertinya aku terlalu memaksakan diri kemarin.
Setelah memasak dan memakan sarapanku, aku berangkat ke sekolah. Tentu saja peralatan untuk masak dan makan telah kucuci langsung sesaat aku selesai.
Langkah kakiku sedikit berat karena kondisi tubuh seperti ini. Pasti tiba ke sekolah akan lebih lama daripada biasanya. Dan juga, aku harus membantu klub bola voli putri lagi untuk latihan sepulang sekolah nanti. Sepertinya, hari ini akan menjadi hari yang melelahkan juga, seperti kemarin.
Setelah berjalan mengikuti rute jalan menuju sekolah yang selalu kugunakan, aku tiba di sekolah sekitar pukul 8:25 pagi. Aku pergi sekitar pukul 7:45 pagi yang berarti memakan waktu sekitar 40 menit untuk sampai di sekolah. Setidaknya aku tidak telat.
Seperti biasa, Agitsu-sensei berdiri di dekat gerbang sambil melihat murid-murid yang masuk. Banyak murid yang mengatakan “selamat pagi” kepada Agitsu-sensei. Aku pun demikian. Setelah itu barulah aku menuju ruang kelasku, kelas 2-D.
Setelah mengganti sepatu dengan uwabaki, aku langsung menuju kelas dengan sedikit berlari. Hari ini suasana di lorong pun ramai.
Memasuki kelas sambil mengatakan “selamat pagi,” teman sekelasku membalasnya. Rasanya sangat senang saat mereka membalas sapaanku.
Susana di kelas 2-D di pagi hari ini juga ramai. Mereka seperti membicarakan sesuatu tentang turnamen. Oh iya, karena ujian tengah semester sudah selesai, maka turnamen Inter High juga akan dimulai. Aku sedikit tertarik dengan kompetisi itu karena orang yang kukenal berada di klub bola voli putri dan klub bola basket putri. Mereka pasti berlatih dengan keras. Semoga kemanangan bisa diraih.
Tidak lama kemudian, bel berbunyi. Semua murid kelas 2-D tanpa kusadari sudah berada di kelas semua. Pelajaran pertama pun akan dimulai.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seorang murid saat berada di sekolah yang bertujuan untuk memperoleh ilmu yang dapat membuatnya bersaing di dunia kerja nantinya, atau untuk dapat melanjutkan ke universitas.
Belajar itu memerlukan energi. Saat kita sedang berkonsentrasi, energi semakin berkurang karena dikonsumsi oleh otak. Energi yang dikonsumsi oleh otak manusia saat belajar bisa lebih banyak jika dibanding dengan tubuh manusia yang melakukan olahraga.
Dengan kondisi tubuh seperti ini, otakku sedikit mengalami gangguan konsentrasi yang membuatku sedikit kurang memahami apa yang diajarkan oleh guru yang sedang mengajar sekarang. Padahal sudah sarapan, tapi tetap saja ada yang mengganggu.
Mengingat nanti sepulang sekolah harus membantu klubnya Nazuka-san, aku harus istirahat tambahan.
“Amamiya-kun, kamu gak apa-apa?”
Fuyukawa-san berbicara kepadaku dengan suara yang pelan karena masih ada guru di kelas. Sepertinya dia menyadari kalau aku berbeda hari ini.
“Aku sedikit lelah aja. Gak apa-apa.”
“Tapi, mukamu pucat, lho…”
“Eh, beneran? Mungkin aku harus ke UKS kalau gitu.”
“Sensei… Amamiya-kun sedikit kurang enak badan. Boleh ke UKS?”
Fuyukawa-san langsung mengatakannya kepada Sensei. Seketika pembelajaran berhenti dan seluruh murid kelas ini juga melihat ke arahku.
“Amamiya-kun, ya? Dari tadi Sensei lihat juga seperti kamu kurang bersemangat.”
“Ah, iya, Sensei.”
“Kalau begitu, Fuyukawa-san, antar Amamiya-kun ke UKS, ya, tolong.”
“Baiklah, Sensei. Ayo, Amamiya-kun.”
“Eh? Aku pergi sendiri aja gak apa-apa kok.”
“Udahlah, nurut aja. Sensei juga nyuruh gitu.”
“Ah, ya sudah.”
Aku berdiri dari kursi dan juga Fuyukawa-san. Kami berdua meninggalkan kelas menuju ke Ruang UKS.
Tanpa sadar, padanganku mengarah ke Nazuka-san dan Shimizu-san sebelum meninggalakan kelas. Ekspresi wajah mereka sedikit ketakukan. Jangan bilang kalau mereka menyalahkan diri mereka karena membuatku membantu mereka hingga aku kelelahan begini. Semoga saja mereka berdua tidak berpikir seperti itu.
Aku dan Fuyukawa-san tiba di Ruang UKS. Mitsui-sensei yang berada di dalam ruangan ini seperti kaget saat melihat kami masuk ke ruangan ini.
“Ada apa, Fuyukawa-san?”
“Ah, Mitsui-sensei… Amamiya-kun kurang enak badan, katanya.”
“Hm…” Mitsui-sensei mendekat ke arahku. Kemudian Sensei meletakkan telapak tangannya ke dahiku. “Sepertinya kamu hanya kelelahan saja, Amamiya-kun. Beristirahatlah dulu di sini,” tambahnya.
“Um, baiklah, Sensei.”
Aku diarahkan oleh Mitsui-sensei ke tempat tidur yang ada di ruang ini. Setiap tempat tidur terdapat tirai untuk menutupi tempat tidur. Aku membuka blazerku dan meletakkannya di kursi dekat tempat tidurku, lalu langsung berbaring karena badanku yang terasa semakin berat untuk digerakkan.
Fuyukawa-san masih berada di sampingku, sedangkan Mitsui-sensei sudah kembali ke mejanya. Sepertinya Fuyukawa-san punya sesuatu yang ingin dikatakan.
“Amamiya-kun, boleh kutanya sesuatu?”
“Ah, boleh.”
“Kenapa kamu kemarin bersama klub voli putri?”
“Shimizu-san dan Nazuka-san minta bantuan ke klub bantuan karena pelatih mereka ngga bisa hadir. Karena aku ada sedikit pengalaman di voli, aku bisa bantu mereka sedikit.”
“Oh, begitu ya…”
“Iya…”
“Udah, udah, tidur terus, Amamiya-kun. Maaf udah nanya gitu.”
“Ngga apa-apa. Makasih ya, Fuyukawa-san, udah antar aku ke ruangan ini.”
“Um, sama-sama.”
Setelah pembicaraan ini, Fuyukawa-san kembali ke kelas.
Aku tidur di tempat tidur Ruang UKS untuk pertama kalinya sejak kembali ke SMA Keiyou. Sejak kembali ke sekolah ini banyak hal yang telah terjadi. Saat mengingat kembali hal-hal apa saja itu membuat kelopak mataku semakin berat yang akhirnya menutup mataku.
2
Aku tidak tahu sudah berapa lama tidur di ruangan ini. Tirai yang ada di sekitar tempat tidur membuatku tidak bisa melihat ke arah luar. Lagi pula tempat tidurku berada di tengah, bukan di dekat jendela.
Saat bangun dari tidurku, badanku terasa sedikit lebih enak dan nyaman untuk digerakkan, walaupun belum sepenuhnya rasa lelah yang tadi itu hilang. Setidaknya aku bisa melanjutkan kegiatan belajar untuk hari ini dan membantu klub bola voli putri sepulang sekolah nanti.
Oh iya, ponsel. Aku lupa kalau ponselku ada di saku celana. Saat kulihat jam di ponselku, sekarang sudah masuk waktu istirahat siang. Berati kira-kira aku tidur selama tiga jam.
Setelah memakan blazerku kembali, aku beranjak dari tempat tidurku untuk keluar dari ruangan ini. Tidak ada seorang pun di sini. Ya, tentu saja karena sekarang waktu istirahat makan siang. Saat aku hendak menggeser pintu Ruang UKS untuk keluar, tiba-tiba pintu terbuka. Itu sedikit mengagetkanku. Yang muncul saat pintu terbuka adalah Shimizu-san dan Nazuka-san.
“Amamiya-kun, udah gak apa-apa?”
“Ah, um, udah baikan, kok, Shimizu-san.”
“Begitu ya… Aku dan Izumi sedikit khawatir apa karena membantu klub kami, kamu jadi kelelahan seperti itu.”
Ternyata Shimizu-san dan Nazuka-san khawatir karena hal itu. Dari awal ini salahku karena tidak bisa menahan diri. Sudah kelelahan, tapi tidak tahu batasannya. Seharusnya kemarin aku tidak ikut bermain atas ajakan pelatih klub bola voli putra.
“Ah, jangan khawatir. Ini salahku karena ngga bisa menahan dan mengatur diri sendiri. Latihan nanti sore bisa dilakukan, kok.”
“Beneran?” Nazuka-san sedikit mencurigaiku.
“Iya, benar. Kalau begitu, aku cuci muka dulu.”
“Baiklah…”
Aku meninggalkan mereka menuju toilet yang letaknya tepat di samping Ruang UKS. Setelah mencuci muka dan melihat wajahku di cermin, aku sadar kalau aku memang sangat kelelahan. Lebih baik aku ke kantin untuk makan siang. Bisa-bisa aku pingsan kalau tidak makan siang.
Saat aku keluar dari toilet, aku terkejut melihat Shimizu-san dan Nazuka-san yang berdiri di depan toilet. Mereka sepertinya menungguku.
“Amamiya-kun, ayo makan siang bareng.”
“Kami harus makan supaya rasa lelahnya hilang.”
Tidak kusangkan kalau Shimizu-san dan Nazuka-san mengatakan itu. Mereka berdua memang orang yang baik. Tidak ada alasan untuk menolak ajakan mereka.
“Baiklah. Ayo pergi!”
Akhirnya aku pergi ke kantin bersam Shimizu-san dan Nazuka-san. Entah kenapa rasa gugup dan canggung saat bersama mereka tidak kurasakan lagi. saat bersama Fuyukawa-san juga. Ini merupakan sebuah kemajuan.
Setelah memesan makanan dan minuman, kami mencari meja makan yang kosong. Aku melihat ke sekeliling kantin. Mataku secara otomatis berhenti saat kulihat seseorang yang kukenal yang sedang makan sendirian. Dia adalah Shiraishi-san. Pertama kalinya aku melihatnya makan di kantin. Dia sendirian tanpa seorang pun di mejanya. Seperi diriku yang dulu saat pertama kali kembali ke sekolah ini.
Nazuka-san menyadari kehadiran Shiraishi-san di kantin ini.
“Itu bukannya Shiraishi-san? Dia sendirian.”
“Ah, benar, Izumi. Ayo ke tempat dia makan.”
“Ayo, Amamiya-kun.”
“Ah, um…”
Kami bertiga melangkah ke meja tempat Shiraishi-san yang sedang memakan makan siangnya. Aku tidak tahu apakah berbaur dengan Shiraishi-san di tempat seperti ini merupakan pilihan yang tepat. Dari awal aku tidak terlalu kenal dengannya. Orangnya sangat tertutup dan aku tidak pernah melihat dirinya bersama temannya. Apa memang dia tidak punya teman di sekolah ini?
“Halo, Shiraishi-san. Boleh kami duduk di sini?”
Shimizu-san menanyakan itu langsung kepada Shiraishi-san yang sedang menyeruput mie udonnya.
“…”
Shiraishi-san terdiam sebentar untuk melihat situasi sekarang. Dia sepertinya kaget karena ada orang yang menghampirinya. Aku juga pernah berada di posisinya seperti itu.
“Silakan. Duduklah.”
Seperti biasa, Shiraishi-san menjawabnya dengan nada suaranya yang dingin.
“Makasih… Ayo duduk, Izumi, Amamiya-kun.”
“Iya…”
“Ah, um, baiklah…”
Shimizu-san dan Nazuka-san duduk di depan Shiraishi-san. Meja ini hanya mempunyai empat kursi, dengan kata lain aku harus duduk tepat di samping Shiraishi-san.
Ada apa dengan situasi ini. Walaupun aku seklub dengannya, bukan berarti aku sudah terbiasa dengan gadis yang bernama Shiraishi-san ini. Sampai saat ini, dia belum pernah memanggil namaku saat berbicara dengannya. Sampai muncul pemikiran kalau dia menolak kehadiranku.
“Shiraishi-san, sendirian aja?” Shimizu-san yang selalu ramah dengan semua orang mulai membuka pembicaraan dengan Shiraishi-san.
“Iya.” Shiraishi-san menjawabnya dengan singkat.
“Oh iya, tentang latihan nanti sore…”
“Tolong jangan bicara saat sedang makan.”
“Ah, um, maaf. Baiklah, ayo kita makan.”
Nada bicaranya sangat dingin. Saat mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya Shiraishi-san, aku yang berada di sampingnya sedikit menggigil, seolah-olah dia bisa membekukan seluruh kantin ini.
Shimizu-san pun akhirnya mengakhiri pembicaraan dengan Shiraishi-san dan mulai memakan makan siangnya. Nazuka-san terlihat santai dan sudah memakan makan siangnya dari tadi. Baiklah, ak juga mau makan dulu. Itadakimasu.
Suasana di meja ini berbeda dibandingkan dengan meja makan lainnya di kantin ini. Murid-murid makan sambil berbicara dengan teman-teman mereka. Terkesan ramai dengan pembicaraan anak muda. Sedangkan di meja kami ini hanya sunyi saja tanpa kata yang keluar dari mulut kami.
Tidak lama kemudian kami selesai memakan makan siang kami. Setelah itu, Shimizu-san mulai membuka mulutnya.
“Hey Shiraishi-san, mengenai latihan nanti, bisa kamu yang ambil alih?”
“Apa maksudmu?”
“Begini… Amamiya-kun tadi ngga enak badan. Dia istirahat di Ruang UKS dari pelajaran pertama tadi. Mungkin lebih baik kalau dia langsung pulang ke rumah sepulang sekolah nanti.”
Aaah, Shimizu-san membongkar semuanya.
“Apa benar begitu?”
“Ah, um, benar. Tapi…”
“Kalau begitu, biar aku yang ambil alih.”
“Bentar… Aku udah baik-baik aja, kok. Memang tadi aku ngga enak badan, tapi sekarang udah baikan.”
“Kamu yakin?”
“Beneran itu, Amamiya-kun?”
“Iya, aku yakin. Beneran, kok. Tadi kan udah kubilang saat Nazuka-san yang nanya.”
“Kalau kamu yakin, ya sudah.”
“Ngga perlu memaksakan diri juga, Amamiya-kun.”
“Iya, ini kan bukan klub mu juga.”
“Um, iya…”
Shimizu-san dan Nazuka-san sepertinya sangat perhatian. Dengan kata-kata mereka itu malah membuatku semakin ingin membantu mereka. Aku ingin klub mereka bisa menang di pertandingan turnamen nanti. Walaupun tidak menjadi juara, setidaknya mereka bisa memangnkan pertandingan yang bisa membuat para juniornya di klub itu semakin ingin menjadi pemenang nantinya.
Ngomong-ngomong, sepertinya di klub bola voli putri tidak ada lagi para murid kelas tiga. Aku pun penasaran tentang hal ini dan mencoba bertanya kepada Shimizu-san dan Nazuka-san.
“Oh iya, di klub voli putri ngga ada lagi murid kelas tiga, ya?”
“Iya, mereka udah berhenti. Karena itulah kapten sebelumnya menunjuk Izumi sebagai kapten yang baru dan aku sebagai wakil kaptennya.”
“Begitu ya…”
“Aku kembali duluan. Sampai jumpa nanti sepulang sekolah.” Shiraishi-san berdiri dari kursinya sambil membawa nampan makan siangnya.
“Ah, aku juga.”
Karena Shiraishi-san mengatakan itu, kami semua setuju untuk kembali ke kelas. Kami berempat berjalan bersama hingga berpisah di lantai dua karena kelas yang berbeda. Aku, Shimizu-san, dan Nazuka-san kembali ke kelas 2-D, sedangkan Shiraishi-san ke kelas 2-A, tempat murid elit sekolah ini.
Saat memasuki kelas, aku menjadi seperti magnet yang menarik perhatian dan padangan murdi-murid kelas ini. Jujur saja aku sedikit kaget. Setelah itu aku langsung duduk kursiku. Karena absen dua pelajaran, aku harus meminjam catatan teman sekelasku.
Mizuno-san dan Seto-san menuju ke mejaku dengan wajah penuh dengan tanda tanya dan seperti khawatir.
“Amamiya, kamu ngga apa-apa?”
“Ngga apa-apa, kok.”
“Katanya kamu bantu klub voli putri latihan, ya, Amamiya?”
“Iya.”
“Jangan terlalu memaksakan diri, Amamiya.”
“Um, iya, makasih, Seto-san, Mizuno-san.”
“Oh iya, ini catatan dua pelajaran tadi yang kamu ngga hadir.”
“Makasih, Mizuno-san.” Aku mengambil buku catatannya Mizuno-san.
“Kamu kan pernah pinjami aku catatan Matematika waktu itu. Jadi, ini balasan dariku.”
“Sekali lagi makasih ya… Besok kukembalikan.”
“Ah, ngga usah terburu-buru.”
“Baiklah…”
Seto-san dan Mizuno-san kembali ke tempat duduk mereka.
Buku catatan Mizuno-san ternyata sangat rapi. Dengan melihat saja, aku mulai memahami isi pelajaran tadi. Baiklah, nanti malam menyalin catatan ini.
“Amamiya-kun, udah baikan?”
“Ah, um, udah.”
“Syukurlah… lain kali jangan terlalu maksain diri. Belajar nahan diri sendiri juga perlu, lho…”
Kehadiran Fuyukawa-san membuatku semakin baik. Aku pun menjawabnya sambil tersenyum.
“Iya, makasih, Fuyukawa-san.”
“Sama-sama.”
Bel tanda berbunyi, menandakan waktu istirahat siang telah berakhir. Sebentar lagi pelajaran kelima akan dimulai.
Baiklah, di jam pelajaran yang tersisia aku harus berkonsentrasi.
3
Bel berbunyi, menandakan pelajaran ketujuh telah berakhir, dan waktu pulang pun tiba. Sekolah hari ini pun berakhir di pukul 15:30.
Guru telah meninggalkan kelas dan dilanjutkan dengan murid-murid yang akan pulang atau melanjutkan kegiatan klub.
Hari ini, Rabu, adalah hari di mana aku piket. Karena tadi pagi aku datang hampir telat yang kemungkinan besok juga, maka lebih baik aku langsung melakukan piket hari ini.
Nazuka-san dan Shimizu-san masih berada di kelas. Lebih baik kuberitahukan kalau aku harus melakukan tugas piket sebelum ke Gedung Olahraga. Aku pun beranjak dari kursiku menuju tempat mereka yang kebetulan sedang bersama.
“Nazuka-san, Shimizu-san, aku ada piket, jadi agak telat ke Gedung Olahraga.”
“Baiklah…”
“Oke, kami tunggu di sana terus ya.”
“Oh iya, jangan lupa bilang ke Shiraishi-san juga.”
“Oke…”
Baiklah, sekarang hanya perlu menunggu sebentar lagi hingga semua murid kelas ini keluar. Selagi menunggu mereka keluar, aku mulai mengangkat kursi-kursi ke atas meja agar mudah menyapu lantai nantinya. Tanpa kusadari, mereka yang berada di kelas ini langsung keluar dari kelas ini. Yang tersisa hanyalah anggota piket.
Anggota piket berjumlah lima orang. Kami semua membersihkan kelas ini sebersih mungkin agar bisa menjadi tempat yang nyaman untuk belajar esok hari. Karena kami berlima, tugas piket pun selesai lebih cepat.
Mataku bertemu dengan mata Moriyama-san yang dari tadi sepertinya melihat ke arahku. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dikatakannya.
“Ada apa, Moriyama-san?”
“Um, begini, kamu ngga apa-apa, Amamiya-kun?”
“Ah, ngga apa-apa, kok.”
“Kamu ngga memaksakan diri, kan?”
“Tentu saja ngga.”
“Kalau begitu, syukurlah.”
“Um, makasih. Kalau begitu, aku ke Gedung Olahraga dulu. Otsukare, semuanya…”
“Otsukare, Amamiya-kun.”
“Otsukare…”
Saatnya ke Gedung Olahraga.
Di lorong saat hendak turun ke lantai satu, aku bertemu dengan Taka. Dia menuju ke arahku sambil berlari. Hei, jangan berlari di lorong.
“Oi Ryuki.”
“Yo… ada apa, Taka?”
“Katanya kamu tadi masuk ke UKS.”
“Mm, ya benar.”
“Kenapa?”
“Cuma ngga enak badan. Sekarang udah baikan.”
“Beneran? Sepertinya ngga kelihatan begitu.”
“Bener. Aku ke Gedung Olahraga dulu. Sampai jumpa.”
“Ngapain ke sana?”
“Bantu klub voli putri latihan.”
“Oh iya, kamu anggota klub bantuan, kan? Jangan maksakan dirimu, Ryuki.”
“Ya, makasih.”
Sekarang saatnya ke Gedung Olahraga. Tidak lupa untuk mengambil sepatu olahraga di loker sepatu. Satu hal yang terlupakan yaitu set pakaian seragam olahraga. Terpaksa hari ini harus memakai seragam sekolah seperti biasa. Blazer sudah kuletakkan duluan di kelas bersamaan dengan tas sebelum keluar tadi.
Seperti biasa, Gedung Olahraga selalu ramai. Karena turnamen sudah dekat, mereka latihan sampai detik terakhir untuk bisa memenangkan turnamen itu. Terlebih lagi turnamen kali ini merupakan turnamen terakhir bagi murid kelas tiga yang masih mengikuti klub sebelum mereka berhenti dan fokus ke ujian masuk perguruan tinggi.
Aku langsung menuju ke lapangan voli tempat anggota klub bola putri latihan. Latihan sepertinya baru saja dimulai. Mereka sedang melakukan servis. Semuanya sudah berada di sini, termasuk Shiraishi-san yang mengenakan pakaian olahraganya.
Aku menuju ke tempat Shiraishi-san yang sedang bersama Taniguchi-san. Mereka berdua menyadari kehadiranku dengan melihat ke arahku. “Maaf telat,” kataku kepada mereka.
“Kamu piket, kan, Amamiya-kun?”
“Iya.”
“Kalau begitu, ngga apa-apa.”
“Mana seragam olahragamu?”
“Aku lupa bawa.”
“Jadi, kamu berniat melatih dengan seragam sekolah seperti itu lagi?”
“Ya, mau gimana lagi, Shiraishi-san. Aku lupa bawa seragam olahraga.”
“Baiklah, kalau begitu karena kamu sudah datang, mari kita mulai latihan hari ini.”
“Ya.”
Latihan hari ini pun dimulai. Latihan hari ini tidak jauh berbeda seperti kemarin, hanya saja hari ini aku langsung melihat form mereka dalam melakukan serve, spike, receive, dan block. Jika ada yang salah, maka kuberitahu yang benar sehingga mereka bisa melakukannya dengan sempurna.
Sesekali perhatianku teralihkan dengan kehadiran klub bola voli putra. Level mereka sangat berbeda jika dibandingkan dengan klub putrinya. Mereka ingin bersaing di level nasional, sedangkan yang putri hanya ingin mencari pengalaman. Mungkin aku harus memberi motivasi kepada klub bola voli putri.
“Semuanya, perhatian sebentar.”
“Ada apa, Amamiya-kun?” Nazuka-san memasang ekspresi penasaran, begitu juga yang lainnya.
“Kapan turnamennya dimulai?”
“Jumat ini.” Nazuka-san yang sebagai kapten menjawabnya.
“Kalian ingin menang?”
“Tentu saja.”
“Yang lain, gimana? Kalian mau menang?”
“Kachitai desu-kami ingin menang.”
“Kalau begitu, coba lihat permainan tim voli putra. Perhatikan baik-baik. Lihat bagaimana mereka bermain, gaya mereka bermain. Setelah itu, giliran kalian.”
“Baiklah, Pelatih Amamiya.”
“Sudah kubilang, jangan panggil aku dengan pelatih. Memalukan sekali.”
“Tapi kan kamu pelatih untuk hari ini, Amamiya-kun.” Shimizu-san meyakinkanku soal itu.
“Baiklah, baiklah…”
Selagi mereka sedang melihat permainan tim voli putra, aku pergi menuju tempat pelatih mereka yang sedang berdiri di pinggir lapangan.
“Maaf Pak Pelatih, bisa bicara sebentar?”
“Ah, iya, ada apa?”
“Saya ingin memberikan gambaran permainan di turnamen nanti. Jadi, bisakah kita lakukan pertandingan antara tim putra lawan tim putri sebentar lagi?”
“Hm… sepertinya kamu sangat ingin membantu mereka, ya…”
“Tentu saja. Walaupun saya bukan pelatih resmi mereka, tapi saya ingin mereka menang di turnamen nanti. Meskipun hanya di pertandingan awal.”
“Baiklah. Ayo kita lakukan. 15 menit lagi.”
“Terima kasih banyak, Pak Pelatih.” Aku membungkuk di hadapannya.
Aku kembali ke tempat tim putri dan memberitahukan mereka tentang ini.
“Eh, kamu serius, Amamiya-kun?” Nazuka-san terkejut.
“Ini demi kalian. Jadi, cobalah untuk menang. Keluarkan seluruh tenaga kalian.”
“Baiklah, Pelatih Amamiya. Semuanya, ayo semangat!”
“Ya!!!”
Setelah 15 menit mereka gunakan untuk melihat permainan tim bola voli putra, pertandingan antara tim bola voli putra melawan tim bola voli putri akan dimulai di lapangan voli putri. Aku memilih enam pemain yang paling jago menurutku sebagai pemain utama, tentu saja Shimizu-san dan Nazuka-san termasuk. Setter, Wing Spiker, Middle Blocker, dan Libero, semuanya sudah kupilih.
Pertandingannya hanya dua set karena sudah telat untuk melakukannya sebanyak tiga set. Lagi pula, aku tidak yakin kalau tim putri bisa memenangkan satu set pun.
Seketika pertandingan ini menjadi perhatian utama di Gedung Olahraga. Sepertinya sangat jarang melakukan pertandingan antara tim putra melawan tim putri. Semua orang mulai berkumpul di luar lapangan ini untuk melihat. Rasanya aku menjadi gugup karena dilihat seperti ini. Kali ini aku berdiri di luar lapangan sebagai pelatih tim putri. Tekanan dari luar begitu besar.
Beberapa orang dari klub vola voli putri menjadi wasit garis dan pelatih mereka menjadi wasit utama. Sepertinya mereka memberikan pihak kami sedikit keuntungan. Baiklah, kugunakan keuntungan itu sebaik mungkin.
Pertandingan dimulai saat peluit ditiup oleh wasit dengan servis dari tim putra.
4
Di pertandingan, aku tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa sekedar memberi pengarahan kepada pemain yang berada di lapangan. Tentu saja karena aku memang tidak punya pengalaman dalam melatih. Hanya seorang amatir yang tiba-tiba disuruh membantu untuk melatih mereka.
Setiap set, masing-masing tim memiliki dua kali kesempatan untuk meminta time out. Di saat itulah kugunakan untuk memberi pengarahan lebih dan juga meminta meminta pendapat dari pemain yang bertanding untuk melakukan rotasi atau pergantian pemain, dan sebagainya.
Pertandingan berjalan cukup seru. Untuk tim putra, Pelatih mereka tidak menurunkan beberapa pemain utamanya. Setidaknya ini bisa membuat pertandingan ini berimbang.
Pada akhirnya, pertandingan berakhir dengan kemenangan tim bola voli putra di dua set permainan. Set pertama, tim putri kalah 20-25 dan di set kedua 23-25. Di set kedua mereka bermain lebih baik karena seperti sudah terbiasa dengan permainan dari tim putra. Itu suatu kemajuan. Kalau ada satu set lagi, mungkin mereka bisa menang dengan skor yang beda tipis, seperti 27-25, mungkin.
Setelah melakukan hormat setelah pertandingan selesai, orang-orang yang melihat pertandingan ini memberikan tepuk tangan kepada kedua tim yang bermain.
“Pertandingan yang bagus…”
“Semoga di turnamen nanti bisa menang…”
“Terus semangat…”
Aku menyuruh Taniguchi-san untuk mengumpulkan mereka di pinggir lapangan untuk melakukan rapat kecil.
Setelah semuanya berkumpul, aku pun mulai berbicara.
“Etto, gimana permainan dari tim putra? Silakan, Nazuka-san, kapten kita.”
“Fisik mereka kuat dan permainan mereka rapi. Mungkin itu saja.”
“Ada yang ingin nambah?”
Aku melihat ke arah pemain yang bermain tadi. Nafas mereka terengah-engah karena kelelahan. Ini salahku karena menyuruh mereka bermain sekuat tenaga. Maafkan aku.
“Ah-ah, ngga ada, Amamiya-kun.” Shimizu-san menjawabnya dengan nafas yang tidak teratur.
“Yang kelelahan, duduk saja dulu.”
“Ah-ah, baiklah.”
Mereka menuruti perkataanku dan mulai duduk di depanku.
“Yang jadi perbedaan terbesar di antara kita dengan mereka itu cuma pengalaman. Mereka bisa mengantisipasi semua pola serangan tim kita karena mereka punya pengalaman yang pernah berada di dalam situasi seperti itu. Karena itulah mereka bisa tau serangan kita seperti apa. Bagaimana rasanya kalah? Kesal, kan?”
“Ya, kesal!!” Mereka menjawabnya serentak.
“Walaupun ini cuma latihan, jangan lupakan perasaan kesal karena kekalahan hari ini. Bawa perasaan ini ke turnamen nanti dan hancurkan di sana. Satu kata dariku, ‘Menanglah!’ walau cuma di satu pertandingan. Ngga perlu target untuk jadi juara. Targetkan untuk menang.”
“Ya, Pelatih Amamiya.”
Semuanya menjawabnya dengan serentak dengan suara yang besar. Seketika aku menjadi pusat perhatian dan membuatku menjadi gugup dan malu.
Ya ampun, padahal sudah kukatakan jangan panggil aku seperti itu.
“Baiklah, kita cukupkan latihan untuk hari ini. Shiraishi-san, ada yang ingin kamu sampaikan kepada mereka?”
“Jangan menyerah!”
“Itu aja?”
“Ya…”
“Baiklah. Kalau begitu kita bubar…”
“Bentar, Amamiya-kun.”
Taniguchi-san memotong kata-kataku. Sepertinya ada yang ingin disampaikan.
“Pelatih kami udah bisa kembali besok.”
“Ah, begitu ya. Berarti hari ini hari terakhir aku jadi pelatih kalian. Kalau begitu, yang semangat, ya. Jangan lupakan pelatihan dariku.”
“Terima kasih banyak, Pelatih Amamiya.” Mereka menjawabnya serentak lagi.
“Sudah kubilang, kan? Jangan panggil aku seperti itu.
“Haha…”
Tawa mengakhiri pertemuanku dengan klub bola voli putri hari ini. Semoga mereka bisa memperoleh kemenangan di turnamen nanti.
Aku dan Shiraishi-san meninggalkan Gedung Olahraga. Suasan senja dengan cahaya oranye kemerahan terpancar ke seluruh sekolah.
Saat ini aku berjalan bersama Shiraishi-san tanpa melakukan pertukaran frasa. Kami hanya terdiam. Lagi pula tidak ada hal yang ingin kubicarakan degannya. Sifatnya yang dingin itu membuatku takut untuk mencoba mengajaknya bicara dan untuk lebih mengenalnya.
Tidak tahu kenapa, aku semakin tertarik untuk mengenalnya. Tapi, tentu saja itu sulit. Dia terlalu menutup dirinya. Dari matanya terpancarkan kesedihan karena kesendirian namun juga kebencian karena kebersamaan. Karena itulah aku hanya menyapanya saja, sama sekali tidak berani untuk mencoba menanyakan tentang dirinya. Pasti telah terjadi sesuatu di masa lalunya sehingga membuat dia, Shiraishi Miyuki, menjadi seperi sekarang.
Peristiwa masa lalu tidak akan bisa dihapus. Kita yang sekarang merupakan hasil dari diri kita dari masa lalu. Namun, masa depan bisa diubah. Kita bisa mengubah diri kita untuk masa depan. Itulah yang kupercayai.
Kami berpisah di loker sepatu. Aku kembali ke kelas untuk mengambil blazer dan tasku, setelah itu aku pulang.
Hari yang panjang di sekolah pada hari Rabu ini pun akan berakhir. Berjalan sendirian melewati gerbang sekolah, menyeberangi jalan, berjalan di trotoar samping Sungai Meguro, terus berjalan hingga aku sampai di apartemenku.
Cahaya matahari mulai meredup. Langit mulai berwarna biru kehitaman hingga akhirnya menjadi hitam sempurna karena malam telah tiba.
Malam datang dengan membawa hembusan angin yang dingin, masuk dari arah berada ke dalam kamarku ini. Pemandangan malam hari dari lantai lima apartemen di daerah Daikan’yama ini tidaklah spesial. Rasanya seperti hanya ada kesunyian yang tersampaikan padaku.
Dengan angin yang berhembus masuk ke dalam kamar ini, kulanjutkan aktivitas di malam hari ini dengan menyalin catatan yang diberikan Mizuno-san.
Semoga hari esok datang dengan cuaca yang cerah dan tubuhku sudah kembali bugar seperti sebelumnya.